Kalerina

—an epilogue

Sesuai janji yang mereka buat semalam, Sabtu siang sekitar pukul 11 Kale sudah duduk manis di ruang tamu menunggu Sabrina bersiap.

“Tolong jaga Sabrina baik-baik, ya, Kale … Kalo bisa pulangnya jangan kemaleman, takut hujan,” pesan ayah Sabrina kepada Kale.

“Siap, Om,” jawab Kale ramah, tapi selang sedetik terdengar protes Sabrina yang datang dari arah belakang ayahnya.

“Bapak kayak baru kenal Kale aja.”

Ayah Sabrina tersenyum. “Iya, biasanya yang Bapak kenal itu Kale tetangga kita. Kalau sekarang baru aja Bapak kenalan sama Kale pacar Nana.”

Kedua mata Sabrina membulat membesar mendengar pernyataan ayahnya, buru-buru ia melihat ke arah Kale yang hanya tersenyum awkward seperti anak kecil terciduk habis melakukan sesuatu.

-

“Kamu bilang apa sama Bapak?!” todong Sabrina di tengah perjalanan mereka menuju salah satu mal di kawasan selatan Jakarta.

“Izin mau ajak kamu jalan-jalan.”

“Selain itu maksud aku,” sambung Sabrina cepat karena ia tidak puas dengan jawaban Kale.

“Izin juga buat macarin kamu. Untung dapet restu, hehehe …”

Sabrina refleks memukul pelan punggung Kale. “Ih Kale, mah … ‘Kan aku malu!”

Kale tertawa cukup keras di balik maskernya. “Malu kenapa sih, Sab? Itu ayah kamu sendiri, lagipula cepat atau lambat dia pasti tau kita jadian. Daripada tau dari tetangga lain, mending langsung tau dari aku sendiri, kan?”

Sabrina tidak menggubris kalimat Kale karena ia masih merasa malu, padahal benar kata Kale, tidak ada yang salah tentang pengakuan Kale kepada ayahnya atas hubungan mereka.

“Mana tangan kamu?” tanya Kale dengan tangan kirinya meraba-raba bagian belakang tubuhnya, mencari tangan Sabrina yang tadi sempat memeluknya dari belakang.

Kedua tangan Sabrina kembali melingkari perut Kale, dan dengan tangan kiri yang sesekali bisa bebas dari stir, Kale mengelus-elus perlahan tangan Sabrina.

“Sab, kamu malu jadian sama aku?” tanya Kale lagi saat jalanan cukup lengang, sehingga Kale bisa mengemudi dengan sedikit santai.

Sabrina menggeleng. “Nggak, bukan gitu. Aku bukannya malu gimana, Kal. Aku cuma belum terbiasa aja. Dan juga, aku takut sama reaksi orang kalo tau aku pacaran, mengingat aku dulu kayak gimana sama relationship.” Sabrina menjawab pertanyaan Kale dengan lesu.

“Sab, aku nggak akan pernah bosen buat ingetin kamu; ngapain kamu pikirin hal yang belum tentu kejadian? Ayo, kita sama-sama belajar untuk saling ngurangin negative thinking di dalam pikiran kita. Kalaupun emang ada yang ngomongin kamu, don’t mind it.

You might haven’t thousand hands to cover their mouth, but you have both of your hands to cover your ears. Lagipula kita nggak ngerugiin mereka, kenapa jadi kita yang pusing?”

Sabrina tertegun. Sebenarnya bukan kali pertama ia mendengar nasihat dari Kale. Sejak mereka bersahabat, Kale memang sering menjadi advisor untuk Sabrina. Hanya saja dengan status mereka yang sudah berubah menjadi in relationship, Sabrina merasa nasihat dari Kale terdengar lebih menenangkan dan juga membuat perasaannya jauh lebih baik.

“Hei? Kok diem? Jangan bengong,” ucap Kale lagi karena Sabrina tidak merespons apa-apa.

“Hah? Enggak, aku nggak bengong. Aku lagi amazed aja denger nasihat kamu, rasanya beda denger kalimat itu dari kamu as sahabat aku dulu dan sekarang as pacar aku.”

“Ih asik aku beneran punya pacar,” timpal Kale out of topic, refleks Sabrina meninju pelan punggung Kale.

Kale kembali tertawa lepas, “Iya iya ampun, duh, ini lain kali aku bawa mobil aja lah kalo pergi sama kamu. Kalo dipukulin gini terus bisa-bisa pas pulang punggung aku biru-biru semua.”

“Lebay!”

“Nggak papa, yang penting jadi pacarnya Sabrina Janitra.”

Sabrina tidak dapat menahan senyumnya, dipeluknya kembali tubuh ramping Kale lebih lalu ia sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Kale.

“I love you, Kale Naratama Juandera.”