121.
Binar mata Dhania tak henti memancarkan kekaguman saat mobil yang dikendarai Kenan memasuki area kediaman keluarga Hadiatmodjo. Dua pilar kokoh yang menyanggah pelataran rumah, jendela-jendela besar dengan frame putih—senada dengan cat dinding dari rumah itu memberikan kesan mewah tersendiri pada siapapun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.
“Good evening, Mr. Kenan.” Seorang lelaki berusia 30 tahunan menyambut Kenan dengan senyum ramah dan sebuah iPad di tangannya.
“Good evening, Roger.” Seketika Dhania mengenali lelaki itu setelah Kenan membalas sapaannya. Roger kemudian ganti menatap Dhania sambil tersenyum tipis, gerak-geriknya seolah meminta Kenan untuk mengenalkan Dhania pada dirinya.
“Oh, ini Dhania. Temen Akademia saya.”
“Oke, silahkan masuk.”
Dipandu seorang asisten rumah tangga, Kenan dan Dhania berjalan masuk menuju ruang tengah di mana acara diselenggarakan.
“Itu tadi Roger, personal assistant Oma,” bisik Kenan pelan.
Dhania pun hanya mengangguk pelan karena saat ini fokusnya bukan lagi pada Roger, melainkan anggota keluarga Kenan yang akan ia temui beberapa saat lagi. Tangannya mendadak berkeringat dingin, begitu pula dengan punggungnya, padahal hampir di tiap sudut rumah itu dipasang pendingin ruangan tambahan khusus untuk acara malam hari ini.
“Dear Kenan … Long time no see, cucu gantengnya Oma.”
Sebuah suara merdu menyambut kedatangan Kenan dan Dhania. Suara itu pula berhasil membuat semua mata yang sudah hadir di ruang tengah tertuju pada keduanya. Dhania sedikit terkejut dengan keluarga Kenan yang jumlahnya banyak, tapi ia berusaha menyapa satu per satu dengan mengangguk sopan seraya tersenyum tipis, sementara Kenan berjalan menghampiri neneknya dengan wajah sumringah.
“Oma …” Kenan menyambut rentangan tangan neneknya, membalas peluk tubuh mungil yang sudah tua renta tapi nyatanya masih mampu melakukan berbagai macam aktivitas, salah satunya dengan mengadakan acara makan malam berskala besar.
“How’s your life, Ken?”
“Good, Oma. Oma sendiri gimana? Sehat-sehat, kan?”
Oma Elly tersenyum tipis seraya mengusap pelan pipi Kenan. “Sehat, dong. Oh iya, Oma dengar kamu pilih kuliah musik, bukan kedokteran. Nggak mau kayak Papa dan Sean?”
Alis Dhania naik sebelah. Walau ia berdiri cukup berjarak dari Kenan, ia tetap dapat mendengar jelas percakapan lelaki itu dengan neneknya. Selama ini ia tidak mengetahui profesi ayah dan kakak Kenan, meski Kenan cukup sering menyebut kakaknya dalam percakapan mereka.
“Itu …” Kenan mengusap tengkuknya, “Aku nggak suka jadi dokter, Oma. Aku lebih seneng nyiptain lagu atau main piano.”
“But are you sure with your choice, Kenan? Hidup sebagai musisi di Indonesia nggak gampang, lho.”
Kenan tidak langsung menanggapi pernyataan sang nenek. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling—seperti sedang mencari bala bantuan sampai akhirnya ia sadar kalau ada Dhania yang tengah menunggu dirinya.
“Oma! So sorry, aku hampir lupa mau ngenalin Oma sama temenku.” Kenan kemudian meminta Dhania untuk mendekat. “Kenalin Oma, ini Dhania temen Akademia-ku. Dhania, ini Oma Elly, Oma dari papa.”
Dhania tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya yang kemudian segera disambut hangat oleh Oma Elly.
“Dhania … You look so beautiful. Thanks for coming, dear.”
“Iya Oma, sama-sama …”
Sesaat Dhania merasa bodoh dengan jawaban yang ia lontarkan untuk Oma Elly. Seharusnya ia bisa memberikan jawaban yang lebih baik, tapi entah mengapa mulutnya tidak bisa diajak bekerja sama dengan otaknya malam ini.
“Oma, Dhania jago lho, main pianonya.” Tiba-tiba celetukan Kenan membuat mata Dhania melebar kaget, sedangkan Oma Elly terlihat antusias sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Kalau gitu, Kenan dan Dhania bisa dong main satu lagu untuk kita semua di sini?” Oma Elly segera meminta bantuan kepada beberapa asisten rumah tangga termasuk Roger untuk menyiapkan grand piano yang masih tertutup di ruang tengah, sementara Dhania menarik sedikit ujung jas Kenan agar lelaki itu mendekat padanya.
“Kenan! Yang bener aja?! Main apa gue?!” bisik Dhania panik sementara Kenan hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.
“Kita main lagu duet kita aja. Udah hafal, kan?”
Di saat bersamaan Roger juga telah selesai menyiapkan grand piano itu dan segera mempersilahkan Kenan serta Dhania untuk mengambil alih.
“Yuk?” Kenan menadahkan tangan kanannya. Masih dengan senyum riang terukir di wajahnya, ia sabar menunggu Dhania yang masih terlihat ragu.
“Go Kenan! Go Dhania!” Beberapa meter di belakang, Sean berusaha menyemangati sang adik dan Dhania. Tangan kanannya melambai-lambai antusias ke arah Kenan dan Dhania.
“It’s okay kalau ada salah. Hitung-hitung kita sekalian latihan di depan banyak orang.” Kali ini Kenan tidak lagi menadahkan tangannya, ia langsung meraih pelan tangan Dhania yang terasa dingin dalam genggamannya lalu menuntun Dhania untuk duduk di bangku piano.
Seketika ruang tengah rumah keluarga Elly Hadiatmodjo menjadi tenang. Suara obrolan yang sedari tadi terasa bising di telinga Dhania hilang, berganti dengan kesunyian—siap menunggu grand piano itu dimainkan Kenan dan Dhania. Di antara rasa gugupnya, Dhania berusaha mengatur nafasnya agar tetap tenang dan tidak mempengaruhi permainannya, sementara Kenan mulai menghitung—memberi aba-aba pada rekan duetnya untuk mulai bermain secara serentak.
Dalam sekejap, repertoire The Sleeping Beauty Suite karya Tchaikovsky mengisi penuh rumah Oma Elly. Anggota keluarga yang sudah terbiasa menikmati karya musik klasik bergumam pelan mengikuti melodi yang diciptakan Dhania, sedangkan permainan Kenan pada nada rendah menonjolkan suara bass yang semakin mempercantik lagu itu. Awalnya Dhania masih ragu, tapi seiring dengan permainan yang terus berjalan lambat laun ia mulai menikmati duet yang untuk pertama kali disaksikan banyak orang. Ada rasa bangga yang tumbuh di antara rasa gugup yang menghantui dirinya.
“Bravo … Bravo … Bagus sekali …” pujian Oma Elly menyeruak di antara tepuk tangan riuh dari para anggota keluarga. Kenan dan Dhania memberi hormat sebelum meninggalkan piano dan kembali mendekati Oma Elly.
“Bagus sekali … Kalian main duet untuk event khusus, kah? Atau termasuk kurikulum akademi?” Oma Elly bertanya penasaran.
“Ini untuk resital Mr. Ali nanti, Oma. Oma datang ya, nanti undangannya Kenan kirim ke Roger.”
Oma Elly mengangguk senang, matanya yang penuh binar kagum menatap Kenan dan Dhania bergantian. “Kenan, apapun keputusanmu, percayalah Oma akan selalu dukung kamu seribu persen.”
Dhania dapat melihat Kenan tersipu malu, lelaki itu kembali mengusap tengkuknya dengan lesung pipi menggemaskan terlihat samar di wajahnya. Dhania pun turut bahagia mendengar dukungan moral dari Oma Elly, mengingat seringkali ia temui banyak orang tua atau kakek nenek yang tidak menyetujui pilihan anak atau cucunya karena tidak sejalan dengan keinginan mereka.
“Kalian makan, ya? Oma mau ngobrol dulu sama yang lain. Nanti mereka ngiri kalau Oma cuma ngobrol sama kalian.”
Kenan dan Dhania kompak terkekeh. Kemudian mereka mempersilahkan Oma Elly untuk meninggalkan mereka dengan Roger yang setia menemaninya.
“Ken! Lain kali bilang dong kalo ada piano di rumah Oma lo! Kan gue jadi bisa pemanasan dulu di rumah sebelum ke sini!”
Kenan tertawa geli mendengar Dhania. Ternyata protes perempuan itu masih berlanjut bahkan setelah mereka menyelesaikan penampilan duet mereka dengan apik.
“Pemain piano harus siap kapan pun dan di mana pun, dong.” Kenan membalas Dhania dengan tenang seraya mengedipkan sebelah matanya. “Anyway ketemu sama koko dan bokap nyokap gue, yuk.”
***
Sudah hampir dua jam Dhania berada di kediaman keluarga Hadiatmodjo dan ia sama sekali tidak menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Kenan untuk datang ke acara itu. Acara makan malam keluarga Kenan tidak semenyeramkan dugaannya, hampir semua anggota keluarga yang dikenalkan pada Dhania menerimanya dengan ramah. Selain Oma Elly, ayah, ibu dan Sean juga mengajaknya mengobrol banyak hal, mulai dari hari-hari di Akademia, persiapan duet dengan Kenan hingga tren film dan musik terkini.
Kini, sebelum berpamitan pulang karena Kenan sudah berjanji pada ibu Dhania untuk tidak memulangkan Dhania terlalu malam, Dhania meminta izin pada Kenan untuk pergi ke kamar kecil. Saat Dhania hendak keluar untuk cuci tangan, ia mendengar percakapan yang seharusnya tidak ia dengar malam itu.
“Kenapa ya, gandengannya Kenan malem ini nggak banget?”
Spontan Dhania mengurungkan niatnya untuk membuka slot pintu kamar kecil yang ia pakai.
“Itu temen kampusnya bukan, sih?” Suara perempuan lain menimpali orang pertama yang membuka topik pembicaraan.
“Iya. Kata Alya temen gue, di Akademia Dhania emang sengaja ngedeketin Kenan. Lo tau lah, tipe-tipe social climber begitu.”
“Nggak ngaca apa, ya?”
Kedua perempuan itu tertawa kompak.
“Lo liat deh, dress yang dipake si Dhania. Pasti bukan brand terkenal.”
“Tas-nya juga, kayak beli di—”
Percakapan dua perempuan itu terhenti dan mereka sama-sama terkejut melihat Dhania keluar dari kamar kecil yang terletak persis berseberangan dengan wastafel. Dhania berusaha melangkah secepat mungkin, tapi panggilan dari salah satu perempuan itu kembali menghentikan langkahnya.
“Lo pasti denger kan, percakapan gue sama Yovita?” Perempuan yang Dhania kenal sebagai sepupu Kenan bernama Aira angkat bicara.
“Karena lo udah denger, gue kasih tau satu hal buat lo.” Aira kemudian maju selangkah, mendekatkan dirinya dengan Dhania. “Lo nggak pantes buat Kenan, Dhania. Status sosial kalian beda jauh banget, harusnya lo sadar diri, bukannya maksain diri.”
Dhania yang sedari tadi hanya menunduk langsung meninggalkan Aira setelah perempuan itu selesai berbicara. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar tawa sarkas Aira dan Yovita, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa selain pergi secepat mungkin dari situ. Tidak hanya dari kamar kecil itu, tapi juga dari kediaman Hadiatmodjo.