Kebebasan

Sudah lima hari sejak Nata masuk ICU, tapi sayangnya belum ada perkembangan dari perempuan itu. Selama lima hari itu juga Hendery menghabiskan waktunya di rumah sakit demi mengikuti kondisi Nata.

Sore ini Hendery diizinkan untuk menemui Nata di ruang ICU. Dengan pakaian khusus yang disediakan rumah sakit, Hendery memasuki ruangan yang penuh dengan berbagai macam peralatan medis. Dirinya berusaha untuk tidak menitikan air mata kala melihat perempuan yang paling ia cintai terbaring lemas dengan berbagai macam selang dan benda asing lainnya menempel di tubuhnya.

“Nat, tidurnya pules banget. Nggak kangen sama aku? Padahal aku kangen banget sama kamu, lho, Nat.” Hendery mengawali percakapannya dengan Nata. Tidak ada jawaban, hanya suara dari bedside monitor yang terdengar, mewakilkan detak jantung Nata yang terdengar stabil.

“Nat, sekarang ini lagi nyerah, ya? Lagi capek, ya? Makanya kamu tidur terus-terusan begini? Kalau iya, boleh kok, kamu istirahat sebentar. Tapi abis ini kamu bangun lagi, ya? Kita berjuang lagi sama-sama. Aku bakal selalu nemenin kamu. Oke?”

Hendery kembali memandangi Nata, bahkan dalam keadaan terlemahnya pun Nata selalu terlihat cantik di mata Hendery. Ia kemudian mengeluarkan kotak kecil yang dari lima hari lalu selalu berada di saku celananya dan dibukanya hati-hati.

“Nat, aku udah siapin hadiah buat kamu, untuk jawaban kamu waktu kita jalan-jalan ke Perpus waktu itu. Kalau kamu udah cukup istirahatnya, kamu bangun, ya? Aku mau pasang cincinnya di jari kamu. Pasti bakal cantik banget deh, sama kayak kamu.”

Obrolan monolog Hendery terpaksa harus selesai karena perawat yang bertugas di sana meminta Hendery untuk segera menyudahi kunjungannya. Hendery menuruti permintaan perawat itu, ia pun segera mencium pelan kening Nata dan keluar dari ICU.

Di luar ruang ICU, Hendery bertemu dengan ayah Nata yang baru saja datang. Lelaki paruh baya itu sepertinya segera ke rumah sakit begitu jam kerjanya usai, terbukti dari setelan jas lengkap yang masih dikenakannya.

“Hendery, bisa kita bicara sebentar?” tanya ayah Nata. Hendery hanya mengangguk kemudian ayah Nata membawanya ke pojok lorong rumah sakit yang buntu, tidak jauh dari ruang ICU Nata.

“Hendery, barusan Om bertemu dengan dokter Satria. Beliau bilang, peluang Nata untuk membaik tidak terlalu besar. Operasi atau tidak operasi memiliki resiko yang sama untuk Nata.”

Ayah Nata terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Maksud dari pembicaraan ini, Om dan tante mau memberikan kamu kebebasan. Kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, kami berdua nggak mau kamu jadi nggak memiliki kebebasan karena Nata.”

“Maksud Om?” Hendery buru-buru menyelak ucapan ayah Nata karena perasaannya mulai tidak enak.

“Hendery boleh pergi tinggalin Nata. Kamu masih muda, masih bisa punya pasangan yang lebih baik dari Nata. Masih bisa punya masa depan yang lebih baik juga. Maaf kalau Om terdengar lancang—”

“Saya nggak akan pernah ninggalin Nata, Om. Saya sudah janji sama Nata dan saya nggak akan pernah ingkar dengan janji saya. Selama saya masih hidup, saya akan terus temenin Nata.”

“Tapi, Hendery—”

“Maaf, Om. Saya bisa paham niat baik Om. Tapi di sini, saya yang bisa memutuskan apakah saya akan tinggalin Nata atau enggak. Dan detik ini juga saya sudah memutuskan, kalau saya tidak akan pernah meninggalkan Nata. Om nggak perlu khawatir sama saya, saya masalah kalau seumur hidup harus mengurus Nata, yang penting saya terus bisa sama perempuan yang paling saya sayangi.”

Air mata ayah Nata membasahi wajah pria itu. Kedua tangannya memegang bahu Hendery, kepalanya tertunduk lemas. Hendery dapat merasakan sebagian besar beban yang dipikul ayah Nata di bahunya.

“Makasih ya, Hendery. Makasih banget ... Maaf Om kalau Om meragukan kamu ... Bukannya apa-apa, tapi ...”

Kalimat ayah Nata terputus, berganti dengan isakan pelan yang selama ini ia coba tahan sebisa mungkin. Hendery pun memberi ruang untuk ayah Nata meluapkan kesedihannya karena ia mengerti dan sadar, pria ini tidak akan pernah menangis di depan anak dan istrinya; sama halnya dengan Hendery yang tidak akan pernah menangis di depan Nata agar perempuan itu tidak semakin sedih.