Pertemuan Pertama
“Gimana Ten, untuk trip hari ini?” tanya Bli Putu begitu melihat Ten menghampiri dirinya yang sedang duduk menunggu di dekat mobil.
“It was fun, Bli. Kecak dance sebagus itu, ya. Magis but beautiful,” jawab Ten penuh antusias. Terlihat senyuman puas di wajah Bli Putu.
“Sudah mau kembali ke hotel, Ten?”
Ten terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Bli Putu. “Saya diantar ke pantai dekat hotel, bisa?”
“Nggak capek? Hari ini kita dari Utara ke Selatan, hehe …”
Ten menggeleng pelan. “Justru di pantai saya bisa rileks sebelum tidur. Gimana, Bli?”
Bli Putu mengangguk pelan. “Oke siap, mari saya antar,” jawabnya yakin.
*
Hanya perlu kurang lebih 30 menit bagi Bli Putu untuk mengantarkan Ten ke Pantai Legian, pantai yang paling dekat dari hotel lelaki itu.
Setelah berjanji untuk menjemput Ten besok pukul 10 pagi, Bli Putu segera pamit dan meninggalkan Ten seorang diri.
Berbekal topi dan masker hitam yang selalu ia kenakan, ia berjalan memasuki gerbang pantai. Kakinya yang hanya mengenakan sendal santai disambut pasir pantai yang sedikit menggelitik telapak kaki.
Walaupun sudah malam, tapi masih cukup banyak orang-orang duduk bersantai menikmati angin malam pantai.
Ten memilih untuk duduk di salah satu sisi pantai yang tidak terlalu ramai. Ia menggunakan sendalnya sebagai alas duduk. Tidak ada yang dilakukannya selain duduk termenung memandangi lautan yang terlihat tak berujung. Sinar bulan tidak terlalu terang malam itu, tapi pantulan cahayanya cukup mampu membuat Ten tenang.
Sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktu liburannya seperti ini. Biasanya ia hanya mengurung diri di dorm dan bermain bersama kucing-kucingnya. Kalau bosan, ya pasti ujung-ujungnya berlatih dance di studio milik agensi.
Tapi kali ini ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berusaha mencari energi baru sebelum kembali beraktivitas sebagai seorang idol.
Radar Ten menjelajahi pelan setiap sisi pantai Legian, ada yang sibuk bercengkrama dengan pasangannya, ada yang menikmati angin malam ditemani sekaleng bir dan ada pula yang berdiri kaku menghadap pantai seperti sebuah patung.
Mata tajam Ten memicing, sepertinya ia cukup kenal dengan sosok perempuan yang sedang berdiri itu. Dan saat perempuan itu sedikit menoleh, dugaannya benar. Perempuan yang selama ini diam-diam ia lihat di Instagram, kini sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Cukup lama perempuan itu berdiri di sana, dan selama itu juga Ten tidak berhenti memandanginya. Perasaan Ten mendadak campur aduk, senang dan khawatir bergabung menjadi satu. Ia senang, akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan orang yang selama ini selalu membuat perasaannya lebih baik dengan pesan-pesan yang dikirimkannya di DM.
Tapi di sisi lain ia khawatir, kalau ia menyapa perempuan itu saat ini, perempuan itu akan merasa takut lalu menganggap Ten aneh, atau lebih buruknya lagi, ia akan pergi meninggalkan Ten.
Ten menghela nafas, memang apa yang dikatakan Yangyang benar, baiknya ia tidak terlalu memedulikan perempuan itu. Membaca pesan-pesan yang dikirimkan di DM sudah lebih dari cukup.
Tapi kemudian yang dilakukan Ten berbalik dengan apa yang dipikirkannya barusan. Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri perempuan itu, menarik lengannya dengan cukup keras hingga perempuan itu menoleh.
“Eh? Kenapa, mas?” tanya perempuan itu dalam bahasa yang tidak Ten mengerti.
“Lo mau ngapain malem-malem jalan ke laut? Lo nggak berniat buat suicide kan?” tanya Ten dengan bahasa Inggris.
Mendengar suara Ten, perempuan itu membelalakan matanya, menarik tangannya dari pegangan Ten untuk menutup mulutnya karena kaget.
“Ten?!” tanya perempuan itu mendesis.
Ten yang tadinya khawatir berubah jadi linglung sendiri. Identitasnya terungkap begitu saja, padahal malam sudah semakin gelap dan ia masih mengenakan topi dan maskernya.
“Tenang aja, gue gak mau suicide kok. Gue cuma mau nyobain air pantai kalo malem dingin atau engga,” jawab perempuan itu dengan bahasa Inggris agar Ten mengerti.
Ten menghela nafas mendengar jawaban perempuan itu.
“Lo Gayatri, kan?” Ten memberanikan diri untuk bertanya dan bisa ia lihat perempuan itu kembali terkejut.
“Kok tau?!”
“Kita udah kenalan di DM?”
“Kok tau muka gue?!”
Ten tersenyum tipis namun sayangnya Gayatri tidak dapat melihatnya. “Gue pernah sekali buka Instagram lo.”
Lagi-lagi perempuan itu alias Gayatri hanya dapat menutup mulut dengan kedua tangannya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat atau terdengar terlalu heboh di depan Ten.
“Wait wait, maksud lo apa, pernah buka Instagram gue?”
Pertanyaan Gayatri tidak langsung dijawab Ten karena petugas penjaga pantai menghampiri mereka dan meminta keduanya untuk segera menjauhi bibir pantai karena ombak yang semakin malam semakin besar.
“Sebelumnya gue harus jelasin kalo gue bukan bermaksud stalking lo, gue buka Instagram lo sekali karena penasaran aja sama orang yang selalu kasih kata-kata penyemangat buat gue. Ngga lebih dari itu,” jawab Ten setelah mereka duduk menepi di pesisir pantai yang lebih aman untuk mengobrol.
Gayatri hanya manggut-manggut saja. Pembawaannya yang tenang sebenarnya berbanding terbalik dengan isi hatinya yang sudah tidak berbentuk. Kalau tidak ada Ten pasti dia sudah jumpalitan jungkir balik karena statement yang ia dengar barusan.
“Lo orang Bali?” tanya Ten yang sepertinya tidak ingin membuang kesempatan untuk mengenal lagi Gayatri.
“Nggak, gue orang Jakarta. Kebetulan aja lagi ke Bali for some reasons,” jawab Gayatri dengan senyum pahit.
Sejujurnya Ten masih penasaran tapi ia berusaha menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi.
“Gue mau balik hotel ya, hotel gue di sana.” Gayatri kembali bersuara sambil bangkit berdiri dan menunjuk gedung yang tidak terlalu tinggi yang terlihat cukup jelas dari pantai.
“Lho? Sebelahan sama hotel gue? Bareng aja kalo gitu kita jalan kakinya.”
Gayatri hanya mengangguk pelan tanda ia menyetujui ajakan Ten, walaupun otaknya sangat berisik dan perasaannya masih tidak karuan.
*
Dalam perjalanan pulang ke hotel, tidak ada percakapan di antara mereka. Ten hanya sesekali mencuri pandang ke arah Gayatri sementara perempuan itu terlalu takut untuk melihat ke arah Ten karena ia masih merasa gugup.
“Gayatri, udah makan malem?” tanya Ten saat mereka melewati sebuah warung nasi di pinggir jalan.
“Belum. Lo mau makan?”
“Mau. Makan bareng yuk?”
Ajakan Ten diiyakan oleh Gayatri dan saat ia memberanikan diri untuk menatap Ten, ia dapat melihat binar bahagia di mata Ten. Dan harus diakui juga, walaupun menggunakan topi dan masker, lelaki itu terlihat sangat mempesona.
“Gayatri? Gayatri?” suara Ten membuyarkan lamunan Gayatri. Saat perempuan itu tersadar, Ten sudah dalam posisi melepas maskernya dan sedang tersenyum ke arahnya. “Mau makan apa?”
“Hah? Eh? Ada apa aja sih?”
“Ini ada nasi … nasi … ca …”
Gantian Gayatri yang tersenyum. “Nasi campur, Ten.”
“Nah! Iya itu! Katanya itu yang paling laris.”
“Yaudah, boleh deh gue pesen ini satu, minumnya es teh manis aja. Lo juga?”
Ten mengangguk antusias lalu ia ikut memesan hal yang sama kepada sang pemilik warung. Setelah itu keduanya masuk ke dalam, duduk berseberangan dan kembali terjebak dalam atmosfir canggung. Gayatri tidak dapat memainkan ponselnya karena battery-nya sudah habis sementara Ten memang memilih untuk tidak bermain ponsel agar bisa menghabiskan kesempatan pertama dan mungkin terakhir dengan Gayatri.
“Lo liburan sendiri di Bali?” Gayatri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
“Yup.”
“Member lain ke mana?” tanya Gayatri lagi.
“LuWin di China, Kun sama Xiaojun ada project duet, Hendery Yangyang ya di dorm, ada … eh, gue gak seharusnya gak keceplosan masalah duet.”
Gayatri terkekeh pelan. “Tenang, gue anggap tadi nggak denger apa-apa tentang project.”
“Thanks, Gayatri.”
“Tentang pertemuan ini juga, tenang aja, gue nggak akan cerita ke siapa-siapa.”
Kali ini Ten sedikit mengangkat alisnya. “Beneran? Kok bisa? I mean, dari yang gue liat, fansign call event aja pasti fans bakal rame share di mana-mana.”
Gayatri tersenyum tipis. “Satu, gue gak mau orang salah paham. Dua, gue gak mau privasi lo keganggu. Tiga, gue malah lebih nyaman kalau simpen ini semua sendiri.”
Ten membulatkan bibirnya, ia kagum dengan pemikiran Gayatri yang terlihat berbeda dibanding fans lainnya.
“Thanks anyway, udah mikirin privasi gue,” ucap Ten dan hanya dijawab dengan anggukan dan senyuman manis Gayatri.
*
Selesai makan malam, Ten dan Gayatri melanjutkan kembali perjalanan mereka ke hotel yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.
“Besok ada rencana pergi ke mana, Gayatri?”
“Nggak ada. Gue ke sini awalnya bukan buat liburan, Ten. Gue kabur.”
“Hah? Kabur?” tanya Ten panik.
“Eh but don’t get me wrong. Konteks kaburnya bukan negatif kok.” Gayatri buru-buru meralat statement-nya. “Gue lagi ada masalah dan nggak sengaja malah larinya pergi ke sini.”
Ten mengangguk-angguk. “Oh, I see …”
“By the way, ini hotel gue. Thanks ya, udah nemenin jalan dan makan malem juga,” ucap Gayatri lagi saat mereka berdua tiba di depan hotel tempat Gayatri menginap.
“Oh, iya, sama-sama Gayatri. Gue juga say thanks, udah mau nemenin makan malem,” balas Ten.
“Gue masuk duluan, ya? Good night, Ten.” Gayatri berpamitan dan setelah itu ia segera meninggalkan Ten dengan masuk ke dalam hotel.
Selang beberapa detik, terdengar suara Ten memanggil Gayatri. “Gayatri, wait!”
Gayatri menoleh, ia mendapatkan Ten mengejar dirinya yang kini sudah berada di lobi hotel.
“Ada apa lagi, Ten?”
Ten mengusap-usap tengkuknya karena bingung sendiri. “Ngg … Gue boleh minta nomor lo?”
Gayatri kembali membelalakan matanya. Rasanya malam hari ini kedua mata perempuan itu hampir lepas dari wajahnya karena ulah Ten.
“Don't get me wrong too, gue nggak mau jahatin lo. Gue cuma mau simpen selama gue di Bali, siapa tau gue butuh bantuan lo.” Ten menjelaskan maksudnya meminta nomor Gayatri.
“Oh, oke. Ini save ya …” Gayatri lalu memberikan nomor ponselnya kepada Ten dan lelaki itu segera menyimpannya di ponsel pintar miliknya.
“Oke, thank you, Gayatri. Have a good night!”
Tidak sampai 5 menit Ten sudah menghilang dari hadapan Gayatri dan langsung saja perempuan itu menghela nafas panjang untuk melepas rasa gugupnya.
“Gila … ini mimpi nggak sih?”