Agape
selfless, sacrificial and unconditional love; persists no matter the circumtance.
22 April 2023
Hari ini umur pernikahanku dengan Ten genap berusia dua tahun. Tidak terasa segala dinamika kehidupan pernikahan ini dapat kami lalui dengan cukup baik.
Masalah datang silih berganti, mulai dari yang paling sederhana sampai yang cukup kompleks. Dan aku bersyukur, seberat apapun masalah yang ada, aku dan Ten tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang hanya akan menyakiti satu sama lain. Biasanya kalau kami sedang beda pendapat, kami akan sama-sama diam untuk sementara waktu, sampai diri kami masing-masing merasa lebih tenang, baru setelah itu kami akan selesaikan masalah yang ada dengan kepala dingin.
Selama dua tahun ini juga, kami berusaha untuk lebih mengenal dan menerima luar dalam satu sama lain, walaupun kenyataannya ada beberapa hal yang masih sulit aku terima dari seorang Ten.
Sifatnya yang perfeksionis, apalagi kalau sudah bicara tentang pekerjaannya, kadang membuatku pusing sampai aku tidak tahu harus bicara apalagi. Bukannya aku tidak mengizinkan Ten untuk bekerja sesempurna mungkin, tapi laki-laki satu ini kalau sudah bekerja suka sekali lupa waktu.
Pernah aku memergoki Ten menghabiskan waktu tidurnya hanya untuk mendesain sesuatu yang sebenarnya bisa ia kerjakan di waktu luangnya. Ditambah, ia menghabiskan beberapa batang rokok dan gelas kopi untuk menemaninya bekerja. Saat aku tahu hal ini di pagi harinya, aku langsung marah dan mendiami Ten selama beberapa hari.
Namun, bukan Ten namanya kalau tidak berjuang mati-matian untuk mendapatkan maaf dariku. Berbagai cara ia coba; mulai dari cuti, menitipkan Louis Leon pada Winwin—sahabat a.k.a partner di kantornya, sampai mengajakku keluar jalan-jalan.
Awalnya aku menolak; enak saja, masalah seserius ini diselesaikan dengan cara sepele. Tapi ternyata dibalik ajakan jalan-jalan itu, dia menceritakan alasan kenapa dia rela begadang demi pekerjaannya. Dia juga menceritakan keadaan kantornya yang membuatku tidak enak hati sendiri.
Hebatnya, dengan segala kerendahan hati Ten mengakui kalau dia tetap salah. Dan dia berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatan yang dapat membahayakan kesehatannya. Aku pun tidak tega kalau harus mendiaminya lama-lama karena selama aku diam padanya, Ten tetap memperlakukanku dengan baik seperti hari-hari biasa. Padahal kalau dia mau marah kan, bisa-bisa saja. Siapa yang betah dicuekkin berhari-hari? Hehe iya, aku, dulu.
Berhubung Ten sudah menjelaskan situasinya dan aku bisa menerima alasannya, akhirnya Ten berhasil mendapatkan maafku dan aku kembali berbicara padanya. Perasaannya bahagia bukan main sampai sepanjang acara jalan-jalan kami itu, ia tidak berhenti tersenyum.
Dasar, laki-laki yang selalu bisa meluluhkan hatiku.
Sekarang di umur pernikahan dua tahun ini, rasanya tidak adil kalau selalu aku yang mendapatkan cinta berlebih dari Ten. Aku juga mau memberikannya sesuatu yang dapat membuatnya bahagia, sesuatu yang diidam-idamkan siapapun yang sudah menikah.
Iya, aku ingin memberikan keturunan untuk Ten.
Ten bukannya tidak tahu impianku ini. Ia tahu betul, tapi dia tidak pernah menuntutku atau memburu-buruiku untuk memiliki keturunan. Selalu yang dikatakan padaku, “Pelan-pelan aja, Jo. Rejeki nggak kemana.”
Masalahnya, bukan aku saja yang menginginkan keturunan. Keluarga besarku dan Ten diam-diam suka menghubungiku, menanyakan kenapa sampai dua tahun ini aku belum juga memiliki seorang anak. Awalnya aku mau menceritakan hal ini pada Ten, tapi kuurungkan niatku karena kulihat lelaki itu sudah cukup ribet dengan pekerjaannya.
Bukan masalah besar, pikirku. Aku bisa menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang sama dengan Ten, “Rejeki anak sudah ada yang atur.”
Tapi lambat laun pertanyaan mereka menjadi kegelisahan tersendiri bagiku.
Pernah di satu bulan, tamu bulananku datang terlambat. Diam-diam aku membeli beberapa test pack dan berniat untuk memberi kejutan pada Ten. Tapi, ternyata aku salah. Semua hasilnya negatif dan, ya ... dua hari setelah tes kehamilan, tamu bulananku datang.
Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis. Menangis karena kini aku membenci tubuhku sendiri. Aku yakin ada yang salah dengan tubuhku ini, tapi aku masih terlalu takut untuk mengutarakannya kepada Ten.
*
“Jo.” Suara Ten membuyarkan lamunanku. Saat ini aku sedang duduk termenung di ruang tengah, kembali teringat dengan tes kehamilan konyol yang kulakukan minggu lalu.
“Kamu seminggu ini kenapa? Ada masalah di coffee shop Olin?” Ten kembali bersuara seraya berjalan menghampiriku. Ia memberikan segelas teh chamomile hangat yang selalu kuminum sebelum tidur.
“Hah? Enggak. Everything's fine,” jawabku setengah berbohong. Kedai kopi Olin memang baik-baik saja, yang nggak baik-baik saja 'kan diriku saat ini.
“Tapi kamu banyak bengongnya. Bahkan kemarin sampe lupa matiin kompor. Ada apa, Jo?”
Percuma saja menutupi sesuatu dari Ten, karena lelaki ini cepat lambat akan menyadari ada yang salah denganku. Dan kalau sudah didesak seperti ini, mau tidak mau aku harus jujur padanya.
“Aku kepikiran masalah anak, Ten.”
Ten diam sebentar, lalu setelah ia menyeruput teh miliknya, ia menaruh cangkirnya dan menatapku dari samping lekat-lekat.
“Kita udah pernah bicarain hal ini, kan, Jo? Tenang aja, nanti ada waktunya.”
“Tapi udah dua tahun , Ten. Nggak, satu setengah tahun deh, dari sejak aku berani buat berhubungan sama kamu. Masa sih, satupun nggak ada yang berhasil? Sepayah itukah aku?”
“Jo, nggak gitu—”
“Terus apa?” Nada bicaraku mulai meninggi. Oke, aku tahu emosiku sudah mulai sulit dikontrol dan sebelum semakin tidak terkendali, aku segera meninggalkan Ten sendirian di sofa.
“Jo, tidur?” tanya Ten yang buru-buru menyusuliku ke kamar.
“Iya,” jawabku cepat lalu aku segera berbaring di kasur dan menghadap ke arah yang berlawanan dari Ten. Beberapa saat kemudian aku bisa merasakan Ten memelukku dari belakang, mencoba untuk meredakan emosiku.
“Jo, maaf kalau kesannya aku ngegampangin tentang impian kamu buat punya anak. Tapi aku serius, Jo, rejeki itu sudah ada yang atur.”
Sepertinya karena sudah memendam perasaan ini terlalu lama, sekarang seluruh emosiku tumpah dalam bentuk sebuah tangisan pelan.
“Ten, aku tuh takut ada yang salah sama diri aku. I'm questioning this every day, like, temen aku yang baru nikah bulan lalu aja sekarang udah isi. Masa aku udah dua tahun sama kamu ...”
Kalimatku terputus karena aku tidak sanggup untuk melanjutkannya. Tangisku semakin menjadi dan Ten semakin memelukku erat. Dengan pelan ia membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, agar ia bisa mendekapku lebih erat lagi.
“Jo, kamu setakut itu kah? Perlu kita ke obgyn?” tanya Ten pelan sambil mengusap-usap kepalaku.
Aku berusaha menghentikan tangisku dan sedikit meminta Ten melonggarkan pelukannya agar aku bisa menatap wajahnya. “Obgyn?”
Ten mengangguk. “Iya, obgyn. Daripada kamu terus-terusan nyalahin diri kamu sendiri, better kita periksa aja, kan?”
Ten benar, daripada menebak-nebak memang sebaiknya aku memeriksakan kandunganku. Tapi, aku malah takut hasilnya jauh dari ekspetasiku.
“Tapi aku takut ....”
Bukannya marah karena jawabanku yang terkesan plin plan, Ten malah kembali memintaku untuk masuk ke dalam pelukannya. “Dokternya nggak gigit, dan bakal ada aku juga yang nemenin kamu. Jadi, apa yang ditakutin?”
“Ya hasilnya lah, Ten.”
“Nggak perlu takut, sayang. Apapun hasilnya, aku nggak bakal ninggalin kamu.”
Sederhana, tapi kalimat terakhir Ten sukses membuat perasaanku membaik. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari mataku, alih-alih kini aku mulai merasa mengantuk dan aku pun sukses tertidur dalam pelukan Ten.
*
Tiga hari kemudian, aku berhasil membuat janji dengan dokter kandungan di salah satu rumah sakit di kawasan Bintaro. Jangan heran kenapa aku memilih RS di Bintaro padahal aku sudah tidak lagi tinggal di rumah lamaku.
Semua ini karena aku mau punya dokter kandungan yang sama dengan Kak Alyssa, istri dari kakakku, Kun. Kak Alyssa sukses melahirkan seorang anak laki-laki alias keponakanku dengan bantuan dokter ini.
“Halo, selamat sore ...” sapa dokter kandunganku yang bernama dokter Frida dengan ramah.
“Sore, Dok ...” jawabku sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan sang dokter. Ten yang ikut mengantar, duduk di kursi sebelahku.
“Adik iparnya Alyssa, ya?” tanya dokter Frida sebagai awal mula perkenalan kami.
“Hehe, iya, Dok. Suaminya kakak saya.”
Dokter Frida mengangguk-angguk, lalu ia memintaku untuk berganti pakaian dengan gaun pasien sebelum ia mulai memeriksa kandunganku.
Pemeriksaannya berlangsung cukup lama, awalnya dokter Frida hanya memeriksa dengan sebuah alat yang dioles-oles di atas perutku yang kuketahui sebagai USG. Tapi karena sepertinya ia kurang puas dengan hasilnya, ia meminta izinku untuk memeriksa dengan cara lain, yaitu dengan USG Transvagina* dan HSG*.
Selesai diperiksa, aku kembali duduk di sebelah Ten yang menunggu pemeriksaanku dengan sabar. Sepertinya wajahku terlihat kusut, karena Ten terus menggenggam tanganku dan menghiburku dengan berbisik, “It's alright, Jo. Ada aku.”
“Jocelyn, kamu pernah konsumsi obat-obatan steroid berlebihan?”
Pertanyaan dokter Frida mengundang kerutan di dahiku. “Apa itu, Dok?”
“Semacam obat untuk alergi, gatal-gatal, flu.”
Aku menggeleng ragu. “Nggak, Dok. Saya kalau nggak enak badan cuma minum Paracetamol aja.”
Dokter Frida menggangguk-angguk pelan lalu ia menaruh pulpennya dan melipat kedua tangannya di atas meja. “Jadi gini, saya menemukan adanya gangguan ovulasi di tubuh Jocelyn. Besar kemungkinan karena adanya konsumsi obat-obatan dengan dosis yang berlebihan.”
Aku tertunduk lemas. Jujur saja, aku merasa gaya hidupku sehat sehingga aku jarang sekali mengonsumsi obat-obatan aneh. Tapi, apa kata dokter Frida barusan? Gangguan ovulasi? Konsumsi obat-obatan.
“Dok, tapi Jocelyn baik-baik aja, kan?” Terdengar Ten yang membalas kalimat dokter Frida barusan.
“Jocelyn baik-baik saja, kita bisa lakukan perawatan untuk rahim Jocelyn.”
Setelah kalimat itu, aku tidak bisa lagi fokus di sesi konsultasiku dengan dokter Frida, karena aku kini ingat obat-obatan yang dimaksud dokter Frida.
“Devan sialan,” umpatku dalam hati. Seperti kembali membuka luka lama, aku ingat beberapa kali Devan memberikanku beberapa obat yang diakuinya sebagai vitamin. Bodohnya, aku percaya begitu saja dengan kata-katanya. Belum lagi kejadian naas di hotel waktu itu ... entahlah obat apa yang sukses membuatku terkapar tidak berdaya kala itu.
“Jo? Jocelyn? Are you okay?” Suara Ten memanggilku dari lamunan burukku. Begitu aku sadar, refleks tangisku pecah, membuat Ten dan dokter Frida sama-sama kebingungan dengan sikapku saat ini.
“Jo? Jocelyn? Margareth Jocelyn?” Ten beberapa kali memanggilku sambil mengguncang pelan tubuhku, tapi tidak kugubris.
“Dok, maaf banget, sesi konsultasinya boleh sampai di sini dulu? Saya mau coba tenangin Jocelyn dulu.” Kudengar Ten berpamitan pada dokter Frida dan dokter itu mengiyakannya dengan ramah.
“Oke, nggak papa. Kalau ada apa-apa, hubungi saya aja. Oh ya, nomor Whatsapp saya, tanya ke Alyssa aja, ya?”
Kulihat Ten mengangguk menjawab pertanyaan dokter Frida dan setelah itu ia segera merangkulku dan kami keluar dari ruang praktek dokter Frida.
Sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh dari ruang praktek dokter Frida karena kini Ten mengajakku untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia di lorong rumah sakit.
“Jocelyn, kamu kenapa?”
“Devan, Ten. Devan ...” jawabku sebisa mungkin. “Obat-obatan itu pasti Devan ...”
Ten menghela nafas dengan kasar. Sekilas kulihat matanya memancarkan kilat amarah, tapi sedetik kemudian berganti menjadi tatapan lembut ke arahku.
“It's okay, Jo. It's okay ...” hibur Ten sambil merengkuhku untuk masuk ke dalam pelukannya, lalu ia mengusap-usap pelan punggungku.
“Aku nggak baik-baik aja, Ten. Semua ini salah aku. Gimana kalau sampai aku nggak bisa hamil dan punya anak, Ten? Apa kata keluarga kita? Terutama keluarga kamu?”
Ten tidak langsung menjawab keluh kesahku. Ia tahu, aku sedang dalam keadaan emosi yang tidak baik. Mau menjawab dengan kalimat apapun pasti tidak akan bisa langsung menghibur perasaanku saat ini.
“Jo, coba liat aku,” ucap Ten setelah beberapa saat ia mengizinkanku untuk menangis dalam pelukannya.
Dengan mata sembab aku menatap mata Ten yang teduh.
“Jo, yang penting sekarang kesehatan kamu. Aku mau mulai detik ini kita fokus sama kesehatan rahim kamu dan juga seluruh tubuh kamu. Urusan anak apalagi keluarga aku dan kamu, itu belakangan. I'll face it kalau-kalau ada pertanyaan 'kapan punya anak' dari keluarga kita. Yang penting kamu ya, sayang?”
“Tapi, Ten. Kalau sampe aku ngga bisa sembuh gimana?”
“Berarti kita emang ditakdirkan buat hidup berdua aja. Atau mungkin kita bisa adopsi anak? Kita bantu anak-anak yang terlantar di luar sana.”
“Ten, are you okay?“
Ten mengangguk pelan. “Sure. Bagi aku yang terpenting itu kamu, Jo. Nothing else matter.“
Sejujurnya jawaban Ten belum bisa menghiburku sepenuhnya, tapi aku sangat menghargai usahanya untuk membuatku merasa lebih baik. Kini gantian aku memeluk tubuh jangkung suamiku, kali ini bukan untuk menangis, tapi untuk berterima kasih padanya.
Terima kasih, karena selalu mencintaiku tanpa syarat.