Hers and Him

Karena Cecilia tak kunjung membalas pesan Winwin, lelaki itu tidak punya pilihan lain selain menunggu acara pengumuman kelulusan itu selesai di depan pintu. Setelah sesi pemberian hadiah tadi masih ada beberapa rangkaian acara, seperti persembahan terakhir dari setiap kelas; ada yang bernyanyi, ada yang membaca puisi, ada juga yang berlakon sederhana. Selain itu juga ada sesi foto bersama yang cukup membuat Winwin harus sabar menunggu.

Akhirnya pintu aula dibuka penanda acara selesai dan para murid mulai keluar dari sana bersama orang tua mereka. Tidak sedikit yang mencuri pandang pada Winwin yang masih setia berdiri di dekat pintu, bahkan ada yang berani menyapa singkat lelaki itu. Winwin tentu saja dengan ramah membalas sapaan itu satu persatu, dengan senyuman khasnya, walaupun hatinya masih dilanda khawatir karena Cecilia tak kunjung keluar dan juga tidak membalas pesannya.

“Damian?”

Suara ayah Cecilia yang menyapa Winwin membuat perasaan lelaki itu kini lebih tenang.

“Siang, Om, Tante,” salam Winwin dengan ramah.

“Cecil, ada Damian itu, kok diem-diem aja?” tanya ayah Cecilia melihat putrinya terkesan menghindari bertatap muka dengan Winwin.

“Tadi udah nyapa di panggung, kan,” jawab Cecilia sekedarnya.

“Om, Tante, saya mau ajak Cecil makan siang, sekaligus ngerayain kelulusan Cecil. Boleh, ya?” Winwin langsung ke inti pembicaraan siang itu, yaitu meminta izin kepada kedua orang tua Cecilia untuk mengajak putrinya pergi.

“Nggak bisa, Kak, aku mau ke rumah tante abis ini, iya kan, Pa?” timpal Cecilia.

Dahi ayah Cecilia mengerut, seperti paham ada sesuatu di antara putrinya dan Winwin. “Ke rumah tante Mira jadinya besok, Nak. Sekarang pergi dulu aja sama Damian.”

Cecilia refleks menoleh ke arah ayahnya, tapi sang ayah hanya tersenyum jahil seraya mengangkat sedikit kedua alisnya.

“Yuk, Cecil? Perut gue udah keroncongan minta diisi, nih,” ajak Winwin.

“Ayo Cecil, kasian itu Damian nanti bisa kena maag.”

Cecilia berdecak pelan karena ia tidak bisa mengelak. Ia kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya dan segera mengikuti Winwin menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir belakang sekolah.

Sepanjang berjalan menuju mobil sampai di dalam mobil, Cecilia hanya diam bahkan terkesan berjalan satu langkah di belakang Winwin. Winwin beberapa kali berusaha mengajak perempuan itu mengobrol, tapi Cecilia hanya menjawab seperlunya saja.

“Cecil, am I doing something wrong? Gue pulang kok bukannya seneng, tapi malah kayak marah gitu sama gue …” ucap Winwin dengan nada kecewa setelah mesin mobilnya berhasil menyala. Hembusan AC mobil Winwin sejenak menyejukkan seisi mobil yang terasa panas karena diparkir di outdoor.

“Iya, aku marah sama Kakak,” jawab Cecilia jujur.

Winwin segera mengurungkan niatnya untuk mengemudikan mobilnya. Ia sedikit memutar tubuhnya agar dapat mengobrol dan melihat Cecilia lebih jelas. “Kenapa, Cil?” tanyanya kemudian.

“Kenapa Kakak nggak pernah cerita apa-apa ke aku? Dari Kakak pergi sampe Kakak pulang, aku nggak tau apa-apa. Iya, aku emang bukan siapa-siapanya Kakak, tapi kan Kakak bisa ngomong sama aku buat hal ini. Buat apa kita selalu chatting-an selama Kakak di US kalau hal kayak gini aja Kakak nggak ngomong ke aku?”

Karena bicaranya menggebu-gebu, selesai berbicara perempuan mungil itu terlihat terengah-engah, ia mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan agar pernapasannya kembali normal.

“Masalah waktu gue pergi gue udah pernah jelasin ke lo, Cil … Dan untuk pulang ini, gue emang sengaja mau kasih surprise buat lo,” jawab Winwin pelan dan sabar. “Maaf kalau surprise gue justru bikin lo nggak nyaman, sampai lo marah gini sama gue.”

Cecilia membalas permintaan maaf Winwin dengan kebiasaannya, memukul pelan Winwin dan kali ini sasarannya adalah lengan lelaki itu.

“Ngeselin … Kakak nggak tau apa, aku kangen banget sama Kakak?! Aku tiap hari nungguin kapan ada chat dari Kakak yang ngasih tau kalo Kakak bakal pulang ... Eh, Kakak malah dateng di acara pengumuman kelulusan … Ngeselin, surprise-nya ngeselin …”

Cecilia kembali melanjutkan tangisnya yang tadi sempat tertunda di atas panggung, sementara Winwin tak kuasa menahan senyum bahagianya. Ia tahu betul kalau sebenarnya perempuan ini tidak marah padanya; perasaan Cecilia hanya sedang dalam fase campur aduk, dan ia tidak tahu bagaimana mengeluarkan hal yang sedang bergumul dalam dirinya itu.

Winwin melepas seat belt yang sudah dikenakan Cecilia lalu merangkul perempuan itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Kemudian ia mengusap pelan puncak kepala Cecilia.

Sorry sorry … Tapi gue juga kangen banget sama lo, Cil,” ucap Winwin sambil masih memeluk Cecilia.

Hanya butuh waktu sebentar sampai perempuan itu puas meluapkan emosinya dalam bentuk tangisan pelan, kemudian setelah ia merasa lebih baik, ia segera melepaskan diri dari pelukan Winwin dan menatap lelaki itu cukup lekat.

Senyum di wajah Winwin memudar, berganti dengan rasa nervous karena untuk pertama kalinya Cecilia memberanikan diri untuk menatap dirinya.

“Kak, aku udah lulus SMA.” Cecilia memulai percakapan baru di antara mereka.

“Terus?” tanya Winwin setengah jahil karena sebenarnya ia paham maksud dari kalimat Cecilia.

“Yaudah ngasih tau aja kalo aku udah lulus SMA,” balas Cecilia sambil melengos karena ia juga paham kalau Winwin sedang mengerjai dirinya.

Winwin refleks tertawa terbahak-bahak. “Lo mau banget gue ngomong di sini? Atau mau di tempat makan siang kita?”

Cecilia menggeleng beberapa kali. “Ah tau ah, udah lupain aja. Aku mau pulang aja, ngantuk.” Kali ini Cecilia benar-benar kelihatan seperti mengambek; ia bersandar di kursinya sambil melipat kedua tangannya di dada. Tingkah Cecilia membuat Winwin tidak dapat berhenti tersenyum.

“Lo mau jadi pacar gue, Cil?”

Akhirnya pertanyaan yang Cecilia tunggu tiba juga. Tapi, Cecilia malah hanya diam setelah mendengar pertanyaan itu.

“Cecil? Ini gue ditolak lagi?” Winwin kembali bersuara.

“Aku nggak denger Kakak ngomong apa.”

Karena jawaban Cecilia, Winwin kembali meraih kedua bahu Cecilia, sedikit memaksa perempuan itu agar kembali menatap dirinya. “Cecilia Daniela, gue suka sama lo. Lo mau jadi pacar gue?” Winwin mengulang pertanyaannya.

“Hm …”

Belum sempat Cecilia menjawab dengan ya atau tidak, sebuah kecupan pelan mendarat di kening Cecilia.

“Bilang iya aja susah banget,” ledek Winwin lalu ia kini mulai mengganti persneling mobilnya dari P ke D.

“KAKAK KOK NYOLONG CIUM-CIUM SIH?! Emang aku izinin?!”

“Siapa suruh lama jawabnya? Pilihannya cuma dua, iya atau iya.”

Cecilia mendengus keras, dengan bibirnya yang maju dan dahinya mengkerut, wajah perempuan itu benar-benar terlihat menggemaskan. “Yaudah, iya.”

“Iya apa? Nggak jelas, ih.” Winwin tidak berhenti meledek Cecilia.

“Iya jadi pacar Kakak. Aku mau jadi pacar Kak Damian Winarta.”

Winwin tersenyum sampai matanya menyipit dan kedua ‘apel’ di pipinya menonjol. Tak mau kehilangan momen, kali ini giliran Cecilia yang mengerjai Winwin; ia mencium ‘apel’ pipi kiri Winwin.

“Cecil!!” teriak Winwin panik karena ia tidak menyangka kali ini gilirannya yang kecolongan dari Cecilia.

Cecilia menjulurkan lidahnya. “Buruan ah, aku laper!”

“Laper atau ngantuk?!”

“Laper!”

“Jadi sekarang i'm yours and you're mine, ya, Cil?” tanya Winwin yang masih senang meledek Cecilia.

“Iya bawel, tapi sekali lagi nanya batal.”

Winwin tertawa cukup keras, perasaannya benar-benar bahagia saat itu. Ia tidak sabar untuk menjalani hari-hari baru selanjutnya sebagai seorang kekasih Cecilia yang sudah ia sukai sejak 3 tahun lalu.

Cecilia pun tidak dapat berlama pura-pura ngambek dengan Winwin, ia ikut tersenyum kala melihat lelaki favoritnya tersenyum tepat di sampingnya. Perasaan bahagia itu menular, dan ia juga tidak sabar untuk menghabiskan hari dan bercerita banyak hal bersama Winwin.

**

“Feeling loved by you; is my favorite feeling.” — Cecilia

“So there's this girl; her laugh makes me smile, her eyes are my favorite color, the way she talks gives me butterflies. The best thing about her, she's mine.” — Winwin

***

E N D