Pertengkaran

Selesai makan siang, Ghea dan Ten melanjutkan perjalanan mereka. Karena masih bingung mau pergi ke mana, akhirnya Bli Putu memberi saran mereka untuk mencoba water sport dan langsung disetujui keduanya.

Puas bermain water sport, mereka kembali mengisi perut dengan makan malam di salah satu kawasan yang wajib dikunjungi jika pergi ke Bali, yaitu Jimbaran.

“Thanks ya, Ten, udah ajak gue buat jalan-jalan hari ini,” ucap Ghea setelah keduanya sama-sama sudah menghabiskan makan malam mereka.

“Harusnya gue yang berterima kasih, jadi punya temen di sini.”

Anyway Ten, kok lo bisa sih percaya sama gue? Maksud gue, lo kan tau gue mengenal lo sebagai seorang artis, tapi lo malah bersikap seolah-olah gue gak tau apa-apa tentang lo.” Ghea mengangkat topik pembicaraan baru.

Ten menghela nafas pelan sambil menyandarkan punggungnya di kursi kayu restoran yang keras. “Nggak tau juga sih specific reason-nya apa. Gue percaya gitu aja, kalo lo nggak ada niat jahat sama gue atau menyalahgunakan pertemuan kita ini. Lagian bukannya lo sendiri ya, yang ngomong kalo lo justru nggak mau ada yang tau tentang pertemuan ini?”

“Iya sih, cuma kan bisa aja gue berubah pikiran dalam semalam. Hehe...”

Ten ikut tertawa pelan merespons kalimat Ghea. “Gue percaya fans yang baik adalah fans yang nggak akan menyalahgunakan kepercayaan gue ke dia. And it's you.

Ghea tidak lagi membalas ucapan Ten, tapi matanya kini memandangi wajah lelaki yang sedang asyik memperhatikan anjing-anjing liar yang berlarian di pesisir pantai.

“Lagian juga, karena gue ajak lo pergi hari ini, lo jadi punya kesempatan buat sering-sering ngeliatin gue dari deket,” sambung Ten tiba-tiba yang membuat Ghea salah tingkah sendiri karena tertangkap basah sedang mengagumi wajah lelaki itu dari dekat.

Ghea lupa kalau idolanya ini memang hobi mengusili orang lain, dan kali ini Ghea alias fans-nya sendiri yang menjadi korban.

“Pulang yuk? Kita berdua perlu istirahat,” ajak Ten dan disambut dengan anggukan setuju Ghea.

*

Tiba di hotel, Ten segera masuk ke dalam kamar mandi untuk kembali membersihkan dirinya dan setelah itu ia duduk di atas kasur sambil mengeluarkan isi mini sling bag yang dipakainya seharian.

“Oh iya, ini punya Ghea,” gumamnya saat menyadari powerbank milik perempuan itu terbawa di dalam tasnya. Tanpa ragu ia segera keluar kamar hotel dan pergi menuju hotel Ghea untuk mengembalikan powerbank tersebut.

Selesai bertanya pada resepsionis di mana kamar Ghea, Ten menaiki tangga menuju lantai dua untuk mencari kamar perempuan itu. Dengan mudah ia menemukan kamar itu, tapi ia tidak segera menekan tombol bel-nya karena pintu kamar itu tidak tertutup terlalu rapat dan sayup-sayup ia bisa mendengar suara Ghea di dalam sana.

“Kamu mau ngejelasin apalagi sih, Julio? Hari Jumat kemarin udah jelas bagi aku!” ucap Ghea dengan nada tinggi kepada lawan bicara yang tak lain tak bukan adalah mantan tunangannya, Julio.

“Gayatri! Aku tuh nggak selingkuh! Kenapa sih kamu susah banget buat percaya sama aku?!”

Walaupun Ten tidak mengerti bahasa yang dibicarakan keduanya, tapi ia dapat paham situasinya sedang tidak baik-baik saja dari nada bicara Ghea dan Julio.

“Iya, aku ngga bisa percaya sama kamu karena aku yakin banget kamu selingkuh!” Ghea kemudian menyambar ponselnya dan menunjukkan layarnya kepada Julio. “Ini kan, perempuan yang jalan sama kamu hari Jumat kemarin?”

“Iya, itu Keisha,” jawab Julio melihat akun Instagram milik Keisha di layar ponsel Ghea.

“Dan ini kalian berdua.” Ghea kembali menunjukkan hal lain kepada Julio, kali ini sebuah foto di mana Julio dan Keisha sedang makan malam entah dengan siapa, keduanya terlihat saling rangkul mesra satu sama lain.

“Ini juga kalian.” Foto lain ditunjukkan Ghea, kali ini Julio dan Keisha sedang berdiri di lapangan golf dengan pose Keisha mencium pipi Julio, sementara lelaki itu tersenyum ke arah kamera.

“Kalo mau bohong tuh, jangan pamer di sosmed!” tutup Ghea sambil membanting ponselnya ke atas kasur.

Julio mendengus kesal, perilaku busuknya tertangkap basah begitu saja dengan Ghea.

“Oke, gue akuin gue emang ada main belakang sama Keisha karena lo ngeselin.”

Ghea menatap Julio dengan tatapan tak percaya. “Apa? Ngeselin?”

“Iya, ngeselin. Lo nggak nurut kata-kata gue. Gue udah bilang buat kurang-kurangin hobi alay lo, lo malah makin menjadi-jadi. Gue malu, Ghey. Lo keliatan nggak berkelas banget dengan hobi fanatik lo itu, sementara temen-temen gue di kantor punya pasangan dengan hobi mahal. Ada yang hobi berkuda, diving, baking–”

Kalimat Julio terputus karena Ghea menampar keras lelaki itu.

“Gue nggak butuh penjelasan lo lagi. Sekarang juga, pergi dari sini dan jangan pernah cari gue lagi! Gue nggak sudi buat ketemu lagi sama lo, apalagi sampe nikah sama lo!”

Julio dapat merasakan pipinya yang memanas. Niat awalnya untuk berdamai dengan Ghea pupus begitu saja. “Fine, Ghey. Gue juga nggak ada minatan buat balik sama lo. Puas-puasin deh lo dengan hobi konyol lo itu. Gue bisa jamin nggak bakal ada cowok yang mau sama lo, kalo lo masih aja keras kepala kayak sekarang.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Julio segera pergi dari kamar Ghea sementara Ten yang sedari tadi mematung di depan kamar perempuan itu buru-buru berjalan ke arah lain seolah-olah ia kebetulan sedang lewat situ.

Begitu melihat Julio sudah menghilang dari koridor hotel, Ten kembali mengintip kamar Ghea. Dilihatnya perempuan itu sedang duduk menangis di atas lantai kamar hotel yang dilapisi karpet. Mulutnya meracau dalam bahasa yang diyakini Ten sebagai bahasa Indonesia.

“Brengsek, Julio brengsek!! Gue benci sama lo, Julio!! Harusnya tadi gue cekek lo aja sampe mati!!”

Puas mengumpat, Ghea kembali menangis dan tangisnya semakin keras. Karena merasa ini bukan saat yang tepat bagi dirinya untuk menyapa perempuan itu, ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan powerbank milik Ghea. Pelan-pelan Ten menutup rapat pintu kamar hotel Ghea yang tadi tidak sempat tertutup rapat oleh Julio, lalu ia segera pergi dari situ.