Fragile

Tiba di Treasury Tower di kawasan SCBD, Kale segera naik ke lantai 31, di mana event organizer tempat Sabrina bekerja menyewa workspace untuk usaha mereka. Setelah diizinkan oleh front man untuk masuk ke dalam, Kale segera mencari Sabrina di mejanya.

“Mbak Sabrina keluar, Mas,” ucap seorang karyawan yang Kale cegat untuk bertanya apakah ia melihat Sabrina atau tidak.

“Keluar ke mana, tau nggak?”

Pertanyaan Kale dijawab dengan gelengan kepala karyawan itu. Tidak lama setelah karyawan tadi berpamitan, Fabian datang menghampiri meja Sabrina untuk menaruh berkas yang diminta perempuan itu.

“Lo Fabian, ya?”

Teguran Kale mendapat respons berupa kerutan di dahi Fabian. “Lo siapa?” tanya Fabian penasaran.

“Gue temennya Sabrina. Gue perlu ketemu sama dia,” jawab Kale.

“Tadi abis meeting dia pergi gitu aja, udah sejam lebih dia belum balik kantor,” timpal Fabian sambil melirik jam tangannya.

“Kira-kira lo tau nggak dia di mana?”

“Paling ke Astha, jam makan siang juga kan ini.”

Begitu Fabian selesai berbicara, Kale segera pergi setelah sebelumnya ia berterima kasih singkat kepada partner kerja sahabatnya itu.

*

Ternyata Fabian benar. Sampai di ruang terbuka mal yang sedang kekinian di Jakarta itu, Kale mendapati Sabrina sedang duduk, memperhatikan orang-orang yang sibuk berfoto di sana dengan tatapan menerawang.

“Sab,” panggil Kale pelan agar perempuan itu tidak kaget dengan kehadirannya.

Sabrina menoleh dan Kale dapat melihat dengan jelas mata Sabrina yang cukup sembab.

Are you okay?” sambung Kale bertanya.

Sabrina hanya mengangguk pelan lalu ia kembali melihat orang-orang di sekitarnya dengan tatapan kosong.

“Udah makan?” tanya Kale dan kali ini Sabrina menggeleng pelan.

“Makan, yuk? Gue juga laper, nih.”

Sabrina menanggapi ajakan Kale dengan anggukan pelan sambil ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang terbuka itu.

Karena Sabrina tidak memberikan jawaban apa-apa saat ditanyai mau makan apa, akhirnya Kale memilih restoran ayam Korea yang berada di perkantoran slash mal itu.

Selesai memesan dua porsi ayam dan dua soda, Kale menatap ke arah Sabrina yang lagi-lagi sedang memandangi sekelilingnya dengan tatapan kosong.

“Sab, are you really okay?” Kale mengulang pertanyaan yang ia tanyakan beberapa saat lalu.

Sabrina diam, ia hanya melihat Kale sekilas lalu kembali memalingkan wajah dari lelaki itu.

“Sab, it’s okay kalo lo jawab lo nggak baik-baik aja. You’re still human, though,” sambung Kale lagi.

Sabrina hanya tersenyum tipis, senyum yang sengaja ia paksakan untuk mengisyaratkan kepada Kale kalau ia sedang tidak ingin membicarakan apapun dengan lelaki itu.

Seperti mengerti, Kale akhirnya diam. Sampai makanan pesanan mereka tiba, Kale hanya bicara sesekali seperti mengomentari rasa ayamnya yang kurang asin bagi Kale atau saos sambalnya yang kurang pedas.

“Sab, udah nyobain Arabica belum? Mumpung di sini gue pengen beli, hehehe …” kata Kale setelah mereka selesai makan.

“Kale, gue mau balik kantor. Kalo lo mau nyobain Arabica, cobain aja. Gue balik ngantor, ya. Makasih udah nemenin makan siang,” tolak Sabrina sembari berpamitan Kale.

“Lo nggak mau balik rumah aja? Tante Hilda khawatir sama lo.”

“Oh, jadi lo ke sini karena nyokap gue.” Aura kelabu tersirat jelas di wajah Sabrina, kekecewaannya hari itu bertambah. “Udah ya, gue ngantor. Bye,” pamit Sabrina lalu ia benar-benar meninggalkan Kale agar lelaki itu tidak bicara apa-apa lagi padanya.

Kale hanya dapat memandangi punggung Sabrina yang semakin menjauh dari radarnya. Punggung yang sedikit membungkuk lesu, padahal biasanya punggung itu akan berjalan tegap seperti tak gentar menghadapi apapun yang menghalangi langkahnya.

Sabrina tetaplah seorang manusia, yang pertahanan terkuatnya bisa runtuh kapan saja. Yang hatinya juga bisa patah kapanpun. Hanya saja perempuan itu masih berupaya untuk berdiri sendiri dengan kedua kakinya, berupaya untuk menyembuhkan luka hatinya sendiri.

“Sab, kapan pun lo butuh pertolongan dan tempat untuk beristirahat, gue akan berusaha jadi orang pertama yang hadir untuk lo.”