Lucky One
“Sore Bli, bisa tolong bantu saya hubungi kamar atas nama Chittaphon Leechaiyapornkul nggak, ya? Saya ada janji temu sama dia, tapi chat saya belum dibales,” ucap Ghea kepada resepsionis hotel di mana Ten menginap.
Staff resepsionis mengiyakan pemintaan Ghea, ia segera mencari kamar Ten dalam data tamu lalu menghubungi telfon kamar tersebut.
“Maaf Mbak, telfon kamarnya nggak diangkat,” kata staff resepsionis itu dalam logat Bali yang kental.
Ghea terlihat kecewa, ia berdiri cukup lama di depan meja resepsionis sampai staff itu memberinya sebuah saran. “Coba ke kolam renang, Mbak. Mungkin lagi berenang di sana.”
Saran staff resepsionis itu segera dilakukan oleh Ghea. Setelah mendapat petunjuk di mana lokasi kolam renang itu berada, Ghea langsung pergi ke sana.
Kolam renang itu tidak terlalu ramai, bahkan Ghea hampir menyangka tidak ada yang berenang di sana kalau saja Ten tidak muncul ke permukaan air. Punggung bidang Ten yang sedang menaiki anak tangga kolam renang membelakangi Ghea dan membuat perempuan itu sedikit terpana, ia hampir lupa dengan tujuan awalnya.
“Hai, Ten!” panggil Ghea sambil berjalan menghampiri lelaki itu.
Ten menoleh, didapatinya perempuan mungil dengan dua tas ramah lingkungan di kedua tangannya. Ten refleks tersenyum lebar.
“Sorry ya kalo kesannya gue nggak sopan, gue chat lo tapi lo nggak bales, jadi gue ke sini langsung,” ujar Ghea saat ia sudah berada di dekat Ten.
Ten buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas kursi kolam renang, dilihatnya chat dari Ghea berada di jendela notifikasinya.
“It's okay, Ghea ... Justru gue yang harus say sorry karena nggak bales message lo. Gue malah sibuk renang,” sesal Ten. “Anyway kalo kita ngobrolnya di kamar, is it okay? Gue ngga enak kalo basah-basahan begini,” sambung Ten lagi.
Sebenarnya Ghea merasa lebih canggung kalau harus masuk ke dalam kamar hotel Ten, tapi ia tetap mengiyakan permintaan lelaki itu. Ten pun segera berjalan dengan Ghea mengekori di belakangnya.
Ten menekan tombol naik pada lift yang akan mereka tumpangi dan setelah berada di dalamnya, ia menekan angka 2.
“Lho? Kalo cuma lantai 2 mah, naik tangga aja, Ten.”
“Lo bawa barang banyak gitu, nanti capek kalo harus naik tangga.”
Detik itu juga rasanya jantung Ghea ingin loncat keluar dari tubuhnya. Selama ini perkataan sederhana nan manis yang hanya ia bisa bayangkan, kini benar-benar diucapkan oleh lelaki itu.
Begitu tiba di kamar Ten, Ghea sedikit terkejut. Ia pikir lelaki itu akan menyewa sebuah suite room mahal dengan pemandangan indah tapi nyatanya tipe kamar yang diinapi Ten saat ini sama persis dengan miliknya.
“Duduk di kasur dulu aja, nggak papa. Gue mandi bentar,” ucap Ten dan lelaki itu segera menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sembari menunggu Ten, Ghea sibuk mencari oleh-oleh yang ia beli untuk idolanya, di antara barang lain yang ia beli untuk Sabrina, Arsy, dan juga kedua orang tuanya.
“Oleh-oleh buat siapa, Ghea?” tanya Ten yang sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut hitamnya dengan handuk kecil.
“Oh, buat mama papa sama temen. Maaf, jadi berantakan kasurnya.”
Karena ekspresi Ghea yang lucu, Ten terkekeh pelan lalu ia ikut duduk di sebelah Ghea dan melihat oleh-oleh yang masih berserakan di atas kasurnya.
“Isha Naturals ... Hair growth oil ...” Ten berusaha membaca tulisan yang tercantum di kemasan botol hair care pesanan Sabrina.
“Sayang sih, temen gue yang beli oil itu nggak suka WayV ... Suka sih, cuma nggak ngefans kayak gue. Kalo ngefans kan gue bisa jual mahal itu oil, dengan catatan 'abis dipegang Ten Lee',” celetuk Ghea dengan tangan dan mata yang masih sibuk membereskan oleh-olehnya.
“Eh, gue cuma bercanda lho, Ten! Jangan diambil hati, ya,” lanjut Ghea saat menyadari tidak ada respons dari lelaki itu. Karena Ten diam, Ghea mengalihkan pandangannya ke arah Ten; mata mereka bertemu.
“Kalo lo, kenapa lo ngefans sama gue? Kenapa lo suka sama gue?”
Kali pertama Ghea berani menatap mata idolanya itu tanpa merasa takut. Justru saat ini hatinya terasa tidak karuan, entah karena ia sedang bertukar pandang dengan idolanya, atau ada perasaan lain yang tidak ia mengerti.
“Hmm ... Gue suka sama lo karena lo berbakat; jago dance, jago nyanyi, jago gambar juga,” jawab Ghea seperti jawaban yang sering ia ucapkan kalau ia mendapatkan pertanyaan sejenis dari orang lain.
“That's it? Cuma karena talenta gue aja?”
“Gue juga suka personality lo, dan lo tuh menginspirasi gitu ... Lo bukan orang Korea tapi bisa sukses jadi idol nggak cuma di Korea tapi juga di China-”
“Sorry for cut your words, tapi itu aja?”
Ghea terperangah. Dilihatnya Ten yang tidak berhenti memandangi dirinya dengan botol oil milik Sabrina masih digenggamannya.
“Hah? Ngg ... itu ...”
“Sorry, gue terlalu emosional. Just forget it.” Ten buru-buru mengakhiri percakapan itu sebelum suasananya semakin canggung. “Mau kopi nggak?” tawarnya kemudian sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju mini pantry di kamarnya.
“Boleh deh,” balas Ghea singkat.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ten untuk membuat dua gelas kopi, bersamaan dengan Ghea yang sudah membereskan kembali oleh-olehnya.
“Ini, gue beliin aromatherapy candle buat lo,” ucap Ghea seraya memberikan bungkusan kecil yang agak berat.
Ten menerima bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. “Gue nggak tahu lo suka wangi apa, jadi gue beli wangi Lavender biar lo gampang tidurnya. Soalnya gue suka liat lo update status subuh-subuh, padahal pasti lo abis ada kegiatan seharian ....” Ghea melanjutkan kalimatnya, memberi alasan mengapa ia memberikan lilin aromaterapi itu untuk Ten.
Ten memandangi lilin pemberian Ghea dengan senyuman tipis di wajahnya. “Kayaknya nggak akan gue pake deh,” balas Ten.
“Lho? Kenapa? Lo nggak suka wangi Lavender? Mau tuker aja? Ini gue juga beli Chamomile, Jasmine, terus apalagi ya tadi ...” Dengan panik Ghea kembali mengubek-ubek isi tas belanjaannya.
“Ghea,” panggil Ten pelan, tangannya memegang tangan Ghea agar perempuan itu berhenti mencari. “Gue suka kok, makasih ya.”
Ghea menghela nafas lega. “Dipake ya, Ten. Gue belinya full of concern tuh,” celetuk Ghea.
Ten tertawa ringan. “Tapi kalo abis, gue minta lagi boleh?”
“Hah?”
Ten menepuk pipinya perlahan. “Sorry, kebiasaan ngisengin member lain. Minum dulu kopinya, nanti kalo dingin nggak enak.”
Ghea menuruti perkataan Ten, ia menyeruput pelan kopinya dengan tatapan mata tidak lepas dari laki-laki yang tengah sibuk menyimpan oleh-oleh pemberiannya di dalam koper.
“Gue nggak bawa apa-apa dari Korea, jadi gue cuma bisa kasih lo ini aja.”
Ten melepas gelang merah yang ia pakai dari hari pertama kedatangannya ke Bali dan memberikannya kepada Ghea.
“Nggak usah repot-repot, Ten. Gue nggak minta imbalan kok ...”
“Ssst.” Ten menaruh telunjuknya di bibir sebentar, lalu ia meminta Ghea mengangkat salah satu tangannya. Setelah itu ia segera memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Ghea.
“Cantik ...” gumamnya bahagia.
Ghea memutar-mutar pelan pergelangan tangannya. Gelang itu memang terlihat manis di pergelangan tangan kecilnya.
“Jadinya pulang kapan, Ghea?” Ten membuka topik pembicaraan yang baru. Kali ini ia sudah duduk kembali di ranjang, di sisi kanan Ghea.
“Kayaknya besok, tapi nggak tau jam berapa. Sebenernya gue masih betah di Bali, tapi cuti gue cuma sampe besok Rabu dan ...” Ghea menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Life must goes on, kan?” sambungnya lagi.
“Was it hard? I mean, you and your ex-boyfriend.“
Ghea menoleh, menatap Ten dengan tatapan bingung.
“Sorry, di malem waktu lo berantem sama cowok lo, gue nggak sengaja liat itu semua. Gue bener-bener nggak bermaksud untuk overheard your conversation, saat itu gue cuma mau balikin powerbank lo aja.”
Bibir Ghea membulat. “Oh ...”
“Sorry, Gayatri,” ucap Ten lagi.
Ghea tersenyum karena dilihatnya Ten tertunduk, mungkin karena ia merasa bersalah. “Kenapa minta maaf? Lo nggak salah apa-apa kok.”
“Gue sama sekali nggak ngerti sama hal yang kalian bicarain but guessing from the way you cried yesterday night ...“
“Jelek banget ya? Haduh, malu-maluin banget gue ke-gap nangis depan idola sendiri.”
Ten kali ini kembali tertawa pelan. “Nggak, like I said before, you still look pretty for me.“
“Ten, kalo lo sebagai seorang idol, bagaimana lo menyikapi sebuah hubungan?”
Ten terlihat berpikir sejenak dengan pertanyaan baru yang dilempar Ghea. “Hmm ... Kalo dari segi tipe ideal kayaknya semua orang bisa googling deh,” jawabnya dengan sedikit tertawa. “Tapi ketika gue menemukan orang yang cocok sama gue, sebisa mungkin gue akan menjaga dan menghormati dia.”
Ghea hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Ten.
“Karena gue seorang idol, gue akan menjaga dia dari hal-hal buruk kayak hate comment, etc. Mungkin gue nggak akan publish hubungan gue sama dia, demi kenyamanan dia. Kalau menghormati ... gue akan menghormati segala keputusan dia. Salah satunya, mungkin suatu hari gue dan dia ternyata nggak cocok dan dia mau ninggalin gue, gue akan menghormati hal itu. Berat sih, tapi gue bukan siapa-siapa yang bisa maksa dia, walaupun saat itu posisinya gue adalah pacarnya.”
“Wow ... siapapun itu yang bakal jadi pacar lo, she's the lucky one.”
“I'm also the lucky one who'll have her,” sambung Ten cepat dengan tatapan mata yang sudah kembali mengarah kepada Ghea.
Merasa dilihati Ten terus menerus, Ghea jadi salah tingkah sendiri. Ia kemudian bangkit berdiri dari duduknya. “Ten, mau makan malem nggak? Cari sekitaran sini aja. My treat,” ajaknya dengan senyuman ceria untuk menutupi kegugupannya.
Ten mengangguk-angguk beberapa kali tanda ia mau. “Oke, yuk.”