goldeneunoia

Sampai Di Sini

Sesuai titah mami, hari Minggu ini gue pergi ke pameran lukisan dengan menebeng Bang Traven. Gue nggak sendirian, Kak Aurora dan Bang Aldi juga nebeng supaya lebih hemat ongkos. Bang Traven sebagai pemilik kendaraan juga nggak protes, malah dia senang karena mobilnya jadi rame.

Gue sudah tau akan seperti apa posisi duduk kami di mobil, langsung membuka pintu belakang begitu mobil Bang Traven sampai di depan rumah.

“Yer, kok di belakang? Depan, lah, temenin gue.”

“Bukannya Kak Aur yang di depan?” tanya gue pura-pura polos bersamaan dengan Kak Aurora dan Bang Aldi yang naik dari pintu belakang lainnya.

Wong nggak bisa baca Gmaps ngapain duduk depan, Yer.” Bang Aldi menjawab pertanyaan gue dan disetujui Bang Traven dengan sebuah anggukan. Kak Aurora cuma tersenyum meringis mengakui fakta yang diucapkan kakaknya.

Yo wis.” Gue menutup pintu belakang dan beralih duduk di depan sebelum Bang Traven melajukan mobilnya.

Sepanjang perjalanan, obrolan kami berempat bermacam-macam. Kami membahas Cibubur yang selalu macet, kapanpun jam berapapun. Karena Bang Aldi selalu berpergian dengan kendaraan umum, dia hanya bisa pasrah kalau harus terjebak macet. Kak Aurora sama seperti Bang Aldi, tapi untungnya jam pulang Kak Aurora adalah jam-jam aman di mana kemacetan daerah rumah kami belum terlalu parah. Dan juga, Kak Aurora lumayan sering pulang bareng Bang Traven yang selalu mengendarai mobil sehingga dia tidak terlalu pusing dengan masalah macet.

“Yer, besok Try Out, ya?” Pertanyaan Kak Aurora otomatis mengganti topik pembicaraan kami. Gue hanya mengangguk mengiyakan.

“Udah belajar belom?” Gantian Bang Traven yang bertanya.

“Udah, dari kemarin-kemarin tiap hari dicerewetin mami, itu apa namanya kalo bukan buat belajar, Bang?” Jawaban gue membuat ketiga kakak-kakak ini tertawa pelan. Tapi memang itu faktanya. Mami selalu meminta gue untuk belajar setiap hari supaya gue tidak hanya sekedar hafal dengan materi yang gue pelajari, tapi juga mengerti materi-materi itu.

Dan omongan mami sudah terbukti benar. Setiap menjelang ulangan, gue hanya perlu membaca ulang atau berlatih soal materi yang akan diujikan, untuk me-refresh kembali otak gue. Hasil ulangannya pun sudah pasti bagus, bahkan tidak jarang sempurna.

“Kesayangannya Tante Linda, nih.” Bang Traven mengacak-acak gemas rambut gue dan sebisa mungkin gue menghindari tangannya. Bang Traven senang banget memperlakukan gue seperti anak kecil mentang-mentang gue selalu jadi si bontot di antara pertemanan gue dengan dia dan Bang Win maupun di antara yang hadir di mobil siang ini.

“Iya, Tante Linda, tuh, bangga banget sama kamu, lho, Yer. Tapi kalo Abang jadi Tante Linda juga pasti Abang bakal bangga sama kamu. Jarang ada anak seusia kamu yang nurut banget sama orang tuanya, apalagi cowok.”

“Tuh, kayak si Traven.” Kak Aurora menimpali kalimat Bang Aldi, membuat gue terkekeh pelan sementara Bang Traven mengakuinya dengan senyum masam.

Berkat obrolan ngalor ngidul, perjalanan yang kami tempuh dalam waktu kurang lebih satu jam tidak terasa dan sekarang kami tiba di klub lukis sekaligus studio pameran yang terletak di kawasan Kemang. Di pintu depan, gue dan Bang Aldi diminta menunjukkan undangan kami sebelum masuk ke dalam. Gue menunjukkan undangan yang dikasih Kak Aurora di mobil, lalu masuk ke dalam studio, mengekori Kak Aurora dan Bang Traven yang sudah masuk terlebih dahulu.

Ukuran studio itu tidak terlalu besar. Berbagai lukisan hasil karya anggota klub dengan bermacam aliran dipamerkan di sana. Lukisan-lukisan itu diatur berdampingan di dinding dengan jarak tertentu, memudahkan para tamu yang datang untuk melihatnya satu per satu.

Sejak tiba, Kak Aurora dan Bang Traven sudah sibuk bercengkrama dengan anggota klub yang lain, atau dengan tamu yang memuji karya lukis mereka. Sementara gue dan Bang Aldi berkeliling, melihat-lihat lukisan yang dipamerkan di sana sambil mencari lukisan hasil karya Kak Aurora dan Bang Traven.

Sampai akhirnya gue tiba di lukisan milik Kak Aurora. Gue diam mematung, memandangi setiap detil yang digurat Kak Aurora di kanvasnya. Gue memang tidak terlalu mengerti dengan dunia lukis, tapi gue sepertinya mengerti apa pesan yang ingin disampaikan Kak Aurora lewat lukisannya. Cukup lama gue diam di sana, menatap lukisan yang diberi judul ‘Madre’ oleh sang penciptanya.

Di lukisan itu terdapat seorang ibu yang tengah menggendong anaknya. Sang anak terlihat sedih, air mata digambar menggenang di pelupuk matanya. Kesedihan sang anak menggambarkan perasaan Kak Aurora yang baru gue ketahui beberapa waktu silam, bagaimana hubungannya dengan ibunya. Sementara sang ibu digambar faceless— tanpa fitur mata, hidung dan mulut di wajahnya—mengekspresikan perasaan Kak Aurora yang tidak ingin melukis sosok ibunya dengan jelas. Lewat lukisannya, Kak Aurora mengakui kehadiran ibunya, hanya saja ia tidak mau menggambarkannya secara detil. Seperti ia tidak ingin orang-orang tahu seperti apa sosok yang telah melahirkannya ke dunia.

“Cantik, ya.”

Suara Bang Traven membuyarkan konsentrasi gue. Gue menoleh, mendapatkan dia sedang memandangi Kak Aurora yang berdiri beberapa meter dari tempat kami. Gue melirik sekilas, binar mata Bang Traven nggak bisa dibohongin lagi; dia emang naksir sama Kak Aurora. Refleks kaki gue mundur selangkah, nggak sengaja menginjak kaki Bang Aldi yang entah sejak kapan berdiri di belakang gue.

“Yer, kenapa?” tanya Bang Aldi sedikit khawatir. Nggak tau mungkin wajah gue memerah atau kerutan di dahi gue bertambah, yang pasti wajah gue terlihat nggak baik-baik saja sampai Bang Aldi bertanya seperti barusan.

“Yer, kenapa?” Bang Aldi mengulang pertanyaannya.

“Toilet di mana, Bang?”

Setelah dapat jawaban dari Bang Aldi—dia menunjuk arah toilet dengan telunjuknya—gue segera pergi ke sana, nggak peduli dengan Kak Aurora yang manggil-manggil gue karena gue terpaksa berpapasan dengannya.

Hari ini jadi hari di mana gue sadar kalau gue dan Kak Aurora emang nggak akan pernah bisa sama-sama. Gue nggak mau hubungan gue dengan Bang Traven jadi merenggang hanya karena perkara perempuan. Gue ingat nasihat mami, gue harus menjaga hubungan yang baik dengan Bang Traven dan Bang Win—terlepas dari hubungan dekat ketiga ayah kami—mereka sudah menganggap gue seperti adik sendiri. Mereka yang selalu ada di saat gue butuh bantuan, mereka yang selalu jaga gue di sekolah sejak TK sampai sekarang mereka udah kuliah pun, mereka nggak pernah luput untuk menanyakan kabar gue di sekolah, memastikan kalau gue akan selalu baik-baik saja.

Bang Traven dan Bang Win terlalu baik untuk disia-siakan hanya karena seorang perempuan. Sama seperti Kak Aurora, gue nggak mau mengorbankan hubungan kakak adik yang sudah terjalin selama empat tahun lebih hanya karena perasaan konyol yang gue rasakan saat ini.

Should I Trust Her (or not)?

Selama dua jam pelajaran terakhir, gue udah nggak bisa fokus dengerin apa yang Sir Bagus jelaskan di depan kelas. Pikiran gue melayang kemana-mana, membayangkan apa yang bakal gue lakuin sama Kak Aurora setelah ini. Walaupun cuma sekedar makan burger dan minum ice green tea latte, tetap saja menghabiskan waktu bersama Kak Aurora pasti akan terasa menyenangkan.

“Fokus, kali.”

Di samping gue, Randika berusaha menyadarkan gue dari berbagai khayalan gue siang ini.

“Nanti gue foto catetan lo aja, ya, Ran,” balas gue sambil memasang senyum andalan yang gue punya supaya Randika luluh. Usaha gue berhasil, even gue harus mendengar Randika sedikit ngedumel.

Kring … Kring …

Bel sekolah akhirnya berbunyi. Gue, Randika dan teman-teman 3SOS1 lainnya segera merapihkan meja setelah Sir Bagus meninggalkan kelas kami. Sambil menunggu Randika dengan barang bawaannya yang agak banyak dibandingkan gue, gue mengirim pesan ke Kak Aurora, meminta dia untuk tetap menunggu di kafetaria.

“Udah, yuk.” Akhirnya Randika selesai berberes. “Kak Aur nunggu di mana?”

“Di kafetaria. Mau ikut ke sana?” tawar gue yang dijawab dengan gelengan pelan kepala Randika.

“Michelle nungguin di selasar.” Randika tersenyum bahagia sambil menepuk bahu gue dengan salah satu tangannya yang kosong. “Cabut, ya. Bye … Salam buat Kak Aur!” pamitnya buru-buru lalu dia segera berlari meninggalkan gue sendirian di koridor depan kelas. Gue cuma geleng-geleng kepala lihat tingkahnya, suka ngatain gue bucin padahal sendirinya sama bucinnya.

Selepas kepergian Randika, gue segera pergi ke kafetaria di lantai dasar sekolah Altaire. Suasana kafetaria siang ini cukup ramai dan gue nggak heran akan hal itu karena kafetaria adalah salah satu tempat ter-pewe untuk nongkrong. Banyak murid Altaire yang senang duduk-duduk di sini setelah jam pelajaran usai; entah itu karena iseng, menunggu jemputan datang atau menunggu jam ekskul tiba.

Meskipun ramai, nggak sulit bagi gue untuk menemukan Kak Aurora. Dia sedang duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan dekat jendela yang menampilkan pemandangan lapangan basket sekolah Altaire. Tempat duduk yang sedang diduduki Kak Aurora adalah salah satu spot favorit murid-murid perempuan Altaire, terlebih saat musim pertandingan basket antar siswa Altaire sedang dilaksanakan, karena siapapun yang duduk di sana dapat menonton pertandingan dengan jelas tanpa harus berpanas-panasan ria.

“Masih cocok jadi murid Altaire, Kak.” Gue menyapa ramah Kak Aurora yang lagi asyik menggambar di iPad-nya. Dia mendanga, kemudian tersenyum manis sebelum dia menutup iPad-nya dan memasukannya ke dalam tas.

“Gimana sekolahnya hari ini?” tanya Kak Aurora masih dengan senyum manis terpasang di wajahnya. Sebisa mungkin gue menahan diri untuk tidak heboh sendiri karena senyum Kak Aurora selalu terlihat menggemaskan bagi gue.

“Ya, begitulah,” jawab gue santai sambil duduk di kursi depannya. Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling, beberapa murid lain tertangkap basah sedang memperhatikan gue dan Kak Aurora, tapi gue nggak peduli. Gue sudah cukup terbiasa dengan perilaku murid-murid di sini yang katanya mengidolakan gue beserta kedua ‘abang’ gue yang udah jadi alumni; Bang Win dan Bang Traven.

“Begitulah gimana? Ada ulangan hari ini? Atau latihan soal?” Kak Aurora kembali bertanya penasaran, tapi gue buru-buru mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Gue nggak mau Kak Aurora kedengaran sebelas-dua belas kayak mami di rumah.

“Kak, mending kita ngomongin mau makan apa abis ini. Aku laper.”

Kak Aurora terkekeh pelan, dia juga sepertinya sadar kalau membahas pelajaran seusai jam sekolah rasanya membosankan. “Kamu maunya apa?”

“Burger King, Kak. Mau nggak?”

“Ya udah, boleh.”

Yes!” Gue mengepalkan tangan di bawah meja tanpa terlihat Kak Aurora tanda gue senang. Kak Aurora pun ikut terlihat senang, senyum manisnya masih saja kelihatan jelas di wajahnya.

Sembari berjalan keluar dari kafetaria, gue kembali melihat beberapa murid—yang gue yakini adalah adik kelas gue karena nggak ada satu pun yang gue kenal—sedang mengagumi Kak Aurora. Tidak sedikit juga yang berbisik-bisik dengan sesama temannya, yang gue yakini (lagi), mereka lagi membicarakan gue dan Kak Aurora. Terserah kalau gue dianggap kepedean, tapi kalau bukan lagi ngomongin gue dan Kak Aurora yang lagi lewat di situ, mereka ngomongin siapa lagi?

“Fans-mu banyak banget, Yer,” kata Kak Aurora saat kami sudah keluar dari cafetaria dan berjalan menuju mobil gue yang terparkir di halaman belakang sekolah. Gue menggeleng, nggak mau menganggap siapa-siapa di sekolah ini sebagai fans gue. Gue cuma murid biasa aja. Tapi emang lebih keren dibandingkan yang lain, sih, hehe.

“Tadi Kakak sekilas denger mereka lagi ngomongin Cecil sama Winwin. Lucu banget.” Kak Aurora menyambung ucapannya. “Mereka, tuh, jadian, ya?”

“Hampir,” jawab gue singkat. “Kakak beneran nggak tau? Emang Bang Traven nggak pernah ngomongin?”

Sedetik kemudian gue menyesal. Kenapa, sih, gue harus bawa-bawa nama Bang Traven?

“Kayaknya nggak pernah, deh.” Kak Aurora terlihat berpikir dan sebelum obrolan tentang Bang Traven bikin sore gue jadi kurang menyenangkan—sorry bang, bukan bermaksud apa-apa—gue buru-buru mengajak Kak Aurora untuk segera masuk ke dalam mobil.

“Mikirin itu nanti lagi aja, deh. Ayo naik, Kak, kita ke BK.”

***

Di Burger King untungnya nggak begitu rame. Mungkin karena jam makan siang udah lewat, jadi sebuah keuntungan untuk gue dan Kak Aurora karena bisa leluasa pilih tempat duduk dan nggak perlu tarik urat untuk mengobrol.

“Abis dari sini mau ke seberang nggak?” Gue menunjuk Starbucks yang terletak berseberangan dengan Burger King menggunakan dagu gue. Harap maklum, kedua tangan gue sedang sibuk memegang burger dan kentang goreng.

“Abisin aja dulu burger kamu, Yer.”

Ah, kalau Kak Aurora yang ngomong, gue otomatis mengangguk menurut. Sepanjang menikmati burger masing-masing, kami nggak terlalu banyak bicara. Hanya sesekali Kak Aurora menanyakan kabar guru-guru Altaire dan juga bagaimana pelajaran saat ini. Karena try out pertama gue akan dilaksanakan minggu depan, Kak Aurora menawarkan diri untuk mengajari gue—seperti yang sering ia lakukan setiap ulangan tengah semester atau ujian akhir semester.

“Minggu malem abis Kakak balik dari pameran, kita belajar bareng, ya,” ucap Kak Aurora sebelum melahap sisa burger miliknya.

“Kakak ada pameran apaan, sih?” tanya gue penasaran. Tadi di chat, Kak Aurora memang sempat membahas tujuannya datang ke Altaire hari ini, cuma gue belum bertanya mendetail tentang pameran yang dia maksud.

“Itu, pameran lukisan klub lukis aku. Annual show gitu, buat nampilin hasil karya peserta klub.”

“Berarti lukisan Kakak bakal ada, dong?” tanya gue antusias.

Kak Aurora mengangguk. “Lukisannya Traven juga bakal ada di sana.”

“Kakak sama Bang Traven, tuh, gimana, sih?” Karena nama Bang Traven kembali disebut, akhirnya pertanyaan yang selama ini cuma bisa muter-muter di kepala, terucap juga oleh bibir gue. Kak Aurora sempat diam sejenak sambil menyeruput jasmine tea pesanannya sebelum akhirnya dia menjawab.

“Gimana apanya?” Kak Aurora malah bertanya balik.

“Hubungan kalian. Too close untuk dibilang cuma sahabat.”

Wow, gue setengah nggak percaya dengan diri gue sendiri karena baru aja gue mengucapkan satu kalimat yang terdengar salty—kalo kata anak jaman sekarang. Karena kalimat itu juga, Kak Aurora tertawa cukup keras sampai ia harus menutup mulutnya.

“Aku sama Traven, mah, temen baik, Yer.”

“Temen baik tapi saling suka, ya?”

Gila. Sekarang rasanya gue mau marahin diri gue sendiri karena udah kelepasan bertanya seperti itu. Ditambah nada bicara gue berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Kak Aurora yang ramah, gue lebih ke nada serius cenderung dingin.

“Nggak, Yer.” Kak Aurora memberikan jawabannya dengan singkat dan setelah itu ia mengganti topik pembicaraan kami. “Btw, jadi mau ke seberang?”

Gue mengangguk pelan. Perasaan gue sekarang nano-nano, di satu sisi gue ingin percaya dengan apa yang diucapkan Kak Aurora, tapi dengan sikap Kak Aurora yang selalu senyum-senyum misterius dan selalu mengalihkan topik pembicaraan setiap gue tanya tentang hubungannya dengan Bang Traven, sisi diri gue yang lain enggan untuk percaya jawaban Kak Aurora barusan.

About Her Thought

Yeremia

Setiap hari Senin gue pasti akan menyempatkan diri untuk dateng ke salah satu kafe di ruko kompleks rumah gue, karena kafe ini punya promo diskon khusus untuk anak-anak Altaire di hari Senin. Hari ini gue dateng sama Cecilia—atau yang lebih akrab dipanggil Cecil—salah satu teman sekelas gue. Selain mau nikmatin promo diskon lima puluh persen, gue dan Cecil mau ngerjain PR bareng-bareng, dan mungkin gue akan nanya Cecil beberapa materi yang belum terlalu gue kuasai.

Selesai memesan dua ice chocolate dan dua chocolate muffin, gue dan Cecil memutuskan untuk duduk di lantai dua, karena meja dan bangku di lantai satu tidak terlalu banyak dan sekarang semuanya sudah terisi penuh dengan murid-murid Altaire lainnya yang bertujuan sama seperti gue dan Cecil—memanfaatkan promo diskon.

“Yer, pojok situ aja, ya.” Gue cuma ngangguk ngeiyain ajakan Cecil yang terlihat bersemangat dengan meja pilihannya di sudut ruangan dekat jendela. “Di sini enak bisa liat keluar, jadi nggak terlalu sumpek.”

“Bang Win juga suka duduk di sini, Cil,” celetuk gue iseng. Cecil langsung salah tingkah sendiri mendengar nama kakak kelas yang dia taksir gue sebut. “Kangen, ya?” Kali ini gue nanya serius.

Cecil mengangguk. “Ribet juga komunikasi beda negara gini. Semoga lain kali Kak Win kalo belajar bisnis di negara ASEAN aja biar nggak ribet.”

Gue cuma ketawa dengerin curhatan Cecil tentang dirinya dan Bang Win yang lagi LDR-an. Sambil ngobrolin Bang Win dan hal-hal lainnya dengan Cecil, gue ngeluarin beberapa lembar kertas, buku dan iPad dari dalam tas.

“Lo belum selesai ngerjain soal Mam Nania?” tanya Cecil saat ngeliat gue masih ngerjain soal matematika yang tadi siang gue dapet dari guru matematika SMA Altaire, Mam Nania.

Gue menggeleng. “Seratus soal, Cil. Ya kali selese dalam dua jam pelajaran.” “Gue udah selesai.” Cecil memamerkan kertas jawaban punyanya. “Ya udah lo kerjain itu dulu, abis itu baru kita kerjain PR dari Sir Paulus.”

Gue geleng-geleng kepala lagi, tapi kali ini karena takjub sama Cecil dan kepintarannya. “Kalo lo nikah sama Bang Win terus punya anak, itu anaknya bakal jadi the next Einstein kali, ya?”

“Jangan bahas Kak Win lagi, ah, Yer!” protes Cecil. Kali ini gue ketawa, kapan lagi bisa ngeledekin gebetan Bang Win—kakak kelas yang udah gue anggap sebagai kakak sendiri? Kalo ada Bang Win di sini, udah pasti gue bakal diomelin karena gangguin Cecil terus-terusan.

“Kak Aurora!” Tiba-tiba Cecil senyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah tangga. Gue nengok dan ngelihat Kak Aurora lagi berdiri di anak tangga terakhir sebelum sampai di lantai dua dengan senyum canggung.

Kak Aurora buru-buru balik badan dan berniat kembali turun ke bawah, tapi nggak jadi karena Bang Traven udah keburu naik, nyusulin Kak Aurora.

“Kenapa? Penuh di atas?” Pertanyaan Bang Traven untuk Kak Aurora terdengar cukup jelas di meja gue.

Sebelum Kak Aurora sempat jawab, Bang Traven ngelihat gue. “Oh, ada Yere.” Kayaknya Bang Traven tau permasalahan gue dengan Kak Aurora.

“Kak Aurora, sini, Kak,” panggil Cecil yang nggak tau apa-apa tentang gue dan Kak Aurora. Mungkin karena merasa nggak enak dengan Cecil, Kak Aurora akhirnya ngedatengin meja gue.

“Kalian lagi ngapain?” Nada bicara Kak Aurora terdengar seperti biasa. Cukup pintar untuk tidak membuat Cecil bingung.

“Bikin PR, Kak. Tuh, si Yere masa soal dari Mam Nania belum selesai. Omelin, Kak.”

“Dih, tukang ngadu,” protes gue sambil ngelirik sekilas ke arah Kak Aurora. Kak Aurora cuma senyum tipis, dia bener-bener jago berakting, seolah-olah lagi nggak ada apa-apa di antara kami berdua.

“Kerjain, Yer, gue aduin mami, lho.” Di belakang Kak Aurora, Bang Traven ikut-ikutan berkomentar. Gue cuma ngelirik sebal ke arahnya—tentunya cuma bercanda, gue nggak beneran sebel sama Bang Traven.

“Kita cabut aja, yuk, Ven. Kerjain tugas di rumah gue aja.”

Seperti mengerti kode Kak Aurora, Bang Traven mengiyakan ajakan Kak Aurora.

“Guys, cabut dulu, ya.” Kemudian Bang Traven berpamitan dengan gue dan Cecil. “Kerjain yang bener, Yer.”

“Iya, iya … Hati-hati nyetirnya, Bang.”

Dan setelah itu mereka berdua kembali turun ke bawah, meninggalkan meja gue dan Cecil.

“Kak Aurora sama Kak Traven, tuh, pacaran, ya?”

Gue cuma angkat bahu menjawab pertanyaan Cecil. Bukannya cemburu, gue sendiri pun nggak tau sama status mereka berdua. Katanya, sih, Bang Traven punya cewek yang dia taksir sejak masuk kampus, tapi dia nggak pernah cerita sama gue atau Bang Win. Pernah di satu hari gue tanya Kak Aurora tentang gebetan Bang Traven, dia juga nggak kasih tau apa-apa ke gue. Kak Aurora justru terkesan menutupi identitas gebetan Bang Traven itu dan nggak jarang jadi membuat gue berspekulasi aneh-aneh tentang hubungan mereka berdua.

*

Aurora

“Lo masih marah sama Yere, Ra?” tanya Traven setelah kami berdua kembali duduk di dalam mobilnya. Aku hanya menggeleng pelan sambil menyuap double chocolate croissant yang terpaksa aku bawa pulang karena aku masih menghindari Yeremia.

“Kalo nggak, kenapa ngajak pulang? Aneh lo.”

Kalau tadi aku cukup senang dan bersyukur karena saat di kafe dia nggak resek nanya alasan kenapa aku ngajak dia pulang—padahal sebelumnya aku yang mengajak dia juga untuk pergi ke kafe itu—, sekarang aku merasa kesal.

“Diem, deh, nggak usah bahas Yere,” balasku sebal.

“Ra, lo nggak seharusnya begitu sama Yere. Dia nggak salah apa-apa.”

“Ven, diem,” potongku dingin.

“Nggak. Gue mau lo denger nasihat gue.”

Dasar Traven, disuruh diem malah terus ngoceh topik yang sedang kuhindari.

“Wajar lah, kalo dia ngerasa khawatir sama lo karena menurut dia lo tiba-tiba bersikap nggak kayak biasanya. Dan wajar juga dia nanyain hal itu ke kakak lo. Kalo gue jadi Yere, mungkin gue akan ngelakuin hal yang sama.”

“Gue nggak mau setelah ini dia ngasihanin gue, Ven.” Aku terpaksa menanggapi nasihat Traven. “Gue benci dikasihani.”

“Yere dan nyokapnya bukan tipe yang kayak gitu, Ra. Gorok leher gue kalo gue salah.”

Aku berdecak kesal. Traven sudah mengenal Yeremia dan Tante Linda jauh sebelum aku kenal keduanya, jadi sudah pasti dia tahu bagaimana karakter Yeremia dan keluarganya.

“Lo malu, kan? Sama kayak dulu, pas gue tau gimana hubungan lo dan nyokap lo?” Sepertinya aku tidak bisa menghindar lagi. “Iya, Ven.”

Traven menunjukkan raut wajah sombongnya karena berhasil menebak dengan benar perasaanku yang sebenarnya.

“Yere dateng dari keluarga sempurna, punya orang tua yang perhatian sama dia, yang sayang sama dia, yang selalu support apapun yang dia lakuin. Sementara gue?” Aku mendengus kesal mengingat bagaimana kedua orang tuaku—bahkan mereka nggak layak disebut sebagai orang tua—memperlakukanku dan kakakku, Aldian.

“Dengan lo bersikap kayak gini sama Yere dan Tante Linda, lo expect apa, Ra? Kalo Yere mungkin bisa paham sama sikap lo, tapi Tante Linda? Tiba-tiba lo ngehindarin dia … gue yakin dia akan curiga dan justru dia akan cari tau tentang lo ke Yere. Dan yang gue tau, Yere nggak mungkin bohong sama nyokapnya.”

Aku cuma diam mendengar balasan Traven. Semalam, aku tidak terpikir sampai sana. Aku tidak berpikir Tante Linda yang mungkin akan bingung dengan perubahan sikapku.

“Dipikirin lagi, Ra. Malu adalah hal yang wajar, gue mengerti akan hal itu. Tapi menghindar juga bukan jalan keluar yang bagus.” Traven kembali bersuara. “Lagipula menurut gue, lo nggak perlu malu, Ra.”

Aku melirik sekilas ke arah Traven. Kalau lagi serius (dan benar), Traven bisa jadi penasihat yang baik, walaupun keseringannya dia nggak serius (dan nggak benar).

“Udah sana, turun. Kerjain tugasnya besok aja, dikumpulinnya hari Jumat, kan,” ucap Traven saat mobilnya berhenti di depan rumahku. “Croissant gue bawa aja buat lo, biar nggak badmood terus-terusan.”

Thanks, ya, Ven. Lo kalo lagi kayak gini keliatan kayak cowok waras.”

“Jadi selama ini gue nggak waras, gitu?!”

Aku tertawa geli sambil keluar dari mobil Traven, menghindari tatapan protes dan juga omelannya.

Traven kemudian membuka kaca jendela mobilnya. “Nasihat waras gue tolong dipikirin, ya, Aurora Araria,” ucapnya menutup percakapan kami sore hari ini.

Not As Same As It Looks

Karena bosen dan kebetulan mami lagi nggak ada di rumah, akhirnya gue memutuskan buat main basket sendirian di lapangan cluster rumah gue. Tumben sepi, padahal biasanya anak cluster—bahkan sampe anak cluster lain—suka main di sini karena katanya lapangan basket di cluster gue adalah salah satu lapangan terbaik yang ada di kompleks perumahan rumah gue.

Beberapa kali gue nge-dribble bola dan lempar ke ring, ternyata tembakan gue oke juga. Cuma sedikit yang meleset, sisanya masuk dengan sempurna ke dalam ring. Dan saat gue berhasil cetak three point shot, seseorang di luar lapangan bertepuk tangan meriah.

“Bang Aldi?!”

Orang yang tadi kasih tepuk tangan heboh itu sekarang nyengir lebar banget—sekilas mirip sama adiknya, Kak Aurora.

“Bang, baru balik kantor?”

Bang Aldi mengangguk. “Tumben main sendiri? Nggak sama Traven?”

“Nggak, Bang. Dia lagi ada urusan,” balas gue singkat.

Setelah itu Bang Aldi masuk ke dalam lapangan yang dipagari dengan besi kawat dan menemani gue main basket selama kurang lebih tiga puluh menit.

“Jangan-jangan si Traven lagi pergi sama Aurora, ya,” gumam Bang Aldi saat kami sedang beristirahat di pinggir lapangan. Warna langit sudah mulai menggelap, tapi kami berdua masih terlalu malas untuk kembali ke rumah masing-masing. Lagian udah lama juga nggak ngobrol sama Bang Aldi kayak gini.

“Nggak, Bang. Tadi gue chat Kak Aurora, katanya dia lagi pergi sendiri. Malah tadi rencananya mau balik bareng Abang.”

Dahi Bang Aldi berkerut. “Hah? Masa sih? Tapi dia nggak ada chat gue …” Bang Aldi kemudian mengambil ponselnya dari kantong resleting depan tas ransel yang dia bawa. Dia mengutak-atik beberapa saat telepon genggamnya itu, kayaknya ngirim chat ke Kak Aurora buat make sure kalimat gue barusan.

“Bang.”

“Hmm.” Bang Aldi cuma berdeham pelan menanggapi panggilan gue. Dia masih sedikit sibuk membalas pesan Kak Aurora.

“Kak Aurora lagi ada masalah, ya?” Gue memberanikan diri untuk bertanya tentang Kak Aurora kepada Bang Aldi. Gue kepikiran sama chat yang dia kirim ke gue beberapa hari lalu setelah kami pergi mengunjungi edufair.

“Masalah?” Bang Aldi mencoba mengingat-ingat adiknya. “Kayaknya nggak ada, deh, Yer. Emang kenapa? Dia cerita sama lo kalo dia lagi ada masalah?”

“Nggak, sih, Bang …” Awalnya gue sempat ragu untuk menceritakan isi chat Kak Aurora hari Minggu kemarin. Tapi sepertinya gue nggak bisa untuk nggak cerita karena sekarang Bang Aldi lagi ngeliatin gue dengan tatapan penasaran.

“Gue jago akting di depan Aurora, Yer.”

Gue ketawa rendah mendengar kalimat ‘kode’ yang diucapkan Bang Aldi.

“Kemarin abis balik dari edufair, tiba-tiba Kak Aurora nyeramahin gue panjang lebar, Bang. Intinya gue harus bersyukur sama mami. Terus apapun jurusan yang gue pilih, Kak Aur bakal support gue. Sebenernya hal biasa, sih, Bang. Cuma gue ngerasa nasihat yang kemarin, tuh, beda sama nasihat-nasihat biasanya.”

Bang Aldi mengangguk-angguk mendengar penjelasan gue. Ada jeda sebentar setelah gue selesai berbicara, sebelum Bang Aldi gantian bersuara.

“Gue sama Aurora dari kecil nggak pernah ngerasain yang namanya disayang seorang ibu, Yer.”

Mata gue refleks melebar, tapi gue tetap berusaha untuk tenang mendengar cerita Bang Aldi sampai selesai.

Sorry kalau kesannya nggak sopan, ya, Yer, tapi gue dan Aurora menganggap Tante Linda seperti ibu kita sendiri. Beliau baik, baik banget sama gue, terlebih sama Aurora. Dan mungkin hari Minggu kemarin pas kalian jalan bareng, ada hal yang dilakuin Tante Linda yang bikin Aurora tersentuh.”

No need to say sorry, Bang. Gue malah seneng kalo ternyata kalian sayang sama mami.”

Serius, gue benar-benar bersyukur ada orang yang sayang sama mami karena menurut gue nggak semua orang bisa cocok sama mami, tapi kembali lagi gue bersyukur, orang-orang yang hidup di sekeliling mami merasa cocok dengan dia bahkan menyayangi dia juga.

“Dari kecil, nyokap nggak pernah peduli sama urusan kami berdua; urusan sekolah dan lainnya. Dia cuma kasih kami makan—kasarannya biar nggak mati aja. Sisanya, ya udah. Kami dibiarin hidup sendiri, mikir sendiri mau jadi apa.”

Damn, rasanya gue jadi anak kurang ajar kalo habis ini masih aja ngatain mami cerewet.

“Bokap nggak tau masalah ini, kalopun dia tau sepertinya dia juga nggak peduli. Yang penting dia cari uang dan sekolahin kami berdua. Makanya pas gue ke Jakarta, bertepatan dengan meninggalnya bokap, Aurora pilih untuk ikut gue. Di saat itu juga kami pisah sama nyokap. Sampe sekarang gue dan Aurora nggak tau kabar nyokap. Nyokap pun juga nggak pernah cari tau tentang kami berdua.”

Kok ada, sih, ibu sejahat ini?

“Alasan lain Aurora pindah ke Jakarta juga karena dulu di Jogja dia suka di-bully sebagai anak yang nggak punya orang tua. Ada yang ngatain dia anak haram juga. Macem-macem, deh.”

Ini bola basket kalo gue lempar sekarang bisa nyampe Jogja nggak, ya? Kepengen banget ngehajar orang-orang yang seenaknya ngatain Kak Aurora.

She grew up with lots of pain. Kadang gue merasa bersalah, kenapa harus Aurora yang jadi adik gue? Dia nggak pantes buat terima itu semua. She deserves better parents, better brother. Tapi untungnya masa-masa kelam itu udah lewat. Sekarang di sini, dia kelihatan jauh lebih happy, dengan adanya lo, Tante Linda, Traven …” Bang Aldi menepuk-nepuk pelan pundak gue. “Kalo gue lagi nggak ada, tolong jagain Aurora, ya, Yer? Dia keliatannya periang dan kuat, but she’s not as strong as you know, as cheerful as you see.

Gue mengangguk mengiyakan permintaan Bang Aldi. “Iya, Bang. Tanpa lo minta pasti gue akan selalu jaga Kak Aurora.”

Tentang Dia

Bolak-balik gue mematut diri di depan cermin full body yang gue taruh di pojok ruangan bersebelahan dengan jendela kamar, memastikan kalau penampilan gue Minggu siang ini nggak akan terlihat malu-maluin di depan Kak Aurora. Setelah hampir satu jam gue habiskan hanya untuk memilih outfit hari ini—dan berakhir dengan pilihan ter-aman gue, kaos dan jaket—gue keluar kamar.

“Mami mau ke mana?” tanya gue pas lihat mami yang udah stand by rapi di ruang tengah.

Yo pergi sama kamu, mau ke mana lagi?”

“Hah?!” Kaki gue berhenti di anak tangga paling bawah. “Mami ikut?”

Mami melihat ke arah gue, dahinya mengerut bingung. “Masa Mami nggak ikut? Mami harus tau jurusan dan universitas pilihan kamu, biar kalo papi nanya lagi, Mami bisa jawab.”

Kalau tau mami punya rencana untuk ikut, harusnya Jumat malam kemarin gue bohong aja.

“Kamu panggil Aurora, gih, biar Mami minta Pak Yatmo ngeluarin mobil. Kita berangkat sekarang.”

*

Pupus sudah semua imajinasi gue tentang hari ini; keinginan gue memasang lagu-lagu Tom Misch kesukaan Kak Aurora selama kami dalam perjalanan, mengajak dia makan sate taichan di Senayan dan terakhir, jajan ice matcha latte kesukaannya di Starbucks rest area sebelum balik ke rumah. Kenyataannya sekarang gue duduk di sebelah Pak Yatmo ditemani siaran radio yang dipasang random dengan volume rendah, sementara mami dan Kak Aurora di kursi belakang asyik ngobrol.

Kebanyakan mami yang bercerita dan Kak Aurora jadi pendengar yang baik. Sesekali aja Kak Aurora menanggapi dengan sepatah dua patah kata atau tawa pelannya.

“Nanti, deh, Ra, kalo Tante pergi ke Meruyung lagi, Tante ajak kamu. Di sana tanemannya apik pol, harga juga oke punya.”

Selain suka ngobrol ngalor ngidul, mami dan Kak Aurora juga suka pergi berduaan—bertiga, deh, sama Pak Yatmo—karena mereka punya hobi yang sama, yaitu mengoleksi tanaman hias. Mulai dari yang namanya aneh bin ajaib—kayak ‘Janda Bolong’—sampai yang namanya bagus seperti ‘Lady Valentine’, semuanya mereka punya. Bahkan nggak jarang juga, mami dan Kak Aurora bercocok tanam di halaman belakang rumah gue yang disulap mami awal tahun ini jadi kebun pribadi lengkap dengan green house-nya.

“Kamu, tuh, pacaran sama anaknya Pak Wibisana, yo, Ra?”

Mami membuka topik baru. Gue langsung pasang telinga, siap mendengar jawaban kak Aurora.

“Traven, Tan?” Gue lihat mami mengangguk pelan. “Ah, enggak, kok, Tan … Kebetulan kami kuliah satu jurusan, terus satu klub lukis juga, makanya jadi deket.”

Jawaban yang sudah terlalu sering gue dengar, tapi gue selalu merasa jawaban itu nggak sepenuhnya benar. Rasanya nggak mungkin, dengan kedekatan Kak Aurora dan bang Traven yang se-lengket itu, mereka cuma menganggap satu sama lain sebagai sahabat.

“Kalau kamu liat atau tau Yeremia ngegebet cewek, bilang ke Tante, ya, Ra.” Gue nggak dengar mami dan kak Aurora membahas apa lagi, tapi permintaan mami yang setengah menyindir gue, membuat gue berhenti melamun.

“Tapi masa sih, Kak, kakak sama bang Traven bener-bener cuma pure temenan?” Gue mengembalikan obrolan ke topik sebelumnya. Sengaja, siapa tau jawaban kak Aurora bisa menghilangkan rasa penasaran gue.

“Iya, padahal cocok juga, lho, kalo diliat-liat …”

Bukan jawaban Kak Aurora yang gue dengar, malah celetukan mami yang bikin Kak Aurora batal menjawab pertanyaan gue—dia cuma tersenyum simpul.

Gue jadi semakin yakin, Kak Aurora dan Bang Traven nggak cuma sekedar sahabatan. Dan gue nggak suka dengan fakta ini.

*

Edu Fair yang diadakan setiap tahun di JCC ini memang bagus untuk siswa-siswi kelas 3 SMA, terutama untuk mereka yang masih belum tahu mau ambil jurusan apa atau kuliah di mana, karena setiap universitas yang ikut acara ini tidak akan segan menjelaskan secara rinci keunggulan kampus mereka dan juga berbagai jenis jurusan yang mereka miliki.

Seperti salah satu universitas swasta yang sedang gue kunjungi saat ini, sedari tadi admin yang bertugas menjaga booth tidak berhenti membujuk rayu mami untuk mendaftarkan gue di sana, dengan segala penawaran fasilitas yang menggiurkan.

By the way, Bu, anaknya cantik dan ganteng, deh.”

Gue, mami dan Kak Aurora saling melirik satu sama lain sebelum mami membalas pujian yang dilontarkan admin itu.

“Makasih, ya … Mirip saya, kan, ya, Mbak?”

Sedetik kemudian mami dan mbak-mbak admin itu kompak tertawa pelan, sementara gue melirik sekilas ke arah Kak Aurora. Dia tersenyum tipis, tapi seperti ada sesuatu yang disembunyiin di balik senyumnya itu. Matanya kelihatan berair, tapi buru-buru dia bersihkan dengan tisu yang dibawa di dalam tasnya.

Hampir empat tahun gue mengenal Kak Aurora. Selama itu juga gue diam-diam suka sama dia, tapi ternyata gue masih belum tahu banyak tentang dia.

Gagal

Walaupun harus nurut mami diantar pergi dengan Pak Yatmo dan harus membawa serta sepupu-sepupu Randika—yang ternyata anaknya seru-seru—seenggaknya gue bisa meloloskan diri dari ajakan jalan-jalan Kak Aurora dan Bang Traven.

Dan karena gue tau kebiasaan mereka berdua mirip dengan mami—yang suka pergi ke mal di tengah kota Jakarta itu—makanya kali ini gue memilih mal Central Park buat hangout bareng Randika dan dua sepupunya, Cakra dan Nirmala.

“Mal-nya uapik tenan yo, Cak,” puji Nirmala kagum setelah masuk ke dalam mal dan berbaur dengan keramaian pengunjung siang hari ini.

Cakra yang lagi menyimpan kembali airpods miliknya, menyahuti Nirmala. “Nir, lo kayak baru liat mal gede aja.”

Nirmala cuma nyengir, lalu gantian ia mengajak gue dan Randika berbicara. “Mas, mas, kita sekarang mau ke mana? Aku shopping boleh ta?”

Randika melirik ke arah gue, mengingat gue yang mengajak dia dan sepupu-sepupunya ke sini, secara nggak langsung dia meminta izin kepada gue sebagai si empunya acara hari ini.

“Boleh. Gue juga suka shopping, kok. Ya nggak, Ran?” tanya gue sambil merangkul leher Randika. Randika cuma bisa senyum masam karena pasrah, sementara Nirmala langsung heboh menggandeng lengan Cakra dan mengajaknya ke salah satu toko baju terbesar di mal itu.

Di dalam toko, Nirmala sibuk memilih baju dengan Cakra yang setia mengekori, sementara gue dan Randika hanya berkeliling melihat-lihat sembari mengobrol.

“Jadi Nirmala sama Cakra tuh, dua sepupu bungsu lo?” tanya gue memastikan, setelah mendengar penjelasan singkat Randika tentang keluarganya, keluarga Soerjadi.

Randika mengangguk. “Cakra sebenernya anaknya pakde gue, kakaknya bokap, tapi dia lahirnya di bawah gue dua tahun. Dia punya abang satu, namanya Kaivan. Lagi ngambil S2 di US. Kalo Nirmala emang anaknya adek bokap.”

Gantian gue mengangguk paham dengan penjelasan Randika. Randika dan sepupu-sepupunya tergolong akrab, beda sama gue dan satu-satunya sepupu gue, yang lebih mirip dua orang asing karena saking jarangnya kontak-kontakan dan juga ketemu. Jarak usia yang lumayan jauh—sepupu gue sembilan tahun di atas gue—juga bikin hubungan kami semakin awkward.

“Aku udah selesai shopping-nya.” Nirmala memamerkan hasil belanjaannya dalam dua kantong coklat berukuran besar. “Sekarang gantian Mas-mas mau ke mana?”

“Kalian ada mau liat toko lain?” tanya gue bergantian ke Randika dan Cakra, yang kemudian dijawab dengan gelengen kepala mereka berdua. “Ya udah, makan aja, yuk.”

***

“Yeremia?”

Untung aja gue nggak keselek Salmon Baked Rice yang jadi menu makan siang gue hari ini, saat melihat siapa orang yang memanggil nama gue.

“Lah, Kak Aurora? Ngapain di sini?” tanya gue bego. Iya bego, karena jawabannya udah pasti satu—

“Ya mau makan lah, Yer.”

Kan, apa nggak bego pertanyaan gue barusan?

“Nggak bales WA gue, nggak taunya pergi ke sini.” Bang Traven kemudian ikut berkomentar dan tanpa basa-basi dia langsung duduk di kursi yang masih kosong di meja gue. Kebetulan banget siang ini gue dapet meja dengan enam kursi karena yang empat kursi semuanya terisi penuh.

“Kita gabung aja sama mereka, yuk, Ra?”

Semua pasang mata—termasuk Kak Aurora—menatap ke arah gue, menunggu jawaban dari gue. Lagi, karena semua menganggap gue-lah yang punya acara Sabtu siang ini.

“Ya udah, gabung aja.”

Randika sebagai satu-satunya orang yang tahu permasalahan sebenarnya, melirik ke arah gue dengan tatapan khawatir. Gue cuma bisa angkat alis, mata gue mengisyaratkan ‘mau gimana lagi?’

Dalam waktu kurang dari setengah jam, Kak Aurora sudah langsung akrab dengan Nirmala. Sementara Bang Traven yang memang sudah kenal Randika terlihat semakin akrab, ditambah Cakra yang dasarnya gampang berbaur dengan siapa saja membuat obrolan mereka nyambung satu sama lain.

Gue? Sesekali menanggapi obrolan cowok-cowok, sambil diam-diam memperhatikan Kak Aurora yang duduk di ujung meja, agak jauh dari kursi gue. Nggak tau kenapa, seneng aja liat Kak Aurora apalagi kalau dia lagi senyum dan tertawa. Gigi-gigi besarnya mempercantik fitur wajahnya yang emang udah cantik dari sananya.

Bucin, ya? Hahaha … Tapi begitulah gue mengagumi Kak Aurora, dan tanpa gue sadarin rasa kagum gue perlahan berubah jadi rasa suka, yang kadang bisa bikin gue bete sendiri kalau Kak Aurora terlalu akrab dengan Bang Traven—kayak sekarang.

Nggak tau apa topik pembicaraan mereka sebelumnya karena sekarang Bang Traven lagi ngacak-ngacak pelan rambut Kak Aurora sambil ketawa-tawa dengan yang lainnya.

“Mau udahan aja, Yer? Biar kita misah,” bisik Randika yang masih khawatir dengan gue. “Soalnya lo keliatan kayak sad boy banget sekarang.”

Sialan. Sempet-sempetnya si Randika ngecengin gue.

“Ehm,” Gue berdeham cukup keras sambil bangun dari tempat duduk supaya semua memperhatikan gue. “Gue mau balik, Bang,” pamit gue kemudian.

“Yaudah kalo gitu bareng aja, gue juga udahan. Lo parkir di mana?” Bang Traven ikut-ikutan bangun dari tempat duduknya.

“Ngg … Gue dianter Pak Yatmo.”

Jujur, agak sebel harus mengakui kalau hari ini gue dianter Pak Yatmo karena sekarang gue jadi kedengeran nggak keren di depan Kak Aurora. Ditambah Kak Aurora di ujung sana masih tersenyum senang tanpa gue tau apa maksud senyumannya itu.

“Oh, ya udah gue sama Aurora duluan, deh.” Kemudian Bang Traven dan Kak Aurora segera bersiap untuk pamitan pulang. “Langsung balik ke rumah apa gimana?” tanyanya lagi.

“Main ke tempat Randi dulu.” Sorry Ran, pinjem nama lo dulu.

“Ya udah, kalo gitu ntar berkabar lagi, Yer. Bales WA gue, jangan read only.”

Gue hanya menanggapi kalimat Bang Traven dengan satu kata ‘he-eh’ dan setelahnya Bang Traven dan Kak Aurora berpamitan dengan kami satu persatu.

“Salam buat Tante Linda, ya, Yer,” ucap Kak Aurora begitu ia sampai di depan gue—sebagai orang terakhir yang diajak berpamitan. Dia menepuk pelan bahu gue lalu segera menyusul Bang Traven yang sudah terlebih dahulu keluar restoran.

Ayu pisan, yo, Cak. Kamu ndak naksir ta?” Nirmala menjadi orang yang pertama kali buka suara setelah kepergian Bang Traven dan Kak Aurora.

“Ya kali, Nir, semua yang cantik aku taksir,” jawab Cakra lalu matanya menatap gue dengan tatapan mencurigakan. “Lagian masa gue naksir gebetannya Mas Yeremia, sih?” lanjutnya jahil.

Sedetik kemudian, gue sadar siapa satu-satunya orang yang jadi ember bocor di sini.

“Randika Soerjadi!”

“Nggak sengaja kelepasan, Yer!”

Mami

“Yeremia si anak mami.”

Nggak jarang gue mendengar kalimat itu. Apakah gue membantah? Nggak juga, karena emang gue anak mami gue, kan?

Gue paham yang dimaksud 'anak mami' di sini adalah posisi gue sebagai anak laki-laki yang selalu nurutin apa kata maminya, nggak pernah bandel—padahal nggak juga, gue suka bikin mami darting dengan ulah gue—di saat kebanyakan anak laki-laki lain seusia gue lagi di fase bandel-bandelnya sebagai anak remaja.

Gue nurutin kata-kata mami karena awalnya menurut gue mami itu galak—mami kalo udah marah serem banget—tapi seiring berjalannya waktu gue semakin sadar kalau galak dan overprotective-nya mami itu, semua dilakukan demi kebaikan gue.

Gue pun menyadari, menjadi anak laki-laki tunggal yang didapatkan mami dan papi dengan susah payah—kata papi, butuh lima tahun dan berbagai macam program kehamilan sampai mami bisa hamil dan lahirin gue—membuat mami jadi super ekstra menjaga gue dari pergaulan yang nggak sehat dan membesarkan gue sebagai anak satu-satunya.

Papi berjuang cari uang, sementara mami mengusahakan segala cara agar gue menjadi anak pintar, mulai dari mendaftarkan gue di berbagai les sampai menyekolahkan gue di sekolah internasional ternama. Semua itu dilakukan demi gue, anak semata wayang mereka. Jadi, sudah sepantasnya, kan, gue membalas mereka dengan menjadi anak baik dan penurut?

“Jeng Linda!”

Suara salah satu istri rekan kerja papi menyapa kedatangan mami dan gue sore itu. Mami segera menghampiri satu meja bundar yang sudah dihuni tiga wanita sebayanya, sementara gue menunggu beberapa langkah di belakang.

“Aduh, ayu’ne … Sama siapa ke sininya, Jeng?” tanya salah satu di antara tiga wanita itu setelah mami selesai bercipika-cipiki ria dengan ketiganya.

Iki sama cah lanangku,” Mami kemudian melihat ke arah gue, tangannya manggil-manggil gue untuk mendekat.

Iki kenalin, Yeremia Pramudya.” Dengan bangga mami memperkenalkan gue dengan istri-istri rekan kerja papi. “Yer, iki Tante Maria istrinya Om Marcus, Tante Dita istrinya Om Rudy dan Tante Rosa istrinya Om Ricky.” Gantian mami memperkenalkan tiga temannya lengkap dengan nama suaminya yang lebih familiar di telinga gue.

“Halo Tante semuanya, salam kenal, saya Yeremia,” sapa gue sopan sambil memperhatikan Tante Maria, Tante Dita dan Tante Rosa bergantian.

“Ganteng banget anakmu, Lin,” Tante Maria, yang kelihatannya menjadi yang tertua di antara mereka berempat, bersuara. “Kalo anakku perempuan, udah aku jodohin sama anakmu.”

Refleks mami dan ketiga temannya ketawa. Yeah, jokes ibu-ibu pada umumnya.

“Sekolahnya di Altaire, ya?” Sekarang giliran Tante Dita yang berbasa-basi padahal udah jelas kelihatan dari seragam gue. Tapi dimaklumin aja, ikut pertemuan ibu-ibu—atau bapak-bapak kalau lagi sama papi—pasti akan melewati tahap basa-basi kayak gini.

“Iya, Dit, temenan sama anaknya Anantara.” Bukan mami namanya kalo nggak sedikit flexing karena anaknya berteman dengan anak pemilik yayasan sekolah, padahal kenal dengan Kesha juga karena bang Winwin.

“Ayo duduk, Jeng, pesen minumannya … Yeremia juga.” Akhirnya Tante Rosa menutup percakapan basa-basi itu dengan mempersilahkan gue dan mami untuk duduk di kursi yang masih kosong.

“Mami aja, aku nunggu di tempat lain aja.” Nggak mungkin kan, gue bergabung dan ikut ngerumpi bareng ibu-ibu ini?

“Nunggunya di mal ini aja, yo, Yer. Ojo kemana-mana biar Mami nggak susah nyari kamu.”

Gue ngangguk nurut lalu berpamitan dengan ketiga teman mami sebelum pergi dari butik teh itu dan menuju satu-satunya coffee shop yang nggak akan bikin gue mikir panjang dengan minuman yang akan gue pesan.

“Java Chip grande satu, ya,” pesan gue begitu gue tiba di depan kasir. Belum sempat si barista slash mbak kasir sore ini menanyakan payment system gue, gue udah nunjukkin barcode kartu membership yang langsung diiyakan dengan sebuah anggukan dan senyuman ramah.

Beres dengan minuman, gue langsung mencari tempat duduk dan syukurnya gue dapat posisi enak di pojok ruangan yang nggak terlalu ramai dilewati banyak pengunjung.

*

Biasanya apa yang dilakukan anak cowok kalo lagi menunggu? Yup, betul. Main game. Jadi sambil nunggu mami, gue ajak Bang Traven buat mabar Mobile Legend. Sayang banget bang Winwin nggak bisa ikutan karena dia lagi di Seattle dan dengan perbedaan waktu 14 jam, sangat nggak mungkin buat dia ikut main sekarang.

“Bang, bang ke atas!” perintah gue setengah berbisik supaya pengunjung kafe lainnya nggak terganggu dengan kehebohan gue. Maklum aja, biasanya main di kamar dengan kondisi nggak ada siapa-siapa, sekarang terpaksa main di tempat umum modal airpods buat komunikasi antar player.

Bang Traven nggak kedengaran membalas kalimat gue, tapi sedetik kemudian gue mendengar suara perempuan yang nggak asing dan suara itu cukup jelas memenuhi telinga gue.

“Ven, kanvas yang kemarin baru lo beli lo taro mana?”

Sepertinya bang Traven lupa buat matiin microphone-nya karena sekarang gue bisa denger cukup jelas percakapan antara dia dan kak Aurora. Iya, suara perempuan yang nggak asing di telinga gue itu nggak lain nggak bukan adalah suara kak Aurora.

“Di pojok situ, Ra, cari aja …” Bang Traven menjawab pertanyaan kak Aurora, “Halo, Yer? Yer?! Itu musuh—”

“You have been slain.”

Ucapan bang Traven terputus dengan announcement voice dari Mobile Legend yang menyatakan gue kalah di dalam permainan. Pengumuman game yang jarang gue dengar karena seringnya gue memenangkan pertandingan, tapi kali ini harus gue dengar karena konsentrasi gue udah buyar. Pikiran gue ke mana-mana, ngebayangin kak Aurora lagi berduaan di kamar bang Traven dengan dalih ngerjain tugas kuliah atau ngerjain tugas dari klub lukis mereka padahal …

Drrt drrt… drrt drrt…

Ponsel di genggaman gue bergetar, nama ‘Mami’ muncul di layar sebagai penelepon.

“Kenapa, Mi? Udahan ngetehnya?”

Iyo, kamu di mana?”

“Starbucks. Mami tunggu di aja di TWG, biar aku yang turun.”

Ndak usah, Yer. Sek Mami yang ke atas.”

Karena mami sudah bertitah meminta gue untuk menunggu dia di sini, jadilah gue membereskan segala perabotan nge-game gue—balikkin airpods ke tempatnya, keluar dari aplikasi Mobile Game dan ngediemin chat bang Traven karena gue masih agak kesel dengan pikiran kacau gue sebelumnya.

“Kamu minum opo, Yer?” Dateng-dateng mami langsung menginterogasi gue karena memang dia se-peduli itu sama gue. Hampir setiap pulang sekolah, dia akan tanya menu makan siang gue di sekolah. Kalau gue ada bimbel dan pulang telat, dia akan tanya cemilan apa yang gue makan sebelum bimbel. Kalau gue pergi keluar dengan bang Traven atau bang Winwin, dia juga akan tanya apa aja yang gue lakukan selama gue pergi. Se-detail itu.

“Java Chip. Mau, Mi?” tawar gue sambil mengangkat sedikit gelas minuman gue yang belum habis.

Ndak, lah. Pasti manis banget.” Mami meragain gaya merinding-nya kalau lagi nyobain makanan atau minuman gue yang menurut dia over-sweet. Gue ketawa pelan. Thanks to mami, mood gue sekarang perlahan membaik.

“Kamu mau bawa pulang cake?” tawar Mami sebagai salah satu bentuk perhatiannya yang lain. Kalau kalian anggap gue adalah anak spoiled yang semua kemauannya selalu dituruti, kalian salah besar. Mami bersikap seperti ini biasanya karena dua hal, dia lagi seneng banget atau dia tau gue lagi badmood. Dan kayaknya sore ini dia lagi merasakan keduanya.

“Boleh, Mi?” Pertanyaan gue dijawab dengan anggukan mantap mami. Tangannya segera ngeluarin debit card dari dalam dompetnya dan dikasih ke gue. “Beliin juga buat Papi, Mbak Jul sama Pak Yatmo. Pak Yatmo dibeliin dua buat anaknya di rumah. Rasanya sekarepmu, lah, wes mami ra ngerti cake-cake begituan.”

Suara mami yang cukup keras, cempreng dan tentu saja dengan logat Surabaya kentalnya mengundang beberapa customer yang duduk di dekat kami terkekeh pelan. Tapi mami tipe orang yang nggak peduli dengan hal sepele seperti itu, dia justru bangga dengan logat medoknya. Gue pun ikut bangga karena punya mami seperti mami gue.

“Bentar, yo, Mi.”

Nggak lama untuk membeli lima cake, sekarang gue sudah kembali ke meja dengan satu tas kertas besar di tangan kiri.

“Udah, Mi,” ucap gue sambil mengembalikan debit card milik mami. “Yuk, ke bawah. Biar aku telepon Pak Yatmo buat jemput di lobi.”

Mami mengangguk, dia bangun dari duduknya lalu menggamit lengan gue untuk berjalan keluar dari coffee shop itu. Udah jadi kebiasaan mami untuk menggandeng lengan gue di saat tertentu kalau kami lagi jalan berdua. Bahkan kalau lagi jalan dengan papi pun, mami suka melakukan hal ini. Gue nggak masalah dengan gesture mami yang kebanyakan dihindari anak cowok lainnya karena terkesan malu-maluin dan nggak cool, justru yang nggak suka menerima perlakuan mami seperti itu adalah papi. Sambil pura-pura cemberut, biasanya papi akan protes karena merasa kurang perhatian dari mami.

“Yer, tadi pas nunggu kamu di Starbucks, Mami lihat arek cilik pacaran. Kalo Mami tebak, ya … seumuran kamu, lah.”

“Terus, Mi?” tanya gue penasaran. Kemungkinan besar topiknya akan kembali ke obrolan gue dan mami kemarin sore.

Jek SMA tapi pacarannya wes peluk-pelukkan di mal, ke mana coba mama papanya?”

Yo kerja, cari duit.” Jawaban asal gue berhasil mendapatkan pelototan mami.

“Mami ingetin lagi, pokoknya kamu nggak ada pacar-pacaran. Nggak usah ikut-ikutan temenmu. Sekolah dulu yang bener, nanti kalo udah waktunya, mami papi juga pasti ijinin kamu buat cari cewek. Lagian cewek jaman sekarang tuh juga pinter-pinter, Yer, jadi kalo mau dapet cewek pinter, cewek genah, kamu juga harus jadi laki-laki pinter, sing genah.”

Instead of kesel karena mami cerewet banget masalah pacaran, gue merasakan hal sebaliknya. Gue bersyukur, menghargai concern mami terhadap gue. Gue tau, mami punya tujuan yang terbaik buat gue. Lagian kalo dipikir-pikir, gue sekarang mau pacaran sama siapa? Kak Aurora?

Begitu nama kak Aurora melintas di kepala, gue cuma bisa senyum tipis, kembali mengingat apa yang tadi gue sempat bayangkan pas denger suara kak Aurora di tengah-tengah permainan gue dengan bang Traven. Bener kata mami, harusnya gue fokus aja dulu sama sekolah, nggak usah pusingin masalah percintaan.

“Yer, kamu denger ra kata Mami?”

Gantian gue yang merangkul lengan mami dan nyenderin kepala di bahunya. “Denger, kok, Mi … Makasih, ya … Udah jadi Mami paling hebat buat Yere.”

“Kamu kesambet opo, toh, Yer? Mau minta nambah uang jajan?” Respons mami seperti respons ibu-ibu pada umumnya kalau anaknya—apalagi laki-laki—mendadak bersikap manis.

“Ih, Mami! Aku beneran ngomong dari lubuk hati yang terdalam, nih. Masak dikatain kesambet,” protes gue setengah merengut.

Mami ketawa, ekspresinya kalau lagi tertawa persis sekali dengan gue—kata orang-orang yang kenal kami berdua, termasuk kak Aurora. “Duh, cah lanang wes gede, Mami jadi terharu. Iyo, sayang, sama-sama. Mami juga bersyukur punya kamu di hidup Mami.”

Kak Aurora

Kalau biasanya di hari Minggu gue akan pergi sama mami atau Randi, atau Bang Win dan Bang Traven, Minggu hari ini gue memilih untuk di rumah aja. Bukan karena males pergi atau nggak dapet izin dari mami, tapi karena kak Aurora lagi ada di rumah gue.

Kak Aurora adalah tetangga sekaligus kakak kelas gue yang lulus tahun ini. Mami sangat mengagumi kak Aurora. Di mata mami, kak Aurora adalah seorang perempuan pintar dan mandiri. Mami nggak salah, sih, karena itu kenyataannya.

Kak Aurora ngontrak di rumah sebelah rumah gue—which is rumah gue satu lagi yang memang keluarga gue sewakan untuk siapapun—sama kakak laki-lakinya, bang Aldian. Mereka berdua berasal dari Jogjakarta; bang Aldi dateng ke Jakarta karena penugasan dari kantornya, sementara kak Aurora ikut merantau demi bersekolah di Altaire, salah satu sekolah swasta-internasional terbaik se-Jabodetabek.

Prestasi kak Aurora di sekolah tergolong cemerlang, namanya masuk list lulusan terbaik SMA Altaire 2022. Makanya nggak heran mami seneng banget sama kak Aurora dan nggak jarang minta tolong kak Aurora untuk bantuin gue belajar atau sekedar ngingetin gue untuk belajar. Gue sendiri nggak keberatan, malah gue seneng karena gue jadi selalu punya alasan untuk ketemu atau sekedar ngobrol via chat dengan kak Aurora.

“Yer … Yeremia!”

Suara mami dengan logat Surabaya super kentalnya memaksa gue menekan tombol pause di stick PS gue.

“Ada apa, Mi?” tanya gue sopan sambil nurunin tangga rumah gue yang berbentuk spiral. Di ruang tengah ada kak Aurora, mami dan lilin-lilin aromaterapi hasil belanjaan mami yang dia beli kemarin sore.

“Tumben dipanggil sopan,” sindir mami pelan—dasar ibu-ibu, “iki, Aurora ditemenin ke Hero dulu bentar, Mami sama Aurora mau masak spagetthi. Kamu ojo mangan tok ntar, bantu belanja juga.”

Biasanya kalo disuruh mami, gue akan mengeluarkan seribu satu alasan biar nggak jadi disuruh—dan berakhir mami minta tolong mbak Jul, ART di rumah, dan pak Yatmo, supir mami, untuk belanja—tapi khusus hari ini gue akan jadi anak baik buat mami. Lebih tepatnya buat kak Aurora.

“Boleh. Ayo, Kak.” Gue ambil kunci mobil yang disimpen di laci meja TV ruang tengah, lalu pamitan sama mami—yang lagi pasang tampang heran karena anak satu-satunya mendadak jadi penurut—sebelum pergi ke garasi buat manasin mobil.

Nggak lama habis gue nyalain mobil, kak Aurora masuk dan duduk di sebelah gue, dan setelah itu hening. Kami berdua sama-sama diam, cuma ada suara radio yang memang selalu gue pasang di mobil buat jadi temen jalan ke sekolah, mengisi kekosongan di mobil gue.

“Kalo nggak mau masak-masak sama mami, kakak masih punya kesempatan buat kabur sekarang.” Gue nyeletuk biar suasananya nggak semakin awkward. Gue udah tetanggaan dengan kak Aurora selama empat tahun, tapi entah kenapa rasanya selalu canggung setiap kami cuma berduaan aja kayak saat ini.

“Justru aku yang nawarin diri ke tante Linda buat masak-masak, Yer.” Kak Aurora ngebales celetukan gue dengan senyum lucunya. “Nggak enak udah dikasih lilin aromaterapi, enak-enak pula wanginya.”

“Sama mami, mah, nggak usah nggak enakan, Kak.”

Kak Aurora balas celetukan gue yang baru dengan sentilan pelan di kepala gue.

“Kamu, nih, ya …” Kak Aurora udah tau kalo gue suka agak tengil, apalagi kalau berhubungan sama mami. Makanya di beberapa kesempatan kadang dia cuma bisa pasrah—kayak barusan. “Udah, yuk, jalan.”

Kenapa cewek kalo belanja harus bolak-balik muterin semua koridor?

Sepengetahuan gue, semua keperluan untuk masak spagetthi udah dimasukkin kak Aurora ke dalam troli, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kaki dia melangkah ke kasir? Kak Aurora sekarang malah lagi asyik ngelihatin rak display teh dengan berbagai merek, mulai dari merek lokal sampai brand import.

“Lah, Rora?!”

Gue yang lagi ngeliatin chiki-chikian di koridor snack buru-buru nyamperin kak Aurora di koridor sebelah karena gue cukup kenal suara cempreng barusan. Bener aja, ternyata bang Traven. Dia lagi.

“Berdua Yere?” tanya bang Traven setelah melihat gue.

Gue langsung inisiatif ambil alih troli dari kak Aurora sambil jawab pertanyaan bang Traven. “Iya. Lo sama siapa, Bang? Ngapain?”

“Sendiri. Beli makanan Leon.” Bang Traven jawab pertanyaan gue singkat karena habis itu dia balik ajak kak Aurora ngomong lagi. “Ra, lo sibuk nggak? Gue butuh bantuan lo, nih.”

Buru-buru gue lihat kak Aurora dan sebelum dia sempat jawab pertanyaan bang Traven, gue buka suara. “Kak Aurora sibuk, mau masak-masak sama gue dan mami di rumah.”

“Yah …”

“Perlu bantuan apa, Ven?”

Percuma aja buru-buru potong percakapan mereka, manusia setengah dewi di samping gue ini akan tetap bertanya karena dia baik dan pedulinya suka kelewatan. Apalagi kak Aurora dan bang Traven memang lumayan akrab sejak SMA.

“Mau minta saran lo, nih, buat desain poster acara kampus gue.”

Kak Aurora manggut-manggut sambil ber-‘oh’ ria. “Kirim aja ke Whatsapp gue, nanti gue bantuin lo.”

Bang Traven senyum puas dan gue cuma bisa pasang wajah datar. Mau dilarang juga nggak mungkin, kan, emang gue siapa? Dan sebelum pertemuan nggak sengaja ini melebar jadi sesi ngobrol, gue pamitan untuk bayar belanjaan di kasir.

“Eh, bareng aja, gue juga udahan nih, belanjanya.”

Bang Traven, can you leave us alone, please?

III.

“Lo kenapa, Tim? Ada pasien bermasalah, kah?”

Pertanyaan itu dilontarkan lelaki yang tengah duduk di balik kemudi di sisi kanan Timothy.

Yang ditanyai hanya menggeleng pelan. “Nggak papa.”

“Abisan lo diem aja daritadi,” timpal lelaki itu lagi.

Kali ini Timothy berusaha untuk tersenyum. “Beneran gue nggak papa. Lo nih, tumben banget ngajak makan keluar. Ada apa sih?” Timothy mengulang topik pembicaraan yang sebelumnya sempat ia bahas via pesan teks.

Lelaki berambut gelap itu tersenyum, menampilkan lesung pipi yang menjadi daya pikatnya tersendiri.

“Ada deh, nanti lo juga tau.”

Timothy tidak membalas lagi kalimat sahabat yang seprofesi dengan dirinya sebagai dokter spesialis. Ia hanya melirik ke arah lelaki itu sekilas, memperhatikan gesturnya yang terlihat bahagia seperti sedang jatuh cinta.

*

Rebecca berjalan cepat menaiki tangga stasiun MRT Bundaran HI. Ia sedikit terengah, tapi ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak menyetir mobilnya sendiri karena terbukti, siang itu jalanan protokol ibukota cukup padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.

Begitu tiba di dalam mal, Rebecca melipir sebentar ke toilet untuk memastikan kalau dirinya terlihat layak untuk bertemu banyak orang, terutama lelaki yang akan ia temui sebentar lagi.

‘Becca, aku udah di Sushi Tei’

Sebuah pesan singkat masuk untuknya dan Rebecca membalasnya dengan cepat.

‘Oke, aku ke sana’

Sesuai pesan yang ia kirim, ia pun segera meninggalkan toilet dan bergegas menuju Sushi Tei.

*

“Lo bukannya nggak suka sushi, ya, Ron?” tanya Timothy setelah ia duduk di dalam restoran yang menjual makanan khas Jepang itu.

“Gue nggak suka, tapi orang yang mau gue kenalin ke lo suka banget sama sushi.”

Timothy melirik tajam ke arah sahabatnya, Aaron.

“Pasti cewek.”

Tebakan Timothy dijawab dengan tawa rendah Aaron.

“Kalo cowok ngapain gue pamerin ke lo?”

“Dih, dasar hobi flexing. Ini cewek yang mana lagi? Siapa namanya? Anak mana?”

Kali ini pertanyaan bertubi-tubi dari Timothy dibalas decakan pelan Aaron.

“Bawel. Nanti kenalan aja langsung sama orangnya.” Kalimat Aaron menggantung karena sosok yang dibicarakan terlihat berjalan memasuki restoran.

“Tuh, orangnya,” sambung Aaron sumringah sambil melambaikan tangan agar perempuan yang tengah mencari dirinya mengetahui posisinya.

Timothy menoleh mengikuti arah tatapan Aaron dan dalam hitungan sepersekian detik sekujur tubuhnya terasa membeku.

Sosok yang sudah lama tak ia temui, tapi masih saja betah mondar-mandir di pikirannya.

“Hai, Be.” Aaron berdiri dan menyapa perempuan itu dengan sebuah pelukan singkat. “Oh iya, kenalin ini sahabat aku, Timothy.”

Rebecca terperangah untuk beberapa saat, tapi ia segera menjulurkan tangannya ke arah Timothy, lelaki yang masih menatapnya dengan tatapan takjubnya.

“Hai, Timothy. Gue Rebecca. Salam kenal.”

“And now, after all we've done in our past, we meet again as others' lovers. We are back with title in our first met; strangers.”

E N D

29.

Sesuai perkataannya via chat tadi siang, Rebecca tiba di depan pintu masuk Marina Bay Sands Theatre sekitar pukul tujuh malam. Begitu sampai, ia segera menemukan Timothy yang sudah tiba di sana terlebih dahulu.

“Udah dinner, Be?” Pertanyaan yang sudah menjadi kebiasaan Timothy terucap kembali begitu saja.

“Udah. Kamu udah?” Rebecca pun sama, ia menanyakan kembali pertanyaan yang sama kepada Timothy.

Timothy hanya menangguk lalu setelah itu ia mengajak Rebecca untuk masuk dengan tiket yang sudah ia tukar sebelumnya.

Begitu duduk di kursi teater, Rebecca sibuk memainkan ponselnya. Perempuan itu terlihat sibuk membalas beberapa pesan yang masuk untuknya.

Sementara Timothy memperhatikan Rebecca dalam diam. Ingatannya kembali terputar ke masa di mana mereka berdua—atau lebih tepat dirinya—memutuskan untuk pergi ke Singapura di bulan Juni ini.

***

Someday in early January, 2022

“Masih ada berapa pasien lagi, Sus?” tanya Timothy setelah pasien rawat jalan yang baru saja ia tangani keluar dari ruang prakteknya.

“Lima, Dok.”

“Oke, sebentar. Yang berikutnya jangan dipanggil dulu.”

Suster yang menjadi asisten praktek lelaki itu malam ini mengangguk mengiyakan. Buru-buru Timothy merogoh kantong gaun dokternya untuk mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada seseorang.

Be, selesai praktek aku boleh mampir apart sebentar?

Begitu pesan dipastikan terkirim, Timothy mengizinkan kembali asisten perawatnya untuk memanggil pasien berikutnya.

***

Mobil Mercedes Benz E-Class abu metalik milik Timothy memasuki lahan parkir gedung apartemen Rebecca. Di pintu masuk, ia disapa ramah oleh petugas keamanan sebelum ia menempelkan kartu akses miliknya dan bergegas naik ke lantai 10, di mana unit milik kekasihnya berada.

Memiliki akses bebas ke apartemen Rebecca tidak lantas membuat Timothy datang sembarangan. Ia selalu meminta izin pada si pemilik untuk berkunjung dan setelah izin keluar, baru ia datang ke sana.

Seperti malam ini, selesai jam prakteknya, ia mengecek ponsel dan mendapatkan pesan balasan yang membuat senyum terukir di wajahnya.

Dateng aja, kebetulan aku masak oseng daging.

Senyum yang sama kembali terlihat di wajah Timothy saat Rebecca menyambutnya hangat di depan pintu.

“Hei, Tim.”

Timothy mencium kening Rebecca dan memeluknya sesaat sebelum ia masuk ke dalam.

“Wangi banget oseng daging kamu, kalah nih restoran Haji Mamat.”

Celetukan Timothy mengundang tawa renyah Rebecca. Setelah lelaki itu menaruh tas dan mencuci tangannya, Timothy dan Rebecca duduk berdampingan di kitchen island untuk makan malam bersama.

“Cobain.” Rebecca menaruh beberapa potong daging masakannya di atas piring Timothy.

Lelaki itu menurut, ia menyuap sepotong daging lengkap dengan nasinya, lalu dilanjutkan dengan menyendok sedikit kuah kaldu yang tersaji di mangkuk sebelah piringnya.

“Be, seriusan, Haji Mamat bisa jiper kalo tau kamu masak seenak ini.”

Rebecca mendorong pelan lengan Timothy. “Apa sih, jangan bikin aku geer, deh.”

Timothy merespons rajukan Rebecca dengan tawa yang menular, karena setelahnya perempuan itu ikut tertawa.

Makan malam itu kembali diisi dengan berbagai topik pembicaraan, mulai dari pasien Timothy, kesibukan kuliah Thomas—adik Timothy, client resek di kantor Rebecca sampai keinginan Rebecca untuk jalan-jalan ke luar negeri.

“Gimana kalo tabungan bareng-bareng kita, kita pake sedikit buat jalan-jalan ke Singapur?”

“Singapur?” tanya Rebecca meyakinkan.

“Iya. Nggak usah jauh-jauh dan lama-lama. 3D2N udah cukup banget, hari pertama nyampe kita bisa explore sekitar hotel, hari kedua bisa ke Marina Bay Sands atau Sentosa Island, hari ketiga bisa belanja—if you want—sebelum pulang.”

Rebecca manggut-manggut sambil berpikir. Yang diucapkan Timothy benar, tiga hari dua malam berada di negara singa putih itu cukup untuk dirinya yang hobi wisata kuliner.

“Nggak mau belanja, maunya wisata kuliner.”

Timothy mengusap-usap pelan kepala Rebecca dengan seulas senyum di wajahnya. “Anything for you, Be ...” Kemudian ia mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di dekat piringnya dan memeriksa jadwalnya. “Kamu ngga buru-buru, kan, perginya? Nggak harus bulan ini atau bulan depan?”

“Nggak, kok. Ngikut jadwal Pak Dokter aja.”

“Kalo gitu bulan Juni, ya? Biar dapet cuaca enak buat jalan-jalan. Gimana?”

“Oke,” jawab Rebecca tapi sejurus kemudian ia kembali bersuara karena Timothy masih asyik mengutak-atik ponselnya. “Kamu nggak mau booking tiketnya sekarang, kan, Tim?” tanyanya curiga.

Timothy tertawa pelan, “hehehe ... Ini aku udah contact Manda minta arrange tiket flight dan hotel buat kita. Sama aku minta dia booked ticket show di Esplanade, biar afdol ke sananya.”

Rebecca menghela nafas pasrah. Harus diakui kalau urusan waktu dan jadwal, Timothy memang sangat teratur. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi kedisiplinan, jadi tidak heran kalau Timothy lebih suka segala sesuatu yang ia lakukan—dan akan ia lakukan—terorganisir dengan baik, sekalipun hal itu adalah jalan-jalan yang sifatnya casual.

“Dah, beres.” Timothy tersenyum puas lalu ia menaruh ponselnya kembali di atas meja dan melirik sekilas ke arah Rebecca yang masih sibuk menghabiskan makan malamnya.

“Be, I promise this trip gonna be unforgettable trip for us.”