Disputation
Citos, 9 Maret 2021 07.03pm
Ghea melambaikan tangan dengan semangat saat melihat sosok Julio di ambang pintu restoran tempat mereka janjian untuk dinner.
Julio segera masuk, berjalan menghampiri Ghea lalu duduk di kursi seberang perempuan itu.
“Udah lama nunggunya, Ghey?” tanya Julio.
Ghea geleng-geleng kepala dengan senyuman lebar di wajahnya. “Nggak kok, tenang aja. Kamu kena macet, ya? Eh, kita pesen makan dulu aja deh.”
Julio mengangguk dan ia segera memanggil salah satu pramusaji untuk mencatat pesanan mereka.
Setelah memesan Pepperoni Pizza, El Diablo Wings dan dua Ice Lemon Tea, Ghea dan Julio melanjutkan kembali percakapan mereka.
“Macet nggak?”
“Sedikit,” jawab Julio yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
“J, maaf ya … Tadi aku lupa banget.” Ghea kembali meminta maaf karena ia masih merasa bersalah dengan perkara lupa mengirim pesan pada Julio.
“It’s okay. Udah biasa kok.” Kalimat jawaban Julio menyatakan ia baik-baik saja tetapi tidak dengan nada bicaranya.
“J, kalau kamu marah bilang aja.”
Julio menghela nafas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Ghea lekat-lekat.
“Emangnya kalau aku marah, kamu mau berhenti suka sama Kpop-kpop-an itu? Enggak, kan?”
Dahi Ghea mengerut, kedua alisnya hampir menyatu. “Lho? Kenapa jadi suruh aku berhenti suka Kpop dan WayV?”
“Ya kan, gara-gara itu kamu jadi less focus dari aku, kamu sibuk sendiri sama mereka. Beda cerita kalau kamu berhenti, pasti kamu bakal fokus dan tau harus ngelakuin apa aja.”
“Aku cuma lupa ngechat kamu sekali ini, J? Tiap pagi aku chat kamu, kadang kamu nggak bales, aku fine-fine aja?”
“Aku sibuk, Ghey. Aku kerja di kantor.”
Ghea memutar bola matanya karena ia mulai merasa kesal. Perdebatan mereka harus berhenti sejenak karena pramusaji tadi kembali datang mengantarkan pesanan minuman mereka.
“Aku chat sebelum jam kerja kamu, lho?”
Julio menanggapi ucapan Ghea dengan menyuruput ice lemon tea nya sambil terus menatap Ghea dengan cukup tajam.
“Kamu mau bicara prioritas-prioritas-an? Waktu kita meeting sama vendor, kamu sama sekali nggak pernah dateng. Ada aku protes sama kamu?”
“Gayatri, aku kerja. Aku nggak bisa karena aku kerja. Beda sama kamu. Kamu nggak fokus karena hobi kamu yang udah kelewat batas.”
Ghea mendengus kesal. “Kelewat batas? Kelewat batas bagian mananya?”
Lagi-lagi Julio menghela nafas cukup panjang. “Stop it deh, Ghey—”
“Kamu yang mulai duluan?!” Nada bicara Ghea meninggi.
“Ya makanya sekarang stop!”
Karena suara Julio cukup keras, sontak mereka menjadi pusat perhatian untuk sesaat.
“Bilangin kamu kayak gini nggak akan ada abisnya. Kamu akan selalu berlindung dibalik pembelaan kamu sendiri yang kamu anggap benar.
“Kamu itu udah mau jadi tunangan aku, Ghey. So, please stop hobi kekanak-kanakan kamu itu. Banyak hal yang harus kamu siapin, pikiran kamu juga harus kamu fokusin buat masa depan kita, bukan buat hal-hal gituan lagi.”
Raut wajah Ghea terlihat sangat kusut, ia sangat tidak bisa menerima kala hobinya menyukai Kpop disebut sebagai hobi kekanak-kanakan.
Tapi kalau dia pergi meninggalkan Julio saat ini juga karena marah, justru dia menunjukkan kalau dia memang benar bertingkah kekanak-kanakan. Menurutnya, kabur dari situasi seperti ini bukanlah sebuah solusi.
Setelah pramusaji tadi datang untuk mengantarkan pesanan makanan mereka, Ghea kembali bersuara.
“Aku nggak bisa terima kamu bilang hobiku ini kekanak-kanakan. But, I’ll try my best buat lebih fokus sama kamu dan hubungan kita.”
Julio mengangguk dan tersenyum tipis, ia menjulurkan tangannya dan mengacak pelan bagian depan rambut Ghea.
“Sekarang makan dulu, ya, sayang.”
Note: J (as referred to Julio) read as “Je”