Sabrina Janitra

Perempuan kelahiran kota Jakarta 28 tahun silam itu duduk di ruang terbuka milik gedung kantornya, menikmati semilir angin ibukota yang sesekali sedikit mengacak tatanan rambut panjangnya.

Kepada Kale, ia mengaku kalau ia kembali bekerja setelah makan siang, padahal nyatanya tidak. Setelah bertukar pesan pada Fabian dan meminta lelaki itu untuk mem-back up dirinya sementara waktu, Sabrina kembali menyendiri.

Percakapannya dengan sang ibu beberapa saat lalu, membawa dirinya kembali mengingat kisah keluarganya.

Dulu, Sabrina adalah putri tunggal dari pasangan seorang pengusaha sukses dan ibu rumah tangga. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Sabrina selalu mendapatkan cinta dan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.

Perhatian penuh orang tuanya tidak menjadikan Sabrina manja, tapi justru menjadikan dirinya sebagai salah satu murid berprestasi di sekolahnya. Ia selalu mengungkapkan rasa terima kasih kepada ayah ibunya lewat hal-hal kecil yang mampu ia lakukan saat itu.

Tidak sedikit dari teman Sabrina yang iri dengan kehidupan keluarga Sabrina yang harmonis dan bahagia. Mereka juga iri dengan Sabrina yang cantik dan berprestasi.

Namun, kehidupan Sabrina dan keluarganya yang seperti dongeng itu berubah saat ayah Sabrina dinyatakan bangkrut. Usaha yang dijalankan ayahnya gagal total, partner kerja ayah Sabrina kabur membawa semua uang dari hasil usaha tersebut.

Karir ayah Sabrina hancur, tapi ibu Sabrina dan Sabrina tidak putus asa. Untuk membantu perekonomian keluarga, ibu Sabrina turun tangan ikut bekerja sementara Sabrina tidak malu untuk berjualan makanan ringan di sekolahnya. Sabrina bertekad ia tidak akan peduli dengan cemoohan dari teman-temannya, tapi nyatanya cemoohan itu sendiri tidak ada karena sikap positif Sabrina, teman-teman sekolahnya justru mendukung Sabrina.

Perlahan keluarga Sabrina bangkit dari keterpurukan. Walaupun Sabrina harus kehilangan sebagian dari hartanya, tapi ia tetap bahagia karena ayah dan ibunya selalu hadir untuk dirinya.

Sampai suatu hari, ayah Sabrina berpamitan untuk pergi menemui seorang kolega. Baik ibu Sabrina maupun Sabrina tentu saja mengizinkan, toh, malamnya akan pulang lagi ke rumah. Tapi, nyatanya tidak. Ayah Sabrina tidak kembali ke rumah mereka. Selama seminggu penuh Sabrina dan ibunya mencari keberadaan ayahnya, akhirnya Sabrina mendapatkan jawaban berupa sepucuk surat yang dikirimkan ayahnya entah dari mana.

Dalam surat itu, sang ayah berkata kalau ia tidak mampu lagi untuk hidup bersama dengan Sabrina dan ibunya. Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga dan memutuskan untuk menyerah dengan pergi meninggalkan Sabrina dan ibunya.

Sabrina yang saat itu duduk di bangku SMA kelas 3 tidak tahu harus berbuat apa; ibunya tidak henti-hentinya menangis sementara ia sendiri masih merasa belum cukup dewasa untuk berbuat banyak hal.

Kepercayaannya terhadap sang ayah runtuh begitu saja. Orang yang selama ini ia kagumi dan ia jadikan sebagai panutan hidup, semudah itu menyerah pada keadaan. Dan karena kejadian ini juga, terbentuklah pribadi Sabrina seperti saat ini.

Sabrina tumbuh dewasa menjadi seorang perempuan independen, ia tidak mau bergantung pada orang lain, dan juga tidak mudah mempercayai orang lain.

Dalam ranah pekerjaan, hanya segelintir orang yang benar-benar bisa ia percaya, walaupun akhirnya beberapa di antaranya termasuk Fabian merusak kepercayaannya. Ia tahu dari bosnya kalau Fabian berbohong tentang Yuppy Yippie Festival. Fabian tidak pernah mengirim email apapun untuknya.

Dalam ranah percintaan, sejak kelas 3 SMA Sabrina menutup diri dari para lelaki yang ingin sekedar dekat atau ingin menjalin hubungan dengannya. Satu-satunya lelaki yang ia percaya hanyalah Kale, tetangganya sejak ia berusia 5 tahun.

Tapi ia tidak menyangka, kalau ternyata diam-diam Kale menaruh rasa pada dirinya. Rasa yang Sabrina yakini tidak seharusnya ada di antara hubungan persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun lebih.

Permasalahan hari ini sudah cukup rumit, emosi dan tenaganya juga sudah terkuras habis, padahal belum 24 jam ia lalui. Akhirnya Sabrina memutuskan untuk tidak dulu memikirkan Kale dan perasaannya; masih banyak hal yang lebih penting, seperti masalah ayah dan ibunya dan juga permasalahan di kantornya.

Ya, Sabrina yakin kalau sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hatinya. Toh dia juga sudah bertekad bulat untuk tidak mencintai siapapun, karena ia tidak mau sakit hati lagi untuk kedua kalinya. Biar cinta pertamanya saja yang menorehkan luka di hatinya, jangan ada laki-laki lain.

Terlebih lagi, jangan sampai laki-laki itu adalah Kale.