Liebesleid
Liebesleid; love's sorrow
2022, Januari
Hendery melangkahkan kakinya di sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Tahun lalu, tepatnya sepanjang 2021, ia bisa mengunjungi tempat itu minimal sekali dalam seminggu. Tapi kali ini, tidak ada alasan lagi untuk ia datang ke sana.
Kedatangannya pagi hari ini ke tempat itu hanya untuk berpamitan kepada salah seorang yang menurutnya sudah berjasa selama ini. Karena sudah membuat janji via pesan teks malam sebelumnya, begitu sampai Hendery segera mengetuk pintu ruangan tempat di mana mereka berjanji untuk bertemu.
“Hai, Hendery. Apa kabar?” sapa orang yang ingin Hendery temui itu dengan ramah dan dengan gaun putih yang harus selalu ia kenakan setiap bekerja.
“Pagi, Dok. Kabar baik. Dokter sendiri gimana?” balas Hendery bertanya seraya masuk ke dalam dan duduk berhadapan dengan dokter Satria.
“Ya, seperti yang kamu bisa lihat. Saya selalu seperti ini,” jawab dokter Satria sambil tersenyum tenang. “By the way, sudah merasa lebih baik?” Dokter Satria menyambung kalimatnya dengan sebuah pertanyaan.
Hendery hanya tersenyum simpul. “Sedikit, Dok.”
“Bagus, setidaknya ada kemajuan.”
Kemudian Hendery terdiam sebentar sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuannya menemui dokter Satria pagi hari ini.
“Dok, maksud saya ke sini pagi ini, saya mau berterima kasih. Terakhir kali kita ketemu, saya nggak bilang apa-apa sama Dokter, padahal Dokter yang paling banyak berjasa dalam pengobatan Nata selama ini.”
Dokter Satria tersenyum tipis mendengar kalimat Hendery.
“Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita, Dok. Sekali lagi, terima kasih banyak, Dok, selama ini sudah banyak sekali bantu Nata. Maaf kalau saya pernah ngelakuin atau berkata sesuatu yang nggak berkenan di hati Dokter Satria.”
“Sudah jadi tugas dan kewajiban saya untuk bantu Nata, Hendery,” balas dokter Satria singkat.
Hendery bangkit dari duduknya lalu ia mengulurkan tangan dan dokter Satria membalas uluran tangan itu dengan tangan kirinya sambil menepuk pelan pundak Hendery.
“Semangat ya, Hendery. Selalu jaga kesehatanmu.”
Hendery mengangguk mengerti, kemudian setelah itu ia melepaskan jabatan tangannya dengan dokter Satria dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
*
Dalam kurun waktu kurang dari 60 menit, Hendery sudah tiba di destinasi berikutnya. Sekarang ia sedang duduk di sebuah kapal yang akan membawanya pergi ke suatu tempat.
Tidak lama setelah Hendery duduk, kapal itu berangkat. Sepanjang perjalanan, Hendery memilih untuk duduk di tepi kapal, memandangi hamparan laut luas yang tak berujung. Ia memejamkan mata, menghirup udara asin sebanyak mungkin di sana dan mencoba mengurai pikirannya yang masih saja kusut.
*
Suara awak kapal membangunkan Hendery dari tidur singkatnya; akhirnya ia tiba di tujuan akhirnya. Hanya dengan tas ransel dan kacamata hitam andalannya, ia turun dari kapal. Ia segera pergi ke tempat penginapan yang sudah ia booking jauh-jauh hari dan setelah berhasil check in, ia merebahkan diri sepenuhnya di atas kasur.
Matanya kembali terpejam. Walaupun seharian ini ia hampir tidak melakukan apa-apa, tapi perjalanan laut ternyata menguras tenaganya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah istirahat dan dalam sekejap ia memenuhi kebutuhannya itu; ia tertidur pulas.
*
Sudah dua hari Hendery habiskan di Pulau Harapan, pulau yang ia pilih untuk melepaskan penatnya. Selama dua hari itu tidak ada yang ia lakukan selain menikmati keindahan pulau itu atau bersantai di kamar penginapannya sambil menonton acara TV yang menarik perhatiannya. Ia sengaja tidak menyentuh ponselnya dan berhubungan dengan siapapun dengan alasan ia sedang ingin menyendiri.
Tujuan utama Hendery sebenarnya adalah untuk memulihkan hati dan pikirannya pasca kepergian Nata. Bulan November-Desember tahun lalu ia berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa hancur, tatkala perempuan yang ia yakini sebagai sebagian dari jiwanya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Pasca kepergian Nata, Hendery belum bisa berdamai dengan kenyataan; ia belum bisa berjalan berdampingan dengan rasa kehilangan. Untungnya ia tidak sendiri, ada sahabat-sahabatnya yang selalu hadir dan berusaha membantu dirinya untuk bangkit hingga awal tahun ini, Hendery tersadar kalau ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kedukaan.
Satu persatu hal-hal yang dulu Hendery tinggalkan, kini kembali ia lakukan.
Ia kembali berkumpul, bermain dengan teman-temannya. Ia kembali belajar drum, dengan tujuan untuk menambah skill-nya. Ia juga mulai belajar berbisnis dengan sang ayah, sesuatu yang selama ini ia abaikan karena dulunya ia tidak ingin meneruskan usaha ayahnya.
Dan hal terakhir yang ia lakukan, yaitu hal yang sedang ia kerjakan saat ini; mengunjungi Nata. Di awal kepergian Nata, lelaki itu justru tidak pernah datang mengunjungi perempuan itu. Alasannya sederhana, ia takut.
Tapi sekarang, ia sudah mengumpulkan keberaniannya, mencoba melawan ketakutannya. Kedatangannya ke pulau ini selain untuk memulihkan hatinya, juga untuk mengunjungi perempuan yang bersemayam di hamparan samudera luas itu.
Di hari ketiga alias hari terakhir-nya di pulau Harapan, Hendery memutuskan untuk menghabiskan sore hari di pantai. Setelah sedikit berberes untuk pulang besok pagi, ia keluar dari kamar penginapannya.
Hendery berjalan menyusuri bibir pantai, merasakan air laut yang hangat akibat sinar matahari dan pasir pantai yang menggelitik telapak kakinya. Setelah puas berjalan-jalan, Hendery duduk di pesisir pantai itu.
“Hai, Nat. How's there? I believe Heaven must be good for you.“
Hendery menghela nafas pelan dan diam sesaat sebelum kembali bersuara.
“Maaf, aku baru sempet ngunjungin kamu. Ternyata aku butuh waktu lebih lama untuk bisa berdamai dengan kenyataan dan bisa menerima semua ini. Maaf ya, Nat?”
Kalimat Hendery disambut dengan deburan ombak yang menggulung di pesisir pantai.
Tidak ada lagi kata-kata yang keluar di mulut Hendery karena saat itu ia disuguhkan dengan pemandangan matahari terbenam yang memanjakan mata.
Sebelum hari berubah menjadi gelap, Hendery mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, melipat kertas itu menjadi bentuk perahu dan terakhir, ia kembali menghampiri bibir pantai dan menaruh perahu kertas itu di atas air bersama dengan sebuah cincin di dalamnya.
“Semuanya diterima, ya, Nat? Sekalian aku mau pamitan, besok pagi aku balik ke Jakarta. Kamu istirahat yang tenang ya, Nat? Kapan-kapan aku berkunjung lagi.”
Tidak ada lagi air mata yang tumpah, justru sebuah senyuman menghiasi wajah Hendery. Dan bersamaan dengan sang surya yang kembali ke peraduannya, Hendery juga kembali melangkah pulang ke penginapannya.