Are We Just a Best Friend?
Tiba di rumahnya, kedatangan Kale disambut kakaknya, Kalani dan juga tetangganya, Sabrina.
“Kale-nya udah dateng, gue masuk ke dalem dulu, ya, Sab,” pamit Kalani lalu ia mengedipkan sebelah matanya kepada Kale. Lelaki itu hanya mengerutkan dahinya bingung melihat kelakuan kakaknya.
“Lo numpang makan di sini, Sab?” tanya Kale masih dengan nada datar yang sama seperti tadi siang.
Sabrina menggeleng. “Engga, sengaja ke sini karena perlu ngomong sama lo.”
“Ngomong apa lagi, Sabrina? Yang tadi siang kan udah?”
“Apa maksud lo jealous not as a best friend?”
Selesai melepas jaket kulit dan menyimpan helmnya di lemari di ruang tamu rumahnya, Kale duduk berseberangan dengan Sabrina.
“Ya, gue jealous bukan karena gue sahabat lo. Gue jealous as a man.”
“Kenapa lo jealous, Kale? Apa maksud lo jealous as a man?” Sebenarnya Sabrina sudah tau apa jawaban Kale, hanya saja ia ingin mendengarnya langsung dari mulut lelaki itu.
“Gue suka sama lo, Sabrina. Ini masih kurang jelas buat lo?”
Sabrina terdiam. Ia mendadak merasa tidak siap untuk membahas hal itu.
“Kal, lo ngga bisa suka sama gue …”
Kale tertawa pelan tapi getir. “Haha, kenapa? Karena gue tetangga lo?”
“Iya … Eh, bukan. Pokoknya lo nggak bisa suka sama gue, titik,” balas Sabrina tegas.
“Kenapa? Lo terus-terusan nanya kenapa gue jealous dan gue udah kasih tau alasannya. Tapi sekarang lo nggak mau kasih tau alasan lo?”
“Gue nggak mau hubungan persahabatan kita jadi rusak gara-gara perasaan kayak gini, Kal!”
“Bohong!”
Suara Sabrina dan Kale saling beradu sampai keduanya berhenti saat mereka sama-sama menyadari tidak seharusnya mereka saling meninggikan suara mereka.
“Lo itu penuh ketakutan dan kekhawatiran, Sab. Nggak ada hubungannya sama persahabatan kita, lo cuma takut aja sama yang namanya relationship.” Suara Kale terdengar melunak.
“But still, Kal. Yang namanya sahabat nggak ada yang saling jatuh cinta. You can’t. And also Fabian. Kalo dia suka sama gue, gue juga bakal tolak dia, kok.”
“Jadi, gue ini emang cuma sahabat buat lo, ya, Sab?” tanya Kale sambil bangkit berdiri.
Sabrina melirik sekilas ke arah Kale yang masih memandanginya, lalu mengangguk pelan.
Kale menghela nafas. “Yaudah, kalo gitu lo balik, gih. Besok kan masih kerja. Gue juga perlu mandi, beres-beres,” ucap Kale lalu ia membuka pintu ruang tamunya untuk Sabrina.
Sabrina sebenarnya masih belum puas dengan percakapan mereka malam ini. Seperti masih ada yang mengganjal, tapi otaknya sudah terlalu pusing untuk diajak berpikir.
Karena itu, akhirnya Sabrina menuruti Kale. Ia bangun dari duduknya dan beranjak pergi dari rumah Kale. Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu rumah Kale, lelaki itu segera menutup pintunya tanpa berucap apa-apa lagi.
Dan entah kenapa, Sabrina justru merasa sakit hati dengan perilaku Kale barusan.