Telling the Truth
Seperti habis tertangkap basah melakukan suatu kesalahan, begitu masuk ke dalam kamar Yangyang, Ten hanya menundukkan kepalanya.
Di dalam kamar itu ternyata hadir juga Hendery dan Dejun dan tidak ketinggalan binatang peliharaan mereka; Louis, Leon dan Bella.
“Cewek yang lo maksud siapa?” tanya Kun tanpa basa-basi. Selain Ten, member lain melempar pandang satu sama lain dan terdiam. Tidak ada yang berani menyelak atau bercanda kalau nada bicara Kun sudah terdengar serius.
“Cewek apa? Nggak ada cewek.”
“Bohong. Gue baca isi chat lo sama Yangyang,” balas Kun cepat dan berganti ia menatap Yangyang. “Dan lo kenapa rahasiain ini dari gue dan member lain?”
Yangyang yang tadinya masih terlihat santai kini juga ikut menunduk. “Sorry, hyung. Karena tadinya gue pikir nggak bakal sepanjang ini.”
Kun menghela nafas panjang. “Kan udah gue bilang, kalo ada apa-apa tuh cerita. Nggak boleh ada yang diumpetin satupun di antara kita semua.”
“Gue bukannya mau ngumpetin, Kun. Gue cuma gak mau bikin rame aja karena, ya, sejujurnya ini bukan masalah gede kok.”
“Kalo ketauan manager hyung tau lo baca DM dari fans apalagi sampe bukain profile instagram-nya, mau apa? Kita semua pasti bakal disidang rame-rame.”
Kali ini Ten yang menghela nafas seperti melepas beban berat di pundaknya. Memang berat beban dan tanggung jawab yang harus ia pikul sebagai seorang idola, setara dengan ketenaran yang ia dapatkan.
“But I swear gue mau udahan, nggak mau baca lagi DM-nya.”
“Lo ngomong kayak gitu sama Yangyang dua bulan lalu, tapi kenyataannya mana?”
Merasa situasi di dorm WayV malam itu semakin memanas, Hendery angkat bicara.
“Gue boleh ya, speak up? Menurut gue, Ten hyung emang salah karena nggak cerita ke kita-kita. Tapi Kun ge juga jangan terlalu mojokin Ten hyung, karena kenyataannya sampe saat ini kan nggak ada hal aneh terjadi. Ten hyung masih tahu batasan idol dan fans.”
“Gue nggak bermaksud mojokin Ten, gue cuma mau dia dan kita semua di sini tuh aware dan nggak ngegampangin sesuatu, karena kita nggak tau sewaktu-waktu hal yang mungkin kita sepelein, bisa jadi boomerang buat kita.”
Dejun dan Yangyang kompak manggut-manggut tanda setuju dengan pernyataan sang leader.
“Oke oke. Kun, gue minta maaf, karena gue udah bikin keributan ini. Gue juga minta maaf ke Yangyang karena dia jadi keseret-seret di sini secara personal. Gue janji nggak akan gini lagi guys, karena kedepannya kita punya banyak schedule.”
“Oke Ten, gue tau, lo cukup dewasa buat urusan seperti ini. Lo tau batasan idol dan fans, so, case closed, ya? Nggak usah pikirin cewek itu lagi. Kalo perlu nggak usah dibuka juga DM-nya. Inget, lo sendiri bakal punya solo SM Station dan unit sama Yangyang. Fokus ke situ.”
“Iya, thanks Kun,” balas Ten singkat, kemudian Kun menepuk pelan pundak Ten yang terlihat turun karena rasa bersalahnya.
“Ini case closed, ya?” tanya Hendery meyakinkan dengan nada bicaranya yang riang, berusaha mencairkan suasana di asrama mereka.
Yangyang mengangguk. “Iya, hyung. Udah gih, kalian balik kamar masing-masing sana. Jangan ngumpul di kamar gue,” sambung Yangyang setengah mengusir.
“Makan ramen dulu lah, gimana? Laper nih abis nonton perdebatan sengit.”
Yangyang refleks melempar bantal tidurnya ke Hendery, sementara Kun dan Ten tersenyum tipis bersama dengan Dejun yang sibuk menggendong Bella.
“Yaudah yuk, ramen. Gue yang masak. Laper juga abis nyeramahin si Chittaphon,” tutup Kun sambil berjalan keluar dari kamar Yangyang, diikuti keempat member lainnya.