Him
Sesuai isi pesan teks dari Kesha yang meminta Winwin dan Cecilia untuk bertemu dengannya di depan CGV GI, begitu turun dari mobil mereka berdua segera pergi ke sana. Tiba di lokasi, Cecil langsung mendapati Kesha yang sudah tiba terlebih dahulu bersama seorang laki-laki.
“Kenalin, Javier,” ucap Kesha dengan nada angkuh, sementara lelaki yang sedari tadi berdiri di sisi kiri Kesha menjulurkan tangannya ke arah Winwin dan Cecilia, menyalami keduanya secara bergantian.
“Winwin.”
“Cecilia.”
“Kalian berdua pacaran?” tanya Javier spontan.
“Hah? Eh, engga, Kak,” jawab Cecilia cepat. Kesha melirik tajam ke arah Cecilia tapi buru-buru ia mengalihkan perhatiannya karena Winwin balas menatapnya tajam.
“Lo kuliah atau kerja, Jav?” Gantian Winwin bertanya kepada Javier.
“Kuliah. Baru juga semester satu.”
“Oh, seumuran dong kita ...”
Javier hanya tersenyum membalas balasan Winwin, lalu Kesha segera merangkul erat lengan Javier dan mengganti topik pembicaraan. “Gue sama Kak Javier mau nonton,” ucapnya.
“Cil, lo mau nonton?” tawar Winwin sambil menatap ke arah Cecilia. Cecilia yang masih salah tingkah perkara akun private-nya diketahui Winwin hanya mengangkat bahu pelan.
“Aku ngikut aja,” jawab Cecilia.
“Kita nonton di Velvet Class aja, ya, Kak?” ajak Kesha setengah manja. Javier hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
“Oke, gue sama Cecil juga ikut nonton. Ayo beli tiketnya,” timpal Winwin. Kesha langsung menyeret Javier pergi ke ticket box tanpa mempedulikan Cecilia yang terlihat gelisah.
“Kak,” panggil Cecilia sambil menarik pelan tangan Winwin lalu segera melepasnya setelah lelaki itu menengok ke arahnya. “Kalo Velvet Class aku nggak ikut deh, uangku nggak cukup. Kakak aja sendiri, nggak papa.”
Winwin tersenyum. “Uang lo disimpen aja buat beli buku nanti. Sekarang izinin gue traktir lo, sekaligus sebagai bentuk permintaan maaf buat kejadian kemarin. Oke?”
Cecilia yang menunduk hanya mengangguk pelan. Ia masih tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan hangat milik Winwin.
Merasa tingkah Cecilia menggemaskan, Winwin refleks mengacak pelan bagian depan rambut milik Cecilia. “Yuk, kita beli dulu tiketnya,” ajaknya seraya menggandeng tangan Cecilia.
Kesha yang tengah menemani Javier membeli tiket untuk mereka berdua mendengus kesal melihat yang terjadi di antara Winwin dan Cecilia barusan.
*
“Kalian mau ke mana abis ini?” tanya Winwin setelah mereka berempat keluar dari studio.
“Aku mau shopping!” jawab Kesha semangat lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Cecilia. “Cil, lo ikut shopping dong! Perasaan lo nabung mulu, deh. Masa setiap gue jalan sama lo, kita nggak pernah shopping bareng, sih?”
Cecilia tersenyum canggung. “Bukannya gitu, Sha. Gue merasa nggak perlu beli baju, makanya gue nggak—”
“Ah, lo mah sibuk beli buku melulu,” potong Kesha lalu kali ini dia kembali merangkul lengan Javier dan berbicara padanya. “Yuk, Kak, kita keliling-keliling. Shopping bareng.”
“Oke,” balas Javier lalu ia mengangkat sedikit alisnya kepada Winwin dan Cecilia, tanda ia berpamitan pada keduanya, sementara Kesha berlalu begitu saja, benar-benar tidak peduli dengan Cecilia dan Winwin.
“Lo udah berapa kali diginiin Kesha?” tanya Winwin dingin setelah Kesha dan Javier sudah jauh dari jangkauannya.
“Hah? Maksudnya?”
Winwin menghela nafas kasar. “Kesha kalo ngomong selalu begitu? Selalu maksa kayak gitu?”
“Oh, kakak mau nyuruh aku jauhin Kesha lagi?” Kali ini Cecilia memberanikan diri untuk membalas tatapan Winwin. “Aku mau muter-muter dulu, ya, Kak. Makasih buat traktiran nontonnya tadi,” sambung Cecilia kemudian ia segera meninggalkan Winwin dengan langkah gontai.
Winwin kembali menghela nafas panjang dan sebelum ia kehilangan jejak Cecilia, dari jauh ia mengikuti Cecilia.
Perempuan itu memasuki beberapa toko baju, melihat-lihat pakaian yang ada sambil sesekali mencocokan pakaian itu di tubuhnya dan mematut diri di cermin.
“Lucu, ih ...” gumam Cecilia pelan sambil mengintip price tag di balik baju yang ia pegang. “Bisa buat beli tiga novel, ntar dulu, deh,” sambung Cecilia seraya menaruh kembali baju itu di rak gantungan dan pergi.
Winwin yang melihat itu semua dari kejauhan hanya tersenyum dengan mulutnya tidak berhenti bergumam 'lucu'.
Puas melihat-lihat baju, Cecilia menuju tujuan akhirnya, toko buku, dan lagi-lagi Winwin kembali mengikuti perempuan itu sekaligus memperhatikannya dari kejauhan.
Setelah hampir satu jam puas berkutat di dalam toko buku, Cecilia keluar sambil membawa kantong ramah lingkungan berisikan dua novel yang baru saja ia beli.
“Beli novel apa, Cil?” tanya Winwin yang tiba-tiba datang dan berjalan di sisi kanan Cecilia.
“Eh, Kakak kok masih di sini? Kok tau aku di sini?” Cecilia malah balas bertanya karena bingung.
“Ya tau lah, gue daritadi ngikutin lo.”
“Buat apa?”
Winwin mengangkat kedua bahunya. “Ngga buat apa-apa. Kepengen aja.”
Cecilia menanggapi jawaban lelaki itu dengan kembali berjalan cepat, membuat Winwin terpaksa harus sedikit berlari agar langkahnya kembali seirama.
“Cil, lo marah lagi ya?” tanya Winwin tapi tidak dijawab oleh Cecilia.
“Sorry, kalau kata-kata gue menyinggung perasaan lo. Gue nggak bermaksud bikin persahabatan lo sama Kesha jadi gimana-gimana, tapi gue nggak mau kalo lo dijahatin Kesha terus.”
“Kesha ngga pernah jahatin aku, kok!” Cecilia membalas kalimat Winwin dengan cukup keras bersamaan dengan langkah kakinya yang berhenti. Menyadari tak seharusnya ia bersikap seperti itu, buru-buru ia meralat kembali perkataannya. “Sorry, nggak maksud bentak Kak Win.” Suaranya kembali melemah.
Winwin seperti biasa, ia hanya tersenyum sambil menarik pelan tangan Cecilia, mengajaknya sedikit menjauh dari area mal yang ramai.
“Cil, be honest sama gue. Lo pernah ngerasa nggak nyaman sama Kesha?” tanya Winwin pelan dan hati-hati.
Cecilia diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Winwin dengan anggukan lesu.
“Ini yang gue maksud dari kemarin, Cil. Gue ngga melarang lo buat sahabatan sama Kesha, tapi kalau lo sendiri merasa nggak nyaman dengan kata-kata atau tingkah dia, lo punya hak untuk menjauh. Lo bisa ngelawan juga kalo dia keterlaluan,” nasihat Winwin.
Cecilia hanya menunduk dalam diam. Yang diucapkan Winwin benar, ia juga sebenarnya sadar kalau lelaki itu tidak bermaksud buruk dalam hubungan persahabatannya dengan Kesha. Tapi, dia yang terlalu takut.
“Kesha itu orang pertama yang aku kenal di Altaire, Kak. Karena Kesha juga aku punya banyak temen, andaikan Kesha ngga kenal aku, mungkin aku nggak akan punya temen karena pasti nggak ada yang mau temenan sama aku. Aku bukan siapa-siapa di sekolah ...”
Kalimat Cecilia terputus karena kali ini perempuan itu menangis. Emosi kesal dan kecewa yang selama ini ia pendam akhirnya meledak juga bagaikan bom waktu.
Winwin menarik pelan Cecilia ke dalam pelukannya agar pengunjung mal yang berlalu lalang tidak melihat Cecilia yang sedang menangis. Setelah itu Winwin hanya diam sampai Cecilia perlahan berhenti menangis.
“Feel much better?” tanya Winwin saat Cecilia mundur selangkah dari pelukannya.
Cecilia mengangguk-angguk pelan sambil menghapus air matanya. “Maaf, Kak, malah jadi nangis. Malu-maluin, hehe ...” balas Cecilia sambil mencoba tertawa agar suasananya berubah.
Winwin kembali dengan kebiasaannya, mengacak pelan rambut bagian depan Cecilia lalu berkata, “Minum Green Tea Latte, yuk. Gimana?”
Cecilia berusaha tersenyum. Ia tidak ingin mengecewakan Winwin yang berusaha hadir, memberinya pengertian dan menghiburnya. Bahkan lelaki itu juga sudah berusaha menyembunyikan tangisnya yang mendadak meledak begitu saja di tengah kerumunan mal.
“Ayo, aku traktir Kakak, ya?”
“Wih, beneran, nih?”
“Iya, soalnya aku udah banyak bikin hal memalukan sama Kakak.”
Kali ini Winwin tertawa cukup keras. “Masih kepikiran private acc semalem?”
Pertanyaan Winwin dijawab Cecilia dengan anggukan pelan lagi. “Udah ah, nggak usah dibahas lagi, malu ....” Cecilia kemudian buru-buru beranjak pergi dari tempatnya berdiri.
“Hahaha, kan lo yang bahas, Cil ... Cecil, tungguin!”