Pengakuan Tiba-Tiba
“Kesha, thank you, ya! Hati-hati di jalan!”
“Oke, bye, Cil!”
Setelah sesi berpamitan selesai, mobil Kesha segera meluncur meninggalkan kawasan rumah Cecilia. Perempuan itu memandangi bagian belakang mobil Mazda milik Kesha yang semakin menjauh, hingga mobil itu sudah tak nampak lagi, baru Cecilia masuk ke dalam rumahnya.
“Pa, Ma,” panggil Cecilia seperti hari-hari biasa, saat ia datang dari berpergian ia pasti akan memanggil kedua orang tuanya untuk memberitahu kalau ia sudah tiba di rumah.
“Cil, sini ruang makan.” Terdengar suara ibu Cecilia meminta putri tunggalnya untuk menghampiri ia di ruang makan. Cecilia pun segera menuruti perintah ibunya dan bergegas pergi ke sana.
Cecilia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya kala melihat Winwin tengah duduk di meja makan bersama kedua orangtuanya.
“Kak Win?”
Winwin hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, lalu ia melanjutkan acara makan mie ayamnya sore itu.
“Kata Damian kamu susah dihubungi, WA-nya nggak aktif jadi dia takut kamu kenapa-napa.” Kali ini giliran ayah Cecilia yang bersuara. “Lagian tumben banget WA kamu nggak aktif, Cil? Kuota kamu abis? Perlu Papa isiin?”
Cecilia menggeleng. “Nggak, nggak papa,” jawab Cecilia lalu ia ikut duduk di meja makan. Ibunya memberikan segelas air putih dan dengan cepat Cecilia meneguknya hingga tak bersisa.
“Aku ganti baju dulu, ya,” ucap Cecilia kemudian sambil beranjak pergi dari meja makan menuju kamarnya.
*
Selesai berganti pakaian, Cecilia keluar kamar dan mendapati Winwin tengah membaca salah satu novel koleksinya di ruang baca yang khusus dibuatkan ayah Cecilia untuk dirinya.
“Gimana jalan-jalannya sama Kesha?” tanya Winwin saat menyadari Cecilia berjalan ke arahnya.
“Baik, Kak.” Cecilia menjawab dengan datar. Tidak ada senyum yang biasanya selalu ia pamerkan tiap berbicara dengan lelaki berwajah oriental itu.
“Lo lagi ngehindarin gue, ya, Cil?”
Pertanyaan Winwin kali ini membuat Cecilia terperangah. Ia sadar, cepat atau lambat Winwin pasti akan sadar kalau dirinya sedang menghindar dari lelaki itu.
“Kenapa, Cil? Kesha yang nyuruh?”
Cecilia duduk di sofa single yang berhadapan dengan sofa besar yang sedang diduduki Winwin.
“Aku nggak mau hubungan persahabatan aku sama Kesha rusak karena kita berdua suka cowok yang sama ...”
Nada bicara Cecilia semakin melemah hingga akhir kalimat, tapi Winwin masih dapat mendengar jelas apa yang diucapkan Cecilia padanya.
“Cil, lo suka sama gue?” tanya Winwin untuk meyakinkan bahwa yang ia dengar barusan tidaklah salah. Cecilia mengangguk pelan lalu menunduk karena malu.
“Aduh, Kak, maaf banget, anggep aja tadi nggak denger apa-apa.” Cecilia kembali bersuara tapi kali ini sambil buru-buru bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Winwin. Tapi untungnya, dengan cepat tangan Winwin berhasil menahan lengan Cecilia, membuat perempuan itu tidak bisa kabur.
Mata Cecilia dan Winwin bertemu dan untuk sesaat keduanya terdiam, seperti saling terhisap dengan kekuatan 'magis' yang dimiliki masing-masing pribadi mereka miliki.
“Damian, kalau novel yang ini udah baca belum?”
Suara ayah Cecilia yang terdengar sedang mendekati ruang baca membuyarkan suasana. Winwin refleks melepas pegangan tangannya sementara Cecilia buru-buru keluar dari situ. Ia berpapasan dengan ayahnya di ambang pintu.
“Lho, mau ke mana?”
“Bentar, ambilin kak Win air minum.”
“Yaudah kalo gitu Papa titip air putih juga ya, Nak.”