Pengakuan

Sabtu sore, sesuai janji yang dibuat Winwin, lelaki itu tiba di rumah Cecilia sekitar pukul empat dengan salah satu mobil koleksinya. Kali ini ia mengendarai Range Rover Evoque warna putih yang dibelinya beberapa bulan lalu.

“Kak, mau masuk dulu nggak?” suara Cecil yang sedang membukakan pintu pagar untuk Winwin membuyarkan lamunan Winwin. Lelaki itu melamun, lantaran melihat Cecilia yang 'berbeda' dari biasanya.

Perempuan itu mengenakan dress tangan panjang warna putih dengan motif pita kecil berwarna hitam. Wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa dengan sentuhan make up, tapi tetap terlihat natural dan justru menambah kecantikan paras Cecilia. Rambut panjangnya di ikat dengan pita besar berwarna hitam.

“Cantik banget,” gumam Winwin tapi ia sadari. Cecilia dapat mendengar cukup jelas suara lelaki itu dan seketika kedua pipinya langsung memerah.

“Kak, mau masuk dulu nggak?” tanya Cecilia lagi.

“Eh, boleh-boleh, pamitan sama bokap nyokap lo dulu,” jawab Winwin sambil berjalan menghampiri Cecilia yang tengah berdiri di pintu pagar rumahnya. Winwin hendak masuk ke dalam, tapi ayah Cecilia tiba-tiba keluar dari rumahnya.

“Nggak usah masuk, nanti kalian nggak berangkat. Udah, langsung pergi aja. Hati-hati stirnya ya, Damian,” ucap ayah Cecilia seakan mengerti maksud dan tujuan Winwin masuk ke dalam rumahnya.

“Yaudah, oke, Om. Biar nggak kemaleman juga pulangnya, saya pamit ajak Cecil pergi dulu, ya, Om ...” balas Winwin ramah dengan gestur tubuhnya sedikit membungkuk hormat.

Ayah Cecilia mengangguk, kemudian ia mengalihkan perhatiannya kepada putri semata wayangnya. “Baik-baik, ya, jangan nyusahin Damian,” ucapnya, dan di akhir kalimat ayah Cecilia sedikit mengedipkan mata, membuat Cecilia salah tingkah sendiri.

“Ih, iya iya, masuk aja, Pa, pesenan mie ayam banyak, tuh.”

Ayah Cecilia hanya terkekeh pelan. “Hati-hati, ya, Nak ...”

“Iya, Pa ... Cecil pergi dulu, ya!”

Setelah berpamitan dan saling melambaikan tangan, mobil Winwin mulai bergerak meninggalkan kawasan rumah Cecilia menuju tujuan sore itu, Sentul.

Perjalanan Cibubur-Sentul tidak memerlukan waktu terlalu lama, dengan kecepatan 60km/jam, dalam waktu kurang lebih 45 menit mereka sudah tiba di Finch Coffee, tempat yang sengaja Winwin reservasi sehari sebelumnya untuk mereka berdua.

“Aku mau Ice Matcha Latte satu, Mas,” ucap Cecilia pada pelayan yang hendak menulis pesanan mereka. “Eh, boleh kan, Kak?” tanya Cecilia kemudian kepada Winwin.

Winwin yang masih membolak-balikan buku menu, terkekeh. “Ya bolehlah, Cil. Masa nggak boleh, sih.”

“Yaudah, Mas,” Cecilia kembali berbicara dengan sang pelayan, “ice matcha latte satu, sama French Fries-nya satu. Eh, Kak, French Fries juga boleh, kan?” Cecilia kembali bertanya kepada Winwin.

Winwin menutup buku menunya dan mengacak gemas puncak kepala Cecilia. “Boleh, Cecil ... Lo mau beli gedung ini juga boleh.”

“Ah Kakak mah, serius dulu dong.”

“Serius,” balas Winwin masih dengan senyum lebar di wajahnya. “Mas, saya mau Ice Coffee satu. Makanannya French Fries aja dulu, nanti kalo mau nambah saya panggil lagi.” Gantian Winwin yang berbicara pada sang pelayan.

Pelayan itu hanya mengangguk mantap dan setelah selesai mencatat pesanan Winwin dan Cecilia, ia segera pergi meninggalkan mereka berdua.

“Cil,”

“Kak,”

Keduanya tersenyum karena saling memanggil di waktu bersamaan.

“Kakak dulu deh,” sambung Cecilia cepat sebelum Winwin kembali bersuara.

“Gimana sekolah? Tanpa Kesha?”

“Hmm ... Agak sepi, biasanya ada yang bawelin aku buat ke kafetaria, atau rusuhin aku di perpus, sekarang nggak ada,” jawab Cecilia dengan pandangan menerawang.

“Temen-temen sekelas masih jahatin lo?” tanya Winwin lagi.

Cecilia menoleh ke arah Winwin lalu menggeleng. “Nggak, mereka udah biasa aja sama aku. Yang aneh sekarang malah Kak Geko, setiap ketemu aku dia kabur. Padahal udah minta maaf ke aku, kenapa harus kabur?”

Winwin tersenyum dingin. “Dia terlalu malu buat ketemu sama lo, Cil. Diemin aja itu anak songong,” balas Winwin asal.

“Hush, Kakak nggak boleh ngatain gitu.”

“Kenyataannya,” timpal Winwin dengan wajah datar.

Percakapan mereka harus berhenti karena pelayan tadi datang lagi dengan dua minuman dan satu makanan pesanan mereka.

“Tadi mau ngomong apa?” tanya Winwin setelah ice coffee pesanannya sukses melegakan tenggorokannya yang kering.

“Ngg ... Itu ...” Cecil terlihat ragu-ragu, tapi karena Winwin tidak berhenti menatapnya, ia memberanikan diri melanjutkan pertanyaannya, “kok Kakak baik banget sama aku, sih?”

Winwin tersenyum hangat. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku yang ia duduki berdua dengan Cecilia.

“Gue suka sama lo, Cil,” jawab Winwin pelan, dengan nada rendah dan tatapan hangat khasnya.

Yang Cecilia bisa lakukan hanyalah bengong, untuk sesaat ia hanya menatap Winwin dengan tatapan tak percaya sampai lelaki itu kembali bersuara.

“Gue udah suka sama lo sejak kelas satu, dari hari pertama gue nemuin buku lo di perpus, gue udah suka sama lo. Gue selalu nanyain Kesha ke lo bukan karena gue suka dia, tapi karena gue mau ngobrol sama lo. Gue suka lo bukan cuma karena lo cantik, tapi sifat dan karakter lo ... gue suka sama semua yang ada di diri lo. Gue mau lo jadi pacar gue, Cil.”

Mata Cecilia semakin melebar, sebelum akhirnya ia menunduk dan kembali duduk bersandar.

“Emang aku secantik dan sepantes itu ya, buat disukai sama Kak Win?”

Winwin mengangguk. “Yes, wajah lo cantik tapi yang paling utama adalah hati lo. Hati lo terlalu cantik, sampai bisa bikin orang lain iri sama lo.”

Cecilia menoleh sedikit ke arah Winwin, dilihatnya lelaki itu kembali mengeluarkan senyum terbaiknya. “Kaget, ya?” sambung Winwin bertanya.

Cecilia mengangguk polos. Ia diam sebentar sebelum menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Maaf ya, Kak, tapi untuk jadi pacar Kakak aku belum bisa.”

Senyum Winwin memudar, dan Cecilia dapat melihat jelas hal itu. Binar matanya juga meredup. Mulutnya kembali berucap, “kenapa?”

“Kakak udah tau kalo aku suka Kakak, tapi untuk pacaran saat ini aku emang belum mau, Kak. Aku takut nanti aku nggak bisa bagi waktu dengan baik sama sekolahku. Walaupun aku tau Kak Win akan ngerti dengan kesibukan sekolahku, tetep aku yang nggak mau, Kak. Aku harap Kak Win bisa ngertiin keputusan aku ini, ya?”

Winwin masih kecewa, tapi ia tidak mau Cecilia semakin kecewa karena reaksinya. Akhirnya ia pun mengangguk dan kembali tersenyum kepada Cecilia. “Iya, Cil. Makasih ya, udah kasih penjelasan ke gue.”

“Kakak nggak marah sama aku, kan?”

Kali ini Winwin tertawa lalu ia menyeruput kembali es kopinya sebelum menjawab pertanyaan Cecilia. “Marah ah, gue abis ini mau balik Cibubur. Lo balik sendiri, ya?”

Buru-buru Cecilia memegang lengan Winwin. “Kak, katanya ngerti, kok marah?”

Winwin mengambil tangan Cecilia, lalu digenggam sambil dielusnya pelan tangan itu. “Bercanda, Cecil. Gue nggak marah. Gue akan nungguin lo sampe lulus SMA.”

Lagi-lagi Cecilia melongo karena tak percaya. “Hah? Maksudnya?”

“Ya ... kan kata lo, lo mau fokus sekolah dulu, jadi gue akan nunggu sampe lo lulus SMA dan setelah itu gue akan coba lagi buat ngomong sama lo. Boleh, kan?”

Cecilia hanya tersenyum awkward membuat Winwin tidak dapat menahan rasa gemasnya dengan mengacak kembali rambut Cecilia.

“Ternyata di sini, Yer!”

Suara Traven menggema mengisi satu kedai kopi yang disinggahi Winwin dan Cecilia. Keduanya pun ikut menoleh mencari si sumber suara yang ternyata sedang berdiri di tengah kafe dan menunjuk ke arah Winwin yang duduk di lantai dua, tapi masih dapat terlihat dari lantai satu.

“Hah? Kok ada manusia-manusia rusuh ini, sih?” gerutu Winwin bingung. Tidak sampai satu menit Traven dan Yeremia sudah tiba di meja Winwin.

“Ke Sentul nggak ngajak-ngajak!” protes Yeremia.

“Lo berdua tau dari mana gue di sini?” tanya Winwin dengan raut wajah kesal. Kesal karena kedua sahabatnya sama sekali tidak mengerti dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi Winwin.

Feeling aja, ini kan kafe favorit lo,” jawab Traven sambil duduk di kursi sebrang Winwin dan Cecilia. Yeremia pun mengikuti gerak-gerik Traven, ia duduk sambil memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.

Cecilia hanya tersenyum melihat raut wajah Winwin yang pasrah karena selalu dirusuhi kedua sahabatnya. Di balik senyumnya, hatinya tidak berhenti membatin, mengucap syukur karena dalam hidupnya ia diizinkan untuk bertemu dengan Damian Winarta.