Dunia (Memang) Tidak Adil
Setelah mencari tahu harus pergi ke mana demi membeli hadiah untuk Yeremia, Winwin segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu pusat penjualan ikan cupang terbesar di Jakarta dengan Cecilia duduk manis di sisi kirinya.
Tidak banyak percakapan di antara mereka berdua, Winwin lebih memilih untuk bersenandung pelan mengikuti alunan lagu dari radio yang ia pasang sementara Cecilia menikmati pemandangan ibukota dari balik jendela mobil Winwin.
“Udah daftar buat beasiswa kuliah, Cil?” tanya Winwin, mencoba memecah keheningan di dalam mobil itu.
“Oh, udah, Kak,” jawab Cecilia sedikit kikuk.
“Backup plan-nya apa, Cil, kalau amit-amit nggak dapet beasiswa?”
“SNMPTN, Kak. Kalaupun nggak tembus juga, paling nggak kuliah dulu setahun. Nabung dulu buat daftar di PTN tahun depan,” jawab Cecilia menjelaskan.
“Oh, oke oke …” Dan keduanya kembali terdiam hingga mobil Winwin tiba di tujuan. Keduanya segera turun dari mobil dan melangkah menuju tempat yang mereka sudah cari sebelumnya di internet.
“Selamat datang, Mas, Mbak, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang laki-laki yang sepertinya pegawai toko yang didatangi Winwin dan Cecilia.
“Mas, saya cari cupang buat temen saya. Kira-kira ada rekomendasi nggak?”
Pertanyaan Winwin disambut senyum sumringah dari sang pegawai toko. Ia segera menuntun Winwin dan Cecili ke salah satu kotak akuarium berisikan ikan cupang dengan motif warna-warni.
“Ini, Mas. Ini yang terbaik dari toko kami.”
“Harganya berapa, Mas?” tanya Winwin lagi.
“Untuk cupang ini delapan juta aja, Mas. Baru menang kontes juga kemarin.”
Baik Winwin maupun Cecilia refleks saling tatap satu sama lain dengan mulut sedikit terbuka. Cecilia buru-buru menarik pelan lengan Winwin agar sedikit menjauh dari si pegawai toko.
“Kak, mending kita tangkep aja di empang,” ucap Cecilia karena ia merasa sayang dengan jumlah uang yang menurutnya terlalu besar untuk seekor cupang.
Winwin hanya tersenyum tipis. “Masa gue ngebiarin lo nangkep cupang buat Yere, sih? Enak aja, kesenenengan nanti dia,” balas Winwin pelan lalu ia kembali berbicara dengan sang petugas tadi. “Mas, saya ambil, ya. Sekalian sama akuariumnya juga bisa, kan?”
Senyum sumringah di wajah petugas toko itu semakin terlihat jelas. Ia mengangguk-angguk penuh semangat menjawab pertanyaan Winwin. “Bisa, Mas. Bisa banget. Saya beresin dulu ya, Mas. Transaksinya nanti di kasir sebelah sana,” ucap si petugas toko seraya menunjuk meja kasir yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Cecilia hanya menghela nafas pasrah sambil geleng-geleng kepala. “Padahal kalo nangkep sendiri bisa, lho … Bukannya lebih bagus kasih sesuatu dari hasil jerih payah kita, ya?”
Winwin memandangi Cecilia sejenak sebelum membalas pertanyaan perempuan itu. “Iya, kasih sesuatu dari hasil jerih payah kita emang lebih bagus, Cil, tapi masalahnya cupang ini nggak ada di empang …” Kemudian Winwin mengacak pelan rambut Cecilia sebelum meninggalkan perempuan itu untuk membayar belanjaannya.
*
“Sekarang lo mau ke mana?” tanya Winwin begitu mereka berdua sudah kembali berada di dalam mobil, dengan ikan cupang hadiah untuk Yeremia tergeletak manis di atas kursi penumpang belakang. Ikan cupang beserta akuariumnya di bungkus rapi dengan boks sterofoam warna putih yang tutupnya direkatkan dengan lakban bening.
Cecilia hanya diam, ia sudah memakai seat belt-nya, tapi matanya seperti sengaja menghindari tatapan Winwin.
“Cil, lo marah?” tanya Winwin lagi, kali ini dengan nada bicara lebih pelan dan hati-hati.
Cecilia hanya menggeleng, tapi sedetik kemudian ia dapat merasakan matanya memanas dan pipinya basah karena air matanya.
“Cil, lo kenapa? Kok nangis?” kali ini Winwin bertanya dengan panik sambil mengambil tissue mobilnya dan memberikannya kepada Cecilia.
Cecilia menggeleng cepat. “Nggak, nggak papa. Aku kadang ngerasa dunia se-nggak adil ini untuk aku. Aku harus jungkir balik demi sekolah di sekolah di tempat yang bagus, sementara kakak dengan gampangnya beli cupang seharga uang SPP buat 3 bulan.”
Kali ini Winwin terkesiap. Ia tidak menyangka Cecilia akan sampai pada pemikiran itu. Ditatapnya perempuan mungil yang masih sesenggukan di kursi penumpang itu.
“Aku nggak ngiri sama Kak Win, nggak ngiri juga sama Kesha. Aku juga nggak pernah protes kenapa aku harus lahir dari keluarga biasa aja, tapi aku ngerasa nggak adil aja.”
“Cil, sorry … Gue nggak pernah bermaksud menyinggung lo dengan ngajak lo beli hadiah buat Yere—”
“Iya, aku tau Kakak emang nggak bermaksud apa-apa. Aku juga nggak nyalahin Kakak, kok. Aku cuma ngerasa memang dunia se-tidak adil ini. Tapi aku bisa apa? Aku nggak bisa apa-apa, kan? Jadi, ini bukan suatu hal yang harus Kakak sesali. It’s okay. Karena dunia se-nggak adil ini, jadi kalau kata Patrick, 'biasakanlah'.”
Cecilia berusaha mencairkan suasana tapi Winwin sama sekali tidak bereaksi karena ia masih merasa bersalah kepada Cecil. Butuh waktu beberapa saat sampai tangis Cecilia mereda. Ia kembali menghapus sisa air mata di wajahnya dan menoleh ke arah Winwin. “Maaf, karena aku suasananya jadi rusak.”
Winwin, seperti biasanya, hanya tersenyum hangat. Ia keluar sebentar untuk membeli sebotol air mineral untuk Cecilia dan segera kembali serta memberikannya kepada perempuan itu.
“Feel much better, Cil?”
Cecilia hanya mengangguk sambil meneguk pelan air mineral pemberian Winwin.
“It’s okay, daripada dipendem, lebih baik emang emosi-emosi kayak tadi dikeluarin aja. Biar nggak jadi toxic juga di dalam diri lo.” Winwin lalu kembali mengenakan seat belt-nya. “Kita makan, yuk? Makan pop mie gimana, mau nggak?”
Dahi Cecilia mengkerut. “Pop mie? Please, ini pikiran aku sama Kakak beda, kan?”
“Kalo pikiran lo pop mie di kantin Altaire, berarti kita beda,” jawab Winwin sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil.