Tidak Untuk Kedua Kalinya

“Natashaaaaa!”

Suara nyaring Harsya memanggil Natasha yang masih berjalan menghampiri sekumpulan tim rugby di mana Johnny dan Harsya ada di sana.

Langkah kaki Harsya lebih cepat menghampiri Natasha dan lelaki itu segera memeluk Natasha dalam waktu yang cukup lama.

How are you, girl?! Kenapa lo kurus banget, sih?” komentar Harsya saat melihat Natasha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Siang itu Natasha hanya memakai kaos putih polos, dipadu dengan celana pendek linen berwarna khaki dan sepatu Skechers hitam favoritnya. Outfit-nya siang itu ternyata cukup menonjolkan sisi kelemahan tubuh perempuan itu.

“Gimana dong, gue udah makan sehari lima kali tetep aja numpuknya di perut,” balas Natasha sambil berjalan berangkulan dengan Harsya.

Jangan ditanya kenapa Natasha dan Harsya bisa seakrab itu, bahkan saat Natasha masih berpacaran dengan Johnny, Harsya senang sekali merangkul Natasha karena dasarnya lelaki itu senang skinship dengan orang-orang terdekatnya, dan kadang hal itu membuat Johnny cemburu.

“Olahraga, dong. Yuk, sama gue kapan-kapan lari di GBK,” ajak Harsya tepat saat mereka berdua tiba di hadapan gerombolan tim rugby Harsya dan Johnny.

“Cewek lo, Har?” tanya salah seorang pemain rugby di tim itu.

Harsya menggeleng pelan sambil melepaskan rangkulannya dari Natasha. “Member Avengers dia,” balas Harsya meledek.

“Iya, tapi udah *koid,” sambung Natasha lalu ia segera memperkenalkan dirinya dengan tim rugby itu. “Hai, kenalin nama gue Natasha, temennya Johnny sama Harsya.”

Tim rugby yang semuanya berjenis kelamin lelaki itu dengan kompak membulatkan mulut mereka lalu memandangi Johnny dan Harsya bergantian. Harsya yang duduk di ujung bangku bench hanya senyum-senyum sendiri sementara Johnny yang berdiri tidak jauh dari Natasha tidak melepas tatapannya dari perempuan kurus.

Setelah sesi perkenalan Natasha, Johnny mengajak perempuan itu untuk sedikit menjauh dari kumpulan tim rugby-nya. “Ke sini sama siapa? Naik apa?” tanya Johnny.

“Sendiri, naik mobil.”

“Parkir di mana?”

“F(x).”

Setelah itu Natasha duduk di bangku pemain yang kosong, lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk bercermin sementara Johnny yang hendak mengajak Natasha kembali berbicara, tiba-tiba dipanggil Harsya untuk bermain.

“Nanti kita ngobrol lagi, Nat.”

Natasha hanya mengangguk dan dengan berat hati Johnny pergi meninggalkan Natasha menuju lapangan.

“Gimana, Sha, kabar lo sekarang?” tanya Harsya setelah mereka bertiga selesai memesan masing-masing seporsi Boneless Wings dan sedang duduk manis menunggu makan siang menjelang sore mereka tiba.

“Baik,” jawab Natasha singkat dengan nada bicara manis.

“Kemarin gue tanya kabar lo, perasaan jawabannya nggak kayak gitu, deh,” timpal Johnny.

Natasha mengerutkan dahi dan mengangkat sebelah alisnya. “Masa?” tanyanya dengan nada setengah tidak percaya.

Harsya tertawa cekikikan. “Guys, guys, calm down. Jo, lo masih jealous sama gue?”

“Siapa yang jealous?”

Jawaban Johnny dibalas dengan gelak tawa Harsya. Memang lelaki itu kalau sudah tertawa sulit sekali untuk berhenti.

So kalian ini ada agenda apa sampe ketemuan lagi? Bahkan udah ketemuan sebelum sama gue hari ini? Kalian balikan?”

No!” Natasha menjawab dengan mantap sementara Johnny hanya diam dan Harsya sadar akan hal itu.

“Lo kenapa diem?” tanya Harsya masih dengan nada candanya, walaupun ia tahu kalau sebenarnya sahabat karibnya itu sudah tidak bisa diajak bercanda lagi. Rahang Johnny yang mengeras menjadi tanda bahwa lelaki itu menanggapi setiap kalimat yang dilontarkan Natasha sore itu dengan serius, termasuk jawaban terakhirnya.

“Udah dijawab Natasha, kan?” balas Johnny dengan datar seraya mencomot kentang goreng dari piring saji dan mengunyahnya sambil memalingkan wajah ke arah lain.

Natasha juga sadar akan perubahan mood Johnny, tapi ia tidak mau memusingkannya. Karena kalau sampai ia menanggapi perubahan mood lelaki itu, sama saja ia mengulang hal yang tidak seharusnya terjadi lagi.

Notes: koid — meninggal