goldeneunoia

Bapak

Tepat pukul 4 sore aku membalas pesan teks ibu, menjawab pertanyaannya tentang bapak yang ingin bertemu denganku. Walaupun aku tidak dapat melihat wajahnya, bisa kupastikan beliau tersenyum lebar saat aku membalas “iya, Nana mau, bu”.

Awalnya aku enggan, tapi setelah aku bertukar pikiran dengan Kale dan aku baru sadar kalau aku baru saja berani bercerita dan bertanya masalah keluargaku kepada lelaki itu, aku memutuskan untuk mengikuti sarannya.

“Lo perlu denger alasannya.”

Itu kata Kale waktu kutanyai kenapa aku harus menemui bapak.

Aku selalu berdalih kalau aku tidak percaya lagi dengan cinta pertamaku itu, padahal aku hanya takut. Aku takut mendengar apapun itu alasannya.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, padahal biasanya aku suka berkaraoke mengikuti lagu yang diputar di radio tempat Ghea bekerja.

Oh iya, kenapa aku tidak tanya Ghea, ya? Ghea juga tahu masalah ini, tapi setelah kupikir-pikir lagi, pasti ia akan memberikan jawaban yang mirip dengan Kale. Memang dasar akunya saja yang masih keras kepala dengan prinsipku.

Sampai di rumah, kulihat mobil Kijang Krista milik bapak terparkir manis di sisi jalanan antara rumahku dengan rumah Kale. Tanpa kusadari aku tersenyum tipis menyadari bapak menyediakan lahan cukup luas untuk aku dapat bermanuver dan parkir di garasi rumah.

Begitu aku masuk, aku disambut senyuman hangat kedua orang tuaku. Mereka sedang duduk di ruang tamu, menunggu kepulanganku dengan dua cangkir kopi hitam yang aromanya mengisi penuh rumahku.

“Macet nggak, Na?” tanya ibu setelah aku menyalami tangannya. Aku hanya menggeleng pelan, lalu beralih ke bapak yang duduk di sofa seberang.

“Malem, Pak,” sapaku kaku lalu aku juga menyalami tangannya. Terakhir kali aku melakukan hal ini 10 tahun lalu, sebelum ia pergi meninggalkan aku dan ibuku. Dan sekarang, tangan kokohnya itu tidak berubah, masih sama hangatnya seperti dulu.

“Beres-beres terus makan dulu, Na. Itu bapak beliin kamu nasi uduk sama ayam goreng,” ucap ibu sementara bapak hanya diam saja, tapi senyum ramah ciri khas bapak terpasang di wajahnya.

Aku hanya mengangguk, menuruti perintah ibu untuk beberes dan makan sebelum kami bertiga berbicara.

Selama makan, diam-diam aku sedikit menguping pembicaraan ayah dan ibu. Sesekali ibu tertawa dengan jokes receh bapak, tawa yang sudah jarang sekali kudengar.

Tanpa kusadari, air mataku menetes pelan membasahi nasi uduk yang sedang kumakan.

“Sialan, jadi asin,” umpatku sendiri sambil mengelap wajahku kasar agar air mata itu tidak lagi membuat makan malamku semakin aneh rasanya.

Selesai makan, aku kembali menghampiri keduanya. Ibu seperti sengaja memberikan kami ruang untuk bicara empat mata; ia pamit dari ruang tamu dengan alasan mau cuci piring, padahal piring-piring yang menumpuk di dapur sudah kucuci semua bersama piring makanku barusan.

“Na, makasih, ya, Bapak dikasih kesempatan buat ketemu dan ngobrol sama kamu.” Bapak membuka percakapan di antara kami berdua.

Biasanya aku ketus dan dingin, tapi hari ini tidak ada satupun dari kedua reaksi itu mampir di diriku. Aku malah membalasnya dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.

“Iya, Pak. Maaf kalau Nana selama ini nggak pernah mau ketemu Bapak.”

“Bapak ngerti, Na. Bapak ngerti sekali kenapa kamu bersikap seperti itu.”

“Tapi sekarang Nana mau tau alasan kenapa dulu Bapak pergi tinggalin Nana dan ibu.” Aku sudah tidak bisa lama-lama berbasa-basi dengan Bapak, jadi aku segera to the point dengan topik pembicaraan malam ini.

“Bapak … Bapak dapat ancaman pembunuhan, Na.”

Alasan singkat yang mampu membuat jantungku berhenti sesaat.

“Ancaman pembunuhan?” tanyaku meyakinkan.

“Iya, ada beberapa rentenir yang waktu dulu Bapak pinjam uangnya untuk modal usaha, ngedatengin Bapak. Mereka nggak cuma ngedatengin Bapak di kantor, tapi mereka juga ke rumah. Dan sejak mereka tahu rumah Bapak dan keluarga Bapak, mereka mulai ngancem aneh-aneh; mulai dari sita paksa rumah ini sampai pembunuhan.

“Dan mereka nggak ancem mau bunuh Bapak aja, tapi mereka juga mengancam mau membunuh kamu, Na.”

Saat itu juga hatiku benar-benar menjerit kaget dan seluruh tubuhku membeku, sampai rasanya tidak ada darah yang mengalir di pembuluhku.

“Makanya, Bapak terpaksa pergi dari rumah. Bapak nggak mau kamu dan ibu kenapa-napa. Selama Bapak pergi, Bapak berusaha bayar semua hutang Bapak ke rentenir itu, dengan catatan mereka tidak boleh sama sekali menyentuh kamu sedikitpun.

“Mereka setuju, dan akhirnya setelah 10 tahun ini Bapak berhasil bayar semua hutang Bapak ke mereka …”

Berikutnya aku tidak bisa lagi mendengar penjelasan bapak karena aku sukses menangis keras, sampai-sampai ibu datang dan ikut menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku, sementara bapak sudah memelukku erat.

“Maafin Sabrina, Pak,” isakku keras. Aku sudah tidak peduli lagi kalau tangisku terdengar sampai rumah Kale atau bahkan sampai gerbang depan kompleks, aku beneran tidak peduli. Aku cuma mau bapak memaafkanku karena sikap egoisku selama ini.

“Sabrina nggak salah apa-apa, Sabrina nggak perlu minta maaf. Justru Bapak yang harusnya minta maaf karena sudah bikin Nana salah paham selama ini.”

Aku menggeleng keras dalam pelukannya, tangisku juga semakin menjadi. Seperti bom waktu yang terkubur bertahun-tahun yang akhirnya meledak juga.

Dan bapak tidak berkata apa-apalagi; ia tahu aku hanya butuh pelukan terhangatnya untuk meredakan emosiku.

Sabrina Janitra

Perempuan kelahiran kota Jakarta 28 tahun silam itu duduk di ruang terbuka milik gedung kantornya, menikmati semilir angin ibukota yang sesekali sedikit mengacak tatanan rambut panjangnya.

Kepada Kale, ia mengaku kalau ia kembali bekerja setelah makan siang, padahal nyatanya tidak. Setelah bertukar pesan pada Fabian dan meminta lelaki itu untuk mem-back up dirinya sementara waktu, Sabrina kembali menyendiri.

Percakapannya dengan sang ibu beberapa saat lalu, membawa dirinya kembali mengingat kisah keluarganya.

Dulu, Sabrina adalah putri tunggal dari pasangan seorang pengusaha sukses dan ibu rumah tangga. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Sabrina selalu mendapatkan cinta dan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.

Perhatian penuh orang tuanya tidak menjadikan Sabrina manja, tapi justru menjadikan dirinya sebagai salah satu murid berprestasi di sekolahnya. Ia selalu mengungkapkan rasa terima kasih kepada ayah ibunya lewat hal-hal kecil yang mampu ia lakukan saat itu.

Tidak sedikit dari teman Sabrina yang iri dengan kehidupan keluarga Sabrina yang harmonis dan bahagia. Mereka juga iri dengan Sabrina yang cantik dan berprestasi.

Namun, kehidupan Sabrina dan keluarganya yang seperti dongeng itu berubah saat ayah Sabrina dinyatakan bangkrut. Usaha yang dijalankan ayahnya gagal total, partner kerja ayah Sabrina kabur membawa semua uang dari hasil usaha tersebut.

Karir ayah Sabrina hancur, tapi ibu Sabrina dan Sabrina tidak putus asa. Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu Sabrina turun tangan ikut bekerja sementara Sabrina tidak malu untuk berjualan makanan ringan di sekolahnya. Sabrina bertekad ia tidak akan peduli dengan cemoohan dari teman-temannya, tapi nyatanya cemoohan itu sendiri tidak ada karena sikap positif Sabrina, teman-teman sekolahnya justru mendukung Sabrina.

Perlahan keluarga Sabrina bangkit dari keterpurukan. Walaupun Sabrina harus kehilangan sebagian dari hartanya, tapi ia tetap bahagia karena ayah dan ibunya selalu hadir untuk dirinya.

Sampai suatu hari, ayah Sabrina berpamitan untuk pergi menemui seorang kolega. Baik ibu Sabrina maupun Sabrina tentu saja mengizinkan, toh, malamnya akan pulang lagi ke rumah. Tapi, nyatanya tidak. Ayah Sabrina tidak kembali ke rumah mereka. Selama seminggu penuh Sabrina dan ibunya mencari keberadaan ayahnya, akhirnya Sabrina mendapatkan jawaban berupa sepucuk surat yang dikirimkan ayahnya entah dari mana.

Dalam surat itu, sang ayah berkata kalau ia tidak mampu lagi untuk hidup bersama dengan Sabrina dan ibunya. Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga dan memutuskan untuk menyerah dengan pergi meninggalkan Sabrina dan ibunya.

Sabrina yang saat itu duduk di bangku SMA kelas 3 tidak tahu harus berbuat apa; ibunya tidak henti-hentinya menangis sementara ia sendiri masih merasa belum cukup dewasa untuk berbuat banyak hal.

Kepercayaannya terhadap sang ayah runtuh begitu saja. Orang yang selama ini ia kagumi dan ia jadikan sebagai panutan hidup, semudah itu menyerah pada keadaan. Dan karena kejadian ini juga, terbentuklah pribadi Sabrina seperti saat ini.

Sabrina tumbuh dewasa menjadi seorang perempuan independen, ia tidak mau bergantung pada orang lain, dan juga tidak mudah mempercayai orang lain.

Dalam ranah pekerjaan, hanya segelintir orang yang benar-benar bisa ia percaya, walaupun akhirnya beberapa di antaranya termasuk Fabian merusak kepercayaannya. Ia tahu dari bosnya kalau Fabian berbohong tentang Yuppy Yippie Festival. Fabian tidak pernah mengirim email apapun untuknya.

Dalam ranah percintaan, sejak kelas 3 SMA Sabrina menutup diri dari para lelaki yang ingin sekedar dekat atau ingin menjalin hubungan dengannya. Satu-satunya lelaki yang ia percaya hanyalah Kale, tetangganya sejak ia berusia 5 tahun.

Tapi ia tidak menyangka, kalau ternyata diam-diam Kale menaruh rasa pada dirinya. Rasa yang Sabrina yakini tidak seharusnya ada di antara hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun lebih.

Permasalahan hari ini sudah cukup rumit, emosi dan tenaganya juga sudah terkuras habis, padahal belum 24 jam ia lalui. Akhirnya Sabrina memutuskan untuk tidak dulu memikirkan Kale dan perasaannya; masih banyak hal yang lebih penting, seperti masalah ayah dan ibunya dan juga permasalahan di kantornya.

Ya, Sabrina yakin kalau sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hatinya. Toh dia juga sudah bertekad bulat untuk tidak mencintai siapapun, karena ia tidak mau sakit hati lagi untuk kedua kalinya. Biar cinta pertamanya saja yang menorehkan luka di hatinya, jangan ada laki-laki lain.

Terlebih lagi, jangan sampai laki-laki itu adalah Kale.

Fragile

Tiba di Treasury Tower di kawasan SCBD, Kale segera naik ke lantai 31, di mana event organizer tempat Sabrina bekerja menyewa workspace untuk usaha mereka. Setelah diizinkan oleh front man untuk masuk ke dalam, Kale segera mencari Sabrina di mejanya.

“Mbak Sabrina keluar, Mas,” ucap seorang karyawan yang Kale cegat untuk bertanya apakah ia melihat Sabrina atau tidak.

“Keluar ke mana, tau nggak?”

Pertanyaan Kale dijawab dengan gelengan kepala karyawan itu. Tidak lama setelah karyawan tadi berpamitan, Fabian datang menghampiri meja Sabrina untuk menaruh berkas yang diminta perempuan itu.

“Lo Fabian, ya?”

Teguran Kale mendapat respons berupa kerutan di dahi Fabian. “Lo siapa?” tanya Fabian penasaran.

“Gue temennya Sabrina. Gue perlu ketemu sama dia,” jawab Kale.

“Tadi abis meeting dia pergi gitu aja, udah sejam lebih dia belum balik kantor,” timpal Fabian sambil melirik jam tangannya.

“Kira-kira lo tau nggak dia di mana?”

“Paling ke Astha, jam makan siang juga kan ini.”

Begitu Fabian selesai berbicara, Kale segera pergi setelah sebelumnya ia berterima kasih singkat kepada partner kerja sahabatnya itu.

*

Ternyata Fabian benar. Sampai di ruang terbuka mal yang sedang kekinian di Jakarta itu, Kale mendapati Sabrina sedang duduk, memperhatikan orang-orang yang sibuk berfoto di sana dengan tatapan menerawang.

“Sab,” panggil Kale pelan agar perempuan itu tidak kaget dengan kehadirannya.

Sabrina menoleh dan Kale dapat melihat dengan jelas mata Sabrina yang cukup sembab.

Are you okay?” sambung Kale bertanya.

Sabrina hanya mengangguk pelan lalu ia kembali melihat orang-orang di sekitarnya dengan tatapan kosong.

“Udah makan?” tanya Kale dan kali ini Sabrina menggeleng pelan.

“Makan, yuk? Gue juga laper, nih.”

Sabrina menanggapi ajakan Kale dengan anggukan pelan sambil ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang terbuka itu.

Karena Sabrina tidak memberikan jawaban apa-apa saat ditanyai mau makan apa, akhirnya Kale memilih restoran ayam Korea yang berada di perkantoran slash mal itu.

Selesai memesan dua porsi ayam dan dua soda, Kale menatap ke arah Sabrina yang lagi-lagi sedang memandangi sekelilingnya dengan tatapan kosong.

“Sab, are you really okay?” Kale mengulang pertanyaan yang ia tanyakan beberapa saat lalu.

Sabrina diam, ia hanya melihat Kale sekilas lalu kembali memalingkan wajah dari lelaki itu.

“Sab, it’s okay kalo lo jawab lo nggak baik-baik aja. You’re still human, though,” sambung Kale lagi.

Sabrina hanya tersenyum tipis, senyum yang sengaja ia paksakan untuk mengisyaratkan kepada Kale kalau ia sedang tidak ingin membicarakan apapun dengan lelaki itu.

Seperti mengerti, Kale akhirnya diam. Sampai makanan pesanan mereka tiba, Kale hanya bicara sesekali seperti mengomentari rasa ayamnya yang kurang asin bagi Kale atau saos sambalnya yang kurang pedas.

“Sab, udah nyobain Arabica belum? Mumpung di sini gue pengen beli, hehehe …” kata Kale setelah mereka selesai makan.

“Kale, gue mau balik kantor. Kalo lo mau nyobain Arabica, cobain aja. Gue balik ngantor, ya. Makasih udah nemenin makan siang,” tolak Sabrina sembari berpamitan Kale.

“Lo nggak mau balik rumah aja? Tante Hilda khawatir sama lo.”

“Oh, jadi lo ke sini karena nyokap gue.” Aura kelabu tersirat jelas di wajah Sabrina, kekecewaannya hari itu bertambah. “Udah ya, gue ngantor. Bye,” pamit Sabrina lalu ia benar-benar meninggalkan Kale agar lelaki itu tidak bicara apa-apa lagi padanya.

Kale hanya dapat memandangi punggung Sabrina yang semakin menjauh dari radarnya. Punggung yang sedikit membungkuk lesu, padahal biasanya punggung itu akan berjalan tegap seperti tak gentar menghadapi apapun yang menghalangi langkahnya.

Sabrina tetaplah seorang manusia, yang pertahanan terkuatnya bisa runtuh kapan saja. Yang hatinya juga bisa patah kapanpun. Hanya saja perempuan itu masih berupaya untuk berdiri sendiri dengan kedua kakinya, berupaya untuk menyembuhkan luka hatinya sendiri.

“Sab, kapan pun lo butuh pertolongan dan tempat untuk beristirahat, gue akan berusaha jadi orang pertama yang hadir untuk lo.”

Her Feelings

“Halo? Iya gue di Area 51 ... Mau ke sini? Ya udah, sini aja, gue di outdoor ... Nggak, gue ngga ngerokok. Lagi males aja di dalem. Yo, bye.”

Sabrina menutup hubungan teleponnya dan langsung disambut dengan senyuman Ghea. “Cie cie cie ...” ledek Ghea jahil.

“Apa sih,” gerutu Sabrina sambil buru-buru mematikan rokoknya dan menyemprotkan parfum dari botol kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya.

Ghea masih tersenyum melihat tingkah Sabrina yang sedikit berbeda dari biasanya. Sabrina pun menyadari Ghea masih memperhatikan gerak-geriknya. “Diem, Ghey.”

Ghea tertawa, “Apa sih, gue diem dari tadi.”

“Diemnya lo ngeledek. Sana, ngapain kek, kirim chat ke pacar lo atau pap, apa aja yang penting jangan liatin gue.” Sabrina sewot sendiri.

“Udah gue kerjain semua.” Ghea menjulurkan sedikit lidahnya. “Sabrina, lo suka juga sama Kale, kan? Not as a friend.” Kali ini Ghea banting stir ke topik yang sedang menghangat dalam hidup sahabatnya.

“Nggak.”

Ghea hanya manggut-manggut dengan ekspresi sedikit mencibir karena persis setelah Sabrina menjawab, ia melihat Kale berjalan menghampiri meja mereka berdua.

Lelaki itu memakai kaos lengan panjang putih yang sengaja ia gulung sampai setengah lengan, jeans hitam yang sedikit belel dan sepatu keds berwarna putih. Tubuhnya yang proposional, ditambah gaya berjalannya bak model profesional, membuat siapa saja yang dilewati Kale akan menoleh kagum kepada lelaki itu.

“Hai, girls,” sapa Kale ramah lalu tanpa disuruh ia langsung duduk di satu-satunya bangku yang masih kosong di meja Sabrina dan Ghea.

“Gimana nyalonnya?” tanya Kale lagi dan segera Ghea memamerkan kuku hasil polesan orang salon kepada Kale. “Bagus nih. Kalo lo gimana, Sab? Coba liat,” ucap Kale gantian kepada Sabrina.

Sebenarnya Sabrina enggan, tapi mau tidak mau ia mengangkat sedikit jari-jarinya dan membiarkan Kale melihat kuku-kukunya.

“Cakepan punya Ghea, ah,” komentar Kale dan disambut cengiran lebar dari Ghea.

“Sabrina tuh nggak percaya sama gue, udah gue bilang warna ini bakal nge-tren, eh dia main aman aja pake warna nude.” Ghea menimpali komentar Kale barusan.

“Gue kan kerja di kantor, nggak bisa pake warna ngejreng gitu ...” protes Sabrina dengan wajah merengut karena merasa kalah suara dari Ghea dan Kale. Sementara kedua sahabatnya itu menatap Sabrina dengan tatapan seperti meledek.

“Kalian nggak usah resek, deh,” sambung Sabrina lalu ia bangkit dari duduknya. Kale pun refleks meraih pergelangan tangan Sabrina.

“Mau ke mana?”

“Beli Flip Burger, laper,” jawab Sabrina jutek lalu ia segera melepaskan pegangan tangan Kale dan pergi dari situ.

Karena panjangnya antrian, Sabrina menghabiskan waktu cukup lama untuk membeli makanan favoritnya. Dan saat ia kembali ke meja, tersisa Kale sedang bermain game di ponselnya seorang diri.

“Ghea mana?” tanya Sabrina bingung.

“Balik,” balas Kale santai, mata dan tangannya masih sibuk dengan mobile game-nya, sementara di atas meja Sabrina melihat lelaki itu telah membakar sebatang rokok dan ditaruhnya di asbak.

“Balik?!”

“Iya, katanya ada urusan lain,” jawab Kale lagi.

Sabrina buru-buru menaruh nampan berisikan burger pesanannya lalu ia merogoh tas tangannya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Ghea.

Ternyata Ghea sudah mengirimkan pesan untuk Sabrina terlebih dahulu.

Ghea Jangan marah, gue sengaja cabut duluan supaya lo bisa ngobrol sama Kale. Ikutin kata hati lo, Sab.

Sabrina menghela nafas panjang setelah membaca pesan teks dari Ghea.

“Duduk, Sab. Itu kalo dingin nggak enak, lho,” celetuk Kale menyadari Sabrina masih saja berdiri.

Akhirnya Sabrina duduk, menyimpan kembali ponselnya di tas dan mulai menyantap burger-nya dalam diam. Sesekali ia memperhatikan Kale yang masih bermain game dan merokok.

“Kenapa?” tanya Kale yang sadar kalau diam-diam Sabrina memperhatikannya.

“Nggak papa. Nggak laper?”

“Nggak, tadi gue makan pastry Sbux. Lumayan, hehe ...”

Sabrina hanya membulatkan mulutnya mendengar jawaban Kale. Setelah beberapa saat mereka saling diam, akhirnya Kale menyimpan ponselnya dan hanya fokus merokok sambil memperhatikan sekelilingnya dan juga Sabrina yang masih makan.

“Mau?” tawar Sabrina menyodorkan sepotong kentang goreng yang ia pegang. Kale menjawab Sabrina dengan membuka mulutnya, meminta perempuan itu menyuapi dirinya.

“Lagi?” tanya Sabrina dan dijawab dengan sebuah anggukan dari Kale.

Setelah empat kali menyuapi Kale, Sabrina berhenti dan mengajak lelaki itu bicara. “Kale, lo kenapa sih?”

Kale mengerutkan dahinya. “Kenapa apanya?” tanyanya setelah menyeruput sedikit ice lemon tea milik Sabrina.

“Lo aneh banget. Dua hari lalu lo bersikap dingin ke gue, bilang kalo lo jealous sama Fabian, terus setelah itu lo ngediemin gue, dan sekarang, hari ini, lo bersikap kayak ngga ada apa-apa di antara kita.”

“Lho, emang ngga ada apa-apa di antara kita, kan, Sab?”

Sabrina terlihat frustasi mendengar jawaban Kale.

“Kale, bukan itu maksud gue—”

“Terus, apa? Gue jadi serba salah di mata lo, ya, Sab?” potong Kale yang sudah terlihat tidak santai lagi. Ia menegakkan punggungnya dan menatap Sabrina lekat-lekat.

“Bukan itu juga maksud gue. Just what if lo nggak bilang that jealousy things dan nggak perlu juga lo bilang lo suka sama gue, kita ngga bakal jadi awkward kayak gini—”

“Lo sendiri yang nanya alasan kenapa gue jealous. Gue jawab, reaksi lo malah kayak kemarin. Ohiya, gue juga nggak awkward sama lo. Lo awkward sama gue, Sab?” Lagi-lagi Kale memotong ucapan Sabrina.

“Kal, jangan potong kata-kata gue!” Sabrina sedikit membentak Kale, membuat lelaki itu mengangkat sedikit kedua tangannya.

“Sorry,” ucap Kale pelan.

Sabrina menyeruput habis ice lemon tea miliknya untuk meredakan emosinya.

“Jadi, lo maunya gue gimana, Sab? Menarik ucapan gue dua hari lalu?” Kale kembali berbicara.

Dan karena Sabrina diam, Kale melanjutkan ucapannya. “Sorry, kalo gue nggak jelas beberapa hari ini. Sekarang, anggep aja dua hari kemarin ngga ada kejadian apa-apa. Gue nggak pernah jealous dan gue juga nggak suka sama lo. Oke? Itu kan, yang lo mau?”

Sabrina sepertinya sudah benar-benar frustasi. Bukannya mengiyakan tawaran Kale, ia justru kembali berbicara. “Kale, nggak gitu nyeleseinnya. Segampang itu kah, perasaan lo? You need to know that lo ngga bisa suka sama gue. Kita nggak bisa in relationship, Kal. Gue nggak mau lo berubah jadi cowok brengsek sama kayak cowok-cowok di luar sana, gue nggak mau ... nggak mau ...”

Suara Sabrina melemah, ia menunduk dan mulai terisak pelan di balik rambutnya yang tergerai bebas. Kale pun segera menggeser kursinya dan merangkul bahu Sabrina.

“Sab,” panggil Kale setengah berbisik. Sabrina hanya berdeham mengiyakan panggilan Kale.

“Lo ... suka juga sama gue?”

Are We Just a Best Friend?

Tiba di rumahnya, kedatangan Kale disambut kakaknya, Kalani dan juga tetangganya, Sabrina.

“Kale-nya udah dateng, gue masuk ke dalem dulu, ya, Sab,” pamit Kalani lalu ia mengedipkan sebelah matanya kepada Kale. Lelaki itu hanya mengerutkan dahinya bingung melihat kelakuan kakaknya.

“Lo numpang makan di sini, Sab?” tanya Kale masih dengan nada datar yang sama seperti tadi siang.

Sabrina menggeleng. “Engga, sengaja ke sini karena perlu ngomong sama lo.”

“Ngomong apa lagi, Sabrina? Yang tadi siang kan udah?”

“Apa maksud lo jealous not as a best friend?”

Selesai melepas jaket kulit dan menyimpan helmnya di lemari di ruang tamu rumahnya, Kale duduk berseberangan dengan Sabrina.

“Ya, gue jealous bukan karena gue sahabat lo. Gue jealous as a man.”

“Kenapa lo jealous, Kale? Apa maksud lo jealous as a man?” Sebenarnya Sabrina sudah tau apa jawaban Kale, hanya saja ia ingin mendengarnya langsung dari mulut lelaki itu.

“Gue suka sama lo, Sabrina. Ini masih kurang jelas buat lo?”

Sabrina terdiam. Ia mendadak merasa tidak siap untuk membahas hal itu.

“Kal, lo ngga bisa suka sama gue …”

Kale tertawa pelan tapi getir. “Haha, kenapa? Karena gue tetangga lo?”

“Iya … Eh, bukan. Pokoknya lo nggak bisa suka sama gue, titik,” balas Sabrina tegas.

“Kenapa? Lo terus-terusan nanya kenapa gue jealous dan gue udah kasih tau alasannya. Tapi sekarang lo nggak mau kasih tau alasan lo?”

“Gue nggak mau hubungan persahabatan kita jadi rusak gara-gara perasaan kayak gini, Kal!”

“Bohong!”

Suara Sabrina dan Kale saling beradu sampai keduanya berhenti saat mereka sama-sama menyadari tidak seharusnya mereka saling meninggikan suara mereka.

“Lo itu penuh ketakutan dan kekhawatiran, Sab. Nggak ada hubungannya sama persahabatan kita, lo cuma takut aja sama yang namanya relationship.” Suara Kale terdengar melunak.

But still, Kal. Yang namanya sahabat nggak ada yang saling jatuh cinta. You can’t. And also Fabian. Kalo dia suka sama gue, gue juga bakal tolak dia, kok.”

“Jadi, gue ini emang cuma sahabat buat lo, ya, Sab?” tanya Kale sambil bangkit berdiri.

Sabrina melirik sekilas ke arah Kale yang masih memandanginya, lalu mengangguk pelan.

Kale menghela nafas. “Yaudah, kalo gitu lo balik, gih. Besok kan masih kerja. Gue juga perlu mandi, beres-beres,” ucap Kale lalu ia membuka pintu ruang tamunya untuk Sabrina.

Sabrina sebenarnya masih belum puas dengan percakapan mereka malam ini. Seperti masih ada yang mengganjal, tapi otaknya sudah terlalu pusing untuk diajak berpikir.

Karena itu, akhirnya Sabrina menuruti Kale. Ia bangun dari duduknya dan beranjak pergi dari rumah Kale. Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu rumah Kale, lelaki itu segera menutup pintunya tanpa berucap apa-apa lagi.

Dan entah kenapa, Sabrina justru merasa sakit hati dengan perilaku Kale barusan.

Ayah

Sudah dua jam Sabrina duduk menunggu sang ibu di balkon kamarnya yang menghadap ke arah jalanan kompleks depan rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan ibunya.

Sabrina khawatir karena ia tahu, ibunya bukan tipikal orang yang suka berpergian sendiri, apalagi sampai semalam ini. Pesan teks yang dikirimkan Sabrina juga tidak dibalas oleh ibunya, membuat kekhawatiran Sabrina bertambah.

Sabrina sekilas melirik ke balkon sebelah kanan rumahnya; balkon itu masih gelap gulita. Sepertinya penghuni kamar itu belum selesai dari shift kerjanya dan entah mengapa timbul sedikit rasa kecewa di dalam diri Sabrina.

“Ghey, lagi apa lo?” tanya Sabrina saat teleponnya tersambung dengan sahabatnya, Ghea.

Sabrina terdiam sesaat mendengar jawaban Ghea di ujung teleponnya.

“Nggak papa, gue lagi nungguin nyokap. Tumben banget belum ...” ucapan Sabrina terputus karena melihat sinar lampu mobil di depan rumahnya. “Eh, Ghey, gue telfon lagi nanti ya, kayaknya nyokap pulang.”

Telepon singkat itu terputus dan Sabrina segera turun ke lantai bawah untuk menghampiri mobil Kijang Krista yang parkir di depan rumahnya.

“Ibu, pulang sama siapa?” tanya Sabrina saat melihat ibunya turun dari mobil tersebut.

Belum sempat ibu Sabrina menjawab, orang yang mengantar ibunya pulang ikut turun dari mobil dan menyapa Sabrina ramah. “Halo, Sabrina. Apa kabar, Nak?”

Air muka Sabrina berubah dalam hitungan detik. Ia memandang jijik pria yang menyapanya barusan. “Ibu ngapain sih, pergi-pergi sama dia?” Sabrina tidak menggubris sapaan pria tadi, ia malah kembali bertanya kepada sang ibu.

“Na, ini ayah kamu, kamu nggak boleh-”

“Nana tanya, Ibu ngapain masih ngurusin dia?!” Sabrina memotong kalimat ibunya dengan nada marah. Telunjuk kanannya menunjuk tepat ke arah pria yang merupakan ayahnya sendiri.

“Na, Ayah mau minta maaf sama Ibu dan juga kamu ... Tolong dengerin penjelasan Ayah dulu ya, Na ...” Ayah Sabrina kembali angkat bicara.

“Mau minta maaf apa?! Kalo emang ngerasa bersalah, nggak seharusnya Ayah ninggalin Ibu sama Nana!”

Suasana malam itu sekejap berubah menjadi intens. Suara Sabrina yang cukup keras mengundang para tetangga mengintip dari balik gordyn jendela rumah masing-masing.

“Na, kita ngomong di dalem aja yuk,” ajak ibu Sabrina sambil mendekati perempuan itu dan berusaha merangkulnya, tapi Sabrina mengelak.

Sabrina segera berlari naik ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan juga cardigan miliknya lalu turun saat ayah dan ibu mereka sudah duduk di ruang tamu.

“Na, mau ke mana?” tanya ibu Sabrina khawatir.

“Kalo Ibu masih mau ngobrol sama dia, silahkan. Biar Nana yang pergi dari sini,” jawab Sabrina dingin lalu ia segera pergi meninggalkan rumahnya, menghiraukan teriakan sang ibu yang terus menerus memanggil namanya.

Awalnya Sabrina melangkah cepat menyusuri jalanan kompleks yang basah setelah hujan mengguyur daerah rumahnya satu jam lalu. Ia merapatkan cardigannya karena cuaca yang semakin malam semakin dingin. Wajahnya bergetar, berusaha menahan tangis yang sedari tadi mendesak untuk keluar.

Tapi semakin lama langkah kaki itu semakin lambat. Belum sampai gerbang kompleks rumahnya, Sabrina berhenti. Ia berjongkok dan menangis sekeras mungkin di jalanan yang sudah sepi itu.

“Sab?”

Terdengar suara lembut memanggil Sabrina beberapa saat setelah ia menangis tanpa henti. Sabrina mengangkat kepalanya, ia mendapati Kale tengah memandanginya dengan tatapan khawatir.

“Lo ngapain di sini?” tanya Kale lagi.

Sabrina tidak langsung menjawab, ia berusaha kembali berdiri dengan bantuan Kale memegangi kedua lengannya.

“Yuk, gue anter pulang,” ajak Kale yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Sabrina.

“Gak, gue nggak mau pulang,” sergah Sabrina lalu ia melepaskan diri dari rangkulan Kale dan kembali berjalan sesuai tujuan awalnya, yaitu keluar dari kompleks rumahnya.

Kale meraih tangan Sabrina dan berhasil menghentikan langkah perempuan itu. “Sab, lo kenapa?”

“Gue nggak mau pulang ke rumah, Kale!” Sabrina menepis cukup keras tangan Kale dan kembali berjalan.

“Sabrina!” Kali ini Kale tidak hanya meraih tangan Sabrina, tapi juga menariknya sehingga hampir tidak ada jarak di antara keduanya. “Gue anter,” sambungnya dan sebelum Sabrina kabur lagi, buru-buru Kale menggandeng Sabrina menuju motornya yang terparkir di tempat Sabrina menangis tadi.

Sabrina hanya diam, ia membiarkan Kale memakaikan helm penumpang yang selalu dibawa lelaki itu di motornya. Tidak lupa juga Kale mengancingi cardigan Sabrina agar saat naik motor nanti, perempuan itu tidak kedinginan.

Selesai mengurus Sabrina, Kale juga memakai helmnya, menutup rapat retsleting jaket kulitnya dan kembali menaiki motornya.

“Ayo,” ajak Kale melihat Sabrina yang masih berdiri diam di sisi motor dengan mata sembab.

Sabrina menurut, ia duduk di kursi penumpang dan memegang erat sisi kanan kiri jaket milik Kale sebelum lelaki itu melaju meninggalkan kompleks rumah mereka.

Kale mulai mengendarai motornya mengitari daerah Tebet, lalu sampai di jalan raya Casablanca ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan malam itu hingga tiba di Taman Suropati, Menteng.

“Minum dulu, Sab.” Kale menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia beli dari abang penjual minuman di situ kepada Sabrina.

“Sorry, kalo tadi gue terus-terusan nanyain lo kenapa.” Kale kembali berbicara saat melihat Sabrina sudah selesai meminum air putih pemberiannya.

“Nyokap hari ini pergi sama bokap, tadi mereka pulang bareng.” Sabrina akhirnya berbicara. “Dan bokap bilang dia mau minta maaf. Cih, basi,” sambungnya kesal.

“Sab, dia bokap lo.”

“Nggak, sejak dia pergi ninggalin gue dan nyokap, bokap gue udah nggak ada. Dia udah mati.”

Kale menghela nafas panjang, ia tidak lagi menanggapi Sabrina karena ia yakin kalau diperpanjang, perdebatan ini hanya akan menambah kebencian Sabrina terhadap ayahnya dan secara tidak langsung juga menambah luka hati yang sudah lama diderita perempuan itu.

“Udah makan malem?” tanya Kale mengalihkan topik pembicaraan mereka.

Sabrina mengangguk pelan. “Lo udah belum?”

“Belum. Bentar ya, gue beli nasi goreng itu dulu,” jawab Kale sambil menunjuk deretan gerobak penjual makanan di taman itu. “Mau pisang bakar nggak? Itu di sebelah abang nasgor ada yang jual,” sambung Kale.

“Mau. Mau es Good Day Cappuccino juga,” pinta Sabrina pelan, persis anak kecil yang malu-malu minta dibelikan sesuatu kalau habis menangis.

Kale tersenyum lebar. “Oke, bentar, ya.”

Decision

Ghea berusaha secepat mungkin berjalan menuju lobi begitu ia selesai membalas pesan dari Ten. Hatinya sangat gugup, pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Saat ia tiba di hotel, ia mendapati Ten sudah duduk manis di sofa lobi hotel.

“Ten, sorry nunggu lama,” ucap Ghea dengan sedikit terengah-engah.

Ten tidak menjawab apa-apa, ia hanya bangkit berdiri dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Jalan-jalan di sekitaran sini, yuk?”

*

Sudah hampir 5 menit mereka berjalan berdampingan, menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai karena tempat penginapan mereka tidak terletak di jalan utama, tanpa ada satupun percakapan di antara keduanya.

Keseringannya Ghea menunduk, memperhatikan langkah kakinya sendiri, sementara Ten melihat-lihat sekitar sambil sesekali curi pandang ke arah Ghea.

“Ghea.”

“Ten.”

Karena keduanya saling memanggil dalam waktu bersamaan, mereka sama-sama tertawa pelan.

“Kenapa? Katanya tadi mau ngomong sesuatu?” tanya Ghea sebelum Ten kembali angkat bicara.

Kebetulan di dekat situ ada sebuah dinding batu panjang yang bisa diduduki oleh siapapun yang sedang lewat di sana, dan Ten mengajak Ghea untuk duduk di situ agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa.

“Gayatri, I know it sounds hilarious but I ... I like you.

Hening. Tidak ada jawaban dari Ghea atau pun lanjutan kalimat dari Ten.

Ghea diam karena ia masih berusaha meyakinkan dirinya kalau yang barusan ia dengar itu nyata, sementara Ten menunggu respons dari perempuan itu.

“Gayatri, sorry kalau ini terlalu dadakan. Tapi gue nggak mau menyesal di kemudian hari dengan menyimpan perasaan ini sendirian. I really like you, gue udah suka sama lo sejak gue sering bacain DM lo.”

Ghea lagi-lagi hanya diam. Ia sudah sadar kalau ini adalah nyata, pengakuan Ten yang ia dengar barusan bukanlah khayalannya, tapi sekarang masalahnya adalah ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Gayatri?” Ten berusaha menyadarkan Ghea dari lamunannya.

“Maaf Ten, tapi gue nggak bisa.”

Akhirnya Ghea angkat bicara. Terlihat ekspresi Ten yang membutuhkan jawaban lebih dari sekedar yang ia dengar barusan.

“Selama ini gue selalu melihat lo sebagai sumber inspirasi gue dan gue nggak pernah kepikiran untuk lebih dari itu,” Ghea melanjutkan jawabannya sambil menunduk, menghindari tatapan mata Ten yang tidak berhenti menatapnya lekat.

“Gayatri, you can take your time to think as much as you want-

“Ten, kata lo, lo akan menghormati apapun keputusan dari orang yang lo suka, kan?”

Giliran Ten yang diam dengan ucapan Ghea. Dalam hatinya ia sedikit menyesal memberitahu hal itu kepada Ghea.

So, can you respect my decision?” Gantian Ghea yang bertanya kepada Ten.

Dengan berat Ten menganggukkan kepalanya. Sebenarnya bukan akhir yang ia inginkan tapi ia juga tidak dapat memaksakan keinginannya pada Ghea. Ia tahu, hati perempuan itu belum sembuh 100% dan pertemuannya dengan Ghea yang terlalu singkat juga pasti menjadi alasan lain mengapa perempuan itu menolak dirinya.

Thank you, Ten. Tenang aja, gue akan selalu jadi fans nomor 1 lo,” tutup Gayatri dengan senyuman manis di wajahnya.

Ten refleks tersenyum. “Last question,” ucap Ten menggantung.

Yes?

Can I hug you?

Sure,” jawab Ghea dan percakapan malam itu diakhiri dengan sebuah pelukan hangat bagi keduanya yang sekaligus menjadi salam perpisahan mereka.

Lucky One

“Sore Bli, bisa tolong bantu saya hubungi kamar atas nama Chittaphon Leechaiyapornkul nggak, ya? Saya ada janji temu sama dia, tapi chat saya belum dibales,” ucap Ghea kepada resepsionis hotel di mana Ten menginap.

Staff resepsionis mengiyakan pemintaan Ghea, ia segera mencari kamar Ten dalam data tamu lalu menghubungi telfon kamar tersebut.

“Maaf Mbak, telfon kamarnya nggak diangkat,” kata staff resepsionis itu dalam logat Bali yang kental.

Ghea terlihat kecewa, ia berdiri cukup lama di depan meja resepsionis sampai staff itu memberinya sebuah saran. “Coba ke kolam renang, Mbak. Mungkin lagi berenang di sana.”

Saran staff resepsionis itu segera dilakukan oleh Ghea. Setelah mendapat petunjuk di mana lokasi kolam renang itu berada, Ghea langsung pergi ke sana.

Kolam renang itu tidak terlalu ramai, bahkan Ghea hampir menyangka tidak ada yang berenang di sana kalau saja Ten tidak muncul ke permukaan air. Punggung bidang Ten yang sedang menaiki anak tangga kolam renang membelakangi Ghea dan membuat perempuan itu sedikit terpana, ia hampir lupa dengan tujuan awalnya.

“Hai, Ten!” panggil Ghea sambil berjalan menghampiri lelaki itu.

Ten menoleh, didapatinya perempuan mungil dengan dua tas ramah lingkungan di kedua tangannya. Ten refleks tersenyum lebar.

Sorry ya kalo kesannya gue nggak sopan, gue chat lo tapi lo nggak bales, jadi gue ke sini langsung,” ujar Ghea saat ia sudah berada di dekat Ten.

Ten buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas kursi kolam renang, dilihatnya chat dari Ghea berada di jendela notifikasinya.

It's okay, Ghea ... Justru gue yang harus say sorry karena nggak bales message lo. Gue malah sibuk renang,” sesal Ten. “Anyway kalo kita ngobrolnya di kamar, is it okay? Gue ngga enak kalo basah-basahan begini,” sambung Ten lagi.

Sebenarnya Ghea merasa lebih canggung kalau harus masuk ke dalam kamar hotel Ten, tapi ia tetap mengiyakan permintaan lelaki itu. Ten pun segera berjalan dengan Ghea mengekori di belakangnya.

Ten menekan tombol naik pada lift yang akan mereka tumpangi dan setelah berada di dalamnya, ia menekan angka 2.

“Lho? Kalo cuma lantai 2 mah, naik tangga aja, Ten.”

“Lo bawa barang banyak gitu, nanti capek kalo harus naik tangga.”

Detik itu juga rasanya jantung Ghea ingin loncat keluar dari tubuhnya. Selama ini perkataan sederhana nan manis yang hanya ia bisa bayangkan, kini benar-benar diucapkan oleh lelaki itu.

Begitu tiba di kamar Ten, Ghea sedikit terkejut. Ia pikir lelaki itu akan menyewa sebuah suite room mahal dengan pemandangan indah tapi nyatanya tipe kamar yang diinapi Ten saat ini sama persis dengan miliknya.

“Duduk di kasur dulu aja, nggak papa. Gue mandi bentar,” ucap Ten dan lelaki itu segera menghilang di balik pintu kamar mandi.

Sembari menunggu Ten, Ghea sibuk mencari oleh-oleh yang ia beli untuk idolanya, di antara barang lain yang ia beli untuk Sabrina, Arsy, dan juga kedua orang tuanya.

“Oleh-oleh buat siapa, Ghea?” tanya Ten yang sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut hitamnya dengan handuk kecil.

“Oh, buat mama papa sama temen. Maaf, jadi berantakan kasurnya.”

Karena ekspresi Ghea yang lucu, Ten terkekeh pelan lalu ia ikut duduk di sebelah Ghea dan melihat oleh-oleh yang masih berserakan di atas kasurnya.

Isha Naturals ... Hair growth oil ...” Ten berusaha membaca tulisan yang tercantum di kemasan botol hair care pesanan Sabrina.

“Sayang sih, temen gue yang beli oil itu nggak suka WayV ... Suka sih, cuma nggak ngefans kayak gue. Kalo ngefans kan gue bisa jual mahal itu oil, dengan catatan 'abis dipegang Ten Lee',” celetuk Ghea dengan tangan dan mata yang masih sibuk membereskan oleh-olehnya.

“Eh, gue cuma bercanda lho, Ten! Jangan diambil hati, ya,” lanjut Ghea saat menyadari tidak ada respons dari lelaki itu. Karena Ten diam, Ghea mengalihkan pandangannya ke arah Ten; mata mereka bertemu.

“Kalo lo, kenapa lo ngefans sama gue? Kenapa lo suka sama gue?”

Kali pertama Ghea berani menatap mata idolanya itu tanpa merasa takut. Justru saat ini hatinya terasa tidak karuan, entah karena ia sedang bertukar pandang dengan idolanya, atau ada perasaan lain yang tidak ia mengerti.

“Hmm ... Gue suka sama lo karena lo berbakat; jago dance, jago nyanyi, jago gambar juga,” jawab Ghea seperti jawaban yang sering ia ucapkan kalau ia mendapatkan pertanyaan sejenis dari orang lain.

That's it? Cuma karena talenta gue aja?”

“Gue juga suka personality lo, dan lo tuh menginspirasi gitu ... Lo bukan orang Korea tapi bisa sukses jadi idol nggak cuma di Korea tapi juga di China-”

Sorry for cut your words, tapi itu aja?”

Ghea terperangah. Dilihatnya Ten yang tidak berhenti memandangi dirinya dengan botol oil milik Sabrina masih digenggamannya.

“Hah? Ngg ... itu ...”

Sorry, gue terlalu emosional. Just forget it.” Ten buru-buru mengakhiri percakapan itu sebelum suasananya semakin canggung. “Mau kopi nggak?” tawarnya kemudian sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju mini pantry di kamarnya.

“Boleh deh,” balas Ghea singkat.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ten untuk membuat dua gelas kopi, bersamaan dengan Ghea yang sudah membereskan kembali oleh-olehnya.

“Ini, gue beliin aromatherapy candle buat lo,” ucap Ghea seraya memberikan bungkusan kecil yang agak berat.

Ten menerima bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. “Gue nggak tahu lo suka wangi apa, jadi gue beli wangi Lavender biar lo gampang tidurnya. Soalnya gue suka liat lo update status subuh-subuh, padahal pasti lo abis ada kegiatan seharian ....” Ghea melanjutkan kalimatnya, memberi alasan mengapa ia memberikan lilin aromaterapi itu untuk Ten.

Ten memandangi lilin pemberian Ghea dengan senyuman tipis di wajahnya. “Kayaknya nggak akan gue pake deh,” balas Ten.

“Lho? Kenapa? Lo nggak suka wangi Lavender? Mau tuker aja? Ini gue juga beli Chamomile, Jasmine, terus apalagi ya tadi ...” Dengan panik Ghea kembali mengubek-ubek isi tas belanjaannya.

“Ghea,” panggil Ten pelan, tangannya memegang tangan Ghea agar perempuan itu berhenti mencari. “Gue suka kok, makasih ya.”

Ghea menghela nafas lega. “Dipake ya, Ten. Gue belinya full of concern tuh,” celetuk Ghea.

Ten tertawa ringan. “Tapi kalo abis, gue minta lagi boleh?”

“Hah?”

Ten menepuk pipinya perlahan. “Sorry, kebiasaan ngisengin member lain. Minum dulu kopinya, nanti kalo dingin nggak enak.”

Ghea menuruti perkataan Ten, ia menyeruput pelan kopinya dengan tatapan mata tidak lepas dari laki-laki yang tengah sibuk menyimpan oleh-oleh pemberiannya di dalam koper.

“Gue nggak bawa apa-apa dari Korea, jadi gue cuma bisa kasih lo ini aja.”

Ten melepas gelang merah yang ia pakai dari hari pertama kedatangannya ke Bali dan memberikannya kepada Ghea.

“Nggak usah repot-repot, Ten. Gue nggak minta imbalan kok ...”

“Ssst.” Ten menaruh telunjuknya di bibir sebentar, lalu ia meminta Ghea mengangkat salah satu tangannya. Setelah itu ia segera memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Ghea.

“Cantik ...” gumamnya bahagia.

Ghea memutar-mutar pelan pergelangan tangannya. Gelang itu memang terlihat manis di pergelangan tangan kecilnya.

“Jadinya pulang kapan, Ghea?” Ten membuka topik pembicaraan yang baru. Kali ini ia sudah duduk kembali di ranjang, di sisi kanan Ghea.

“Kayaknya besok, tapi nggak tau jam berapa. Sebenernya gue masih betah di Bali, tapi cuti gue cuma sampe besok Rabu dan ...” Ghea menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Life must goes on, kan?” sambungnya lagi.

Was it hard? I mean, you and your ex-boyfriend.

Ghea menoleh, menatap Ten dengan tatapan bingung.

“Sorry, di malem waktu lo berantem sama cowok lo, gue nggak sengaja liat itu semua. Gue bener-bener nggak bermaksud untuk overheard your conversation, saat itu gue cuma mau balikin powerbank lo aja.”

Bibir Ghea membulat. “Oh ...”

Sorry, Gayatri,” ucap Ten lagi.

Ghea tersenyum karena dilihatnya Ten tertunduk, mungkin karena ia merasa bersalah. “Kenapa minta maaf? Lo nggak salah apa-apa kok.”

“Gue sama sekali nggak ngerti sama hal yang kalian bicarain but guessing from the way you cried yesterday night ...

“Jelek banget ya? Haduh, malu-maluin banget gue ke-gap nangis depan idola sendiri.”

Ten kali ini kembali tertawa pelan. “Nggak, like I said before, you still look pretty for me.

“Ten, kalo lo sebagai seorang idol, bagaimana lo menyikapi sebuah hubungan?”

Ten terlihat berpikir sejenak dengan pertanyaan baru yang dilempar Ghea. “Hmm ... Kalo dari segi tipe ideal kayaknya semua orang bisa googling deh,” jawabnya dengan sedikit tertawa. “Tapi ketika gue menemukan orang yang cocok sama gue, sebisa mungkin gue akan menjaga dan menghormati dia.”

Ghea hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Ten.

“Karena gue seorang idol, gue akan menjaga dia dari hal-hal buruk kayak hate comment, etc. Mungkin gue nggak akan publish hubungan gue sama dia, demi kenyamanan dia. Kalau menghormati ... gue akan menghormati segala keputusan dia. Salah satunya, mungkin suatu hari gue dan dia ternyata nggak cocok dan dia mau ninggalin gue, gue akan menghormati hal itu. Berat sih, tapi gue bukan siapa-siapa yang bisa maksa dia, walaupun saat itu posisinya gue adalah pacarnya.”

“Wow ... siapapun itu yang bakal jadi pacar lo, she's the lucky one.”

I'm also the lucky one who'll have her,” sambung Ten cepat dengan tatapan mata yang sudah kembali mengarah kepada Ghea.

Merasa dilihati Ten terus menerus, Ghea jadi salah tingkah sendiri. Ia kemudian bangkit berdiri dari duduknya. “Ten, mau makan malem nggak? Cari sekitaran sini aja. My treat,” ajaknya dengan senyuman ceria untuk menutupi kegugupannya.

Ten mengangguk-angguk beberapa kali tanda ia mau. “Oke, yuk.”

Pertengkaran

Selesai makan siang, Ghea dan Ten melanjutkan perjalanan mereka. Karena masih bingung mau pergi ke mana, akhirnya Bli Putu memberi saran mereka untuk mencoba water sport dan langsung disetujui keduanya.

Puas bermain water sport, mereka kembali mengisi perut dengan makan malam di salah satu kawasan yang wajib dikunjungi jika pergi ke Bali, yaitu Jimbaran.

“Thanks ya, Ten, udah ajak gue buat jalan-jalan hari ini,” ucap Ghea setelah keduanya sama-sama sudah menghabiskan makan malam mereka.

“Harusnya gue yang berterima kasih, jadi punya temen di sini.”

Anyway Ten, kok lo bisa sih percaya sama gue? Maksud gue, lo kan tau gue mengenal lo sebagai seorang artis, tapi lo malah bersikap seolah-olah gue gak tau apa-apa tentang lo.” Ghea mengangkat topik pembicaraan baru.

Ten menghela nafas pelan sambil menyandarkan punggungnya di kursi kayu restoran yang keras. “Nggak tau juga sih specific reason-nya apa. Gue percaya gitu aja, kalo lo nggak ada niat jahat sama gue atau menyalahgunakan pertemuan kita ini. Lagian bukannya lo sendiri ya, yang ngomong kalo lo justru nggak mau ada yang tau tentang pertemuan ini?”

“Iya sih, cuma kan bisa aja gue berubah pikiran dalam semalam. Hehe...”

Ten ikut tertawa pelan merespons kalimat Ghea. “Gue percaya fans yang baik adalah fans yang nggak akan menyalahgunakan kepercayaan gue ke dia. And it's you.

Ghea tidak lagi membalas ucapan Ten, tapi matanya kini memandangi wajah lelaki yang sedang asyik memperhatikan anjing-anjing liar yang berlarian di pesisir pantai.

“Lagian juga, karena gue ajak lo pergi hari ini, lo jadi punya kesempatan buat sering-sering ngeliatin gue dari deket,” sambung Ten tiba-tiba yang membuat Ghea salah tingkah sendiri karena tertangkap basah sedang mengagumi wajah lelaki itu dari dekat.

Ghea lupa kalau idolanya ini memang hobi mengusili orang lain, dan kali ini Ghea alias fans-nya sendiri yang menjadi korban.

“Pulang yuk? Kita berdua perlu istirahat,” ajak Ten dan disambut dengan anggukan setuju Ghea.

*

Tiba di hotel, Ten segera masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali membersihkan dirinya dan setelah itu ia duduk di atas kasur sambil mengeluarkan isi mini sling bag yang dipakainya seharian.

“Oh iya, ini punya Ghea,” gumamnya saat menyadari powerbank milik perempuan itu terbawa di dalam tasnya. Tanpa ragu ia segera keluar kamar hotel dan pergi menuju hotel Ghea untuk mengembalikan powerbank tersebut.

Selesai bertanya pada resepsionis di mana kamar Ghea, Ten menaiki tangga menuju lantai dua untuk mencari kamar perempuan itu. Dengan mudah ia menemukan kamar itu, tapi ia tidak segera menekan tombol bel-nya karena pintu kamar itu tidak tertutup terlalu rapat dan sayup-sayup ia bisa mendengar suara Ghea di dalam sana.

“Kamu mau ngejelasin apalagi sih, Julio? Hari Jumat kemarin udah jelas bagi aku!” ucap Ghea dengan nada tinggi kepada lawan bicara yang tak lain tak bukan adalah mantan tunangannya, Julio.

“Gayatri! Aku tuh nggak selingkuh! Kenapa sih kamu susah banget buat percaya sama aku?!”

Walaupun Ten tidak mengerti bahasa yang dibicarakan keduanya, tapi ia dapat paham situasinya sedang tidak baik-baik saja dari nada bicara Ghea dan Julio.

“Iya, aku ngga bisa percaya sama kamu karena aku yakin banget kamu selingkuh!” Ghea kemudian menyambar ponselnya dan menunjukkan layarnya kepada Julio. “Ini kan, perempuan yang jalan sama kamu hari Jumat kemarin?”

“Iya, itu Keisha,” jawab Julio melihat akun Instagram milik Keisha di layar ponsel Ghea.

“Dan ini kalian berdua.” Ghea kembali menunjukkan hal lain kepada Julio, kali ini sebuah foto di mana Julio dan Keisha sedang makan malam entah dengan siapa, keduanya terlihat saling rangkul mesra satu sama lain.

“Ini juga kalian.” Foto lain ditunjukkan Ghea, kali ini Julio dan Keisha sedang berdiri di lapangan golf dengan pose Keisha mencium pipi Julio, sementara lelaki itu tersenyum ke arah kamera.

“Kalo mau bohong tuh, jangan pamer di sosmed!” tutup Ghea sambil membanting ponselnya ke atas kasur.

Julio mendengus kesal, perilaku busuknya tertangkap basah begitu saja dengan Ghea.

“Oke, gue akuin gue emang ada main belakang sama Keisha karena lo ngeselin.”

Ghea menatap Julio dengan tatapan tak percaya. “Apa? Ngeselin?”

“Iya, ngeselin. Lo nggak nurut kata-kata gue. Gue udah bilang buat kurang-kurangin hobi alay lo, lo malah makin menjadi-jadi. Gue malu, Ghey. Lo keliatan nggak berkelas banget dengan hobi fanatik lo itu, sementara temen-temen gue di kantor punya pasangan dengan hobi mahal. Ada yang hobi berkuda, diving, baking–”

Kalimat Julio terputus karena Ghea menampar keras lelaki itu.

“Gue nggak butuh penjelasan lo lagi. Sekarang juga, pergi dari sini dan jangan pernah cari gue lagi! Gue nggak sudi buat ketemu lagi sama lo, apalagi sampe nikah sama lo!”

Julio dapat merasakan pipinya yang memanas. Niat awalnya untuk berdamai dengan Ghea pupus begitu saja. “Fine, Ghey. Gue juga nggak ada minatan buat balik sama lo. Puas-puasin deh lo dengan hobi konyol lo itu. Gue bisa jamin nggak bakal ada cowok yang mau sama lo, kalo lo masih aja keras kepala kayak sekarang.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Julio segera pergi dari kamar Ghea sementara Ten yang sedari tadi mematung di depan kamar perempuan itu buru-buru berjalan ke arah lain seolah-olah ia kebetulan sedang lewat situ.

Begitu melihat Julio sudah menghilang dari koridor hotel, Ten kembali mengintip kamar Ghea. Dilihatnya perempuan itu sedang duduk menangis di atas lantai kamar hotel yang dilapisi karpet. Mulutnya meracau dalam bahasa yang diyakini Ten sebagai bahasa Indonesia.

“Brengsek, Julio brengsek!! Gue benci sama lo, Julio!! Harusnya tadi gue cekek lo aja sampe mati!!”

Puas mengumpat, Ghea kembali menangis dan tangisnya semakin keras. Karena merasa ini bukan saat yang tepat bagi dirinya untuk menyapa perempuan itu, ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan powerbank milik Ghea. Pelan-pelan Ten menutup rapat pintu kamar hotel Ghea yang tadi tidak sempat tertutup rapat oleh Julio, lalu ia segera pergi dari situ.

Day Out with Him

Gayatri bersyukur dirinya tidak memerlukan waktu yang lama untuk mandi dan berdandan, karena selang 30 menit kemudian, dirinya sudah siap untuk pergi bersama Ten.

Setelah mengirimkan pesan kepada Ten, ia segera turun ke lobi dan begitu sampai di sana, ia dapat menemukan lelaki idolanya itu dengan gaya casual-nya; kemeja santai bercorak abstrak, celana pendek sedikit di atas lutut berwarna khaki, sandal yang sama seperti semalam, dan tidak ketinggalan topi serta kacamata hitamnya.

“Hai, Ten,” sapa Gayatri ramah.

Ten tersenyum membalas sapaan Gayatri. “Hi, Gayatri! Yuk, kita berangkat. Driver gue udah nunggu di lobby hotel gue.”

Tanpa berlama lagi mereka segera meninggalkan hotel menuju destinasi hari ini, Pantai Padang-Padang.

Pantai ini berada di kawasan selatan Bali, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Legian, Gayatri dan Ten tiba di pantai yang dikenal sebagai lokasi syuting film terkenal, ‘Eat, Pray and Love’.

Setelah membeli tiket masuk, keduanya menyusuri jalan setapak dengan tangga yang cukup curam untuk menuju pantai.

Needs help?” tanya Ten saat menyadari Gayatri tertinggal cukup jauh beberapa anak tangga di belakangnya.

“Hah? Oh enggak, nggak papa,” jawab Gayatri.

Memang perempuan itu menjawab tidak apa-apa, tapi Ten tetap menunggunya hingga mereka berada di anak tangga yang sama.

“Gue nggak papa, kok,” ucap Gayatri lagi.

Ten hanya tersenyum tipis, lalu berikutnya ia mengizinkan Gayatri untuk turun terlebih dahulu sementara ia berada persis di belakang perempuan itu.

Sampai di bawah, Gayatri tidak dapat menahan rasa kagumnya akan pantai yang juga terkenal dengan beberapa terumbu karang raksasa berdiri kokoh di sana. Banyak wisatawan asing yang berjemur di atas pasir putihnya yang halus dan juga tidak sedikit yang bermain selancar menambah kekaguman Gayatri.

“Ih sumpah!! Bagus banget!!” pekik Gayatri senang.

Ten yang sudah berdiri di sisi kanan Gayatri tersenyum sambil melirik ke arah perempuan itu. Dugaannya lagi-lagi benar, perempuan ini tidak hanya mampu menularkan energi positif dalam bentuk teks, tapi juga secara langsung.

Seperti lupa dengan kehadiran Ten, Gayatri sekarang sudah sibuk sendiri memotret dan juga berjalan lebih jauh lagi menyusuri pantai itu. Ten tidak berkomentar apa-apa, diam-diam ia membuntuti Gayatri sampai perempuan itu kembali sadar dengan keberadaan Ten.

“Eh, sorry, gue jadi keasyikan sendiri,” sesal Gayatri dengan sedikit tersipu malu.

It’s okay. Suka pantai, ya?”

Gayatri mengangguk antusias. “Banget!”

By the way, gue mau surfing di sana. Kalo nanti udah puas liat-liatnya, duduk di situ, ya,” ucap Ten sambil menunjuk tempat di mana banyak orang yang berjemur, kemudian ia berpamitan dengan Gayatri dan meninggalkan perempuan itu sendiri.

Gayatri memandangi punggung Ten yang semakin jauh dari radarnya. Sebenarnya masih ada rasa percaya tidak percaya dengan apa yang dialaminya selama kurang dari 24 jam ini, tapi dengan keberadaannya di Pantai Padang-Padang saat ini dan ditambah ia melihat sendiri Ten sedang menyewa sebuah papan surfing, ia percaya bahwa ini semua ada nyata.

*

Puas menikmati keindahan alam pantai itu, Gayatri kembali ke tempat di mana tadi Ten meminta dirinya untuk menunggu lelaki itu. Beralaskan kain Bali yang dibelinya barusan, ia duduk di pinggir pantai sambil mencari sosok Ten di antara beberapa orang yang juga sedang berselancar di sana. Agak lama sampai akhirnya ia berhasil menemukan sosok idolanya itu.

Tatapan mata Gayatri tidak lepas dari Ten yang sedang mengendarai ombak dengan papan seluncurnya. Ia tahu lelaki itu memang lihai berseluncur tapi tetap saja, melihatnya secara langsung dengan kedua matanya sendiri sukses membuat dirinya semakin mengidolakan lelaki itu.

“Ternyata gini ya, kalo ketemu langsung sama orang yang gue idolain. Gue malah gak berminat buat foto-foto atau apa. Ngeliatin kayak gini secara langsung aja udah cukup buat gue,” batin Gayatri pada dirinya sendiri sembari melihat Ten yang sedang berjalan ke arahnya sambil menenteng papan seluncurnya.

“Gimana Gayatri, udah puas liat-liat pantainya?” tanya Ten saat ia sudah berada di dekat Gayatri.

Perempuan itu mengangguk. “Btw, panggil gue Ghea aja.”

“Ghea?”

Yes. That’s my nickname. And also a shortcut from Gayatri Arabella. Ghea.”

Ten terkekeh pelan sambil mengangguk-angguk paham. “Brilliant one. Oke, Ghea.”

Tanpa merasa canggung, Ten ikut duduk di sisi kanan Ghea lalu ia menenggak habis air putih botolan miliknya.

“Mau kemana lagi abis ini?” tanya Ten beberapa saat kemudian.

“Bebas, gue kan ngikut yang punya acara.”

Ten berpikir sejenak. “Kita makan dulu aja deh, gimana? Trus abis itu baru tentuin next destination-nya.”

“Oke!”