Announcement Day
Hari yang ditunggu seluruh siswa kelas 3 SMA Altaire tiba; hari pengumuman kelulusan mereka. Seluruh murid bersama orang tuanya masing-masing datang ke sekolah dengan dresscode kebaya untuk perempuan dan setelah jas untuk laki-laki. Termasuk Cecilia, perempuan itu datang mengenakan kebaya model kutubaru berwarna kuning pastel dipadu dengan rok batik panjang selutut. Tidak ketinggalan heels coklat muda yang ia beli beberapa hari lalu menemani langkah semangatnya memasuki gedung SMA Altaire.
“Cecil!” panggil seseorang dengan semangat dari arah belakang Cecilia. Perempuan itu bersama kedua orang tuanya kompak menoleh, mendapati Yeremia yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Halo, Om, Tante,” sapa Yeremia dengan ramah. Kedua orang tua Cecilia hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka pergi terlebih dahulu ke aula.
“Mami lo mana, Yer?” tanya Cecilia karena melihat Yeremia datang sendirian.
“Mami udah di aula duluan,” jawab Yeremia sambil keduanya mulai berjalan menuju aula tempat dilangsungkannya acara pengumuman kelulusan.
“Deg-deg-an nggak Cil?” tanya Yeremia membuka topik pembicaraan yang baru.
“Deg-deg-an, sih, tapi yakin pasti Altaire seratus persen lulus.”
“Lo nggak ada feeling apa-apa gitu, Cil?” Pertanyaan Yeremia mulai menjurus ke arah lain di luar pengumuman kelulusan tapi sepertinya Cecilia tidak mengerti karena perempuan itu hanya menggeleng pelan.
“Eh, kalo nanti balik dari pengumuman lo ikut nongkrong di Lawson, mau nggak? Nanti ada bang Traven juga,” ucap Yeremia lagi. “Kalo lo ragu, nanti gue yang izin deh sama bokap nyokap lo,” sambungnya.
Cecilia buru-buru menggeleng. “Eh, nggak usah. Nanti gue izin sendiri aja.”
Karena tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, keduanya pun terdiam hingga mereka tiba di aula. Kondisi aula sudah cukup ramai, Cecilia dan Yeremia sendiri harus berpisah karena orang tua mereka duduk di sisi yang berbeda; orang tua Cecilia di sisi kanan aula sementara orang tua Yeremia di sisi kiri.
Tidak lama setelah Cecilia bergabung dengan orang tuanya, acara pengumuman kelulusan itu dimulai. Salah satu guru SMA Altaire yang didaulat menjadi MC mulai memandu jalannya acara siang itu; dimulai dari kata sambutan ketua Yayasan Anantara sebagai yayasan yang menaungi SMA Altaire (alias ayah dari Kesha), kata sambutan dari kepala sekolah SMA Altaire hingga yang terakhir perwakilan dari salah satu murid kelas 3 SMA Altaire.
Setelah sesi kata sambutan selesai, berikutnya adalah acara inti, yaitu mengumumkan kelulusan siswa-siswi SMA Altaire.
“Dengan surat ini, dinyatakan bahwa siswa-siswi SMA Altaire lulus seratus persen!”
Sontak gegap gempita memenuhi aula SMA Altaire yang besar. Para siswa refleks berdiri dan berpelukan satu sama lain, sementara orang tua masing-masing siswa memberikan tepuk tangan sebagai rasa syukur dan juga ucapan selamat untuk putra-putri mereka.
“Cecil, selamat ya, Nak …” ucap ayah Cecilia seraya memeluk dan mencium puncak kepala putri semata wayangnya. Cecilia hanya mengangguk-angguk antusias di dalam pelukan ayahnya.
Selesai berpelukan dengan ayahnya, gantian Cecilia masuk ke dalam pelukan sang ibu. “Selamat ya, Sayang … Mama papa bangga sekali sama kamu,” ucap ibu Cecilia lalu ia juga mencium pelan kening Cecilia.
“Makasih ya, Ma, Pa,” balas Cecilia senang.
Selesai mengumumkan kelulusan seratus persen siswa-siswi SMA Altaire, sang MC kini mulai mengumumkan siswa ranking 3, 2, 1 dalam Ujian Nasional, sekaligus mengumumkan siapa yang menjadi juara umum angkatan limabelas SMA Altaire.
Ranking 3 dan ranking 2 sudah diumumkan, sudah berdiri pula sepasang siswa-siswi kelas 3 SMA Altaire di atas panggung, yang nantinya akan menerima beberapa hadiah dari yayasan Anantara.
“Dan sekarang, untuk ranking satu dalam Ujian Nasional, sekaligus menjadi juara umum angkatan ke-limabelas SMA Altaire, adalah … Cecilia Daniela! Selamat!”
Mata Cecilia melebar tidak percaya. Ayah Cecilia kali ini bangkit berdiri dan segera memeluk putrinya yang masih bengong di tempat duduknya.
“Cecil! Cecil! Cecil!”
Seisi aula memanggil nama Cecilia, menyadarkan perempuan itu dari ketidakpercayaannya dan sekaligus segera meminta Cecilia untuk naik ke atas panggung.
“Selamat, Cecilia!” ucap sang MC sambil menyalami Cecilia. Cecilia menyambut uluran tangan itu sambil mengangguk dan tersenyum kaku karena ia masih tidak menyangka ia mendapatkan juara pertama.
“Dan sekarang akan saya undang perwakilan dari donatur yayasan Anantara, untuk memberikan hadiah kepada murid-murid SMA Altaire yang berprestasi ini.”
Segera setelah sang MC selesai berbicara, seorang laki-laki dengan setelan jas serba hitam keluar dari balik panggung. Semua murid yang hadir di aula terkesiap, bahkan sang MC pun terlihat tidak percaya dengan si pemberi hadiah itu.
“Damian?!” tanya guru Geografi yang bertugas sebagai MC dengan nada tak percaya.
Mendengar nama Winwin dipanggil, Cecilia menoleh ke belakang; Winwin tengah berjalan dari belakang panggung menuju tengah panggung dengan senyum terbaik yang ia berikan siang itu untuk semua yang hadir dan terlebih untuk Cecilia, yang sekarang terlihat sangat bingung karena tidak percaya dengan siapa yang ia lihat saat itu.
Winwin hanya mengangguk sopan menjawab sapaan mantan gurunya, kemudian ia menjalankan tugasnya; memberikan hadiah berupa medali dan sebuah amplop kepada masing-masing juara tak terkecuali Cecilia, sebagai juara pertama dan penerima hadiah yang terakhir.
“Congrats ya, Cil,” ucap Winwin pelan sambil mengalungkan medali ke leher Cecilia. Perempuan itu hanya diam menunduk.
“Cil?” panggil Winwin karena Cecilia terus menunduk. Karena tidak ada jawaban dari Cecilia, Winwin sedikit merendahkan kepalanya agar bisa melihat wajah perempuan itu. “Cil?” panggilnya lagi.
“Kesel banget aku sama Kakak …” ucap Cecilia pelan, lalu kalimat itu terputus karena detik berikutnya perempuan itu menangis. Refleks, Winwin memeluk Cecilia, membuat seisi aula semakin gaduh.
“Cie … Cie … Jadian! Jadian!”
Sang MC pun berusaha menenangkan murid-murid di aula siang itu. “Sebentar, sebentar …” ucapnya lalu pandangannya beralih kepada Cecilia yang sudah melepaskan diri dari pelukan Winwin dan sedang menyeka pelan air matanya. “Cecil kenapa nangis?” tanyanya dengan microphone menyala.
Cecilia hanya menggeleng pelan, membuat murid-murid di aula kembali gaduh dan menggaungkan kalimat yang sama.
“Oke, anak-anak, semuanya harap tenang,” perintah MC lagi dan seisi aula kembali tenang. “Medali dan hadiah sudah diterima semua, ya?” Kali ini MC bertanya kepada para siswa-siswi yang berdiri di atas panggung. Semua mengangguk kompak, tidak terkecuali Cecilia.
“Baik, kalau begitu semua boleh kembali ke tempat duduk masing-masing. Dan untuk Damian, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara pengumuman kelulusan kelas 3 SMA Altaire tahun ini.”
Winwin hanya mengangguk sopan mengiyakan pernyataan sang MC, kemudian tanpa berbicara apapun dengan Cecilia, ia kembali ke belakang panggung, menghilang di balik tirai panggung SMA Altaire yang megah, membuat Cecilia yang sedari tadi berharap sesuatu dari lelaki itu dan tidak melepas pandangannya dari Winwin sedikit kecewa.