Bapak
Tepat pukul 4 sore aku membalas pesan teks ibu, menjawab pertanyaannya tentang bapak yang ingin bertemu denganku. Walaupun aku tidak dapat melihat wajahnya, bisa kupastikan beliau tersenyum lebar saat aku membalas “iya, Nana mau, bu”.
Awalnya aku enggan, tapi setelah aku bertukar pikiran dengan Kale dan aku baru sadar kalau aku baru saja berani bercerita dan bertanya masalah keluargaku kepada lelaki itu, aku memutuskan untuk mengikuti sarannya.
“Lo perlu denger alasannya.”
Itu kata Kale waktu kutanyai kenapa aku harus menemui bapak.
Aku selalu berdalih kalau aku tidak percaya lagi dengan cinta pertamaku itu, padahal aku hanya takut. Aku takut mendengar apapun itu alasannya.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, padahal biasanya aku suka berkaraoke mengikuti lagu yang diputar di radio tempat Ghea bekerja.
Oh iya, kenapa aku tidak tanya Ghea, ya? Ghea juga tahu masalah ini, tapi setelah kupikir-pikir lagi, pasti ia akan memberikan jawaban yang mirip dengan Kale. Memang dasar akunya saja yang masih keras kepala dengan prinsipku.
Sampai di rumah, kulihat mobil Kijang Krista milik bapak terparkir manis di sisi jalanan antara rumahku dengan rumah Kale. Tanpa kusadari aku tersenyum tipis menyadari bapak menyediakan lahan cukup luas untuk aku dapat bermanuver dan parkir di garasi rumah.
Begitu aku masuk, aku disambut senyuman hangat kedua orang tuaku. Mereka sedang duduk di ruang tamu, menunggu kepulanganku dengan dua cangkir kopi hitam yang aromanya mengisi penuh rumahku.
“Macet nggak, Na?” tanya ibu setelah aku menyalami tangannya. Aku hanya menggeleng pelan, lalu beralih ke bapak yang duduk di sofa seberang.
“Malem, Pak,” sapaku kaku lalu aku juga menyalami tangannya. Terakhir kali aku melakukan hal ini 10 tahun lalu, sebelum ia pergi meninggalkan aku dan ibuku. Dan sekarang, tangan kokohnya itu tidak berubah, masih sama hangatnya seperti dulu.
“Beres-beres terus makan dulu, Na. Itu bapak beliin kamu nasi uduk sama ayam goreng,” ucap ibu sementara bapak hanya diam saja, tapi senyum ramah ciri khas bapak terpasang di wajahnya.
Aku hanya mengangguk, menuruti perintah ibu untuk beberes dan makan sebelum kami bertiga berbicara.
Selama makan, diam-diam aku sedikit menguping pembicaraan ayah dan ibu. Sesekali ibu tertawa dengan jokes receh bapak, tawa yang sudah jarang sekali kudengar.
Tanpa kusadari, air mataku menetes pelan membasahi nasi uduk yang sedang kumakan.
“Sialan, jadi asin,” umpatku sendiri sambil mengelap wajahku kasar agar air mata itu tidak lagi membuat makan malamku semakin aneh rasanya.
Selesai makan, aku kembali menghampiri keduanya. Ibu seperti sengaja memberikan kami ruang untuk bicara empat mata; ia pamit dari ruang tamu dengan alasan mau cuci piring, padahal piring-piring yang menumpuk di dapur sudah kucuci semua bersama piring makanku barusan.
“Na, makasih, ya, Bapak dikasih kesempatan buat ketemu dan ngobrol sama kamu.” Bapak membuka percakapan di antara kami berdua.
Biasanya aku ketus dan dingin, tapi hari ini tidak ada satupun dari kedua reaksi itu mampir di diriku. Aku malah membalasnya dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.
“Iya, Pak. Maaf kalau Nana selama ini nggak pernah mau ketemu Bapak.”
“Bapak ngerti, Na. Bapak ngerti sekali kenapa kamu bersikap seperti itu.”
“Tapi sekarang Nana mau tau alasan kenapa dulu Bapak pergi tinggalin Nana dan ibu.” Aku sudah tidak bisa lama-lama berbasa-basi dengan Bapak, jadi aku segera to the point dengan topik pembicaraan malam ini.
“Bapak … Bapak dapat ancaman pembunuhan, Na.”
Alasan singkat yang mampu membuat jantungku berhenti sesaat.
“Ancaman pembunuhan?” tanyaku meyakinkan.
“Iya, ada beberapa rentenir yang waktu dulu Bapak pinjam uangnya untuk modal usaha, ngedatengin Bapak. Mereka nggak cuma ngedatengin Bapak di kantor, tapi mereka juga ke rumah. Dan sejak mereka tahu rumah Bapak dan keluarga Bapak, mereka mulai ngancem aneh-aneh; mulai dari sita paksa rumah ini sampai pembunuhan.
“Dan mereka nggak ancem mau bunuh Bapak aja, tapi mereka juga mengancam mau membunuh kamu, Na.”
Saat itu juga hatiku benar-benar menjerit kaget dan seluruh tubuhku membeku, sampai rasanya tidak ada darah yang mengalir di pembuluhku.
“Makanya, Bapak terpaksa pergi dari rumah. Bapak nggak mau kamu dan ibu kenapa-napa. Selama Bapak pergi, Bapak berusaha bayar semua hutang Bapak ke rentenir itu, dengan catatan mereka tidak boleh sama sekali menyentuh kamu sedikitpun.
“Mereka setuju, dan akhirnya setelah 10 tahun ini Bapak berhasil bayar semua hutang Bapak ke mereka …”
Berikutnya aku tidak bisa lagi mendengar penjelasan bapak karena aku sukses menangis keras, sampai-sampai ibu datang dan ikut menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku, sementara bapak sudah memelukku erat.
“Maafin Sabrina, Pak,” isakku keras. Aku sudah tidak peduli lagi kalau tangisku terdengar sampai rumah Kale atau bahkan sampai gerbang depan kompleks, aku beneran tidak peduli. Aku cuma mau bapak memaafkanku karena sikap egoisku selama ini.
“Sabrina nggak salah apa-apa, Sabrina nggak perlu minta maaf. Justru Bapak yang harusnya minta maaf karena sudah bikin Nana salah paham selama ini.”
Aku menggeleng keras dalam pelukannya, tangisku juga semakin menjadi. Seperti bom waktu yang terkubur bertahun-tahun yang akhirnya meledak juga.
Dan bapak tidak berkata apa-apalagi; ia tahu aku hanya butuh pelukan terhangatnya untuk meredakan emosiku.