Ayah

Sudah dua jam Sabrina duduk menunggu sang ibu di balkon kamarnya yang menghadap ke arah jalanan kompleks depan rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan ibunya.

Sabrina khawatir karena ia tahu, ibunya bukan tipikal orang yang suka berpergian sendiri, apalagi sampai semalam ini. Pesan teks yang dikirimkan Sabrina juga tidak dibalas oleh ibunya, membuat kekhawatiran Sabrina bertambah.

Sabrina sekilas melirik ke balkon sebelah kanan rumahnya; balkon itu masih gelap gulita. Sepertinya penghuni kamar itu belum selesai dari shift kerjanya dan entah mengapa timbul sedikit rasa kecewa di dalam diri Sabrina.

“Ghey, lagi apa lo?” tanya Sabrina saat teleponnya tersambung dengan sahabatnya, Ghea.

Sabrina terdiam sesaat mendengar jawaban Ghea di ujung teleponnya.

“Nggak papa, gue lagi nungguin nyokap. Tumben banget belum ...” ucapan Sabrina terputus karena melihat sinar lampu mobil di depan rumahnya. “Eh, Ghey, gue telfon lagi nanti ya, kayaknya nyokap pulang.”

Telepon singkat itu terputus dan Sabrina segera turun ke lantai bawah untuk menghampiri mobil Kijang Krista yang parkir di depan rumahnya.

“Ibu, pulang sama siapa?” tanya Sabrina saat melihat ibunya turun dari mobil tersebut.

Belum sempat ibu Sabrina menjawab, orang yang mengantar ibunya pulang ikut turun dari mobil dan menyapa Sabrina ramah. “Halo, Sabrina. Apa kabar, Nak?”

Air muka Sabrina berubah dalam hitungan detik. Ia memandang jijik pria yang menyapanya barusan. “Ibu ngapain sih, pergi-pergi sama dia?” Sabrina tidak menggubris sapaan pria tadi, ia malah kembali bertanya kepada sang ibu.

“Na, ini ayah kamu, kamu nggak boleh-”

“Nana tanya, Ibu ngapain masih ngurusin dia?!” Sabrina memotong kalimat ibunya dengan nada marah. Telunjuk kanannya menunjuk tepat ke arah pria yang merupakan ayahnya sendiri.

“Na, Ayah mau minta maaf sama Ibu dan juga kamu ... Tolong dengerin penjelasan Ayah dulu ya, Na ...” Ayah Sabrina kembali angkat bicara.

“Mau minta maaf apa?! Kalo emang ngerasa bersalah, nggak seharusnya Ayah ninggalin Ibu sama Nana!”

Suasana malam itu sekejap berubah menjadi intens. Suara Sabrina yang cukup keras mengundang para tetangga mengintip dari balik gordyn jendela rumah masing-masing.

“Na, kita ngomong di dalem aja yuk,” ajak ibu Sabrina sambil mendekati perempuan itu dan berusaha merangkulnya, tapi Sabrina mengelak.

Sabrina segera berlari naik ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan juga cardigan miliknya lalu turun saat ayah dan ibu mereka sudah duduk di ruang tamu.

“Na, mau ke mana?” tanya ibu Sabrina khawatir.

“Kalo Ibu masih mau ngobrol sama dia, silahkan. Biar Nana yang pergi dari sini,” jawab Sabrina dingin lalu ia segera pergi meninggalkan rumahnya, menghiraukan teriakan sang ibu yang terus menerus memanggil namanya.

Awalnya Sabrina melangkah cepat menyusuri jalanan kompleks yang basah setelah hujan mengguyur daerah rumahnya satu jam lalu. Ia merapatkan cardigannya karena cuaca yang semakin malam semakin dingin. Wajahnya bergetar, berusaha menahan tangis yang sedari tadi mendesak untuk keluar.

Tapi semakin lama langkah kaki itu semakin lambat. Belum sampai gerbang kompleks rumahnya, Sabrina berhenti. Ia berjongkok dan menangis sekeras mungkin di jalanan yang sudah sepi itu.

“Sab?”

Terdengar suara lembut memanggil Sabrina beberapa saat setelah ia menangis tanpa henti. Sabrina mengangkat kepalanya, ia mendapati Kale tengah memandanginya dengan tatapan khawatir.

“Lo ngapain di sini?” tanya Kale lagi.

Sabrina tidak langsung menjawab, ia berusaha kembali berdiri dengan bantuan Kale memegangi kedua lengannya.

“Yuk, gue anter pulang,” ajak Kale yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Sabrina.

“Gak, gue nggak mau pulang,” sergah Sabrina lalu ia melepaskan diri dari rangkulan Kale dan kembali berjalan sesuai tujuan awalnya, yaitu keluar dari kompleks rumahnya.

Kale meraih tangan Sabrina dan berhasil menghentikan langkah perempuan itu. “Sab, lo kenapa?”

“Gue nggak mau pulang ke rumah, Kale!” Sabrina menepis cukup keras tangan Kale dan kembali berjalan.

“Sabrina!” Kali ini Kale tidak hanya meraih tangan Sabrina, tapi juga menariknya sehingga hampir tidak ada jarak di antara keduanya. “Gue anter,” sambungnya dan sebelum Sabrina kabur lagi, buru-buru Kale menggandeng Sabrina menuju motornya yang terparkir di tempat Sabrina menangis tadi.

Sabrina hanya diam, ia membiarkan Kale memakaikan helm penumpang yang selalu dibawa lelaki itu di motornya. Tidak lupa juga Kale mengancingi cardigan Sabrina agar saat naik motor nanti, perempuan itu tidak kedinginan.

Selesai mengurus Sabrina, Kale juga memakai helmnya, menutup rapat retsleting jaket kulitnya dan kembali menaiki motornya.

“Ayo,” ajak Kale melihat Sabrina yang masih berdiri diam di sisi motor dengan mata sembab.

Sabrina menurut, ia duduk di kursi penumpang dan memegang erat sisi kanan kiri jaket milik Kale sebelum lelaki itu melaju meninggalkan kompleks rumah mereka.

Kale mulai mengendarai motornya mengitari daerah Tebet, lalu sampai di jalan raya Casablanca ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan malam itu hingga tiba di Taman Suropati, Menteng.

“Minum dulu, Sab.” Kale menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja ia beli dari abang penjual minuman di situ kepada Sabrina.

“Sorry, kalo tadi gue terus-terusan nanyain lo kenapa.” Kale kembali berbicara saat melihat Sabrina sudah selesai meminum air putih pemberiannya.

“Nyokap hari ini pergi sama bokap, tadi mereka pulang bareng.” Sabrina akhirnya berbicara. “Dan bokap bilang dia mau minta maaf. Cih, basi,” sambungnya kesal.

“Sab, dia bokap lo.”

“Nggak, sejak dia pergi ninggalin gue dan nyokap, bokap gue udah nggak ada. Dia udah mati.”

Kale menghela nafas panjang, ia tidak lagi menanggapi Sabrina karena ia yakin kalau diperpanjang, perdebatan ini hanya akan menambah kebencian Sabrina terhadap ayahnya dan secara tidak langsung juga menambah luka hati yang sudah lama diderita perempuan itu.

“Udah makan malem?” tanya Kale mengalihkan topik pembicaraan mereka.

Sabrina mengangguk pelan. “Lo udah belum?”

“Belum. Bentar ya, gue beli nasi goreng itu dulu,” jawab Kale sambil menunjuk deretan gerobak penjual makanan di taman itu. “Mau pisang bakar nggak? Itu di sebelah abang nasgor ada yang jual,” sambung Kale.

“Mau. Mau es Good Day Cappuccino juga,” pinta Sabrina pelan, persis anak kecil yang malu-malu minta dibelikan sesuatu kalau habis menangis.

Kale tersenyum lebar. “Oke, bentar, ya.”