Not an effort, but (indeed) should be done

Kalina terlihat cukup mencolok di antara pengunjung lainnya, dengan hip seat carrier menggantung di tubuhnya, sang buah hati tertidur pulas di sana sementara ia sendiri sibuk memilih sayur-sayuran segar untuk dibawa pulang.

Ekor matanya menangkap sosok lelaki yang ia kenal sebagai suaminya berjalan menghampirinya, tapi tidak lantas menghentikan kegiatan belanja bulanannya sampai sosok itu datang dan meraih tangannya.

Just tell me what you need. I'll help you.

Kalina hanya diam menanggapi kalimat lelaki yang kini sudah mengambil alih troli dan mulai mencari barang sesuai catatan yang Kalina tulis di secarik kertas kecil, yang selalu dibawa tiap perempuan itu berbelanja.

Actually tadi pagi Ten ngajak kita buat lunch di apartnya, undangan Jocelyn ...” Winwin diam sejenak untuk melihat reaksi Kalina, tapi wanita itu justru diam menunggu kelanjutan kalimat Winwin. “Tapi aku tolak, aku cerita kenapa and Ten asked me to solve our problem first.

Don't worry, aku nggak cerita detail apa yang terjadi semalam,” imbuhnya mengakhiri kalimatnya.

Kalina melirik tanpa tersenyum sedikitpun. “Mau makan siang apa?” tanyanya mengubah topik pembicaraan. Nada bicaranya masih terkesan dingin.

“Apa aja, aku ikut kamu.”

“Oke, tolong dorong trolinya ke arah daging, Yang.”

Dengan nada datarnya, Kalina mungkin tidak sadar dengan ucapannya sendiri, tapi tidak dengan Winwin. Lelaki itu sadar—sangat sadar—terutama dengan panggilan di akhir kalimat yang ditujukan untuknya.

“Kamu kenapa?” Kalina bingung melihat Winwin tersenyum geli sendiri.

Winwin buru-buru bersikap biasa, seolah tidak ada yang terjadi.

“Nggak papa, nggak papa. Mm anyway aku mau ambil es krim dulu di sana. Bentar, ya, Yang.”

Kalina mengangguk mengizinkan dengan tatapan jauh lebih hangat, reflek membuat Winwin semakin bahagia, langkah kakinya terasa ringan hingga tanpa disadari ia berjalan sedikit berjingkrak layaknya anak kecil mendapat mainan baru.

“Liat tuh, De, kelakuan papa kamu,” gumam Kalina bermonolog dengan ujung bibir terangkat tipis.

*

Rutinitas tiap selesai berbelanja selalu sama; mengganti pakaian Dede dan membiarkannya bermain di ruang tengah, sementara Kalina mulai menyiapkan makan siang.

Kalau Winwin, ia punya beberapa pilihan; menemani sang buah hati bermain, membantu Kalina memasak (tapi biasanya yang ini ditolak mentah-mentah oleh Kalina), bermain PS (biasanya bersama Haechan—adik Kalina), mengutak-atik komputer sekaligus pekerjaannya (hanya memeriksa ala kadarnya), menonton TV, olahraga di gym center atau tidur.

Tapi di hari Sabtu ini, tidak ada satu pun dilakukan Winwin. Lelaki itu memilih melakukan kegiatan baru, yakni duduk di meja makan sembari menemani sang istri memasak.

It feels so awkward by you sitting there right now, don't you?” ucap Kalina dengan mata dan tangan tetap fokus pada masakannya.

We both like quality time—just like our love language— walaupun tanpa berinteraksi satu sama lain, cuma ngabisin waktu sama-sama di ruangan yang sama. But it feels different now.”

“Ngomong apa sih kamu?”

Kalina tidak paham dengan ucapan Winwin, but instead of mengucapkannya ulang, Winwin mempermudah penjelasannya.

“Iya, aku ngerasa beda aja kalau kita have a quality time dengan aku nemenin kamu masak begini, dibanding kalau kita cuma ngabisin waktu sama-sama di tempat yang sama tanpa interaksi, walaupun sebenernya kita berdua nggak masalah sama hal itu. Lagipula setelah dipikir-pikir, aku nggak pernah ngelakuin ini—nemenin kamu masak dan ngejagain Dede.”

Tatapan mata Winwin beralih ke anak semata wayangnya yang asyik sendiri bermain mobil-mobilan.

“Sementara kamu, cukup sering nemenin aku kerja dan jagain Dede sekaligus.”

Kalina tidak merespons celotehan Winwin. Bukannya tidak mau, tapi ia bingung harus membalasnya dengan kalimat apa. Kejadian semalam cukup membuatnya canggung hingga detik ini.

May I help you to do something? Sebelumnya jangan berpikir ini cara aku buat minta maaf atas apa yang terjadi semalam. Aku mau kita bahas yang semalam when we are ready, both heart and mind.

Kalina terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan apa yang bisa dilakukan Winwin untuknya siang ini.

“Buatin Ice Americano buat aku, bisa?”

Senyum merekah di wajah Winwin. “Sure, my lady.”