Her Feelings

“Halo? Iya gue di Area 51 ... Mau ke sini? Ya udah, sini aja, gue di outdoor ... Nggak, gue ngga ngerokok. Lagi males aja di dalem. Yo, bye.”

Sabrina menutup hubungan teleponnya dan langsung disambut dengan senyuman Ghea. “Cie cie cie ...” ledek Ghea jahil.

“Apa sih,” gerutu Sabrina sambil buru-buru mematikan rokoknya dan menyemprotkan parfum dari botol kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya.

Ghea masih tersenyum melihat tingkah Sabrina yang sedikit berbeda dari biasanya. Sabrina pun menyadari Ghea masih memperhatikan gerak-geriknya. “Diem, Ghey.”

Ghea tertawa, “Apa sih, gue diem dari tadi.”

“Diemnya lo ngeledek. Sana, ngapain kek, kirim chat ke pacar lo atau pap, apa aja yang penting jangan liatin gue.” Sabrina sewot sendiri.

“Udah gue kerjain semua.” Ghea menjulurkan sedikit lidahnya. “Sabrina, lo suka juga sama Kale, kan? Not as a friend.” Kali ini Ghea banting stir ke topik yang sedang menghangat dalam hidup sahabatnya.

“Nggak.”

Ghea hanya manggut-manggut dengan ekspresi sedikit mencibir karena persis setelah Sabrina menjawab, ia melihat Kale berjalan menghampiri meja mereka berdua.

Lelaki itu memakai kaos lengan panjang putih yang sengaja ia gulung sampai setengah lengan, jeans hitam yang sedikit belel dan sepatu keds berwarna putih. Tubuhnya yang proposional, ditambah gaya berjalannya bak model profesional, membuat siapa saja yang dilewati Kale akan menoleh kagum kepada lelaki itu.

“Hai, girls,” sapa Kale ramah lalu tanpa disuruh ia langsung duduk di satu-satunya bangku yang masih kosong di meja Sabrina dan Ghea.

“Gimana nyalonnya?” tanya Kale lagi dan segera Ghea memamerkan kuku hasil polesan orang salon kepada Kale. “Bagus nih. Kalo lo gimana, Sab? Coba liat,” ucap Kale gantian kepada Sabrina.

Sebenarnya Sabrina enggan, tapi mau tidak mau ia mengangkat sedikit jari-jarinya dan membiarkan Kale melihat kuku-kukunya.

“Cakepan punya Ghea, ah,” komentar Kale dan disambut cengiran lebar dari Ghea.

“Sabrina tuh nggak percaya sama gue, udah gue bilang warna ini bakal nge-tren, eh dia main aman aja pake warna nude.” Ghea menimpali komentar Kale barusan.

“Gue kan kerja di kantor, nggak bisa pake warna ngejreng gitu ...” protes Sabrina dengan wajah merengut karena merasa kalah suara dari Ghea dan Kale. Sementara kedua sahabatnya itu menatap Sabrina dengan tatapan seperti meledek.

“Kalian nggak usah resek, deh,” sambung Sabrina lalu ia bangkit dari duduknya. Kale pun refleks meraih pergelangan tangan Sabrina.

“Mau ke mana?”

“Beli Flip Burger, laper,” jawab Sabrina jutek lalu ia segera melepaskan pegangan tangan Kale dan pergi dari situ.

Karena panjangnya antrian, Sabrina menghabiskan waktu cukup lama untuk membeli makanan favoritnya. Dan saat ia kembali ke meja, tersisa Kale sedang bermain game di ponselnya seorang diri.

“Ghea mana?” tanya Sabrina bingung.

“Balik,” balas Kale santai, mata dan tangannya masih sibuk dengan mobile game-nya, sementara di atas meja Sabrina melihat lelaki itu telah membakar sebatang rokok dan ditaruhnya di asbak.

“Balik?!”

“Iya, katanya ada urusan lain,” jawab Kale lagi.

Sabrina buru-buru menaruh nampan berisikan burger pesanannya lalu ia merogoh tas tangannya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Ghea.

Ternyata Ghea sudah mengirimkan pesan untuk Sabrina terlebih dahulu.

Ghea Jangan marah, gue sengaja cabut duluan supaya lo bisa ngobrol sama Kale. Ikutin kata hati lo, Sab.

Sabrina menghela nafas panjang setelah membaca pesan teks dari Ghea.

“Duduk, Sab. Itu kalo dingin nggak enak, lho,” celetuk Kale menyadari Sabrina masih saja berdiri.

Akhirnya Sabrina duduk, menyimpan kembali ponselnya di tas dan mulai menyantap burger-nya dalam diam. Sesekali ia memperhatikan Kale yang masih bermain game dan merokok.

“Kenapa?” tanya Kale yang sadar kalau diam-diam Sabrina memperhatikannya.

“Nggak papa. Nggak laper?”

“Nggak, tadi gue makan pastry Sbux. Lumayan, hehe ...”

Sabrina hanya membulatkan mulutnya mendengar jawaban Kale. Setelah beberapa saat mereka saling diam, akhirnya Kale menyimpan ponselnya dan hanya fokus merokok sambil memperhatikan sekelilingnya dan juga Sabrina yang masih makan.

“Mau?” tawar Sabrina menyodorkan sepotong kentang goreng yang ia pegang. Kale menjawab Sabrina dengan membuka mulutnya, meminta perempuan itu menyuapi dirinya.

“Lagi?” tanya Sabrina dan dijawab dengan sebuah anggukan dari Kale.

Setelah empat kali menyuapi Kale, Sabrina berhenti dan mengajak lelaki itu bicara. “Kale, lo kenapa sih?”

Kale mengerutkan dahinya. “Kenapa apanya?” tanyanya setelah menyeruput sedikit ice lemon tea milik Sabrina.

“Lo aneh banget. Dua hari lalu lo bersikap dingin ke gue, bilang kalo lo jealous sama Fabian, terus setelah itu lo ngediemin gue, dan sekarang, hari ini, lo bersikap kayak ngga ada apa-apa di antara kita.”

“Lho, emang ngga ada apa-apa di antara kita, kan, Sab?”

Sabrina terlihat frustasi mendengar jawaban Kale.

“Kale, bukan itu maksud gue—”

“Terus, apa? Gue jadi serba salah di mata lo, ya, Sab?” potong Kale yang sudah terlihat tidak santai lagi. Ia menegakkan punggungnya dan menatap Sabrina lekat-lekat.

“Bukan itu juga maksud gue. Just what if lo nggak bilang that jealousy things dan nggak perlu juga lo bilang lo suka sama gue, kita ngga bakal jadi awkward kayak gini—”

“Lo sendiri yang nanya alasan kenapa gue jealous. Gue jawab, reaksi lo malah kayak kemarin. Ohiya, gue juga nggak awkward sama lo. Lo awkward sama gue, Sab?” Lagi-lagi Kale memotong ucapan Sabrina.

“Kal, jangan potong kata-kata gue!” Sabrina sedikit membentak Kale, membuat lelaki itu mengangkat sedikit kedua tangannya.

“Sorry,” ucap Kale pelan.

Sabrina menyeruput habis ice lemon tea miliknya untuk meredakan emosinya.

“Jadi, lo maunya gue gimana, Sab? Menarik ucapan gue dua hari lalu?” Kale kembali berbicara.

Dan karena Sabrina diam, Kale melanjutkan ucapannya. “Sorry, kalo gue nggak jelas beberapa hari ini. Sekarang, anggep aja dua hari kemarin ngga ada kejadian apa-apa. Gue nggak pernah jealous dan gue juga nggak suka sama lo. Oke? Itu kan, yang lo mau?”

Sabrina sepertinya sudah benar-benar frustasi. Bukannya mengiyakan tawaran Kale, ia justru kembali berbicara. “Kale, nggak gitu nyeleseinnya. Segampang itu kah, perasaan lo? You need to know that lo ngga bisa suka sama gue. Kita nggak bisa in relationship, Kal. Gue nggak mau lo berubah jadi cowok brengsek sama kayak cowok-cowok di luar sana, gue nggak mau ... nggak mau ...”

Suara Sabrina melemah, ia menunduk dan mulai terisak pelan di balik rambutnya yang tergerai bebas. Kale pun segera menggeser kursinya dan merangkul bahu Sabrina.

“Sab,” panggil Kale setengah berbisik. Sabrina hanya berdeham mengiyakan panggilan Kale.

“Lo ... suka juga sama gue?”