About Her Thought

Yeremia

Setiap hari Senin gue pasti akan menyempatkan diri untuk dateng ke salah satu kafe di ruko kompleks rumah gue, karena kafe ini punya promo diskon khusus untuk anak-anak Altaire di hari Senin. Hari ini gue dateng sama Cecilia—atau yang lebih akrab dipanggil Cecil—salah satu teman sekelas gue. Selain mau nikmatin promo diskon lima puluh persen, gue dan Cecil mau ngerjain PR bareng-bareng, dan mungkin gue akan nanya Cecil beberapa materi yang belum terlalu gue kuasai.

Selesai memesan dua ice chocolate dan dua chocolate muffin, gue dan Cecil memutuskan untuk duduk di lantai dua, karena meja dan bangku di lantai satu tidak terlalu banyak dan sekarang semuanya sudah terisi penuh dengan murid-murid Altaire lainnya yang bertujuan sama seperti gue dan Cecil—memanfaatkan promo diskon.

“Yer, pojok situ aja, ya.” Gue cuma ngangguk ngeiyain ajakan Cecil yang terlihat bersemangat dengan meja pilihannya di sudut ruangan dekat jendela. “Di sini enak bisa liat keluar, jadi nggak terlalu sumpek.”

“Bang Win juga suka duduk di sini, Cil,” celetuk gue iseng. Cecil langsung salah tingkah sendiri mendengar nama kakak kelas yang dia taksir gue sebut. “Kangen, ya?” Kali ini gue nanya serius.

Cecil mengangguk. “Ribet juga komunikasi beda negara gini. Semoga lain kali Kak Win kalo belajar bisnis di negara ASEAN aja biar nggak ribet.”

Gue cuma ketawa dengerin curhatan Cecil tentang dirinya dan Bang Win yang lagi LDR-an. Sambil ngobrolin Bang Win dan hal-hal lainnya dengan Cecil, gue ngeluarin beberapa lembar kertas, buku dan iPad dari dalam tas.

“Lo belum selesai ngerjain soal Mam Nania?” tanya Cecil saat ngeliat gue masih ngerjain soal matematika yang tadi siang gue dapet dari guru matematika SMA Altaire, Mam Nania.

Gue menggeleng. “Seratus soal, Cil. Ya kali selese dalam dua jam pelajaran.” “Gue udah selesai.” Cecil memamerkan kertas jawaban punyanya. “Ya udah lo kerjain itu dulu, abis itu baru kita kerjain PR dari Sir Paulus.”

Gue geleng-geleng kepala lagi, tapi kali ini karena takjub sama Cecil dan kepintarannya. “Kalo lo nikah sama Bang Win terus punya anak, itu anaknya bakal jadi the next Einstein kali, ya?”

“Jangan bahas Kak Win lagi, ah, Yer!” protes Cecil. Kali ini gue ketawa, kapan lagi bisa ngeledekin gebetan Bang Win—kakak kelas yang udah gue anggap sebagai kakak sendiri? Kalo ada Bang Win di sini, udah pasti gue bakal diomelin karena gangguin Cecil terus-terusan.

“Kak Aurora!” Tiba-tiba Cecil senyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah tangga. Gue nengok dan ngelihat Kak Aurora lagi berdiri di anak tangga terakhir sebelum sampai di lantai dua dengan senyum canggung.

Kak Aurora buru-buru balik badan dan berniat kembali turun ke bawah, tapi nggak jadi karena Bang Traven udah keburu naik, nyusulin Kak Aurora.

“Kenapa? Penuh di atas?” Pertanyaan Bang Traven untuk Kak Aurora terdengar cukup jelas di meja gue.

Sebelum Kak Aurora sempat jawab, Bang Traven ngelihat gue. “Oh, ada Yere.” Kayaknya Bang Traven tau permasalahan gue dengan Kak Aurora.

“Kak Aurora, sini, Kak,” panggil Cecil yang nggak tau apa-apa tentang gue dan Kak Aurora. Mungkin karena merasa nggak enak dengan Cecil, Kak Aurora akhirnya ngedatengin meja gue.

“Kalian lagi ngapain?” Nada bicara Kak Aurora terdengar seperti biasa. Cukup pintar untuk tidak membuat Cecil bingung.

“Bikin PR, Kak. Tuh, si Yere masa soal dari Mam Nania belum selesai. Omelin, Kak.”

“Dih, tukang ngadu,” protes gue sambil ngelirik sekilas ke arah Kak Aurora. Kak Aurora cuma senyum tipis, dia bener-bener jago berakting, seolah-olah lagi nggak ada apa-apa di antara kami berdua.

“Kerjain, Yer, gue aduin mami, lho.” Di belakang Kak Aurora, Bang Traven ikut-ikutan berkomentar. Gue cuma ngelirik sebal ke arahnya—tentunya cuma bercanda, gue nggak beneran sebel sama Bang Traven.

“Kita cabut aja, yuk, Ven. Kerjain tugas di rumah gue aja.”

Seperti mengerti kode Kak Aurora, Bang Traven mengiyakan ajakan Kak Aurora.

“Guys, cabut dulu, ya.” Kemudian Bang Traven berpamitan dengan gue dan Cecil. “Kerjain yang bener, Yer.”

“Iya, iya … Hati-hati nyetirnya, Bang.”

Dan setelah itu mereka berdua kembali turun ke bawah, meninggalkan meja gue dan Cecil.

“Kak Aurora sama Kak Traven, tuh, pacaran, ya?”

Gue cuma angkat bahu menjawab pertanyaan Cecil. Bukannya cemburu, gue sendiri pun nggak tau sama status mereka berdua. Katanya, sih, Bang Traven punya cewek yang dia taksir sejak masuk kampus, tapi dia nggak pernah cerita sama gue atau Bang Win. Pernah di satu hari gue tanya Kak Aurora tentang gebetan Bang Traven, dia juga nggak kasih tau apa-apa ke gue. Kak Aurora justru terkesan menutupi identitas gebetan Bang Traven itu dan nggak jarang jadi membuat gue berspekulasi aneh-aneh tentang hubungan mereka berdua.

*

Aurora

“Lo masih marah sama Yere, Ra?” tanya Traven setelah kami berdua kembali duduk di dalam mobilnya. Aku hanya menggeleng pelan sambil menyuap double chocolate croissant yang terpaksa aku bawa pulang karena aku masih menghindari Yeremia.

“Kalo nggak, kenapa ngajak pulang? Aneh lo.”

Kalau tadi aku cukup senang dan bersyukur karena saat di kafe dia nggak resek nanya alasan kenapa aku ngajak dia pulang—padahal sebelumnya aku yang mengajak dia juga untuk pergi ke kafe itu—, sekarang aku merasa kesal.

“Diem, deh, nggak usah bahas Yere,” balasku sebal.

“Ra, lo nggak seharusnya begitu sama Yere. Dia nggak salah apa-apa.”

“Ven, diem,” potongku dingin.

“Nggak. Gue mau lo denger nasihat gue.”

Dasar Traven, disuruh diem malah terus ngoceh topik yang sedang kuhindari.

“Wajar lah, kalo dia ngerasa khawatir sama lo karena menurut dia lo tiba-tiba bersikap nggak kayak biasanya. Dan wajar juga dia nanyain hal itu ke kakak lo. Kalo gue jadi Yere, mungkin gue akan ngelakuin hal yang sama.”

“Gue nggak mau setelah ini dia ngasihanin gue, Ven.” Aku terpaksa menanggapi nasihat Traven. “Gue benci dikasihani.”

“Yere dan nyokapnya bukan tipe yang kayak gitu, Ra. Gorok leher gue kalo gue salah.”

Aku berdecak kesal. Traven sudah mengenal Yeremia dan Tante Linda jauh sebelum aku kenal keduanya, jadi sudah pasti dia tahu bagaimana karakter Yeremia dan keluarganya.

“Lo malu, kan? Sama kayak dulu, pas gue tau gimana hubungan lo dan nyokap lo?” Sepertinya aku tidak bisa menghindar lagi. “Iya, Ven.”

Traven menunjukkan raut wajah sombongnya karena berhasil menebak dengan benar perasaanku yang sebenarnya.

“Yere dateng dari keluarga sempurna, punya orang tua yang perhatian sama dia, yang sayang sama dia, yang selalu support apapun yang dia lakuin. Sementara gue?” Aku mendengus kesal mengingat bagaimana kedua orang tuaku—bahkan mereka nggak layak disebut sebagai orang tua—memperlakukanku dan kakakku, Aldian.

“Dengan lo bersikap kayak gini sama Yere dan Tante Linda, lo expect apa, Ra? Kalo Yere mungkin bisa paham sama sikap lo, tapi Tante Linda? Tiba-tiba lo ngehindarin dia … gue yakin dia akan curiga dan justru dia akan cari tau tentang lo ke Yere. Dan yang gue tau, Yere nggak mungkin bohong sama nyokapnya.”

Aku cuma diam mendengar balasan Traven. Semalam, aku tidak terpikir sampai sana. Aku tidak berpikir Tante Linda yang mungkin akan bingung dengan perubahan sikapku.

“Dipikirin lagi, Ra. Malu adalah hal yang wajar, gue mengerti akan hal itu. Tapi menghindar juga bukan jalan keluar yang bagus.” Traven kembali bersuara. “Lagipula menurut gue, lo nggak perlu malu, Ra.”

Aku melirik sekilas ke arah Traven. Kalau lagi serius (dan benar), Traven bisa jadi penasihat yang baik, walaupun keseringannya dia nggak serius (dan nggak benar).

“Udah sana, turun. Kerjain tugasnya besok aja, dikumpulinnya hari Jumat, kan,” ucap Traven saat mobilnya berhenti di depan rumahku. “Croissant gue bawa aja buat lo, biar nggak badmood terus-terusan.”

Thanks, ya, Ven. Lo kalo lagi kayak gini keliatan kayak cowok waras.”

“Jadi selama ini gue nggak waras, gitu?!”

Aku tertawa geli sambil keluar dari mobil Traven, menghindari tatapan protes dan juga omelannya.

Traven kemudian membuka kaca jendela mobilnya. “Nasihat waras gue tolong dipikirin, ya, Aurora Araria,” ucapnya menutup percakapan kami sore hari ini.