goldeneunoia

It’s Okay To Be Not Okay

Pusing dengan apa yang harus ia pakai, akhirnya Cecilia memilih t-shirt oversize putih polos kesayangannya yang ia padu dengan celana training hitam dan sandal jepit andalannya. Ia segera keluar rumah dan menemui Winwin yang sudah menunggu di luar pagar.

“Hai Kak, mau masuk ke dalem dulu?” sapa Cecilia ramah.

Winwin tersenyum lebar saat melihat Cecilia menghampirinya lalu ia menggeleng pelan. “Nggak usah, kita langsung makan bakso aja biar lo nggak kelamaan di luar. Udah izin mama papa, kan?”

Cecilia mengangguk. “Udah, Kak.”

“Yaudah, yuk.”

Winwin dan Cecilia mulai berjalan berdampingan tanpa ada satupun yang bersuara. Cecilia sedang berusaha meredam rasa gugupnya sementara Winwin sedang memutar otak, mencari topik yang bisa ia diskusikan dengan Cecilia.

“Tumben Kak, jogging malem-malem. Udah gitu jauh banget sampe sini.” Akhirnya percakapan baru dibuka oleh Cecilia.

Winwin tertawa pelan. “Sebenernya gue sering jogging malem gini, tapi biasanya deket rumah. Hari ini lagi kepengen ganti suasana aja, terus tiba-tiba keingetan daerah rumah lo, jadi yaudah deh, gue ke sini,” balas Winwin menjelaskan.

“Lagian biar bisa sekalian ketemu sama lo,” sambung Winwin kemudian.

Cecilia menoleh ke arah Winwin dengan ekspresi setengah kaget. “Ketemu aku, Kak?”

Winwin mengangguk lalu ia menoleh ke arah Cecilia. Manik mata mereka bertemu dan keduanya terdiam cukup lama, seperti tersihir satu sama lain, sampai akhirnya Winwin memberikan jawaban atas pertanyaan Cecilia.

“Iya, ketemu lo. Gue mau menghibur lo biar gak terlalu sedih karena batal ikut olimpiade.”

“Eh?”

“Gue tau lo sebenernya sedih, Cil. Tapi lo selalu bilang nggak papa, padahal it’s really okay to be not okay.”

Cecilia melepas tatapannya dari Winwin lalu menunduk, memandangi jari-jari kakinya yang mengintip dari balik sendal jepitnya.

“Cecil,” panggil Winwin lagi. Kali ini langkah kakinya berhenti, tangannya meraih pelan lengan Cecilia agar perempuan itu ikut berhenti.

Setelah itu keduanya kembali diam, hingga Cecilia yang sedari tadi hanya menunduk, akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat sedikit wajahnya. Ia mendapati Winwin menatapnya dengan hangat.

“Kenapa, Kak?” tanya Cecilia dengan suara sedikit serak. Ternyata ia sedang berusaha menahan tangisnya.

Go cry, if you wanna cry. Manusia nggak harus selalu jadi kuat, kok.”

Tepat setelah Winwin menyelesaikan kalimatnya, air mata jatuh membasahi pipi Cecilia. Wajah perempuan mungil itu memerah dan ia sudah tidak peduli.

“Aku udah pasti nggak dapet beasiswa, Kak … Aku harus gimana sama mama papa? Tapi, aku juga nggak mau egois sama Kesha ….” Disela isak tangisnya Cecilia mengeluarkan semua uneg-unegnya.

Winwin tidak membalas dengan kalimat apapun, ia hanya menarik pelan Cecilia masuk ke dalam pelukannya, lalu mengelus pelan puncak kepala perempuan itu.

“Cecil, you are a very kind person. Gue kayaknya nggak pernah ketemu orang lain yang se-positif dan se-baik lo. Gue yakin banget lo pasti akan dapet beasiswa yang jauh lebih baik daripada yang ditawarin Altaire.”

Selesai bicara Winwin melepas pelukannya dan memegang kedua lengan Cecilia sambil menatap lekat-lekat mata Cecilia yang masih berair.

“Lo percaya kan, orang baik akan selalu dapat balasan yang lebih baik?”

Cecilia mengangguk walaupun ia masih terisak, sementara Winwin tersenyum sampai matanya menyipit. “Kalo gitu sekarang berhenti nangisnya, ya, anak baik.” Winwin mengusap pelan air mata di pipi Cecilia dengan ibu jarinya.

Cecilia terkesiap, matanya kini lebih berani menatap Winwin yang masih sibuk membersihkan air matanya.

“Udah, yuk, gue traktir bakso,” ucap Winwin lagi yang kini sibuk melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Cecilia. “Satu lagi, lain kali kalo keluar malem-malem jangan lupa pake jaket, biar gak masuk angin.”

“Tapi ini kan jaket kakak bekas kakak jogging …”

“Nggak bau, kok! Parfum gue wangi!”

Raut sendu yang tadi sempat mampir di wajah Cecilia kini berganti dengan senyuman lebar, Winwin benar-benar berhasil menghiburnya malam itu.

Pertemuan Pertama

Agustus 2020

“Win, balik kelas, yuk,” ajak Traven setelah sesi latihan paskibra hari ini berakhir. Waktu menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit, yang berarti masih ada dua puluh menit sebelum bel tanda pelajaran hari ini selesai berbunyi.

Winwin menggeleng pelan. “Gue cabut ah, Ven, udah males mikir.”

Traven menatap tajam Winwin yang dengan santainya berjalan di sisi kanannya. “Anjir, lo mau beralesan begitu sama Mrs. Anita? Bisa dipenggal kepala lo.”

“Lebay!” sanggah Winwin sambil memukul pelan lengan Traven. “Tolong lo buat alesan yang bagus buat gue, ya. Gue tau, lo kan jago kalo urusan ngeles,” sambung Winwin sambil menepuk-nepuk pelan bahu Traven lalu ia memisahkan diri dengan teman jangkungnya itu dan pergi menyusuri koridor sekolahnya yang lain.

Tujuan Winwin siang ini adalah perpustakaan, satu-satunya tempat di sekolahnya yang bisa ia kunjungi untuk sekedar bersantai sekaligus menyejukkan diri setelah berpanas-panasan di lapangan.

Setelah bertegur sapa dengan staff perpustakaan, Winwin pergi ke belakang perpustakaan. Ia duduk di meja yang menghadap jendela, dengan pemandangan taman bunga milik SMA Altaire terbentang luas di baliknya.

Winwin bersandar malas di kursi perpustakaan yang empuk, lalu ia memejamkan matanya. Semilir angin dari mesin penyejuk ruangan di perpustakaan itu sukses membuat Winwin hampir tertidur pulas, kalau saja ia tidak segera bangun karena terkejut oleh suara bel sekolahnya yang berbunyi.

“Ah, sial,” gerutu Winwin pelan. Ia bergegas bangkit dari kursinya, tapi sesuatu yang terlihat sedikit mengkilap di laci meja yang ia duduki menarik perhatiannya.

Winwin mengambil benda itu, yang ternyata adalah sebuah buku tulis dengan lapis sampul plastik. Di bagian depan buku itu tertulis nama sang pemilik.

“Cecilia Daniela, 10A.”

Setelah membaca nama sang pemilik, Winwin mengintip isi buku itu. Ia membalik-balikan halamannya sampai tanpa ia sadari senyuman tipis menghiasi wajahnya.

Akhirnya Winwin mengambil bolpoint yang selalu ia kantongi di kemeja sekolahnya, menuliskan sesuatu di lembar kosong di buku itu sebelum ia kembali menutupnya dan bertekad mengembalikan kepada pemiliknya besok.

***

Keesokan harinya …

Kedatangan Winwin pagi ini di lantai dua gedung SMA Altaire mengundang perhatian penuh dari penghuni di lantai itu. Bagaimana tidak, Winwin adalah seorang primadona sekolah. Selain memiliki paras yang tampan, Winwin juga dikaruniai otak yang pintar, sehingga tidak sedikit siswi SMA Altaire mengidolakan Winwin bahkan terang-terangan menyatakan perasaan mereka kepada lelaki itu.

Tetapi tidak ada satupun yang berhasil merebut hati Winwin, membuat lelaki itu tidak hanya dikenal sebagai primadona yang tampan dan pintar, tetapi juga misterius.

“Kak, nyari Kesha, ya? Kesha ada di kelasnya, tuh,” celetuk salah seorang siswi dari kelas 10B sambil mengikuti langkah kaki Winwin. Winwin tidak menjawab apa-apa, ia hanya tersenyum ramah sambil terus berjalan menuju tujuannya.

Tiba di depan kelas 10A, Winwin melihat Kesha menghampirinya.

“Tumben nyamperin gue ke kelas, ada apa?” tanya Kesha dengan percaya diri penuh.

Winwin mengangkat sebelah alisnya. “Gue nggak nyariin lo, kok, Sha.”

Senyum sumringah di wajah Kesha lenyap seketika. “Terus, lo ngapain ke sini?”

Pertanyaan Kesha di jawab Winwin dengan suara keras, membuat semua orang yang ada di sekelilingnya dapat mendengar dengan jelas.

“Cecilia Daniela yang mana, ya? Gue ada perlu sama dia.”

Yang semula semua mata tertuju kepada Kesha, kini beralih kepada seorang siswi yang duduk di kursi paling belakang dekat jendela.

Sang pemilik nama menoleh, lalu ia menghampiri Winwin dengan ekspresi bingung. “Saya Cecilia, Kak. Ada apa, ya?”

Tanpa diduga siapapun, Winwin menarik pelan tangan Cecilia, mengajak perempuan itu keluar dari kelasnya sekaligus membuat suasana kelas 10A semakin riuh.

“Lo kehilangan catetan Biologi?” tanya Winwin setelah mereka berhasil menjauh dari kerumunan murid kelas 10A.

“Eh, iya, Kak. Kok tahu?”

Winwin memberikan buku catatan milik Cecilia yang ia temukan di perpustakaan kemarin siang.

“Lain kali kalo mau keluar dari perpus dicek dulu, ya, biar ngga ada yang ketinggalan lagi,” nasehat Winwin lalu setelah Cecilia menerima buku pemberiannya, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan pergi meninggalkan Cecilia yang masih terkejut dengan buku miliknya yang berhasil ditemukan Winwin.

“Kak! Makasih, ya!” ucap Cecilia setengah berteriak karena Winwin sudah berjalan cukup jauh.

Winwin hanya mengangkat sekilas tangannya dan melambaikannya pelan, sebagai balasan atas rasa terima kasih Cecilia pada dirinya.

Tanpa Winwin, Cecilia ataupun murid lain sadari, Kesha yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kelas, memandangi Winwin dan Cecilia dengan tatapan tidak suka.

Tahun Pertama

Juli 2020

Selama 16 tahun aku hidup, aku tidak pernah menyangka diberi kesempatan untuk menimba ilmu di Altaire International School. Sekolah yang dulu hanya bisa kupandangi dari luar gerbangnya saja, kini aku dapat menginjakkan kedua kakiku di lantainya yang dilapisi marmer berwarna coklat susu.

Dengan sepatu hitam baru yang kudapatkan dari papa sebagai kado kelulusan SMP, aku melangkah mantap memasuki gerbang sekolah baruku yang megah. Aku juga tidak dapat berhenti berdecak kagum selama menyusuri koridornya. Maklum saja, segala sudut sekolah ini berbeda 180 derajat dengan sekolahku saat SMP dulu.

Aku terlalu asyik berkeliling hingga aku tersasar entah ke mana. Ini juga hal lain yang membedakan sekolahku dulu dengan SMA Altaire; sekolah ini sangat luas!

“Hai, maaf aku mau tanya, ruang Tata Usaha di mana, ya?” tanyaku sopan pada salah seorang siswi yang lewat di depanku.

Sekilas perempuan itu memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum menjawab pertanyaanku.

“Yuk, bareng. Gue juga mau ke sana.”

Aku mengangguk patuh, lalu aku mulai berjalan membuntuti siswi itu. Dari belakang aku memperhatikan dengan seksama perempuan itu; rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan jepit berbentuk pita kecil berwarna pink yang disematkan di sisi kanan kepalanya. Ransel mini berwarna hitam mewah dengan gantungan boneka beruang mini sebagai hiasannya menempel manis di punggungnya.

“Pasti salah satu top tier di sini, deh,” batinku dalam hati setelah beberapa saat menilai gaya perempuan itu.

“Udah sampe!” ucapnya bersemangat. Ia mempersilahkan aku untuk masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.

Staff Tata Usaha menyambutku dengan senyuman ramah, tapi kemudian pandangannya teralihkan kepada perempuan yang mengantarku.

“Kesha, selamat, ya … Akhirnya jadi siswi SMA juga …”

Kesha—begitulah caraku mengetahui nama perempuan yang membantunya tersenyum lebar menanggapi sapaan staff Tata Usaha itu.

“Hehe, iya nih, Mbak.”

“Ada perlu apa, Kesha?” tanya staff Tata Usaha itu.

“Aku nanti aja, dia aja dulu,” jawab Kesha sambil menunjuk diriku yang berdiri canggung, lalu ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

“Oh iya, maaf, kamu ada perlu apa?”

“Saya mau ambil buku Agama sama PPKN, kemarin waktu saya ambil buku, dua buku itu belum dateng, jadi saya disuruh ambil pas hari pertama sekolah,” jawabku menjelaskan maksud dan tujuanku.

“Oh oke, boleh tau nama kamu siapa? Dan juga kelas berapa?”

“Cecilia Daniela, kelas 10A.”

Setelah memasukkan namaku ke dalam data di komputernya, staff Tata Usaha itu kembali mengajakku berbicara. “Cecilia duduk di sofa dulu, ya, saya ambilkan dulu bukunya di belakang.”

Aku hanya mengangguk lalu bergabung dengan Kesha yang masih duduk di sana. Perempuan itu kini sedang memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu menggunakan airpods.

“This thing called love, I just can’t handle it. This thing called love, I must get ‘round to it, I ain’t ready, crazy little thing called love …”

Kepalaku refleks menoleh ke arah Kesha yang sedang bersenandung dengan salah satu lagu dari penyanyi kesukaanku.

“Suka Queen juga?” Aku memberanikan diri untuk bertanya, tapi sepertinya Kesha tidak terlalu mendengar jelas pertanyaanku, karena itu ia melepas airpodsnya dan memintaku mengulang pertanyaanku. “Tadi lo nanya apa?”

“Suka Queen juga?”

Ku lihat Kesha mematikan Apple Music di ponselnya sebelum menjawab pertanyaanku.

“Iya. Lo juga suka?”

Aku mengangguk antusias. “Suka banget!!”

Kesha pun ikut antusias. “Ih parah, gue kemarin liburan ke UK, gue visit rumahnya Freddie Mercury, terus kemana lagi ya …” Kesha berhenti sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. “Oh! Terus gue ke Liverpool juga, sekalian ikut The Beatles tour. Biasalah, bokap gue.”

Kesha mengakhiri ceritanya dengan tawa kecil, sepertinya ia sedang kembali membayangkan masa-masa liburannya kemarin.

Sementara aku hanya tersenyum tipis, aku semakin yakin kalau Kesha adalah top tier di sekolah ini, berbeda jauh sekali dengan aku yang cuma murid biasa yang beruntung bisa bersekolah di sini karena beasiswa.

Aku hanya bisa melihat sejarah Queen dari Youtube, sementara Kesha bisa merasakan langsung di negaranya.

“Eh, btw gue seneng banget ketemu orang yang sama-sama suka Queen kayak gue!” Kesha kemudian mengulurkan tangannya ke arahku, “temenan, yuk! Kenalin, gue Kesha Gianina Anantara.”

Detik itu juga aku tau kenapa dia berbeda denganku; dia adalah putri tunggal dari pemilik yayasan Anantara, yayasan yang membiayai beasiswaku di SMA Altaire, yang merupakan sekolah milik yayasan itu.

“Cecilia Daniela,” jawabku kikuk.

“Mulai sekarang kita bestfriend, ya!”

Mataku sedikit membelalak, kaget mendengar apa yang diucapkan Kesha barusan.

Please don’t feel awkward around me, gue gak mau diperlakuin special cuma karena gue Anantara. Anggep gue sama kayak lo, ya?”

Aku yang masih agak tidak percaya dengan ajakan bertemannya barusan hanya mengangguk-angguk canggung, sementara Kesha kini menyodorkan iPhone nya kepadaku.

“Kasih gue nomor lo, biar kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.”

Aku menurut, menekan tombol angka di layar sentuh ponselnya lalu mengembalikan ponsel itu kepada Kesha.

“Cecilia.” Staff Tata Usaha memanggilku. Aku meninggalkan Kesha sebentar untuk mengambil buku Agama dan PPKN milikku. Selesai menandatangani kertas serah terima buku, aku kembali menghampiri Kesha.

“Kesha, kamu masih ada perlu di sini? Aku udahan, nih, sekarang mau ke kelas,” ucapku masih dengan nada canggung.

Kesha menggeleng lalu ia bangkit berdiri dari sofa, “Urusan gue bisa nanti, yuk, kita ke kelas. Anyway gue juga kelas 10A,” balasnya sambil menggandeng lengan kiriku dan mengajakku keluar dari Tata Usaha.

Inilah awal mula pertemanan aku dan Kesha di tahun pertamaku.

Kalerina

—an epilogue

Sesuai janji yang mereka buat semalam, Sabtu siang sekitar pukul 11 Kale sudah duduk manis di ruang tamu menunggu Sabrina bersiap.

“Tolong jaga Sabrina baik-baik, ya, Kale … Kalo bisa pulangnya jangan kemaleman, takut hujan,” pesan ayah Sabrina kepada Kale.

“Siap, Om,” jawab Kale ramah, tapi selang sedetik terdengar protes Sabrina yang datang dari arah belakang ayahnya.

“Bapak kayak baru kenal Kale aja.”

Ayah Sabrina tersenyum. “Iya, biasanya yang Bapak kenal itu Kale tetangga kita. Kalau sekarang baru aja Bapak kenalan sama Kale pacar Nana.”

Kedua mata Sabrina membulat membesar mendengar pernyataan ayahnya, buru-buru ia melihat ke arah Kale yang hanya tersenyum awkward seperti anak kecil terciduk habis melakukan sesuatu.

-

“Kamu bilang apa sama Bapak?!” todong Sabrina di tengah perjalanan mereka menuju salah satu mal di kawasan selatan Jakarta.

“Izin mau ajak kamu jalan-jalan.”

“Selain itu maksud aku,” sambung Sabrina cepat karena ia tidak puas dengan jawaban Kale.

“Izin juga buat macarin kamu. Untung dapet restu, hehehe …”

Sabrina refleks memukul pelan punggung Kale. “Ih Kale, mah … ‘Kan aku malu!”

Kale tertawa cukup keras di balik maskernya. “Malu kenapa sih, Sab? Itu ayah kamu sendiri, lagipula cepat atau lambat dia pasti tau kita jadian. Daripada tau dari tetangga lain, mending langsung tau dari aku sendiri, kan?”

Sabrina tidak menggubris kalimat Kale karena ia masih merasa malu, padahal benar kata Kale, tidak ada yang salah tentang pengakuan Kale kepada ayahnya atas hubungan mereka.

“Mana tangan kamu?” tanya Kale dengan tangan kirinya meraba-raba bagian belakang tubuhnya, mencari tangan Sabrina yang tadi sempat memeluknya dari belakang.

Kedua tangan Sabrina kembali melingkari perut Kale, dan dengan tangan kiri yang sesekali bisa bebas dari stir, Kale mengelus-elus perlahan tangan Sabrina.

“Sab, kamu malu jadian sama aku?” tanya Kale lagi saat jalanan cukup lengang, sehingga Kale bisa mengemudi dengan sedikit santai.

Sabrina menggeleng. “Nggak, bukan gitu. Aku bukannya malu gimana, Kal. Aku cuma belum terbiasa aja. Dan juga, aku takut sama reaksi orang kalo tau aku pacaran, mengingat aku dulu kayak gimana sama relationship.” Sabrina menjawab pertanyaan Kale dengan lesu.

“Sab, aku nggak akan pernah bosen buat ingetin kamu; ngapain kamu pikirin hal yang belum tentu kejadian? Ayo, kita sama-sama belajar untuk saling ngurangin negative thinking di dalam pikiran kita. Kalaupun emang ada yang ngomongin kamu, don’t mind it.

You might haven’t thousand hands to cover their mouth, but you have both of your hands to cover your ears. Lagipula kita nggak ngerugiin mereka, kenapa jadi kita yang pusing?”

Sabrina tertegun. Sebenarnya bukan kali pertama ia mendengar nasihat dari Kale. Sejak mereka bersahabat, Kale memang sering menjadi advisor untuk Sabrina. Hanya saja dengan status mereka yang sudah berubah menjadi in relationship, Sabrina merasa nasihat dari Kale terdengar lebih menenangkan dan juga membuat perasaannya jauh lebih baik.

“Hei? Kok diem? Jangan bengong,” ucap Kale lagi karena Sabrina tidak merespons apa-apa.

“Hah? Enggak, aku nggak bengong. Aku lagi amazed aja denger nasihat kamu, rasanya beda denger kalimat itu dari kamu as sahabat aku dulu dan sekarang as pacar aku.”

“Ih asik aku beneran punya pacar,” timpal Kale out of topic, refleks Sabrina meninju pelan punggung Kale.

Kale kembali tertawa lepas, “Iya iya ampun, duh, ini lain kali aku bawa mobil aja lah kalo pergi sama kamu. Kalo dipukulin gini terus bisa-bisa pas pulang punggung aku biru-biru semua.”

“Lebay!”

“Nggak papa, yang penting jadi pacarnya Sabrina Janitra.”

Sabrina tidak dapat menahan senyumnya, dipeluknya kembali tubuh ramping Kale lebih lalu ia sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Kale.

“I love you, Kale Naratama Juandera.”

To Be With You

Sekitar pukul setengah satu dini hari akhirnya Kale tiba di rumahnya. Selesai memarkirkan motor matic hitam andalannya, ia melepas helm yang dikenakannya dan mengendurkan sedikit retsleting jaketnya.

“Kale.”

Sebuah suara menyapa pelan Kale yang hendak memasuki rumahnya. Lelaki itu menoleh, mendapati Sabrina berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih sedikit pucat.

“Sab?”

Sabrina hanya tersenyum tipis menanggapi balasan Kale yang terdengar khawatir dan bingung.

“Mau ngobrol, bisa?”

-

Dan kini keduanya duduk di balkon kamar Kale, ditemani semilir angin yang tidak terlalu dingin padahal langit cukup berawan malam itu.

Setelah meminta Sabrina menunggu sebentar di balkon kamarnya, Kale datang dengan dua gelas air putih hangat. Ia juga sudah berganti pakaian dengan pakaian rumah andalannya; kaos dan celana pendek.

“Gimana badan lo, masih sakit nggak? Tadi makan malem apa? Udah minum obat lagi, kan?”

Kale memberondong Sabrina dengan beberapa pertanyaan sekaligus, membuat perempuan itu lagi-lagi tersenyum.

“Udah nggak sakit. Tadi malem gue makan sate ayam dibeliin bapak, abis itu minum obat terus tidur bentar.”

“Terus kenapa bangun lagi?” tanya Kale lagi.

“Ada yang mau gue omongin sama lo,” jawab Sabrina pelan.

“Kan bisa besok, Sab.”

“Nggak bisa, Kal. Gue udah sengaja nggak mau mikirin hal ini dengan sibuk kerja. Tapi pas gue sakit, lo malah jadi orang nomor satu yang paling care sama gue,” potong Sabrina cepat. Ia tidak mau usahanya menahan kantuk demi menunggu Kale pulang malam itu sia-sia.

Kale memutar sedikit tubuhnya agar ia dapat melihat Sabrina dengan lebih jelas. “Yaudah, mau ngomong apa?” tanya Kale. Gestur tubuhnya mengisyaratkan ia siap mendengar apapun kalimat yang akan diucapkan sahabatnya itu.

“Gue nggak tau harus mulai ngomong dari mana ...” Sabrina diam sesaat, mencari kata-kata terbaik untuk mengutarakan seluruh isi kepalanya dengan sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas.

I guess I'm falling for you, Kal.”

Beberapa detik berikutnya Kale tidak memberikan reaksi apapun, membuat Sabrina yang sedari tadi menunduk akhirnya sedikit menoleh dan mendapati lelaki itu sedang memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit ditebak Sabrina.

“Kal?” panggil Sabrina memastikan kalau laki-laki itu tidak tertidur dalam keadaan mata terbuka.

“Sab, lo ngomong gini karena lagi sakit? Atau karena kepikiran ucapan gue waktu itu terus-terusan dan berujung kasihan sama gue? I don't want to be pitied, especially by you.”

“Nggak, Kal. Kalo lo berpikir gue ngasihanin lo, di awal lo ngaku tentang perasaan lo sama gue, pasti gue akan langsung menawarkan diri buat jadi pacar lo. Nggak, gue nggak ngasihanin lo. Gue udah pikirin ini baik-baik.”

Sabrina memberi jeda pada dirinya dengan menghirup dalam-dalam udara malam kompleks rumahnya dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kembali penjelasannya kepada Kale.

“Gue sadar, kalau selama ini gue hidup dalam ketakutan. Kepergian bapak kasih trauma mendalam di gue dan salahnya gue nggak mencari cara untuk sembuh dari trauma itu, gue malah jadiin trauma itu sebagai reasons untuk nggak berhubungan dengan siapapun.

“Dan bapak kemarin bilang sama gue, kalo gue nggak boleh takut sama hal buruk yang mungkin bisa terjadi di dalam hidup gue; ditinggalkan atau dikhianati. Kata bapak, kalaupun gue harus menghadapi hal itu, gue juga pasti bisa ngelewatinnya.

“Bapak juga bilang, gue harus jujur sama perasaan gue sendiri. Jangan karena masa lalu gue, gue jadi nggak tahu perasaan gue yang sebenarnya tuh gimana. Ghea juga bilang kalo sebenernya nggak ada manusia yang hidup dari trauma, orang-orang yang bilang mereka punya trauma itu cuma orang-orang yang beralasan aja. And I don't want to be part of them.”

Karena bicaranya sedikit menggebu-gebu, Sabrina kembali diam untuk mengatur nafasnya, sementara Kale masih setia mendengar penjelasan perempuan itu sampai pada kalimat terakhir.

So, Kal, gue sekarang udah tau perasaan gue gimana. Dengan pikiran gue yang diem-diem selalu mikirin keadaan lo, dan hati gue yang diem-diem jealous kalo lo retweet foto customer lo di Twitter, gue sadar, kalo gue ternyata udah jatuh hati sama lo.

“Ditambah the day when you kissed me on that park, gue juga sadar kalo gue marah bukan karena lo ngambil kesempatan dalam kesempitan, tapi karena gue yang kaget dan gue merasa belum siap and stupidly I blame you for—”

Kalimat Sabrina terputus. Ternyata Kale tidak bisa setia mendengar penjelasan panjang kali lebar tetangganya itu karena sekarang ia sudah memeluk erat Sabrina, menaruh dagunya di atas bahu perempuan itu dan mengusap kepalanya pelan.

“Cerewet. Just say 'I love you' is more than enough, Sab.”

But I need to explain, Kal.”

Kale melepas pelukannya, ditatapnya netra coklat milik Sabrina dalam-dalam. “Your eyes could explain everything. Gue bisa tau apa isi kepala lo dari tatapan lo.”

“Sok tau banget, sumpah,” tukas Sabrina, mengundang kekehan pelan Kale.

“Sabrina, thank you for telling me everything. Terima kasih udah bisa jujur sama perasaan lo sendiri. Terlepas dari hubungan kita, gue seneng akhirnya lo bisa lepas dari trauma masa lalu lo,” ucap Kale dengan nada bangga, tangannya mengelus-elus pelan puncak kepala Sabrina, persis gestur seorang ayah yang bangga akan pencapaian anaknya.

Sabrina mengerucutkan sedikit bibirnya dan menunduk karena merasa malu. Kale pun mengangkat sedikit dagu Sabrina agar perempuan itu kembali melihat dirinya.

“Sab, I never expect that I'll say this phrase on this time and this place ....” Kale berdeham pelan sebelum menuntaskan kalimatnya.

I love you, Sabrina Janitra.”

And without any hesitation, she kiss him gently, deep, with all of her emotions that have been detained all this time. With the kiss, she let him steal her soul; let him know her feelings towards him from the deepest of her heart. With the kiss, she said, that all she wants now is to be with him. Forever.

What About Now?

Sabrina

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu kamar Sabrina sukses mendistraksi perempuan itu dari kegiatan menontonnya. Dengan langkah gontai ia membuka pintu dan mendapati ayahnya dengan senyum terhangatnya berdiri di hadapannya.

“Ngopi, yuk, Na?”

-

Yang sudah 10 tahun tidak dilakukan Sabrina bersama dengan sang ayah, hari ini ia lakukan lagi; duduk di teras rumahnya dengan dua gelas kopi hitam kesukaan ayahnya. Kalau dulu saat Sabrina sekolah, perempuan itu akan disuguhi segelas susu hangat, tapi sekarang ia bisa menyeruput minuman yang sama dengan ayahnya.

Bicara dari hati ke hati selalu dilakukan Sabrina dan ayahnya, makanya tidak heran saat kepergian mendadak sang ayah 10 tahun silam, Sabrina benar-benar kehilangan sosok yang bisa ia percaya untuk mendengar keluh kesahnya.

“Tadi kamu ke mana, Na?” Ayah Sabrina membuka percakapan mereka setelah ia menyeruput pelan kopi panasnya, setelah ia berhasil menunggu ampasnya mengendap di dasar gelas.

“Ke Plaza Senayan, Pak,” jawab Sabrina pelan.

“Ketemu cowok, ya?” tanya ayah Sabrina lagi dengan nada sedikit jahil.

Wajah Sabrina sedikit memerah, “Hah? Eh, iya, Pak.”

“Siapa? Nggak mau cerita sama Bapak?”

Sabrina diam sejenak, mempersiapkan diri untuk menceritakan seluruh hal yang terjadi dalam hidupnya, terutama sejak pengakuan Kale dan juga permasalahan yang terjadi di kantornya.

Menurutnya saat ini tidak ada lagi tempat terbaik untuk bercerita selain sang ayah, dan ia juga yakin akan mendapatkan jawaban terbaik dari ayahnya.

“Na, Bapak sebelumnya minta maaf, ya, karena Bapak kamu jadi punya kesulitan seperti ini ...” keluh ayah Sabrina setelah putrinya selesai bercerita.

Sabrina tersenyum tipis lalu mengusap pelan lengan ayahnya, “Nggak papa, Pak ... Ini Nana aja yang emang punya bad character kayak gini,” balas Sabrina.

“Gini, Na, kita manusia pasti pernah mengecewakan satu sama lain. Kita bukan makhluk sempurna, kita bisa buat salah, kita bisa jadi egois, dan masih banyak lagi. Tapi, kita juga manusia yang dikasih akal sehat dan hati untuk saling memaafkan, saling memahami.

“Jadi sebenarnya Nana nggak perlu takut ditinggal, takut dipatahkan lagi rasa percayanya, karena itu siklus hidup kita. Mau nggak mau, suka nggak suka, kita akan berhadapan dengan hal itu. Tapi, kita juga pasti akan berhasil survive dari masalah itu.”

Sabrina diam, mencerna satu per satu kalimat nasihat yang diucapkan ayahnya.

“Jangan sampai ketakutan kamu itu, menutupi diri kamu. Menutupi perasaan kamu yang sebenarnya.”

Sabrina lagi-lagi hanya diam, tidak ada yang bisa disanggah dari perkataan ayahnya. Semua yang diucapkan pria paruh baya itu benar adanya.

“Kale laki-laki baik, Na. Bapak bisa percaya sama dia.” Ayah Sabrina kembali bersuara.

“Ih, Bapak, kok tiba-tiba bahas Kale, sih?” protes Sabrina.

“Lho? Tadi kan Nana terakhir cerita kamu jalan sama Kale, terus karena itu kamu jadi bingung sama perasaan kamu ... Nah, Bapak kasih tau, kalau Kale itu laki-laki baik.”

Kemudian ayah Sabrina bangkit dari duduknya sambil membawa cangkir kopinya.

“Bapak mau ke mana?”

“Masuk. Ngantuk, hehehe ...” jawab ayah Sabrina dengan sedikit cengengesan lalu ia masuk terlebih dahulu meninggalkan Sabrina di teras.

*

Kale

“Kirain tidur, nggak taunya ngeliatin Sabrina,” cibir Kalani lalu ia ikut duduk di sisi kanan Kale, di balkon kamar adik laki-lakinya itu.

“Modal napa,” protes Kale saat dilihatnya Kalani membakar sebatang rokok miliknya.

Kalani tidak peduli dengan protes Kale, ia tetap mengisap dalam-dalam rokok itu dan menghembuskan asapnya perlahan ke udara.

“Ditolak, ya, lu?” tanya Kalani setelah beberapa saat mereka diam.

Kale tidak langsung menjawab, ia hanya memandangi Sabrina yang masih duduk di teras rumahnya. Sejak Sabrina mengobrol dengan ayahnya, Kale sudah memperhatikan perempuan itu dalam diam. Ia hanya ditemani ice americano buatannya sendiri dan juga rokok andalannya.

Love will find you, Kal.” Kalani kembali bersuara, mengundang decakan kesal dari adiknya.

“Lo masih ada paket yang mau di-packing-in? Sini gue kerjain,” balas Kale nggak nyambung karena biasanya ini ciri-ciri Kalani kalau mau minta tolong kepada Kale; membaweli lelaki itu dengan ocehan random.

“Itu lagu Westlife, judulnya What About Now.”

“Daughtry.”

“Gue dengerinnya yang versi Westlife, sama aja,” balas Kalani tidak mau kalah. “Lagian yang penting, mah, arti lagunya. Persis lo sama Sabrina sekarang.”

“Tidur aja lah lo, Kal. Besok pagi nasi udukkan sama gue.” Lagi-lagi Kale tidak menggubris kalimat Kalani.

“Bener, ya?! Awas lo janji palsu,” ucap Kalani sedikit mengancam sambil mematikan rokoknya.

“Iya, bawel,” balas Kale lagi lalu setelah itu Kalani bangun dari duduknya seraya mengacak-acak gemas rambut silver Kale dan pergi dari situ.

Dan Kale kembali lagi sendiri. Ia kembali melirik ke arah teras rumah Sabrina yang sudah kosong karena perempuan itu sudah masuk ke dalam rumahnya beberapa menit lalu.

Kale mengambil ponselnya, membuka aplikasi Spotify miliknya dan memutar satu lagu yang sempat diperdebatkan siapa penyanyinya dengan kakaknya tadi.

The ways you made me feel alive The ways I loved you For all the things that never died To make it through the night Love will find you What about now? What about today? What if you're making me all that I was meant to be? What if our love never went away? What if it's lost behind words we could never find? Baby, before it's too late What about now?

– What About Now, Daughtry

One Fine Day

Kalau bukan karena Ghea, Sabrina tidak akan berada di basement Plaza Senayan sore ini. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit, tapi perempuan itu masih diam di dalam mobil Honda Brio merahnya karena ia masih ragu.

Sekitar 15 menit kemudian, pesan teks dari Ghea datang, membuyarkan bayangan-bayangan buruk yang mampir di kepala Sabrina.

Ghea 15 menit lagi

Sahabatnya yang memiliki tubuh mungil itu tidak bilang banyak hal, tapi Sabrina tahu betul apa maksudnya. Akhirnya setelah merapal berbagai doa yang diyakini dapat membantu dirinya untuk melawan rasa takut dan ragu, Sabrina keluar dari mobilnya.

Berbekal info 'berpakaian serba hitam dan rambut berwarna silver', Sabrina datang ke tempat yang dijanjikan. Saat itu suasana lobi bioskop tidak terlalu ramai, mungkin karena film-film yang diputar di tiap teater masih berlangsung atau sudah selesai.

Dari pintu masuk, Sabrina dapat melihat lelaki yang sesuai dengan ciri-ciri yang diberikan Ghea. Tubuhnya tinggi, rambut silvernya mencolok di antara pengunjung lainnya. Sayangnya lelaki itu memunggungi pintu masuk, membuat Sabrina tidak dapat melihat wajahnya.

Walaupun ragu Sabrina menghampiri lelaki itu, tapi semakin mendekati laki-laki itu ia justru semakin ragu. Dan ketika ia memutuskan untuk berbalik arah, laki-laki itu justru memergokinya dan memanggil namanya.

“Sabrina Janitra.”

Suara yang tidak asing di telinga Sabrina. Ia pun segera menoleh kembali untuk memastikan dugaannya salah, tapi ternyata ia tidak salah; yang memanggilnya adalah laki-laki yang terakhir kali tanpa permisi mencium bibirnya.

“Ngapain lo di sini?” tanya Sabrina dingin.

Kale menunjuk rambutnya, “Gue cowok yang janjian sama lo jam empat sore di sini.”

Sabrina mendengus tertawa pahit kala menyadari warna rambut Kale; lelaki itu benar-benar mewarnai rambutnya dengan warna silver.

“Lo nge-DM Ghea?”

Kale menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Emang seharusnya gue nggak usah dateng,” gumam Sabrina kecewa, kemudian ia kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Kale.

“Sab,” panggil Kale sambil meraih tangan Sabrina, menghentikan langkah kaki perempuan itu. “Khusus hari ini aja, anggep gue as blind date lo. Kita nggak pernah saling kenal satu sama lain dan kita ke sini cuma buat have fun aja,” sambung Kale lagi.

Sabrina melirik ke arah tangan Kale yang masih memegang tangannya, mengisyaratkan agar lelaki itu melepas pegangannya.

“Ya nggak bisa lah, Kale. Gimana caranya gue pura-pura nggak kenal sama lo? Aneh.”

“Bisa, buat hari ini aja. Kalo perlu jangan panggil gue Kale.” Kale lalu menjulurkan tangan kanannya, “Kenalin, gue Juan.”

Sabrina hanya memandangi tangan itu sesaat kemudian memilih untuk kembali pergi meninggalkan Kale.

“Sab, you still have 5 minutes before 4.30 pm!” ucap Kale agak keras agar Sabrina dapat mendengar kalimatnya.

Begitu keluar dari bioskop itu, Sabrina menghela nafas kasar. Tangannya dengan cepat mencari nomor telfon Ghea dan segera menghubunginya. Tapi sayang, nomor Ghea sedang sibuk.

Sabrina melirik ke tangan kirinya, kini tersisa dua menit sebelum jarum panjang jam tangannya berada persis di angka enam. Ia harus sesegera mungkin membuat keputusan yang tidak boleh ia sesali di masa mendatang.

-

“Hai Juan, gue Sabrina.”

Tepat pukul empat lewat tiga puluh menit, Sabrina berdiri di belakang Kale slash Juan dengan tangan kanannya yang terulur. Kale berbalik, membalas uluran tangan Sabrina sambil tersenyum lebar.

“Gue udah beli tiket buat pertunjukan jam 4.45. Mau beli cemilan atau minum?” tawar Kale sambil berjalan menuju tempat penjualan makanan dan minuman di bioskop.

“Film apa?”

Kale mengeluarkan tiket dari kantongnya dan menunjukkannya pada Sabrina. “Shang-Chi.”

Sabrina hanya mengangguk, lalu perempuan itu mendekatkan diri pada kasir yang kosong untuk memesan camilannya.

“Mbak, popcorn nya yang asin...” ucapannya terhenti seketika, mengingat ini adalah 'agenda' blind date nya dengan Juan, bukan Kale. Ia benar-benar mau berusaha berperilaku seolah-olah dia sedang bersama dengan Juan, bukan Kale.

“Sebentar, ya, Mbak,” sambung Sabrina lalu ia menoleh ke arah Kale yang sedang memainkan ponselnya. “Juan, lo mau popcorn rasa apa?” tawar Sabrina.

Kale menyimpan ponselnya lalu ia mendekati kasir, berdiri tepat di sisi kanan Sabrina. “Hmm ... Karamel, deh.”

“Minumnya?”

“Mineral Water aja.”

“Oke. Saya juga sama, ya, Mbak. Jadi masing-masing dua.”

Setelah beres memesan camilan untuk menonton sore itu, Kale segera mengajak Sabrina masuk ke dalam studio karena pengumuman dari bioskop menyatakan film yang mereka pilih akan segera dimulai.

Sepanjang film berlangsung, Kale sepenuhnya fokus menonton tapi tidak dengan Sabrina. Ia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki yang tadi memilih untuk duduk di sisi kanannya itu. Sesekali ia mencuri pandang, memperhatikan struktur wajah Kale saat ia tertawa atau saat ia sedang serius.

“Gimana? Suka nggak sama filmnya?” tanya Kale setelah dua jam lebih mereka berada di dalam teater. Sambil berjalan keluar dari bioskop, Sabrina hanya mengangguk pelan.

“Laper, nggak? Gue laper, nih,” ucap Kale lagi, “makan di Pepper Lunch, mau nggak? Atau lo mau makan di mana, gitu?” sambung Kale bertanya.

“Pepper Lunch aja nggak papa, gue lagi nggak kepengen apa-apa,” jawab Sabrina sederhana. Karena sudah tau tujuan mereka selanjutnya, keduanya segera pergi menuju restoran yang letaknya tidak jauh dari bioskop.

Setelah mengantri cukup lama, akhirnya mereka selesai memesan dan makanan mereka pun sudah tersaji di hadapan keduanya. Kale hanya mengucapkan 'selamat makan' pada Sabrina sebelum ia mulai menyantap Beef Pepper Rice-nya.

Selama makan, hampir tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka sibuk menghabiskan makanan masing-masing. Hanya sesekali keduanya sibuk sendiri dengan ponsel mereka; Kale entah sibuk bertukar pesan dengan siapa, sementara Sabrina sibuk menghujani Ghea dengan puluhan pesan teks yang isinya sudah bisa dipastikan tertulis dalam huruf kapital.

“Kalo gue ajak ngopi, perut lo masih sanggup nggak?” tanya Kale setelah dilihatnya hot plate milik Sabrina sudah kosong.

Sabrina tersenyum tipis, “Tenang, selalu ada tempat buat kopi di perut gue.”

Kale pun refleks ikut tersenyum dan mereka berdua segera pergi meninggalkan restoran itu untuk berkeliling sebentar sebelum pergi menuju destinasi akhir mereka; kedai kopi.

-

Beruntung kafe pilihan Sabrina tidak meminta ia dan Kale untuk masuk dalam daftar tunggu; mereka langsung diizinkan untuk masuk dan duduk di meja di sudut ruangan yang dikhususkan untuk dua orang.

“Ice Latte, gulanya dipisah, ya, Mas,” pesan Sabrina cepat lalu ia beralih kepada Kale, “lo pesen apa?”

“Americano aja, ice.”

Karena pesanannya mudah dan sedikit, dalam waktu singkat dua minuman milik mereka sudah langsung tersaji di atas meja. Sabrina menuang sedikit gula cair ke dalam minumannya lalu mengaduknya dengan sedotan, menciptakan bunyi khas dari es batu yang saling bertabrakkan di dalam gelas.

“Sabrina sibuk apa sekarang?” Kale memulai percakapan di antara keduanya. Ia benar-benar berperan seolah-olah baru pertama kali bertemu dan berkenalan dengan perempuan itu.

“Hah? Oh, um ... gue sibuk kerja di event organizer. Kalo lo?” Sabrina juga melakoni perannya dengan cukup baik.

“Gue barista di kedai putri duyung ijo.”

Perlu sepersekian detik untuk memahami jawaban Kale. “Oh,” dan hanya itu respons yang dapat diberikan Sabrina.

“Kerjaan lancar, Sab?” tanya Kale lagi.

“Ya ... Begitulah. Masalah, mah, ada aja tiap saat. Tapi so far baik-baik aja. Lo juga, kan?” Sabrina mengembalikan lagi pertanyaannya kepada Kale.

Kale mengangguk. “Yes, sama kayak lo.”

Lalu setelah itu keduanya diam. Kale sibuk memainkan sedotan minumannya lalu sesekali menyeruput isinya, sementara Sabrina tidak berhenti memperhatikan Kale.

Kalau 'Kale' biasanya sudah menghabiskan dua batang rokok saat ini, ternyata tidak dengan 'Juan'. 'Kale' juga biasanya sudah bermain mobile game kalau mereka sedang tidak ada topik pembicaraan, tapi 'Juan' tidak. Dalam hati Sabrina mengagumi niat Kale tentang pertemuan mereka hari ini, tapi juga ada sedikit rasa kecewa yang terbesit.

“Abis ini mau kemana lagi?” tanya Kale memecah keheningan di antara mereka.

“Nggak ada, kayaknya gue balik. Emang lo mau pergi lagi?”

“Nggak juga, tapi nggak tau, deh. Mungkin gue muter-muter dulu. Bosen di rumah.”

“Emang ke sininya naik apa?” tanya Sabrina penasaran. 'Kale' yang ia kenal sudah pasti akan menjawab mobil, tapi ternyata 'Juan' menjawab berbeda.

“Motor. Males macet-macetan.”

Alasan saja, aslinya memang Kale sudah merencanakan hari ini ia akan sebisa mungkin berbeda dari biasanya yang Sabrina kenal.

“Yaudah, kalo gitu balik deh, yuk? Minuman lo udah abis, kan?” ajak Kale sambil ia bangkit dari duduknya.

Sabrina mengiyakan dengan sebuah anggukan dan setelah itu Kale langsung pergi ke kasir untuk membayar pesanan mereka.

-

“Parkir di mana?” tanya Kale lagi saat mereka sudah keluar dari kafe.

“B1. Kalo motor parkir di mana?”

“Gue parkir sebelah, biar murah, hehehe ...”

Sabrina hanya membulatkan bibirnya tapi dalam hatinya ia tersenyum, ternyata masih ada 'Kale' di dalam diri laki-laki yang tengah berjalan berdampingan dengan dirinya saat ini.

“Gue anter ke mobil lo, ya?” tawar Kale.

Sebenarnya Sabrina ingin menolak, tapi mulutnya seperti terkunci dan tidak menjawab apa-apa, membuat Kale menganggap itu sebagai jawaban 'ya' dari dirinya.

Sampai di mobil Sabrina, perempuan itu segera membuka kuncinya dan mengucapkan salam perpisahan pada Kale.

“Thanks, ya, Juan. Udah jadi temen jalan gue hari ini. Hati-hati baliknya.”

Sure! Lo juga hati-hati, ya, nyetirnya!” balas Juan riang lalu ia melambaikan tangan singkat kepada Sabrina dan pergi meninggalkan basement itu.

Setelah beberapa langkah Kale berjalan menjauh dari mobil Sabrina, lelaki itu dapat mendengar suara heels milik Sabrina mengejar dirinya.

“Juan!” panggil Sabrina lalu sedetik kemudian Kale dapat merasakan perempuan itu memeluknya erat dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung bidang milik Kale.

“Gue nggak tau sekarang gue lagi peluk Juan atau Kale, sorry ... but please let me to hug you just for now,” ucap Sabrina pelan.

Kale diam mematung, ia hanya melirik ke kedua tangan Sabrina yang melingkari perutnya. Cengkramannya semakin erat memeluk tubuh rampingnya.

“Sab,” panggil Kale setelah beberapa saat mereka diam. Sabrina melepaskan pelukannya dan mengizinkan Kale untuk berbalik menatap dirinya.

“Terima kasih, udah mau pergi jalan-jalan sama gue hari ini. It was a beautiful one fine day with you. Terima kasih udah kasih gue kesempatan buat bisa sama-sama lo tanpa mikirin status kita apa dan siapa.

“Besok dan seterusnya, anggap aja hari ini nggak pernah ada. Gue akan kembali jadi tetangga dan sahabat buat lo. Oke?”

Mendengar kalimat Kale, Sabrina memberanikan diri mendekatkan wajahnya dengan Kale dan mencium bibir merah muda milik lelaki itu.

“Kale, maaf ... Maaf gue selalu bikin lo bingung. Maaf karena gue sendiri nggak tau sama perasaan gue,” ucap Sabrina pelan.

Kale menangkup wajah Sabrina dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata yang mulai mengalir di pipi perempuan itu dengan lembut.

No need to say sorry, Sab.”

Sabrina mengangguk-angguk, mencoba mengiyakan kalimat Kale. Kale tersenyum lalu sekali lagi ia menghapus air mata Sabrina. “Hati-hati, ya, pulangnya. Nyetirnya jangan sambil main HP.”

Sabrina kembali mengangguk sambil mengusap kembali sisa air mata di wajahnya. Kemudian Kale merangkul bahu Sabrina dan kembali mengantarkan perempuan itu ke mobilnya.

Best Friend Should (Not) Kiss

Sepanjang perjalanan menuju Grand Indonesia, Sabrina membiarkan dirinya terlarut dalam alunan nada dari lagu Clair de lune milik Debussy, lagu yang selalu ia dengarkan setiap kali ia merasa seperti mau meledak. Beruntung mendapatkan kursi di kereta pada jam pulang kantor, Sabrina dapat memejamkan matanya sesaat hingga kereta yang membawa dirinya tiba di stasiun terakhir, Bundaran HI.

Setelah membiarkan 70% penumpang turun terlebih dahulu, Sabrina akhirnya keluar dari kereta MRT itu. Bersamaan dengan penumpang lain ia menaiki tangga dan berpencar setelah keluar dari stasiun, menuju tujuannya masing-masing.

Sabrina memang sengaja tidak membawa kendaraannya karena ia bisa pastikan dirinya akan semakin stress dengan kemacetan ibukota di sore hari. Pikirannya juga masih kalang kabut entah ke mana, beresiko tinggi menyebabkan kecelakaan apabila ia tidak fokus saat menyetir.

Setelah berjalan kurang lebih 500m, Sabrina tiba di depan kedai kopi tempat Kale menjadi phantom hari ini. Ia dapat melihat lelaki itu dengan senyum terbaiknya, menyapa para pelanggan sembari tangannya tidak berhenti meracik kopi. Pemandangan yang tidak pernah membosankan bagi seorang Sabrina.

Setelah memandangi Kale cukup lama dari kejauhan, kehadiran Sabrina akhirnya disadari oleh Kale. Lelaki itu berpamitan sesaat kepada partner barista-nya untuk keluar dan segera menghampiri Sabrina.

“Hei, Sab. Kenapa nggak—”

Kalimat Kale terputus kala Sabrina menghamburkan diri ke tubuhnya. Sabrina mencengkram cukup erat kemeja hitam lelaki itu dan membasahinya dengan air matanya.

“Sab, lo kenapa?” tanya Kale bingung. Belum pernah selama ia berteman dengan Sabrina, perempuan itu tiba-tiba memeluk dirinya dan menangis.

Sabrina tidak menjawab, ia hanya membenamkan kepalanya di bahu Kale agar suara tangisnya tidak menganggu pengunjung lain, walaupun sebenarnya sudah percuma karena sekarang mereka sedang menjadi bahan tontonan orang-orang yang lewat di sekitar mereka.

Akhirnya Kale tidak bertanya lagi, perlahan kedua tangannya ikut memeluk tubuh ramping Sabrina, sesekali mengusap punggung perempuan itu agar tangisnya segera mereda.

*

“Siapa, Kal? Pacar, ya?” goda salah satu partner Kale sambil melihat ke arah Sabrina yang sedang duduk di pojok kedai dengan segelas Chamomile Tea panas buatan Kale.

“Temen, tetangga gue,” jawab Kale yang masih sibuk membereskan sisa-sisa bubuk minuman di bar tempat biasanya para barista membuat minuman.

“Tetangga nggak ada peluk-pelukan,” ledek orang yang sama, membuat Kale menoyor pelan kepala partner-nya itu agar ia segera diam dan tidak lagi membahas Sabrina.

Setelah beberapa saat sukses meluapkan tangisnya dalam pelukan Kale, Sabrina menuruti Kale untuk menunggu lelaki itu selesai bekerja di meja sudut ruangan. Beberapa kali setiap ada kesempatan, Kale akan menghampiri Sabrina dan bertanya apa yang dibutuhkan perempuan itu, dan Sabrina hanya menjawab dengan gelengan pelan.

“Sab, nggak laper? Mau pastry di sini, nggak?” tawar Kale setelah enam kali ia bolak-balik menghampiri Sabrina.

“Nggak, Kal. Gue nggak laper. Lo balik kerja aja sana, nggak usah pikirin gue,” balas Sabrina pelan.

“Gue udah selesai kerja,” sambung Kale sambil tersenyum tipis. “Yuk, pulang. Mobil lo parkir di mana?”

Sabrina menggeleng pelan, “Gue nggak bawa mobil. Tadi ke sini naik MRT.”

“Yaudah, gue anter balik ke kantor buat ambil mobil, terus kita pulang, ya?”

Sabrina lagi-lagi menggeleng, “Nggak mau pulang.”

Dahi Kale mengerut. Karena jam kerjanya sudah usai, ia bebas duduk di kursi customer, dan segera saja ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sabrina.

“Oke, terus lo sekarang mau ke mana dan mau ngapain?”

Untuk ketiga kalinya, Sabrina menggeleng karena memang sesungguhnya perempuan itu tidak tahu mau berbuat apa saat ini. Pikiran dan hatinya masih kacau balau.

“Yaudah, kita ke motor gue dulu aja sekarang, yuk?”

Akhirnya Sabrina mengangguk, menyetujui ajakan Kale dan segera mengikuti langkah kaki lelaki itu menuju motornya yang sengaja diparkir di luar gedung mal karena tarifnya yang lebih murah.

*

Sesuai permintaan Sabrina yang tidak mau pulang, Kale akhirnya mengajak perempuan itu mengelilingi pusat Jakarta, setelah sebelumnya Kale mengirimkan pesan kepada ibu Sabrina, menginfokan kalau Sabrina sedang bersama dirinya dan akan pulang sedikit telat.

Puas berputar-putar di sekitar Monas, Kale berhenti di Taman Pandang Istana, yang terletak di salah satu sudut di luar Monas. Untungnya tidak ada pengunjung lain saat itu di situ, sehingga mereka bisa leluasa memilih tempat untuk duduk dan mengobrol.

Thanks, Kal, udah ajak gue muter-muter. It feels better now, kayak, akhirnya gue bisa bernapas,” ujar Sabrina.

Kale tersenyum tipis, senyuman yang selalu menghiasi wajahnya setiap Sabrina mengucapkan terima kasih padanya.

“Mau cerita? Atau udah merasa lebih baik jadi nggak perlu cerita?”

Sabrina diam sejenak, mempertimbangkan pertanyaan Kale sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi hari itu pada dirinya.

Sepanjang Sabrina bercerita, Kale tidak banyak berkomentar. Ia benar-benar menjadi pendengar yang baik, membiarkan perempuan itu mengucapkan kata demi kata hingga menjadi sebuah rangkaian kalimat yang diceritakan bersamaan dengan emosinya; air mata yang kembali membasahi wajah Sabrina, yang ternyata belum sepenuhnya ia keluarkan.

“Gue jahat nggak, kalo gue belum bisa maafin dia? Even bos gue udah bisa secepat itu maafin dia, tapi gue nggak bisa, Kal ... Gue nggak bisa ...”

“Sab, Sabrina,” panggil Kale, tapi Sabrina masih saja terus menunduk. “Sabrina, look at me,” sambung Kale dengan ibu jari dan telunjuknya memegang ujung dagu Sabrina, memaksa pelan perempuan itu untuk melihat ke arahnya.

Mata sembab Sabrina yang masih penuh air mata menatap Kale.

“Semua cowok sama aja, Kal. Gue baru aja mau belajar percaya sama cowok, tapi apa? Hari ini kepercayaan gue dipatahin lagi. Gue harus gimana, Kal? Gue juga mau punya pasangan, gue juga mau kayak Ghea dan cewek-cewek lain di luar sana, tapi kalo gue terus-terusan diginiin, gimana gue bisa percaya sama orang lain?” keluh Sabrina.

“Sab, kalo gue maju mencalonkan diri jadi cowok yang bisa lo percaya, gimana?”

Sabrina diam, matanya terpaku pada mata cokelat milik Kale yang tidak berhenti menatapnya dengan teduh.

It's okay kalo lo belum bisa maafin Fabian. Gue tau, lo butuh waktu. Tapi untuk saat ini, izinkan gue jadi cowok yang bisa lo percaya, ya?”

Lelaki itu memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya dengan Sabrina, sampai hampir tidak ada jarak di antara keduanya, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Sabrina.

Beberapa saat Sabrina terlarut dalam suasana itu; bibir merah muda Kale ternyata mampu meluruhkan sebagian dari emosinya hari ini. Tapi, seperti ada yang menampar keras pikiran Sabrina, ia segera mendorong Kale dan menjauhkan diri dari lelaki itu.

“Sab, sorry, gue cuma mau—”

“Apa?! Lo tau kan, gue lagi kesel, gue lagi butuh temen buat ngobrol. Kenapa lo begitu sama gue?! Apa maksud lo?!”

Sorry Sab, gue beneran nggak bermaksud—”

Best friend should not kiss, Kale!” bentak Sabrina marah, memotong setiap penjelasan yang ingin diucapkan Kale.

Kale menunduk, ia tahu tidak seharusnya ia kelepasan mencium Sabrina di saat ia tahu betul hati perempuan itu belum sembuh sepenuhnya. Dalam hatinya Kale tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri, sementara di luar ia hanya tertunduk lesu.

“Ternyata lo sama aja, Kale. Lo sama aja kayak Fabian dan cowok-cowok brengsek lainnya,” sambung Sabrina dengan nada geram lalu ia segera pergi meninggalkan Kale, menghiraukan suara Kale yang terus-menerus memanggil namanya tiada henti.

Behind the Mask

Setelah selesai berurusan dengan kemacetan Jakarta, Sabrina tiba di kantornya. Senyum ramah petugas keamanan di depan pintu menyapa Sabrina, membuat ia ikut tersenyum senang. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya Sabrina tersenyum senang bukan karena petugas keamanan itu, tapi pesan singkat yang dikirimkan Kale tadi sukses menghiburnya.

“Kale lagi, Kale lagi, kenapa sih lo, Sab?” batin Sabrina pada dirinya sambil menggelengkan kepalanya pelan agar pikirannya bisa kembali fokus.

Sampai di mejanya, Sabrina melihat meja Fabian yang masih kosong. Ia pun refleks bertanya pada salah satu staf tim Fabian yang kebetulan lewat di dekatnya.

“Fabian mana, Des?”

Dessy, nama staf karyawan yang ditanyai Sabrina, hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah acuh lalu segera pergi meninggalkan Sabrina.

Sabrina kemudian melihat sekelilingnya; staf dari divisi lain diam-diam sedang memperhatikannya dengan tatapan tidak mengenakan seolah-olah Sabrina telah melakukan suatu kesalahan.

Teringat akan curhatan dengan Kale semalam, Sabrina segera duduk di depan laptopnya dan mengirimkan email kepada seluruh staf untuk bertemu dengannya di ruang meeting setelah jam makan siang.

*

Setelah jam makan siang, Sabrina memasuki ruang meeting dengan segelas Ice Americano di tangan kanannya. Di sana sudah ada beberapa staf yang sengaja ia panggil via email tadi pagi.

Thank you, buat temen-temen yang udah mau dateng ke sini ....” Sabrina membuka pembicaraannya siang itu. “Ini agak di luar kerjaan, tapi gue mau kalian jujur sama gue ... Apa gue punya salah sama kalian?”

Pertanyaan Sabrina tidak dijawab oleh satu pun dari sepuluh orang yang hadir di situ.

“Akhir-akhir ini, jujur, gue ngerasa kalian ngejauhin gue. Like, I did something wrong but you all didn't let me know what it is. Gue nanya beberapa kali, jawabannya ala kadarnya. Mostly, yang biasanya laporan langsung ke gue kali ini cuma by email, seolah-olah sedang menghindar dari gue, bahkan nggak mau ketemu sama gue.”

Sabrina sukses mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya dengan cukup lancar. Perasaannya kini terasa lebih plong, walaupun belum sepenuhnya lega.

Am I did something wrong? Entah itu menyangkut pekerjaan atau engga, coba jujur sama gue di sini. Gue terima segala keluhan atau amarah kalian kalo emang gue ada salah sama kalian.”

Lagi-lagi begitu Sabrina selesai berbicara, tidak ada satu pun yang menjawab sampai sekitar dua menit kemudian, terdengar suara laki-laki dari kursi yang jaraknya cukup jauh dari Sabrina.

“Ngg ... Kak, saya boleh jawab?”

Sabrina mengenali lelaki itu sebagai Reza, staff yang baru bekerja seminggu di perusahaannya.

“Boleh, silahkan, Reza.”

Reza melirik kanan-kirinya sekilas, melihat reaksi teman-temannya yang sedang menatap dirinya dengan penuh rasa penasaran. Sementara di ujung meja sana, Sabrina duduk menyender sambil menyeruput pelan Ice Americano yang mulai mencair.

“Jadi, waktu awal saya masuk sini, saya sempat dengar kalau kakak itu orangnya nggak bertanggung jawab, kerjaannya marah-marah doang dan selalu nyalahin hasil kerja orang lain. Maaf banget, Kak, tapi ini yang saya dengar ...”

“Yang bilang anak buahnya Mas Fabian, Kak.”

Tiba-tiba ada suara lain menyahuti di ruangan itu, yang dikenal Sabrina sebagai suara Keisya, salah satu staf dari tim keuangan.

Setelah Keisya angkat bicara, yang lain pun mulai berani bersuara. Mereka akhirnya menceritakan apa yang selama ini mereka dengar dan membuat pandangan mereka terhadap Sabrina berubah.

Sabrina awalnya bersikap biasa saja, tapi tidak setelah ia mendengar ucapan dari salah satu yang hadir di situ, yang mengatakan bahwa Sabrina selama ini tidak memiliki pasangan karena ia ada 'main' dengan beberapa klien.

“FABIAN VALIANO!” panggil Sabrina marah dari depan pintu ruang meeting. Fabian yang sedang bekerja di mejanya menoleh, bersamaan dengan staf lain yang tidak ikut serta dalam pertemuan yang diadakan Sabrina.

Sabrina menghampiri Fabian dan menarik kerah kemeja lelaki itu hingga Fabian bangun dari duduknya. “Dasar laki-laki kurang ajar!” ujar Sabrina penuh amarah lalu ia tidak segan meninju lelaki itu hingga darah segar muncul di bibirnya yang robek akibat pukulan Sabrina.

Tidak menerima pukulan dan makian dari Sabrina, Fabian hendak membalas pukulan rekan kerjanya itu kalau saja staff-staff yang bekerja di sana tidak segera melerai keduanya.

*

“Siapa yang mau jelasin ke saya duduk perkaranya? Sabrina? Fabian?”

Setelah Sabrina sukses meninju wajah Fabian, keduanya langsung dipanggil oleh atasan mereka.

“Saya nggak tau apa masalahnya, Pak. Dateng-dateng Sabrina main nonjok muka saya sambil bilang saya kurang ajar,” jawab Fabian.

Sabrina melirik kesal ke arah Fabian, tangannya merogoh saku blazer yang ia kenakan hari itu, mengambil ponsel dan menaruhnya di atas meja bosnya.

“Bapak bisa tentukan sendiri dari rekaman ini, siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Sabrina kemudian memutar rekaman berisikan pengakuan dari staff yang tadi berkumpul di ruang meeting dengannya. Sepanjang rekaman itu diputar, Sabrina berdiri tanpa reaksi apapun, bahkan emosinya yang tadi sempat meluap sudah tidak terlihat lagi. Berbeda dengan Fabian yang sembari menahan rasa sakit di wajahnya, ekspresinya menunjukkan rasa panik dan juga khawatir.

Selesai rekaman itu diputar, bos Sabrina dan Fabian berdeham dan memandangi keduanya secara bergantian.

“Fabian, bisa jelaskan ke saya apa alasan kamu menyebarkan fitnah ini ke seluruh staff di kantor?”

Diam, tidak ada jawaban dari Fabian. Lelaki itu justru melirik tajam ke arah Sabrina dengan mata berapi-api.

“Fabian Valiano? Kamu nggak punya jawaban untuk saya?” Bos mereka kembali bertanya.

“Karena saya benci Sabrina, Mas! Saya benci kenapa Mas Ricky lebih milih Sabrina daripada saya untuk jadi head of operations? Padahal Mas Ricky udah kenal saya jauh lebih lama sejak kuliah daripada sama Sabrina!”

Fabian sudah tidak dapat menahan rasa marah dan kecewanya, tidak hanya kepada Sabrina tapi juga kepada bos slash kakak kelasnya pada jaman kuliah.

“Cuma karena itu, Fab? Cuma karena jabatan yang nggak seberapa itu, lo berani ngefitnah Sabrina, yang dampak buruknya bisa buat kita semua di satu perusahaan ini. Cuma karena itu?!”

Terdengar jelas juga rasa kecewa di suara Ricky, karena ia tidak menyangka salah satu orang yang ia percaya untuk sama-sama membangun perusahaan miliknya semudah itu merusak kepercayaannya hanya karena rasa iri hati.

Sorry, Mas, bukan gitu—”

“Fabian, ini dunia profesional. Gue bukan tipe orang nepotisme yang mengangkat seseorang ke jabatan tertentu hanya karena gue kenal dia. Gue mau orang yang berada di posisi itu adalah orang yang memang benar kompeten. Dan lo harus akui, kalau kerja Sabrina jauh di atas lo. Lo masih harus banyak belajar lagi, Fab.”

Ricky sudah menurunkan nada bicaranya, kali ini ia bicara bukan sebagai seorang bos melainkan sebagai seorang rekan, seorang kakak yang membimbing juniornya.

“Gue maafin lo buat kejadian kali ini. Gue masih mau kasih kesempatan kedua buat lo di sini. Satu yang gue minta sekarang, lo minta maaf ke Sabrina dan bilang ke anak-anak di luar kalo apa yang lo sebar selama ini itu bohong.”

Sabrina menoleh ke arah Fabian, melihat lelaki itu tertunduk malu dan juga terlalu takut untuk menatap matanya, padahal Sabrina benar-benar sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Sorry, Sab. Gue harap lo mau maafin gue,” ucap Fabian sambil mengulurkan tangannya. Sabrina tidak menjawab apa-apa, ia hanya membalas uluran tangan Fabian lalu berpamitan pada bosnya untuk terlebih dahulu meninggalkan ruangannya.

“Emang bener, semua cowok itu sama aja. Mereka cuma pake topeng buat dapetin hati perempuan, padahal dibaliknya penuh kebusukan.”

That’s What Friend are for

Kale tersenyum lebar saat melihat Sabrina menghampiri dirinya yang sudah bersiap di atas motor matic andalannya.

“Nih, helmnya,” ujar Kale sambil memberikan helm penumpang yang selalu tersedia di motornya.

Sabrina tidak berkata apa-apa, ia segera memakai helm itu dan mengancinginya. Walaupun hanya makan nasi goreng gerobakan di depan kompleks, Kale selalu mengutamakan keselamatan, salah satunya dengan penggunaan helm.

Let’s go,” gumam Kale pelan lalu motornya segera meluncur keluar dari garasi rumahnya menuju depan kompleks perumahan mereka.

Karena sudah cukup sering makan di sana, abang nasi goreng itu sudah hafal dengan pesanan Kale dan Sabrina. Cukup dengan Kale bilang, “Bang, biasa ya, dua,” sang penjual nasi goreng itu langsung mengangguk tanda ia mengerti.

“Capek ya, kerja seharian?” tanya Kale setelah keduanya diam cukup lama karena tidak tahu mau membahas apa.

“Udah biasa,” jawab Sabrina pelan.

“Tapi biasanya nggak sekusut ini,” balas Kale lagi dan kali ini Sabrina hanya diam. Mungkin kusut di wajahnya masih terbawa dari pembicaraan dirinya dengan Ghea dan juga Kale tadi siang.

“Lagi banyak pikiran aja. Gue pindah kantor aja kali, ya?”

Kale mengerutkan dahinya bingung. “Suddenly?

Sementara Sabrina membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, gue ngerasa lingkungan kerja gue makin nggak sehat.”

“Ada yang jahatin lo di kantor?”

Sabrina tersenyum tipis mendengar nada bertanya Kale yang menyiratkan kalau lelaki itu sedang khawatir pada dirinya.

“Nggak ada, cuma rasanya makin hari orang-orang makin nggak suka sama gue. Awalnya gue nggak peduli, tapi kalo terus-terusan begini, gue perlu mempertanyakan dong, gue ada salah apa?”

Kale kali ini mengangguk paham. “Coba aja besok lo tanyain langsung, Sab. Biar nggak kepikiran terus. Soalnya gue nggak suka kalo liat lo cemberut kayak gini.”

Kalimat terakhir Kale sukses membuat Sabrina salah tingkah sendiri di dalam hatinya.

“Yang satu pedes telur dadar, yang satu lagi nggak pedes telur ceplok,” ucap abang nasi goreng sambil menaruh dua piring di hadapan Kale dan Sabrina.

“Minumnya apa, bos?” sambung si abang nasi goreng sumringah.

“Teh botol dingin, dua,” jawab Kale disambut anggukan abang nasi goreng itu.

Thanks ya, Kal,” gumam Sabrina pelan tapi terdengar cukup jelas di telinga Kale. “Thanks udah selalu berupaya untuk ngehibur gue biar gue nggak bete-bete amat. Maaf kalo tadi siang gue jutek sama lo.”

Kale tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. “I told, ya, that’s what friend are for.

Sabrina membalas senyuman Kale, sementara hati dan pikirannya kembali bergumul.

“Kale, it’s getting weird to hear that phrase from you.”