Decision
Ghea berusaha secepat mungkin berjalan menuju lobi begitu ia selesai membalas pesan dari Ten. Hatinya sangat gugup, pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Saat ia tiba di hotel, ia mendapati Ten sudah duduk manis di sofa lobi hotel.
“Ten, sorry nunggu lama,” ucap Ghea dengan sedikit terengah-engah.
Ten tidak menjawab apa-apa, ia hanya bangkit berdiri dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Jalan-jalan di sekitaran sini, yuk?”
*
Sudah hampir 5 menit mereka berjalan berdampingan, menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai karena tempat penginapan mereka tidak terletak di jalan utama, tanpa ada satupun percakapan di antara keduanya.
Keseringannya Ghea menunduk, memperhatikan langkah kakinya sendiri, sementara Ten melihat-lihat sekitar sambil sesekali curi pandang ke arah Ghea.
“Ghea.”
“Ten.”
Karena keduanya saling memanggil dalam waktu bersamaan, mereka sama-sama tertawa pelan.
“Kenapa? Katanya tadi mau ngomong sesuatu?” tanya Ghea sebelum Ten kembali angkat bicara.
Kebetulan di dekat situ ada sebuah dinding batu panjang yang bisa diduduki oleh siapapun yang sedang lewat di sana, dan Ten mengajak Ghea untuk duduk di situ agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa.
“Gayatri, I know it sounds hilarious but I ... I like you.“
Hening. Tidak ada jawaban dari Ghea atau pun lanjutan kalimat dari Ten.
Ghea diam karena ia masih berusaha meyakinkan dirinya kalau yang barusan ia dengar itu nyata, sementara Ten menunggu respons dari perempuan itu.
“Gayatri, sorry kalau ini terlalu dadakan. Tapi gue nggak mau menyesal di kemudian hari dengan menyimpan perasaan ini sendirian. I really like you, gue udah suka sama lo sejak gue sering bacain DM lo.”
Ghea lagi-lagi hanya diam. Ia sudah sadar kalau ini adalah nyata, pengakuan Ten yang ia dengar barusan bukanlah khayalannya, tapi sekarang masalahnya adalah ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Gayatri?” Ten berusaha menyadarkan Ghea dari lamunannya.
“Maaf Ten, tapi gue nggak bisa.”
Akhirnya Ghea angkat bicara. Terlihat ekspresi Ten yang membutuhkan jawaban lebih dari sekedar yang ia dengar barusan.
“Selama ini gue selalu melihat lo sebagai sumber inspirasi gue dan gue nggak pernah kepikiran untuk lebih dari itu,” Ghea melanjutkan jawabannya sambil menunduk, menghindari tatapan mata Ten yang tidak berhenti menatapnya lekat.
“Gayatri, you can take your time to think as much as you want-“
“Ten, kata lo, lo akan menghormati apapun keputusan dari orang yang lo suka, kan?”
Giliran Ten yang diam dengan ucapan Ghea. Dalam hatinya ia sedikit menyesal memberitahu hal itu kepada Ghea.
“So, can you respect my decision?” Gantian Ghea yang bertanya kepada Ten.
Dengan berat Ten menganggukkan kepalanya. Sebenarnya bukan akhir yang ia inginkan tapi ia juga tidak dapat memaksakan keinginannya pada Ghea. Ia tahu, hati perempuan itu belum sembuh 100% dan pertemuannya dengan Ghea yang terlalu singkat juga pasti menjadi alasan lain mengapa perempuan itu menolak dirinya.
“Thank you, Ten. Tenang aja, gue akan selalu jadi fans nomor 1 lo,” tutup Gayatri dengan senyuman manis di wajahnya.
Ten refleks tersenyum. “Last question,” ucap Ten menggantung.
“Yes?“
“Can I hug you?“
“Sure,” jawab Ghea dan percakapan malam itu diakhiri dengan sebuah pelukan hangat bagi keduanya yang sekaligus menjadi salam perpisahan mereka.