194.
Dhania hampir lupa kapan ia merasa bahagia seperti malam ini. Kalau ia diminta menulis salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya, sudah pasti ia akan bercerita tentang kisah hari ini.
Meski awalnya diliputi rasa gugup sampai-sampai Yudha harus menemaninya di backstage demi mendistraksi pikirannya—ya, untuk saat ini obat terampuh Dhania adalah Yudha—akhirnya repertoar yang sudah ia latih dua bulan lebih sukses ia mainkan dengan sangat baik. Ada beberapa kesalahan minor, tapi baik Dhania maupun Kenan tidak terlalu ambil pusing. Mereka menganggap semua itu adalah proses belajar untuk bisa tampil lebih baik lagi.
“And now, please welcome my opening act, Kenan and Dhania!”
Tepuk tangan riuh menyambut panggilan Mr. Ali untuk Kenan dan Dhania agar naik ke atas panggung. Dengan seluruh mata tertuju pada keduanya, Kenan menggandeng tangan Dhania dan keduanya berjalan penuh rasa percaya diri menghampiri sosok yang telah memberikan mereka kesempatan untuk tampil bersama.
Mr. Ali segera memberikan buket bunga kepada Kenan dan Dhania sebagai ucapan selamat sekaligus tanda terima kasih, kemudian ketiganya berfoto bersama sebelum resital malam itu resmi dinyatakan selesai.
“Congrats guys!” Daffa segera berseru penuh semangat ketika gilirannya untuk menyalami Kenan dan Dhania tiba. Setelah resital itu usai, audiens memang dipersilahkan untuk bersalaman, memberikan bunga atau berfoto dengan Mr. Ali dan juga Kenan serta Dhania—dan kesempatan ini digunakan oleh kerabat serta orang tua Kenan dan Dhania untuk menemui keduanya.
“Thanks, bro!” Kenan menepuk pelan pundak Daffa setelah mereka bersalaman. Dhania juga mengucapkan hal yang sama dengan senyum terukir jelas di wajahnya.
“Jangan lupa tips dari gue, Ken. Cocok banget malem ini.” Daffa menambahkan kalimat singkat yang ia tujukan untuk Kenan dengan kedipan sebelah mata penuh arti, sementara Kenan sengaja mengerutkan dahinya, pura-pura bingung dengan ucapan sahabatnya meski ia tahu benar maksud dibalik kalimat singkat itu.
“Oi, makan-makan nggak, nih?” Giliran Pandawa menyalami Kenan dan Dhania.
“Makan-makan di rumah masing-masing, ya, Wa,” timpal Dhania dan disambut dengan tawa teman-temannya.
“Congrats, Dhan. Gue bilang juga apa, lo pasti bisa.” Yudha, sebagai yang terakhir memberi ucapan selamat, membuat Dhania meringis pelan.
“Iya, iya … Makasih banyak ya, Mama Yudha. Gue titip Ibu, kalian hati-hati pulangnya.”
Yudha membuat gerakan seolah ingin menjitak kepala Dhania, tapi Dhania sukses mengelak hingga Yudha hanya bisa tersenyum masam dan ganti mengajak Kenan bicara.
“Congrats, bro. Jagain temen gue baik-baik, ya.”
Kenan pun mengangguk pelan sebagai jawabannya atas permintaan Yudha.
“Gladly you both have many supportive friends.” Sebagai yang tersisa di atas panggung, Mr. Ali sekali lagi menyalami Kenan dan Dhania lalu ia mengajak kedua muridnya itu untuk kembali ke belakang panggung.
“Iya, Sir, puji syukur punya temen-temen kayak mereka.”
“Sekali lagi thanks ya, Kenan dan Dhania. Semoga dengan kalian perform sebagai opening act malam ini, banyak hal yang bisa kalian pelajari. Nggak cuma pas tampil tadi, tapi prosesnya dari pertama kali saya minta kalian untuk tampil—itu yang terpenting.”
Kenan dan Dhania mengangguk kompak. Mereka setuju dengan kalimat yang diucapkan Mr. Ali; proses adalah yang terpenting—perjalanan yang berhasil membawa mereka sampai ke tahap seperti sekarang ini.
“Kamu udah selesai beres-beres, Dhan? Udah make sure nggak ada yang ketinggalan?” Kenan menghampiri Dhania setelah keduanya berganti pakaian dan merapihkan barang-barang mereka. Tadi, setelah mengobrol sebentar dengan Mr. Ali dan salah satu perwakilan Akademia News, keduanya segera bersiap untuk acara makan malam yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
“Udah. Udah yakin aku nggak ada yang bakal ketinggalan.”
“Ya udah, kalo gitu kita berangkat sekarang, yuk?”
*
Acara makan Sate Taichan atas permintaan Kenan malam ini penuh perjuangan. Pertama, jalanan ibukota jauh lebih padat dibandingkan hari-hari lainnya. Kenan dipaksa mengemudi selama satu jam untuk sampai ke tujuan mereka, yaitu Senayan. Setelah tiba di tujuan pun, Kenan harus berputar-putar beberapa kali demi mendapatkan lahan parkir kosong untuk mobilnya. Dhania hanya meringis pelan melihat Kenan setengah mati mencari parkir padahal ia yakin cacing-cacing di perut lelaki itu sudah meronta-ronta minta jatah.
“Ken, makan di tempat lain aja yuk kalo di sini nggak dapet parkir.”
Kenan menggeleng dengan kerutan di dahinya. “Nggak, aku mau Taichan. Kita pasti dapet parkir, tungguin aja.”
Doa Kenan terkabul, kalimatnya jadi kenyataan. Ia berhasil mendapat parkir berkat bantuan seorang laki-laki yang sadar kalau mobil Kenan telah berputar-putar di parkiran dalam waktu cukup lama.
“See? Kalau sabar pasti dapet, kan.” Kenan tersenyum puas ketika ia selesai memarkirkan mobilnya. “Yuk, kita turun.”
Dhania refleks ikut tersenyum melihat perilaku Kenan. Di mata Dhania, lelaki itu memang selalu terlihat menggemaskan. Kemudian keduanya segera berjalan menuju resto Taichan yang tidak pernah sepi pengunjung itu dengan tangan saling menggenggam. Bukan kali pertama Kenan menggandeng tangan Dhania—sebelum resital Mr. Ali pun Kenan sudah beberapa kali sengaja berkontak fisik dengannya, mulai dari membantu Dhania merapikan rambut hingga bergandengan tangan—tapi tetap saja Dhania masih merasa gugup.
“Mas, pesen Taichan 50 tusuk sama air mineral yang nggak dingin 2 botol, ya.”
Selesai memesan dan membayar, Kenan memangku dagu dengan kedua tangannya, menatap Dhania lekat-lekat hingga perempuan itu dibuatnya salah tingkah.
“Ken, bisa nggak kamu main handphone aja? Atau ngapain kek, gitu?”
Kenan tersenyum menampilkan lesung pipinya. “Nggak, ah. Ngapain main HP kalo ada kamu di sini.”
“Ih …” Dhania menahan senyum malunya, “malu, tau.”
“Kamu malu diliatin sama aku?”
Dhania menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Duh, bukan gitu.”
Kenan tertawa pelan. “Aku lagi contemplating sesuatu, nih.” Ia mengganti posisinya—melipat tangannya di atas meja meski matanya tak lepas memandangi Dhania.
“Mikirin apa?” tanya Dhania penasaran.
“Sesuatu. Aku bingung harus gimana.”
“Konteksnya? Aku nggak ngerti.”
Kalimat Dhania hanya ditanggapi dengan senyum tipis Kenan. Percakapan itu pun terhenti lantaran Taichan pesanan mereka datang. Keduanya kemudian mulai menyibukkan diri melahap makan malam mereka.
“Ken, kamu biasanya kalo abis makan Taichan gini di rumah makan lagi nggak?” Dhania kembali membuka obrolan baru setelah menghabiskan dua tusuk sate dalam waktu singkat. “Kadang aku suka makan lagi kalo di rumah, gara-gara nggak kenyang. Sampe dikira Ibu aku belum makan malem di luar.”
“Dhania.”
“Hm?”
“Kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Pertanyaan tak terduga itu sukses membuat Dhania terbatuk. Ia tersedak potongan daging yang sedang dikunyahnya.
“Dhan? Dhania, kamu nggak papa?” Kenan berusaha membantu Dhania dengan membuka tutup botol air perempuan itu. Masih dalam keadaan terbatuk Dhania menjawab pertanyaan Kenan dengan anggukan cepat lalu segera meneguk air putihnya.
“Dhan, sakit nggak? Duh, kamu kok bisa tiba-tiba keselek gitu?”
“Gimana aku nggak mau keselek, Kenan Amadeus?!” Nada bicara Dhania naik setengah oktaf. “Aku lagi makan enak-enak tiba-tiba kamu nanya kayak gitu?!”
Kenan tersenyum canggung. “Aku nggak tau harus ngomong gimana dan kapan lagi. Tadi di kepala aku pilihannya now or never. Sorry …”
Dhania menghela nafas panjang setelah meneguk kembali air putihnya. Gantian ia menatap Kenan yang menunduk karena merasa bersalah dengan tindakannya beberapa saat lalu.
“Iya, aku mau.”
“Hah?” Kenan mengangkat kepalanya. “Apa?”
“Aku mau …” Dhania mengulang jawabannya meski ia yakin 100% wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. “Aku mau jadi pacar kamu.”
“Dhania kamu serius, kan?” Kenan memastikan kalau telinganya tidak salah dengar—Dhania menerima pengakuan cintanya!
“Kalo aku nggak serius, aku udah tinggalin kamu detik ini juga.”
Buru-buru Kenan menggenggam kedua tangan Dhania, takut kalau perempuan itu tiba-tiba berubah pikiran. “Jangan,” bisiknya pelan.
Dhania terdiam, ia memandangi Kenan dan tangannya yang berada dalam genggaman lelaki itu untuk sesaat sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Kamu masih penasaran nggak, kenapa dua minggu lalu aku bilang aku seneng?”
“Kenapa, tuh?” tanya Kenan dengan tangan kiri masih betah memegangi tangan Dhania sementara tangan kanannya mengambil setusuk sate untuk ia santap.
“Aku seneng, bisa dapet kesempatan main duet sama kamu, kenal sama kamu lebih jauh lagi sampe aku sadar kalo aku beneran suka sama kamu. Selain perasaan aku ternyata nggak bertepuk sebelah tangan, aku juga seneng karena banyak hal positif yang kamu tularin ke aku.”
“Emang awalnya kamu nggak beneran suka sama aku?”
Dhania terkekeh pelan. “Bukan gitu, tapi awalnya tuh, aku interest sama kamu karena aku denger kamu main salah satu repertoar kesukaan Bapak, Clair de Lune.”
“Oh,” bibir Kenan membulat. Ia tidak menyangka repertoar yang iseng ia mainkan saat menunggu kelas di awal semester menjadi titik awal ketertarikan Dhania pada dirinya.
“To be honest, Dhan, kamu pacar pertama aku. Perempuan pertama yang sukses bikin aku salah tingkah, bikin aku abis-abisan dicengin Ko Sean, bikin aku ngelakuin hal-hal yang belum pernah aku lakuin sebelumnya.” Seperti terpancing dengan cerita Dhania, Kenan juga membuat pengakuan—selain pengakuan akan perasaannya terhadap Dhania. “That’s why—”
“That’s why kamu minta aku jadi pacar kamu pas aku lagi makan Taichan?” Dhania memotong kalimat Kenan.
Kenan mengangguk pelan. “Kata Daffa, aku harus minta kamu jadi pacar aku pas aku liat kamu lagi cantik-cantiknya—”
“Menurut kamu aku cantik pas lagi nyuap sate?!” Dhania kembali memotong ucapan lelaki itu sambil geleng-geleng kepala, Kenan segera mengacak pelan rambut Dhania.
“Jangan marah.”
“Nggak.”
Kenan mengerucutkan bibirnya.
“Nggak marah, Kenan sayang.” Dhania melunakkan nada bicaranya.
Mata lelaki itu melebar dua kali lipat, terukir senyum senang di wajahnya. “Oh, jadi ini rasanya pas hormon dopamin, norepinefrin dan serotonin bekerja dalam tubuh.”
Dhania memiringkan kepalanya. “Apa deh, maksudnya?”
“Dopamin itu menimbulkan rasa senang, kalo norepinefrin bisa meningkatkan detak jantung. Serotonin—”
“Kenan.” Dhania mengangkat sebelah tangannya.
“Ya?”
“Mending kamu makan lagi Taichan-nya. Tadi katanya laper?” Dhania segera menyudahi topik berat yang tiba-tiba dibicarakan Kenan. Lelaki itu memang senang menyelipkan teori atau topik-topik yang tidak awam dibicarakan sehari-hari ke dalam percakapan mereka. Bagi orang lain mungkin terkesan membosankan, tapi justru itulah daya tarik Kenan di mata Dhania.
“Nah ini berkat hormon serotonin, rasa laper aku jadi ilang karena seneng ngobrol sama kamu.”
“Idih, gombal!”