goldeneunoia

We've been through it

Sinar matahari yang masuk dari sela tirai jendela kamar sukses membangunkan sang penghuni kamar. Pagi itu, masih dengan rasa kantuknya, Winwin memaksakan diri untuk bangun dari kasur dan keluar kamar.

Morning, Kal,” ucapnya dengan suara parau sambil berjalan mengambil air putih di dispenser sudut ruangan.

Biasanya ia akan mencium pipi Kalina dahulu, tapi pagi ini tidak—mengingat apa yang terjadi dua hari sebelumnya, rasanya masih terlalu canggung untuk melakukan kebiasaan paginya.

“Sarapan pancake, ya?” tawar Kalina yang sudah kembali ke dapur dan tengah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan mereka.

Winwin hanya mengangguk saat kedua netra miliknya bertemu dengan milik Kalina.

Do you feel better, Kal?” Winwin membuka topik baru—lebih tepatnya menyinggung kembali apa yang tengah terjadi di antara mereka berdua. Kini dirinya sudah duduk di kursi meja makan, memperhatikan Kalina yang asyik sendiri di dapur. Pemandangan yang tidak akan pernah bosan ia lihat, terutama saat memorinya selalu ingat dapur apartemen itu menjadi titik awal hubungan mereka berdua.

Karena Kalina tidak langsung menjawab, Winwin melanjutkan kalimatnya. “If yes, let's talk.

Kalina masih diam tapi Winwin tidak menunjukkan raut wajah protes apalagi marah. Ia pun sabar menunggu sampai Kalina selesai memasak dan duduk di seberangnya.

Sorry, for being rude last Friday.” Kalina akhirnya buka suara. “Aku kecewa, tapi maaf aku nggak bisa kontrol emosiku sendiri.”

Winwin menaruh kembali garpu pisaunya, pandangannya berganti menatap Kalina hangat dengan senyum tipis di wajahnya.

“Aku juga minta maaf karena udah ingkar janji, Kal. Dan maaf juga, karena sempat kasar ke kamu.”

Kalina menggeleng. “Nggak, apa yang kamu bilang malam itu bener. Kalau aku di posisi kamu, kemungkinan besar aku juga akan bilang hal yang sama kayak kamu.

“Justru aku berterima kasih sama kamu, karena kata-kata kamu kemarin Jumat, aku jadi mikir lagi kalau aku selama ini aku cukup salah karena terlalu memendam emosiku sendiri.”

Winwin meraih tangan Kalina di atas meja dan mengelusnya perlahan. “New lesson learned, Kal, and I'm so proud that in fact we could get through this problem together.

“Kecewa, marah, sakit hati, semua manusiawi. Memendamnya sendiri atau mengekspresikannya juga pilihan yang aku yakin bisa kamu pertimbangkan baik-baik setelah kejadian ini. Sekarang aku bangga, kita sukses menyikapi dan menyelesaikan masalah ini dengan kepala yang udah jauh lebih dingin dan hati yang udah siap. We did it, Sayang ...”

Sounds agak narsis, ya ... Bangga dengan pencapaian diri sendiri ...” ujar Kalina dengan senyum lebar di wajahnya. Senyuman yang sangat dirindukan Winwin.

“Lho, emang kamu nggak bangga lihat suami kamu nggak nyentuh any alcohol padahal aku kemarin sedihnya kebangetan?”

Kalina membalas pertanyaan bercanda Winwin dengan sentilan ringan di dahi lelaki itu. “Mending kamu makan pancake-nya sebelum jadi dingin.”

“Nanti malem tidurnya di kamar, ya, jangan di kamar Dede lagi ... Please ... Aku cukup desperate dua malam peluk guling doang. I want you.” Winwin kembali bersuara setelah beberapa suapan.

“Win!” Kalina hampir saja kembali menyentil lebih keras dahi Winwin tapi pria itu sudah terlebih dahulu melindungi dahinya dengan kedua tangannya.

“Cium, jangan sentil!”

“Nggak! Sentil lebih cocok soalnya kamu ngeselin!”

“Ngeselin atau ngangenin?” Winwin menjulurkan lidahnya sementara Kalina sudah menyerah dengan permainan perdebatan yang harus ia akui kalau Winwin akan selalu keluar sebagai juaranya.

Melihat Kalina yang hanya diam dengan bibir mengerucut, Winwin segera bangkit berdiri dan mencium kening Kalina. Wanita itu terperangah—ia mendanga dan mendapati Winwin menatapnya hangat dengan jarak kurang dari lima belas sentimeter.

Tidak mau membuang kesempatan yang ada—karena wanita yang duduk di hadapannya masih diam terpaku, Winwin kembali mencium kening Kalina, kali ini jumlahnya naik dua kali lipat.

“Bayar hutang, soalnya kemarin pagi aku nggak cium kamu. I do love you, sweetheart.

— E N D —

Not an effort, but (indeed) should be done

Kalina terlihat cukup mencolok di antara pengunjung lainnya, dengan hip seat carrier menggantung di tubuhnya, sang buah hati tertidur pulas di sana sementara ia sendiri sibuk memilih sayur-sayuran segar untuk dibawa pulang.

Ekor matanya menangkap sosok lelaki yang ia kenal sebagai suaminya berjalan menghampirinya, tapi tidak lantas menghentikan kegiatan belanja bulanannya sampai sosok itu datang dan meraih tangannya.

Just tell me what you need. I'll help you.

Kalina hanya diam menanggapi kalimat lelaki yang kini sudah mengambil alih troli dan mulai mencari barang sesuai catatan yang Kalina tulis di secarik kertas kecil, yang selalu dibawa tiap perempuan itu berbelanja.

Actually tadi pagi Ten ngajak kita buat lunch di apartnya, undangan Jocelyn ...” Winwin diam sejenak untuk melihat reaksi Kalina, tapi wanita itu justru diam menunggu kelanjutan kalimat Winwin. “Tapi aku tolak, aku cerita kenapa and Ten asked me to solve our problem first.

Don't worry, aku nggak cerita detail apa yang terjadi semalam,” imbuhnya mengakhiri kalimatnya.

Kalina melirik tanpa tersenyum sedikitpun. “Mau makan siang apa?” tanyanya mengubah topik pembicaraan. Nada bicaranya masih terkesan dingin.

“Apa aja, aku ikut kamu.”

“Oke, tolong dorong trolinya ke arah daging, Yang.”

Dengan nada datarnya, Kalina mungkin tidak sadar dengan ucapannya sendiri, tapi tidak dengan Winwin. Lelaki itu sadar—sangat sadar—terutama dengan panggilan di akhir kalimat yang ditujukan untuknya.

“Kamu kenapa?” Kalina bingung melihat Winwin tersenyum geli sendiri.

Winwin buru-buru bersikap biasa, seolah tidak ada yang terjadi.

“Nggak papa, nggak papa. Mm anyway aku mau ambil es krim dulu di sana. Bentar, ya, Yang.”

Kalina mengangguk mengizinkan dengan tatapan jauh lebih hangat, reflek membuat Winwin semakin bahagia, langkah kakinya terasa ringan hingga tanpa disadari ia berjalan sedikit berjingkrak layaknya anak kecil mendapat mainan baru.

“Liat tuh, De, kelakuan papa kamu,” gumam Kalina bermonolog dengan ujung bibir terangkat tipis.

*

Rutinitas tiap selesai berbelanja selalu sama; mengganti pakaian Dede dan membiarkannya bermain di ruang tengah, sementara Kalina mulai menyiapkan makan siang.

Kalau Winwin, ia punya beberapa pilihan; menemani sang buah hati bermain, membantu Kalina memasak (tapi biasanya yang ini ditolak mentah-mentah oleh Kalina), bermain PS (biasanya bersama Haechan—adik Kalina), mengutak-atik komputer sekaligus pekerjaannya (hanya memeriksa ala kadarnya), menonton TV, olahraga di gym center atau tidur.

Tapi di hari Sabtu ini, tidak ada satu pun dilakukan Winwin. Lelaki itu memilih melakukan kegiatan baru, yakni duduk di meja makan sembari menemani sang istri memasak.

It feels so awkward by you sitting there right now, don't you?” ucap Kalina dengan mata dan tangan tetap fokus pada masakannya.

We both like quality time—just like our love language— walaupun tanpa berinteraksi satu sama lain, cuma ngabisin waktu sama-sama di ruangan yang sama. But it feels different now.”

“Ngomong apa sih kamu?”

Kalina tidak paham dengan ucapan Winwin, but instead of mengucapkannya ulang, Winwin mempermudah penjelasannya.

“Iya, aku ngerasa beda aja kalau kita have a quality time dengan aku nemenin kamu masak begini, dibanding kalau kita cuma ngabisin waktu sama-sama di tempat yang sama tanpa interaksi, walaupun sebenernya kita berdua nggak masalah sama hal itu. Lagipula setelah dipikir-pikir, aku nggak pernah ngelakuin ini—nemenin kamu masak dan ngejagain Dede.”

Tatapan mata Winwin beralih ke anak semata wayangnya yang asyik sendiri bermain mobil-mobilan.

“Sementara kamu, cukup sering nemenin aku kerja dan jagain Dede sekaligus.”

Kalina tidak merespons celotehan Winwin. Bukannya tidak mau, tapi ia bingung harus membalasnya dengan kalimat apa. Kejadian semalam cukup membuatnya canggung hingga detik ini.

May I help you to do something? Sebelumnya jangan berpikir ini cara aku buat minta maaf atas apa yang terjadi semalam. Aku mau kita bahas yang semalam when we are ready, both heart and mind.

Kalina terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan apa yang bisa dilakukan Winwin untuknya siang ini.

“Buatin Ice Americano buat aku, bisa?”

Senyum merekah di wajah Winwin. “Sure, my lady.”

Crestfallen

Winwin melangkah pelan memasuki unit apartemennya saat ia membuka pintu dan mendapatkan seluruh lampu telah diredupkan, kecuali lampu mini bar di dapur yang sengaja selalu menyala agar tidak terlalu gelap.

Dengan seluruh lampu redup, menjadi tanda kalau penghuni lain di unit itu sudah berada di kamar masing-masing dan beristirahat. Tidak mau membuat kegaduhan, Winwin pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Tidak ada Kalina di sana, yang berarti istrinya itu masih berada di kamar sang buah hati, kebiasaan yang selalu dilakukan wanita itu setiap malam.

Selesai berganti pakaian, Winwin memilih untuk menonton acara ragam di televisi kamarnya sembari beristirahat setelah melalui hari Jumat yang panjang dan cukup melelahkan dengan tambahan makan malam bersama rekan kerjanya.

“Win, mana makan malam aku?”

Selang tiga puluh menit, Kalina muncul di balik pintu dengan mata setengah sembab karena terbangun dari tidurnya.

“Kal, aku nggak jadi beliin kamu makanan.”

Kalina hanya diam mendengar jawaban Winwin, lalu segera berlalu dari pintu kamar mereka dan Winwin segera menyusulinya.

“Kamu janji sama aku lho, Win,” ucap Kalina yang sudah duduk di kursi meja makan.

“Iya, aku tau. Aku minta maaf. Alasan aku nggak beliin makanan jujur aku bingung. Aku takut beli makanan tapi gak sesuai selera kamu.”

Kalina mendengus sarkas. “Emang aku se-nggak tahu diri itu?”

Nope, bukan gitu—” Winwin memotong ucapannya sendiri. “Aku masakkin mie goreng, ya?”

Kalina tidak menjawab, tapi Winwin menganggapnya sebagai persetujuan dari wanita itu.

Tidak butuh waktu lama untuk memasak mie goreng—makanan andalan Winwin, sekarang lelaki itu sudah menyajikan hidangan buatannya bersama dengan peralatan makannya di atas meja.

“Dimakan, Kal.”

Kalina melirik sesaat ke arah mie goreng buatan Winwin sebelum menyantap suapan pertamanya.

“Kamu ikhlas nggak sih, masaknya?” Kalina sedikit membanting kasar sendok garpunya. “Pesenin aku makanan lain deh. Aku nggak bisa nelen mie buatan kamu.”

Hati Winwin mencelos, baru kali pertama ia melihat Kalina semarah ini. Kalina pun sedikit takjub dengan ucapannya barusan, tapi semua sudah terlanjur. Ia tidak bisa mengontrol rasa kecewanya terhadap Winwin.

“Aku ikhlas, Kal. Tapi kalo kamu nggak mood makan mie goreng, yaudah nggak papa. Kamu mau makan apa?” Winwin bertanya lembut. Akan percuma kalau ia terus-terusan menanggapi emosi Kalina, karena hanya akan semakin memperkeruh suasana malam itu.

“Ayam penyet, mau?”

Kalina menggeleng.

“Soto ayam? Mumpung soto ayam langganan kamu masih buka nih, Yang.” Winwin melirik ke arah jam dinding dengan jarum pendek menunjuk di antara angka sembilan sepuluh.

“Aku mau mie rebus.”

Winwin tersenyum samar kemudian ia segera memenuhi permintaan Kalina dengan kembali ke dapur.

Sama dengan proses dan durasi memasak mie goreng, mie rebus itu sudah tersaji di atas meja makan dalam hitungan menit. Kalina kembali melirik ke arah mangkuk sebelum mulai menyantapnya.

“Kamu kalo nggak ikhlas nggak usah masak, deh.” Lagi-lagi Kalina mengutarakan kalimat yang sama setelah menyuap suapan pertama, mengundang kerutan di kening Winwin.

“Kal, kamu apa-apaan sih? Kamu sengaja ngerjain aku, ya? Oke, aku tau aku salah dengan beralasan seperti tadi. Tapi, dengan nyuruh aku masak begini sampe dua kali—dan ujung-ujungnya dibuang karena kamu nggak makan—are you trying to tempt my patience?”

“Kamu marah?” Kalina membalas kalimat Winwin dengan pertanyaan bernada dingin. “Baru juga disuruh masak indomie dua kali, kamu marah? Aku—” Kalina memberi jeda beberapa detik sebelum lanjut berbicara. “Aku nggak pernah protes or marah, lho, saat kamu minta aku buat masakin nasi goreng jam 4 subuh karena kamu kelaperan, atau saat kamu telat bilang ke aku kalau kamu nggak bisa dinner di rumah padahal aku udah masak banyak. Am I ever show my protest towards you?”

No one asked you to keep you anger by yourself, Kalina.”

Kalina terkesiap. Pikirnya Winwin akan diam dan meminta maaf seperti yang sudah sering terjadi. Lelaki itu cenderung mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu kalau-kalau mereka sedang adu argumen seperti saat ini. Tapi kali ini tidak. Winwin tidak berlaku seperti biasanya.

We all are human, and we have a right to expressed out our feelings. Nggak pernah aku suruh kamu buat simpen rasa kesel kamu sendiri, malah aku selalu minta kamu buat keluarin semua uneg-uneg kamu. Terakhir, pas kamu ngambek karena aku seharian main PS.”

“Terserah lah, intinya aku tau kalo kamu nggak ikhlas masak malam ini buat kamu.”

Winwin menghela nafas sembari melepas apron yang sedari tadi dikenakannya.

“Aku juga terserah, Kal,” balasnya lalu ia menuju ruang tengah dan duduk di sofa di sana.

Kalina menatap Winwin dengan sorot mata protes. “Terserah?! Kenapa jadi kamu yang terserah?”

Winwin menoleh, mendapati Kalina yang masih memandanginya tajam. “Iya, terserah. Saat kamu tanya aku masak ikhlas atau engga, aku jawab ikhlas, tapi kemudian kamu balik lagi nuduh aku nggak ikhlas bahkan menganggap aku masak asal-asalan karena aku marah sama kamu.

“Sekarang terserah kamu, mau anggep aku ikhlas atau nggak, marah atau nggak. Aku udah jujur ke kamu, jadi balik lagi kamu mau percaya aku atau nggak.”

Kali ini keduanya terdiam, dengan waktu yang semakin larut malam keduanya semakin kehabisan tenaga untuk berdebat. Masing-masing sadar akan kesalahannya; Winwin tahu tidak seharusnya ia berjanji kalau akhirnya ia tidak bisa menepatinya.

Kalina juga tahu kalau tidak seharusnya ia memperkarakan masakan Winwin; lelaki itu sudah mencoba untuk menebus kesalahannya dan seharusnya dengan mudah ia bisa memaafkannya. Namun entah mengapa malam ini rasa memaafkan itu seperti sulit keluar dari diri Kalina.

“Jadi mau dimakan atau nggak, Kal?” tanya Winwin setelah sekian lama mereka hanya berdiam diri.

Kalina beranjak dari meja makan dan kembali ke kamar sang buah hati, menjadi sebuah jawaban yang cukup jelas untuk Winwin.

Tidak Untuk Kedua Kalinya

“Natashaaaaa!”

Suara nyaring Harsya memanggil Natasha yang masih berjalan menghampiri sekumpulan tim rugby di mana Johnny dan Harsya ada di sana.

Langkah kaki Harsya lebih cepat menghampiri Natasha dan lelaki itu segera memeluk Natasha dalam waktu yang cukup lama.

How are you, girl?! Kenapa lo kurus banget, sih?” komentar Harsya saat melihat Natasha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Siang itu Natasha hanya memakai kaos putih polos, dipadu dengan celana pendek linen berwarna khaki dan sepatu Skechers hitam favoritnya. Outfit-nya siang itu ternyata cukup menonjolkan sisi kelemahan tubuh perempuan itu.

“Gimana dong, gue udah makan sehari lima kali tetep aja numpuknya di perut,” balas Natasha sambil berjalan berangkulan dengan Harsya.

Jangan ditanya kenapa Natasha dan Harsya bisa seakrab itu, bahkan saat Natasha masih berpacaran dengan Johnny, Harsya senang sekali merangkul Natasha karena dasarnya lelaki itu senang skinship dengan orang-orang terdekatnya, dan kadang hal itu membuat Johnny cemburu.

“Olahraga, dong. Yuk, sama gue kapan-kapan lari di GBK,” ajak Harsya tepat saat mereka berdua tiba di hadapan gerombolan tim rugby Harsya dan Johnny.

“Cewek lo, Har?” tanya salah seorang pemain rugby di tim itu.

Harsya menggeleng pelan sambil melepaskan rangkulannya dari Natasha. “Member Avengers dia,” balas Harsya meledek.

“Iya, tapi udah *koid,” sambung Natasha lalu ia segera memperkenalkan dirinya dengan tim rugby itu. “Hai, kenalin nama gue Natasha, temennya Johnny sama Harsya.”

Tim rugby yang semuanya berjenis kelamin lelaki itu dengan kompak membulatkan mulut mereka lalu memandangi Johnny dan Harsya bergantian. Harsya yang duduk di ujung bangku bench hanya senyum-senyum sendiri sementara Johnny yang berdiri tidak jauh dari Natasha tidak melepas tatapannya dari perempuan kurus.

Setelah sesi perkenalan Natasha, Johnny mengajak perempuan itu untuk sedikit menjauh dari kumpulan tim rugby-nya. “Ke sini sama siapa? Naik apa?” tanya Johnny.

“Sendiri, naik mobil.”

“Parkir di mana?”

“F(x).”

Setelah itu Natasha duduk di bangku pemain yang kosong, lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk bercermin sementara Johnny yang hendak mengajak Natasha kembali berbicara, tiba-tiba dipanggil Harsya untuk bermain.

“Nanti kita ngobrol lagi, Nat.”

Natasha hanya mengangguk dan dengan berat hati Johnny pergi meninggalkan Natasha menuju lapangan.

“Gimana, Sha, kabar lo sekarang?” tanya Harsya setelah mereka bertiga selesai memesan masing-masing seporsi Boneless Wings dan sedang duduk manis menunggu makan siang menjelang sore mereka tiba.

“Baik,” jawab Natasha singkat dengan nada bicara manis.

“Kemarin gue tanya kabar lo, perasaan jawabannya nggak kayak gitu, deh,” timpal Johnny.

Natasha mengerutkan dahi dan mengangkat sebelah alisnya. “Masa?” tanyanya dengan nada setengah tidak percaya.

Harsya tertawa cekikikan. “Guys, guys, calm down. Jo, lo masih jealous sama gue?”

“Siapa yang jealous?”

Jawaban Johnny dibalas dengan gelak tawa Harsya. Memang lelaki itu kalau sudah tertawa sulit sekali untuk berhenti.

So kalian ini ada agenda apa sampe ketemuan lagi? Bahkan udah ketemuan sebelum sama gue hari ini? Kalian balikan?”

No!” Natasha menjawab dengan mantap sementara Johnny hanya diam dan Harsya sadar akan hal itu.

“Lo kenapa diem?” tanya Harsya masih dengan nada candanya, walaupun ia tahu kalau sebenarnya sahabat karibnya itu sudah tidak bisa diajak bercanda lagi. Rahang Johnny yang mengeras menjadi tanda bahwa lelaki itu menanggapi setiap kalimat yang dilontarkan Natasha sore itu dengan serius, termasuk jawaban terakhirnya.

“Udah dijawab Natasha, kan?” balas Johnny dengan datar seraya mencomot kentang goreng dari piring saji dan mengunyahnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.

Natasha juga sadar akan perubahan mood Johnny, tapi ia tidak mau memusingkannya. Karena kalau sampai ia menanggapi perubahan mood lelaki itu, sama saja ia mengulang hal yang tidak seharusnya terjadi lagi.

Notes: koid — meninggal

Masih Sama

“Gue udah di Kafe Betawi, ya, Nat.”

Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Johnny saat Natasha masih terjebak di kemacetan sore hari SCBD. Walaupun kantornya masih dalam satu lingkungan yang sama dengan tempat mereka janjian, tetap saja Natasha harus membawa mobilnya dan karena itu ia terjebak macet akibat lalin padat di jam pulang kantor.

“Sebentar ya, macet.”

Natasha membalas cepat pesan Johnny agar lelaki itu tidak khawatir.

Perempuan itu refleks mendengus pelan saat ia sadar kalau ia tidak mau mantan yang telah putus dengannya dua tahun silam itu khawatir. Bukannya ia belum bisa move on, tapi dasarnya saja Natasha selalu memberi kabar kepada siapapun agar lawan bicara atau bertemunya tidak khawatir.

Dan saat ini Natasha sedikit membenci sifatnya yang satu itu.

Johnny kembali membalas pesan Natasha dengan satu kata ‘Oke’ tapi Natasha tidak lagi membalas pesan itu. Ia memilih untuk fokus pada jalanan di depan matanya yang masih saja padat.

Akhirnya setelah kurang lebih dua puluh menit, Natasha tiba di Kafe Betawi. Ia segera menghampiri Johnny yang terlihat sudah memesan segelas es teh manis.

“Hai, Nat. Pesen dulu aja,” ucapnya sambil mengangkat tangan, memberi tanda pada pramusaji untuk menghampiri meja mereka.

“Soto daging Betawi yang campur satu, minumnya teh tawar panas aja,” kata Natasha kepada pramusaji yang berdiri di sisi meja mereka. “Lo udah pesen makanan?” Kali ini pertanyaan ia lontarkan untuk Johnny. Lelaki itu hanya mengangguk, membuat pramusaji itu segera berpamitan dari meja mereka.

“Apa kabar, Nat?” tanya Johnny mengawali percakapan mereka malam itu.

Natasha mengedikkan bahunya. “Baik, as you can see. Lo sendiri?”

“Baik juga.”

Lalu keduanya diam sejenak. Natasha menyeruput pelan teh panas pesanannya yang tiba beberapa saat lalu.

Life's update, dong, Nat,” ucap Johnny lagi.

“Lo lah, kan elo yang ngajak ketemuan.” Natasha membalikkan kalimat Johnny. Lelaki itu hanya menyunggingkan senyuman tipis.

“Gue putus dari Marsha. Enam bulan lalu.”

Natasha hanya menatap Johnny sambil sesekali meniup-niup teh panasnya.

“Alasan klise, sih, pasti lo bakal sebel dengernya,” sambung Johnny kemudian disertai tawa pelannya yang dipaksakan.

“Emang putus kenapa?” tanya Natasha penasaran.

“Gue nggak suka, dia selalu ngerusuhin gue, even di jam kerja. Dua tahun gue digituin terus, lama-lama gue muak, Nat. Akhirnya gue meledak, marah ke dia. Bisa lo tebak, lah, apa yang selanjutnya terjadi.”

“Kenapa lo nggak ngomong ke dia, kalo lo nggak suka dirusuhin?”

Johnny tersenyum lagi. “Lo tau, kan, gue gimana?”

Natasha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih ingat betul karakter mantannya ini.

“Terus, lo mau gimana?” Natasha kembali bertanya.

“Mau balikkan juga nggak mungkin, dia udah punya cowok dari tiga bulan lalu.”

Berikutnya Natasha tidak lagi menggubris jawaban Johnny. Ia memilih untuk menyantap soto daging pesanannya yang sudah tiba di hadapannya sambil membicarakan hal yang lain. Terlalu malas baginya untuk ikut campur dalam hubungan seseorang, apalagi seseorang dari masa lalunya.

Thanks ya, Nat, udah mau ketemuan sama gue malem ini,” kata Johnny setelah mereka berdua selesai menghabiskan makan malam mereka.

Natasha hanya mengangguk pelan membalas ungkapan terima kasih lelaki itu.

“Kalo kapan-kapan gue ajak lo buat ngobrol atau ketemuan kayak gini lagi, bisa kan?” Johnny menyambung kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

“Bisa-bisa aja, selama gue free.”

“Kalo gitu jangan terlalu sibuk, cuz I think I need you more.”

Entah ucapan Johnny hanya sekedar canda semata atau tidak, Natasha refleks melirik ke arah Johnny dengan tatapan tidak menyenangkan, Lalu setelah itu ia memutuskan untuk segera pergi dari situ dengan bangkit dari tempat duduknya.

“Mau balik, Nat?” tanya Johnny sambil ikut berdiri.

“Iya. Nanti nyokap nyariin gue, gue lupa ngabarin dia.”

“Oh iya, tante Meyriska apa kabar? Baik, kan?”

Lagi-lagi Natasha hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Johnny. “Jo, gue duluan, ya,” pamitnya kemudian.

“Bareng aja yuk, Nat, gue anterin ke mobil.”

“Nggak usah, gue duluan. Bye.”

Johnny terlihat kecewa tapi malam itu ia tidak mau terlalu memaksakan dirinya pada Natasha. Ia hanya membalas singkat kalimat Natasha, “oke, hati-hati, Nat.”

Sementara Natasha mempercepat langkahnya kembali menuju mobilnya yang terparkir di basement. Otaknya tengah memprotes hatinya, seharusnya pertemuan malam ini tidak terjadi karena ia yakin kalau lelaki itu belum berubah sepenuhnya.

Hers and Him

Karena Cecilia tak kunjung membalas pesan Winwin, lelaki itu tidak punya pilihan lain selain menunggu acara pengumuman kelulusan itu selesai di depan pintu. Setelah sesi pemberian hadiah tadi masih ada beberapa rangkaian acara, seperti persembahan terakhir dari setiap kelas; ada yang bernyanyi, ada yang membaca puisi, ada juga yang berlakon sederhana. Selain itu juga ada sesi foto bersama yang cukup membuat Winwin harus sabar menunggu.

Akhirnya pintu aula dibuka penanda acara selesai dan para murid mulai keluar dari sana bersama orang tua mereka. Tidak sedikit yang mencuri pandang pada Winwin yang masih setia berdiri di dekat pintu, bahkan ada yang berani menyapa singkat lelaki itu. Winwin tentu saja dengan ramah membalas sapaan itu satu persatu, dengan senyuman khasnya, walaupun hatinya masih dilanda khawatir karena Cecilia tak kunjung keluar dan juga tidak membalas pesannya.

“Damian?”

Suara ayah Cecilia yang menyapa Winwin membuat perasaan lelaki itu kini lebih tenang.

“Siang, Om, Tante,” salam Winwin dengan ramah.

“Cecil, ada Damian itu, kok diem-diem aja?” tanya ayah Cecilia melihat putrinya terkesan menghindari bertatap muka dengan Winwin.

“Tadi udah nyapa di panggung, kan,” jawab Cecilia sekedarnya.

“Om, Tante, saya mau ajak Cecil makan siang, sekaligus ngerayain kelulusan Cecil. Boleh, ya?” Winwin langsung ke inti pembicaraan siang itu, yaitu meminta izin kepada kedua orang tua Cecilia untuk mengajak putrinya pergi.

“Nggak bisa, Kak, aku mau ke rumah tante abis ini, iya kan, Pa?” timpal Cecilia.

Dahi ayah Cecilia mengerut, seperti paham ada sesuatu di antara putrinya dan Winwin. “Ke rumah tante Mira jadinya besok, Nak. Sekarang pergi dulu aja sama Damian.”

Cecilia refleks menoleh ke arah ayahnya, tapi sang ayah hanya tersenyum jahil seraya mengangkat sedikit kedua alisnya.

“Yuk, Cecil? Perut gue udah keroncongan minta diisi, nih,” ajak Winwin.

“Ayo Cecil, kasian itu Damian nanti bisa kena maag.”

Cecilia berdecak pelan karena ia tidak bisa mengelak. Ia kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya dan segera mengikuti Winwin menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir belakang sekolah.

Sepanjang berjalan menuju mobil sampai di dalam mobil, Cecilia hanya diam bahkan terkesan berjalan satu langkah di belakang Winwin. Winwin beberapa kali berusaha mengajak perempuan itu mengobrol, tapi Cecilia hanya menjawab seperlunya saja.

“Cecil, am I doing something wrong? Gue pulang kok bukannya seneng, tapi malah kayak marah gitu sama gue …” ucap Winwin dengan nada kecewa setelah mesin mobilnya berhasil menyala. Hembusan AC mobil Winwin sejenak menyejukkan seisi mobil yang terasa panas karena diparkir di outdoor.

“Iya, aku marah sama Kakak,” jawab Cecilia jujur.

Winwin segera mengurungkan niatnya untuk mengemudikan mobilnya. Ia sedikit memutar tubuhnya agar dapat mengobrol dan melihat Cecilia lebih jelas. “Kenapa, Cil?” tanyanya kemudian.

“Kenapa Kakak nggak pernah cerita apa-apa ke aku? Dari Kakak pergi sampe Kakak pulang, aku nggak tau apa-apa. Iya, aku emang bukan siapa-siapanya Kakak, tapi kan Kakak bisa ngomong sama aku buat hal ini. Buat apa kita selalu chatting-an selama Kakak di US kalau hal kayak gini aja Kakak nggak ngomong ke aku?”

Karena bicaranya menggebu-gebu, selesai berbicara perempuan mungil itu terlihat terengah-engah, ia mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan agar pernapasannya kembali normal.

“Masalah waktu gue pergi gue udah pernah jelasin ke lo, Cil … Dan untuk pulang ini, gue emang sengaja mau kasih surprise buat lo,” jawab Winwin pelan dan sabar. “Maaf kalau surprise gue justru bikin lo nggak nyaman, sampai lo marah gini sama gue.”

Cecilia membalas permintaan maaf Winwin dengan kebiasaannya, memukul pelan Winwin dan kali ini sasarannya adalah lengan lelaki itu.

“Ngeselin … Kakak nggak tau apa, aku kangen banget sama Kakak?! Aku tiap hari nungguin kapan ada chat dari Kakak yang ngasih tau kalo Kakak bakal pulang ... Eh, Kakak malah dateng di acara pengumuman kelulusan … Ngeselin, surprise-nya ngeselin …”

Cecilia kembali melanjutkan tangisnya yang tadi sempat tertunda di atas panggung, sementara Winwin tak kuasa menahan senyum bahagianya. Ia tahu betul kalau sebenarnya perempuan ini tidak marah padanya; perasaan Cecilia hanya sedang dalam fase campur aduk, dan ia tidak tahu bagaimana mengeluarkan hal yang sedang bergumul dalam dirinya itu.

Winwin melepas seat belt yang sudah dikenakan Cecilia lalu merangkul perempuan itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Kemudian ia mengusap pelan puncak kepala Cecilia.

Sorry sorry … Tapi gue juga kangen banget sama lo, Cil,” ucap Winwin sambil masih memeluk Cecilia.

Hanya butuh waktu sebentar sampai perempuan itu puas meluapkan emosinya dalam bentuk tangisan pelan, kemudian setelah ia merasa lebih baik, ia segera melepaskan diri dari pelukan Winwin dan menatap lelaki itu cukup lekat.

Senyum di wajah Winwin memudar, berganti dengan rasa nervous karena untuk pertama kalinya Cecilia memberanikan diri untuk menatap dirinya.

“Kak, aku udah lulus SMA.” Cecilia memulai percakapan baru di antara mereka.

“Terus?” tanya Winwin setengah jahil karena sebenarnya ia paham maksud dari kalimat Cecilia.

“Yaudah ngasih tau aja kalo aku udah lulus SMA,” balas Cecilia sambil melengos karena ia juga paham kalau Winwin sedang mengerjai dirinya.

Winwin refleks tertawa terbahak-bahak. “Lo mau banget gue ngomong di sini? Atau mau di tempat makan siang kita?”

Cecilia menggeleng beberapa kali. “Ah tau ah, udah lupain aja. Aku mau pulang aja, ngantuk.” Kali ini Cecilia benar-benar kelihatan seperti mengambek; ia bersandar di kursinya sambil melipat kedua tangannya di dada. Tingkah Cecilia membuat Winwin tidak dapat berhenti tersenyum.

“Lo mau jadi pacar gue, Cil?”

Akhirnya pertanyaan yang Cecilia tunggu tiba juga. Tapi, Cecilia malah hanya diam setelah mendengar pertanyaan itu.

“Cecil? Ini gue ditolak lagi?” Winwin kembali bersuara.

“Aku nggak denger Kakak ngomong apa.”

Karena jawaban Cecilia, Winwin kembali meraih kedua bahu Cecilia, sedikit memaksa perempuan itu agar kembali menatap dirinya. “Cecilia Daniela, gue suka sama lo. Lo mau jadi pacar gue?” Winwin mengulang pertanyaannya.

“Hm …”

Belum sempat Cecilia menjawab dengan ya atau tidak, sebuah kecupan pelan mendarat di kening Cecilia.

“Bilang iya aja susah banget,” ledek Winwin lalu ia kini mulai mengganti persneling mobilnya dari P ke D.

“KAKAK KOK NYOLONG CIUM-CIUM SIH?! Emang aku izinin?!”

“Siapa suruh lama jawabnya? Pilihannya cuma dua, iya atau iya.”

Cecilia mendengus keras, dengan bibirnya yang maju dan dahinya mengkerut, wajah perempuan itu benar-benar terlihat menggemaskan. “Yaudah, iya.”

“Iya apa? Nggak jelas, ih.” Winwin tidak berhenti meledek Cecilia.

“Iya jadi pacar Kakak. Aku mau jadi pacar Kak Damian Winarta.”

Winwin tersenyum sampai matanya menyipit dan kedua ‘apel’ di pipinya menonjol. Tak mau kehilangan momen, kali ini giliran Cecilia yang mengerjai Winwin; ia mencium ‘apel’ pipi kiri Winwin.

“Cecil!!” teriak Winwin panik karena ia tidak menyangka kali ini gilirannya yang kecolongan dari Cecilia.

Cecilia menjulurkan lidahnya. “Buruan ah, aku laper!”

“Laper atau ngantuk?!”

“Laper!”

“Jadi sekarang i'm yours and you're mine, ya, Cil?” tanya Winwin yang masih senang meledek Cecilia.

“Iya bawel, tapi sekali lagi nanya batal.”

Winwin tertawa cukup keras, perasaannya benar-benar bahagia saat itu. Ia tidak sabar untuk menjalani hari-hari baru selanjutnya sebagai seorang kekasih Cecilia yang sudah ia sukai sejak 3 tahun lalu.

Cecilia pun tidak dapat berlama pura-pura ngambek dengan Winwin, ia ikut tersenyum kala melihat lelaki favoritnya tersenyum tepat di sampingnya. Perasaan bahagia itu menular, dan ia juga tidak sabar untuk menghabiskan hari dan bercerita banyak hal bersama Winwin.

**

“Feeling loved by you; is my favorite feeling.” — Cecilia

“So there's this girl; her laugh makes me smile, her eyes are my favorite color, the way she talks gives me butterflies. The best thing about her, she's mine.” — Winwin

***

E N D

Announcement Day

Hari yang ditunggu seluruh siswa kelas 3 SMA Altaire tiba; hari pengumuman kelulusan mereka. Seluruh murid bersama orang tuanya masing-masing datang ke sekolah dengan dresscode kebaya untuk perempuan dan setelah jas untuk laki-laki. Termasuk Cecilia, perempuan itu datang mengenakan kebaya model kutubaru berwarna kuning pastel dipadu dengan rok batik panjang selutut. Tidak ketinggalan heels coklat muda yang ia beli beberapa hari lalu menemani langkah semangatnya memasuki gedung SMA Altaire.

“Cecil!” panggil seseorang dengan semangat dari arah belakang Cecilia. Perempuan itu bersama kedua orang tuanya kompak menoleh, mendapati Yeremia yang sedang berjalan menghampiri mereka.

“Halo, Om, Tante,” sapa Yeremia dengan ramah. Kedua orang tua Cecilia hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka pergi terlebih dahulu ke aula.

“Mami lo mana, Yer?” tanya Cecilia karena melihat Yeremia datang sendirian.

“Mami udah di aula duluan,” jawab Yeremia sambil keduanya mulai berjalan menuju aula tempat dilangsungkannya acara pengumuman kelulusan.

“Deg-deg-an nggak Cil?” tanya Yeremia membuka topik pembicaraan yang baru.

“Deg-deg-an, sih, tapi yakin pasti Altaire seratus persen lulus.”

“Lo nggak ada feeling apa-apa gitu, Cil?” Pertanyaan Yeremia mulai menjurus ke arah lain di luar pengumuman kelulusan tapi sepertinya Cecilia tidak mengerti karena perempuan itu hanya menggeleng pelan.

“Eh, kalo nanti balik dari pengumuman lo ikut nongkrong di Lawson, mau nggak? Nanti ada bang Traven juga,” ucap Yeremia lagi. “Kalo lo ragu, nanti gue yang izin deh sama bokap nyokap lo,” sambungnya.

Cecilia buru-buru menggeleng. “Eh, nggak usah. Nanti gue izin sendiri aja.”

Karena tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, keduanya pun terdiam hingga mereka tiba di aula. Kondisi aula sudah cukup ramai, Cecilia dan Yeremia sendiri harus berpisah karena orang tua mereka duduk di sisi yang berbeda; orang tua Cecilia di sisi kanan aula sementara orang tua Yeremia di sisi kiri.

Tidak lama setelah Cecilia bergabung dengan orang tuanya, acara pengumuman kelulusan itu dimulai. Salah satu guru SMA Altaire yang didaulat menjadi MC mulai memandu jalannya acara siang itu; dimulai dari kata sambutan ketua Yayasan Anantara sebagai yayasan yang menaungi SMA Altaire (alias ayah dari Kesha), kata sambutan dari kepala sekolah SMA Altaire hingga yang terakhir perwakilan dari salah satu murid kelas 3 SMA Altaire.

Setelah sesi kata sambutan selesai, berikutnya adalah acara inti, yaitu mengumumkan kelulusan siswa-siswi SMA Altaire.

“Dengan surat ini, dinyatakan bahwa siswa-siswi SMA Altaire lulus seratus persen!”

Sontak gegap gempita memenuhi aula SMA Altaire yang besar. Para siswa refleks berdiri dan berpelukan satu sama lain, sementara orang tua masing-masing siswa memberikan tepuk tangan sebagai rasa syukur dan juga ucapan selamat untuk putra-putri mereka.

“Cecil, selamat ya, Nak …” ucap ayah Cecilia seraya memeluk dan mencium puncak kepala putri semata wayangnya. Cecilia hanya mengangguk-angguk antusias di dalam pelukan ayahnya.

Selesai berpelukan dengan ayahnya, gantian Cecilia masuk ke dalam pelukan sang ibu. “Selamat ya, Sayang … Mama papa bangga sekali sama kamu,” ucap ibu Cecilia lalu ia juga mencium pelan kening Cecilia.

“Makasih ya, Ma, Pa,” balas Cecilia senang.

Selesai mengumumkan kelulusan seratus persen siswa-siswi SMA Altaire, sang MC kini mulai mengumumkan siswa ranking 3, 2, 1 dalam Ujian Nasional, sekaligus mengumumkan siapa yang menjadi juara umum angkatan limabelas SMA Altaire.

Ranking 3 dan ranking 2 sudah diumumkan, sudah berdiri pula sepasang siswa-siswi kelas 3 SMA Altaire di atas panggung, yang nantinya akan menerima beberapa hadiah dari yayasan Anantara.

“Dan sekarang, untuk ranking satu dalam Ujian Nasional, sekaligus menjadi juara umum angkatan ke-limabelas SMA Altaire, adalah … Cecilia Daniela! Selamat!”

Mata Cecilia melebar tidak percaya. Ayah Cecilia kali ini bangkit berdiri dan segera memeluk putrinya yang masih bengong di tempat duduknya.

“Cecil! Cecil! Cecil!”

Seisi aula memanggil nama Cecilia, menyadarkan perempuan itu dari ketidakpercayaannya dan sekaligus segera meminta Cecilia untuk naik ke atas panggung.

“Selamat, Cecilia!” ucap sang MC sambil menyalami Cecilia. Cecilia menyambut uluran tangan itu sambil mengangguk dan tersenyum kaku karena ia masih tidak menyangka ia mendapatkan juara pertama.

“Dan sekarang akan saya undang perwakilan dari donatur yayasan Anantara, untuk memberikan hadiah kepada murid-murid SMA Altaire yang berprestasi ini.”

Segera setelah sang MC selesai berbicara, seorang laki-laki dengan setelan jas serba hitam keluar dari balik panggung. Semua murid yang hadir di aula terkesiap, bahkan sang MC pun terlihat tidak percaya dengan si pemberi hadiah itu.

“Damian?!” tanya guru Geografi yang bertugas sebagai MC dengan nada tak percaya.

Mendengar nama Winwin dipanggil, Cecilia menoleh ke belakang; Winwin tengah berjalan dari belakang panggung menuju tengah panggung dengan senyum terbaik yang ia berikan siang itu untuk semua yang hadir dan terlebih untuk Cecilia, yang sekarang terlihat sangat bingung karena tidak percaya dengan siapa yang ia lihat saat itu.

Winwin hanya mengangguk sopan menjawab sapaan mantan gurunya, kemudian ia menjalankan tugasnya; memberikan hadiah berupa medali dan sebuah amplop kepada masing-masing juara tak terkecuali Cecilia, sebagai juara pertama dan penerima hadiah yang terakhir.

Congrats ya, Cil,” ucap Winwin pelan sambil mengalungkan medali ke leher Cecilia. Perempuan itu hanya diam menunduk.

“Cil?” panggil Winwin karena Cecilia terus menunduk. Karena tidak ada jawaban dari Cecilia, Winwin sedikit merendahkan kepalanya agar bisa melihat wajah perempuan itu. “Cil?” panggilnya lagi.

“Kesel banget aku sama Kakak …” ucap Cecilia pelan, lalu kalimat itu terputus karena detik berikutnya perempuan itu menangis. Refleks, Winwin memeluk Cecilia, membuat seisi aula semakin gaduh.

“Cie … Cie … Jadian! Jadian!”

Sang MC pun berusaha menenangkan murid-murid di aula siang itu. “Sebentar, sebentar …” ucapnya lalu pandangannya beralih kepada Cecilia yang sudah melepaskan diri dari pelukan Winwin dan sedang menyeka pelan air matanya. “Cecil kenapa nangis?” tanyanya dengan microphone menyala.

Cecilia hanya menggeleng pelan, membuat murid-murid di aula kembali gaduh dan menggaungkan kalimat yang sama.

“Oke, anak-anak, semuanya harap tenang,” perintah MC lagi dan seisi aula kembali tenang. “Medali dan hadiah sudah diterima semua, ya?” Kali ini MC bertanya kepada para siswa-siswi yang berdiri di atas panggung. Semua mengangguk kompak, tidak terkecuali Cecilia.

“Baik, kalau begitu semua boleh kembali ke tempat duduk masing-masing. Dan untuk Damian, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara pengumuman kelulusan kelas 3 SMA Altaire tahun ini.”

Winwin hanya mengangguk sopan mengiyakan pernyataan sang MC, kemudian tanpa berbicara apapun dengan Cecilia, ia kembali ke belakang panggung, menghilang di balik tirai panggung SMA Altaire yang megah, membuat Cecilia yang sedari tadi berharap sesuatu dari lelaki itu dan tidak melepas pandangannya dari Winwin sedikit kecewa.

Departure Day

Bukan Traven Wibisana namanya kalau tidak hobi membuat kegaduhan. Begitu mobilnya terparkir di depan rumah Cecilia, ia tidak berhenti membunyikan klaksonnya.

“Bang, udah napa, malu diliatin tetangganya Cecil,” tegur Yeremia karena beberapa tetangga Cecilia mulai keluar dari rumah mereka dengan raut wajah tidak menyenangkan.

“Biarin, sampe Cecil keluar baru gue berhenti.”

Untungnya Cecilia segera keluar dari rumahnya. Perempuan itu langsung mengetuk kaca jendela mobil Traven. “Kenapa, Kak?” tanyanya dengan nada bicara datar, tidak seramah biasanya.

“Ayo naik, kita ke bandara. Masih keburu buat ketemu Winwin,” jawab Traven.

Cecilia mendengus. “Buat apa? Emangnya aku ada kepentingan apa sama Kak Winwin?”

Traven dan Yeremia kompak menghela nafas. Mereka tau tidak akan mudah membujuk Cecilia akibat kesalahan yang tidak sengaja dilakukan Winwin.

“Cil, gue bisa bantu kasih penjelasan ke lo, tapi sambil otw. Yuk? Please, Cil ...” balas Traven kali ini dengan nada dan wajah memelas. Yeremia juga ikut-ikutan memasang wajah memelas agar Cecilia luluh.

Gantian Cecilia yang menghela nafas pasrah. Sebenarnya ia masih marah, tapi dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu lelaki yang disukainya tepat sebelum mereka harus berpisah selama setahun.

“Cil?” Suara Yeremia membuyarkan lamunan Cecilia.

“Yaudah, bentar,” ucap Cecilia lalu ia segera berlari masuk ke dalam rumahnya sementara Traven dan Yeremia kompak ber-yes-ria.

Tidak sampai 5 menit, Cecilia kembali ke mobil Traven. Ia hanya mengganti celana pendeknya dengan celana jeans, membawa tas selempang kecil berisikan barang pribadinya dan tidak ketinggalan tas kertas kecil berwarna coklat dengan pita pink putih di atasnya.

“Hadiah buat Winwin?” tanya Traven saat Cecilia sudah di dalam mobilnya. Cecilia hanya berdeham pelan, mengiyakan pertanyaan Traven tapi sekaligus memberi tanda pada lelaki itu bahwa ada hal yang harus dijelaskan.

“Masalah keberangkatan Winwin, dia diminta bokapnya buat ikut semacam pelatihan or akademi bisnis gitu, Cil. Dan emang dadakan, karena tadinya Winwin nggak niat berangkat, tapi karena ini invitation dari salah satu kerabat bisnis bokapnya Winwin, mau nggak mau dia harus berangkat.”

Cecilia yang duduk bersandar di kursi penumpang belakang hanya diam sambil memainkan kuku-kuku jarinya.

“Kesha tau hal ini?” tanya Cecilia.

“Hm, mungkin tau. Mungkin juga nggak tau.” Traven kembali menjawab.

“Oh, berarti emang aku doang yang nggak tau apa-apa,” gumam Cecilia dengan sedikit tertawa getir. “Lagian aku siapa? Hehehe ...”

Baik Traven maupun Yeremia hanya diam mendengar kalimat terakhir Cecilia. Mereka pikir, daripada membuat kondisi antara Cecilia dan Winwin semakin runyam, lebih baik mereka diam dan segera mempertemukan keduanya.

*

“Yer, tolong anterin Cecil. Kata Winwin dia di deket Sate Senayan,” ucap Traven saat mobilnya tiba di Terminal 3 Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. “Gue nanti nyusul,” sambung Traven.

Yeremia mengangguk, lalu ia dan Cecilia segera turun dari mobil dan pergi menuju lokasi yang dimaksud Traven.

Karena kondisi bandara tidak terlalu ramai saat itu, tidak sulit bagi Yeremia dan Cecilia untuk menemukan Winwin. Lelaki itu tengah duduk di kursi tunggu dengan pakaian serba hitam; turtle neck tangan panjang, celana panjang jeans yang mempertegas kaki jenjangnya, serta loafers berwarna senada.

“Bang Win!” panggil Yeremia antusias sambil berlari kecil menghampiri Winwin. Winwin tersenyum melihat Yeremia, tapi senyumnya memudar saat menyadari Cecilia hanya diam mematung.

“Cecil, sini!” panggil Yeremia, tapi Winwin buru-buru menggeleng. Ia menepuk bahu Yeremia tanda meminta tolong pada lelaki itu untuk menjaga barangnya sebentar sementara ia berbicara dengan Cecilia.

Yeremia lagi-lagi hanya mengangguk menyetujui permintaan Winwin. Ia kemudian duduk di kursi yang diduduki Winwin sebelumnya dan mengizinkan Winwin pergi menghampiri Cecilia.

“Cil,” panggil Winwin pelan dan hati-hati.

Yang dipanggil melirik sebentar ke arah suara, lalu kembali menunduk seraya menyodorkan tas kertas yang ia bawa dengan kedua tangannya.

“Ini hadiah buat Kakak, semoga Kakak suka.”

Winwin berusaha menahan senyumnya. Walaupun ia tahu Cecilia sedang marah dengannya, tapi ia tidak dapat menahan rasa gemasnya melihat tingkah laku Cecilia sore itu.

“Makasih, ya,” jawab Winwin sambil mengambil tas kertas itu dari tangan Cecilia.

“SURATNYA DIBACA NANTI AJA!” pekik Cecilia cepat dan cukup keras saat menyadari tangan Winwin sedang membuka amplop yang tertempel di luar tas kertas itu.

Kali ini Winwin tidak berhasil menahan senyumnya. Ia sukses memamerkan deretan giginya yang putih, lalu segera menarik Cecilia masuk ke dalam pelukannya dan memberikan perempuan itu kehangatan dalam dekapannya.

“Cecil, maafin gue, ya ... Gue nggak bermaksud untuk merendahkan lo atau apapun itu. Karena hal ini, gue jadi belajar, nggak seharusnya gue ngegampangin sesuatu dengan iming-iming hadiah ...”

Cecilia memukul pelan dada Winwin. “Kenapa aku doang yang nggak dikasih tau sama Kak Win? Bahkan Kesha tau kalo Kakak pergi,” protes Cecilia dengan nada sedikit merajuk.

Sebenarnya Cecilia tidak terlalu pusing dengan Winwin dan hadiah yang ia janjikan saat kembali dari US. Ia lebih merasa kesal karena ia tidak diberitahu apapun oleh Winwin perihal kepergiannya.

Winwin melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Cecilia. Bibir mungil perempuan itu sedikit mengerut, membuat wajahnya terlihat dua kali lebih menggemaskan dibandingkan biasanya.

“Tadinya gue mau ngomong pas kita beli cupang Yere, tapi karena hari itu mood lo kurang bagus, jadi gue tunda. Salah gue juga sih, gue nggak langsung bilang besoknya.”

“Ngeselin,” protes Cecilia lagi sambil kembali memukul pelan dada Winwin.

“Udah dong, marahnya ... Maafin gue, ya?” pinta Winwin sambil berusaha menatap mata Cecilia yang sedari tadi berusaha menghindari tatapannya.

“Iya, tapi lain kali jangan gini lagi.”

“Oke, promise.” Winwin mengulurkan jari kelingkingnya. Cecilia menatap sebentar jari itu sebelum membalasnya dengan mengaitkan kelingking miliknya dengan milik Winwin.

“Sekarang jangan cemberut lagi,” pinta Winwin lagi, kali ini nada bicaranya terdengar seperti anak kecil.

“Ih, siapa yang cemberut,” balas Cecilia malu-malu.

“Udah baikan, kan?” Suara Traven berhasil menyela percakapan di antara Winwin dan Cecilia. Winwin mengangkat alis mengiyakan pertanyaan Traven sementara Cecilia yang masih salah tingkah kembali menunduk.

“Nggak usah malu sama gue, Cil. Gue ngerti kok kenapa lo marah, emang perlu diambekin dulu manusia satu ini biar kapok,” sambung Traven. Winwin melirik tajam ke arah Traven tapi lelaki itu terlihat tidak peduli.

“Yer! Sini!” panggil Traven menyadari Yeremia masih duduk manis memunggungi mereka bertiga.

Sambil membawa tas selempang dan mendorong koper milik Winwin, Yeremia menghampiri abang-abangnya dan juga Cecilia.

“Udah baikan?” Pertanyaan yang sama diucapkan Yeremia.

“Udah.” Bukan Cecilia atau Winwin yang menjawab melainkan Traven. “Eh, lo masih ada waktu sebelum masuk boarding room, kan?” Traven kembali bicara dengan Winwin.

Winwin mengangguk. “Kurang lebih 45 menit. Kenapa?”

“Yaudah, makan dulu, yuk. Hokben. Laper,” jawab Traven sambil mulai berjalan ke arah restoran yang dimaksud.

Karena Winwin, Cecilia dan Yeremia tidak beranjak dari tempatnya, Traven melayangkan protes, “woi, lo pikir nyetir Cibubur-Soetta nggak bikin perut laper apa?”

Dunia (Memang) Tidak Adil

Setelah mencari tahu harus pergi ke mana demi membeli hadiah untuk Yeremia, Winwin segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu pusat penjualan ikan cupang terbesar di Jakarta dengan Cecilia duduk manis di sisi kirinya.

Tidak banyak percakapan di antara mereka berdua, Winwin lebih memilih untuk bersenandung pelan mengikuti alunan lagu dari radio yang ia pasang sementara Cecilia menikmati pemandangan ibukota dari balik jendela mobil Winwin.

“Udah daftar buat beasiswa kuliah, Cil?” tanya Winwin, mencoba memecah keheningan di dalam mobil itu.

“Oh, udah, Kak,” jawab Cecilia sedikit kikuk.

Backup plan-nya apa, Cil, kalau amit-amit nggak dapet beasiswa?”

“SNMPTN, Kak. Kalaupun nggak tembus juga, paling nggak kuliah dulu setahun. Nabung dulu buat daftar di PTN tahun depan,” jawab Cecilia menjelaskan.

“Oh, oke oke …” Dan keduanya kembali terdiam hingga mobil Winwin tiba di tujuan. Keduanya segera turun dari mobil dan melangkah menuju tempat yang mereka sudah cari sebelumnya di internet.

“Selamat datang, Mas, Mbak, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya pegawai toko yang didatangi Winwin dan Cecilia.

“Mas, saya cari cupang buat temen saya. Kira-kira ada rekomendasi nggak?”

Pertanyaan Winwin disambut senyum sumringah dari sang pegawai toko. Ia segera menuntun Winwin dan Cecili ke salah satu kotak akuarium berisikan ikan cupang dengan motif warna-warni.

“Ini, Mas. Ini yang terbaik dari toko kami.”

“Harganya berapa, Mas?” tanya Winwin lagi.

“Untuk cupang ini delapan juta aja, Mas. Baru menang kontes juga kemarin.”

Baik Winwin maupun Cecilia refleks saling tatap satu sama lain dengan mulut sedikit terbuka. Cecilia buru-buru menarik pelan lengan Winwin agar sedikit menjauh dari si pegawai toko.

“Kak, mending kita tangkep aja di empang,” ucap Cecilia karena ia merasa sayang dengan jumlah uang yang menurutnya terlalu besar untuk seekor cupang.

Winwin hanya tersenyum tipis. “Masa gue ngebiarin lo nangkep cupang buat Yere, sih? Enak aja, kesenenengan nanti dia,” balas Winwin pelan lalu ia kembali berbicara dengan sang petugas tadi. “Mas, saya ambil, ya. Sekalian sama akuariumnya juga bisa, kan?”

Senyum sumringah di wajah petugas toko itu semakin terlihat jelas. Ia mengangguk-angguk penuh semangat menjawab pertanyaan Winwin. “Bisa, Mas. Bisa banget. Saya beresin dulu ya, Mas. Transaksinya nanti di kasir sebelah sana,” ucap si petugas toko seraya menunjuk meja kasir yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Cecilia hanya menghela nafas pasrah sambil geleng-geleng kepala. “Padahal kalo nangkep sendiri bisa, lho … Bukannya lebih bagus kasih sesuatu dari hasil jerih payah kita, ya?”

Winwin memandangi Cecilia sejenak sebelum membalas pertanyaan perempuan itu. “Iya, kasih sesuatu dari hasil jerih payah kita emang lebih bagus, Cil, tapi masalahnya cupang ini nggak ada di empang …” Kemudian Winwin mengacak pelan rambut Cecilia sebelum meninggalkan perempuan itu untuk membayar belanjaannya.

*

“Sekarang lo mau ke mana?” tanya Winwin begitu mereka berdua sudah kembali berada di dalam mobil, dengan ikan cupang hadiah untuk Yeremia tergeletak manis di atas kursi penumpang belakang. Ikan cupang beserta akuariumnya di bungkus rapi dengan boks sterofoam warna putih yang tutupnya direkatkan dengan lakban bening.

Cecilia hanya diam, ia sudah memakai seat belt-nya, tapi matanya seperti sengaja menghindari tatapan Winwin.

“Cil, lo marah?” tanya Winwin lagi, kali ini dengan nada bicara lebih pelan dan hati-hati.

Cecilia hanya menggeleng, tapi sedetik kemudian ia dapat merasakan matanya memanas dan pipinya basah karena air matanya.

“Cil, lo kenapa? Kok nangis?” kali ini Winwin bertanya dengan panik sambil mengambil tissue mobilnya dan memberikannya kepada Cecilia.

Cecilia menggeleng cepat. “Nggak, nggak papa. Aku kadang ngerasa dunia se-nggak adil ini untuk aku. Aku harus jungkir balik demi sekolah di sekolah di tempat yang bagus, sementara kakak dengan gampangnya beli cupang seharga uang SPP buat 3 bulan.”

Kali ini Winwin terkesiap. Ia tidak menyangka Cecilia akan sampai pada pemikiran itu. Ditatapnya perempuan mungil yang masih sesenggukan di kursi penumpang itu.

“Aku nggak ngiri sama Kak Win, nggak ngiri juga sama Kesha. Aku juga nggak pernah protes kenapa aku harus lahir dari keluarga biasa aja, tapi aku ngerasa nggak adil aja.”

“Cil, sorry … Gue nggak pernah bermaksud menyinggung lo dengan ngajak lo beli hadiah buat Yere—”

“Iya, aku tau Kakak emang nggak bermaksud apa-apa. Aku juga nggak nyalahin Kakak, kok. Aku cuma ngerasa memang dunia se-tidak adil ini. Tapi aku bisa apa? Aku nggak bisa apa-apa, kan? Jadi, ini bukan suatu hal yang harus Kakak sesali. It’s okay. Karena dunia se-nggak adil ini, jadi kalau kata Patrick, 'biasakanlah'.”

Cecilia berusaha mencairkan suasana tapi Winwin sama sekali tidak bereaksi karena ia masih merasa bersalah kepada Cecil. Butuh waktu beberapa saat sampai tangis Cecilia mereda. Ia kembali menghapus sisa air mata di wajahnya dan menoleh ke arah Winwin. “Maaf, karena aku suasananya jadi rusak.”

Winwin, seperti biasanya, hanya tersenyum hangat. Ia keluar sebentar untuk membeli sebotol air mineral untuk Cecilia dan segera kembali serta memberikannya kepada perempuan itu.

Feel much better, Cil?”

Cecilia hanya mengangguk sambil meneguk pelan air mineral pemberian Winwin.

It’s okay, daripada dipendem, lebih baik emang emosi-emosi kayak tadi dikeluarin aja. Biar nggak jadi toxic juga di dalam diri lo.” Winwin lalu kembali mengenakan seat belt-nya. “Kita makan, yuk? Makan pop mie gimana, mau nggak?”

Dahi Cecilia mengkerut. “Pop mie? Please, ini pikiran aku sama Kakak beda, kan?”

“Kalo pikiran lo pop mie di kantin Altaire, berarti kita beda,” jawab Winwin sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil.

Pengakuan

Sabtu sore, sesuai janji yang dibuat Winwin, lelaki itu tiba di rumah Cecilia sekitar pukul empat dengan salah satu mobil koleksinya. Kali ini ia mengendarai Range Rover Evoque warna putih yang dibelinya beberapa bulan lalu.

“Kak, mau masuk dulu nggak?” suara Cecil yang sedang membukakan pintu pagar untuk Winwin membuyarkan lamunan Winwin. Lelaki itu melamun, lantaran melihat Cecilia yang 'berbeda' dari biasanya.

Perempuan itu mengenakan dress tangan panjang warna putih dengan motif pita kecil berwarna hitam. Wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa dengan sentuhan make up, tapi tetap terlihat natural dan justru menambah kecantikan paras Cecilia. Rambut panjangnya di ikat dengan pita besar berwarna hitam.

“Cantik banget,” gumam Winwin tapi ia sadari. Cecilia dapat mendengar cukup jelas suara lelaki itu dan seketika kedua pipinya langsung memerah.

“Kak, mau masuk dulu nggak?” tanya Cecilia lagi.

“Eh, boleh-boleh, pamitan sama bokap nyokap lo dulu,” jawab Winwin sambil berjalan menghampiri Cecilia yang tengah berdiri di pintu pagar rumahnya. Winwin hendak masuk ke dalam, tapi ayah Cecilia tiba-tiba keluar dari rumahnya.

“Nggak usah masuk, nanti kalian nggak berangkat. Udah, langsung pergi aja. Hati-hati stirnya ya, Damian,” ucap ayah Cecilia seakan mengerti maksud dan tujuan Winwin masuk ke dalam rumahnya.

“Yaudah, oke, Om. Biar nggak kemaleman juga pulangnya, saya pamit ajak Cecil pergi dulu, ya, Om ...” balas Winwin ramah dengan gestur tubuhnya sedikit membungkuk hormat.

Ayah Cecilia mengangguk, kemudian ia mengalihkan perhatiannya kepada putri semata wayangnya. “Baik-baik, ya, jangan nyusahin Damian,” ucapnya, dan di akhir kalimat ayah Cecilia sedikit mengedipkan mata, membuat Cecilia salah tingkah sendiri.

“Ih, iya iya, masuk aja, Pa, pesenan mie ayam banyak, tuh.”

Ayah Cecilia hanya terkekeh pelan. “Hati-hati, ya, Nak ...”

“Iya, Pa ... Cecil pergi dulu, ya!”

Setelah berpamitan dan saling melambaikan tangan, mobil Winwin mulai bergerak meninggalkan kawasan rumah Cecilia menuju tujuan sore itu, Sentul.

Perjalanan Cibubur-Sentul tidak memerlukan waktu terlalu lama, dengan kecepatan 60km/jam, dalam waktu kurang lebih 45 menit mereka sudah tiba di Finch Coffee, tempat yang sengaja Winwin reservasi sehari sebelumnya untuk mereka berdua.

“Aku mau Ice Matcha Latte satu, Mas,” ucap Cecilia pada pelayan yang hendak menulis pesanan mereka. “Eh, boleh kan, Kak?” tanya Cecilia kemudian kepada Winwin.

Winwin yang masih membolak-balikan buku menu, terkekeh. “Ya bolehlah, Cil. Masa nggak boleh, sih.”

“Yaudah, Mas,” Cecilia kembali berbicara dengan sang pelayan, “ice matcha latte satu, sama French Fries-nya satu. Eh, Kak, French Fries juga boleh, kan?” Cecilia kembali bertanya kepada Winwin.

Winwin menutup buku menunya dan mengacak gemas puncak kepala Cecilia. “Boleh, Cecil ... Lo mau beli gedung ini juga boleh.”

“Ah Kakak mah, serius dulu dong.”

“Serius,” balas Winwin masih dengan senyum lebar di wajahnya. “Mas, saya mau Ice Coffee satu. Makanannya French Fries aja dulu, nanti kalo mau nambah saya panggil lagi.” Gantian Winwin yang berbicara pada sang pelayan.

Pelayan itu hanya mengangguk mantap dan setelah selesai mencatat pesanan Winwin dan Cecilia, ia segera pergi meninggalkan mereka berdua.

“Cil,”

“Kak,”

Keduanya tersenyum karena saling memanggil di waktu bersamaan.

“Kakak dulu deh,” sambung Cecilia cepat sebelum Winwin kembali bersuara.

“Gimana sekolah? Tanpa Kesha?”

“Hmm ... Agak sepi, biasanya ada yang bawelin aku buat ke kafetaria, atau rusuhin aku di perpus, sekarang nggak ada,” jawab Cecilia dengan pandangan menerawang.

“Temen-temen sekelas masih jahatin lo?” tanya Winwin lagi.

Cecilia menoleh ke arah Winwin lalu menggeleng. “Nggak, mereka udah biasa aja sama aku. Yang aneh sekarang malah Kak Geko, setiap ketemu aku dia kabur. Padahal udah minta maaf ke aku, kenapa harus kabur?”

Winwin tersenyum dingin. “Dia terlalu malu buat ketemu sama lo, Cil. Diemin aja itu anak songong,” balas Winwin asal.

“Hush, Kakak nggak boleh ngatain gitu.”

“Kenyataannya,” timpal Winwin dengan wajah datar.

Percakapan mereka harus berhenti karena pelayan tadi datang lagi dengan dua minuman dan satu makanan pesanan mereka.

“Tadi mau ngomong apa?” tanya Winwin setelah ice coffee pesanannya sukses melegakan tenggorokannya yang kering.

“Ngg ... Itu ...” Cecil terlihat ragu-ragu, tapi karena Winwin tidak berhenti menatapnya, ia memberanikan diri melanjutkan pertanyaannya, “kok Kakak baik banget sama aku, sih?”

Winwin tersenyum hangat. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku yang ia duduki berdua dengan Cecilia.

“Gue suka sama lo, Cil,” jawab Winwin pelan, dengan nada rendah dan tatapan hangat khasnya.

Yang Cecilia bisa lakukan hanyalah bengong, untuk sesaat ia hanya menatap Winwin dengan tatapan tak percaya sampai lelaki itu kembali bersuara.

“Gue udah suka sama lo sejak kelas satu, dari hari pertama gue nemuin buku lo di perpus, gue udah suka sama lo. Gue selalu nanyain Kesha ke lo bukan karena gue suka dia, tapi karena gue mau ngobrol sama lo. Gue suka lo bukan cuma karena lo cantik, tapi sifat dan karakter lo ... gue suka sama semua yang ada di diri lo. Gue mau lo jadi pacar gue, Cil.”

Mata Cecilia semakin melebar, sebelum akhirnya ia menunduk dan kembali duduk bersandar.

“Emang aku secantik dan sepantes itu ya, buat disukai sama Kak Win?”

Winwin mengangguk. “Yes, wajah lo cantik tapi yang paling utama adalah hati lo. Hati lo terlalu cantik, sampai bisa bikin orang lain iri sama lo.”

Cecilia menoleh sedikit ke arah Winwin, dilihatnya lelaki itu kembali mengeluarkan senyum terbaiknya. “Kaget, ya?” sambung Winwin bertanya.

Cecilia mengangguk polos. Ia diam sebentar sebelum menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Maaf ya, Kak, tapi untuk jadi pacar Kakak aku belum bisa.”

Senyum Winwin memudar, dan Cecilia dapat melihat jelas hal itu. Binar matanya juga meredup. Mulutnya kembali berucap, “kenapa?”

“Kakak udah tau kalo aku suka Kakak, tapi untuk pacaran saat ini aku emang belum mau, Kak. Aku takut nanti aku nggak bisa bagi waktu dengan baik sama sekolahku. Walaupun aku tau Kak Win akan ngerti dengan kesibukan sekolahku, tetep aku yang nggak mau, Kak. Aku harap Kak Win bisa ngertiin keputusan aku ini, ya?”

Winwin masih kecewa, tapi ia tidak mau Cecilia semakin kecewa karena reaksinya. Akhirnya ia pun mengangguk dan kembali tersenyum kepada Cecilia. “Iya, Cil. Makasih ya, udah kasih penjelasan ke gue.”

“Kakak nggak marah sama aku, kan?”

Kali ini Winwin tertawa lalu ia menyeruput kembali es kopinya sebelum menjawab pertanyaan Cecilia. “Marah ah, gue abis ini mau balik Cibubur. Lo balik sendiri, ya?”

Buru-buru Cecilia memegang lengan Winwin. “Kak, katanya ngerti, kok marah?”

Winwin mengambil tangan Cecilia, lalu digenggam sambil dielusnya pelan tangan itu. “Bercanda, Cecil. Gue nggak marah. Gue akan nungguin lo sampe lulus SMA.”

Lagi-lagi Cecilia melongo karena tak percaya. “Hah? Maksudnya?”

“Ya ... kan kata lo, lo mau fokus sekolah dulu, jadi gue akan nunggu sampe lo lulus SMA dan setelah itu gue akan coba lagi buat ngomong sama lo. Boleh, kan?”

Cecilia hanya tersenyum awkward membuat Winwin tidak dapat menahan rasa gemasnya dengan mengacak kembali rambut Cecilia.

“Ternyata di sini, Yer!”

Suara Traven menggema mengisi satu kedai kopi yang disinggahi Winwin dan Cecilia. Keduanya pun ikut menoleh mencari si sumber suara yang ternyata sedang berdiri di tengah kafe dan menunjuk ke arah Winwin yang duduk di lantai dua, tapi masih dapat terlihat dari lantai satu.

“Hah? Kok ada manusia-manusia rusuh ini, sih?” gerutu Winwin bingung. Tidak sampai satu menit Traven dan Yeremia sudah tiba di meja Winwin.

“Ke Sentul nggak ngajak-ngajak!” protes Yeremia.

“Lo berdua tau dari mana gue di sini?” tanya Winwin dengan raut wajah kesal. Kesal karena kedua sahabatnya sama sekali tidak mengerti dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi Winwin.

Feeling aja, ini kan kafe favorit lo,” jawab Traven sambil duduk di kursi sebrang Winwin dan Cecilia. Yeremia pun mengikuti gerak-gerik Traven, ia duduk sambil memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.

Cecilia hanya tersenyum melihat raut wajah Winwin yang pasrah karena selalu dirusuhi kedua sahabatnya. Di balik senyumnya, hatinya tidak berhenti membatin, mengucap syukur karena dalam hidupnya ia diizinkan untuk bertemu dengan Damian Winarta.