Träumerei
dream; a state of being completely occupied by one's own thoughts
2021, akhir November
Hendery tiba di rumah Nata sekitar pukul 3 sore. Asisten rumah tangga yang sudah mengenali dirinya segera mempersilahkan Hendery untuk masuk setelah ia membukakan pintu untuk lelaki itu.
Kedatangan Hendery disambut dengan tumpukan kardus-kardus besar berwarna coklat. Rumah Nata tampak semakin luas setelah beberapa perabotan sudah tidak ada lagi di tempatnya.
“Halo Hendery, jalanan macet nggak? Capek nggak nyetirnya? Perlu minum?” sapa ibu Nata ramah dengan beberapa pertanyaan saat ia menuruni tangga dan mendapati Hendery di ruang tengah rumahnya.
Hendery tersenyum, “Nggak macet, Tante. Nggak capek juga, hehe … Minum juga nggak usah,” jawabnya satu persatu.
“Kalo gitu langsung aja ke atas, Nak,” ucap ibu Nata lagi dan Hendery menuruti perkataannya.
Hendery memasuki kamar Nata; kamar itu terasa hangat karena sinar matahari sore yang masuk dari jendela. Hendery duduk di tepi ranjang dan matanya mulai memandangi setiap sudut kamar itu lebih teliti.
Kamar itu tidak terlalu besar, tapi terlihat rapi dan enak dipandang karena pemiliknya mengatur setiap barang-barangnya dengan baik. Pemilihan warna peach pastel sebagai wallpaper juga membuat kamar itu terasa lebih nyaman.
Hendery tersenyum tipis, dalam imajinasinya ia dapat melihat sang pemilik kamar sedang belajar di meja belajarnya, kemudian sedang melihat pantulan dirinya pada cermin dan yang terakhir sedang memakai riasan wajah.
Hendery juga dapat membayangkan, di kamar itu juga pemiliknya banyak menghabiskan waktu bertukar cerita dengan dirinya melalui pesan teks, video call atau telepon.
Hendery kini bangkit dari duduknya, ia menghampiri meja belajar Nata untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan hari itu, yaitu mengemasi barang-barang milik Nata.
Barang-barang yang dikemas hari ini kebanyakan adalah foto-foto yang Nata pajang dengan pigura berukuran 4R. Ada foto Nata kecil, Nata sekolah sampai ia berpacaran dengan Hendery. Ada pula foto yang diambil secara candid, yaitu saat Nata sedang tampil di atas panggung dengan alat musik kesayangannya, biola.
“Hei, cantik. Aku dateng lagi, buat bantuin mama kamu beresin barang-barang kamu,” ucap Hendery lirih pada salah satu foto Nata, lalu ia memasukkan foto berpigura itu ke dalam kardus.
Selama membereskan barang-barang Nata, Hendery hanya diam, ia membiarkan tangannya sibuk bekerja walaupun sebenarnya pikirannya masih kalang kabut kemana-mana.
Selesai mengurus barang-barang di kamar Nata, Hendery pindah ke studio Nata yang terletak persis di samping kamar Nata.
Studio itu sama dengan kamar Nata, penuh dengan tumpukan kardus coklat besar. Isinya adalah buku bacaan milik Nata yang mulanya ditaruh di rak buku, lalu ada juga partitur-partitur dan buku musik serta pajangan-pajangan handicraft milik Nata.
Di pojok ruangan, baby grand piano milik Nata yang biasanya terbuka kini sudah tertutup rapat. Begitu juga dengan biola Nata, sudah tersimpan rapi di tas yang selalu Nata bawa setiap ia pergi les.
Hendery kemudian mengutak-atik ponselnya sebelum ia menaruhnya di atas baby grand piano Nata, lalu ia mulai kembali bekerja, membereskan barang Nata berupa alat lukisnya yang masih belum dikemas, ditemani lagu-lagu klasik favorit Nata yang ia simpan dalam playlist Spotify-nya.
Satu persatu lagu klasik itu mengalun pelan dari ponsel Hendery. Mulai dari Adagio of Spartacus hingga Träumerei, yang juga merupakan lagu favorit Hendery.
Träumerei sukses menghentikan seluruh aktivitas Hendery sore itu. Walaupun entah sudah berapa kali ia mendengarkannya, tetap saja lagu itu sukses mengundang air matanya untuk keluar.
“Nat, semua ini cuma mimpi kan, ya? Aku kepengen buru-buru bangun. Aku kangen kamu, Nat. Kangen banget …”
Hendery menghapus air matanya dengan gusar dan ia kembali memasukkan alat lukis Nata ke dalam kardus dengan cepat. Tapi, bukannya selesai pekerjaannya, tangannya justru berhenti dan tangisnya kembali menjadi.
“Nata, aku kangen banget sama kamu, Nat. Aku kepengen sekali lagi liat muka kamu langsung. I miss you so badly, Nat …”
*
Setelah tiga hari berturut-turut Hendery membantu keluarga Nata untuk mengemasi barang milik putri mereka, kini tugas Hendery sudah selesai. Ia keluar dari studio Nata dan kembali turun ke ruang tengah, menghampiri ibu Nata yang sedang menyiapkan segelas jus jeruk untuknya.
“Makasih banyak ya, Hendery,” kata ibu Nata sambil menatap mata Hendery yang masih sembab.
“Sama-sama, Tante,” jawab Hendery parau lalu ia meminum jus jeruk buatan ibu Nata.
“Tante dan Om akan berangkat nanti malam. Sekali lagi, makasih banyak ya, Hendery. Untuk semuanya.”
Hendery mengangguk pelan. “Tante sama Om akan stay terus di sana?”
“Belum tahu, Nak.”
Hendery kembali mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Sesaat keduanya hanya terdiam sampai ibu Nata kembali angkat bicara.
“Hendery, Tante sangat menghargai perasaan kamu buat Nata. Tapi, jalan hidup kamu masih panjang, Nak. Masih banyak hal yang kamu bisa lakukan. Jadi, sekarang kamu harus kembali melangkah maju, ya? Biarkan Nata jadi bagian kenangan kamu.”
Ibu Nata kemudian memberikan sebuah boks yang berisikan beberapa barang milik Nata pemberian dari Hendery.
“Nata pernah titip pesan, kalau suatu hari dia pergi, dia mau semua barang-barang Hendery kasih dikembalikan ke kamu. Diterima ya, Nak.”
Hendery kali ini tidak bereaksi apa-apa, ia hanya menerima boks itu dan menatapnya dengan tatapan kosong.
“Take care, ya, Nak.” Ibu Nata mengelus pelan punggung Hendery lalu ia berjalan meninggalkan lelaki itu sendirian, kembali menuju kamarnya.
Hendery kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sambil mencerna kembali perkataan ibu Nata barusan.
Mungkin benar, sudah saatnya ia harus kembali melangkah maju menjalani hari-harinya yang masih panjang.
Hendery mulai berjalan pelan meninggalkan rumah Nata. Dan sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah itu, ia kembali berbalik, memandangi semua yang tertangkap radar netranya untuk kali terakhir.
“Nat, aku pamit, ya.”