Hurtful truth is (always) better
Aurora
“Tumben banget sore-sore gini minta dianterin ke ruko sentral. Ada urusan apa, Neng?”
Mang Ipul, ojek langgananku dan Kak Aldi, membuka percakapan setelah ia memastikan aku sudah duduk dengan aman di atas jok motornya, lalu melaju pelan meninggalkan cluster rumah kontrakanku.
“Nyusulin Yeremia, Mang.”
“Yeremia tetangga sebelah?” Aku mengangguk walaupun Mang Ipul tidak melihatnya karena sekarang ia sibuk menyapa satpam cluster di gerbang. “Emang Yeremia kenapa?” tanyanya kemudian dengan logat Sunda-nya yang kental.
“Nggak napa-napa, Mang … Dia abis les biola, saya kepengen nyusulin aja, terus ajak makan.”
“Oh …” Mang Ipul hanya manggut-manggut sementara laju motornya tetap berada dalam kecepatan terlalu aman. Sebenarnya, aku ingin memintanya untuk melaju lebih cepat karena aku sudah terlambat menyusuli Yeremia, tapi Mang Ipul memang tidak senang membawa motornya ngebut; katanya bahaya. Aku hanya bisa pasrah, kalau saja Kak Aldi tidak bekerja dari rumah hari ini dan sibuk memberondongiku dengan sejuta pertanyaan, aku pasti tidak akan telat.
“Salam buat si Yeremia, ya, Neng Rora.”
Begitu sampai, aku berterima kasih sembari turun dan memulangkan kembali helm yang dipinjami Mang Ipul untuk melindungi kepalaku sepanjang perjalanan. Setelah berpisah dengan Mang Ipul, aku berjalan mencari ruko tempat di mana Yeremia mengasah kemampuan bermain biolanya. Aku memang sengaja meminta Mang Ipul untuk menurunkanku di gerbang depan ruko, karena seingatku tempat les Yeremia tidak jauh dari sini.
“Ah, mobilnya Yere!” gumamku antusias saat mengenali mobil Honda Jazz hitam milik Yeremia terparkir persis di depan ruko dengan plang nama “Cantata”. Aku buru-buru mendekati mobil itu, tapi kemudian langkahku terhenti saat melihat Yeremia keluar dari tempat kursusnya dengan seorang perempuan.
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, yang kutahu perempuan muda itu terlihat bahagia—senyumnya sama sekali tidak memudar dari wajah mungilnya. Yeremia yang berjalan di sampingnya hanya tersenyum tipis sambil menggendong tas biola yang selalu ia bawa setiap pergi les.
Selanjutnya, pemandangan yang sering kulihat di film atau sinetron terjadi di depan kedua mataku sendiri; Yeremia merapihkan poni perempuan itu lalu ia berjongkok dan mengikat ulang tali sepatu perempuan itu. Yang kutahu, biasanya laki-laki akan melakukan hal-hal yang baru saja Yeremia lakukan kalau ia tertarik dengan lawan jenisnya.
Aku mundur selangkah demi selangkah, sadar kalau kehadiranku sore itu hanya akan merusak suasana di antara Yeremia dan perempuan pilihannya. Dan seharusnya sejak awal aku mengenal Yeremia, aku juga sadar, kalau aku memang tidak boleh menaruh perasaan lebih kepada lelaki yang hanya menganggapku sebagai seorang kakak.
—
Yeremia
Kalau bukan karena Anastasia, selesai les hari ini gue pasti udah cabut ke Starbucks buat meneguk segelas Americano dingin, setelah selama empat puluh lima menit gue hampir tanpa henti mengulang materi pelajaran. Hari ini guru les gue sengaja menambahkan lima belas menit dari waktu les biasanya karena gue akan menghadapi ujian kenaikan grade dua bulan lagi, dan tentunya butuh persiapan ekstra mengingat materi yang harus dikuasai ada banyak dan tingkat kesulitannya cukup tinggi.
“Kak, kita ke McD, yuk! Aku mau makan es krim.” Anastasia dengan nada bicaranya yang selalu terdengar riang gembira—seenggaknya kayak gitu di telinga gue—kembali mengajak gue untuk menghabiskan waktu dengannya.
“Gue anter lo balik, ya, Nas. Gue masih ada keperluan lain.”
Keperluan lain gue tak lain tak bukan tentu saja mendatangi rumah Kak Aurora. Sejak pameran lukisan itu, gue belum pernah bertemu Kak Aurora lagi. Gue memang sengaja menghindarinya karena asumsi konyol gue terkait hubungannya dengan Bang Traven. Dan setelah gue tahu kebenarannya pun, gue masih belum bisa menemui perempuan itu.
“Yah, keperluan apa? Aku temenin, deh, Kak.”
Gue tidak langsung menjawab permintaan Anastasia. Gue hanya memandanginya untuk sesaat, lalu membenarkan poninya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Gue dapat melihat kedua pipi Anastasia merona, tapi kemudian gue mengalihkan pandangan gue ke arah tali sepatunya yang lepas sebelah. Gue berjongkok, membenarkan tali sepatu milik Anastasia sambil memikirkan apa yang harus gue katakan untuk membuatnya paham kalau gue tidak ingin ada hubungan lebih di antara kami selain pertemanan antara kakak dan adik kelas.
Tapi, saat gue hendak bangkit berdiri, ekor mata gue menangkap sosok perempuan yang amat sangat gue kenal. Sosok itu berjalan mundur perlahan sebelum akhirnya berlari kecil, pergi meninggalkan tempat di mana sebelumnya ia berdiri memandangi gue dan Anastasia.
“Kak Aurora!” Gue memanggil sosok yang sangat gue kenal itu dan hendak mengejarnya, tapi sayang tangan Anastasia cukup cepat menahan kepergian gue.
“Kak, mau ke mana?!” tanyanya bingung sambil melihat ke sekeliling, mencari Kak Aurora yang gue maksud. “Kak Aurora siapa?”Anastasia melanjutkan pertanyaannya.
“Nas, gue anter lo pulang sekarang, ya. Gue beneran masih ada urusan lain.”
“Kak, aku suka sama Kak Yeremia.”
Duh, kenapa dia jadi confess mendadak ala-ala drama Korea yang suka ditonton mami, sih?
“Anas—”
“Aku suka Kak Yeremia dari hari pertama MOS*, Kak. Di saat yang lain suka sama Kak Ferdi atau Kak Jonathan, aku lebih tertarik dengan Kakak yang nggak terlalu banyak bicara dan lebih banyak perhatiannya. Aku masih inget pas Kakak benerin tali sepatuku di MOS hari ketiga, sama kayak yang Kakak lakuin barusan. Dan kebetulan, ini juga sepatu yang sama kayak yang aku pake waktu MOS.”
Gue refleks melirik kembali ke arah sepatu Anastasia walaupun gue sama sekali no idea— gue beneran nggak ingat pernah menolong dia saat MOS. Satu yang gue ingat, gue melakukan apa yang seharusnya gue lakukan sebagai seorang manusia, yaitu membantu sesama.
“Mungkin Kak Yeremia udah tau dari Kak Randika dan Kak Michelle, kalau aku suka sama Kakak—”
“Anas, sorry tapi gue nggak bisa bales perasaan lo.”
Gantian gue memotong kalimat Anastasia. Peduli setan dengan susunan kata atau kalimat yang sopan, gue udah nggak bisa mikir lama-lama lagi. Yang penting gue harus segera meluruskan kesalahpahaman yang mungkin lagi Anastasia alami sekarang.
“Gue udah tau dari Randika, makanya gue bisa bilang kayak gini sama lo. Bukannya gue nggak suka sama lo, tapi gue cuma bisa menerima lo sebagai teman sekaligus adik kelas gue, nggak lebih dari itu.”
Gue dapat melihat Anastasia sedikit shock dengan kalimat yang baru aja gue sampaikan. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, mungkin berusaha menahan rasa kecewa yang akhirnya tersalurkan lewat sebuah pertanyaan.
“Kenapa, Kak? Kakak suka Kak Aurora, kah, makanya tadi Kakak panggil dia?”
“Kak Aur tadi beneran ada di sini, Nas, di sana.” Gue menunjuk tempat di mana tadi gue melihat sosok Kak Aurora berdiri. “Dan kalau lo tanya gue suka Kak Aurora, jawabannya iya.”
Binar antusias di mata Anastasia memudar, ia menatap gue dengan tatapan lemah. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di dalam hati gue, tapi gue nggak punya pilihan lain. Gue harus berkata jujur, sebelum gue lebih menyakiti perasaannya.
“Sekarang gue anter pulang, ya, Nas?” Anastasia hanya mengangguk lesu. “Thank you for being honest to me, Nas. I appreciate it a lot, but, I need to be honest to you too, even it hurts.”
Note: MOS = Masa Orientasi Sekolah