goldeneunoia

194.

Dhania hampir lupa kapan ia merasa bahagia seperti malam ini. Kalau ia diminta menulis salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya, sudah pasti ia akan bercerita tentang kisah hari ini.

Meski awalnya diliputi rasa gugup sampai-sampai Yudha harus menemaninya di backstage demi mendistraksi pikirannya—ya, untuk saat ini obat terampuh Dhania adalah Yudha—akhirnya repertoar yang sudah ia latih dua bulan lebih sukses ia mainkan dengan sangat baik. Ada beberapa kesalahan minor, tapi baik Dhania maupun Kenan tidak terlalu ambil pusing. Mereka menganggap semua itu adalah proses belajar untuk bisa tampil lebih baik lagi.

“And now, please welcome my opening act, Kenan and Dhania!”

Tepuk tangan riuh menyambut panggilan Mr. Ali untuk Kenan dan Dhania agar naik ke atas panggung. Dengan seluruh mata tertuju pada keduanya, Kenan menggandeng tangan Dhania dan keduanya berjalan penuh rasa percaya diri menghampiri sosok yang telah memberikan mereka kesempatan untuk tampil bersama.

Mr. Ali segera memberikan buket bunga kepada Kenan dan Dhania sebagai ucapan selamat sekaligus tanda terima kasih, kemudian ketiganya berfoto bersama sebelum resital malam itu resmi dinyatakan selesai.

“Congrats guys!” Daffa segera berseru penuh semangat ketika gilirannya untuk menyalami Kenan dan Dhania tiba. Setelah resital itu usai, audiens memang dipersilahkan untuk bersalaman, memberikan bunga atau berfoto dengan Mr. Ali dan juga Kenan serta Dhania—dan kesempatan ini digunakan oleh kerabat serta orang tua Kenan dan Dhania untuk menemui keduanya.

“Thanks, bro!” Kenan menepuk pelan pundak Daffa setelah mereka bersalaman. Dhania juga mengucapkan hal yang sama dengan senyum terukir jelas di wajahnya.

“Jangan lupa tips dari gue, Ken. Cocok banget malem ini.” Daffa menambahkan kalimat singkat yang ia tujukan untuk Kenan dengan kedipan sebelah mata penuh arti, sementara Kenan sengaja mengerutkan dahinya, pura-pura bingung dengan ucapan sahabatnya meski ia tahu benar maksud dibalik kalimat singkat itu.

“Oi, makan-makan nggak, nih?” Giliran Pandawa menyalami Kenan dan Dhania.

“Makan-makan di rumah masing-masing, ya, Wa,” timpal Dhania dan disambut dengan tawa teman-temannya.

“Congrats, Dhan. Gue bilang juga apa, lo pasti bisa.” Yudha, sebagai yang terakhir memberi ucapan selamat, membuat Dhania meringis pelan.

“Iya, iya … Makasih banyak ya, Mama Yudha. Gue titip Ibu, kalian hati-hati pulangnya.”

Yudha membuat gerakan seolah ingin menjitak kepala Dhania, tapi Dhania sukses mengelak hingga Yudha hanya bisa tersenyum masam dan ganti mengajak Kenan bicara.

“Congrats, bro. Jagain temen gue baik-baik, ya.”

Kenan pun mengangguk pelan sebagai jawabannya atas permintaan Yudha.

“Gladly you both have many supportive friends.” Sebagai yang tersisa di atas panggung, Mr. Ali sekali lagi menyalami Kenan dan Dhania lalu ia mengajak kedua muridnya itu untuk kembali ke belakang panggung.

“Iya, Sir, puji syukur punya temen-temen kayak mereka.”

“Sekali lagi thanks ya, Kenan dan Dhania. Semoga dengan kalian perform sebagai opening act malam ini, banyak hal yang bisa kalian pelajari. Nggak cuma pas tampil tadi, tapi prosesnya dari pertama kali saya minta kalian untuk tampil—itu yang terpenting.”

Kenan dan Dhania mengangguk kompak. Mereka setuju dengan kalimat yang diucapkan Mr. Ali; proses adalah yang terpenting—perjalanan yang berhasil membawa mereka sampai ke tahap seperti sekarang ini.

“Kamu udah selesai beres-beres, Dhan? Udah make sure nggak ada yang ketinggalan?” Kenan menghampiri Dhania setelah keduanya berganti pakaian dan merapihkan barang-barang mereka. Tadi, setelah mengobrol sebentar dengan Mr. Ali dan salah satu perwakilan Akademia News, keduanya segera bersiap untuk acara makan malam yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

“Udah. Udah yakin aku nggak ada yang bakal ketinggalan.”

“Ya udah, kalo gitu kita berangkat sekarang, yuk?”

*

Acara makan Sate Taichan atas permintaan Kenan malam ini penuh perjuangan. Pertama, jalanan ibukota jauh lebih padat dibandingkan hari-hari lainnya. Kenan dipaksa mengemudi selama satu jam untuk sampai ke tujuan mereka, yaitu Senayan. Setelah tiba di tujuan pun, Kenan harus berputar-putar beberapa kali demi mendapatkan lahan parkir kosong untuk mobilnya. Dhania hanya meringis pelan melihat Kenan setengah mati mencari parkir padahal ia yakin cacing-cacing di perut lelaki itu sudah meronta-ronta minta jatah.

“Ken, makan di tempat lain aja yuk kalo di sini nggak dapet parkir.”

Kenan menggeleng dengan kerutan di dahinya. “Nggak, aku mau Taichan. Kita pasti dapet parkir, tungguin aja.”

Doa Kenan terkabul, kalimatnya jadi kenyataan. Ia berhasil mendapat parkir berkat bantuan seorang laki-laki yang sadar kalau mobil Kenan telah berputar-putar di parkiran dalam waktu cukup lama.

“See? Kalau sabar pasti dapet, kan.” Kenan tersenyum puas ketika ia selesai memarkirkan mobilnya. “Yuk, kita turun.”

Dhania refleks ikut tersenyum melihat perilaku Kenan. Di mata Dhania, lelaki itu memang selalu terlihat menggemaskan. Kemudian keduanya segera berjalan menuju resto Taichan yang tidak pernah sepi pengunjung itu dengan tangan saling menggenggam. Bukan kali pertama Kenan menggandeng tangan Dhania—sebelum resital Mr. Ali pun Kenan sudah beberapa kali sengaja berkontak fisik dengannya, mulai dari membantu Dhania merapikan rambut hingga bergandengan tangan—tapi tetap saja Dhania masih merasa gugup.

“Mas, pesen Taichan 50 tusuk sama air mineral yang nggak dingin 2 botol, ya.”

Selesai memesan dan membayar, Kenan memangku dagu dengan kedua tangannya, menatap Dhania lekat-lekat hingga perempuan itu dibuatnya salah tingkah.

“Ken, bisa nggak kamu main handphone aja? Atau ngapain kek, gitu?”

Kenan tersenyum menampilkan lesung pipinya. “Nggak, ah. Ngapain main HP kalo ada kamu di sini.”

“Ih …” Dhania menahan senyum malunya, “malu, tau.”

“Kamu malu diliatin sama aku?”

Dhania menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Duh, bukan gitu.”

Kenan tertawa pelan. “Aku lagi contemplating sesuatu, nih.” Ia mengganti posisinya—melipat tangannya di atas meja meski matanya tak lepas memandangi Dhania.

“Mikirin apa?” tanya Dhania penasaran.

“Sesuatu. Aku bingung harus gimana.”

“Konteksnya? Aku nggak ngerti.”

Kalimat Dhania hanya ditanggapi dengan senyum tipis Kenan. Percakapan itu pun terhenti lantaran Taichan pesanan mereka datang. Keduanya kemudian mulai menyibukkan diri melahap makan malam mereka.

“Ken, kamu biasanya kalo abis makan Taichan gini di rumah makan lagi nggak?” Dhania kembali membuka obrolan baru setelah menghabiskan dua tusuk sate dalam waktu singkat. “Kadang aku suka makan lagi kalo di rumah, gara-gara nggak kenyang. Sampe dikira Ibu aku belum makan malem di luar.”

“Dhania.”

“Hm?”

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?”

Pertanyaan tak terduga itu sukses membuat Dhania terbatuk. Ia tersedak potongan daging yang sedang dikunyahnya.

“Dhan? Dhania, kamu nggak papa?” Kenan berusaha membantu Dhania dengan membuka tutup botol air perempuan itu. Masih dalam keadaan terbatuk Dhania menjawab pertanyaan Kenan dengan anggukan cepat lalu segera meneguk air putihnya.

“Dhan, sakit nggak? Duh, kamu kok bisa tiba-tiba keselek gitu?”

“Gimana aku nggak mau keselek, Kenan Amadeus?!” Nada bicara Dhania naik setengah oktaf. “Aku lagi makan enak-enak tiba-tiba kamu nanya kayak gitu?!”

Kenan tersenyum canggung. “Aku nggak tau harus ngomong gimana dan kapan lagi. Tadi di kepala aku pilihannya now or never. Sorry …”

Dhania menghela nafas panjang setelah meneguk kembali air putihnya. Gantian ia menatap Kenan yang menunduk karena merasa bersalah dengan tindakannya beberapa saat lalu.

“Iya, aku mau.”

“Hah?” Kenan mengangkat kepalanya. “Apa?”

“Aku mau …” Dhania mengulang jawabannya meski ia yakin 100% wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. “Aku mau jadi pacar kamu.”

“Dhania kamu serius, kan?” Kenan memastikan kalau telinganya tidak salah dengar—Dhania menerima pengakuan cintanya!

“Kalo aku nggak serius, aku udah tinggalin kamu detik ini juga.”

Buru-buru Kenan menggenggam kedua tangan Dhania, takut kalau perempuan itu tiba-tiba berubah pikiran. “Jangan,” bisiknya pelan.

Dhania terdiam, ia memandangi Kenan dan tangannya yang berada dalam genggaman lelaki itu untuk sesaat sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Kamu masih penasaran nggak, kenapa dua minggu lalu aku bilang aku seneng?”

“Kenapa, tuh?” tanya Kenan dengan tangan kiri masih betah memegangi tangan Dhania sementara tangan kanannya mengambil setusuk sate untuk ia santap.

“Aku seneng, bisa dapet kesempatan main duet sama kamu, kenal sama kamu lebih jauh lagi sampe aku sadar kalo aku beneran suka sama kamu. Selain perasaan aku ternyata nggak bertepuk sebelah tangan, aku juga seneng karena banyak hal positif yang kamu tularin ke aku.”

“Emang awalnya kamu nggak beneran suka sama aku?”

Dhania terkekeh pelan. “Bukan gitu, tapi awalnya tuh, aku interest sama kamu karena aku denger kamu main salah satu repertoar kesukaan Bapak, Clair de Lune.”

“Oh,” bibir Kenan membulat. Ia tidak menyangka repertoar yang iseng ia mainkan saat menunggu kelas di awal semester menjadi titik awal ketertarikan Dhania pada dirinya.

“To be honest, Dhan, kamu pacar pertama aku. Perempuan pertama yang sukses bikin aku salah tingkah, bikin aku abis-abisan dicengin Ko Sean, bikin aku ngelakuin hal-hal yang belum pernah aku lakuin sebelumnya.” Seperti terpancing dengan cerita Dhania, Kenan juga membuat pengakuan—selain pengakuan akan perasaannya terhadap Dhania. “That’s why—”

“That’s why kamu minta aku jadi pacar kamu pas aku lagi makan Taichan?” Dhania memotong kalimat Kenan.

Kenan mengangguk pelan. “Kata Daffa, aku harus minta kamu jadi pacar aku pas aku liat kamu lagi cantik-cantiknya—”

“Menurut kamu aku cantik pas lagi nyuap sate?!” Dhania kembali memotong ucapan lelaki itu sambil geleng-geleng kepala, Kenan segera mengacak pelan rambut Dhania.

“Jangan marah.”

“Nggak.”

Kenan mengerucutkan bibirnya.

“Nggak marah, Kenan sayang.” Dhania melunakkan nada bicaranya.

Mata lelaki itu melebar dua kali lipat, terukir senyum senang di wajahnya. “Oh, jadi ini rasanya pas hormon dopamin, norepinefrin dan serotonin bekerja dalam tubuh.”

Dhania memiringkan kepalanya. “Apa deh, maksudnya?”

“Dopamin itu menimbulkan rasa senang, kalo norepinefrin bisa meningkatkan detak jantung. Serotonin—”

“Kenan.” Dhania mengangkat sebelah tangannya.

“Ya?”

“Mending kamu makan lagi Taichan-nya. Tadi katanya laper?” Dhania segera menyudahi topik berat yang tiba-tiba dibicarakan Kenan. Lelaki itu memang senang menyelipkan teori atau topik-topik yang tidak awam dibicarakan sehari-hari ke dalam percakapan mereka. Bagi orang lain mungkin terkesan membosankan, tapi justru itulah daya tarik Kenan di mata Dhania.

“Nah ini berkat hormon serotonin, rasa laper aku jadi ilang karena seneng ngobrol sama kamu.”

“Idih, gombal!”

121.

Binar mata Dhania tak henti memancarkan kekaguman saat mobil yang dikendarai Kenan memasuki area kediaman keluarga Hadiatmodjo. Dua pilar kokoh yang menyanggah pelataran rumah, jendela-jendela besar dengan frame putih—senada dengan cat dinding dari rumah itu memberikan kesan mewah tersendiri pada siapapun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

“Good evening, Mr. Kenan.” Seorang lelaki berusia 30 tahunan menyambut Kenan dengan senyum ramah dan sebuah iPad di tangannya.

“Good evening, Roger.” Seketika Dhania mengenali lelaki itu setelah Kenan membalas sapaannya. Roger kemudian ganti menatap Dhania sambil tersenyum tipis, gerak-geriknya seolah meminta Kenan untuk mengenalkan Dhania pada dirinya.

“Oh, ini Dhania. Temen Akademia saya.”

“Oke, silahkan masuk.”

Dipandu seorang asisten rumah tangga, Kenan dan Dhania berjalan masuk menuju ruang tengah di mana acara diselenggarakan.

“Itu tadi Roger, personal assistant Oma,” bisik Kenan pelan.

Dhania pun hanya mengangguk pelan karena saat ini fokusnya bukan lagi pada Roger, melainkan anggota keluarga Kenan yang akan ia temui beberapa saat lagi. Tangannya mendadak berkeringat dingin, begitu pula dengan punggungnya, padahal hampir di tiap sudut rumah itu dipasang pendingin ruangan tambahan khusus untuk acara malam hari ini.

“Dear Kenan … Long time no see, cucu gantengnya Oma.”

Sebuah suara merdu menyambut kedatangan Kenan dan Dhania. Suara itu pula berhasil membuat semua mata yang sudah hadir di ruang tengah tertuju pada keduanya. Dhania sedikit terkejut dengan keluarga Kenan yang jumlahnya banyak, tapi ia berusaha menyapa satu per satu dengan mengangguk sopan seraya tersenyum tipis, sementara Kenan berjalan menghampiri neneknya dengan wajah sumringah.

“Oma …” Kenan menyambut rentangan tangan neneknya, membalas peluk tubuh mungil yang sudah tua renta tapi nyatanya masih mampu melakukan berbagai macam aktivitas, salah satunya dengan mengadakan acara makan malam berskala besar.

“How’s your life, Ken?”

“Good, Oma. Oma sendiri gimana? Sehat-sehat, kan?”

Oma Elly tersenyum tipis seraya mengusap pelan pipi Kenan. “Sehat, dong. Oh iya, Oma dengar kamu pilih kuliah musik, bukan kedokteran. Nggak mau kayak Papa dan Sean?”

Alis Dhania naik sebelah. Walau ia berdiri cukup berjarak dari Kenan, ia tetap dapat mendengar jelas percakapan lelaki itu dengan neneknya. Selama ini ia tidak mengetahui profesi ayah dan kakak Kenan, meski Kenan cukup sering menyebut kakaknya dalam percakapan mereka.

“Itu …” Kenan mengusap tengkuknya, “Aku nggak suka jadi dokter, Oma. Aku lebih seneng nyiptain lagu atau main piano.”

“But are you sure with your choice, Kenan? Hidup sebagai musisi di Indonesia nggak gampang, lho.”

Kenan tidak langsung menanggapi pernyataan sang nenek. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling—seperti sedang mencari bala bantuan sampai akhirnya ia sadar kalau ada Dhania yang tengah menunggu dirinya.

“Oma! So sorry, aku hampir lupa mau ngenalin Oma sama temenku.” Kenan kemudian meminta Dhania untuk mendekat. “Kenalin Oma, ini Dhania temen Akademia-ku. Dhania, ini Oma Elly, Oma dari papa.”

Dhania tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya yang kemudian segera disambut hangat oleh Oma Elly.

“Dhania … You look so beautiful. Thanks for coming, dear.”

“Iya Oma, sama-sama …”

Sesaat Dhania merasa bodoh dengan jawaban yang ia lontarkan untuk Oma Elly. Seharusnya ia bisa memberikan jawaban yang lebih baik, tapi entah mengapa mulutnya tidak bisa diajak bekerja sama dengan otaknya malam ini.

“Oma, Dhania jago lho, main pianonya.” Tiba-tiba celetukan Kenan membuat mata Dhania melebar kaget, sedangkan Oma Elly terlihat antusias sambil mengatupkan kedua tangannya.

“Kalau gitu, Kenan dan Dhania bisa dong main satu lagu untuk kita semua di sini?” Oma Elly segera meminta bantuan kepada beberapa asisten rumah tangga termasuk Roger untuk menyiapkan grand piano yang masih tertutup di ruang tengah, sementara Dhania menarik sedikit ujung jas Kenan agar lelaki itu mendekat padanya.

“Kenan! Yang bener aja?! Main apa gue?!” bisik Dhania panik sementara Kenan hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.

“Kita main lagu duet kita aja. Udah hafal, kan?”

Di saat bersamaan Roger juga telah selesai menyiapkan grand piano itu dan segera mempersilahkan Kenan serta Dhania untuk mengambil alih.

“Yuk?” Kenan menadahkan tangan kanannya. Masih dengan senyum riang terukir di wajahnya, ia sabar menunggu Dhania yang masih terlihat ragu.

“Go Kenan! Go Dhania!” Beberapa meter di belakang, Sean berusaha menyemangati sang adik dan Dhania. Tangan kanannya melambai-lambai antusias ke arah Kenan dan Dhania.

“It’s okay kalau ada salah. Hitung-hitung kita sekalian latihan di depan banyak orang.” Kali ini Kenan tidak lagi menadahkan tangannya, ia langsung meraih pelan tangan Dhania yang terasa dingin dalam genggamannya lalu menuntun Dhania untuk duduk di bangku piano.

Seketika ruang tengah rumah keluarga Elly Hadiatmodjo menjadi tenang. Suara obrolan yang sedari tadi terasa bising di telinga Dhania hilang, berganti dengan kesunyian—siap menunggu grand piano itu dimainkan Kenan dan Dhania. Di antara rasa gugupnya, Dhania berusaha mengatur nafasnya agar tetap tenang dan tidak mempengaruhi permainannya, sementara Kenan mulai menghitung—memberi aba-aba pada rekan duetnya untuk mulai bermain secara serentak.

Dalam sekejap, repertoire The Sleeping Beauty Suite karya Tchaikovsky mengisi penuh rumah Oma Elly. Anggota keluarga yang sudah terbiasa menikmati karya musik klasik bergumam pelan mengikuti melodi yang diciptakan Dhania, sedangkan permainan Kenan pada nada rendah menonjolkan suara bass yang semakin mempercantik lagu itu. Awalnya Dhania masih ragu, tapi seiring dengan permainan yang terus berjalan lambat laun ia mulai menikmati duet yang untuk pertama kali disaksikan banyak orang. Ada rasa bangga yang tumbuh di antara rasa gugup yang menghantui dirinya.

“Bravo … Bravo … Bagus sekali …” pujian Oma Elly menyeruak di antara tepuk tangan riuh dari para anggota keluarga. Kenan dan Dhania memberi hormat sebelum meninggalkan piano dan kembali mendekati Oma Elly.

“Bagus sekali … Kalian main duet untuk event khusus, kah? Atau termasuk kurikulum akademi?” Oma Elly bertanya penasaran.

“Ini untuk resital Mr. Ali nanti, Oma. Oma datang ya, nanti undangannya Kenan kirim ke Roger.”

Oma Elly mengangguk senang, matanya yang penuh binar kagum menatap Kenan dan Dhania bergantian. “Kenan, apapun keputusanmu, percayalah Oma akan selalu dukung kamu seribu persen.”

Dhania dapat melihat Kenan tersipu malu, lelaki itu kembali mengusap tengkuknya dengan lesung pipi menggemaskan terlihat samar di wajahnya. Dhania pun turut bahagia mendengar dukungan moral dari Oma Elly, mengingat seringkali ia temui banyak orang tua atau kakek nenek yang tidak menyetujui pilihan anak atau cucunya karena tidak sejalan dengan keinginan mereka.

“Kalian makan, ya? Oma mau ngobrol dulu sama yang lain. Nanti mereka ngiri kalau Oma cuma ngobrol sama kalian.”

Kenan dan Dhania kompak terkekeh. Kemudian mereka mempersilahkan Oma Elly untuk meninggalkan mereka dengan Roger yang setia menemaninya.

“Ken! Lain kali bilang dong kalo ada piano di rumah Oma lo! Kan gue jadi bisa pemanasan dulu di rumah sebelum ke sini!”

Kenan tertawa geli mendengar Dhania. Ternyata protes perempuan itu masih berlanjut bahkan setelah mereka menyelesaikan penampilan duet mereka dengan apik.

“Pemain piano harus siap kapan pun dan di mana pun, dong.” Kenan membalas Dhania dengan tenang seraya mengedipkan sebelah matanya. “Anyway ketemu sama koko dan bokap nyokap gue, yuk.”

***

Sudah hampir dua jam Dhania berada di kediaman keluarga Hadiatmodjo dan ia sama sekali tidak menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Kenan untuk datang ke acara itu. Acara makan malam keluarga Kenan tidak semenyeramkan dugaannya, hampir semua anggota keluarga yang dikenalkan pada Dhania menerimanya dengan ramah. Selain Oma Elly, ayah, ibu dan Sean juga mengajaknya mengobrol banyak hal, mulai dari hari-hari di Akademia, persiapan duet dengan Kenan hingga tren film dan musik terkini.

Kini, sebelum berpamitan pulang karena Kenan sudah berjanji pada ibu Dhania untuk tidak memulangkan Dhania terlalu malam, Dhania meminta izin pada Kenan untuk pergi ke kamar kecil. Saat Dhania hendak keluar untuk cuci tangan, ia mendengar percakapan yang seharusnya tidak ia dengar malam itu.

“Kenapa ya, gandengannya Kenan malem ini nggak banget?”

Spontan Dhania mengurungkan niatnya untuk membuka slot pintu kamar kecil yang ia pakai.

“Itu temen kampusnya bukan, sih?” Suara perempuan lain menimpali orang pertama yang membuka topik pembicaraan.

“Iya. Kata Alya temen gue, di Akademia Dhania emang sengaja ngedeketin Kenan. Lo tau lah, tipe-tipe social climber begitu.”

“Nggak ngaca apa, ya?”

Kedua perempuan itu tertawa kompak.

“Lo liat deh, dress yang dipake si Dhania. Pasti bukan brand terkenal.”

“Tas-nya juga, kayak beli di—”

Percakapan dua perempuan itu terhenti dan mereka sama-sama terkejut melihat Dhania keluar dari kamar kecil yang terletak persis berseberangan dengan wastafel. Dhania berusaha melangkah secepat mungkin, tapi panggilan dari salah satu perempuan itu kembali menghentikan langkahnya.

“Lo pasti denger kan, percakapan gue sama Yovita?” Perempuan yang Dhania kenal sebagai sepupu Kenan bernama Aira angkat bicara.

“Karena lo udah denger, gue kasih tau satu hal buat lo.” Aira kemudian maju selangkah, mendekatkan dirinya dengan Dhania. “Lo nggak pantes buat Kenan, Dhania. Status sosial kalian beda jauh banget, harusnya lo sadar diri, bukannya maksain diri.”

Dhania yang sedari tadi hanya menunduk langsung meninggalkan Aira setelah perempuan itu selesai berbicara. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar tawa sarkas Aira dan Yovita, tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa selain pergi secepat mungkin dari situ. Tidak hanya dari kamar kecil itu, tapi juga dari kediaman Hadiatmodjo.

57.

Mengulang berkali-kali satu hal yang sama adalah kegiatan yang membosankan, termasuk melatih berulang bagian yang masih sulit dikuasai Kenan untuk lagu duetnya dengan Dhania. Jadwal tampilnya memang masih lama, tapi Kenan bukan tipe ‘sistem kebut semalam’. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang sudah diberikan Mr. Ali kepada dirinya dengan memberikan penampilan seadanya. Meski hanya tampil kurang dari lima menit, Kenan tetap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik di atas panggung.

Sesi latihan Kenan siang ini berhenti saat ia mengambil jeda untuk meminum air putihnya. Di saat bersamaan, pintu ruang latihannya dibuka dan seseorang yang tidak Kenan duga menjulurkan kepala ke dalam ruang latihannya.

“Hai, Ken. Ganggu nggak?”

Kenan buru-buru meneguk air putihnya agar ia bisa segera menjawab pertanyaan itu. “Eh, Dhania. Nggak, kok. Ada apa?”

Dhania, yang selama satu pekan ini mati-matian Kenan hindari, memasuki ruang latihan yang ia gunakan siang ini, mengikis jarak antara dirinya dengan perempuan itu.

“Gue udah cukup menguasai part awal, nih. Kira-kira kalau sekarang latihan bareng, keberatan nggak?”

Andai saja Kenan berani menolak ajakan Dhania, saat ini sudah pasti ia akan menggeleng keras dan mengatakan tidak. Kemudian mulutnya akan lanjut mengucapkan kalimat yang sayang, pada kenyataannya hanya bisa ia gumamkan dalam hatinya.

“Boleh, deh.”

Wajah Dhania terlihat berseri. Ia mengeluarkan lembaran partitur yang sudah disusun sedemikian rupa agar mudah dibolak-balik, lalu duduk di sisi kanan bangku piano, tempat di mana ia akan memainkan bagian Primo.

“Ayo, Ken.” Ajakan Dhania membuyarkan keraguan Kenan. Karena tidak bisa menghindar, Kenan pun duduk dan mereka segera memulai sesi latihan bersama untuk pertama kalinya. Mulanya Kenan tidak sepenuhnya fokus, tapi keseriusan Dhania membuat Kenan sadar kalau ini bukan saatnya untuk memikirkan yang lain selain sesi latihan mereka. Hingga tanpa terasa satu jam berlalu, ponsel Dhania yang ditaruh di atas piano bergetar, spontan menghentikan acara latihan duet mereka.

“Halo? Gue sama Kenan di lantai tujuh, di practice room B … oh, yaudah. Ke sini aja.”

“Siapa, Dhan?” Kenan tidak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya. Dalam hati ia menyesali karena mulutnya terlalu cepat berbicara sebelum otaknya sempat berpikir.

“Yudha. Katanya mau ke sini.”

Kenan hanya dapat membulatkan bibir tanda mengerti. Lelaki yang ia duga sebagai kekasih Dhania akan datang dalam beberapa saat lagi. Kenan hanya berharap semoga Yudha tidak bersikap dingin pada dirinya karena kejadian yang terjadi saat makan siang tempo hari dan kini Dhania menjadi partner duetnya.

“Dhan!” Teriakan Yudha yang cukup keras sukses menembus pintu kedap suara, mengalihkan fokus Dhania yang sedang sibuk mengulang bagian terakhir dari lagu duetnya.

“Dateng deh, si rusuh.” Dengan mulut bergumam pelan—tapi terdengar jelas di telinga Kenan—Dhania bergegas merapikan barang-barangnya dan keluar dari ruang latihan. “Ken, latihannya sampe sini dulu, ya. Nanti gue WA lagi buat next practice-nya. Anyway, thank you udah bersedia latihan sekarang. Gue jadi tau bagian mana yang harus dilancarin lagi.”

Kenan hanya mengangguk pelan, sembari ia berjalan menuju pintu untuk mengantar Dhania keluar, meski rasanya enggan karena mau tidak mau ia akan kembali bertatap muka dengan Yudha.

“Udah, kan, latihannya?” Begitu pintu dibuka, Yudha segera bertanya sambil memperhatikan Dhania dan Kenan bergantian. “Yuk, makan. Gue laper.” Dan tanpa banyak basa-basi Yudha segera menarik lengan Dhania hingga perempuan itu hanya dapat melambaikan tangannya singkat sebagai salam perpisahan dengan Kenan.

“Wih, abis latihan sama Dhania?” Sosok Daffa datang dari arah koridor yang berlawanan dengan yang dilalui Dhania. “Gimana, lancar nggak?” Daffa melanjutkan pertanyaannya dengan nada jahil.

“Lancar.” Kenan menjawab seadanya. “Udah, ya. Gue mau balik latihan lagi.”

“Eh, buset, deh.” Daffa buru-buru menarik lengan Kenan sebelum ia kalah cepat dengan gerak lelaki yang sudah dikenalnya sejak mereka bersekolah di SMA yang sama. “Lo kenapa, sih? Akhir-akhir ini keseringan di ruang latihan terus.”

“Namanya juga siswa akademi musik, sering-sering di ruang latihan hal yang wajar, lah.”

“Nggak wajar setelah minggu kemarin lo selalu wara-wiri tiap jam istirahat, tapi sekarang balik ngedokem lagi di ruang latihan. Emang nggak laper?”

“Ada roti.” Kenan terus menyanggah pertanyaan Daffa agar percakapan di antara mereka cepat selesai dan ia bisa kembali menyendiri.

“Dhania, ya? Lo keliatan kayak lagi ngehindarin dia. Btw, Dhania juga ngerasa kalo lo ngehindarin dia, makanya tadi dia sengaja dateng nyamperin lo ke sini.”

Celetukan asal Daffa tidak disangka Kenan. Kedua matanya menatap Daffa ragu sebelum ia menyerah dengan menghela nafas pelan.

“Cowok tadi tuh, cowoknya Dhania, ya?”

Daffa spontan tertawa. Butuh waktu cukup lama untuk Daffa berusaha menahan tawanya agar tidak mengganggu siswa lain yang sedang berlatih di ruangan lain.

“Gimana ceritanya lo nyimpulin si Yudha as cowoknya Dhania?”

“Abisnya mereka bareng mulu, makanya gue tanya sama lo. Lo kan, keliatannya cukup deket sama mereka berdua.”

Daffa menahan senyumnya. “Kalo Dhania sama Yudha pacaran yang ada perang dunia ketiga, Ken.” Daffa kemudian menepuk-nepuk pelan bahu Kenan. “Besok jangan jadi siput lagi, ya. Main-main ke kantin pas jam istirahat, duduk sama gue, Dhania, Yudha. Ada juga anak gitar, Pandawa sama anak vokal, Rio. Nanti lo tau deh, statusnya Dhania Yudha tuh, apa.”

“Lo nggak bisa kasih tau sekarang aja?”

“Lo suka sama Dhania, ya?”

“Emang keliatan banget?”

Daffa kembali tertawa. Lebih keras dari tawa sebelumnya hingga ia mendapat teguran dari staf yang duduk di meja depan, yang bertugas mencatat pengguna ruang latihan dalam satu hari sekaligus menjaga keamanan dan kenyamanan lantai tujuh—di mana para siswa memiliki akses untuk menggunakan ruang latihan sesuai kebutuhan mereka.

“Duh, Ken.” Daffa sengaja mendorong Kenan kembali masuk ke dalam ruang latihan agar ia tidak kena tegur lagi. “Jelas keliatan, lah. Sejak lo makan siang sama Mr. Ali dan Dhania, gue udah curiga. Nggak pernah sekali pun, selama gue kenal sama lo, lo pergi makan sama guru piano lo.”

“Itu accident.”

“Ya, I know. Dhania cerita dan gue yakin aslinya lo cuma mau ajak Dhania.”

Kenan kembali menghela nafas pasrah. “Gue nggak tau bisa ini bisa dibilang suka atau enggak, tapi jujur aja, gue tertarik untuk berteman sama dia. Gue semacam punya keinginan buat deket sama dia.”

Daffa tersenyum jahil. “Dhania Yudha nggak pacaran, kok. Mereka tetanggaan dan sahabatan.”

Mata Kenan melebar tak percaya. “Tetanggaan?”

“Iya, tetanggaan. Rumahnya sebelah-sebelahan. Eh, sebelah-sebelahan atau seberang-seberangan nggak tau, deh. Yang jelas tetanggaan.”

Tanpa sepengetahuan Daffa, Kenan menghela nafas lega dengan pelan. Kekhawatirannya selama ini sirna dalam satu kalimat yang diucapkan Daffa beberapa saat lalu. Walau pada akhirnya ia harus jujur pada Daffa tentang apa yang ia rasakan terhadap Dhania, setidaknya ia mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan yang selama ini terlalu takut untuk ia tanyakan pada siapa-siapa.

“Jadi, suka nih, sama Dhania?”

40.

“Kenan!”

“Eh, Mas Pram!”

Seperti laki-laki pada umumnya, Kenan dan lelaki yang menyapanya pagi ini bersalaman lalu saling menabrakan pelan bahu mereka dengan senyum merekah di wajah keduanya.

“Apa kabar, Mas?” tanya Kenan kepada lelaki yang dikenal sebagai salah satu produser musik andal alumni Akademi Musik Indonesia itu.

“Baik, baik … Kamu sendiri?” Mas Pram menepuk-nepuk bahu Kenan. “Dulu kayaknya kamu masih kecil, deh, Ken. Sekarang udah gede aja kamu … udah kuliah.”

Kenan tertawa pelan. “Kan, saya dikasih makan sama orang tua saya, Mas.”

“Eh, iya, kakakmu Sean apa kabar? Dia udah jadi dokter, ya?”

Kenan hendak menjawab pertanyaan Mas Pram, tapi sekelebat bayangan yang sepertinya ia kenal siapa pemiliknya sedikit mendistraksi konsentrasi Kenan.

“Eh, sorry, Mas. Tadi nanya apa, Mas?”

Mas Pram tersenyum tipis dan mengulang kembali pertanyaannya, “Kakakmu, si Sean, apa kabar? Dia udah jadi dokter, ya?”

“Oh, Ko Sean … Iya, Mas. Sekarang praktek di klinik bersama deket rumah.”

“Dia udah nggak main piano lagi?”

Kenan sedikit mengangkat bahunya. “Kalo diseriusin, sih, enggak. Katanya sekarang dia main just for fun aja. Sama sekalian buat release stress.”

Mas Pram mengangguk setuju. “Iya, sih, emang musik bagus buat release stress.”

“Mas Pram, sorry,” Kenan memotong cepat Mas Pram yang terlihat hendak kembali berbicara. “Kalau aku pamit duluan, nggak papa, ya? Sorry banget, nih.”

Mas Pram menggeleng cepat. “Nggak papa banget, Ken. Sorry, sorry, aku jadi ganggu waktu kamu. Kamu mau latihan, ya?”

Kenan hanya nyengir lebar, memamerkan deretan gigi putih rapihnya.

“Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya, Ken.” Mas Pram mengakhiri percakapan pagi itu, ia masuk ke dalam ruangan yang ia tuju sejak awal sementara Kenan pergi menuju kelas yang ia yakini menjadi tujuan seseorang yang ia lihat sebelumnya.

“Dhania?” Meski ia sudah tahu sosok bayangan yang ia lihat tadi adalah Dhania, tetap saja ia merasa heran melihat Dhania sudah tiba di kelas sepagi itu.

“Eh, Kenan.” Dhania menoleh cepat untuk membalas sapaan Kenan, lalu ia kembali menyibukkan diri dengan buku di hadapannya.

“Ngapain?” Pertanyaan Kenan belum sempat dijawab Dhania, tapi ia sudah tahu alasan kenapa Dhania datang lebih awal. “Oh, PR kamu belum selesai?”

Dhania menggeleng pelan, kini ia menanggapi pertanyaan Kenan tanpa sedikit pun melirik ke arah lawan bicaranya. “Bukannya belum selesai, tapi gue lupa. Bego banget.”

Kenan tidak lagi mengajak Dhania berbicara, ia memilih untuk menarik bangku di sisi kanan Dhania dan memperhatikan Dhania dengan tangan kanan menopang dagunya. Melihat kerutan tipis di wajah Dhania dan bibirnya yang sedikit mengerucut akibat soal-soal teori yang tidak mudah, lantas membuat Kenan tersenyum tipis.

“Ken, sorry gue terpaksa nanya. Tapi lo ngerti interval nggak?” Suara Dhania membuyarkan perhatian Kenan akan perempuan itu.

“Hah?” Kenan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membaca soal yang dimaksud Dhania. “Oh, ngerti. Sini aku ajarin biar kamu paham.”

Detik berikutnya Kenan menyulap dirinya untuk sesaat menjadi guru untuk Dhania. Tidak hanya untuk soal tentang interval yang Dhania tanyakan sebelumnya, tapi juga untuk soal-soal lainnya sehingga PR yang Dhania lupa kerjakan dapat selesai lima belas menit sebelum kelas dimulai.

Thanks, ya, Ken,” ucap Dhania setelah soal terakhir berhasil ia kerjakan. Beberapa siswa lain telah hadir dan menempati bangku pilihan mereka masing-masing.

“Sama-sama, Dhan.” Kenan membalas ucapan terima kasih Dhania sembari merapikan alat tulis miliknya. “Kalo ada yang nggak ngerti tanya aja, ya.”

Dhania mengangguk pelan, ia kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya—berusaha menghubungi Yudha yang sampai detik ini masih belum nampak batang hidungnya. Tadi pagi, Dhania terpaksa meninggalkan Yudha di tengah jalan saat melihat jalanan ibukota lebih padat dibandingkan hari biasa. Ia menumpangi ojek online sementara Yudha terpaksa bermacet-macetan ria seorang diri.

Anyway, Dhan,” Kenan kembali angkat bicara, spontan membuat Dhania mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. “Nanti siang kita makan siang bareng, yuk? Berdua aja, nggak sama Mr. Ali.”

Sebisa mungkin Dhania berusaha menahan senyumnya agar Kenan tidak salah menilai dirinya. Ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju.

“Oke, boleh.”

“Jam dua belas kurang sepuluh di lobi, ya?”

Dhania kembali mengangguk, sementara Kenan tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat samar menghiasi wajah tampannya.

“Kalo gitu aku pergi dulu.” Kenan pamit undur diri.

“Eh, lo nggak ikut kelas teori?”

Kini Kenan tersenyum tipis. “Aku mau ke toilet dulu, mumpung ada waktu lima menit.”

*

Sesuai janji yang ia buat dengan Kenan, tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit Dhania sudah berdiri menunggu di lobi dan tidak lama kemudian, sosok Kenan muncul menghampiri dirinya. Lelaki itu masih terlihat sama seperti tadi pagi saat membantu Dhania, terlihat tampan dengan senyum menawan yang selalu menghiasi wajahnya.

“Hei, Dhania. Udah nunggu lama, ya?”

“Nggak, kok. Santai aja.”

“Ya udah, yuk? Kita jalan ke Semanggi.”

Dhania mengangguk setuju, kemudian bersama Kenan ia mulai berjalan menyusuri trotoar menuju salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi yang terletak tidak terlalu jauh dari gedung akademi mereka.

“Mau makan kayak kemarin atau makan yang lain, Dhan?” tawar Kenan setelah mereka berdua sudah berada di dalam pusat perbelanjaan itu.

“Yang lain kali, ya …” Dhania mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat restoran yang berderet rapi di lantai dasar. “Kalo makan burger, lo mau nggak, Ken?”

“Burger not bad.” Kenan ikut melihat restoran yang sudah dilihat Dhania terlebih dahulu. “Mau makan di situ?”

“Iya, yuk.”

Kalau kemarin menu makan siang ditentukan oleh Kenan—dan tentunya atas persetujuan Mr. Ali—hari ini Dhania yang menentukan menu makan siang mereka. Kenan pun merasa cukup takjub pada Dhania. Perempuan yang kini sedang sibuk memesan burger pilihannya sedikit berbeda dari perempuan-perempuan yang sering dikeluhkan Sean, kakaknya. Menurut Sean, perempuan cukup rumit saat diajak makan bersama. Tapi tidak dengan Dhania. Mudah baginya untuk menentukan menu makan siang mereka hari ini.

“Kenan lo mau pesen apa?” Pertanyaan Dhania mengembalikan fokus Kenan pada acara makan siang mereka.

“Samain aja sama kamu, Dhan.”

Mendengar jawaban Kenan, Dhania segera memesan dua set cheeseburger dan ice lemon tea sebagai minumnya. Lima menit kemudian, keduanya sudah duduk manis di salah satu meja di sudut restoran.

“Met makan, Dhania.”

“Met makan juga, Kenan.”

Karena merasa canggung dan tidak tahu bagaimana memulai sebuah percakapan, baik Dhania maupun Kenan sama-sama terdiam sambil menyantap burger masing-masing. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, sibuk mencari cara untuk memecah kebisuan di antara mereka.

“Dhania.”

“Kenan.”

Dan ketika mereka berhasil menemukan cara, keduanya saling memanggil di waktu bersamaan, refleks membuat mereka tertawa pelan.

“Lo duluan aja, Ken.”

“Nggak papa, kamu duluan aja, Dhan.”

“Okay,” Dhania menyuap satu kentang goreng dan mengunyahnya cepat sebelum ia mulai berbicara. “Kemarin, tuh, sebenernya lo mau ajak gue makan siang berdua aja, ya?”

Kenan hampir tersedak burger miliknya saat mendengar pertanyaan Dhania yang sangat di luar dugaannya. “Hah? Oh, iya …” Kemudian ia melakukan kebiasaannya saat dihadapkan pada situasi canggung, mengusap tengkuknya pelan. “Aku nggak tau mau ngajak kamu makan siang gimana karena kita belum kenalan secara resmi, makanya aku samperin kamu ke kelas karena aku tau saat itu lagi jadwal kelas piano kamu sama Mr. Ali.”

“Tapi?”

“Tapi aku nggak kepikiran kalo Mr. Ali bakal ikut keluar kelas karena setelah jadwal kamu itu jam makan siang.”

Awalnya Dhania tertawa pelan, tapi karena ekspresi bersalah Kenan terlihat menggemaskan bagi Dhania, tawanya menjadi semakin keras hingga ia perlu mengatur nafasnya untuk dapat kembali berbicara dengan Kenan.

“Kok kamu ketawa, Dhan? Emang lucu, ya?”

Dhania mengangguk-angguk antusias. “Lucu banget, Ken. And I really appreciate your effort.” Dhania kemudian mengulurkan tangannya ke arah Kenan. “Jadi, sekarang mau salaman? Kita buat pertemanan ini jadi official?”

Kenan tersipu malu, wajahnya terlihat sedikit memerah dengan tangan kanannya membalas uluran tangan Dhania. “Oke. Aku Kenan.”

“Dhania.”

“Dhania!”

Mendadak panggilan keras ditunjukkan pada Dhania, persis setelah sang pemilik nama berkenalan ‘resmi’ dengan Kenan. Dhania pun segera menarik tangannya dari genggaman Kenan demi mencari sumber suara yang ternyata tengah berdiri di depan pintu restoran.

“Yudha?”

“Dhania!” Nama Dhania kembali dipanggil Yudha, sambil lelaki itu berjalan dengan langkah besar menghampiri Dhania dan juga Kenan. “Kenapa lagi-lagi lo nggak angkat telepon gue, sih?! Gue dari tadi nyariin lo, tau!”

Sorry,” Dhania meringis pelan dengan mata melirik ke arah tas di mana ia menyimpan ponselnya di sana. Ia merasa bersalah pada Yudha karena lupa mengabari lelaki itu perihal acara makan siangnya dengan Kenan hari ini.

Sorry, sorry,” balas Yudha ketus. Ia sekilas melirik ke arah Kenan dengan tatapan tidak senang. “Ayo, balik kampus. Inget, PR lo masih banyak, lo harus latihan.” Yudha kemudian menarik tangan Dhania, memaksa Dhania mengikuti dirinya untuk segera pergi dari situ.

“Yud, gue nanti balik bareng Kenan aja.” Dhania berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Yudha, tapi sia-sia usahanya karena tenaga Yudha dua kali lipat lebih kuat dari dirinya.

“Nggak, baliknya sama gue sekarang.”

“Tapi, Yud—” Belum sempat berpamitan pada Kenan, Dhania sudah terseret keluar dari restoran burger itu. Kenan yang sedari tadi diam—karena tidak tahu harus berbuat apa—pun hanya bisa memandangi Dhania yang masih berusaha melepaskan diri dari Yudha.

“Yudha Bermana!” Setelah keluar tidak jauh dari resto tempat makan siangnya, akhirnya Dhania berhasil melepas tangannya dari cengkeraman Yudha. Ia berteriak cukup keras hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang yang lewat di sekitar mereka.

“Lo apa-apaan, sih?!” Dhania melanjutkan kalimatnya dengan nada marah. “Ngapain lo seret-seret gue kayak tadi, hah?!”

“Gue cuma mau lo balik ke kampus, Dhan.”

“Tapi nggak gitu caranya!” Dhania berteriak semakin marah. Ia tidak peduli dengan pengunjung yang mulai curi-curi pandang sambil berbisik membicarakan dirinya, ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Yudha beberapa saat lalu. “Ditambah lagi tadi gue lagi makan sama Kenan! Gue nggak sendiri, Yudha! Ada Kenan!”

“Kenan lagi,” gumam Yudha pelan. Nama yang akhir-akhir ini cukup sering menjadi topik pembicaraan Dhania dan entah kenapa Yudha tidak terlalu menyukainya.

“Sumpah, lo nyebelin banget hari ini, Yud.” Dengan air mata mulai menggenangi pelupuk, Dhania menutup percakapannya dengan Yudha siang itu dan pergi meninggalkan sahabatnya seorang diri.

Saat ini, yang Dhania butuhkan adalah waktu untuk menyendiri. Untuk menenangkan diri dan juga untuk mengumpulkan keberanian guna meminta maaf kepada Kenan atas perbuatan Yudha yang tidak mengenakan.

You're Enough

“Lah, dateng juga lo, Kak.” Sapaan Zach di depan pintu pagar rumah Cinere membuat Sagara refleks tersenyum tipis.

“Setelah gue pikir-pikir, kayaknya lebih baik diusir terus nongkrong di depan rumah lo daripada gue was-was di Sentul.”

Zach pun ikut tersenyum mendengar jawaban Sagara, kemudian ia mempersilahkan masuk kekasih kakaknya yang terlihat cukup ribet dengan barang bawaannya.

“Lo bawa apaan aja, sih, Kak? Ribet bener.”

“Sesajen buat Kakak lo.”

Kali ini Zach tertawa cukup keras sampai Anya keluar dari kamar dengan raut wajah protes—ia merasa waktu istirahatnya terganggu.

“Lo kenapa ketawa-tawa, Zach?”

Belum sempat Zach menjawab, raut wajah Anya sudah kembali berubah karena kehadiran Sagara di rumahnya.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Anya dengan nada bicara dingin.

Sagara sengaja tidak mendekati Anya, padahal ia ingin sekali memeluk perempuan yang sedang terlihat menggemaskan dengan hoodie kebesaran yang dipakainya. Ia hanya tersenyum tipis sambil mengangkat sedikit kantong belanjaan di tangannya. “Bawa banyak makanan enak buat kamu. Mau nggak?”

Anya melirik sekilas ke arah Zach sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Sagara dan menjawab pertanyaan lelaki itu dengan anggukan pelan. “Mau.”

Zach memutar bola matanya seraya mendengus pelan. “Kalo gini, sih, judulnya gue terusir secara halus,” ucapnya sambil menyambar jaket kulit hitam yang tersampir di atas sofa ruang tengah.

“Mau ke mana lo?” tanya Anya sambil berjalan mendekati Sagara dan Zach.

“Ngungsi. Take your time, guys.

Kepergian Zach menyisakan Anya, Sagara dan atmosfir canggung di antara mereka. Yang merasa awkward tentu saja Anya, sementara Sagara diam—mempersiapkan diri untuk segala reaksi Anya yang akan ia hadapi.

“Mau makan sekarang nggak? Ini aku bawain mie ayam, coklat, keripik, sama panini peanut butter kesukaan kamu. Aku juga bawa caramel macchiato yang seliter.”

“Kamu mau piknik di rumah aku?”

Sagara menahan senyumnya mendengar respons Anya. Suara perempuan itu masih terkesan dingin, tapi justru terdengar lucu di telinga Sagara.

“Iya, piknik biar kamu nggak kesel lagi sama aku.”

“Aku nggak kesel sama kamu?!”

Kali ini Sagara hanya menghela nafas pelan sambil menaruh barang bawaannya di atas meja ruang tengah. “Ini dipilih dulu, deh, kamu mau yang mana.”

“Mau mie ayam,” jawab Anya cepat.

Sagara segera duduk dan membuka kotak mie ayam yang ia beli dari restoran bakmi terkenal di dekat rumah Anya. Dengan telaten ia menuang sedikit kuah ke dalam mie ayam itu sesuai dengan selera Anya.

“Sini duduk.” Sagara kemudian menepuk-nepuk pelan dudukan sofa yang kosong di sisi kanannya. Anya pun menurut, ia duduk dan menerima kotak mie ayam yang kini sudah siap disantap dari Sagara.

“Kamu nggak makan?” Anya bertanya dengan suara yang sudah lebih melunak.

Sagara menggeleng pelan. “Kamu aja, aku nanti gampang.”

Mendengar jawaban Sagara, Anya menyodorkan satu suapan mie ayam ke depan mulut Sagara. “Makan. Nanti kamu sakit.”

Sagara tidak langsung membuka mulutnya. Ia menatap sesaat Anya yang sedang memperhatikannya dengan tatapan sendunya. Lewat matanya, perempuan itu mengisyaratkan Sagara untuk segera menerima suapan mie ayamnya.

Okay.” Sagara kemudian menyuap mie ayam itu dan mengunyahnya dalam diam. Anya pun melakukan hal yang sama, ia menyantap kembali mie ayamnya sambil sesekali menyuapi Sagara tanpa berbicara sedikit pun.

“Masih kesel sama aku nggak?” tanya Sagara pelan setelah seporsi mie ayam itu sukses mereka habiskan bersama.

“Mau caramel macchiato-nya.”

“Pertanyaan aku nggak mau dijawab dulu?” Sagara kembali bertanya

Anya melirik ke arah Sagara. Lelaki itu sudah terlebih dahulu memperhatikan dirinya dengan tatapan teduh yang tidak pernah ia kira akan menjadi tatapan kesukaannya. Awal mengenal Sagara, ia pikir lelaki itu adalah seorang yang angkuh dan apatis, tapi justru ia salah besar.

“Nggak kesel, kok,” jawab Anya ragu.

Sagara terkekeh pelan. Ia menuang caramel macchiato pada gelas kosong yang sebelumnya sudah ia ambil di dapur lalu memberikannya kepada Anya.

“Berarti boleh, dong, aku peluk kamu?”

Anya kembali menatap Sagara dengan puppy eyes yang tidak dapat menahan diri lelaki itu untuk segera memeluk perempuannya meskipun ia belum mendapat izin sepenuhnya. Tapi belum sampai lima menit, Sagara mendengar Anya terisak pelan, refleks ia melepas pelukannya.

“Kok nangis?”

Pertanyaan Sagara dijawab dengan isakan tangis yang semakin keras. Kini Anya menyandarkan kepalanya di dada bidang Sagara, lelaki itu pun segera mengusap-usap lembut puncak kepala Anya.

“Aku takut.” Di sela isak tangisnya, Anya berusaha memberi penjelasan. “Aku takut kamu beneran selingkuh, aku takut ...”

Sagara kembali memeluk Anya, tangannya tidak berhenti mengelus lembut kepala perempuan itu. Ia tidak lagi bicara, membiarkan ruang tengah yang didominasi dengan perabotan berbahan kayu itu dipenuhi oleh isak tangis Anya. Ia mengizinkan perempuannya untuk terus menangis sampai semua rasa sedih dan takutnya memudar.

“Aku sayang kamu.”

Sebuah pengakuan tak terduga dari Anya membuat Sagara tersenyum lebar. Ia kemudian meraih wajah Anya agar dapat menatap mata perempuan itu sambil menghapus sisa air mata di pipinya.

“Aku juga sayang kamu. Nggak usah nangis lagi, ya? Aku nggak akan kemana-mana. Nggak akan selingkuh juga sama siapa-siapa. You're enough Zefanya.”

Anya mengangguk-angguk perlahan dan Sagara menutup kalimatnya dengan satu ciuman ringan di kening perempuan itu.

“Kamu tapi beneran kayak mau piknik, deh, Ga.” Anya kembali berkomentar setelah ia puas menyesap caramel macchiato-nya.

“Jaga-jaga just in case aku diusir sama kamu, ini jadi bekal aku buat nongkrong di luar rumah kamu.”

Anya spontan memukul pelan lengan Sagara. “Kok ngeselin, sih?!”

***

One favorite things to do

Jo, di mana?

Itulah pesan yang kuterima satu jam yang lalu dan saat ini si pengirim pesan sudah duduk berhadapan denganku, hanya terpisahkan oleh sebuah meja kecil di mana terdapat dua gelas mocktail pesanan kami.

“Harusnya kamu nggak usah jemput aku, Ten. Aku bisa pulang naik taksi online.”

Ten menggeleng mendengar ucapanku barusan. “It’s okay, Babe. Sekalian aku jalan-jalan, bosen juga cuma di apart seharian,” balasnya setelah ia menyesap minumannya. “Gimana deal-deal-annya?”

Aku tersenyum lebar. “Sukses, dong. Soalnya didoain mantan pacar aku.”

“Mantan pacar?!” tanya Ten dengan alis terangkat sebelah.

“Iya, mantan pacar aku; kamu.”

Ten tertawa pelan. “Duh, the jokes.”

Kini senyumku terkulum. Aku tahu candaanku lebih sering terkesan garing dibandingkan lucu, tapi Ten selalu berusaha tertawa setiap aku berusaha melucu. Katanya ia tertawa agar aku tidak putus asa dan terus mencoba sampai candaanku menjadi lucu—definisi lucu yang sesungguhnya.

Sedikit menyebalkan, ya?

Anyway next time kamu nggak usah say sorry kayak tadi, ya. Aku beneran nggak papa kalau kamu mendadak pergi karena kerjaan.” Ten kembali berbicara dengan topik yang berbeda.

I’ll try. Tadi, tuh, mau telepon kamu biar cepet ngasih taunya, tapi udah keburu dijemput Olin.”

I know it well, Babe,” balas Ten sambil sedikit memajukan tubuhnya ke arahku agar ia bisa mengacak pelan rambut di puncak kepalaku, lalu ia kembali duduk bersandar menikmati pemandangan Jakarta dari lounge outdoor Sky Lounge.

Mataku tak henti memandangi Ten dengan rasa syukur yang kuucapkan berulang kali di dalam hati. Setiap mendapat kesempatan untuk memperhatikan Ten dalam diam, aku selalu berterima kasih kepada Tuhan karena aku dipertemukan dengan lelaki yang luar biasa ini. Ten memang tidak sempurna, aku pun begitu. Tapi ketidaksempurnaan kami saling melengkapi satu sama lain, membuat kami tidak menjadi pribadi yang jumawa terhadap pasangan, tetap belajar dan berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Jo, inget nggak aku ngomong apa waktu pertama kali kita pergi bareng ke Anyer?” Pertanyaan Ten membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng pelan, menunggu Ten melanjutkan kalimatnya.

You always make me nervous, Jo. Kebiasaan ngeliatin aku diem-diem dari dulu ternyata nggak berubah.”

Well, Ten dan kemampuan mengingatnya yang ajaib. Efek dari sifat perfeksionisnya menjadikan Ten memiliki memori yang sangat baik dan sering kali berguna untuk membantuku yang cenderung pelupa.

“Ngeliatinnya kayak kita baru nikah kemarin sore, deh. I know, I know, aku emang seganteng itu.”

Sifat lain Ten yang agak menyebalkan—tapi nggak juga, sih, karena apa yang dia ucapkan benar— adalah narsis.

“Iya, iya, si paling ganteng kesayangan aku. Makasih banyak, ya, Babe.”

Thank you isn’t enough, Jo.”

Aku mengerling. “Kali ini apa lagi, Ten?”

Ten terkekeh pelan. “Nasi uduk Kebon Kacang, yuk? Aku laper banget.”

“Kalo laper kenapa ngajaknya ke Sky Lounge?” tanyaku seraya menghela nafas pelan.

Ten hanya tersenyum kikuk, bersamaan dengan tubuhnya yang kini bangkit berdiri dari kursinya dan tangannya berusaha menggandeng tanganku.

Let’s do our favorite thing.”

Senyumku melebar, tanganku menyambut uluran tangan Ten dengan sumringah.

“Ayo kita pacaran.”

Three words that they always (and never bored to) say

Sekitar jam tujuh malam, sedan hitam Winwin tiba di lapangan parkir Plataran Senayan. Lelaki itu segera turun dari mobil dan pergi menuju restoran yang terdiri dari beberapa lounge. Di pintu depan ia disambut oleh petugas restoran yang menanyakan status reservasinya.

“Kayaknya udah reservasi, Mbak. Atas nama Ten,” ucap Winwin tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya; bukan Ten yang mereservasi tempat itu melainkan istrinya sendiri, Kalina.

“Maaf, Pak, tapi tidak ada reservasi atas nama Ten.”

“Hah?” Wajah Winwin terlihat bingung. “Sebentar, ya, Mbak.”

Winwin melipir, sedikit menjauhi pintu untuk menghubungi Ten dan menanyakan keberadaan sahabatnya itu. Percobaan telepon pertama dan kedua gagal, untungnya di percobaan telepon ketiga Ten mengangkat panggilan Winwin yang sudah sedikit merasa keki.

“Lo di mana?”

“Di dalem.”

“Dalem mana?” tanya Winwin tidak sabar. “Lo keluar, deh. Gue di depan Pidari House.”

“Gue lupa bilang, gue di Rumah Kaca.”

Winwin menghela nafas demi mengontrol emosinya walaupun ia sudah terbiasa kalau berjanji dengan Ten pasti ada saja kecerobohan lupa memastikan lokasi pertemuan mereka.

“Ya udah, bentar gue kesana.”

Winwin memutus hubungan telepon itu dan kembali berbicara kepada petugas restoran untuk minta diantarkan ke Rumah Kaca yang dimaksud Ten. Tetapi meskipun ia sudah tiba di sana, Winwin tetap tidak melihat sosok Ten sehingga ia kembali menelepon sahabatnya itu.

“Ten, gue udah di Rumah Kaca. Lo di mana?”

“Apart.”

Jawaban Ten membuat Winwin geregetan. “Ten! Serius, kek. Lo di mana?”

Ten tertawa terbahak. Ia dapat membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi kesal Winwin saat ini. “Serius gue di apart. Nih, lagi main sama anabul gue sambil nunggu Jocelyn pulang.”

“Terus lo ngapain ngajakkin gue ke Senayan?!” protes Winwin dengan nada kesal. Kesal karena seharusnya ia bisa segera pulang ke apartemennya, bertemu dengan Kalina dan buah hati mereka, bukannya melakukan hal yang buang-buang waktu seperti saat ini.

“Ada yang lagi nungguin lo di sana.”

Dahi Winwin mengerut bingung. Penasaran dengan kalimat yang dimaksud Ten, ia kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang dimaksud sahabatnya itu, sampai akhirnya ia menemukan sosok wanita yang tengah berdiri di sudut ruangan dengan tatapan berbinar ke arahnya, Winwin spontan tersenyum lega.

“I guess you already meet her. Happy birthday, Bro. Enjoy your dinner.”

Ten memutus hubungan telepon itu tanpa menunggu lagi balasan dari Winwin, sementara Winwin sendiri kini sudah berjalan menghampiri sosok wanita yang masih setia berdiri menunggu kedatangannya. Wanita itu selalu terlihat cantik di mata Winwin, dan malam ini kecantikan wanita itu berlipat ganda dengan rambut coklat panjangnya yang dibiarkan tergerai, gaun hitam lengan pendek selutut serta heels berwarna senada.

“Kenapa tadi mukanya merengut gitu? Kesel, ya, sama Ten?” tanya wanita itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Iya, karena aku nggak mungkin kesel sama kamu,” jawab Winwin sebelum ia mencium kening wanita itu lalu mereka berdua duduk berhadapan. “Tell me how you arrange this, Kalina. Dan kenapa si Ten bisa ikut-ikutan.”

Kalina tertawa pelan. “Semalem aku reservasi tempat sama minta Haechan kosongin waktunya malem ini buat jagain Dede. Terus tadi siang minta tolong Ten buat pastiin kamu nggak lembur, baru deh, dateng ke sini sekalian naro Dede di apart Haechan.”

Winwin hanya bisa geleng-geleng kagum mendengar bagaimana Kalina menyiapkan surprise ulang tahun untuknya. Wanita di hadapannya ini selalu punya seribu satu cara untuk membuatnya bahagia dan ia sangat bersyukur karena dapat memilikinya sebagai teman sehidup semati.

“Win, kok, bengong? Masih ada kerjaan yang belum beres di kantor?” tegur Kalina melihat Winwin memangku dagu dengan kedua tangan dan menatap kosong keluar dinding kaca.

“Eh, nggak, kok, Kal. Aku cuma lagi mikir aja, tumben kamu kasih aku surprise di luar begini. Bukannya aku nggak seneng, cuma yang aku tau kamu biasanya lebih seneng masak sendiri di apart terus kita rayain sama-sama di apart.”

Kalina kembali tersenyum lebar. Ia meraih tangan Winwin lalu digenggam serta dielus punggung tangan itu perlahan. “Tahun ini ganti suasana dulu, Win. Lagian kamu nggak bosen sama nasi kuning buatan aku tiap tahun? Belum lagi kalo Dede atau Haechan ulang tahun, aku juga masak menu yang sama.”

Winwin menggeleng. “Mana ada aku bosen, Kal. I never get bored and tired when it comes about you.” Kemudian Winwin mencium pelan punggung tangan Kalina yang masih dalam genggamannya. “Makasih, ya, Sayang.”

“Aku juga makasih sama kamu, Win. Makasih udah lahir ke dunia ini dan selalu bertahan untuk segala sesuatu yang kamu hadapi, baik itu hal baik ataupun hal buruk.”

Perasaan bahagia Winwin semakin meluap di dalam diri lelaki itu. Mumpung makan malam mereka belum tersaji, buru-buru ia menghampiri Kalina lalu mencium puncak kepala serta memeluk istrinya dari belakang.

“Kal,” panggil Winwin dengan suara rendahnya. “Abis ini kita harus jemput Dede di apart Haechan, ya?”

“Ya … Iya. Masa anak kamu nggak dijemput balik?”

“Kalo Dede dititip sampe besok pagi sama Haechan, gimana?”

Kalina sedikit memutar lehernya ke belakang. Didapatinya Winwin sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap jawaban Kalina akan sesuai dengan keinginan suaminya itu.

“Coba kamu yang ngomong sama Haechan. Dia lebih nurut sama kamu daripada sama aku.”

Winwin terkekeh pelan. “Tapi baju sama perlengkapan Dede gimana?”

“Kamu kayak nggak tau istri kamu aja, deh, Win. Aku selalu bawa lebih baju sama pampers Dede, buat jaga-jaga kejadian kayak gini.”

“Kayak gini?” tanya Winwin jahil dengan alis terangkat sebelah dan dagu yang sengaja ia istirahatkan di bahu Kalina. Sampai pramusaji datang mengantar pesanan mereka pun, belum ada tanda-tanda Winwin ingin melepaskan dirinya dari Kalina. Melingkarkan kedua tangannya di leher Kalina dan memeluk wanita itu dari belakang sudah menjadi salah satu hal kesukaannya sejak awal mereka pacaran.

“Iya, kayak gini. Kalo bayi aku yang satu lagi, lagi manja.”

Winwin tersenyum senang, ia mencium pipi kanan Kalina lalu kembali duduk di kursinya. “Bener, ya, aku ngomong sama Haechan sekarang? Kamu nggak boleh nyesel, lho.”

Kini Kalina tertawa pelan sambil ia menyiapkan alat makannya. “Nyesel kenapa, Win?”

“Nyesel, soalnya malem ini aku banyak maunya.”

Kedua pipi Kalina merona merah karena malu. “Win, ngomongin itu nanti lagi, ah. Ayo makan dulu.”

“Bentar, aku chat Haechan dulu sebelum kamu berubah pikiran.”

Kalina hanya bisa menahan senyum melihat tingkah suaminya yang tidak jarang seperti anak-anak.

Sent. Sekarang kamu nggak bisa berubah pikiran lho, Kal,” ujar Winwin dengan nada setengah mengancam tapi bercanda tentunya.

“Iya, Sayang, iya … Ayo sekarang kamu makan dulu, nanti keburu dingin makanannya.”

Winwin tidak menggubris permintaan Kalina, ia justru kembali memanggil istrinya dengan nada bicara yang lembut.

“Kalina.”

Sang empunya nama mengangkat kepalanya, mendapati kembali Winwin dengan tatapan teduh yang selalu berhasil menenangkan hatinya.

I love you, Kalina Maheswari.”

I love you too, Winwin.”

Pengakuan

Pesan singkat dari Traven memaksa Yeremia memutar balik mobilnya, keluar dari kompleks rumah mereka dan pergi menuju rumah Cecilia yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit—kalau tidak macet. Sepanjang perjalanan, Yeremia tidak punya pikiran apa-apa mengenai undangan Traven karena menurutnya Traven cuma pura-pura galak di chat supaya Yeremia mengiyakan permintaannya. Tapi saat Yeremia tiba di rumah Cecilia, ia paham mengapa Traven mengatakan hal-hal yang ia kirim dalam ruang obrolan mereka.

Traven sedang duduk di kios mie ayam milik keluarga Cecilia yang dibangun di garasi rumah Cecilia dengan seseorang yang sudah Yeremia bisa tebak siapa.

“Bang.”

Suara Yeremia membuat keduanya menoleh—Traven dan Aurora. Traven tersenyum lebar, ia senang sekali dengan keputusan Yeremia untuk datang sore ini, tapi Aurora sebaliknya. Ia setengah kaget lalu buru-buru bangun dari duduknya. Karena sedikit ceroboh, Aurora tidak sengaja menumpahkan kuah kaldu mie di atas paha Traven.

“Rora!!” teriak Traven panik, membuat seisi penghuni rumah Cecilia—Cecilia dan kedua orang tuanya—tergopoh-gopoh mendatangi mereka bertiga. Setelah memastikan kalau Traven baik-baik saja, ibu Cecilia kembali ke dalam rumah sementara ayah Cecilia membuat seporsi mie ayam untuk Yeremia yang baru saja datang.

“Sendiri, Yer?” tanya Cecilia sambil membantu menyiapkan peralatan makan dan berbagai saus untuk Yeremia.

“Iya. Bang Win, kan, di Seattle.”

Cecilia melebarkan matanya, ekspresinya berusaha mengancam Yeremia agar tidak lagi menyebut nama lelaki yang ia taksir sejak hari pertama sekolah, tapi sayang, ancaman itu tidak berhasil karena baik Yeremia, Traven, Aurora maupun ayahnya sendiri sama-sama mengulum senyum atas reaksi Cecil.

“Sini.” Traven—masih dengan celana pendek khaki-nya yang basah—bangun dari duduknya, mempersilahkan Yeremia duduk di kursi sebelah Aurora.

“Lo mau ke mana, Ven?” Aurora bertanya seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi ibunya.

“Ganti celana.”

“Di mana?” Aurora tidak mau Traven meninggalkan ia dan Yeremia berduaan saja, tangannya terus mencengkram pergelangan tangan Traven.

“Rumah Martia.”

“Emang Martia punya celana lo?”

“Bacot, ya.” Traven berusaha menahan rasa kesalnya di depan ayah Cecilia yang masih ada di sana. “Lo di sini, selesein masalah lo,” lanjut Traven sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Aurora dan menepuk pelan bahu Yeremia sebelum meninggalkan garasi rumah Cecilia.

“Yeremia, ayo duduk, ini mie ayamnya udah jadi.” Suara ayah Cecilia cukup berhasil mencairkan suasana canggung yang tercipta begitu saja selepas kepergian Traven.

“Yere, kalo mau minum Cola atau Teh Botol, ambil aja di cooler, ya,” ujar Cecilia sopan sebelum ia mengekori ayahnya pergi meninggalkan Yeremia dan Aurora berdua di garasi rumahnya.

Aurora kembali bertanya hal serupa kepada Cecilia. “Cecil, mau ke mana?”

“Ke dalem, Kak. Nggak enak kalo di sini, ntar disangka nguping pembicaraan Kakak sama Yeremia,” jawab Cecilia sopan. “Aku masuk dulu, ya …”

Dan setelah itu hening. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya ada suara motor yang melintas di jalan utama depan gang rumah Cecilia, bersahutan dengan suara burung-burung peliharaan ayah Cecilia.

“Ke sini naik apa, Yer?” tanya Aurora memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin, walaupun rasanya sulit, apalagi setelah melihat apa yang Yeremia lakukan di depan tempat kursus lelaki itu.

“Jazz,” jawab Yeremia singkat karena mulutnya masih dipenuhi mie ayam dan pangsit goreng.

Basa-basi itu terus berlanjut. “Parkir di?”

“Lapangan depan. Sebelah mobil Bang Traven, kok.”

Rumah Cecilia berada di gang yang cukup sempit dan tidak memungkinkan untuk sebuah mobil parkir berlama-lama di sana, sehingga mau tidak mau setiap orang yang datang ke sana dengan membawa kendaraan roda empat, harus memarkirkan mobil mereka di lapangan yang tersedia di pinggir jalan utama.

“Tadi Kakak ke Cantata?” Yeremia mengutarakan kembali pertanyaan yang belum dijawab Aurora di room chat mereka. Aurora mengangguk pelan sambil berusaha menghabiskan sisa mie ayamnya. “Tapi kenapa pergi? Padahal tadi aku manggil-manggil Kakak, lho.”

“Nggak enak ada temen kamu. Eh, atau pacar kamu?”

Yeremia menaikkan sebelah alisnya, ia bingung dengan pernyataan yang diralat Aurora. “Pacar? Apa maksudnya, Kak?”

“Cewek yang tadi kamu benerin poninya, pacar kamu, kan?”

Kak Aurora cemburu? Tiba-tiba saja pertanyaan itu melintas di benak Yeremia.

“Kan, Kakak tau sendiri aku nggak boleh pacaran sebelum lulus SMA sama mami.”

Yeremia berusaha menjawab, tapi Aurora bersikeras dengan pemikirannya sendiri.

“Kalo gitu, itu cewek yang kamu taksir.”

Yeremia menahan tawanya dan memilih untuk mengambil sebotol Cola di dalam cooler, meneguk minuman berkarbonasi itu hingga tersisa setengah botol.

“Aku, tuh, cuma suka sama satu cewek.” Setelah puas meminum Cola-nya, Yeremia kembali bersuara. Kalimat yang diucapkan Yeremia sukses membuat Aurora menoleh dan menaruh perhatiannya kepada lelaki itu sepenuhnya.

“Ceweknya lagi duduk di depan aku sekarang.”

Butuh beberapa detik untuk Aurora menyadari maksud dari kalimat terakhir Yeremia, lalu ia melebarkan matanya selebar yang ia bisa. Dahinya mengerut dan bibirnya sedikit mengerucut, ekspresi khas dari perempuan itu setiap ia bingung akan suatu hal.

“Yer?” Nada bicara Aurora menggantung, ia butuh penjelasan lebih.

“Aku suka sama Kak Aurora. Dan selama ini, sejak kita kenal, aku cuma naksir sama Kakak.”

Tidak ada alasan lagi bagi Aurora untuk pura-pura tidak paham dengan perkataan Yeremia. Kalimat itu begitu jelas diucapkan Yeremia, sangat jelas hingga Aurora tidak tahu bagaimana ia harus merespons kalimat itu. Aurora berharap Yeremia berhenti sampai kalimatnya yang terakhir, tapi ia salah besar; lelaki itu melanjutkan lagi kata-katanya hingga ia benar-benar bungkam seribu bahasa.

Don’t think it too hard, Kak. I don’t ask you a question, I’m just clearing up the misunderstanding you’re thinking about. Aku nggak pernah suka sama Anastasia even in fact she likes me—but I’m not. Sejak awal aku kenal Kak Aurora, aku sukanya cuma sama Kakak.”

Dalam hening yang kembali tercipta, Yeremia melanjutkan aktivitas makannya. Aurora masih berusaha berpikir meskipun percuma, sore hari ini otaknya tidak bisa diajak kompromi untuk berpikir dengan jernih. Atau sebenarnya ia sudah berpikir jernih, tapi masih saja menyangkalnya?

“Sebelumnya aku yang ada di posisi Kakak, aku salah paham sama kedekatan Kakak dan Bang Traven. Bego juga, sih, aku … nggak nanya dulu ke kalian dan main langsung nge-judge aja kalau kalian ada special relationship.”

That’s why you keep a distance from me?

Yeremia mengangguk jujur. Dalam hatinya, ia sendiri kaget dengan keberanian akan pengakuannya sore ini. Ia pikir mengakui perasaannya pada Aurora akan seperti adegan di film-film romance yang ia tonton; penuh adegan dramatis, jantung yang hampir copot karena terlalu berdetak cepat dan kalimat yang diucapkan terbata-bata. Namun kenyataannya tidak. Pengakuannya mengalir begitu saja seolah-olah ia sedang bercerita dengan teman dekatnya.

Sedikit yang bisa Yeremia tebak, mungkin saja lancarnya pengakuan sore ini karena efek ‘restu’ sang mami atau memang sudah waktunya ia harus bicara jujur kepada Aurora, sebelum semua jadi terlambat.

Hurtful truth is (always) better

Aurora

“Tumben banget sore-sore gini minta dianterin ke ruko sentral. Ada urusan apa, Neng?”

Mang Ipul, ojek langgananku dan Kak Aldi, membuka percakapan setelah ia memastikan aku sudah duduk dengan aman di atas jok motornya, lalu melaju pelan meninggalkan cluster rumah kontrakanku.

“Nyusulin Yeremia, Mang.”

“Yeremia tetangga sebelah?” Aku mengangguk walaupun Mang Ipul tidak melihatnya karena sekarang ia sibuk menyapa satpam cluster di gerbang. “Emang Yeremia kenapa?” tanyanya kemudian dengan logat Sunda-nya yang kental.

“Nggak napa-napa, Mang … Dia abis les biola, saya kepengen nyusulin aja, terus ajak makan.”

“Oh …” Mang Ipul hanya manggut-manggut sementara laju motornya tetap berada dalam kecepatan terlalu aman. Sebenarnya, aku ingin memintanya untuk melaju lebih cepat karena aku sudah terlambat menyusuli Yeremia, tapi Mang Ipul memang tidak senang membawa motornya ngebut; katanya bahaya. Aku hanya bisa pasrah, kalau saja Kak Aldi tidak bekerja dari rumah hari ini dan sibuk memberondongiku dengan sejuta pertanyaan, aku pasti tidak akan telat.

“Salam buat si Yeremia, ya, Neng Rora.”

Begitu sampai, aku berterima kasih sembari turun dan memulangkan kembali helm yang dipinjami Mang Ipul untuk melindungi kepalaku sepanjang perjalanan. Setelah berpisah dengan Mang Ipul, aku berjalan mencari ruko tempat di mana Yeremia mengasah kemampuan bermain biolanya. Aku memang sengaja meminta Mang Ipul untuk menurunkanku di gerbang depan ruko, karena seingatku tempat les Yeremia tidak jauh dari sini.

“Ah, mobilnya Yere!” gumamku antusias saat mengenali mobil Honda Jazz hitam milik Yeremia terparkir persis di depan ruko dengan plang nama “Cantata”. Aku buru-buru mendekati mobil itu, tapi kemudian langkahku terhenti saat melihat Yeremia keluar dari tempat kursusnya dengan seorang perempuan.

Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, yang kutahu perempuan muda itu terlihat bahagia—senyumnya sama sekali tidak memudar dari wajah mungilnya. Yeremia yang berjalan di sampingnya hanya tersenyum tipis sambil menggendong tas biola yang selalu ia bawa setiap pergi les.

Selanjutnya, pemandangan yang sering kulihat di film atau sinetron terjadi di depan kedua mataku sendiri; Yeremia merapihkan poni perempuan itu lalu ia berjongkok dan mengikat ulang tali sepatu perempuan itu. Yang kutahu, biasanya laki-laki akan melakukan hal-hal yang baru saja Yeremia lakukan kalau ia tertarik dengan lawan jenisnya.

Aku mundur selangkah demi selangkah, sadar kalau kehadiranku sore itu hanya akan merusak suasana di antara Yeremia dan perempuan pilihannya. Dan seharusnya sejak awal aku mengenal Yeremia, aku juga sadar, kalau aku memang tidak boleh menaruh perasaan lebih kepada lelaki yang hanya menganggapku sebagai seorang kakak.

Yeremia

Kalau bukan karena Anastasia, selesai les hari ini gue pasti udah cabut ke Starbucks buat meneguk segelas Americano dingin, setelah selama empat puluh lima menit gue hampir tanpa henti mengulang materi pelajaran. Hari ini guru les gue sengaja menambahkan lima belas menit dari waktu les biasanya karena gue akan menghadapi ujian kenaikan grade dua bulan lagi, dan tentunya butuh persiapan ekstra mengingat materi yang harus dikuasai ada banyak dan tingkat kesulitannya cukup tinggi.

“Kak, kita ke McD, yuk! Aku mau makan es krim.” Anastasia dengan nada bicaranya yang selalu terdengar riang gembira—seenggaknya kayak gitu di telinga gue—kembali mengajak gue untuk menghabiskan waktu dengannya.

“Gue anter lo balik, ya, Nas. Gue masih ada keperluan lain.”

Keperluan lain gue tak lain tak bukan tentu saja mendatangi rumah Kak Aurora. Sejak pameran lukisan itu, gue belum pernah bertemu Kak Aurora lagi. Gue memang sengaja menghindarinya karena asumsi konyol gue terkait hubungannya dengan Bang Traven. Dan setelah gue tahu kebenarannya pun, gue masih belum bisa menemui perempuan itu.

“Yah, keperluan apa? Aku temenin, deh, Kak.”

Gue tidak langsung menjawab permintaan Anastasia. Gue hanya memandanginya untuk sesaat, lalu membenarkan poninya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Gue dapat melihat kedua pipi Anastasia merona, tapi kemudian gue mengalihkan pandangan gue ke arah tali sepatunya yang lepas sebelah. Gue berjongkok, membenarkan tali sepatu milik Anastasia sambil memikirkan apa yang harus gue katakan untuk membuatnya paham kalau gue tidak ingin ada hubungan lebih di antara kami selain pertemanan antara kakak dan adik kelas.

Tapi, saat gue hendak bangkit berdiri, ekor mata gue menangkap sosok perempuan yang amat sangat gue kenal. Sosok itu berjalan mundur perlahan sebelum akhirnya berlari kecil, pergi meninggalkan tempat di mana sebelumnya ia berdiri memandangi gue dan Anastasia.

“Kak Aurora!” Gue memanggil sosok yang sangat gue kenal itu dan hendak mengejarnya, tapi sayang tangan Anastasia cukup cepat menahan kepergian gue.

“Kak, mau ke mana?!” tanyanya bingung sambil melihat ke sekeliling, mencari Kak Aurora yang gue maksud. “Kak Aurora siapa?”Anastasia melanjutkan pertanyaannya.

“Nas, gue anter lo pulang sekarang, ya. Gue beneran masih ada urusan lain.”

“Kak, aku suka sama Kak Yeremia.”

Duh, kenapa dia jadi confess mendadak ala-ala drama Korea yang suka ditonton mami, sih?

“Anas—”

“Aku suka Kak Yeremia dari hari pertama MOS*, Kak. Di saat yang lain suka sama Kak Ferdi atau Kak Jonathan, aku lebih tertarik dengan Kakak yang nggak terlalu banyak bicara dan lebih banyak perhatiannya. Aku masih inget pas Kakak benerin tali sepatuku di MOS hari ketiga, sama kayak yang Kakak lakuin barusan. Dan kebetulan, ini juga sepatu yang sama kayak yang aku pake waktu MOS.”

Gue refleks melirik kembali ke arah sepatu Anastasia walaupun gue sama sekali no idea— gue beneran nggak ingat pernah menolong dia saat MOS. Satu yang gue ingat, gue melakukan apa yang seharusnya gue lakukan sebagai seorang manusia, yaitu membantu sesama.

“Mungkin Kak Yeremia udah tau dari Kak Randika dan Kak Michelle, kalau aku suka sama Kakak—”

“Anas, sorry tapi gue nggak bisa bales perasaan lo.”

Gantian gue memotong kalimat Anastasia. Peduli setan dengan susunan kata atau kalimat yang sopan, gue udah nggak bisa mikir lama-lama lagi. Yang penting gue harus segera meluruskan kesalahpahaman yang mungkin lagi Anastasia alami sekarang.

“Gue udah tau dari Randika, makanya gue bisa bilang kayak gini sama lo. Bukannya gue nggak suka sama lo, tapi gue cuma bisa menerima lo sebagai teman sekaligus adik kelas gue, nggak lebih dari itu.”

Gue dapat melihat Anastasia sedikit shock dengan kalimat yang baru aja gue sampaikan. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mungkin berusaha menahan rasa kecewa yang akhirnya tersalurkan lewat sebuah pertanyaan.

“Kenapa, Kak? Kakak suka Kak Aurora, kah, makanya tadi Kakak panggil dia?”

“Kak Aur tadi beneran ada di sini, Nas, di sana.” Gue menunjuk tempat di mana tadi gue melihat sosok Kak Aurora berdiri. “Dan kalau lo tanya gue suka Kak Aurora, jawabannya iya.”

Binar antusias di mata Anastasia memudar, ia menatap gue dengan tatapan lemah. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di dalam hati gue, tapi gue nggak punya pilihan lain. Gue harus berkata jujur, sebelum gue lebih menyakiti perasaannya.

“Sekarang gue anter pulang, ya, Nas?” Anastasia hanya mengangguk lesu. “Thank you for being honest to me, Nas. I appreciate it a lot, but, I need to be honest to you too, even it hurts.

Note: MOS = Masa Orientasi Sekolah

Hunch

Hunch: a feeling or guess based on intuition rather than known facts.

Gue yakin setiap orang pasti punya masa di dalam hidupnya, di mana mereka nggak mau bersosialisasi dengan siapa-siapa. Mereka cuma mau ngabisin waktu sendirian dengan pikirannya sendiri, ditemani segelas kopi atau snack—kayak gue saat ini.

Sore ini, selesai dari bimbel yang menguras otak dan tenaga, gue memilih untuk duduk sendirian di Lawson daripada pulang ke rumah. Bukan karena gue lagi menghindari mami yang pasti akan memberondong gue dengan segudang pertanyaan terkait tweet Anas yang gue retweet tadi siang, tapi seperti apa yang gue bilang sebelumnya, gue lagi kepengen punya waktu sendiri.

Bahasa kerennya: me time.

Setelah membeli segelas ice coffee dan onigiri tuna mayo kesukaan gue, gue duduk di kursi outdoor salah satu minimart langganan yang masih satu kompleks dengan rumah dan sekolah gue. Udara Cibubur sore ini cukup dingin, anginnya lumayan kencang berhembus, kayaknya nanti malam bakal hujan. Gue pun refleks ngeluarin ponsel dari saku seragam dan pergi ke salah satu room chat yang dulu cukup sering gue kunjungi sampai akhirnya ibu jari gue berhenti—menggantung di atas layar ponsel begitu saja. Gue diam beberapa saat, melihat status online di bawah nama pemilik room chat yang sedang gue kunjungi, sampai akhirnya status itu menghilang dan layar ponsel gue mati. Ibu jari gue masih diam di posisi yang sama, sampai akhirnya gue kembali menyalakan ponsel gue dan memutuskan untuk keluar dari room chat itu.

“Woi.”

Suara cempreng milik Bang Traven tiba-tiba kedengaran jelas di telinga gue. Ternyata tanpa gue sadari si pemilik suara daritadi udah berdiri di dekat meja gue dan sekarang lagi narik kursi kosong di hadapan gue lalu duduk di sana.

“Bengong aja lo, mikirin apaan, sih?” tanyanya sambil ngeluarin rokok elektrik dari kantong kemejanya. “Nilai try out gimana?”

“Jelek,” jawab gue pendek sesuai faktanya.

“Mami gimana?” Bang Traven masih kepo dengan reaksi mami. Sama persis dengan Kak Aurora.

“Ya … Ada ngomel-ngomel dikit. It’s okay, lah.”

“Bukannya lo belajar sama Aur, ya?”

Gue berusaha untuk bersikap biasa aja, tapi nyatanya Bang Traven masih tetap bisa membaca perubahan ekspresi gue ketika dia menyebut nama Kak Aurora. Bang Traven ketawa pelan sebelum dia menyeruput es kopinya dan kembali mengajak gue bicara.

“Lo sama Aur kenapa, sih, Yer? Did she does something wrong?

Gue menggeleng pelan, nggak mau Bang Traven semakin ketawa kalau dengar nada bicara gue yang sulit gue kontrol.

“Orangnya ngeuh, lho, kalo lo lagi jauhin dia.”

“Kak Aur ngadu sama lo?”

Bang Traven mengangguk sambil menghisap rokok elektriknya. Seketika pertanyaan gue terdengar bodoh. Udah pasti Kak Aurora bakal ngadu sama Bang Traven, secara mereka, kan—

Drrt … Drrt …

Gue dan Bang Traven menoleh kompak ke ponsel Bang Traven yang diletakkan begitu saja di atas meja. Ponsel itu sedikit bergerak berputar karena getarnya tidak berhenti, tanda adanya telepon masuk untuk sang pemilik telepon.

“Kenapa, Mar?”

Gue menaikkan sebelah alis. Baru pertama kali gue dengar nama panggilan itu, berarti si penelepon adalah seseorang yang tidak gue kenal.

Ralat, belum gue kenal.

“Gue lagi nongkrong, sih … Lo perlu gue jemput? Cowok lo emang ke mana?”

Sekarang gue memiringkan sedikit kepala gue. Biasanya gue cukup lihai menebak apa yang sedang teman-teman gue atau mami bicarakan di telepon dengan lawan bicaranya, tapi kali ini nggak. Gue agak bingung dan dengan arah topik pembicaraan di telepon Bang Traven sore ini.

“Ya udah, lo tunggu situ. Gue jemput.” Nada bicara Bang Traven langsung terdengar berbeda seratus delapan puluh derajat. “Nggak, Mar. No excuse. Lo tunggu situ. Gue jemput.”

“Siapa?” tanya gue penasaran setelah hubungan telepon itu selesai.

“Ada, lah.” Bang Traven menjawab singkat sebelum dia menyeruput cepat minumannya. “Gue cabut duluan, Yer. Lo balik rumah, gih.”

“Bang.” Gue mencengkram pergelangan tangan Bang Traven, meminta jawaban yang jelas dari dia. Tapi Bang Traven cuma senyum tipis, dia ngelepas tangannya dari cengkraman gue lalu mengacak-acak rambut gue.

“Ntar kapan-kapan gue kenalin. Kalo udah ada kepastian.”

Setelah memberikan jawaban abu-abu, Bang Traven langsung pergi gitu aja ninggalin gue. Tapi belum sampai lima langkah dia pergi, Bang Traven kembali memutar tubuhnya.

“Yer, gue sama Aurora nggak ada hubungan apa-apa, kok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya lalu setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan gue dengan Mini Cooper hitam kesayangannya.

Dahi gue mengerut bingung untuk beberapa sebelum akhirnya kerutan itu menghilang, berganti dengan mata gue yang membelalak lebar.

“Wait—what?”

Sejurus kemudian, semua kalimat mami dari percakapan kami minggu lalu berputar kembali dalam ingatan gue. Sangat jelas sampai-sampai gue nggak berhenti merutuki diri gue sendiri karena gue sudah terlalu bodoh untuk menjadi seorang Yeremia Pramudya.

*

Kebiasaan mami setiap sore, setiap gue pulang sekolah, nggak pernah berubah; duduk manis di ruang tengah, baca buku sambil menikmati chamomile tea favoritnya. Ekspresi dan kalimat yang diucapkan pun selalu sama setiap menyambut kedatangan gue, terlepas dari apapun yang dia tahu tentang gue selama di sekolah hari itu.

“Kon mandi dulu, abis itu duduk sini temenin Mami.”

Gue cuma mengangguk nurut lalu naik ke lantai dua untuk melakukan perintahnya. Dan nggak sampai setengah jam, gue sudah duduk manis di sofa berseberangan dengan mami.

“Hasil Try Out-mu kenapa begitu, Yer? Mami sedih, lho.”

Kalimatnya diucapkan bersamaan dengan ekspresi yang mewakilkan perasaannya. Binar matanya memang sedikit berbeda dibandingkan saat gue mendapat hasil ulangan yang memuaskan.

“Sorry, Mi.” Gue cuma bisa ngomong itu dengan pelan. Walaupun gue sempat merasa nggak peduli dan merasa bisa memperbaiki nilai gue di Try Out kedua, tetap aja, melihat ekspresi mami sekarang ini membuat rasa bersalah gue muncul.

“Kamu, kalo emang nggak mau belajar sama Aurora lagi, Mami wis rapopo. Tapi nggak berarti nilaimu elek gini.”

Sekarang gue diam, nggak berani menjawab dengan satu kata apapun. Gue hanya berharap habis ini mami nyuruh gue naik ke atas buat balik belajar, atau istirahat, atau makan cemilan sore yang disiapin Mbak Jul—walaupun nyatanya nggak.

“Kamu beneran naksir Aurora, Yer?”

Sesuai dugaan yang tidak gue inginkan, mami kembali menanyakan hal yang sama persis seperti isi chat-nya beberapa jam lalu.

Gue mengangguk pelan, tapi setelah itu buru-buru gue memberi sebuah sanggahan. “Tapi sekarang udah nggak naksir lagi, kok, Mi.”

“Kok gitu? Emang kamu naksir dari kapan? Coba cerita sama Mami.”

Kalau sudah ada kalimat ‘cerita sama Mami’, gue hanya bisa menghela nafas dan menceritakan sejujur-jujurnya sesuai permintaan mami, setelah sebelumnya gue memastikan Mbak Jul atau Pak Yatmo lagi nggak ada di sekitar ruang tengah.

Gue mulai cerita dari bagaimana perasaan gue saat kali pertama gue ketemu Kak Aurora—saat dia dan Bang Aldi sedang pindahan ke rumah gue yang dijadikan rumah kontrakan oleh mami dan papi. Saat itu gue merasa senang karena akhirnya gue punya temen main, setelah sekian lama gue selalu main sendiri karena gue anak tunggal. Gue juga cerita bagaimana Kak Aurora selalu perhatian ke gue, perhatian yang lama-lama membuat gue menaruh hati padanya.

Sepanjang gue cerita, mami hanya diam—mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menyeruput minumannya. Sampai gue cerita dugaan gue akan hubungan Kak Aurora dan Bang Traven, mami baru berkomentar.

“Kamu, tuh, mirip papimu.”

Gue menaikkan sebelah alis, bingung karena tiba-tiba mami sebut-sebut papi yang jelas banget nggak ada hubungannya dengan cerita gue barusan.

“Suka berasumsi sendiri. Tau dari mana coba, Aurora sama Traven pacaran? Sok tau kamu, Yer.”

Astaga, baru kali ini gue di-roasting sama mami sendiri di depan muka gue langsung.

“Ya, tau, lah, Mi. Siapapun yang liat Kak Aurora sama Bang Traven bareng-bareng juga pasti bisa nebak kalo mereka, tuh, ada hubungan khusus.”

“Mami ndak nebak gitu, tuh.”

Gue menghela nafas pelan. Mami bukan tipe yang senang berargumen, tapi baru kali ini gue merasa mami sedikit ngotot dengan pemikirannya.

“Aurora Traven, tuh, bestie, Yer. Kalo orang pacaran nggak akan kayak gitu tingkahnya.” Mami mau kembali menyeruput tehnya, tapi karena ternyata tehnya sudah habis, dia menjeda sebentar percakapan kami dengan pergi ke ruang makan untuk mengambil segelas air putih.

“Mami bilangin, ya, Yer.” Mami kembali bersuara setelah dia kembali ke ruang tengah. “Selama kamu nggak dengar langsung dari mulutnya Aurora dan Traven kalo mereka pacaran, jangan pernah sekali-kali berani berasumsi kayak gini. Masalahnya, tuh, kamu kalo udah berasumsi sendiri, keseringannya overthinking sama asumsimu itu. Imbasnya nilai TO-mu jadi elek.”

Okay, Mami’s words were right to my heart. Apa yang diucapkan mami benar. Gue memang suka terlalu banyak berasumsi dan buruknya, gue selalu mikir segala kemungkinan dari asumsi yang gue pikirkan itu. Keburukan lainnya yang nggak kalah buruk adalah, kemungkinan-kemungkinan yang gue pikirkan itu sifatnya negatif.

Gue ribet, ya? Emang, hahaha.

“Coba tanya dulu sama Traven dan Aurora. Tanya langsung, ndak usah kode-kodean. Kalian bukan lagi anak kecil. Kalo udah denger jawabannya baru, deh, kamu bisa nentuin langkah selanjutnya kamu harus gimana. Tapi kalo Mami bilang, sih, mereka ndak pacaran.”

Gue diam sebentar sebelum otak gue sadar akan kalimat janggal yang diucapkan mami. “Wait, Mi. Langkah selanjutnya? Maksudnya?”

Mami nggak langsung menjawab. Dia mengambil buku dan ponselnya yang daritadi sengaja ditaruh di atas meja lalu bangun dari duduknya.

“Ya … Langkah selanjutnya. Kalo Traven Aurora ndak pacaran, kenapa kamu harus berhenti naksir Aurora?”