goldeneunoia

Night Strolling

Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat akhirnya aku selesai membersihkan seluruh perkakas dapur yang selalu kugunakan untuk membuat kue pesanan dan juga membersihkan dapurku secara menyeluruh. Karena pinggangku terasa sedikit pegal, akhirnya aku memutuskan untuk bersantai di sofa ruang tengah sambil mengecek ponselku.

Begitu aku duduk di sofa, Louis dan Leon juga kompakan duduk di sisiku. Aku hanya tersenyum tipis melihat mereka akhirnya tidak canggung lagi denganku. Sebenarnya sudah lama sih, sejak dua tahun lalu juga mereka sudah mau perlahan membuka diri padaku karena alasan simple; aku yang selalu memberi mereka makan kalau Ten masih di kantor.

Tapi sekarang kedekatan kami tidak hanya sekedar karena makanan saja, Louis dan Leon sudah mulai mau kalau kugendong bahkan mereka kadang suka bermanjaan di pangkuanku, membuat pemiliknya kadang merasa cemburu.

“Louis, Leon, yang ini punya aku. Kalian nggak boleh manja-manja begitu,” begitu kata Ten. Seperti memahami maksud Ten, biasanya Louis dan Leon akan langsung pergi dari pangkuanku dan lelaki itu akan menggantikan posisi mereka.

“Kalo gini baru aku suka,” sambung Ten yang kadang suka aku balas dengan menyentil pelan dahinya.

Kembali ke cerita awalku, saat menyalakan ponsel kulihat beberapa pesan teks dari Ten di jendela notifikasi.

“Sayang, nggak usah masak buat makan malem ya” “Kita makan malem aja diluar, aku mau ajak kamu pergi” “I'll be home around 6” “See you, love <3”

Aku tersenyum sambil membalas pesannya, menyutujui ajakan makan malamnya hari ini. Begitu pesan terkirim, aku bergegas menyiapkan diri agar Ten tidak perlu menungguku lebih lama lagi.

*

“Kamu mau makan apa?” tanya Ten saat mobil kami sudah keluar dari parkiran gedung apartemen. Waktu kini menunjukkan pukul setengah 8 malam. Tadi saat Ten tiba di rumah, dia minta waktu sebentar untuk mandi dan istirahat sebelum kembali keluar rumah, dan tentu saja aku mengizinkannya.

“Yang ngajakkin aku kan, kamu, Ten. Ya terserah kamu.”

“Emang bener ya, cewek kalo ditanyain makan apa pasti jawabnya terserah.”

Aku refleks meninju pelan lengan kiri Ten. “Ih, bukan gitu. Aku punya alesan kenapa jawab terserah. Denger dong tadi aku ngomong apa.”

Ten menjulurkan lidahnya sedikit. “Nggak denger tuh, bagi aku sama aja jawabannya terserah.”

Kali ini aku hanya melipat kedua tanganku di dada dan bersandar malas di jok kursi penumpang. Ten terkekeh pelan sambil mengusap-usap kepalaku.

“Hehehe ... Canda, Jo.”

I know, aku juga nggak marah tapi aku emang beneran nggak tau mau makan apa. Sushi bosen, nasi goreng bosen.”

Tangan Ten kembali memegang kemudinya. “Nasi Uduk, mau? Sate Padang? Ketoprak? Atau makan di restoran sekalian? Pasta? Mumpung masih pada buka.”

Aku berpikir sejenak, jujur saja aku tidak memiliki hasrat khusus mau makan apa saat ini, tapi sepertinya Ten memang mau aku yang menentukan menu makan malam hari ini.

“Nasi Uduk deh, pake Ayam Goreng sama Sambel Kacang.”

Ten tersenyum mendengar jawabanku. “Oke, kita otw!”

Dan jadilah kini kami berada di salah satu warung nasi uduk di kawasan Jakarta Pusat. Aku sedikit protes karena jaraknya lumayan jauh dari apartemen tempat tinggal kami, tapi kata Ten ini salah satu nasi uduk terenak di Jakarta.

“Aku dikasih tau Winwin,” ucap Ten setelah menjelaskan kepadaku kenapa harus makan nasi uduk di sini. “Winwin kan hobi wiskul malem tuh, jadi dia suka kasih rekomendasi makanan enak. Ada lagi sih, di belakang Gedung Mulia, kamu tau nggak? Itu juga enak. Nanti deh kapan-kapan kita ke sana.”

Jujur saja walaupun sudah hidup bersama selama hampir empat tahun dengan lelaki ini, kadang aku masih suka kaget kalau mendengar ceritanya yang antusias. Karena keseringannya, Ten menjadi pendengar yang setia dan juga advisor yang baik. Dia jarang sekali bercerita kalau nggak aku paksa untuk cerita.

“Kok kamu nggak respons sih, Jo? Nggak suka ya, aku bahas Winwin? Atau nggak suka aku bahas nasi uduk?”

Aku menggeleng pelan lalu memegang kedua tangannya yang ia taruh di atas meja. “Nggak, aku suka kok. Justru aku suka banget kalau kamu selalu cerita setiap hal ke aku. Aku jadi ngerasa ... apa ya, ngerasa bahagia karena dihargain.”

So do with me, Jo,” balasnya dengan senyum mengembang di wajahnya. “So, how's your day, Jocelyn?”

Setelah pertanyaan itu, kami berdua tidak berhenti menceritakan apa saja yang terjadi selama seharian ini. Walaupun sebenarnya kegiatan kami hampir sama setiap harinya, Ten dengan dunia web design-nya dan aku dengan dunia baking-ku, tetap saja, selalu ada hal menarik yang bisa kami bahas dari cerita kami dan tidak ketinggalan juga, kami akan selalu memuji satu sama lain di akhir percakapan kami.

You were doing great job today, Jocelyn. I'm so proud with you.

Pujian yang bisa kudengar setiap hari tapi tidak pernah sekalipun aku merasa bosan karenanya.

You too, Ten.

*

Selesai makan nasi uduk yang ternyata memang beneran enak (thanks to Winwin for his recommendation), kami melanjutkan perjalanan kami yang tanpa arah tujuan. Kalau Ten lebih senang menyebutnya dengan sebutan night strolling.

“Kamu bahagia nggak sih, sama aku?” tanyaku iseng saat mobil kami sedikit tersendat karena padatnya jalanan.

Kulihat Ten mengerutkan dahinya karena pertanyaanku itu. “Tiba-tiba banget nanya begini, there's something happened?” tanyanya curiga.

“Nggak. Kepengen tau aja. Kan banyak kejadian, pasangan yang kelihatannya baik-baik aja dan saling sayang satu sama lain, tapi ternyata salah satu atau bahkan keduanya sebenernya nggak bahagia. Kayak ada perasaan yang kosong di dalam diri mereka. Nah, kamu kayak gitu nggak?”

“Untungnya, nggak. Karena ketika aku mutusin buat pacaran sama kamu sampe kita nikah, I'm fully happy enough. Aku merasa diri aku udah penuh.”

Gantian aku yang pusing sendiri dengan pernyataannya. “Bukannya manusia diciptakan berpasangan itu tujuannya untuk saling melengkapi satu sama lain, ya?”

“Melengkapi dan memenuhi beda, menurutku. Melengkapi tuh kayak ... hmm ... kayak puzzle deh. Kalo satu potongan ada yang ilang, nggak akan jadi gambar yang sempurna. Tapi kalo memenuhi tuh, ibarat dua gelas yang isinya sama-sama cuma setengah.

“Aku mau kamu menuhin gelas aku, jadilah kamu kasih semua air yang kamu punya ke aku. Tapi akibatnya apa? Gelas kamu kosong, kan? Nah, sama kayak orang yang tadi kamu sebut di awal. Dia bisa kasih semuanya ke pasangannya tapi dia sendiri nggak bahagia. Karena apa? Ya karena gelasnya kosong. Diri dia kosong.”

Ten berhenti sejenak karena mobil kami harus putar balik.

“Dan saling memenuhi itu nggak akan ada habisnya karena kedua gelas nggak akan penuh kecuali, kalau kedua gelas alias pasangan tersebut berhasil memenuhi dirinya masing-masing tanpa bergantung satu sama lain. Baru deh, mereka nggak akan butuh tuh, air dari gelas lain.”

Aku sedikit melongo dan sambil manggut-manggut kagum dengan perumpamaan Ten barusan. Kadang aku juga bingung, dari mana lelaki ini mempelajari hal-hal seperti ini, padahal yang kulihat kalau di apartemen kerjaannya hanya mengurus Louis dan Leon saja.

“Makanya Jo, waktu kita masih pacaran, aku nggak pernah nuntut kamu buat menyesuaikan diri kamu dengan standard aku. Aku nggak mau, kamu bahagia karena bisa memenuhi keinginan aku tapi kamu ngerasa kosong. Aku mau kamu grow up as you are, jadi diri kamu sendiri. Aku mau kamu bisa mencintai diri kamu sendiri sebelum kamu mencintai aku.

“Nah, kalo udah, tinggal aku deh sebagai pasangan kamu, mau nggak nerima segala kekurangan dan kelebihan kamu.”

And you did it, Ten. Kamu masih di sini dengan segala tingkah buruk aku.”

“Kamu juga, Jo. Aku juga punya banyak kekurangan, tapi kita sama-sama belajar untuk nurunin ego satu sama lain, saling maafin dan saling ngertiin ... we were doing well, right?”

Kami berdua sama-sama tertawa pelan karena kalimat terakhir Ten barusan. Kedengarannya memang agak narsis, tapi jujur saja aku bangga sekali dengan hubungan kami.

“Makasih banyak ya, sayang. I do love you so much,” balas Ten masih dengan senyuman manis di wajahnya lalu ia menarikku pelan, mengizinkan kepalaku untuk bersandar di bahunya.

And also, I love this little bumps,” sambung Ten lagi saat mobil kami berhenti di lampu merah persimpangan jalan. Tangan kanannya yang bisa bebas dari stir mengelus pelan perutku yang sedikit membuncit. “Apa kabar anak Papa? Hari ini nggak nyusahin Mama, kan?”

Aku tidak kuasa untuk menahan senyum bahagiaku. Aku sendiri masih tidak percaya dengan keajaiban dan kepercayaan yang Tuhan berikan untuk kami berdua, mengingat perjalanannya yang tentu saja kalian tahu, tidaklah mudah.

“Nggak nyusahin Mama sama sekali, kok,” jawabku malu-malu. Aku masih suka salah tingkah sendiri memanggil diriku dengan sebutan 'Mama'. “Cuma kayaknya aku mau ice coffee nih, Pa,” sambungku lagi.

“Emang boleh?”

“Boleh dong, kan decaf!”

Ten kembali mengemudi, tapi tangan kirinya masih merangkulku. “Oke, oke, ini nggak tau sebenernya kemauan baby-nya atau Mama-nya, tapi ayo kita beli es kopi.”

Aku memamerkan deretan gigi putihku lalu melepaskan diri dari rangkulan Ten sebentar agar bisa lebih mudah mencium pipi lelaki itu.

“I do love you so much, Ten Lee!”

E N D

“Gimana Ten, untuk trip hari ini?” tanya Bli Putu begitu melihat Ten menghampiri dirinya yang sedang duduk menunggu di dekat mobil.

It was fun, Bli. Kecak dance sebagus itu, ya. Magis but beautiful,” jawab Ten penuh antusias. Terlihat senyuman puas di wajah Bli Putu.

“Sudah mau kembali ke hotel, Ten?”

Ten terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Bli Putu. “Saya diantar ke pantai dekat hotel, bisa?”

“Nggak capek? Hari ini kita dari Utara ke Selatan, hehe …”

Ten menggeleng pelan. “Justru di pantai saya bisa rileks sebelum tidur. Gimana, Bli?”

Bli Putu mengangguk pelan. “Oke siap, mari saya antar,” jawabnya yakin.

*

Hanya perlu kurang lebih 30 menit bagi Bli Putu untuk mengantarkan Ten ke Pantai Legian, pantai yang paling dekat dari hotel lelaki itu.

Setelah berjanji untuk menjemput Ten besok pukul 10 pagi, Bli Putu segera pamit dan meninggalkan Ten seorang diri.

Berbekal topi dan masker hitam yang selalu ia kenakan, ia berjalan memasuki gerbang pantai. Kakinya yang hanya mengenakan sendal santai disambut pasir pantai yang sedikit menggelitik telapak kaki.

Walaupun sudah malam, tapi masih cukup banyak orang-orang duduk bersantai menikmati angin malam pantai.

Ten memilih untuk duduk di salah satu sisi pantai yang tidak terlalu ramai. Ia menggunakan sendalnya sebagai alas duduk. Tidak ada yang dilakukannya selain duduk termenung memandangi lautan yang terlihat tak berujung. Sinar bulan tidak terlalu terang malam itu, tapi pantulan cahayanya cukup mampu membuat Ten tenang.

Sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktu liburannya seperti ini. Biasanya ia hanya mengurung diri di dorm dan bermain bersama kucing-kucingnya. Kalau bosan, ya pasti ujung-ujungnya berlatih dance di studio milik agensi.

Tapi kali ini ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berusaha mencari energi baru sebelum kembali beraktivitas sebagai seorang idol.

Radar Ten menjelajahi pelan setiap sisi pantai Legian, ada yang sibuk bercengkrama dengan pasangannya, ada yang menikmati angin malam ditemani sekaleng bir dan ada pula yang berdiri kaku menghadap pantai seperti sebuah patung.

Mata tajam Ten memicing, sepertinya ia cukup kenal dengan sosok perempuan yang sedang berdiri itu. Dan saat perempuan itu sedikit menoleh, dugaannya benar. Perempuan yang selama ini diam-diam ia lihat di Instagram, kini sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya.

Cukup lama perempuan itu berdiri di sana, dan selama itu juga Ten tidak berhenti memandanginya. Perasaan Ten mendadak campur aduk, senang dan khawatir bergabung menjadi satu. Ia senang, akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini selalu membuat perasaannya lebih baik dengan pesan-pesan yang dikirimkannya di DM.

Tapi di sisi lain ia khawatir, kalau ia menyapa perempuan itu saat ini, perempuan itu akan merasa takut lalu menganggap Ten aneh, atau lebih buruknya lagi, ia akan pergi meninggalkan Ten.

Ten menghela nafas, memang apa yang dikatakan Yangyang benar, baiknya ia tidak terlalu memedulikan perempuan itu. Membaca pesan-pesan yang dikirimkan di DM sudah lebih dari cukup.

Tapi kemudian yang dilakukan Ten berbalik dengan apa yang dipikirkannya barusan. Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri perempuan itu, menarik lengannya dengan cukup keras hingga perempuan itu menoleh.

“Eh? Kenapa, mas?” tanya perempuan itu dalam bahasa yang tidak Ten mengerti.

“Lo mau ngapain malem-malem jalan ke laut? Lo nggak berniat buat suicide kan?” tanya Ten dengan bahasa Inggris.

Mendengar suara Ten, perempuan itu membelalakan matanya, menarik tangannya dari pegangan Ten untuk menutup mulutnya karena kaget.

“Ten?!” tanya perempuan itu mendesis.

Ten yang tadinya khawatir berubah jadi linglung sendiri. Identitasnya terungkap begitu saja, padahal malam sudah semakin gelap dan ia masih mengenakan topi dan maskernya.

“Tenang aja, gue gak mau suicide kok. Gue cuma mau nyobain air pantai kalo malem dingin atau engga,” jawab perempuan itu dengan bahasa Inggris agar Ten mengerti.

Ten menghela nafas mendengar jawaban perempuan itu.

“Lo Gayatri, kan?” Ten memberanikan diri untuk bertanya dan bisa ia lihat perempuan itu kembali terkejut.

“Kok tau?!”

“Kita udah kenalan di DM?”

“Kok tau muka gue?!”

Ten tersenyum tipis namun sayangnya Gayatri tidak dapat melihatnya. “Gue pernah sekali buka Instagram lo.”

Lagi-lagi perempuan itu alias Gayatri hanya dapat menutup mulut dengan kedua tangannya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat atau terdengar terlalu heboh di depan Ten.

Wait wait, maksud lo apa, pernah buka Instagram gue?”

Pertanyaan Gayatri tidak langsung dijawab Ten karena petugas penjaga pantai menghampiri mereka dan meminta keduanya untuk segera menjauhi bibir pantai karena ombak yang semakin malam semakin besar.

“Sebelumnya gue harus jelasin kalo gue bukan bermaksud stalking lo, gue buka Instagram lo sekali karena penasaran aja sama orang yang selalu kasih kata-kata penyemangat buat gue. Ngga lebih dari itu,” jawab Ten setelah mereka duduk menepi di pesisir pantai yang lebih aman untuk mengobrol.

Gayatri hanya manggut-manggut saja. Pembawaannya yang tenang sebenarnya berbanding terbalik dengan isi hatinya yang sudah tidak berbentuk. Kalau tidak ada Ten pasti dia sudah jumpalitan jungkir balik karena statement yang ia dengar barusan.

“Lo orang Bali?” tanya Ten yang sepertinya tidak ingin membuang kesempatan untuk mengenal lagi Gayatri.

“Nggak, gue orang Jakarta. Kebetulan aja lagi ke Bali for some reasons,” jawab Gayatri dengan senyum pahit.

Sejujurnya Ten masih penasaran tapi ia berusaha menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi.

“Gue mau balik hotel ya, hotel gue di sana.” Gayatri kembali bersuara sambil bangkit berdiri dan menunjuk gedung yang tidak terlalu tinggi yang terlihat cukup jelas dari pantai.

“Lho? Sebelahan sama hotel gue? Bareng aja kalo gitu kita jalan kakinya.”

Gayatri hanya mengangguk pelan tanda ia menyetujui ajakan Ten, walaupun otaknya sangat berisik dan perasaannya masih tidak karuan.

*

Dalam perjalanan pulang ke hotel, tidak ada percakapan di antara mereka. Ten hanya sesekali mencuri pandang ke arah Gayatri sementara perempuan itu terlalu takut untuk melihat ke arah Ten karena ia masih merasa gugup.

“Gayatri, udah makan malem?” tanya Ten saat mereka melewati sebuah warung nasi di pinggir jalan.

“Belum. Lo mau makan?”

“Mau. Makan bareng yuk?”

Ajakan Ten diiyakan oleh Gayatri dan saat ia memberanikan diri untuk menatap Ten, ia dapat melihat binar bahagia di mata Ten. Dan harus diakui juga, walaupun menggunakan topi dan masker, lelaki itu terlihat sangat mempesona.

“Gayatri? Gayatri?” suara Ten membuyarkan lamunan Gayatri. Saat perempuan itu tersadar, Ten sudah dalam posisi melepas maskernya dan sedang tersenyum ke arahnya. “Mau makan apa?”

“Hah? Eh? Ada apa aja sih?”

“Ini ada nasi … nasi … ca …”

Gantian Gayatri yang tersenyum. “Nasi campur, Ten.”

“Nah! Iya itu! Katanya itu yang paling laris.”

“Yaudah, boleh deh gue pesen ini satu, minumnya es teh manis aja. Lo juga?”

Ten mengangguk antusias lalu ia ikut memesan hal yang sama kepada sang pemilik warung. Setelah itu keduanya masuk ke dalam, duduk berseberangan dan kembali terjebak dalam atmosfir canggung. Gayatri tidak dapat memainkan ponselnya karena battery-nya sudah habis sementara Ten memang memilih untuk tidak bermain ponsel agar bisa menghabiskan kesempatan pertama dan mungkin terakhir dengan Gayatri.

“Lo liburan sendiri di Bali?” Gayatri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.

“Yup.”

“Member lain ke mana?” tanya Gayatri lagi.

“LuWin di China, Kun sama Xiaojun ada project duet, Hendery Yangyang ya di dorm, ada … eh, gue gak seharusnya gak keceplosan masalah duet.”

Gayatri terkekeh pelan. “Tenang, gue anggap tadi nggak denger apa-apa tentang project.”

“Thanks, Gayatri.”

“Tentang pertemuan ini juga, tenang aja, gue nggak akan cerita ke siapa-siapa.”

Kali ini Ten sedikit mengangkat alisnya. “Beneran? Kok bisa? I mean, dari yang gue liat, fansign call event aja pasti fans bakal rame share di mana-mana.”

Gayatri tersenyum tipis. “Satu, gue gak mau orang salah paham. Dua, gue gak mau privasi lo keganggu. Tiga, gue malah lebih nyaman kalau simpen ini semua sendiri.”

Ten membulatkan bibirnya, ia kagum dengan pemikiran Gayatri yang terlihat berbeda dibanding fans lainnya.

Thanks anyway, udah mikirin privasi gue,” ucap Ten dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman manis Gayatri.

*

Selesai makan malam, Ten dan Gayatri melanjutkan kembali perjalanan mereka ke hotel yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.

“Besok ada rencana pergi ke mana, Gayatri?”

“Nggak ada. Gue ke sini awalnya bukan buat liburan, Ten. Gue kabur.”

“Hah? Kabur?” tanya Ten panik.

“Eh but don’t get me wrong. Konteks kaburnya bukan negatif kok.” Gayatri buru-buru meralat statement-nya. “Gue lagi ada masalah dan nggak sengaja malah larinya pergi ke sini.”

Ten mengangguk-angguk. “Oh, I see …”

By the way, ini hotel gue. Thanks ya, udah nemenin jalan dan makan malem juga,” ucap Gayatri lagi saat mereka berdua tiba di depan hotel tempat Gayatri menginap.

“Oh, iya, sama-sama Gayatri. Gue juga say thanks, udah mau nemenin makan malem,” balas Ten.

“Gue masuk duluan, ya? Good night, Ten.” Gayatri berpamitan dan setelah itu ia segera meninggalkan Ten dengan masuk ke dalam hotel.

Selang beberapa detik, terdengar suara Ten memanggil Gayatri. “Gayatri, wait!”

Gayatri menoleh, ia mendapatkan Ten mengejar dirinya yang kini sudah berada di lobi hotel.

“Ada apa lagi, Ten?”

Ten mengusap-usap tengkuknya karena bingung sendiri. “Ngg … Gue boleh minta nomor lo?”

Gayatri kembali membelalakan matanya. Rasanya malam hari ini kedua mata perempuan itu hampir lepas dari wajahnya karena ulah Ten.

Don't get me wrong too, gue nggak mau jahatin lo. Gue cuma mau simpen selama gue di Bali, siapa tau gue butuh bantuan lo.” Ten menjelaskan maksudnya meminta nomor Gayatri.

“Oh, oke. Ini save ya …” Gayatri lalu memberikan nomor ponselnya kepada Ten dan lelaki itu segera menyimpannya di ponsel pintar miliknya.

“Oke, thank you, Gayatri. Have a good night!”

Tidak sampai 5 menit Ten sudah menghilang dari hadapan Gayatri dan langsung saja perempuan itu menghela nafas panjang untuk melepas rasa gugupnya.

“Gila … ini mimpi nggak sih?”

D-1, Disaster

Sambil menunggu Sabrina yang katanya bisa keluar kantor jam 4 sore, Ghea memutuskan untuk mengitari mal yang sebenarnya sudah cukup ia hafal seluk-beluknya.

Tempat pertama yang pasti ia kunjungi adalah sebuah toko serba ada di lantai B1 yang kebanyakan isinya adalah make up dan perawatan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Di sana ia bisa menghabiskan waktu hampir 30 menit sendiri dan pastinya, keluar dari toko itu Ghea akan menenteng kantong ramah lingkungannya yang berukuran sedang, berisikan belanjaannya berupa make up baru yang ingin ia coba atau lotion dan sabun mandi dengan aroma berbeda dari yang sudah ia punya di rumah.

Selesai dari toko itu, Ghea akan langsung naik ke lantai satu dan melihat-lihat salah satu toko baju favoritnya, H&M. Di sana kalau ia sedang ingin berbelanja, ia bisa menghabiskan waktu sejam lebih. Tapi karena kedatangannya kali ini hanya untuk menunggu Sabrina, ia hanya sekilas melihat koleksi-koleksi pakaian yang dijual di sana.

Keluar dari H&M, Ghea kembali mengitari lantai demi lantai mal itu hingga ia tiba di kafe langganannya, Starbucks. Ghea melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Sabrina.

“Paling jam 5 keluarnya nih anak,” gumam Ghea pada dirinya sendiri.

Karena ia sudah bosan berkeliling mal, akhirnya ia memutuskan untuk duduk manis di Starbucks sambil meminum ice green tea latte favoritnya.

Antrian sore itu cukup padat, maklum saja lokasinya berada di tengah pusat perkantoran menjadi alasan kuat kenapa kafe ini tidak pernah sepi pelanggan. Seperti Sabrina, banyak pekerja kantoran yang senang membeli kopi atau minuman lainnya untuk menjadi teman perjalanan pulang mereka, atau diminum langsung di tempat sebelum mereka pulang.

Karena antrian yang cukup panjang, Ghea mengutak-atik ponselnya. Tidak ada satupun pesan masuk untuknya. Julio tidak membalas pesan yang ia kirimkan saat jam makan siang tadi.

Beralih ke Instagram, Ghea menemukan update-an dari sang idola. Ia refleks tersenyum. Belakangan ini perempuan itu sudah jarang sekali untuk up to date dengan dunia fangirling-nya karena sibuk mengurus acara pernikahannya.

“Ten looks so good with that hair.” Ghea kembali bergumam pelan.

Bosan bermain ponsel, Ghea mengedarkan pandangannya ke sekeliling Starbucks dan luarnya. Di saat bersamaan, radarnya menangkap sosok yang sangat tidak asing.

Lelaki bertubuh tegap, dengan rambut hitam legam yang tidak terlalu pendek dan bahu bidang, sedang berjalan merangkul mesra seorang perempuan yang tingginya tidak beda jauh dengan Ghea.

Ghea refleks keluar dari barisan antrian Starbucks. Persetan dengan antrian itu karena ia yakin benar lelaki yang dilihatnya adalah calon suaminya alias Julio.

“Julio!” panggil Ghea cukup keras. Suaranya yang lantang mampu menarik perhatian tidak hanya Julio, tapi orang-orang disekitarnya juga.

Yang dipanggil refleks menengok dengan ekspresi sangat terkejut. “G-Ghea?”

Langkah kaki Ghea dengan mantap menghampiri Julio dan tanpa basa-basi ia segera menampar keras lelaki itu.

“Brengsek!” desis Ghea. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga.

“Ghey—”

“Apa?! Mau bohong apalagi?!” potong Ghea dengan suara bergetar. Ia melirik sekilas perempuan di samping Julio yang terlihat ketakutan.

“Aku sama Keisha ngga ada hubungan apa-apa, Ghey. Kita cuma temen.”

“Temen tapi rangkulan mesra??? Lo mau gue percaya sama cerita karangan lo?!” tanya Ghea marah tanpa memedulikan sekitarnya yang kini menjadikan dirinya sebagai bahan tontonan.

“Ghea, ayo kita ngobrol dulu. Aku bisa jelasin semuanya.” Julio berusaha sebisa mungkin meredakan emosi Ghea, tapi sepertinya percuma. Perempuan itu sedang sibuk melepas cincin tunangan dari jari manisnya lalu dilemparnya ke dada Julio.

“Kita batal nikah. Kita putus.”

Dan tanpa menghiraukan Julio yang sibuk memanggil namanya, Ghea terus berjalan meninggalkan lelaki itu dengan pandangan yang semakin kabur akibat air mata yang menggenang di pelupuknya.

Telling the Truth

Seperti habis tertangkap basah melakukan suatu kesalahan, begitu masuk ke dalam kamar Yangyang, Ten hanya menundukkan kepalanya.

Di dalam kamar itu ternyata hadir juga Hendery dan Dejun dan tidak ketinggalan binatang peliharaan mereka; Louis, Leon dan Bella.

“Cewek yang lo maksud siapa?” tanya Kun tanpa basa-basi. Selain Ten, member lain melempar pandang satu sama lain dan terdiam. Tidak ada yang berani menyelak atau bercanda kalau nada bicara Kun sudah terdengar serius.

“Cewek apa? Nggak ada cewek.”

“Bohong. Gue baca isi chat lo sama Yangyang,” balas Kun cepat dan berganti ia menatap Yangyang. “Dan lo kenapa rahasiain ini dari gue dan member lain?”

Yangyang yang tadinya masih terlihat santai kini juga ikut menunduk. “Sorry, hyung. Karena tadinya gue pikir nggak bakal sepanjang ini.”

Kun menghela nafas panjang. “Kan udah gue bilang, kalo ada apa-apa tuh cerita. Nggak boleh ada yang diumpetin satupun di antara kita semua.”

“Gue bukannya mau ngumpetin, Kun. Gue cuma gak mau bikin rame aja karena, ya, sejujurnya ini bukan masalah gede kok.”

“Kalo ketauan manager hyung tau lo baca DM dari fans apalagi sampe bukain profile instagram-nya, mau apa? Kita semua pasti bakal disidang rame-rame.”

Kali ini Ten yang menghela nafas seperti melepas beban berat di pundaknya. Memang berat beban dan tanggung jawab yang harus ia pikul sebagai seorang idola, setara dengan ketenaran yang ia dapatkan.

But I swear gue mau udahan, nggak mau baca lagi DM-nya.”

“Lo ngomong kayak gitu sama Yangyang dua bulan lalu, tapi kenyataannya mana?”

Merasa situasi di dorm WayV malam itu semakin memanas, Hendery angkat bicara.

“Gue boleh ya, speak up? Menurut gue, Ten hyung emang salah karena nggak cerita ke kita-kita. Tapi Kun ge juga jangan terlalu mojokin Ten hyung, karena kenyataannya sampe saat ini kan nggak ada hal aneh terjadi. Ten hyung masih tahu batasan idol dan fans.”

“Gue nggak bermaksud mojokin Ten, gue cuma mau dia dan kita semua di sini tuh aware dan nggak ngegampangin sesuatu, karena kita nggak tau sewaktu-waktu hal yang mungkin kita sepelein, bisa jadi boomerang buat kita.”

Dejun dan Yangyang kompak manggut-manggut tanda setuju dengan pernyataan sang leader.

“Oke oke. Kun, gue minta maaf, karena gue udah bikin keributan ini. Gue juga minta maaf ke Yangyang karena dia jadi keseret-seret di sini secara personal. Gue janji nggak akan gini lagi guys, karena kedepannya kita punya banyak schedule.”

“Oke Ten, gue tau, lo cukup dewasa buat urusan seperti ini. Lo tau batasan idol dan fans, so, case closed, ya? Nggak usah pikirin cewek itu lagi. Kalo perlu nggak usah dibuka juga DM-nya. Inget, lo sendiri bakal punya solo SM Station dan unit sama Yangyang. Fokus ke situ.”

“Iya, thanks Kun,” balas Ten singkat, kemudian Kun menepuk pelan pundak Ten yang terlihat turun karena rasa bersalahnya.

“Ini case closed, ya?” tanya Hendery meyakinkan dengan nada bicaranya yang riang, berusaha mencairkan suasana di asrama mereka.

Yangyang mengangguk. “Iya, hyung. Udah gih, kalian balik kamar masing-masing sana. Jangan ngumpul di kamar gue,” sambung Yangyang setengah mengusir.

“Makan ramen dulu lah, gimana? Laper nih abis nonton perdebatan sengit.”

Yangyang refleks melempar bantal tidurnya ke Hendery, sementara Kun dan Ten tersenyum tipis bersama dengan Dejun yang sibuk menggendong Bella.

“Yaudah yuk, ramen. Gue yang masak. Laper juga abis nyeramahin si Chittaphon,” tutup Kun sambil berjalan keluar dari kamar Yangyang, diikuti keempat member lainnya.

Disputation

Citos, 9 Maret 2021 07.03pm

Ghea melambaikan tangan dengan semangat saat melihat sosok Julio di ambang pintu restoran tempat mereka janjian untuk dinner.

Julio segera masuk, berjalan menghampiri Ghea lalu duduk di kursi seberang perempuan itu.

“Udah lama nunggunya, Ghey?” tanya Julio.

Ghea geleng-geleng kepala dengan senyuman lebar di wajahnya. “Nggak kok, tenang aja. Kamu kena macet, ya? Eh, kita pesen makan dulu aja deh.”

Julio mengangguk dan ia segera memanggil salah satu pramusaji untuk mencatat pesanan mereka.

Setelah memesan Pepperoni Pizza, El Diablo Wings dan dua Ice Lemon Tea, Ghea dan Julio melanjutkan kembali percakapan mereka.

“Macet nggak?”

“Sedikit,” jawab Julio yang sibuk sendiri dengan ponselnya.

“J, maaf ya … Tadi aku lupa banget.” Ghea kembali meminta maaf karena ia masih merasa bersalah dengan perkara lupa mengirim pesan pada Julio.

It’s okay. Udah biasa kok.” Kalimat jawaban Julio menyatakan ia baik-baik saja tetapi tidak dengan nada bicaranya.

“J, kalau kamu marah bilang aja.”

Julio menghela nafas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Ghea lekat-lekat.

“Emangnya kalau aku marah, kamu mau berhenti suka sama Kpop-kpop-an itu? Enggak, kan?”

Dahi Ghea mengerut, kedua alisnya hampir menyatu. “Lho? Kenapa jadi suruh aku berhenti suka Kpop dan WayV?”

“Ya kan, gara-gara itu kamu jadi less focus dari aku, kamu sibuk sendiri sama mereka. Beda cerita kalau kamu berhenti, pasti kamu bakal fokus dan tau harus ngelakuin apa aja.”

“Aku cuma lupa ngechat kamu sekali ini, J? Tiap pagi aku chat kamu, kadang kamu nggak bales, aku fine-fine aja?”

“Aku sibuk, Ghey. Aku kerja di kantor.”

Ghea memutar bola matanya karena ia mulai merasa kesal. Perdebatan mereka harus berhenti sejenak karena pramusaji tadi kembali datang mengantarkan pesanan minuman mereka.

“Aku chat sebelum jam kerja kamu, lho?”

Julio menanggapi ucapan Ghea dengan menyuruput ice lemon tea nya sambil terus menatap Ghea dengan cukup tajam.

“Kamu mau bicara prioritas-prioritas-an? Waktu kita meeting sama vendor, kamu sama sekali nggak pernah dateng. Ada aku protes sama kamu?”

“Gayatri, aku kerja. Aku nggak bisa karena aku kerja. Beda sama kamu. Kamu nggak fokus karena hobi kamu yang udah kelewat batas.”

Ghea mendengus kesal. “Kelewat batas? Kelewat batas bagian mananya?”

Lagi-lagi Julio menghela nafas cukup panjang. “Stop it deh, Ghey—”

“Kamu yang mulai duluan?!” Nada bicara Ghea meninggi.

“Ya makanya sekarang stop!”

Karena suara Julio cukup keras, sontak mereka menjadi pusat perhatian untuk sesaat.

“Bilangin kamu kayak gini nggak akan ada abisnya. Kamu akan selalu berlindung dibalik pembelaan kamu sendiri yang kamu anggap benar.

“Kamu itu udah mau jadi tunangan aku, Ghey. So, please stop hobi kekanak-kanakan kamu itu. Banyak hal yang harus kamu siapin, pikiran kamu juga harus kamu fokusin buat masa depan kita, bukan buat hal-hal gituan lagi.”

Raut wajah Ghea terlihat sangat kusut, ia sangat tidak bisa menerima kala hobinya menyukai Kpop disebut sebagai hobi kekanak-kanakan.

Tapi kalau dia pergi meninggalkan Julio saat ini juga karena marah, justru dia menunjukkan kalau dia memang benar bertingkah kekanak-kanakan. Menurutnya, kabur dari situasi seperti ini bukanlah sebuah solusi.

Setelah pramusaji tadi datang untuk mengantarkan pesanan makanan mereka, Ghea kembali bersuara.

“Aku nggak bisa terima kamu bilang hobiku ini kekanak-kanakan. But, I’ll try my best buat lebih fokus sama kamu dan hubungan kita.”

Julio mengangguk dan tersenyum tipis, ia menjulurkan tangannya dan mengacak pelan bagian depan rambut Ghea.

“Sekarang makan dulu, ya, sayang.”

Note: J (as referred to Julio) read as “Je”

Liebesleid; love's sorrow

2022, Januari

Hendery melangkahkan kakinya di sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Tahun lalu, tepatnya sepanjang 2021, ia bisa mengunjungi tempat itu minimal sekali dalam seminggu. Tapi kali ini, tidak ada alasan lagi untuk ia datang ke sana.

Kedatangannya pagi hari ini ke tempat itu hanya untuk berpamitan kepada salah seorang yang menurutnya sudah berjasa selama ini. Karena sudah membuat janji via pesan teks malam sebelumnya, begitu sampai Hendery segera mengetuk pintu ruangan tempat di mana mereka berjanji untuk bertemu.

“Hai, Hendery. Apa kabar?” sapa orang yang ingin Hendery temui itu dengan ramah dan dengan gaun putih yang harus selalu ia kenakan setiap bekerja.

“Pagi, Dok. Kabar baik. Dokter sendiri gimana?” balas Hendery bertanya seraya masuk ke dalam dan duduk berhadapan dengan dokter Satria.

“Ya, seperti yang kamu bisa lihat. Saya selalu seperti ini,” jawab dokter Satria sambil tersenyum tenang. “By the way, sudah merasa lebih baik?” Dokter Satria menyambung kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.

Hendery hanya tersenyum simpul. “Sedikit, Dok.”

“Bagus, setidaknya ada kemajuan.”

Kemudian Hendery terdiam sebentar sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuannya menemui dokter Satria pagi hari ini.

“Dok, maksud saya ke sini pagi ini, saya mau berterima kasih. Terakhir kali kita ketemu, saya nggak bilang apa-apa sama Dokter, padahal Dokter yang paling banyak berjasa dalam pengobatan Nata selama ini.”

Dokter Satria tersenyum tipis mendengar kalimat Hendery.

“Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita, Dok. Sekali lagi, terima kasih banyak, Dok, selama ini sudah banyak sekali bantu Nata. Maaf kalau saya pernah ngelakuin atau berkata sesuatu yang nggak berkenan di hati Dokter Satria.”

“Sudah jadi tugas dan kewajiban saya untuk bantu Nata, Hendery,” balas dokter Satria singkat.

Hendery bangkit dari duduknya lalu ia mengulurkan tangan dan dokter Satria membalas uluran tangan itu dengan tangan kirinya sambil menepuk pelan pundak Hendery.

“Semangat ya, Hendery. Selalu jaga kesehatanmu.”

Hendery mengangguk mengerti, kemudian setelah itu ia melepaskan jabatan tangannya dengan dokter Satria dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.

*

Dalam kurun waktu kurang dari 60 menit, Hendery sudah tiba di destinasi berikutnya. Sekarang ia sedang duduk di sebuah kapal yang akan membawanya pergi ke suatu tempat.

Tidak lama setelah Hendery duduk, kapal itu berangkat. Sepanjang perjalanan, Hendery memilih untuk duduk di tepi kapal, memandangi hamparan laut luas yang tak berujung. Ia memejamkan mata, menghirup udara asin sebanyak mungkin di sana dan mencoba mengurai pikirannya yang masih saja kusut.

*

Suara awak kapal membangunkan Hendery dari tidur singkatnya; akhirnya ia tiba di tujuan akhirnya. Hanya dengan tas ransel dan kacamata hitam andalannya, ia turun dari kapal. Ia segera pergi ke tempat penginapan yang sudah ia booking jauh-jauh hari dan setelah berhasil check in, ia merebahkan diri sepenuhnya di atas kasur.

Matanya kembali terpejam. Walaupun seharian ini ia hampir tidak melakukan apa-apa, tapi perjalanan laut ternyata menguras tenaganya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah istirahat dan dalam sekejap ia memenuhi kebutuhannya itu; ia tertidur pulas.

*

Sudah dua hari Hendery habiskan di Pulau Harapan, pulau yang ia pilih untuk melepaskan penatnya. Selama dua hari itu tidak ada yang ia lakukan selain menikmati keindahan pulau itu atau bersantai di kamar penginapannya sambil menonton acara TV yang menarik perhatiannya. Ia sengaja tidak menyentuh ponselnya dan berhubungan dengan siapapun dengan alasan ia sedang ingin menyendiri.

Tujuan utama Hendery sebenarnya adalah untuk memulihkan hati dan pikirannya pasca kepergian Nata. Bulan November-Desember tahun lalu ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa hancur, tatkala perempuan yang ia yakini sebagai sebagian dari jiwanya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Pasca kepergian Nata, Hendery belum bisa berdamai dengan kenyataan; ia belum bisa berjalan berdampingan dengan rasa kehilangan. Untungnya ia tidak sendiri, ada sahabat-sahabatnya yang selalu hadir dan berusaha membantu dirinya untuk bangkit hingga awal tahun ini, Hendery tersadar kalau ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kedukaan.

Satu persatu hal-hal yang dulu Hendery tinggalkan, kini kembali ia lakukan.

Ia kembali berkumpul, bermain dengan teman-temannya. Ia kembali belajar drum, dengan tujuan untuk menambah skill-nya. Ia juga mulai belajar berbisnis dengan sang ayah, sesuatu yang selama ini ia abaikan karena dulunya ia tidak ingin meneruskan usaha ayahnya.

Dan hal terakhir yang ia lakukan, yaitu hal yang sedang ia kerjakan saat ini; mengunjungi Nata. Di awal kepergian Nata, lelaki itu justru tidak pernah datang mengunjungi perempuan itu. Alasannya sederhana, ia takut.

Tapi sekarang, ia sudah mengumpulkan keberaniannya, mencoba melawan ketakutannya. Kedatangannya ke pulau ini selain untuk memulihkan hatinya, juga untuk mengunjungi perempuan yang bersemayam di hamparan samudera luas itu.

Di hari ketiga alias hari terakhir-nya di pulau Harapan, Hendery memutuskan untuk menghabiskan sore hari di pantai. Setelah sedikit berberes untuk pulang besok pagi, ia keluar dari kamar penginapannya.

Hendery berjalan menyusuri bibir pantai, merasakan air laut yang hangat akibat sinar matahari dan pasir pantai yang menggelitik telapak kakinya. Setelah puas berjalan-jalan, Hendery duduk di pesisir pantai itu.

“Hai, Nat. How's there? I believe Heaven must be good for you.

Hendery menghela nafas pelan dan diam sesaat sebelum kembali bersuara.

“Maaf, aku baru sempet ngunjungin kamu. Ternyata aku butuh waktu lebih lama untuk bisa berdamai dengan kenyataan dan bisa menerima semua ini. Maaf ya, Nat?”

Kalimat Hendery disambut dengan deburan ombak yang menggulung di pesisir pantai.

Tidak ada lagi kata-kata yang keluar di mulut Hendery karena saat itu ia disuguhkan dengan pemandangan matahari terbenam yang memanjakan mata.

Sebelum hari berubah menjadi gelap, Hendery mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, melipat kertas itu menjadi bentuk perahu dan terakhir, ia kembali menghampiri bibir pantai dan menaruh perahu kertas itu di atas air bersama dengan sebuah cincin di dalamnya.

“Semuanya diterima, ya, Nat? Sekalian aku mau pamitan, besok pagi aku balik ke Jakarta. Kamu istirahat yang tenang ya, Nat? Kapan-kapan aku berkunjung lagi.”

Tidak ada lagi air mata yang tumpah, justru sebuah senyuman menghiasi wajah Hendery. Dan bersamaan dengan sang surya yang kembali ke peraduannya, Hendery juga kembali melangkah pulang ke penginapannya.

dream; a state of being completely occupied by one's own thoughts

2021, akhir November

Hendery tiba di rumah Nata sekitar pukul 3 sore. Asisten rumah tangga yang sudah mengenali dirinya segera mempersilahkan Hendery untuk masuk setelah ia membukakan pintu untuk lelaki itu.

Kedatangan Hendery disambut dengan tumpukan kardus-kardus besar berwarna coklat. Rumah Nata tampak semakin luas setelah beberapa perabotan sudah tidak ada lagi di tempatnya.

“Halo Hendery, jalanan macet nggak? Capek nggak nyetirnya? Perlu minum?” sapa ibu Nata ramah dengan beberapa pertanyaan saat ia menuruni tangga dan mendapati Hendery di ruang tengah rumahnya.

Hendery tersenyum, “Nggak macet, Tante. Nggak capek juga, hehe … Minum juga nggak usah,” jawabnya satu persatu.

“Kalo gitu langsung aja ke atas, Nak,” ucap ibu Nata lagi dan Hendery menuruti perkataannya.

Hendery memasuki kamar Nata; kamar itu terasa hangat karena sinar matahari sore yang masuk dari jendela. Hendery duduk di tepi ranjang dan matanya mulai memandangi setiap sudut kamar itu lebih teliti.

Kamar itu tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi dan enak dipandang karena pemiliknya mengatur setiap barang-barangnya dengan baik. Pemilihan warna peach pastel sebagai wallpaper juga membuat kamar itu terasa lebih nyaman.

Hendery tersenyum tipis, dalam imajinasinya ia dapat melihat sang pemilik kamar sedang belajar di meja belajarnya, kemudian sedang melihat pantulan dirinya pada cermin dan yang terakhir sedang memakai riasan wajah.

Hendery juga dapat membayangkan, di kamar itu juga pemiliknya banyak menghabiskan waktu bertukar cerita dengan dirinya melalui pesan teks, video call atau telepon.

Hendery kini bangkit dari duduknya, ia menghampiri meja belajar Nata untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan hari itu, yaitu mengemasi barang-barang milik Nata.

Barang-barang yang dikemas hari ini kebanyakan adalah foto-foto yang Nata pajang dengan pigura berukuran 4R. Ada foto Nata kecil, Nata sekolah sampai ia berpacaran dengan Hendery. Ada pula foto yang diambil secara candid, yaitu saat Nata sedang tampil di atas panggung dengan alat musik kesayangannya, biola.

“Hei, cantik. Aku dateng lagi, buat bantuin mama kamu beresin barang-barang kamu,” ucap Hendery lirih pada salah satu foto Nata, lalu ia memasukkan foto berpigura itu ke dalam kardus.

Selama membereskan barang-barang Nata, Hendery hanya diam, ia membiarkan tangannya sibuk bekerja walaupun sebenarnya pikirannya masih kalang kabut kemana-mana.

Selesai mengurus barang-barang di kamar Nata, Hendery pindah ke studio Nata yang terletak persis di samping kamar Nata.

Studio itu sama dengan kamar Nata, penuh dengan tumpukan kardus coklat besar. Isinya adalah buku bacaan milik Nata yang mulanya ditaruh di rak buku, lalu ada juga partitur-partitur dan buku musik serta pajangan-pajangan handicraft milik Nata.

Di pojok ruangan, baby grand piano milik Nata yang biasanya terbuka kini sudah tertutup rapat. Begitu juga dengan biola Nata, sudah tersimpan rapi di tas yang selalu Nata bawa setiap ia pergi les.

Hendery kemudian mengutak-atik ponselnya sebelum ia menaruhnya di atas baby grand piano Nata, lalu ia mulai kembali bekerja, membereskan barang Nata berupa alat lukisnya yang masih belum dikemas, ditemani lagu-lagu klasik favorit Nata yang ia simpan dalam playlist Spotify-nya.

Satu persatu lagu klasik itu mengalun pelan dari ponsel Hendery. Mulai dari Adagio of Spartacus hingga Träumerei, yang juga merupakan lagu favorit Hendery.

Träumerei sukses menghentikan seluruh aktivitas Hendery sore itu. Walaupun entah sudah berapa kali ia mendengarkannya, tetap saja lagu itu sukses mengundang air matanya untuk keluar.

“Nat, semua ini cuma mimpi kan, ya? Aku kepengen buru-buru bangun. Aku kangen kamu, Nat. Kangen banget …”

Hendery menghapus air matanya dengan gusar dan ia kembali memasukkan alat lukis Nata ke dalam kardus dengan cepat. Tapi, bukannya selesai pekerjaannya, tangannya justru berhenti dan tangisnya kembali menjadi.

“Nata, aku kangen banget sama kamu, Nat. Aku kepengen sekali lagi liat muka kamu langsung. I miss you so badly, Nat …”

*

Setelah tiga hari berturut-turut Hendery membantu keluarga Nata untuk mengemasi barang milik putri mereka, kini tugas Hendery sudah selesai. Ia keluar dari studio Nata dan kembali turun ke ruang tengah, menghampiri ibu Nata yang sedang menyiapkan segelas jus jeruk untuknya.

“Makasih banyak ya, Hendery,” kata ibu Nata sambil menatap mata Hendery yang masih sembab.

“Sama-sama, Tante,” jawab Hendery parau lalu ia meminum jus jeruk buatan ibu Nata.

“Tante dan Om akan berangkat nanti malam. Sekali lagi, makasih banyak ya, Hendery. Untuk semuanya.”

Hendery mengangguk pelan. “Tante sama Om akan stay terus di sana?”

“Belum tahu, Nak.”

Hendery kembali mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Sesaat keduanya hanya terdiam sampai ibu Nata kembali angkat bicara.

“Hendery, Tante sangat menghargai perasaan kamu buat Nata. Tapi, jalan hidup kamu masih panjang, Nak. Masih banyak hal yang kamu bisa lakukan. Jadi, sekarang kamu harus kembali melangkah maju, ya? Biarkan Nata jadi bagian kenangan kamu.”

Ibu Nata kemudian memberikan sebuah boks yang berisikan beberapa barang milik Nata pemberian dari Hendery.

“Nata pernah titip pesan, kalau suatu hari dia pergi, dia mau semua barang-barang Hendery kasih dikembalikan ke kamu. Diterima ya, Nak.”

Hendery kali ini tidak bereaksi apa-apa, ia hanya menerima boks itu dan menatapnya dengan tatapan kosong.

Take care, ya, Nak.” Ibu Nata mengelus pelan punggung Hendery lalu ia berjalan meninggalkan lelaki itu sendirian, kembali menuju kamarnya.

Hendery kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sambil mencerna kembali perkataan ibu Nata barusan.

Mungkin benar, sudah saatnya ia harus kembali melangkah maju menjalani hari-harinya yang masih panjang.

Hendery mulai berjalan pelan meninggalkan rumah Nata. Dan sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah itu, ia kembali berbalik, memandangi semua yang tertangkap radar netranya untuk kali terakhir.

“Nat, aku pamit, ya.”

(in music definition) gradually diminishing, dying away

Hari ketujuh di bulan November dan sepanjang minggu ini, hujan terus-menerus mengguyur Jakarta, membuat ibukota terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Hendery bersandar malas di dinding rumah sakit yang dingin sambil menatap ke luar jendela, memperhatikan bulir-bulir air yang berlomba membasahi jendela.

Ia selalu ingat, hujan adalah musim favorit Nata. Ia juga ingat Nata memiliki keinginan untuk dapat bermain dengan air hujan saat kondisi tubuhnya sudah membaik.

“Nat, udah musim hujan nih, yuk bangun? Kita main hujan?” Hendery kembali bermonolog dengan dirinya sendiri. Sejak Nata koma, yang dilakukan Hendery setiap hari adalah berbicara dengan dirinya sendiri, seolah-olah ia sedang berbicara dengan Nata.

Selama Nata koma juga, tidak banyak yang dilakukan Hendery selain menghabiskan hari-harinya di rumah sakit dengan melamun atau menjenguk Nata kala perawat mengizinkannya. Karena takut Hendery ikut-ikutan sakit akhirnya Lucas—sebagai sahabat terdekat Hendery, memutuskan untuk ikut menemani Hendery saat ia senggang.

“Hendery! Hendery!” Sebuah suara beberapa kali memanggil Hendery, berusaha menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.

“Hendery!” Panggilan terakhir terdengar lebih keras, dibarengi dengan sebuah pukulan ringan di lengannya. Hendery sedikit tersontak kaget, didapatinya Lucas sudah berdiri di hadapannya.

“Hendery! Nata sadar!”

Belum sempat mulut Lucas mengatup rapat, Hendery sudah berlari secepat mungkin ke ruang ICU yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

“Nata! Nata!” panggil Hendery tergesa. Ia buru-buru memakai gaun khusus untuk pengunjung ICU lalu segera menghampiri Nata.

“Nat! Ini aku, Nat …”

Mata Nata tidak terbuka lebar, bahkan sangat tidak mungkin ia untuk berbicara. Yang bisa dilakukan perempuan itu hanya tersenyum tipis sekali.

Hendery meraih pelan tangan Nata. “Nat …” panggil Hendery lirih sambil berusaha menahan tangisnya. Ia tidak mau tangisnya hanya menambah sakit di diri Nata.

“Nat, ada Mama Papa juga di sini.” Dari sisi seberang ranjang ICU Nata terdengar ayah Nata berbicara. Suaranya bergetar dan senyum keduanya terlihat pilu, tidak tega melihat putri semata wayangnya terbaring tidak berdaya.

Nata tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya tersenyum sambil mengangguk pelan menanggapi sapaan orang-orang yang dicintainya. Air mata mengalir di wajahnya dan beberapa saat kemudian perlahan kedua mata perempuan itu kembali tertutup rapat.

“Nata! Nata!”

Terdengar suara bising dari bedside monitor, perawat langsung meminta Hendery dan ayah ibu Nata mundur selangkah sementara dokter yang berjaga di ICU mencoba memberikan pertolongan pada Nata.

“Nata!!” ibu Nata menjerit histeris dan buru-buru ayah Nata memeluknya.

Setelah mencoba memberi beberapa pertolongan, Dokter jaga ICU itu juga mundur selangkah, menatap ayah Nata dan Hendery bergantian dan menggeleng pelan. “Maaf …”

“Nggak, Dok! Nggak mungkin! Nata tadi bangun kok!! Nggak mungkin!!!” Suara Hendery menggelegar mengisi ruang ICU itu.

Hendery berusaha menggapai Nata yang kini mulai dibebaskan dari segala peralatan medis dan tubuhnya ditutupi dengan kain putih, tapi Lucas yang diizinkan masuk ke dalam, berusaha menahan lelaki itu dan menariknya keluar dari ICU.

“Lepasin gue! Lepasin!!!” teriak Hendery marah.

“Hendery!!!” Suara Lucas tidak kalah keras dengan Hendery.

“Nata, Cas!!! Nata!!! Gue mau ketemu Nata!!! Nata … Nata …” Suara Hendery perlahan melemah. Usahanya melawan Lucas pun berkurang dan kini ia merosot dari pegangan Lucas, duduk terjatuh di koridor rumah sakit.

Hendery tidak berkata apa-apa lagi, kini ia hanya menangis sekeras mungkin, mengeluarkan semua air mata yang selama ini ia coba sembunyikan sebaik mungkin.

“Nata …”

selfless, sacrificial and unconditional love; persists no matter the circumtance.

22 April 2023

Hari ini umur pernikahanku dengan Ten genap berusia dua tahun. Tidak terasa segala dinamika kehidupan pernikahan ini dapat kami lalui dengan cukup baik.

Masalah datang silih berganti, mulai dari yang paling sederhana sampai yang cukup kompleks. Dan aku bersyukur, seberat apapun masalah yang ada, aku dan Ten tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang hanya akan menyakiti satu sama lain. Biasanya kalau kami sedang beda pendapat, kami akan sama-sama diam untuk sementara waktu, sampai diri kami masing-masing merasa lebih tenang, baru setelah itu kami akan selesaikan masalah yang ada dengan kepala dingin.

Selama dua tahun ini juga, kami berusaha untuk lebih mengenal dan menerima luar dalam satu sama lain, walaupun kenyataannya ada beberapa hal yang masih sulit aku terima dari seorang Ten.

Sifatnya yang perfeksionis, apalagi kalau sudah bicara tentang pekerjaannya, kadang membuatku pusing sampai aku tidak tahu harus bicara apalagi. Bukannya aku tidak mengizinkan Ten untuk bekerja sesempurna mungkin, tapi laki-laki satu ini kalau sudah bekerja suka sekali lupa waktu.

Pernah aku memergoki Ten menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk mendesain sesuatu yang sebenarnya bisa ia kerjakan di waktu luangnya. Ditambah, ia menghabiskan beberapa batang rokok dan gelas kopi untuk menemaninya bekerja. Saat aku tahu hal ini di pagi harinya, aku langsung marah dan mendiami Ten selama beberapa hari.

Namun, bukan Ten namanya kalau tidak berjuang mati-matian untuk mendapatkan maaf dariku. Berbagai cara ia coba; mulai dari cuti, menitipkan Louis Leon pada Winwin—sahabat a.k.a partner di kantornya, sampai mengajakku keluar jalan-jalan.

Awalnya aku menolak; enak saja, masalah seserius ini diselesaikan dengan cara sepele. Tapi ternyata dibalik ajakan jalan-jalan itu, dia menceritakan alasan kenapa dia rela begadang demi pekerjaannya. Dia juga menceritakan keadaan kantornya yang membuatku tidak enak hati sendiri.

Hebatnya, dengan segala kerendahan hati Ten mengakui kalau dia tetap salah. Dan dia berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatan yang dapat membahayakan kesehatannya. Aku pun tidak tega kalau harus mendiaminya lama-lama karena selama aku diam padanya, Ten tetap memperlakukanku dengan baik seperti hari-hari biasa. Padahal kalau dia mau marah kan, bisa-bisa saja. Siapa yang betah dicuekkin berhari-hari? Hehe iya, aku, dulu.

Berhubung Ten sudah menjelaskan situasinya dan aku bisa menerima alasannya, akhirnya Ten berhasil mendapatkan maafku dan aku kembali berbicara padanya. Perasaannya bahagia bukan main sampai sepanjang acara jalan-jalan kami itu, ia tidak berhenti tersenyum.

Dasar, laki-laki yang selalu bisa meluluhkan hatiku.

Sekarang di umur pernikahan dua tahun ini, rasanya tidak adil kalau selalu aku yang mendapatkan cinta berlebih dari Ten. Aku juga mau memberikannya sesuatu yang dapat membuatnya bahagia, sesuatu yang diidam-idamkan siapapun yang sudah menikah.

Iya, aku ingin memberikan keturunan untuk Ten.

Ten bukannya tidak tahu impianku ini. Ia tahu betul, tapi dia tidak pernah menuntutku atau memburu-buruiku untuk memiliki keturunan. Selalu yang dikatakan padaku, “Pelan-pelan aja, Jo. Rejeki nggak kemana.”

Masalahnya, bukan aku saja yang menginginkan keturunan. Keluarga besarku dan Ten diam-diam suka menghubungiku, menanyakan kenapa sampai dua tahun ini aku belum juga memiliki seorang anak. Awalnya aku mau menceritakan hal ini pada Ten, tapi kuurungkan niatku karena kulihat lelaki itu sudah cukup ribet dengan pekerjaannya.

Bukan masalah besar, pikirku. Aku bisa menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang sama dengan Ten, “Rejeki anak sudah ada yang atur.”

Tapi lambat laun pertanyaan mereka menjadi kegelisahan tersendiri bagiku.

Pernah di satu bulan, tamu bulananku datang terlambat. Diam-diam aku membeli beberapa test pack dan berniat untuk memberi kejutan pada Ten. Tapi, ternyata aku salah. Semua hasilnya negatif dan, ya ... dua hari setelah tes kehamilan, tamu bulananku datang.

Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis. Menangis karena kini aku membenci tubuhku sendiri. Aku yakin ada yang salah dengan tubuhku ini, tapi aku masih terlalu takut untuk mengutarakannya kepada Ten.

*

“Jo.” Suara Ten membuyarkan lamunanku. Saat ini aku sedang duduk termenung di ruang tengah, kembali teringat dengan tes kehamilan konyol yang kulakukan minggu lalu.

“Kamu seminggu ini kenapa? Ada masalah di coffee shop Olin?” Ten kembali bersuara seraya berjalan menghampiriku. Ia memberikan segelas teh chamomile hangat yang selalu kuminum sebelum tidur.

“Hah? Enggak. Everything's fine,” jawabku setengah berbohong. Kedai kopi Olin memang baik-baik saja, yang nggak baik-baik saja 'kan diriku saat ini.

“Tapi kamu banyak bengongnya. Bahkan kemarin sampe lupa matiin kompor. Ada apa, Jo?”

Percuma saja menutupi sesuatu dari Ten, karena lelaki ini cepat lambat akan menyadari ada yang salah denganku. Dan kalau sudah didesak seperti ini, mau tidak mau aku harus jujur padanya.

“Aku kepikiran masalah anak, Ten.”

Ten diam sebentar, lalu setelah ia menyeruput teh miliknya, ia menaruh cangkirnya dan menatapku dari samping lekat-lekat.

“Kita udah pernah bicarain hal ini, kan, Jo? Tenang aja, nanti ada waktunya.”

“Tapi udah dua tahun , Ten. Nggak, satu setengah tahun deh, dari sejak aku berani buat berhubungan sama kamu. Masa sih, satupun nggak ada yang berhasil? Sepayah itukah aku?”

“Jo, nggak gitu—”

“Terus apa?” Nada bicaraku mulai meninggi. Oke, aku tahu emosiku sudah mulai sulit dikontrol dan sebelum semakin tidak terkendali, aku segera meninggalkan Ten sendirian di sofa.

“Jo, tidur?” tanya Ten yang buru-buru menyusuliku ke kamar.

“Iya,” jawabku cepat lalu aku segera berbaring di kasur dan menghadap ke arah yang berlawanan dari Ten. Beberapa saat kemudian aku bisa merasakan Ten memelukku dari belakang, mencoba untuk meredakan emosiku.

“Jo, maaf kalau kesannya aku ngegampangin tentang impian kamu buat punya anak. Tapi aku serius, Jo, rejeki itu sudah ada yang atur.”

Sepertinya karena sudah memendam perasaan ini terlalu lama, sekarang seluruh emosiku tumpah dalam bentuk sebuah tangisan pelan.

“Ten, aku tuh takut ada yang salah sama diri aku. I'm questioning this every day, like, temen aku yang baru nikah bulan lalu aja sekarang udah isi. Masa aku udah dua tahun sama kamu ...”

Kalimatku terputus karena aku tidak sanggup untuk melanjutkannya. Tangisku semakin menjadi dan Ten semakin memelukku erat. Dengan pelan ia membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, agar ia bisa mendekapku lebih erat lagi.

“Jo, kamu setakut itu kah? Perlu kita ke obgyn?” tanya Ten pelan sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku berusaha menghentikan tangisku dan sedikit meminta Ten melonggarkan pelukannya agar aku bisa menatap wajahnya. “Obgyn?”

Ten mengangguk. “Iya, obgyn. Daripada kamu terus-terusan nyalahin diri kamu sendiri, better kita periksa aja, kan?”

Ten benar, daripada menebak-nebak memang sebaiknya aku memeriksakan kandunganku. Tapi, aku malah takut hasilnya jauh dari ekspetasiku.

“Tapi aku takut ....”

Bukannya marah karena jawabanku yang terkesan plin plan, Ten malah kembali memintaku untuk masuk ke dalam pelukannya. “Dokternya nggak gigit, dan bakal ada aku juga yang nemenin kamu. Jadi, apa yang ditakutin?”

“Ya hasilnya lah, Ten.”

“Nggak perlu takut, sayang. Apapun hasilnya, aku nggak bakal ninggalin kamu.”

Sederhana, tapi kalimat terakhir Ten sukses membuat perasaanku membaik. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari mataku, alih-alih kini aku mulai merasa mengantuk dan aku pun sukses tertidur dalam pelukan Ten.

*

Tiga hari kemudian, aku berhasil membuat janji dengan dokter kandungan di salah satu rumah sakit di kawasan Bintaro. Jangan heran kenapa aku memilih RS di Bintaro padahal aku sudah tidak lagi tinggal di rumah lamaku.

Semua ini karena aku mau punya dokter kandungan yang sama dengan Kak Alyssa, istri dari kakakku, Kun. Kak Alyssa sukses melahirkan seorang anak laki-laki alias keponakanku dengan bantuan dokter ini.

“Halo, selamat sore ...” sapa dokter kandunganku yang bernama dokter Frida dengan ramah.

“Sore, Dok ...” jawabku sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter. Ten yang ikut mengantar, duduk di kursi sebelahku.

“Adik iparnya Alyssa, ya?” tanya dokter Frida sebagai awal mula perkenalan kami.

“Hehe, iya, Dok. Suaminya kakak saya.”

Dokter Frida mengangguk-angguk, lalu ia memintaku untuk berganti pakaian dengan gaun pasien sebelum ia mulai memeriksa kandunganku.

Pemeriksaannya berlangsung cukup lama, awalnya dokter Frida hanya memeriksa dengan sebuah alat yang dioles-oles di atas perutku yang kuketahui sebagai USG. Tapi karena sepertinya ia kurang puas dengan hasilnya, ia meminta izinku untuk memeriksa dengan cara lain, yaitu dengan USG Transvagina* dan HSG*.

Selesai diperiksa, aku kembali duduk di sebelah Ten yang menunggu pemeriksaanku dengan sabar. Sepertinya wajahku terlihat kusut, karena Ten terus menggenggam tanganku dan menghiburku dengan berbisik, “It's alright, Jo. Ada aku.”

“Jocelyn, kamu pernah konsumsi obat-obatan steroid berlebihan?”

Pertanyaan dokter Frida mengundang kerutan di dahiku. “Apa itu, Dok?”

“Semacam obat untuk alergi, gatal-gatal, flu.”

Aku menggeleng ragu. “Nggak, Dok. Saya kalau nggak enak badan cuma minum Paracetamol aja.”

Dokter Frida menggangguk-angguk pelan lalu ia menaruh pulpennya dan melipat kedua tangannya di atas meja. “Jadi gini, saya menemukan adanya gangguan ovulasi di tubuh Jocelyn. Besar kemungkinan karena adanya konsumsi obat-obatan dengan dosis yang berlebihan.”

Aku tertunduk lemas. Jujur saja, aku merasa gaya hidupku sehat sehingga aku jarang sekali mengonsumsi obat-obatan aneh. Tapi, apa kata dokter Frida barusan? Gangguan ovulasi? Konsumsi obat-obatan.

“Dok, tapi Jocelyn baik-baik aja, kan?” Terdengar Ten yang membalas kalimat dokter Frida barusan.

“Jocelyn baik-baik saja, kita bisa lakukan perawatan untuk rahim Jocelyn.”

Setelah kalimat itu, aku tidak bisa lagi fokus di sesi konsultasiku dengan dokter Frida, karena aku kini ingat obat-obatan yang dimaksud dokter Frida.

“Devan sialan,” umpatku dalam hati. Seperti kembali membuka luka lama, aku ingat beberapa kali Devan memberikanku beberapa obat yang diakuinya sebagai vitamin. Bodohnya, aku percaya begitu saja dengan kata-katanya. Belum lagi kejadian naas di hotel waktu itu ... entahlah obat apa yang sukses membuatku terkapar tidak berdaya kala itu.

“Jo? Jocelyn? Are you okay?” Suara Ten memanggilku dari lamunan burukku. Begitu aku sadar, refleks tangisku pecah, membuat Ten dan dokter Frida sama-sama kebingungan dengan sikapku saat ini.

“Jo? Jocelyn? Margareth Jocelyn?” Ten beberapa kali memanggilku sambil mengguncang pelan tubuhku, tapi tidak kugubris.

“Dok, maaf banget, sesi konsultasinya boleh sampai di sini dulu? Saya mau coba tenangin Jocelyn dulu.” Kudengar Ten berpamitan pada dokter Frida dan dokter itu mengiyakannya dengan ramah.

“Oke, nggak papa. Kalau ada apa-apa, hubungi saya aja. Oh ya, nomor Whatsapp saya, tanya ke Alyssa aja, ya?”

Kulihat Ten mengangguk menjawab pertanyaan dokter Frida dan setelah itu ia segera merangkulku dan kami keluar dari ruang praktek dokter Frida.

Sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh dari ruang praktek dokter Frida karena kini Ten mengajakku untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia di lorong rumah sakit.

“Jocelyn, kamu kenapa?”

“Devan, Ten. Devan ...” jawabku sebisa mungkin. “Obat-obatan itu pasti Devan ...”

Ten menghela nafas dengan kasar. Sekilas kulihat matanya memancarkan kilat amarah, tapi sedetik kemudian berganti menjadi tatapan lembut ke arahku.

It's okay, Jo. It's okay ...” hibur Ten sambil merengkuhku untuk masuk ke dalam pelukannya, lalu ia mengusap-usap pelan punggungku.

“Aku nggak baik-baik aja, Ten. Semua ini salah aku. Gimana kalau sampai aku nggak bisa hamil dan punya anak, Ten? Apa kata keluarga kita? Terutama keluarga kamu?”

Ten tidak langsung menjawab keluh kesahku. Ia tahu, aku sedang dalam keadaan emosi yang tidak baik. Mau menjawab dengan kalimat apapun pasti tidak akan bisa langsung menghibur perasaanku saat ini.

“Jo, coba liat aku,” ucap Ten setelah beberapa saat ia mengizinkanku untuk menangis dalam pelukannya.

Dengan mata sembab aku menatap mata Ten yang teduh.

“Jo, yang penting sekarang kesehatan kamu. Aku mau mulai detik ini kita fokus sama kesehatan rahim kamu dan juga seluruh tubuh kamu. Urusan anak apalagi keluarga aku dan kamu, itu belakangan. I'll face it kalau-kalau ada pertanyaan 'kapan punya anak' dari keluarga kita. Yang penting kamu ya, sayang?”

“Tapi, Ten. Kalau sampe aku ngga bisa sembuh gimana?”

“Berarti kita emang ditakdirkan buat hidup berdua aja. Atau mungkin kita bisa adopsi anak? Kita bantu anak-anak yang terlantar di luar sana.”

“Ten, are you okay?

Ten mengangguk pelan. “Sure. Bagi aku yang terpenting itu kamu, Jo. Nothing else matter.

Sejujurnya jawaban Ten belum bisa menghiburku sepenuhnya, tapi aku sangat menghargai usahanya untuk membuatku merasa lebih baik. Kini gantian aku memeluk tubuh jangkung suamiku, kali ini bukan untuk menangis, tapi untuk berterima kasih padanya.

Terima kasih, karena selalu mencintaiku tanpa syarat.

Sudah lima hari sejak Nata masuk ICU, tapi sayangnya belum ada perkembangan dari perempuan itu. Selama lima hari itu juga Hendery menghabiskan waktunya di rumah sakit demi mengikuti kondisi Nata.

Sore ini Hendery diizinkan untuk menemui Nata di ruang ICU. Dengan pakaian khusus yang disediakan rumah sakit, Hendery memasuki ruangan yang penuh dengan berbagai macam peralatan medis. Dirinya berusaha untuk tidak menitikan air mata kala melihat perempuan yang paling ia cintai terbaring lemas dengan berbagai macam selang dan benda asing lainnya menempel di tubuhnya.

“Nat, tidurnya pules banget. Nggak kangen sama aku? Padahal aku kangen banget sama kamu, lho, Nat.” Hendery mengawali percakapannya dengan Nata. Tidak ada jawaban, hanya suara dari bedside monitor yang terdengar, mewakilkan detak jantung Nata yang terdengar stabil.

“Nat, sekarang ini lagi nyerah, ya? Lagi capek, ya? Makanya kamu tidur terus-terusan begini? Kalau iya, boleh kok, kamu istirahat sebentar. Tapi abis ini kamu bangun lagi, ya? Kita berjuang lagi sama-sama. Aku bakal selalu nemenin kamu. Oke?”

Hendery kembali memandangi Nata, bahkan dalam keadaan terlemahnya pun Nata selalu terlihat cantik di mata Hendery. Ia kemudian mengeluarkan kotak kecil yang dari lima hari lalu selalu berada di saku celananya dan dibukanya hati-hati.

“Nat, aku udah siapin hadiah buat kamu, untuk jawaban kamu waktu kita jalan-jalan ke Perpus waktu itu. Kalau kamu udah cukup istirahatnya, kamu bangun, ya? Aku mau pasang cincinnya di jari kamu. Pasti bakal cantik banget deh, sama kayak kamu.”

Obrolan monolog Hendery terpaksa harus selesai karena perawat yang bertugas di sana meminta Hendery untuk segera menyudahi kunjungannya. Hendery menuruti permintaan perawat itu, ia pun segera mencium pelan kening Nata dan keluar dari ICU.

Di luar ruang ICU, Hendery bertemu dengan ayah Nata yang baru saja datang. Lelaki paruh baya itu sepertinya segera ke rumah sakit begitu jam kerjanya usai, terbukti dari setelan jas lengkap yang masih dikenakannya.

“Hendery, bisa kita bicara sebentar?” tanya ayah Nata. Hendery hanya mengangguk kemudian ayah Nata membawanya ke pojok lorong rumah sakit yang buntu, tidak jauh dari ruang ICU Nata.

“Hendery, barusan Om bertemu dengan dokter Satria. Beliau bilang, peluang Nata untuk membaik tidak terlalu besar. Operasi atau tidak operasi memiliki resiko yang sama untuk Nata.”

Ayah Nata terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Maksud dari pembicaraan ini, Om dan tante mau memberikan kamu kebebasan. Kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, kami berdua nggak mau kamu jadi nggak memiliki kebebasan karena Nata.”

“Maksud Om?” Hendery buru-buru menyelak ucapan ayah Nata karena perasaannya mulai tidak enak.

“Hendery boleh pergi tinggalin Nata. Kamu masih muda, masih bisa punya pasangan yang lebih baik dari Nata. Masih bisa punya masa depan yang lebih baik juga. Maaf kalau Om terdengar lancang—”

“Saya nggak akan pernah ninggalin Nata, Om. Saya sudah janji sama Nata dan saya nggak akan pernah ingkar dengan janji saya. Selama saya masih hidup, saya akan terus temenin Nata.”

“Tapi, Hendery—”

“Maaf, Om. Saya bisa paham niat baik Om. Tapi di sini, saya yang bisa memutuskan apakah saya akan tinggalin Nata atau enggak. Dan detik ini juga saya sudah memutuskan, kalau saya tidak akan pernah meninggalkan Nata. Om nggak perlu khawatir sama saya, saya masalah kalau seumur hidup harus mengurus Nata, yang penting saya terus bisa sama perempuan yang paling saya sayangi.”

Air mata ayah Nata membasahi wajah pria itu. Kedua tangannya memegang bahu Hendery, kepalanya tertunduk lemas. Hendery dapat merasakan sebagian besar beban yang dipikul ayah Nata di bahunya.

“Makasih ya, Hendery. Makasih banget ... Maaf Om kalau Om meragukan kamu ... Bukannya apa-apa, tapi ...”

Kalimat ayah Nata terputus, berganti dengan isakan pelan yang selama ini ia coba tahan sebisa mungkin. Hendery pun memberi ruang untuk ayah Nata meluapkan kesedihannya karena ia mengerti dan sadar, pria ini tidak akan pernah menangis di depan anak dan istrinya; sama halnya dengan Hendery yang tidak akan pernah menangis di depan Nata agar perempuan itu tidak semakin sedih.