We've been through it

Sinar matahari yang masuk dari sela tirai jendela kamar sukses membangunkan sang penghuni kamar. Pagi itu, masih dengan rasa kantuknya, Winwin memaksakan diri untuk bangun dari kasur dan keluar kamar.

Morning, Kal,” ucapnya dengan suara parau sambil berjalan mengambil air putih di dispenser sudut ruangan.

Biasanya ia akan mencium pipi Kalina dahulu, tapi pagi ini tidak—mengingat apa yang terjadi dua hari sebelumnya, rasanya masih terlalu canggung untuk melakukan kebiasaan paginya.

“Sarapan pancake, ya?” tawar Kalina yang sudah kembali ke dapur dan tengah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan mereka.

Winwin hanya mengangguk saat kedua netra miliknya bertemu dengan milik Kalina.

Do you feel better, Kal?” Winwin membuka topik baru—lebih tepatnya menyinggung kembali apa yang tengah terjadi di antara mereka berdua. Kini dirinya sudah duduk di kursi meja makan, memperhatikan Kalina yang asyik sendiri di dapur. Pemandangan yang tidak akan pernah bosan ia lihat, terutama saat memorinya selalu ingat dapur apartemen itu menjadi titik awal hubungan mereka berdua.

Karena Kalina tidak langsung menjawab, Winwin melanjutkan kalimatnya. “If yes, let's talk.

Kalina masih diam tapi Winwin tidak menunjukkan raut wajah protes apalagi marah. Ia pun sabar menunggu sampai Kalina selesai memasak dan duduk di seberangnya.

Sorry, for being rude last Friday.” Kalina akhirnya buka suara. “Aku kecewa, tapi maaf aku nggak bisa kontrol emosiku sendiri.”

Winwin menaruh kembali garpu pisaunya, pandangannya berganti menatap Kalina hangat dengan senyum tipis di wajahnya.

“Aku juga minta maaf karena udah ingkar janji, Kal. Dan maaf juga, karena sempat kasar ke kamu.”

Kalina menggeleng. “Nggak, apa yang kamu bilang malam itu bener. Kalau aku di posisi kamu, kemungkinan besar aku juga akan bilang hal yang sama kayak kamu.

“Justru aku berterima kasih sama kamu, karena kata-kata kamu kemarin Jumat, aku jadi mikir lagi kalau aku selama ini aku cukup salah karena terlalu memendam emosiku sendiri.”

Winwin meraih tangan Kalina di atas meja dan mengelusnya perlahan. “New lesson learned, Kal, and I'm so proud that in fact we could get through this problem together.

“Kecewa, marah, sakit hati, semua manusiawi. Memendamnya sendiri atau mengekspresikannya juga pilihan yang aku yakin bisa kamu pertimbangkan baik-baik setelah kejadian ini. Sekarang aku bangga, kita sukses menyikapi dan menyelesaikan masalah ini dengan kepala yang udah jauh lebih dingin dan hati yang udah siap. We did it, Sayang ...”

Sounds agak narsis, ya ... Bangga dengan pencapaian diri sendiri ...” ujar Kalina dengan senyum lebar di wajahnya. Senyuman yang sangat dirindukan Winwin.

“Lho, emang kamu nggak bangga lihat suami kamu nggak nyentuh any alcohol padahal aku kemarin sedihnya kebangetan?”

Kalina membalas pertanyaan bercanda Winwin dengan sentilan ringan di dahi lelaki itu. “Mending kamu makan pancake-nya sebelum jadi dingin.”

“Nanti malem tidurnya di kamar, ya, jangan di kamar Dede lagi ... Please ... Aku cukup desperate dua malam peluk guling doang. I want you.” Winwin kembali bersuara setelah beberapa suapan.

“Win!” Kalina hampir saja kembali menyentil lebih keras dahi Winwin tapi pria itu sudah terlebih dahulu melindungi dahinya dengan kedua tangannya.

“Cium, jangan sentil!”

“Nggak! Sentil lebih cocok soalnya kamu ngeselin!”

“Ngeselin atau ngangenin?” Winwin menjulurkan lidahnya sementara Kalina sudah menyerah dengan permainan perdebatan yang harus ia akui kalau Winwin akan selalu keluar sebagai juaranya.

Melihat Kalina yang hanya diam dengan bibir mengerucut, Winwin segera bangkit berdiri dan mencium kening Kalina. Wanita itu terperangah—ia mendanga dan mendapati Winwin menatapnya hangat dengan jarak kurang dari lima belas sentimeter.

Tidak mau membuang kesempatan yang ada—karena wanita yang duduk di hadapannya masih diam terpaku, Winwin kembali mencium kening Kalina, kali ini jumlahnya naik dua kali lipat.

“Bayar hutang, soalnya kemarin pagi aku nggak cium kamu. I do love you, sweetheart.

— E N D —