D-1, Disaster
Sambil menunggu Sabrina yang katanya bisa keluar kantor jam 4 sore, Ghea memutuskan untuk mengitari mal yang sebenarnya sudah cukup ia hafal seluk-beluknya.
Tempat pertama yang pasti ia kunjungi adalah sebuah toko serba ada di lantai B1 yang kebanyakan isinya adalah make up dan perawatan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Di sana ia bisa menghabiskan waktu hampir 30 menit sendiri dan pastinya, keluar dari toko itu Ghea akan menenteng kantong ramah lingkungannya yang berukuran sedang, berisikan belanjaannya berupa make up baru yang ingin ia coba atau lotion dan sabun mandi dengan aroma berbeda dari yang sudah ia punya di rumah.
Selesai dari toko itu, Ghea akan langsung naik ke lantai satu dan melihat-lihat salah satu toko baju favoritnya, H&M. Di sana kalau ia sedang ingin berbelanja, ia bisa menghabiskan waktu sejam lebih. Tapi karena kedatangannya kali ini hanya untuk menunggu Sabrina, ia hanya sekilas melihat koleksi-koleksi pakaian yang dijual di sana.
Keluar dari H&M, Ghea kembali mengitari lantai demi lantai mal itu hingga ia tiba di kafe langganannya, Starbucks. Ghea melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Sabrina.
“Paling jam 5 keluarnya nih anak,” gumam Ghea pada dirinya sendiri.
Karena ia sudah bosan berkeliling mal, akhirnya ia memutuskan untuk duduk manis di Starbucks sambil meminum ice green tea latte favoritnya.
Antrian sore itu cukup padat, maklum saja lokasinya berada di tengah pusat perkantoran menjadi alasan kuat kenapa kafe ini tidak pernah sepi pelanggan. Seperti Sabrina, banyak pekerja kantoran yang senang membeli kopi atau minuman lainnya untuk menjadi teman perjalanan pulang mereka, atau diminum langsung di tempat sebelum mereka pulang.
Karena antrian yang cukup panjang, Ghea mengutak-atik ponselnya. Tidak ada satupun pesan masuk untuknya. Julio tidak membalas pesan yang ia kirimkan saat jam makan siang tadi.
Beralih ke Instagram, Ghea menemukan update-an dari sang idola. Ia refleks tersenyum. Belakangan ini perempuan itu sudah jarang sekali untuk up to date dengan dunia fangirling-nya karena sibuk mengurus acara pernikahannya.
“Ten looks so good with that hair.” Ghea kembali bergumam pelan.
Bosan bermain ponsel, Ghea mengedarkan pandangannya ke sekeliling Starbucks dan luarnya. Di saat bersamaan, radarnya menangkap sosok yang sangat tidak asing.
Lelaki bertubuh tegap, dengan rambut hitam legam yang tidak terlalu pendek dan bahu bidang, sedang berjalan merangkul mesra seorang perempuan yang tingginya tidak beda jauh dengan Ghea.
Ghea refleks keluar dari barisan antrian Starbucks. Persetan dengan antrian itu karena ia yakin benar lelaki yang dilihatnya adalah calon suaminya alias Julio.
“Julio!” panggil Ghea cukup keras. Suaranya yang lantang mampu menarik perhatian tidak hanya Julio, tapi orang-orang disekitarnya juga.
Yang dipanggil refleks menengok dengan ekspresi sangat terkejut. “G-Ghea?”
Langkah kaki Ghea dengan mantap menghampiri Julio dan tanpa basa-basi ia segera menampar keras lelaki itu.
“Brengsek!” desis Ghea. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga.
“Ghey—”
“Apa?! Mau bohong apalagi?!” potong Ghea dengan suara bergetar. Ia melirik sekilas perempuan di samping Julio yang terlihat ketakutan.
“Aku sama Keisha ngga ada hubungan apa-apa, Ghey. Kita cuma temen.”
“Temen tapi rangkulan mesra??? Lo mau gue percaya sama cerita karangan lo?!” tanya Ghea marah tanpa memedulikan sekitarnya yang kini menjadikan dirinya sebagai bahan tontonan.
“Ghea, ayo kita ngobrol dulu. Aku bisa jelasin semuanya.” Julio berusaha sebisa mungkin meredakan emosi Ghea, tapi sepertinya percuma. Perempuan itu sedang sibuk melepas cincin tunangan dari jari manisnya lalu dilemparnya ke dada Julio.
“Kita batal nikah. Kita putus.”
Dan tanpa menghiraukan Julio yang sibuk memanggil namanya, Ghea terus berjalan meninggalkan lelaki itu dengan pandangan yang semakin kabur akibat air mata yang menggenang di pelupuknya.