Day Out with Him
Gayatri bersyukur dirinya tidak memerlukan waktu yang lama untuk mandi dan berdandan, karena selang 30 menit kemudian, dirinya sudah siap untuk pergi bersama Ten.
Setelah mengirimkan pesan kepada Ten, ia segera turun ke lobi dan begitu sampai di sana, ia dapat menemukan lelaki idolanya itu dengan gaya casual-nya; kemeja santai bercorak abstrak, celana pendek sedikit di atas lutut berwarna khaki, sandal yang sama seperti semalam, dan tidak ketinggalan topi serta kacamata hitamnya.
“Hai, Ten,” sapa Gayatri ramah.
Ten tersenyum membalas sapaan Gayatri. “Hi, Gayatri! Yuk, kita berangkat. Driver gue udah nunggu di lobby hotel gue.”
Tanpa berlama lagi mereka segera meninggalkan hotel menuju destinasi hari ini, Pantai Padang-Padang.
Pantai ini berada di kawasan selatan Bali, dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Legian, Gayatri dan Ten tiba di pantai yang dikenal sebagai lokasi syuting film terkenal, ‘Eat, Pray and Love’.
Setelah membeli tiket masuk, keduanya menyusuri jalan setapak dengan tangga yang cukup curam untuk menuju pantai.
“Needs help?” tanya Ten saat menyadari Gayatri tertinggal cukup jauh beberapa anak tangga di belakangnya.
“Hah? Oh enggak, nggak papa,” jawab Gayatri.
Memang perempuan itu menjawab tidak apa-apa, tapi Ten tetap menunggunya hingga mereka berada di anak tangga yang sama.
“Gue nggak papa, kok,” ucap Gayatri lagi.
Ten hanya tersenyum tipis, lalu berikutnya ia mengizinkan Gayatri untuk turun terlebih dahulu sementara ia berada persis di belakang perempuan itu.
Sampai di bawah, Gayatri tidak dapat menahan rasa kagumnya akan pantai yang juga terkenal dengan beberapa terumbu karang raksasa berdiri kokoh di sana. Banyak wisatawan asing yang berjemur di atas pasir putihnya yang halus dan juga tidak sedikit yang bermain selancar menambah kekaguman Gayatri.
“Ih sumpah!! Bagus banget!!” pekik Gayatri senang.
Ten yang sudah berdiri di sisi kanan Gayatri tersenyum sambil melirik ke arah perempuan itu. Dugaannya lagi-lagi benar, perempuan ini tidak hanya mampu menularkan energi positif dalam bentuk teks, tapi juga secara langsung.
Seperti lupa dengan kehadiran Ten, Gayatri sekarang sudah sibuk sendiri memotret dan juga berjalan lebih jauh lagi menyusuri pantai itu. Ten tidak berkomentar apa-apa, diam-diam ia membuntuti Gayatri sampai perempuan itu kembali sadar dengan keberadaan Ten.
“Eh, sorry, gue jadi keasyikan sendiri,” sesal Gayatri dengan sedikit tersipu malu.
“It’s okay. Suka pantai, ya?”
Gayatri mengangguk antusias. “Banget!”
“By the way, gue mau surfing di sana. Kalo nanti udah puas liat-liatnya, duduk di situ, ya,” ucap Ten sambil menunjuk tempat di mana banyak orang yang berjemur, kemudian ia berpamitan dengan Gayatri dan meninggalkan perempuan itu sendiri.
Gayatri memandangi punggung Ten yang semakin jauh dari radarnya. Sebenarnya masih ada rasa percaya tidak percaya dengan apa yang dialaminya selama kurang dari 24 jam ini, tapi dengan keberadaannya di Pantai Padang-Padang saat ini dan ditambah ia melihat sendiri Ten sedang menyewa sebuah papan surfing, ia percaya bahwa ini semua ada nyata.
*
Puas menikmati keindahan alam pantai itu, Gayatri kembali ke tempat di mana tadi Ten meminta dirinya untuk menunggu lelaki itu. Beralaskan kain Bali yang dibelinya barusan, ia duduk di pinggir pantai sambil mencari sosok Ten di antara beberapa orang yang juga sedang berselancar di sana. Agak lama sampai akhirnya ia berhasil menemukan sosok idolanya itu.
Tatapan mata Gayatri tidak lepas dari Ten yang sedang mengendarai ombak dengan papan seluncurnya. Ia tahu lelaki itu memang lihai berseluncur tapi tetap saja, melihatnya secara langsung dengan kedua matanya sendiri sukses membuat dirinya semakin mengidolakan lelaki itu.
“Ternyata gini ya, kalo ketemu langsung sama orang yang gue idolain. Gue malah gak berminat buat foto-foto atau apa. Ngeliatin kayak gini secara langsung aja udah cukup buat gue,” batin Gayatri pada dirinya sendiri sembari melihat Ten yang sedang berjalan ke arahnya sambil menenteng papan seluncurnya.
“Gimana Gayatri, udah puas liat-liat pantainya?” tanya Ten saat ia sudah berada di dekat Gayatri.
Perempuan itu mengangguk. “Btw, panggil gue Ghea aja.”
“Ghea?”
“Yes. That’s my nickname. And also a shortcut from Gayatri Arabella. Ghea.”
Ten terkekeh pelan sambil mengangguk-angguk paham. “Brilliant one. Oke, Ghea.”
Tanpa merasa canggung, Ten ikut duduk di sisi kanan Ghea lalu ia menenggak habis air putih botolan miliknya.
“Mau kemana lagi abis ini?” tanya Ten beberapa saat kemudian.
“Bebas, gue kan ngikut yang punya acara.”
Ten berpikir sejenak. “Kita makan dulu aja deh, gimana? Trus abis itu baru tentuin next destination-nya.”
“Oke!”