goldeneunoia

Apologize

Situasi pagi hari ini di SMA Altaire cukup ramai dibandingkan hari-hari lain. Ya, itu semua karena Kesha datang bersama kedua orang tuanya. Begitu rombongan keluarga Kesha tiba, mereka segera mengunjungi kepala sekolah sebelum kedua orang tua Kesha mengantarkan putrinya ke kelasnya.

Cecilia yang sudah kembali bersekolah terlihat duduk di mejanya, dengan kedua headset terpasang di telinganya serta novel di tangannya. Ia tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya, tapi lama kelamaan semua orang seperti sedang menaruh perhatian padanya, membuat ia akhirnya melepas pandangannya dari novel yang sedang ia baca.

“Cecilia Daniela?” Ayah Kesha yang sudah berdiri di dekat meja Cecilia bertanya.

Sekilas, Cecilia melihat Kesha yang berdiri satu langkah di belakang ayahnya, kemudian ia mengangguk mengiyakan pertanyaan ayah Kesha. “Iya, Om.”

“Saya ayahnya Kesha, saya datang ke sini mengantarkan Kesha untuk minta maaf ke kamu atas apa yang terjadi beberapa hari lalu.”

Cecilia terperangah. Ia melepas headsetnya agar dapat mendengar lebih jelas kalimat yang diucapkan ayah Kesha padanya.

Ayah Kesha mundur selangkah, ia kemudian merangkul Kesha dan berbisik sebentar dengan putrinya sebelum membiarkan Kesha bicara langsung dengan Cecilia.

“Sorry, Cil, buat yang kemarin. Gue nggak bermaksud ngefitnah lo. Gue ngelakuin itu semua karena gue iri sama lo, maaf ya, Cil ...” Suara Kesha semakin melemah hingga akhirnya ia hanya menunduk lemas karena malu.

Cecilia bangkit berdiri, mendekati Kesha dan memegang kedua lengan perempuan itu. “Makasih, ya, Kesha, udah berani mengakui kesalahan lo. Jujur kalo ngikutin ego gue, gue masih sulit untuk maafin lo setelah lo mempermalukan gue di depan temen-temen satu SMA Altaire. Tapi, gue nggak mau ngikutin ego gue karena gue tau lo sebenarnya nggak seperti itu, kok.”

Kesha tidak dapat menahan air matanya, ia pun segera memeluk Cecilia dan menangis di dalam pelukan sahabatnya. “Maafin gue, ya, Cil ... Maaf ...”

Cecilia hanya mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kesha.

Setelah selesai menumpahkan rasa sesalnya, Kesha segera melepas pelukannya dari Cecilia dan kembali mundur selangkah. Posisinya kini digantikan kembali oleh ayahnya.

“Om dan Mamanya Kesha juga minta maaf ya, Nak, atas perbuatan dan juga perkataan Kesha yang kurang mengenakan di hati Cecilia,” ucap ayah Cecilia sambil mengulurkan tangannya.

Cecilia membalas uluran tangan itu sambil tersenyum lebar. “Iya, Om,” balasnya ramah.

Bel penanda jam pelajaran akan segera dimulai berbunyi. Orang tua Kesha dan Kesha segera berpamitan untuk meninggalkan kelas, membuat Cecilia mengerutkan dahinya karena bingung.

“Kesha, lo mau ke mana?” tanya Cecilia sambil memegang lengan Kesha.

Kesha tersenyum tipis sambil melepaskan tangannya dari genggaman Cecilia. “Gue hari ini bolos dulu, ya, Cil,” jawabnya pelan kemudian ia benar-benar pergi meninggalkan kelasnya dan Cecilia yang masih kebingungan.

Revealing the Truth

Tepat pukul 7 malam, mobil Lamborghini merah milik Winwin terparkir di lobi hotel Kempinski. Setelah menukar kunci mobilnya dengan tiket valet parking, Winwin segera pergi menuju restoran tempat di mana ia, Kesha dan kedua orang tua mereka akan makan malam bersama.

“Nah, akhirnya Damian dateng ...” ucap ayah Kesha yang duduknya menghadap pintu ruang privat yang mereka gunakan. Winwin sedikit membungkuk sopan, kemudian menyalami kedua orang tua Kesha sebelum duduk di sisi kanan ibunya, tepat di seberang Kesha.

“Dimakan appetizer-nya, Damian.” Kali ini giliran ibu Kesha yang angkat bicara. Winwin hanya mengangguk pelan lalu mulai menyumpit dimsum yang tersaji sebagai makanan pembuka malam itu.

“Oh iya, kemarin waktu acara ulang tahun Kesha, Om malah belum ucapin selamat ke Kesha buat olimpiadenya. Selamat ya, Kesha ...”

Kesha tersenyum tipis. “Makasih banyak, Om,” jawabnya dengan nada bicara malu-malu. Persis di depannya, Winwin menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit dimengerti Kesha.

“Gimana sekolahnya, Kesha? Kalau ada kesulitan, tanya aja sama Damian. Dia pasti bakal bantuin, kok ... Kalo dia nggak mau bantuin, laporin aja ke Om.”

Kalimat terakhir dari ayah Winwin membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Winwin.

“Sekolah saya baik, Om. Nggak nyangka, ya, ternyata perjuangan buat bisa dapet slot olimpiade sesulit itu. Trus karena olimpiade aku juga jadi—

“Sulit?” tanya Winwin dengan nada bicara sarkas. Ia kemudian bangkit berdiri, menghampiri ayah Kesha dan menyerahkan ponsel milik Kesha kepada ayahnya.

“Maksa Mr. Robert untuk kasih privat tutor ke lo dan akhirnya maksa Cecilia untuk keluar dari olimpiade, lo sebut itu sulit, Sha?” Winwin memperjelas pertanyaannya. Di sisi kirinya ayah Kesha sibuk membaca isi chat Kesha dengan Mr. Robert dan Cecilia.

“Kesha, ini benar?” tanya ayah Kesha sambil mengangkat sedikit ponsel putrinya.

Kesha yang terlihat panik buru-buru bangkit dari kursinya dan hendak mengambil ponselnya dari ayahnya, tapi Winwin sukses mencegahnya.

“Lepasin!” bentak Kesha.

“Nggak, sebelum lo ngakuin perbuatan lo ke Cecilia kemarin di sini,” balas Winwin dingin. Keduanya saling menatap satu sama lain; Kesha dengan tatapan amarahnya sementara Winwin dengan tatapan tajam khas miliknya.

“Oh iya, di dalam room chat Kesha dan Cecilia, Om dan Tante juga bisa nemuin chat Kesha yang selalu maksa Cecilia buat pergi ke luar supaya dapet izin dari Om dan Tante. Aslinya Kesha pergi sama cowok namanya Javier,” sambung Winwin kemudian.

“Bohong, Pa!”

“Bohong darimananya, Kesha? Semua jelas ada di dalam chat ini!” balas ayah Kesha dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. “Kenapa kamu ngelakuin ini semua, Kesha? Kenapa kamu harus bohong sama Papi Mami?”

“Karena Papi dan Mami nggak pernah percaya sama Kesha! Papi Mami juga nggak sayang sama Kesha! Kesha punya segalanya, tapi Kesha nggak pernah bisa dapetin apa yang Kesha mau! Sementara Cecilia nggak punya apa-apa, dia selalu bisa dapetin apa yang dia mau! Papi Mami selalu sibuk sama urusan kalian masing-masing, sementara papi maminya Cecilia selalu hadir tiap ada acara di sekolah!”

Kedua orang tua Kesha tertegun mendengar jawaban dari putri semata wayangnya. Mereka tidak menyangka kalau ternyata selama ini Kesha menyimpan dendam yang tercipta dari kurangnya perhatian yang mereka berikan.

“Setelah selalu maksain Cecilia dengan kehendaknya, kemarin Kesha ngefitnah sahabatnya sendiri.” Winwin kembali bersuara, ia kemudian mengambil ponselnya sendiri dan memutar rekaman percakapan Kesha dan Geko yang ia salin dari ponsel Kesha.

Ayah Kesha hanya diam, ia memandangi Kesha yang terduduk lemas di lantai sambil menangis. Istrinya berada di sisi Kesha, berusaha menenangkan putrinya.

Pandangannya lalu beralih ke kedua orang tua Winwin yang mulai beranjak dari tempat duduknya. “Mas Winarta, mau ke mana? Menu utama makan malamnya belum dateng, kan,” tanya ayah Kesha dengan nada kebingungan.

“Maaf sekali, Mas Yogi. Sepertinya acara makan malam ini harus batal. Dan juga, saya harus mempertimbangkan kembali donasi yang akan saya berikan ke Yayasan Anantara,” jawab ayah Winwin datar dan dingin, tidak berbeda jauh dengan anaknya.

“Tapi Mas, masalah Kesha nggak ada hubungannya dengan donasi Yayasan Anantara.”

Kedua orang tua Winwin berhenti melangkah, kemudian ayah Winwin berbalik dan kembali menanggapi kalimat dari ayah Kesha. “Jelas sekali ada hubungannya, Mas Yogi. Baik buruknya sebuah yayasan tentu saja dimulai dari pemiliknya. Kalau seperti ini cara Mas Yogi mendidik Kesha, saya jadi ragu bagaimana Mas mengelola yayasan dan juga para penerima beasiswa.”

Setelah selesai berbicara, kedua orang tua Winwin kembali berbalik dan pergi meninggalkan ruangan privat itu, disusul oleh Winwin yang berjalan di belakang keduanya.

Chaotic

Masih merasa sedikit kesal karena Cecilia tidak mau menyusulinya ke kafetaria, Kesha segera menghabiskan ice milo miliknya dan pergi meninggalkan kafetaria sekolahnya. Jam pelajaran yang kosong siang itu ternyata tidak seindah bayangannya. Teman-teman sekelasnya cenderung berkumpul secara bergerombol, membuat dirinya sulit untuk bergabung.

Kesha berjalan menyusuri lorong dengan langkah gontai. Ia memang memiliki segalanya, seluruh penjuru sekolah juga kenal dengan dirinya, tapi ia selalu merasa kesepian, membuat ia merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Langkah kaki Kesha membawa perempuan itu sampai di lobi gedung sekolahnya. Di sana ia menemukan beberapa kakak kelasnya termasuk Gerald Kosasih, atau yang akrab disapa Geko.

“Geko!” panggil Kesha riang sambil menghampiri lelaki itu.

“Jam kosong, ya?” tanya Geko setelah memisahkan diri dari teman-temannya. Teman-teman Geko pergi ke luar sekolah karena sebuah urusan, sementara Geko izin akan menyusuli mereka setelah ia selesai mengobrol dengan Kesha.

Kesha mengangguk. “Iya, nih. Ma'am Sandara nggak masuk, katanya sakit.”

“Nggak ada tugas?”

“Udah, tapi udah beres.”

Kesha kemudian duduk di kursi meja piket yang tak berpenghuni sementara Geko berdiri dan bersandar di meja itu. Mata Kesha menangkap microphone yang selalu digunakan guru piketnya untuk mengumumkan sesuatu di sekolahnya. Kemudian ia melirik cepat ke arah Geko yang sedang memperhatikan hal lain dan dalam seketika otaknya memikirkan sebuah skenario yang 'menarik'.

“Oh iya! Geko, lo belum cerita kemarin jalan sama Cecil ngapain aja,” ucap Kesha kembali membuka percakapan di antara mereka. Jari tangan kanannya menekan tombol rekam di voice memos ponselnya.

Doing nothing. Cuma muter-muter, ke H&M sama ke Gramed.”

“Dia beli baju?” pancing Kesha lagi.

“Oh itu ... iya, gue beliin aja abis kasian banget, masa tiap liat baju, diliat juga sih price tag nya. Is she that poor? Masa purchase baju dua ratus ribu aja nggak bisa, sih?”

Kesha tersenyum dikulum, berusaha untuk tidak tertawa mendengar jawaban Geko yang tidak menyadari kalau percakapan mereka sedang direkam olehnya.

“Jangan dibiasain tau, Ge. Gue kasih tau ya, dia tuh awalnya doang keliatan nolak. Setelah itu mah pasti bakalan nagih minta beliin lagi. Nih, gue contohnya. Sekali anter jemput dia, eh keterusan. Sekarang setiap pergi dia selalu minta anter jemput gue,” timpal Kesha dengan wajah sok memelas. “Trus trus, makan siang apa kalian?” Kesha semakin sengaja memancing Geko dengan pertanyaan lainnya.

“Paulaner Brauhaus! Gila, susah banget ngajak dia makan enak. Padahal gue udah bilang gue bakal bayarin, dia nolak mulu dengan alesan nggak enaklah, susah mau gantinyalah. Hello, emangnya gue sama miskinnya kayak dia? Didn't she ever hear about Kosasih Corp?” Geko menjawab pertanyaan Kesha dengan berapi-api dan diakhiri dengan ia memutar bola matanya karena kesal.

Calm down, calm down,” timpal Kesha setenang mungkin, padahal hatinya sedang gegap-gempita, tidak sabar untuk melaksanakan skenario di otaknya.

“Eh, gue harus cabut. Ini udah di chat sama Alfian.”

Kesha hanya mengangguk-angguk membalas kalimat Geko. Lelaki itu pun segera pergi meninggalkan Kesha seorang diri di meja piket.

Setelah kepergian Geko, Kesha memperhatikan keadaan sekeliling lobi sekolahnya. Sepi, tidak ada siapapun di sana karena jelas saja jam pelajaran masih berlangsung hingga jam dua belas lebih sepuluh menit.

Perlahan Kesha menekan tombol on pada microphone di meja piket itu. Ia menekan tombol play pada voice memos ponselnya dan begitu rekaman percakapannya dengan Geko mulai, Kesha segera pergi meninggalkan meja piket itu.

*

Jam pelajaran kosong digunakan Cecilia dengan membaca novel barunya, sambil mendengarkan musik menggunakan headset dari ponselnya di perpustakaan. Hanya ada Cecilia dan beberapa teman sekelasnya di perpustakaan itu, membuat suasana perpustakaan tidak terlalu berisik.

Tiba-tiba terdengar suara percakapan Kesha dan Geko di speaker sekolahnya. Karena Cecilia masih asyik mendengarkan musik, ia tidak menyadari hal tersebut hingga temannya melepas paksa headsetnya.

“Cecil!” desis Kevin, teman sekelas Cecilia yang melepas headset dari telinga perempuan itu. Awalnya Cecilia ingin protes, tapi suara Kesha dan Geko di speaker sekolahnya menghentikan niatnya.

“Jangan dibiasain tau, Ge. Gue kasih tau ya, dia tuh awalnya doang keliatan nolak. Setelah itu mah pasti bakalan nagih minta beliin lagi. Nih, gue contohnya. Sekali anter jemput dia, eh keterusan. Sekarang setiap pergi dia selalu minta anter jemput gue.”

Cecilia bangkit dari kursinya dengan ekspresi tak percaya dan mundur selangkah, membuat ia menabrak kursi yang ia duduki tadi.

“Trus trus, makan siang apa kalian?”

“Paulaner Brauhaus! Gila, susak banget ya ngajak dia makan enak. Padahal gue udah bilang gue yang bakal bayarin, dia nolak-nolak mulu dengan alesan nggak enaklah, susah mau gantinyalah. Hello, emangnya gue sama miskinnya kayak dia? Didn't she ever hear about Kosasih Corp?”

Kalimat berikutnya terlalu sulit untuk didengar oleh Cecilia. Pandangannya sudah mengabur, pelupuk matanya penuh dengan air yang siap tumpah kapan saja. Kevin yang tadi menarik headset Cecilia berusaha mengajak perempuan itu untuk bicara tapi Cecilia tidak menggubrisnya. Ia segera menyambar novelnya dari meja perpustakaan dan pergi dari situ.

Cecilia berlari sekuat tenaga menuju kelasnya. Ia tahu siapa dalang di balik ini semua. Tapi langkah kakinya terhenti saat dilihatnya teman-teman sekelasnya sedang menunggui dirinya di depan kelas.

Cecilia pun segera balik badan, tapi suara sepatunya menyadarkan teman-temannya akan kehadirannya.

“Cecil! Wah, nggak gue sangka, ternyata ...”

“Bohong! Gue nggak kayak gitu!” potong Cecilia, suaranya menggema mengisi lorong sekolah yang sunyi sepi.

Jawaban Cecilia seolah-olah sulit untuk dipercaya oleh teman-temannya. Mereka justru dengan sengaja berbisik-bisik membicarakan Kesha dan keluarganya.

“Nggak heran sih gue, mana mungkin anak kayak Cecil temenan sama Kesha tanpa ada maksud terselubung?”

“Oh iya, lo tau nggak sih kalo bokapnya Kesha tuh cuma jualan mie ayam doang?”

“Ugh, she's so gross.

Cecilia tidak dapat berdiri berlama-lama lagi di situ, ia pun segera pergi berlari meninggalkan sekolahnya, tanpa mempedulikan Yeremia yang terus memanggil namanya.

“Tau nggak, yang menjijikan tuh lo-lo semua!” geram Yeremia dengan tatapan tajamnya, lalu ia juga segera pergi dari sekolahnya untuk mengejar Cecilia.

Guidance

“Cil?”

Suara hangat Winwin menyapa dari ujung telepon Cecilia. Cecilia berdeham pelan sebelum membalas sapaan Winwin.

“Kenapa, Kak?” tanya Cecilia pelan.

“Sini, biar gue bantuin lo kasih tau kalo pulang dari GI ke Cibubur gimana.”

Cecilia diam. Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi dari mana Winwin mengetahui kondisinya saat ini. Dan juga untuk apa mengelak, kala ia memang sedang butuh bantuan untuk pulang.

“Makasih sebelumnya, Kak,” balas Cecilia sopan.

“Pertama, biar cepet lo naik MRT dulu sampe Senayan. Jalan ke stasiun MRT dari GI agak jauh, sih. Gapapa, kan?”

Cecilia mulai melangkah keluar dari Grand Indonesia sambil menjawab pertanyaan Winwin. “Nggak papa kok, Kak.”

“Oke.”

“Abis naik MRT aku naik apalagi, Kak?” Gantian Cecilia yang bertanya.

“Naik MRT aja dulu. Teleponnya jangan diputus, gue temenin selama lo di perjalanan.”

“Hah?”

“Bentar, Cil. Gue bikin kopi dulu, ya. Lo kabarin kalo udah sampe Senayan. Kabarin juga kalo ada apa-apa.”

“Oke, Kak.”

Karena memakai headset, Cecilia dapat menyimpan ponselnya di dalam tas. Ia berjalan dalam diam, dengan suara sendok dan gelas beradu di seberang telfon, tanda lawan bicaranya di sana memang benar sedang menyeduh segelas kopi.

“Udah di mana, Cil?” tanya Winwin setelah hampir sepuluh menit meninggalkan Cecilia di telepon.

“Udah di stasiun MRT. Ini keretanya udah dateng.”

“Oke, kalo gitu naik dulu. Kabarin kalo udah mau sampe Senayan.”

Cecilia menuruti Winwin. Sepanjang Bundaran HI sampai Senayan, Cecilia hanya diam, memperhatikan orang-orang yang keluar masuk bergantian di setiap stasiun, hingga kereta yang ditumpanginya tiba di Senayan.

“Kak, aku udah nyampe Senayan,” ucap Cecilia sesuai pesan Winwin beberapa saat lalu.

“Oke. Sekarang ke halte Transjakarta, terus di sana naik bis jurusan Pinang Ranti. Mungkin agak lama, tapi tungguin aja. Biar lo nggak bete, gue pasangin lagu, ya …”

Cecilia yang bingung harus menjawab apa lagi-lagi hanya terdiam. Tidak lama setelah Winwin selesai berbicara, terdengar alunan lagu soft jazz yang dipasang Winwin untuk Cecilia.

“Sengaja gue pasang lagu kayak gini, biar lo nggak panik. Udah dateng belum, bisnya?”

“Belum, Kak. Di TV yang di halte tulisannya 15 menit lagi.

“Yaudah tungguin aja, itu cukup akurat, kok.”

Dan kembali Cecilia menunggu sesuai arahan Winwin, seraya mendengarkan playlist yang dipasang mantan kakak kelasnya itu untuk dirinya.

“Kak, bisnya dateng.” Suara Cecilia membuyarkan keadaan tenang di antara mereka berdua.

“Oke, duduknya jangan paling belakang. Deket sopir aja, yang bangku khusus cewek.”

“Itu buat ibu-ibu hamil, Kak.”

Cecilia dapat mendengar Winwin tertawa pelan. “Maksud gue yang deretan sebelahnya, Cil.”

“Oh, hehehe ... oke, Kak.”

“Btw, kabarin gue kalo udah sampe halte BNN.”

“Oke, Kak.”

Suara playlist milik Winwin kembali mengisi kedua telinga Cecilia, menemani perempuan itu hingga tiba di halte yang disebutkan Winwin tadi.

“Kak, aku udah di BNN.”

“Oke, abis ini halte UKI. Lo turun di sana dan ganti bis ke halte BKN. Tanya petugasnya aja, ya, pintunya yang mana buat nunggu bis yang ke halte BKN.”

“Oke, siap, Kak.”

Semua ajaran Winwin dilakukan Cecilia dengan baik. Begitu turun dari bis, Winwin dapat mendengar cukup jelas suara Cecilia yang bertanya di mana pintu untuk menunggu bis yang dapat membawanya ke halte BKN. Sambil menyeruput kopinya, Winwin tidak dapat berhenti tersenyum bangga.

“Udah dapet, Cil?”

“Udah, Kak! Ini bisnya juga udah dateng.” Terdengar suara Cecilia jauh lebih riang dibandingkan beberapa saat lalu.

“Oke, itu jaraknya cuma satu halte aja, Cil. Jangan sampe kelewatan, ya. Nyampe BKN kabarin lagi.”

“Oke, Kak.”

Dan benar, sesuai perkataan Winwin, bis itu dengan cepat tiba di halte BKN yang hanya berjarak satu halte dari halte Cawang UKI.

“Kak, aku udah di BKN,” lapor Cecilia.

“Oke, sekarang lo tinggal tunggu bis yang ke arah Cibubur.”

“Hah? Serius, Kak? Ini udah mau nyampe?!” tanya Cecilia tidak percaya dengan nada bersemangat, tapi sedetik kemudian badannya menjadi lesu saat melihat antrian untuk naik bis ke arah Cibubur cukup yang panjang di halte itu.

“Kak, rame banget …”

“Hehe … Emang. Bis ke Cibubur selalu rame. Yang penting lo hati-hati, ya, Cil. Jangan dorong-dorongan. Kalo nggak muat jangan dipaksa. Jaga barang dan jaga diri baik-baik.”

“Iya, Kak … Btw Kak, ini nanti aku turun di mana? Aku mau minta jemput Papa …”

“Turun di McD Jambore aja,” jawab Winwin singkat. “Sampe sini gue nggak usah temenin lo lagi, ya? Gue mau mandi terus siap-siap jemput lo.”

“Hah? Jemput?”

“Iya, nggak usah minta tolong Papa, nanti dia bingung, lo perginya sama Kesha tapi kok pulangnya nggak sama Kesha. Kalo ada gue 'kan nanti gue bisa ngeles dikit ke Papa lo.”

Cecilia masih berusaha memproses kata-kata yang diucapkan Winwin.

“Terus nanti sebelum pulang kita makan es krim dulu, oke? Biar nggak bete lagi,” sambung Winwin karena Cecilia tidak bersuara.

“Eh, iya … Oke, Kak.”

“Oke deh, kalo gitu gue matiin, ya, telfonnya. See you at McD, hati-hati …” pamit Winwin lalu ia segera memutus hubungan teleponnya dengan Cecilia.

Sesaat Cecilia mematung sampai akhirnya ia kembali tersadar dari lamunannya berkat suara petugas halte Transjakarta yang mengumumkan kedatangan bis menuju Cibubur. Cecilia pun segera mengantri untuk menaiki bis yang akan segera membawanya kembali ke daerah rumahnya. Bis yang akan membawanya bertemu dengan Winwin.

Obrolan Bujang

Winwin tiba di Lawson, sebuah minimart tempat di mana ia suka nongkrong bersama Traven dan Yeremia, tidak lama setelah Traven sampai. Setelah memesan es kopi susu dan onigiri favoritnya, lelaki itu duduk di bangku sebrang Traven.

“Yere nggak ikut?” tanya Traven setelah menghembuskan asap rokok yang dihirupnya ke udara bebas.

“Nggak. Dia lagi ada bimbel,” jawab Winwin lalu ia menyeruput es kopinya.

Keduanya diam sebentar sebelum akhirnya Traven kembali bersuara.

“Kenapa lo?” tanya Traven singkat. Wajah kusut Winwin tidak mampu membohongi lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak sekolah dasar.

“Cecil atau Kesha?” sambung Traven lagi.

“Cecil. Kesha mah ngapain diurusin.”

Are you sure? Lo kan semacam dijodohin gitu sama Kesha.”

Tanggapan Traven atas kalimat Winwin sebelumnya mengundang lirikan tajam Winwin. “Lo kalo mau ngomong coba difilter dulu. Jangan sembarangan.”

“Ya, practically lo lagi dalam masa perjodohan karena bisnis, Win. Tunggu aja Kesha lulus, pasti lo langsung disuruh ngelamar tuh bocah.”

“Kita ke sini bukan buat bahas Kesha and her parents, ya.”

Traven berdeham, “Oh iya, sorry. So, Cecil kenapa?”

“Lo udah tau kan kalo dia ditembak Geko?” Dan pertanyaan Winwin segera dijawab Traven dengan anggukan cepat. “Yaudah, daritadi yang gue sama Yere omongin di grup tuh, ya, mereka,” sambung Winwin lagi.

Traven membulatkan bibirnya dan ber-oh-ria secara padu. “Gue pikir siapa.”

“Dasar lemot.”

“Diem. Trus? Jadian? Atau engga?”

“Nggak,” jawab Winwin menggantung, mengundang raut wajah Traven yang meminta ia untuk melanjutkan jawabannya. “Tapi dari alasannya gue jadi tau kalo dia emang nggak mau pacaran.”

“Lo naksir Cecil?” tanya Traven polos.

Winwin melempar kertas bekas bungkus sedotan ke arah Traven. “Emang lemot, ya, elo.”

“Lho, gue nanya?! Lo beneran naksir Cecil? And you have more intention for making her as your girlfriend?

Winwin menjawab pertanyaan Traven dengan anggukan pelan.

“Dan alasan dia nolak Geko bikin lo mikir, kalo lo nembak dia saat ini juga, dia akan nolak lo?”

Winwin kembali mengangguk dan kali Traven berdecak pelan. “Ckckck ...”

“Masalahnya, gue udah tau kalo Cecil suka gue, Ven.”

Traven yang semula duduk bersandar malas di bangku plastik milik Lawson, langsung mengubah posisinya jadi duduk secara tegak. “Hah? Lo tau dari mana?”

Long short story, dia pernah nggak sengaja confess ke gue. Lucu kalo diinget-inget. Dan karena hal itu juga yang ngeyakinin gue buat ngedeketin dia dan segera nembak dia,” jawab Winwin.

“Tapi lo jadi ragu karena alasan dia nolak Geko barusan?”

Untuk ketiga kalinya Winwin mengangguk untuk menjawab pertanyaan Traven.

Traven kembali bersandar malas di bangkunya sambil menyeruput es kopinya. Satu batang rokok sudah habis, kini ia membakar yang kedua.

“Nih gue kasih tau, ya. Cecil emang suka sama lo, tapi bukan berarti dia siap pacaran sama lo. Bisa aja alasan yang dia kasih ke Geko itu emang bener. Apa sih alesan cewek-cewek seusia Cecil? Paling klasik, kan? 'Gak boleh pacaran sama papa' atau 'mau serius sekolah dulu'.”

Traven diam sebentar sambil menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya pelan ke udara, sementara Winwin setia menunggu jawaban lengkap dari sahabatnya sambil menyantap onigirinya.

“Jadi, gue saranin ke elo, lo nya harus sabar. Temenan biasa aja dulu. Jangan sampe Cecil jadi nggak nyaman sama lo.”

“Oh iya, Cecil juga tau masalah gue suruh Yere,” potong Winwin cepat.

“Nah, itu aja udah bikin dia nggak comfortable, Win.”

“Dan satu lagi, Cecil itu suka ngejauhin gue karena Kesha. Gue kan jadi sebel. Gue sama Kesha nggak ada apa-apa gitu, lho.” Winwin kembali menyambung ucapan Traven.

“Kata lo nggak ada apa-apa. Tapi kan lo tau sendiri Kesha suka lebay kalo udah berurusan sama lo. Belum lagi dia merasa bokap nyokap lo dan bokap nyokapnya mendukung hubungan kalian. Dan belum lagi kalian dijodoh—”

“Gue udah bilang gue sama Kesha nggak ada apa-apa, Traven.” Nada bicara Winwin meninggi saat memotong kalimat Traven, tapi lelaki kurus yang duduk berseberangan dengannya malah tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, iya iya, kalem, Bos.” Traven berusaha untuk menghentikan tawanya. “Balik lagi ke Cecil, saran gue tadi coba jalanin. Bersikap biasa aja. Dengan begitu dia juga bakal merasa lo nggak push dia. Paham, nggak?”

“Paham, paham ...” jawab Winwin pelan lalu ia melahap sisa onigirinya hingga tersisa plastik pembungkusnya saja.

“Ribet juga jadi cowok ganteng. Untung gue biasa aja gantengnya,” gumam Traven sendiri tapi terdengar cukup jelas di telinga Winwin. Winwin hanya menanggapi gumaman Traven dengan memutar bola matanya.

Him

Sesuai isi pesan teks dari Kesha yang meminta Winwin dan Cecilia untuk bertemu dengannya di depan CGV GI, begitu turun dari mobil mereka berdua segera pergi ke sana. Tiba di lokasi, Cecil langsung mendapati Kesha yang sudah tiba terlebih dahulu bersama seorang laki-laki.

“Kenalin, Javier,” ucap Kesha dengan nada angkuh, sementara lelaki yang sedari tadi berdiri di sisi kiri Kesha menjulurkan tangannya ke arah Winwin dan Cecilia, menyalami keduanya secara bergantian.

“Winwin.”

“Cecilia.”

“Kalian berdua pacaran?” tanya Javier spontan.

“Hah? Eh, engga, Kak,” jawab Cecilia cepat. Kesha melirik tajam ke arah Cecilia tapi buru-buru ia mengalihkan perhatiannya karena Winwin balas menatapnya tajam.

“Lo kuliah atau kerja, Jav?” Gantian Winwin bertanya kepada Javier.

“Kuliah. Baru juga semester satu.”

“Oh, seumuran dong kita ...”

Javier hanya tersenyum membalas balasan Winwin, lalu Kesha segera merangkul erat lengan Javier dan mengganti topik pembicaraan. “Gue sama Kak Javier mau nonton,” ucapnya.

“Cil, lo mau nonton?” tawar Winwin sambil menatap ke arah Cecilia. Cecilia yang masih salah tingkah perkara akun private-nya diketahui Winwin hanya mengangkat bahu pelan.

“Aku ngikut aja,” jawab Cecilia.

“Kita nonton di Velvet Class aja, ya, Kak?” ajak Kesha setengah manja. Javier hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

“Oke, gue sama Cecil juga ikut nonton. Ayo beli tiketnya,” timpal Winwin. Kesha langsung menyeret Javier pergi ke ticket box tanpa mempedulikan Cecilia yang terlihat gelisah.

“Kak,” panggil Cecilia sambil menarik pelan tangan Winwin lalu segera melepasnya setelah lelaki itu menengok ke arahnya. “Kalo Velvet Class aku nggak ikut deh, uangku nggak cukup. Kakak aja sendiri, nggak papa.”

Winwin tersenyum. “Uang lo disimpen aja buat beli buku nanti. Sekarang izinin gue traktir lo, sekaligus sebagai bentuk permintaan maaf buat kejadian kemarin. Oke?”

Cecilia yang menunduk hanya mengangguk pelan. Ia masih tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan hangat milik Winwin.

Merasa tingkah Cecilia menggemaskan, Winwin refleks mengacak pelan bagian depan rambut milik Cecilia. “Yuk, kita beli dulu tiketnya,” ajaknya seraya menggandeng tangan Cecilia.

Kesha yang tengah menemani Javier membeli tiket untuk mereka berdua mendengus kesal melihat yang terjadi di antara Winwin dan Cecilia barusan.

*

“Kalian mau ke mana abis ini?” tanya Winwin setelah mereka berempat keluar dari studio.

“Aku mau shopping!” jawab Kesha semangat lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Cecilia. “Cil, lo ikut shopping dong! Perasaan lo nabung mulu, deh. Masa setiap gue jalan sama lo, kita nggak pernah shopping bareng, sih?”

Cecilia tersenyum canggung. “Bukannya gitu, Sha. Gue merasa nggak perlu beli baju, makanya gue nggak—”

“Ah, lo mah sibuk beli buku melulu,” potong Kesha lalu kali ini dia kembali merangkul lengan Javier dan berbicara padanya. “Yuk, Kak, kita keliling-keliling. Shopping bareng.”

“Oke,” balas Javier lalu ia mengangkat sedikit alisnya kepada Winwin dan Cecilia, tanda ia berpamitan pada keduanya, sementara Kesha berlalu begitu saja, benar-benar tidak peduli dengan Cecilia dan Winwin.

“Lo udah berapa kali diginiin Kesha?” tanya Winwin dingin setelah Kesha dan Javier sudah jauh dari jangkauannya.

“Hah? Maksudnya?”

Winwin menghela nafas kasar. “Kesha kalo ngomong selalu begitu? Selalu maksa kayak gitu?”

“Oh, kakak mau nyuruh aku jauhin Kesha lagi?” Kali ini Cecilia memberanikan diri untuk membalas tatapan Winwin. “Aku mau muter-muter dulu, ya, Kak. Makasih buat traktiran nontonnya tadi,” sambung Cecilia kemudian ia segera meninggalkan Winwin dengan langkah gontai.

Winwin kembali menghela nafas panjang dan sebelum ia kehilangan jejak Cecilia, dari jauh ia mengikuti Cecilia.

Perempuan itu memasuki beberapa toko baju, melihat-lihat pakaian yang ada sambil sesekali mencocokan pakaian itu di tubuhnya dan mematut diri di cermin.

“Lucu, ih ...” gumam Cecilia pelan sambil mengintip price tag di balik baju yang ia pegang. “Bisa buat beli tiga novel, ntar dulu, deh,” sambung Cecilia seraya menaruh kembali baju itu di rak gantungan dan pergi.

Winwin yang melihat itu semua dari kejauhan hanya tersenyum dengan mulutnya tidak berhenti bergumam 'lucu'.

Puas melihat-lihat baju, Cecilia menuju tujuan akhirnya, toko buku, dan lagi-lagi Winwin kembali mengikuti perempuan itu sekaligus memperhatikannya dari kejauhan.

Setelah hampir satu jam puas berkutat di dalam toko buku, Cecilia keluar sambil membawa kantong ramah lingkungan berisikan dua novel yang baru saja ia beli.

“Beli novel apa, Cil?” tanya Winwin yang tiba-tiba datang dan berjalan di sisi kanan Cecilia.

“Eh, Kakak kok masih di sini? Kok tau aku di sini?” Cecilia malah balas bertanya karena bingung.

“Ya tau lah, gue daritadi ngikutin lo.”

“Buat apa?”

Winwin mengangkat kedua bahunya. “Ngga buat apa-apa. Kepengen aja.”

Cecilia menanggapi jawaban lelaki itu dengan kembali berjalan cepat, membuat Winwin terpaksa harus sedikit berlari agar langkahnya kembali seirama.

“Cil, lo marah lagi ya?” tanya Winwin tapi tidak dijawab oleh Cecilia.

“Sorry, kalau kata-kata gue menyinggung perasaan lo. Gue nggak bermaksud bikin persahabatan lo sama Kesha jadi gimana-gimana, tapi gue nggak mau kalo lo dijahatin Kesha terus.”

“Kesha ngga pernah jahatin aku, kok!” Cecilia membalas kalimat Winwin dengan cukup keras bersamaan dengan langkah kakinya yang berhenti. Menyadari tak seharusnya ia bersikap seperti itu, buru-buru ia meralat kembali perkataannya. “Sorry, nggak maksud bentak Kak Win.” Suaranya kembali melemah.

Winwin seperti biasa, ia hanya tersenyum sambil menarik pelan tangan Cecilia, mengajaknya sedikit menjauh dari area mal yang ramai.

“Cil, be honest sama gue. Lo pernah ngerasa nggak nyaman sama Kesha?” tanya Winwin pelan dan hati-hati.

Cecilia diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Winwin dengan anggukan lesu.

“Ini yang gue maksud dari kemarin, Cil. Gue ngga melarang lo buat sahabatan sama Kesha, tapi kalau lo sendiri merasa nggak nyaman dengan kata-kata atau tingkah dia, lo punya hak untuk menjauh. Lo bisa ngelawan juga kalo dia keterlaluan,” nasihat Winwin.

Cecilia hanya menunduk dalam diam. Yang diucapkan Winwin benar, ia juga sebenarnya sadar kalau lelaki itu tidak bermaksud buruk dalam hubungan persahabatannya dengan Kesha. Tapi, dia yang terlalu takut.

“Kesha itu orang pertama yang aku kenal di Altaire, Kak. Karena Kesha juga aku punya banyak temen, andaikan Kesha ngga kenal aku, mungkin aku nggak akan punya temen karena pasti nggak ada yang mau temenan sama aku. Aku bukan siapa-siapa di sekolah ...”

Kalimat Cecilia terputus karena kali ini perempuan itu menangis. Emosi kesal dan kecewa yang selama ini ia pendam akhirnya meledak juga bagaikan bom waktu.

Winwin menarik pelan Cecilia ke dalam pelukannya agar pengunjung mal yang berlalu lalang tidak melihat Cecilia yang sedang menangis. Setelah itu Winwin hanya diam sampai Cecilia perlahan berhenti menangis.

Feel much better?” tanya Winwin saat Cecilia mundur selangkah dari pelukannya.

Cecilia mengangguk-angguk pelan sambil menghapus air matanya. “Maaf, Kak, malah jadi nangis. Malu-maluin, hehe ...” balas Cecilia sambil mencoba tertawa agar suasananya berubah.

Winwin kembali dengan kebiasaannya, mengacak pelan rambut bagian depan Cecilia lalu berkata, “Minum Green Tea Latte, yuk. Gimana?”

Cecilia berusaha tersenyum. Ia tidak ingin mengecewakan Winwin yang berusaha hadir, memberinya pengertian dan menghiburnya. Bahkan lelaki itu juga sudah berusaha menyembunyikan tangisnya yang mendadak meledak begitu saja di tengah kerumunan mal.

“Ayo, aku traktir Kakak, ya?”

“Wih, beneran, nih?”

“Iya, soalnya aku udah banyak bikin hal memalukan sama Kakak.”

Kali ini Winwin tertawa cukup keras. “Masih kepikiran private acc semalem?”

Pertanyaan Winwin dijawab Cecilia dengan anggukan pelan lagi. “Udah ah, nggak usah dibahas lagi, malu ....” Cecilia kemudian buru-buru beranjak pergi dari tempatnya berdiri.

“Hahaha, kan lo yang bahas, Cil ... Cecil, tungguin!”

Pengakuan Tiba-Tiba

“Kesha, thank you, ya! Hati-hati di jalan!”

“Oke, bye, Cil!”

Setelah sesi berpamitan selesai, mobil Kesha segera meluncur meninggalkan kawasan rumah Cecilia. Perempuan itu memandangi bagian belakang mobil Mazda milik Kesha yang semakin menjauh, hingga mobil itu sudah tak nampak lagi, baru Cecilia masuk ke dalam rumahnya.

“Pa, Ma,” panggil Cecilia seperti hari-hari biasa, saat ia datang dari berpergian ia pasti akan memanggil kedua orang tuanya untuk memberitahu kalau ia sudah tiba di rumah.

“Cil, sini ruang makan.” Terdengar suara ibu Cecilia meminta putri tunggalnya untuk menghampiri ia di ruang makan. Cecilia pun segera menuruti perintah ibunya dan bergegas pergi ke sana.

Cecilia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya kala melihat Winwin tengah duduk di meja makan bersama kedua orangtuanya.

“Kak Win?”

Winwin hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, lalu ia melanjutkan acara makan mie ayamnya sore itu.

“Kata Damian kamu susah dihubungi, WA-nya nggak aktif jadi dia takut kamu kenapa-napa.” Kali ini giliran ayah Cecilia yang bersuara. “Lagian tumben banget WA kamu nggak aktif, Cil? Kuota kamu abis? Perlu Papa isiin?”

Cecilia menggeleng. “Nggak, nggak papa,” jawab Cecilia lalu ia ikut duduk di meja makan. Ibunya memberikan segelas air putih dan dengan cepat Cecilia meneguknya hingga tak bersisa.

“Aku ganti baju dulu, ya,” ucap Cecilia kemudian sambil beranjak pergi dari meja makan menuju kamarnya.

*

Selesai berganti pakaian, Cecilia keluar kamar dan mendapati Winwin tengah membaca salah satu novel koleksinya di ruang baca yang khusus dibuatkan ayah Cecilia untuk dirinya.

“Gimana jalan-jalannya sama Kesha?” tanya Winwin saat menyadari Cecilia berjalan ke arahnya.

“Baik, Kak.” Cecilia menjawab dengan datar. Tidak ada senyum yang biasanya selalu ia pamerkan tiap berbicara dengan lelaki berwajah oriental itu.

“Lo lagi ngehindarin gue, ya, Cil?”

Pertanyaan Winwin kali ini membuat Cecilia terperangah. Ia sadar, cepat atau lambat Winwin pasti akan sadar kalau dirinya sedang menghindar dari lelaki itu.

“Kenapa, Cil? Kesha yang nyuruh?”

Cecilia duduk di sofa single yang berhadapan dengan sofa besar yang sedang diduduki Winwin.

“Aku nggak mau hubungan persahabatan aku sama Kesha rusak karena kita berdua suka cowok yang sama ...”

Nada bicara Cecilia semakin melemah hingga akhir kalimat, tapi Winwin masih dapat mendengar jelas apa yang diucapkan Cecilia padanya.

“Cil, lo suka sama gue?” tanya Winwin untuk meyakinkan bahwa yang ia dengar barusan tidaklah salah. Cecilia mengangguk pelan lalu menunduk karena malu.

“Aduh, Kak, maaf banget, anggep aja tadi nggak denger apa-apa.” Cecilia kembali bersuara tapi kali ini sambil buru-buru bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Winwin. Tapi untungnya, dengan cepat tangan Winwin berhasil menahan lengan Cecilia, membuat perempuan itu tidak bisa kabur.

Mata Cecilia dan Winwin bertemu dan untuk sesaat keduanya terdiam, seperti saling terhisap dengan kekuatan 'magis' yang dimiliki masing-masing pribadi mereka miliki.

“Damian, kalau novel yang ini udah baca belum?”

Suara ayah Cecilia yang terdengar sedang mendekati ruang baca membuyarkan suasana. Winwin refleks melepas pegangan tangannya sementara Cecilia buru-buru keluar dari situ. Ia berpapasan dengan ayahnya di ambang pintu.

“Lho, mau ke mana?”

“Bentar, ambilin kak Win air minum.”

“Yaudah kalo gitu Papa titip air putih juga ya, Nak.”

Kak Win dan Papa

Tidak memerlukan waktu lama untuk Winwin dan Cecilia tiba di McD Kemang, tempat di mana ayah Cecilia menunggu. Dari luar, Cecilia dapat melihat ayahnya tengah sibuk membaca novel dengan secangkir kopi menemaninya.

“Papa persis lo, ya, hobi baca,” komentar Winwin, mengundang senyum tipis di bibir Cecilia.

Cecilia melepas jaket kulit yang dipinjamkan Winwin padanya. “Thank you, ya, Kak. Hati-hati pulangnya.”

Sebelum Cecilia pergi dari hadapannya, Winwin kembali bersuara. “Cil, lo nggak papa, kan?” Lagi, pertanyaan yang sama dilontarkan oleh lelaki itu.

“Nggak papa, kok. Tadi agak kaget aja sih, sama game-nya, tapi sekarang udah nggak papa. Suer, deh,” jawab Cecilia dengan kedua jarinya membentuk peace sign.

Winwin mengangguk mengerti. “Yaudah ayo masuk, gue temenin sampe ketemu Papa.”

“Eh, nggak usah, Kak ...”

“Ayo ...” ajak Winwin kali ini sambil sedikit merangkul bahu Cecilia, membuat perempuan itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti langkah kaki Winwin.

Sampai di meja ayah Cecilia, Winwin menyapa pria paruh baya itu dengan ramah. “Malam, Om.”

Ayah Cecilia mengangkat kepalanya, mendapati putrinya yang terlihat salah tingkah berdiri berdampingan dengan seorang lelaki yang ia cukup kenal.

“Halo, Damian Winarta, ya?” tanya ayah Cecilia tak kalah ramah.

“Iya, Om.”

“Oh, ini yang namanya Damian ... Cecil banyak cerita tentang kamu ke saya.”

“Ih, Papa! Kapan coba aku ceritanya? Ngaco ah.”

Protes Cecilia mengundang senyum penuh arti dari Damian, sementara ayahnya sendiri hanya terkekeh pelan sambil menutup buku bacaannya dan menyeruput kopi hitamnya yang tersisa di cangkir.

“Baca novel apa, Om?”

Ayah Cecilia membolak-balikan buku novel yang ia pegang sebelum menjawab pertanyaan Winwin. “Nggak tau, ini saya ambil dari rak bukunya Cecil.”

“Cecil punya rak buku khusus, Om?”

“Oh, ada. Gede banget. Tadinya mau dibuatkan untuk hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas. Tapi karena keliatannya sekarang kalau di kamar, Cecil kayak tidur sama buku, akhirnya saya sama mamanya buatkan sekarang aja.”

Cecilia hanya menunduk karena malu mendengar ayahnya yang dengan santainya bercerita tentang dirinya kepada Winwin.

“Kalo saya main-main ke rumah Cecil, boleh Om? Saya juga penasaran sama koleksi bukunya Cecil.”

Kali ini Cecilia langsung melirik ke arah Winwin dengan ekspresi terkejutnya.

“Boleh, dong. Kapan Damian mau main, dateng aja. Nanti kita ngobrol-ngobrol sambil baca bukunya Cecil.”

“Ah, siap, Om ...” balas Winwin sambil tersenyum senang ke arah Cecilia. Cecilia membalas senyuman itu dengan senyuman awkward miliknya.

“Acaranya sudah selesai? Kenapa Cecil nggak chat Papa? Malah dianter sama Damian ...” ucap ayah Cecilia kepada putri tunggalnya. Belum sempat Cecilia menjawab, ayahnya sudah beralih berbicara kepada Winwin. “Damian, makasih ya, udah antar Cecil. Hari Kamis kemarin juga udah antar jemput dia.”

Wajah Winwin terlihat sedikit memerah. “Iya, Om, sama-sama. Next time kalau ada acara seperti ini lagi dan Om ngga bisa antar, biar Cecil sama saya aja, Om. Saya sama sekali nggak keberatan.”

Ayah Cecilia hanya mengangguk tanda ia menyetujui tawaran dari Winwin. Kini ia kembali beralih ke putrinya yang sedari tadi merasa salah tingkah sendiri. “Yuk, pulang. Biar kita nggak kemaleman. Biar Damian juga nggak kemaleman pulangnya.”

“Iya, ayo, Pa,” balas Cecilia cepat. Bukannya ia mau berpisah cepat-cepat dengan Winwin, tapi ia tidak mau ayahnya semakin membeberkan hal pribadinya kepada Winwin. Entah kenapa ia merasa belum siap untuk hal itu.

“Sekali lagi, makasih ya, Damian. Saya dan Cecil pamit dulu,” ucap ayah Cecilia sambil bangkit dari duduknya dan menepuk pelan bahu Winwin.

“Kak, makasih, ya ...” Cecilia pun ikut berpamitan dengan Winwin.

Winwin hanya mengangguk pelan. “Hati-hati ya, Om, Cecil ...”

Winwin terus memandangi Cecilia dan ayahnya sampai keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya, walaupun tadi ia sempat merasa kesal, tapi setelah pertemuannya dengan ayah Cecilia, suasana hatinya membaik.

Bisa jadi juga perjalanan singkatnya dengan Cecilia barusan menjadi alasan dibalik senyuman lebarnya malam ini.

***

“Gimana acara ulang tahunnya Kesha malem ini, Nak?” tanya ayah Cecilia sambil mengemudikan kendaraan roda empatnya.

“Bagus, Pa. Seru juga,” jawab Cecilia sederhana.

Saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah dan mobil ayah Cecilia terpaksa harus berhenti, ayah Cecilia menoleh ke arah putrinya.

“Maaf ya, Nak, Papa dan mama nggak bisa bikinin pesta kayak Kesha untuk kamu.”

Cecilia menoleh karena jujur saja ia merasa bingung. Ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan pesta ulang tahunnya karena ia sadar betul dengan kondisi keluarganya. Baginya pesta ulang tahun bukanlah sesuatu yang wajib.

“Papa sempat kepikiran, kamu juga pasti kepengen kan, dirayain kayak Kesha?”

“Hah? Nggak kok, Pa. Aku nggak papa, nggak perlu dirayain. Banyak hal yang lebih penting daripada pesta.”

Ayah Cecilia tersenyum sambil mengusap puncak kepala putrinya sebelum ia kembali mengemudi.

“Anak Papa ternyata udah dewasa ...” gumam ayah Cecilia pelan. “Selain bijak, pinter di bidang akademik, anak papa juga pinter pilih cowok.”

Kalimat terakhir ayah Cecilia membuat perempuan itu kembali menoleh, lengkap dengan ekspresi kaget dan bingungnya. “Hah? Apa maksud Papa?”

“Kamu naksir Damian, kan?”

“Nggak, kok!”

Ayah Cecilia tertawa pelan mendengar reaksi putri tunggalnya. “Kalo naksir nggak papa, kok. Papa setuju. Papa juga suka sama Damian. Kapan-kapan diajak ke rumah, ya? Damian harus nyobain mie ayam buatan Papa, pasti dia suka.”

“Ah, Papa! Malu ah!”

“Tuh, kan ... Kalo malu tandanya naksir ...” goda ayah Cecilia. Sementara Cecilia sendiri hanya bisa pasrah dengan bersandar malas di kursi penumpang. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, melihat jalanan Sabtu malam yang selalu lebih ramai dari biasanya.

Mungkin saat ini mulutnya menyangkal apa yang dikatakan ayahnya barusan. Bibirnya sedikit mengerucut karena ayahnya tidak berhenti menggoda dirinya. Tapi jauh di lubuk hati Cecilia, perempuan itu seperti sedang meledak-ledak; seperti ada banyak kupu-kupu yang sedang memenuhi perutnya.

“It’s My Day, But …”

Kalau acara makan malam ulang tahun Kesha kemarin didominasi oleh kerabat bisnis orang tua Kesha, maka acara pesta ulang tahun yang dirayakan hari Sabtunya didominasi oleh teman-teman sekolah Kesha. Seluruh siswa SMA Altaire diundang ke acara yang diselenggarakan di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Satu persatu tamu undangan Kesha mulai berdatangan. Setelah menaruh kado dan berfoto dengan segala properti dan backdrop yang bertuliskan “Kesha's Sweet Seventeen” di dekat pintu masuk, para tamu dipersilahkan masuk dan dapat langsung menikmati makanan yang disuguhkan malam itu.

Kesha sebagai tuan rumah pun berkeliling, menghampiri tamu alias teman-temannya yang sudah hadir malam itu, untuk berterima kasih dan tentu saja untuk kembali mendapat ucapan selamat ulang tahun.

“Cecil!!” panggil Kesha heboh saat melihat Cecilia sedang mengobrol bersama teman-teman sekelasnya yang lain.

Kesha segera menyeruak di antara gerombolan teman-temannya. “Ini nggak ada yang mau selfie bareng? Mumpung ada gue, nih,” tanya Kesha dengan percaya diri.

Mendengar kalimat Kesha yang terkesan sedikit sarkas memaksa, teman-temannya pun mau tak mau segera mengeluarkan ponsel mereka dan bergantian mengambil foto bersama, ada juga yang membuat instastory.

“Cil, lo dateng sama siapa?” tanya Kesha setelah sesi foto-fotonya selesai.

“Bokap, Sha.”

“Pulangnya bareng bokap juga?”

Cecilia mengangguk. “Iya. Sekarang dia lagi nunggu di McD Kemang.”

“Yaampun, kasian amat. Lo harusnya ngomong sama gue, biar gue siapin tempat khusus buat bokap lo nunggu di sini.”

Kali ini Cecilia menggeleng. “Nggak papa, Sha. Kalo begitu bokap malah nggak mau, hehehe ...”

Kesha mengangguk-angguk paham. “Lo liat Winwin nggak? Kok belum dateng, ya?” Kesha mengganti topik pembicaraannya.

Cecilia refleks melihat ke sekelilingnya. “Nggak, Sha. Mungkin telat.”

Kesha mendengus kesal. “Padahal dia tamu spesial,” gerutu Kesha pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Cecilia. “Yaudah deh, Cil, gue tinggal dulu. Have fun, ya! Makan yang banyak! Jarang-jarang ‘kan lo bisa makan makanan yang kayak ada di sini malem ini.”

Kesha segera berpamitan dengan Cecilia untuk melanjutkan sesi tegur sapanya dengan teman-temannya yang lain, menyisakan Cecilia yang hanya tersenyum masam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Kesha padanya.

“Cil, lo kok betah banget sih deket-deket sama dia?” celetuk salah satu teman sekelasnya yang sedari tadi berdiri di dekatnya.

Cecilia tersenyum simpul. “Kesha emang gitu kan, orangnya. Nggak usah terlalu dipusingin,” balas Cecilia tenang. “Temenin gue ambil makanan, yuk? Laper nih!”

Ajakan Cecilia disambut dengan anggukan mantap dari temannya itu.

***

Birthday bash Kesha berlangsung meriah, setelah sesi tiup lilin dan potong kue, sekarang tiba saatnya sesi games. Hadiah yang diberikan pun tidak tanggung-tanggung, mulai dari voucher belanja, voucher makan hingga doorprize utama sebuah iPhone series terbaru.

“Oke, sekarang kita akan masuk ke games terakhir sebelum pengundian doorprize,” ucap sang MC setelah memberikan hadiah kepada pemenang di games sebelumnya. Ia menoleh ke arah Kesha, “yuk, Kesha, bisa dipilih siapa yang bakal main di games terakhir ini.”

Radar Kesha menyebar ke seluruh penjuru ruangan, lalu ia tersenyum dikulum. “BFF aku, Cecilia! Terus ... dari anak Science ... Albert, Donna sama satu lagi cowok terserah, deh!”

Cecilia sedikit terperangah mendengar namanya dipanggil, sementara yang lain terlihat excited naik ke atas panggung. Donna menyeret pacarnya, Robby, membuat Cecilia otomatis berpasangan dengan Albert.

“Games terakhir adalah ... Pepero games!”

Begitu MC mengumumkan nama permainan yang akan dimainkan, suasana langsung semakin riuh. Donna dan Robby sebagai sepasang kekasih terlihat percaya diri mereka akan memenangkan permainan ini, sementara Cecilia terlihat tidak nyaman.

“Rileks aja, Cil, kalo kena juga gapapa kali,” canda Albert, dengan harapan Cecilia tidak akan grogi lagi, tapi yang dirasakan perempuan itu justru sebaliknya.

MC segera memberikan sebatang pepero kepada masing-masing pasangan; kedua pasangan itu pun segera bersiap, termasuk Cecilia yang mau tidak mau harus mengikuti permainan ini sampai akhir.

Pepero Games itu segera dimulai; tamu undangan yang tidak ikut bermain menjadi supporter, mendukung pasangan pilihannya masing-masing. Sementara para pemain berkonsentrasi, sebisa mungkin membuat potongan pepero yang mereka gigit sependek mungkin.

Jarak antara Cecilia dan Albert semakin dekat, hingga seperti tidak tersisa ruang di antara kedua wajah mereka, Cecilia memilih untuk memejamkan matanya karena perasaannya yang campur aduk; takut, panik dan grogi menjadi satu.

Tiba-tiba Cecilia merasakan tangannya ditarik dengan kasar oleh seseorang, membuat dirinya setengah oleng tapi untungnya tidak sampai jatuh.

Sorry, Cecil nggak perlu ikutan mainan murahan kayak gini.”

Kalimat singkat itu diucapkan dengan nada dingin oleh Winwin dan sukses membuat euphoria Pepero games itu runtuh dalam hitungan detik. Tanpa basa-basi, Winwin menggandeng tangan Cecilia dan segera mengajak perempuan itu keluar dari venue pesta ulang tahun Kesha.

Sampai di luar venue, Winwin melepas jaket kulit hitam yang ia kenakan dan menyampirkannya di bahu Cecilia. “Pulang sama Papa?”

Cecilia hanya mengangguk, dengan kepalanya yang tertunduk lemas.

“Cil, lo nggak papa, kan?”

Cecilia mengangguk lagi.

“Kalo gitu liat gue.”

Sayangnya permintaan Winwin tidak bisa langsung Cecilia kabulkan, membuat lelaki itu kembali mengajaknya berbicara.

“Cil ...”

Dengan ragu Cecilia mengangkat wajahnya, manik matanya yang berwarna coklat bertemu dengan milik Winwin. Lelaki itu segera memberikan senyuman terhangatnya.

“Yuk, gue anter ke Papa. Papa nunggu di mana?”

“McD Kemang, Kak ...”

“Oke.”

Spotlight

“Kak Win?”

Cecilia yang baru saja keluar dari pintu rumahnya, buru-buru menghampiri Winwin yang tengah bersandar di mobil Lamborghini Aventador warna merah miliknya.

Mendengar suara Cecilia, Winwin menoleh dan tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya.

“Hai, Cil,” sapanya ramah. Ia juga menghampiri Cecilia, keduanya bertemu di depan pintu pagar rumah Cecilia.

“Gue pamitan dulu ke bokap nyokap lo, ya?”

Cecilia menggeleng cepat. “Nggak usah, Kak. Mama papa udah tau aku pergi sama siapa, dan kebetulan mereka juga udah kenal Kakak siapa, jadi mereka udah tenang.”

“Beneran, nih?” tanya Winwin meyakinkan dan kali ini Cecilia mengangguk.

“Beneran,” balas perempuan itu singkat.

“Yaudah, yuk, berangkat!” ajak Winwin lalu ia buru-buru membukakan kursi pintu penumpang mobilnya untuk Cecilia.

“Cil?” panggil Winwin, menyadari perempuan mungil itu masih terpaku berdiri di tempatnya. Mulutnya sedikit menganga, tidak menyangka ia akan menumpangi salah satu mobil yang hanya tersedia 600 unit di seluruh dunia.

“Cecil? Ayo?”

“Eh, iya, Kak.” Tersadar dari lamunannya, ia segera menaiki mobil Winwin. Melihat tingkah lucu Cecilia, Winwin tidak kuasa untuk menahan senyum bahagianya.

***

Tiba di Golden Pavillon Kemang, Winwin dan Cecilia langsung menjadi pusat perhatian. Yang pertama, tentu saja karena mobil yang dikendarai Winwin. Yang kedua, karena tidak ada satupun yang menyangka Winwin akan hadir di acara makan malam ulang tahun Kesha bersama Cecilia.

“Oh, jadi bareng sama Cecil?” tanya Kesha dengan nada bicara sedikit jutek saat menyambut kedatangan Winwin dan Cecilia.

Winwin mengangguk senang. “Bukan stranger, kan?” tanya Winwin sedikit meledek, membuat Kesha memutar bola matanya dengan perasaan tidak suka.

Happy birthday, ya, Kesha,” ucap Cecilia untuk kesekian kalinya di hari itu. “Kadonya nyusul, ya,” sambungnya lagi.

Kesha hanya tersenyum seadanya. “Thanks, ya. Kalo gitu pilih deh, mau duduk di mana.”

Winwin dan Cecilia mengangguk kompak, lalu Winwin segera menoleh ke arah Cecilia yang sedang celingukan mencari kursi kosong.

“Cil, lo jangan kemana-mana. Bareng sama gue aja,” ucap Winwin, tangannya menggandeng tangan Cecilia dan segera mengajak perempuan itu untuk menghampiri Traven dan Yeremia yang sudah datang terlebih dahulu dan sedang duduk di salah satu meja bundar yang tersedia.

“Hai, Cecil!” sapa Yeremia ramah.

Cecilia tersenyum lebar. “Hai, Yere. Hai juga, Kak Traven.”

Traven hanya mengangguk membalas sapaan Cecilia.

“Nih, gue gak pelit kayak lo, ya. Gue sisain dua kursi khusus buat lo berdua,” ucap Traven setengah menyindir.

“Lo sediain atau engga, ujung-ujungnya yang duduk di sini tetep gue sama Cecil. Lo pikir mereka-mereka berani duduk sama lo berdua?”

Arah mata Winwin lamgsung memperhatikan orang-orang yang ia maksud sebagai “mereka-mereka”; gerombolan teman-teman seangkatan Kesha yang diundang malam itu. Gerombolan yang sedari tadi diam-diam membicarakan dan memperhatikan Winwin cs segera mengalihkan perhatian mereka ke arah lain saat menyadari Winwin sedang menatap ke arah mereka.

“Bokap nyokap di mana?” tanya Winwin lagi.

“Tuh, di sana,” jawab Yeremia sambil menunjuk sekumpulan meja bundar di sudut ruangan yang lain, yang sengaja di siapkan untuk kolega dan kerabat orang tua Kesha.

Acara makan malam ulang tahun Kesha segera dimulai. Diawali dengan doa yang dipimpin oleh Papa Kesha, lalu acara tiup lilin, potong kue dan sampai ke puncak acara, yaitu makan malam.

Menu makan malam yang disajikan beragam, mulai dari appetizer, main course sampai dessert. Sepanjang acara berlangsung, terdengar gelak tawa ataupun obrolan ramai dari tiap-tiap meja.

Walaupun acara berjalan dengan lancar, tapi hati sang pemilik hari besarnya itu terasa resah. Tanpa disadari oleh siapapun yang hadir di Golden Pavillon Kemang malam itu, selama acara berlangsung, Kesha tidak dapat melepas perhatiannya dari Winwin dan Cecilia yang terlihat akrab sekali malam itu.

Raut wajah kesalnya masih mampu ia sembunyikan dibalik senyum yang ia pasang sepanjang malam itu, tapi hatinya tidak dapat berhenti membatin,

“Cecilia, how dare you steal my spotlight tonight?!”