Night Strolling
Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat akhirnya aku selesai membersihkan seluruh perkakas dapur yang selalu kugunakan untuk membuat kue pesanan dan juga membersihkan dapurku secara menyeluruh. Karena pinggangku terasa sedikit pegal, akhirnya aku memutuskan untuk bersantai di sofa ruang tengah sambil mengecek ponselku.
Begitu aku duduk di sofa, Louis dan Leon juga kompakan duduk di sisiku. Aku hanya tersenyum tipis melihat mereka akhirnya tidak canggung lagi denganku. Sebenarnya sudah lama sih, sejak dua tahun lalu juga mereka sudah mau perlahan membuka diri padaku karena alasan simple; aku yang selalu memberi mereka makan kalau Ten masih di kantor.
Tapi sekarang kedekatan kami tidak hanya sekedar karena makanan saja, Louis dan Leon sudah mulai mau kalau kugendong bahkan mereka kadang suka bermanjaan di pangkuanku, membuat pemiliknya kadang merasa cemburu.
“Louis, Leon, yang ini punya aku. Kalian nggak boleh manja-manja begitu,” begitu kata Ten. Seperti memahami maksud Ten, biasanya Louis dan Leon akan langsung pergi dari pangkuanku dan lelaki itu akan menggantikan posisi mereka.
“Kalo gini baru aku suka,” sambung Ten yang kadang suka aku balas dengan menyentil pelan dahinya.
Kembali ke cerita awalku, saat menyalakan ponsel kulihat beberapa pesan teks dari Ten di jendela notifikasi.
“Sayang, nggak usah masak buat makan malem ya” “Kita makan malem aja diluar, aku mau ajak kamu pergi” “I'll be home around 6” “See you, love <3”
Aku tersenyum sambil membalas pesannya, menyutujui ajakan makan malamnya hari ini. Begitu pesan terkirim, aku bergegas menyiapkan diri agar Ten tidak perlu menungguku lebih lama lagi.
*
“Kamu mau makan apa?” tanya Ten saat mobil kami sudah keluar dari parkiran gedung apartemen. Waktu kini menunjukkan pukul setengah 8 malam. Tadi saat Ten tiba di rumah, dia minta waktu sebentar untuk mandi dan istirahat sebelum kembali keluar rumah, dan tentu saja aku mengizinkannya.
“Yang ngajakkin aku kan, kamu, Ten. Ya terserah kamu.”
“Emang bener ya, cewek kalo ditanyain makan apa pasti jawabnya terserah.”
Aku refleks meninju pelan lengan kiri Ten. “Ih, bukan gitu. Aku punya alesan kenapa jawab terserah. Denger dong tadi aku ngomong apa.”
Ten menjulurkan lidahnya sedikit. “Nggak denger tuh, bagi aku sama aja jawabannya terserah.”
Kali ini aku hanya melipat kedua tanganku di dada dan bersandar malas di jok kursi penumpang. Ten terkekeh pelan sambil mengusap-usap kepalaku.
“Hehehe ... Canda, Jo.”
“I know, aku juga nggak marah tapi aku emang beneran nggak tau mau makan apa. Sushi bosen, nasi goreng bosen.”
Tangan Ten kembali memegang kemudinya. “Nasi Uduk, mau? Sate Padang? Ketoprak? Atau makan di restoran sekalian? Pasta? Mumpung masih pada buka.”
Aku berpikir sejenak, jujur saja aku tidak memiliki hasrat khusus mau makan apa saat ini, tapi sepertinya Ten memang mau aku yang menentukan menu makan malam hari ini.
“Nasi Uduk deh, pake Ayam Goreng sama Sambel Kacang.”
Ten tersenyum mendengar jawabanku. “Oke, kita otw!”
Dan jadilah kini kami berada di salah satu warung nasi uduk di kawasan Jakarta Pusat. Aku sedikit protes karena jaraknya lumayan jauh dari apartemen tempat tinggal kami, tapi kata Ten ini salah satu nasi uduk terenak di Jakarta.
“Aku dikasih tau Winwin,” ucap Ten setelah menjelaskan kepadaku kenapa harus makan nasi uduk di sini. “Winwin kan hobi wiskul malem tuh, jadi dia suka kasih rekomendasi makanan enak. Ada lagi sih, di belakang Gedung Mulia, kamu tau nggak? Itu juga enak. Nanti deh kapan-kapan kita ke sana.”
Jujur saja walaupun sudah hidup bersama selama hampir empat tahun dengan lelaki ini, kadang aku masih suka kaget kalau mendengar ceritanya yang antusias. Karena keseringannya, Ten menjadi pendengar yang setia dan juga advisor yang baik. Dia jarang sekali bercerita kalau nggak aku paksa untuk cerita.
“Kok kamu nggak respons sih, Jo? Nggak suka ya, aku bahas Winwin? Atau nggak suka aku bahas nasi uduk?”
Aku menggeleng pelan lalu memegang kedua tangannya yang ia taruh di atas meja. “Nggak, aku suka kok. Justru aku suka banget kalau kamu selalu cerita setiap hal ke aku. Aku jadi ngerasa ... apa ya, ngerasa bahagia karena dihargain.”
“So do with me, Jo,” balasnya dengan senyum mengembang di wajahnya. “So, how's your day, Jocelyn?”
Setelah pertanyaan itu, kami berdua tidak berhenti menceritakan apa saja yang terjadi selama seharian ini. Walaupun sebenarnya kegiatan kami hampir sama setiap harinya, Ten dengan dunia web design-nya dan aku dengan dunia baking-ku, tetap saja, selalu ada hal menarik yang bisa kami bahas dari cerita kami dan tidak ketinggalan juga, kami akan selalu memuji satu sama lain di akhir percakapan kami.
“You were doing great job today, Jocelyn. I'm so proud with you.“
Pujian yang bisa kudengar setiap hari tapi tidak pernah sekalipun aku merasa bosan karenanya.
“You too, Ten.“
*
Selesai makan nasi uduk yang ternyata memang beneran enak (thanks to Winwin for his recommendation), kami melanjutkan perjalanan kami yang tanpa arah tujuan. Kalau Ten lebih senang menyebutnya dengan sebutan night strolling.
“Kamu bahagia nggak sih, sama aku?” tanyaku iseng saat mobil kami sedikit tersendat karena padatnya jalanan.
Kulihat Ten mengerutkan dahinya karena pertanyaanku itu. “Tiba-tiba banget nanya begini, there's something happened?” tanyanya curiga.
“Nggak. Kepengen tau aja. Kan banyak kejadian, pasangan yang kelihatannya baik-baik aja dan saling sayang satu sama lain, tapi ternyata salah satu atau bahkan keduanya sebenernya nggak bahagia. Kayak ada perasaan yang kosong di dalam diri mereka. Nah, kamu kayak gitu nggak?”
“Untungnya, nggak. Karena ketika aku mutusin buat pacaran sama kamu sampe kita nikah, I'm fully happy enough. Aku merasa diri aku udah penuh.”
Gantian aku yang pusing sendiri dengan pernyataannya. “Bukannya manusia diciptakan berpasangan itu tujuannya untuk saling melengkapi satu sama lain, ya?”
“Melengkapi dan memenuhi beda, menurutku. Melengkapi tuh kayak ... hmm ... kayak puzzle deh. Kalo satu potongan ada yang ilang, nggak akan jadi gambar yang sempurna. Tapi kalo memenuhi tuh, ibarat dua gelas yang isinya sama-sama cuma setengah.
“Aku mau kamu menuhin gelas aku, jadilah kamu kasih semua air yang kamu punya ke aku. Tapi akibatnya apa? Gelas kamu kosong, kan? Nah, sama kayak orang yang tadi kamu sebut di awal. Dia bisa kasih semuanya ke pasangannya tapi dia sendiri nggak bahagia. Karena apa? Ya karena gelasnya kosong. Diri dia kosong.”
Ten berhenti sejenak karena mobil kami harus putar balik.
“Dan saling memenuhi itu nggak akan ada habisnya karena kedua gelas nggak akan penuh kecuali, kalau kedua gelas alias pasangan tersebut berhasil memenuhi dirinya masing-masing tanpa bergantung satu sama lain. Baru deh, mereka nggak akan butuh tuh, air dari gelas lain.”
Aku sedikit melongo dan sambil manggut-manggut kagum dengan perumpamaan Ten barusan. Kadang aku juga bingung, dari mana lelaki ini mempelajari hal-hal seperti ini, padahal yang kulihat kalau di apartemen kerjaannya hanya mengurus Louis dan Leon saja.
“Makanya Jo, waktu kita masih pacaran, aku nggak pernah nuntut kamu buat menyesuaikan diri kamu dengan standard aku. Aku nggak mau, kamu bahagia karena bisa memenuhi keinginan aku tapi kamu ngerasa kosong. Aku mau kamu grow up as you are, jadi diri kamu sendiri. Aku mau kamu bisa mencintai diri kamu sendiri sebelum kamu mencintai aku.
“Nah, kalo udah, tinggal aku deh sebagai pasangan kamu, mau nggak nerima segala kekurangan dan kelebihan kamu.”
“And you did it, Ten. Kamu masih di sini dengan segala tingkah buruk aku.”
“Kamu juga, Jo. Aku juga punya banyak kekurangan, tapi kita sama-sama belajar untuk nurunin ego satu sama lain, saling maafin dan saling ngertiin ... we were doing well, right?”
Kami berdua sama-sama tertawa pelan karena kalimat terakhir Ten barusan. Kedengarannya memang agak narsis, tapi jujur saja aku bangga sekali dengan hubungan kami.
“Makasih banyak ya, sayang. I do love you so much,” balas Ten masih dengan senyuman manis di wajahnya lalu ia menarikku pelan, mengizinkan kepalaku untuk bersandar di bahunya.
“And also, I love this little bumps,” sambung Ten lagi saat mobil kami berhenti di lampu merah persimpangan jalan. Tangan kanannya yang bisa bebas dari stir mengelus pelan perutku yang sedikit membuncit. “Apa kabar anak Papa? Hari ini nggak nyusahin Mama, kan?”
Aku tidak kuasa untuk menahan senyum bahagiaku. Aku sendiri masih tidak percaya dengan keajaiban dan kepercayaan yang Tuhan berikan untuk kami berdua, mengingat perjalanannya yang tentu saja kalian tahu, tidaklah mudah.
“Nggak nyusahin Mama sama sekali, kok,” jawabku malu-malu. Aku masih suka salah tingkah sendiri memanggil diriku dengan sebutan 'Mama'. “Cuma kayaknya aku mau ice coffee nih, Pa,” sambungku lagi.
“Emang boleh?”
“Boleh dong, kan decaf!”
Ten kembali mengemudi, tapi tangan kirinya masih merangkulku. “Oke, oke, ini nggak tau sebenernya kemauan baby-nya atau Mama-nya, tapi ayo kita beli es kopi.”
Aku memamerkan deretan gigi putihku lalu melepaskan diri dari rangkulan Ten sebentar agar bisa lebih mudah mencium pipi lelaki itu.
“I do love you so much, Ten Lee!”
E N D