Departure Day
Bukan Traven Wibisana namanya kalau tidak hobi membuat kegaduhan. Begitu mobilnya terparkir di depan rumah Cecilia, ia tidak berhenti membunyikan klaksonnya.
“Bang, udah napa, malu diliatin tetangganya Cecil,” tegur Yeremia karena beberapa tetangga Cecilia mulai keluar dari rumah mereka dengan raut wajah tidak menyenangkan.
“Biarin, sampe Cecil keluar baru gue berhenti.”
Untungnya Cecilia segera keluar dari rumahnya. Perempuan itu langsung mengetuk kaca jendela mobil Traven. “Kenapa, Kak?” tanyanya dengan nada bicara datar, tidak seramah biasanya.
“Ayo naik, kita ke bandara. Masih keburu buat ketemu Winwin,” jawab Traven.
Cecilia mendengus. “Buat apa? Emangnya aku ada kepentingan apa sama Kak Winwin?”
Traven dan Yeremia kompak menghela nafas. Mereka tau tidak akan mudah membujuk Cecilia akibat kesalahan yang tidak sengaja dilakukan Winwin.
“Cil, gue bisa bantu kasih penjelasan ke lo, tapi sambil otw. Yuk? Please, Cil ...” balas Traven kali ini dengan nada dan wajah memelas. Yeremia juga ikut-ikutan memasang wajah memelas agar Cecilia luluh.
Gantian Cecilia yang menghela nafas pasrah. Sebenarnya ia masih marah, tapi dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu lelaki yang disukainya tepat sebelum mereka harus berpisah selama setahun.
“Cil?” Suara Yeremia membuyarkan lamunan Cecilia.
“Yaudah, bentar,” ucap Cecilia lalu ia segera berlari masuk ke dalam rumahnya sementara Traven dan Yeremia kompak ber-yes-ria.
Tidak sampai 5 menit, Cecilia kembali ke mobil Traven. Ia hanya mengganti celana pendeknya dengan celana jeans, membawa tas selempang kecil berisikan barang pribadinya dan tidak ketinggalan tas kertas kecil berwarna coklat dengan pita pink putih di atasnya.
“Hadiah buat Winwin?” tanya Traven saat Cecilia sudah di dalam mobilnya. Cecilia hanya berdeham pelan, mengiyakan pertanyaan Traven tapi sekaligus memberi tanda pada lelaki itu bahwa ada hal yang harus dijelaskan.
“Masalah keberangkatan Winwin, dia diminta bokapnya buat ikut semacam pelatihan or akademi bisnis gitu, Cil. Dan emang dadakan, karena tadinya Winwin nggak niat berangkat, tapi karena ini invitation dari salah satu kerabat bisnis bokapnya Winwin, mau nggak mau dia harus berangkat.”
Cecilia yang duduk bersandar di kursi penumpang belakang hanya diam sambil memainkan kuku-kuku jarinya.
“Kesha tau hal ini?” tanya Cecilia.
“Hm, mungkin tau. Mungkin juga nggak tau.” Traven kembali menjawab.
“Oh, berarti emang aku doang yang nggak tau apa-apa,” gumam Cecilia dengan sedikit tertawa getir. “Lagian aku siapa? Hehehe ...”
Baik Traven maupun Yeremia hanya diam mendengar kalimat terakhir Cecilia. Mereka pikir, daripada membuat kondisi antara Cecilia dan Winwin semakin runyam, lebih baik mereka diam dan segera mempertemukan keduanya.
*
“Yer, tolong anterin Cecil. Kata Winwin dia di deket Sate Senayan,” ucap Traven saat mobilnya tiba di Terminal 3 Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. “Gue nanti nyusul,” sambung Traven.
Yeremia mengangguk, lalu ia dan Cecilia segera turun dari mobil dan pergi menuju lokasi yang dimaksud Traven.
Karena kondisi bandara tidak terlalu ramai saat itu, tidak sulit bagi Yeremia dan Cecilia untuk menemukan Winwin. Lelaki itu tengah duduk di kursi tunggu dengan pakaian serba hitam; turtle neck tangan panjang, celana panjang jeans yang mempertegas kaki jenjangnya, serta loafers berwarna senada.
“Bang Win!” panggil Yeremia antusias sambil berlari kecil menghampiri Winwin. Winwin tersenyum melihat Yeremia, tapi senyumnya memudar saat menyadari Cecilia hanya diam mematung.
“Cecil, sini!” panggil Yeremia, tapi Winwin buru-buru menggeleng. Ia menepuk bahu Yeremia tanda meminta tolong pada lelaki itu untuk menjaga barangnya sebentar sementara ia berbicara dengan Cecilia.
Yeremia lagi-lagi hanya mengangguk menyetujui permintaan Winwin. Ia kemudian duduk di kursi yang diduduki Winwin sebelumnya dan mengizinkan Winwin pergi menghampiri Cecilia.
“Cil,” panggil Winwin pelan dan hati-hati.
Yang dipanggil melirik sebentar ke arah suara, lalu kembali menunduk seraya menyodorkan tas kertas yang ia bawa dengan kedua tangannya.
“Ini hadiah buat Kakak, semoga Kakak suka.”
Winwin berusaha menahan senyumnya. Walaupun ia tahu Cecilia sedang marah dengannya, tapi ia tidak dapat menahan rasa gemasnya melihat tingkah laku Cecilia sore itu.
“Makasih, ya,” jawab Winwin sambil mengambil tas kertas itu dari tangan Cecilia.
“SURATNYA DIBACA NANTI AJA!” pekik Cecilia cepat dan cukup keras saat menyadari tangan Winwin sedang membuka amplop yang tertempel di luar tas kertas itu.
Kali ini Winwin tidak berhasil menahan senyumnya. Ia sukses memamerkan deretan giginya yang putih, lalu segera menarik Cecilia masuk ke dalam pelukannya dan memberikan perempuan itu kehangatan dalam dekapannya.
“Cecil, maafin gue, ya ... Gue nggak bermaksud untuk merendahkan lo atau apapun itu. Karena hal ini, gue jadi belajar, nggak seharusnya gue ngegampangin sesuatu dengan iming-iming hadiah ...”
Cecilia memukul pelan dada Winwin. “Kenapa aku doang yang nggak dikasih tau sama Kak Win? Bahkan Kesha tau kalo Kakak pergi,” protes Cecilia dengan nada sedikit merajuk.
Sebenarnya Cecilia tidak terlalu pusing dengan Winwin dan hadiah yang ia janjikan saat kembali dari US. Ia lebih merasa kesal karena ia tidak diberitahu apapun oleh Winwin perihal kepergiannya.
Winwin melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Cecilia. Bibir mungil perempuan itu sedikit mengerut, membuat wajahnya terlihat dua kali lebih menggemaskan dibandingkan biasanya.
“Tadinya gue mau ngomong pas kita beli cupang Yere, tapi karena hari itu mood lo kurang bagus, jadi gue tunda. Salah gue juga sih, gue nggak langsung bilang besoknya.”
“Ngeselin,” protes Cecilia lagi sambil kembali memukul pelan dada Winwin.
“Udah dong, marahnya ... Maafin gue, ya?” pinta Winwin sambil berusaha menatap mata Cecilia yang sedari tadi berusaha menghindari tatapannya.
“Iya, tapi lain kali jangan gini lagi.”
“Oke, promise.” Winwin mengulurkan jari kelingkingnya. Cecilia menatap sebentar jari itu sebelum membalasnya dengan mengaitkan kelingking miliknya dengan milik Winwin.
“Sekarang jangan cemberut lagi,” pinta Winwin lagi, kali ini nada bicaranya terdengar seperti anak kecil.
“Ih, siapa yang cemberut,” balas Cecilia malu-malu.
“Udah baikan, kan?” Suara Traven berhasil menyela percakapan di antara Winwin dan Cecilia. Winwin mengangkat alis mengiyakan pertanyaan Traven sementara Cecilia yang masih salah tingkah kembali menunduk.
“Nggak usah malu sama gue, Cil. Gue ngerti kok kenapa lo marah, emang perlu diambekin dulu manusia satu ini biar kapok,” sambung Traven. Winwin melirik tajam ke arah Traven tapi lelaki itu terlihat tidak peduli.
“Yer! Sini!” panggil Traven menyadari Yeremia masih duduk manis memunggungi mereka bertiga.
Sambil membawa tas selempang dan mendorong koper milik Winwin, Yeremia menghampiri abang-abangnya dan juga Cecilia.
“Udah baikan?” Pertanyaan yang sama diucapkan Yeremia.
“Udah.” Bukan Cecilia atau Winwin yang menjawab melainkan Traven. “Eh, lo masih ada waktu sebelum masuk boarding room, kan?” Traven kembali bicara dengan Winwin.
Winwin mengangguk. “Kurang lebih 45 menit. Kenapa?”
“Yaudah, makan dulu, yuk. Hokben. Laper,” jawab Traven sambil mulai berjalan ke arah restoran yang dimaksud.
Karena Winwin, Cecilia dan Yeremia tidak beranjak dari tempatnya, Traven melayangkan protes, “woi, lo pikir nyetir Cibubur-Soetta nggak bikin perut laper apa?”