Pengakuan
Pesan singkat dari Traven memaksa Yeremia memutar balik mobilnya, keluar dari kompleks rumah mereka dan pergi menuju rumah Cecilia yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit—kalau tidak macet. Sepanjang perjalanan, Yeremia tidak punya pikiran apa-apa mengenai undangan Traven karena menurutnya Traven cuma pura-pura galak di chat supaya Yeremia mengiyakan permintaannya. Tapi saat Yeremia tiba di rumah Cecilia, ia paham mengapa Traven mengatakan hal-hal yang ia kirim dalam ruang obrolan mereka.
Traven sedang duduk di kios mie ayam milik keluarga Cecilia yang dibangun di garasi rumah Cecilia dengan seseorang yang sudah Yeremia bisa tebak siapa.
“Bang.”
Suara Yeremia membuat keduanya menoleh—Traven dan Aurora. Traven tersenyum lebar, ia senang sekali dengan keputusan Yeremia untuk datang sore ini, tapi Aurora sebaliknya. Ia setengah kaget lalu buru-buru bangun dari duduknya. Karena sedikit ceroboh, Aurora tidak sengaja menumpahkan kuah kaldu mie di atas paha Traven.
“Rora!!” teriak Traven panik, membuat seisi penghuni rumah Cecilia—Cecilia dan kedua orang tuanya—tergopoh-gopoh mendatangi mereka bertiga. Setelah memastikan kalau Traven baik-baik saja, ibu Cecilia kembali ke dalam rumah sementara ayah Cecilia membuat seporsi mie ayam untuk Yeremia yang baru saja datang.
“Sendiri, Yer?” tanya Cecilia sambil membantu menyiapkan peralatan makan dan berbagai saus untuk Yeremia.
“Iya. Bang Win, kan, di Seattle.”
Cecilia melebarkan matanya, ekspresinya berusaha mengancam Yeremia agar tidak lagi menyebut nama lelaki yang ia taksir sejak hari pertama sekolah, tapi sayang, ancaman itu tidak berhasil karena baik Yeremia, Traven, Aurora maupun ayahnya sendiri sama-sama mengulum senyum atas reaksi Cecil.
“Sini.” Traven—masih dengan celana pendek khaki-nya yang basah—bangun dari duduknya, mempersilahkan Yeremia duduk di kursi sebelah Aurora.
“Lo mau ke mana, Ven?” Aurora bertanya seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi ibunya.
“Ganti celana.”
“Di mana?” Aurora tidak mau Traven meninggalkan ia dan Yeremia berduaan saja, tangannya terus mencengkram pergelangan tangan Traven.
“Rumah Martia.”
“Emang Martia punya celana lo?”
“Bacot, ya.” Traven berusaha menahan rasa kesalnya di depan ayah Cecilia yang masih ada di sana. “Lo di sini, selesein masalah lo,” lanjut Traven sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Aurora dan menepuk pelan bahu Yeremia sebelum meninggalkan garasi rumah Cecilia.
“Yeremia, ayo duduk, ini mie ayamnya udah jadi.” Suara ayah Cecilia cukup berhasil mencairkan suasana canggung yang tercipta begitu saja selepas kepergian Traven.
“Yere, kalo mau minum Cola atau Teh Botol, ambil aja di cooler, ya,” ujar Cecilia sopan sebelum ia mengekori ayahnya pergi meninggalkan Yeremia dan Aurora berdua di garasi rumahnya.
Aurora kembali bertanya hal serupa kepada Cecilia. “Cecil, mau ke mana?”
“Ke dalem, Kak. Nggak enak kalo di sini, ntar disangka nguping pembicaraan Kakak sama Yeremia,” jawab Cecilia sopan. “Aku masuk dulu, ya …”
Dan setelah itu hening. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya ada suara motor yang melintas di jalan utama depan gang rumah Cecilia, bersahutan dengan suara burung-burung peliharaan ayah Cecilia.
“Ke sini naik apa, Yer?” tanya Aurora memecah keheningan di antara mereka berdua. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin, walaupun rasanya sulit, apalagi setelah melihat apa yang Yeremia lakukan di depan tempat kursus lelaki itu.
“Jazz,” jawab Yeremia singkat karena mulutnya masih dipenuhi mie ayam dan pangsit goreng.
Basa-basi itu terus berlanjut. “Parkir di?”
“Lapangan depan. Sebelah mobil Bang Traven, kok.”
Rumah Cecilia berada di gang yang cukup sempit dan tidak memungkinkan untuk sebuah mobil parkir berlama-lama di sana, sehingga mau tidak mau setiap orang yang datang ke sana dengan membawa kendaraan roda empat, harus memarkirkan mobil mereka di lapangan yang tersedia di pinggir jalan utama.
“Tadi Kakak ke Cantata?” Yeremia mengutarakan kembali pertanyaan yang belum dijawab Aurora di room chat mereka. Aurora mengangguk pelan sambil berusaha menghabiskan sisa mie ayamnya. “Tapi kenapa pergi? Padahal tadi aku manggil-manggil Kakak, lho.”
“Nggak enak ada temen kamu. Eh, atau pacar kamu?”
Yeremia menaikkan sebelah alisnya, ia bingung dengan pernyataan yang diralat Aurora. “Pacar? Apa maksudnya, Kak?”
“Cewek yang tadi kamu benerin poninya, pacar kamu, kan?”
Kak Aurora cemburu? Tiba-tiba saja pertanyaan itu melintas di benak Yeremia.
“Kan, Kakak tau sendiri aku nggak boleh pacaran sebelum lulus SMA sama mami.”
Yeremia berusaha menjawab, tapi Aurora bersikeras dengan pemikirannya sendiri.
“Kalo gitu, itu cewek yang kamu taksir.”
Yeremia menahan tawanya dan memilih untuk mengambil sebotol Cola di dalam cooler, meneguk minuman berkarbonasi itu hingga tersisa setengah botol.
“Aku, tuh, cuma suka sama satu cewek.” Setelah puas meminum Cola-nya, Yeremia kembali bersuara. Kalimat yang diucapkan Yeremia sukses membuat Aurora menoleh dan menaruh perhatiannya kepada lelaki itu sepenuhnya.
“Ceweknya lagi duduk di depan aku sekarang.”
Butuh beberapa detik untuk Aurora menyadari maksud dari kalimat terakhir Yeremia, lalu ia melebarkan matanya selebar yang ia bisa. Dahinya mengerut dan bibirnya sedikit mengerucut, ekspresi khas dari perempuan itu setiap ia bingung akan suatu hal.
“Yer?” Nada bicara Aurora menggantung, ia butuh penjelasan lebih.
“Aku suka sama Kak Aurora. Dan selama ini, sejak kita kenal, aku cuma naksir sama Kakak.”
Tidak ada alasan lagi bagi Aurora untuk pura-pura tidak paham dengan perkataan Yeremia. Kalimat itu begitu jelas diucapkan Yeremia, sangat jelas hingga Aurora tidak tahu bagaimana ia harus merespons kalimat itu. Aurora berharap Yeremia berhenti sampai kalimatnya yang terakhir, tapi ia salah besar; lelaki itu melanjutkan lagi kata-katanya hingga ia benar-benar bungkam seribu bahasa.
“Don’t think it too hard, Kak. I don’t ask you a question, I’m just clearing up the misunderstanding you’re thinking about. Aku nggak pernah suka sama Anastasia even in fact she likes me—but I’m not. Sejak awal aku kenal Kak Aurora, aku sukanya cuma sama Kakak.”
Dalam hening yang kembali tercipta, Yeremia melanjutkan aktivitas makannya. Aurora masih berusaha berpikir meskipun percuma, sore hari ini otaknya tidak bisa diajak kompromi untuk berpikir dengan jernih. Atau sebenarnya ia sudah berpikir jernih, tapi masih saja menyangkalnya?
“Sebelumnya aku yang ada di posisi Kakak, aku salah paham sama kedekatan Kakak dan Bang Traven. Bego juga, sih, aku … nggak nanya dulu ke kalian dan main langsung nge-judge aja kalau kalian ada special relationship.”
“That’s why you keep a distance from me?”
Yeremia mengangguk jujur. Dalam hatinya, ia sendiri kaget dengan keberanian akan pengakuannya sore ini. Ia pikir mengakui perasaannya pada Aurora akan seperti adegan di film-film romance yang ia tonton; penuh adegan dramatis, jantung yang hampir copot karena terlalu berdetak cepat dan kalimat yang diucapkan terbata-bata. Namun kenyataannya tidak. Pengakuannya mengalir begitu saja seolah-olah ia sedang bercerita dengan teman dekatnya.
Sedikit yang bisa Yeremia tebak, mungkin saja lancarnya pengakuan sore ini karena efek ‘restu’ sang mami atau memang sudah waktunya ia harus bicara jujur kepada Aurora, sebelum semua jadi terlambat.