goldeneunoia

Suatu hari di bulan Februari tahun 2016

Kelas biola Nata sudah selesai sejak satu jam yang lalu, tapi perempuan itu masih saja asyik berlatih di salah satu ruang latihan di sekolah musiknya.

The Swan, salah satu repetoire terkenal dari musical suite “The Carnival of Animals” karya Saint-Saëns menjadi lagu pilihan Nata sore itu.

Sebenarnya Nata berlatih bukan karena ia belum bisa lagu itu, justru ia sudah hafal luar kepala, bahkan mampu memainkannya dengan mata tertutup.

Tapi yang membuatnya bertahan di sana adalah karena ia sedang berusaha untuk melupakan apa yang terjadi pada dirinya.

Hampir dua bulan berlalu dan ia masih belum bisa menerima sakit gagal ginjal yang diidapnya. Mau menangis, rasanya air mata Nata sudah kering. Mau marah pun rasanya berdosa sekali kepada Si Empunya Hidup.

Sering terlintas di benak Nata untuk mengakhiri hidupnya. Menurut pemikirannya, kalau ia pergi, ia tidak akan menyusahkan siapa-siapa. Ayah ibunya tidak perlu bersusah payah membiayai perawatan cuci darahnya yang tidak murah.

Tapi, ada seseorang yang selalu sukses menghapus niatnya itu. Seseorang yang kini berdiri di depan pintu ruang latihan Nata sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Hai, Nata,” sapa Hendery dengan senyum sumringahnya. Rambut hitamnya sengaja tidak dipotong, membuat pria itu terlihat persis seperti pangeran dari negeri dongeng.

“Hai, Dery,” balas Nata seceria mungkin. Nata sama sekali belum memberi tahu Hendery tentang kondisinya saat ini. Dia tidak mau lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang menjadi khawatir karena dirinya.

“Kamu les-nya jam berapa sih? Bukannya jam 3 sampe jam 4 ya? Kok minta jemput aku sore banget jam 5 gini?”

Nata tersenyum kikuk. Ia mempersilahkan Hendery masuk ke ruang latihan itu sementara dirinya merapihkan biola dan barang bawaannya yang lain.

“Iya, aku mau latihan dulu sendiri, makanya aku minta kamu jemput sorean.”

Bibir Hendery membulat. “Oh, I see … Abis ini kamu mau ke mana? Laper nggak? Atau haus? Mau minum es matcha?”

Sebenarnya Nata sudah diminta dokter untuk mengurangi mengkonsumsi minuman-minuman seperti es matcha dan kawan-kawannya. Tapi, lagi-lagi karena ia harus menutupi kondisinya dari Hendery, ia terpaksa mengangguk.

“Aku mau es matcha.”

“Oke, yuk. Udah beres semuanya, kan?” tanya Hendery memastikan tidak ada barang Nata yang tertinggal.

Nata mengangguk. “Iya, yuk, kita jalan.”

Nata dan Hendery harus terpaksa menunda acara minum ice green tea mereka karena kini mereka terjebak dalam padatnya jalanan ibukota.

“Hendery, aku punya pertanyaan.”

“Apa, Nat?”

“Kalau aku mati, gimana?”

Hendery refleks menoleh. “Nata?! Apa-apaan?!”

Nata berusaha tertawa agar Hendery mengira ucapannya barusan hanya guyonan. “Hehe, iseng aja nanya. Kalau aku mati, gimana?”

“Aku bakal jadi manusia yang paling kehilangan kamu, Nat. I can’t imagine it.”

“Tapi kan as human kita bisa aja dipanggil Tuhan kapanpun. Siap nggak siap, harus siap.”

“Nata, please stop. Aku nggak suka topik pembicaraan gini. Even you called it a joke, that wasn’t funny.

Air muka Hendery berubah, menimbulkan perasaan bersalah dalam diri Nata. Lagipula tidak hanya Hendery, siapapun juga akan marah kalau disuruh membayangkan kematian seseorang yang mereka cintai.

Okay, I’ll stop. Maaf, Hendery.”

Tangan kiri Hendery meraih tangan kanan Nata, diciumnya punggung tangan itu lalu digenggamnya erat.

“Maaf kalau aku jadi kasar, tapi aku nggak mau dan nggak bisa bayanginnya, Nat. Apalagi we’re fine, totally fine. Kenapa aku harus bayangin yang buruk-buruk?”

Nata mengangguk pelan, berusaha menyetujui Hendery walaupun kenyataannya salah satu di antara mereka ada yang tidak baik-baik saja.

“Sorry but, I’m not fine, Hendery.”

Hati Hendery sedang dalam suasana terbaiknya, terbukti sepanjang perjalanan untuk menjemput Nata, laki-laki itu terus berdendang mengikuti alunan lagu yang diputar di radio.

‘Tunjukkanlah rasa cintamu, coba buat mereka tahu, betapa indahnya dunia bila engkau sedang jatuh cinta.’

Hendery tersenyum, lagu milik RAN yang satu ini selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Lagu ini juga menjadi lagu kesukaan Nata sejak awal mereka berpacaran.

“Hai Hendery!” sapa Nata ramah begitu ia masuk ke dalam mobil Hendery. Perempuan itu mengenakan dress putih motif renda selutut dengan sepatu Converse warna coklat muda dan mini slingbag berwarna senada. Rambut panjangnya diikat setengah dengan hiasan pita putih yang cukup besar.

“Cantik banget pacar aku,” puji Hendery dengan mata berbinar. Setelah yakin Nata sudah duduk dan memasang seat belt-nya dengan benar, ia mengambil hadiah yang sudah ia siapkan; boneka teddy bear dan sebuket bunga yang ditaruh di jok belakang.

“Buat Nata,” ucap Hendery dengan ekspresi malu-malu.

“Hah? Hendery … Ini lucu banget bonekanya … Dan gede banget, ya,” balas Nata yang dalam sekejap menghilang di balik boneka besar pemberian Hendery.

Hendery tertawa, “Lah, iya, pacar aku jadi ilang,” ucapnya sambil mengambil kembali boneka besar itu dan ditaruhnya lagi di jok belakang.

“Hendery, makasih banyak, ya …” kata Nata yang sudah kembali ‘terlihat’, tersisa sebuket bunga di genggamannya yang ia pandangi terus menerus.

“Sama-sama, Nat,” balas Hendery sambil meraih kepala Nata dan mencium pelan kening perempuan itu. “Sekarang kita berangkat, ya,” sambungnya.

Perjalanan dari Selatan menuju Utara Jakarta cukup memakan waktu karena padatnya lalu lintas ibukota, tapi tidak membuat keduanya menjadi bosan.

Nata dan Hendery justru asyik berkaraoke, menyanyikan setiap lagu yang diputar radio yang sedari tadi dipasang Hendery, sampai Nata sadar kemana Hendery membawanya pergi kali ini.

“Hah? Kita ke Ancol?” tanya Nata meyakinkan Hendery dengan antusias.

“Yup! Udah lama banget kan, kamu nggak liat pantai?”

Pertanyaan Hendery dijawab dengan anggukan antusias Nata. Begitu mobil Hendery sukses terparkir tidak jauh dari pantai, keduanya segera turun dan berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai sambil membicarakan hal-hal random yang tidak jarang mengundang tawa keduanya.

Puas menghirup aroma asin di pantai, Hendery kembali mengajak Nata ke mobil, membawa perempuan itu ke perhentian selanjutnya.

“Kita mau ke mana lagi?” tanya Nata penasaran tapi Hendery tidak menjawabnya. Lelaki itu hanya tersenyum, lebih tepatnya tersenyum gugup karena waktunya sebentar lagi akan tiba.

Nata tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya saat Hendery memarkirkan mobilnya di area Dunia Fantasi.

“Hendery, jangan bilang kita mau naik carousel?!” tanya Nata persis seperti anak kecil yang kegirangan diajak pergi ke taman bermain.

Menjawab tebakan Nata yang benar, Hendery hanya mengelus pelan kepala Nata lalu merangkul bahu perempuan itu, berjalan beriringan hingga keduanya tiba di dalam taman bermain tertua di Indonesia itu.

“Selain carousel, kamu mau main apa, Nat?”

Nata berpikir sejenak, sebenarnya ia mau menjajal semua wahana di sana tapi waktu dan kondisi tubuhnya tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan itu semua.

Bom bom car,” jawab Nata singkat, “aku mau nyoba nyetir, hehehe.”

“Oke, boleh. Let’s go!”

Langit sudah sepenuhnya menjadi gelap saat Nata dan Hendery selesai bermain bom bom car, setelah sebelumnya dua kali mereka mengantri karena Nata tidak puas dengan durasi permainannya yang terlalu singkat.

“Ngantri carousel, yuk. Liat deh, lampunya udah nyala semua. Jadi bagus,” ajak Hendery lalu ia segera menggandeng tangan Nata untuk mengantri.

Tidak terlalu lama mereka mengantri, kini Hendery dan Nata dapat giliran untuk bermain komidi putar itu. Mereka langsung memilih dua kuda yang bersebelahan dan begitu wahana itu mulai berputar pelan, Nata mengambil beberapa foto dengan kamera polaroidnya.

“Hendery, makasih banyak, ya. Aku seneng banget, salah satu wishlist aku dari dulu, kepengen banget naik carousel sore menjelang malam gini. Dan sama kamu pastinya.”

“Sama-sama, Nat. Maaf ya, aku baru bisa ajak kamu pergi sekarang.”

Nata menggeleng, “Nggak papa, kok. Belum terlambat.”

Sejenak keduanya terdiam menikmati semilir angin yang tercipta karena wahana itu terus berputar pelan.

“Nata.”

“Ya?”

Hendery mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket yang ia kenakan dan hendak mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan sedari tadi. Tapi, semuanya harus ia urungkan karena tiba-tiba Nata mencengkram lengan Hendery dengan sangat kuat.

“Dery …” panggil Nata dengan keringat dingin di pelipisnya.

“Nat?! Nata?! Kamu kenapa?”

Pertanyaan Hendery dijawab dengan ambruknya tubuh perempuan itu. Hendery buru-buru menangkap tubuh Nata sebelum jatuh dari kuda-kudaan yang sedang ia naiki.

Bersamaan dengan carousel yang berhenti berputar, Hendery segera berteriak meminta pertolongan kepada siapapun yang dapat menolongnya. Beberapa staff yang bertugas segera menolong Hendery; dalam sekejap suasana menjadi sedikit ricuh, dirinya dan Nata langsung menjadi pusat perhatian.

“Nata! Nata! Bangun, Nat!”

Sesuai permintaan Nata bulan lalu, hari ini Hendery dan Nata pergi ke Perpusnas setelah selesai sarapan di rumah Nata.

Library date mereka dimulai dari lantai 7 dimana koleksi buku anak terdapat di sana. Walaupun bukan anak kecil lagi, tapi baik Nata dan Hendery sama-sama merasa senang berada di sana karena desain interior lantai itu yang dibuat semenarik mungkin untuk anak-anak.

Puas melihat-lihat lantai 7, Nata mengajak Hendery untuk mampir ke lantai 12. Di sana terdapat ruang baca yang sangat nyaman dengan pemandangan puncak tugu Monas di jendela.

Pindah dari lantai 12 menuju lantai 21 & 22, di sana Hendery dan Nata menghabiskan waktu paling banyak. Nata memilih untuk membaca koleksi buku non fiksi sementara Hendery kebalikannya.

“Hendery, bosen nggak?” tanya Nata setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung lain yang duduk di dekatnya.

“Nggak, kok. Nggak usah pikirin aku, yang penting kamu having fun di sini,” balas Hendery berbisik juga.

“Tapi masalahnya aku laper.”

Hendery melirik jam tangannya, tidak terasa mereka sudah berada di sana lebih dari 3 jam. Saat ini waktu menunjukkan pukul 2 siang.

“Yaudah, kita makan siang dulu aja, ya?”

Tawaran Hendery dijawab dengan anggukan Nata. Kemudian keduanya segera meninggalkan Perpusnas dan memilih resto makanan khas Indonesia sebagai tempat makan siang mereka, yang terletak tidak jauh dari kawasan Monas.

“Seneng nggak, jalan-jalan hari ini?”

“Seneng, kapan-kapan lagi, ya! Aku mau ngerasain sunset dari lantai 24.”

“Boleh …”

Percakapan mereka terhenti karena makan siang mereka telah tersaji dan segera keduanya menyantap makanan itu hingga habis tak bersisa.

“Masih mau lanjut ke Monas atau udahan aja? Aku takut kamu kecapekan …” ucap Hendery saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil Hendery.

Nata awalnya terlihat ragu, sebenarnya ia masih ingin melanjutkan rencananya, tapi ia juga sadar tubuhnya tidak bisa terlalu diforsir.

“Pulang aja deh, tapi kamu jangan langsung pulang.”

Jawaban Nata disambut dengan senyuman terbaik Hendery dan juga usapan ringan di puncak kepala perempuan itu. Lalu Hendery segera mengemudikan mobilnya kembali ke rumah Nata.

*

Tiba di rumah Nata sekitar pukul 4 sore, Hendery dan Nata menghabiskan waktu di studio Nata. Nata memilih untuk kembali melanjutkan lukisannya sementara Hendery dengan setia menemani pacarnya itu.

“Hendery bosen nggak sih? Nemenin aku doang gini-gini?” tanya Nata disela kegiatan melukisnya.

“Sama sekali enggak, aku bisa main game, kalo bosen, tinggal liatin muka pacar aku yang cantik banget.”

Hendery yang senang duduk lesehan di lantai berlapis parquet itu kini menopang dagu dengan kedua tangannya lalu matanya memandangi Nata yang terlihat lebih tinggi karena duduk di kursi.

“Ih, Hendery, aku serius!”

“Lah, siapa juga yang bercanda? Suer, aku gak bosen.”

“Hendery.” Nada bicara Nata kini berubah menjadi lebih serius, seolah dirinya ingin mengganti topik pembicaraan ke arah yang lebih serius.

“Iya? Kenapa, Nat?”

“Pembicaraan sama papa yang tadi pagi … Aku rasa aku udah siap.”

Hendery buru-buru mengubah posisi duduknya menjadi bersila dan tegak. “Nat? Kamu serius?”

Nata menaruh kuas dan palet lukisnya, lalu duduk menghadap Hendery agar dapat berbicara lebih leluasa. “Aku serius. Selama ini aku sebenernya bukannya belum siap, tapi aku takut.

“Aku takut kalau sewaktu-waktu aku sakit lagi dan kamu ninggalin aku karena aku nyusahin kamu. Aku juga takut kalau kamu tiba-tiba bosen sama aku. Aku banyak ketakutan, Hendery.”

Karena tangan Nata sudah bebas dari segala alat lukisnya, Hendery mengenggam kedua tangan itu dan sedikit mendanga agar dapat melihat Nata dengan jelas.

“Nat, jangan takut, ya? Semua itu nggak akan terjadi. Aku berani sumpah, oke, sebenernya gak boleh but, please trust me, Nat. Fondasi hubungan itu cuma satu, rasa percaya.

“Aku selalu percaya kamu, bahkan di titik terendah hubungan kita beberapa tahun lalu pun, aku masih percaya suatu saat kamu akan balik ke aku. Terbukti, kan? Kita sekarang sama-sama lagi.”

Nata mengangguk menyetujui pernyataan Hendery. Benar, lelaki itu rela menunggu dua tahun untuk dirinya. Kini apalagi yang harus diragukan?

“Aku nggak pernah bosen bilang sama kamu, Nat. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan. Apapun yang terjadi, nggak akan pernah aku ninggalin kamu.”

Air mata haru berkumpul di pelupuk Nata. Karena begitu banyak yang berkumpul sampai di antara mereka akhirnya jatuh membasahi pipi Nata.

“Kayaknya di kehidupan sebelumnya, aku itu seorang pahlawan deh, Hendery,” kata Nata sambil menghapus air matanya.

“Kenapa emangnya?”

“Abisnya di kehidupan aku yang sekarang, aku beruntung banget bisa punya kamu dalam hidup aku.”

Hendery segera bangkit berlutut agar ia bisa meraih tubuh Nata dan memeluknya erat. “Berarti aku juga pahlawan, Nat. Soalnya aku juga beruntung bisa milikin kamu.”

Keduanya sama-sama tertawa pelan, kemudian Hendery melepas pelukannya dan ditatapnya kedua mata Nata lekat-lekat. “Nat, kamu memutuskan ini karena memang kesiapan hati kamu, kan? Bukan karena papa atau aku?”

Nata menggeleng, “Bukan, Hendery. Keputusan ini bener karena aku siap. Let’s spend life time together.”

Hendery tidak berhenti menatap Nata dengan tatapan penuh cinta, sesekali tangannya mengusap lembut kepala dan juga pipi Nata. Tatapan itu diakhiri dengan sebuah ciuman lembut di kening Nata.

“Let’s spend our life time together, Naraya Talitha.”

Hendery tiba di rumah Nata pukul 9 kurang 10 menit dan ia langsung disambut oleh asisten rumah tangga keluarga Nata.

“Masuk, Mas. Mari saya antar ke ruang makan.”

“Oke, Bi.”

Begitu tiba di ruang makan rumah keluarga Nata yang cukup besar, Hendery kembali disambut kali ini oleh sang empunya rumah.

“Pagi, Dery. Kopi?” tawar ayah Nata dengan ramah. Wajahnya terlihat lebih sumringah, berbeda dengan dulu saat ia sedang mengurus operasi transplantasi ginjal Nata.

“Pagi, Om. Iya Om, boleh. Nata mana, ya?”

“Paling sebentar lagi turun. Duduk dulu aja sini, mamanya Nata lagi siapin sarapannya.”

Hendery menuruti perkataan ayah Nata. Ia duduk di sisi kiri ayah Nata lalu ayah Nata memberinya teko berisikan kopi hitam panas untuk Hendery tuang sendiri ke cangkirnya.

“Kalo mau pake gula, ini gulanya.” Setelah memberikan teko, ayah Nata juga memberikan beberapa sachet gula low fat kepada Hendery.

Tidak lama kemudian, Nata turun dari kamarnya dan ibu Nata kembali ke meja makan dengan membawa sepiring besar berisikan kue panekuk.

“Hendery!” sapa Nata riang. Ia segera duduk di sebelah Hendery dan meminum air perasan jeruk yang telah disiapkan khusus untuk dirinya.

“Papa nggak disapa, Nat?” tanya ayah Nata dengan nada cemburu.

Nata tertawa kecil, “Hehe, morning, Pa. Morning, Ma.”

“Seneng ya, Hendery bisa ikut sarapan di sini?” Kali ini ibu Nata yang bicara.

Nata hanya mengangguk antusias. Ia menaruh dua potong pancake di atas piring Hendery dan juga piringnya.

“Makasih banyak ya, Tante, Om,” ucap Hendery sopan sebelum ia menyantap sarapannya.

Walaupun ini bukan kali pertama Hendery duduk makan bersama dengan keluarga Nata, tapi masih ada rasa canggung yang Hendery rasakan. Terlebih lagi malam sebelumnya ibu Nata menyinggung akan membicarakan sesuatu tentang Nata dengan dirinya.

“Hendery, jadi gini,” suara ayah Nata memecah keheningan yang tercipta selama kurang lebih 10 menit setelah percakapan terakhir mereka.

“Nata dan kamu kan, sudah pacaran 8 tahun, kamu sudah temenin Nata dari masa tersulitnya sampai sekarang. Om dan tante berharap Hendery bisa terus temenin Nata, dalam artian, bawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius.”

“Papa!” Nata buru-buru menimpali kalimat ayahnya. Rasanya tidak pantas membicarakan topik ini pagi-pagi.

“Nat.” Hendery berusaha menenangkan Nata dengan memegang sebentar tangan Nata dan memberi tanda kalau ia baik-baik saja.

“Saya sudah pikirkan hal ini, Om, Tante. Saya juga sudah pernah bicara sama Nata. Tapi, saya kembalikan lagi ke Nata. Saya mau bawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius saat Nata sudah siap, bukan karena tuntutan siapa-siapa.” Hendery membalas perkataan ayah Nata sesopan dan sejelas mungkin.

Ayah Nata mengangguk-angguk, lalu pandangannya berganti ke arah putrinya. “Nata, gimana? Papa juga nggak mau buru-buruin Nata, Papa cuma mau tau aja, supaya Papa bisa atur rencana buat keluarga kita kedepannya.”

“Ngg … Nata butuh waktu lagi, Pa. Bukan karena nggak percaya dan sayang sama Dery, tapi Nata mau lebih siapin hati Nata lagi. Nata nggak mau mengikat janji tapi masih banyak keraguan di diri Nata.”

Ayah dan ibu Nata sama-sama tersenyum bangga mendengar jawaban Nata. “Oke, sayang. Yang pasti dari sini Papa dan Mama tau, kalau Nata dan Hendery memang pacaran bukan buat main-main lagi,” ucap ayah Nata lagi.

“Yaudah, yuk, lanjutin lagi sarapannya.” Ibu Nata menutup percakapan serius pagi itu dengan meminta semua yang ada di meja makan untuk kembali menikmati sarapan buatannya.

⚠️ cw // death

Qian Kun as Kenji Laras as OC


Aroma asin yang diciptakan sang samudra menggelitik rongga hidung Kenji. Dari anak tangga tertinggi, ia menghirup dalam-dalam aroma itu, membiarkannya masuk ke dalam paru-paru bersamaan dengan kenangan yang tidak akan pernah luput dari hatinya.

Kisahnya dengan sang samudra seperti roda yang berputar; saat di atas ia sangat mencintai hamparan laut luas tak berujung itu, tapi saat di bawah ia sangat membencinya sampai ia tidak mau melihatnya lagi.

Dan kini roda itu kembali berputar ke atas, Kenji tidak lagi membenci sang samudra. Kalau ia membenci sang samudra, bagaimana caranya ia bisa menyapa wanita yang dicintainya?

Wanita yang dicintainya? Samudra?

Ya, wanita itu memilih untuk menyatukan diri dengan sang samudra, setelah hampir dua jam mencoba bertahan di tengah keputusasaan.

*

31 Desember 2012

Hampir enam bulan sejak babak baru dalam kehidupan Kenji dan Laras dimulai, akhirnya mereka bisa bersantai dari penatnya ibukota. Kenji dan Laras yang sama-sama menyukai laut, memilih cruise trip sebagai perjalanan bulan madu mereka.

Begitu jangkar dilepaskan dari pelabuhan, Kenji dan Laras menikmati setiap waktu yang mereka dapat habiskan bersama. Tidak ada malam tanpa tawa canda dan sentuhan, tidak ada siang tanpa mimpi-mimpi yang diceritakan satu sama lain untuk masa depan mereka.

Perjalanan itu terasa sempurna, sampai malam petaka menghampiri mereka. Entah apa yang salah dengan kapal pesiar yang mereka tumpangi, kapal itu perlahan mulai tenggelam. Para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing; begitu pula dengan Kenji dan Laras.

“Laras, pakai jaket pelampungnya sekarang.”

“Tapi jaketnya cuma ada satu! Aku nggak mau pake kalau kamu nggak pake.”

Kenji sempat memaksa, tapi Laras malah membuang jaket pelampung itu jauh-jauh, membuat keduanya kini tidak memiliki satu pun benda penyelamat.

Kepanikan semakin melanda saat listrik kapal pesiar itu padam bersamaan dengan air yang mulai meninggi. Semakin lengkap ketika mereka dapat merasakan dinginnya suhu air laut yang saat itu dalam kondisi di bawah 0 derajat.

Langkah kaki Kenji dan Laras semakin berat, mereka berusaha mencapai deck kapal yang mungkin masih belum terkena air. Beberapa kali Kenji mendapati Laras menggigil kedinginan karena tubuhnya sudah terendam air setinggi pinggang, tapi perempuan itu selalu bilang ia baik-baik saja.

“Laras, aku gendong kamu aja, gimana?”

“Aku bisa jalan sendiri.”

Kenji dan Laras berhasil sampai di tujuan mereka, tapi malangnya sudah tidak ada lagi perahu karet bantuan yang tersisa. Laras menangis dalam pelukan Kenji, ia berdoa kepada Yang Maha Esa; permintaannya cuma satu, kalau ia hanya ingin pulang bersama Kenji. Dan jikalau ini mimpi, ia ingin segera dibangunkan dari mimpi buruknya ini.

Tapi sepertinya Semesta tidak mendengar jeritan hati Laras. Kapal itu kini sudah seutuhnya menjadi milik sang samudra, bersama dengan Kenji dan Laras yang terombang-ambing di sana. Syukurnya Kenji menemukan patahan kayu dari kapal yang bisa ia dan Laras gunakan untuk bertahan hidup agar tidak tenggelam. Tapi, mau sampai kapan bergantung pada kayu tak seberapa itu?

“Ken, kalau aku mati gimana?”

“Kamu mati, aku mati, Laras.”

“Jangan, kamu harus bertahan. Demi aku.”

“Laras! Gimana bisa aku hidup tanpa kamu?”

Laras tersenyum tipis sementara tubuhnya sebisa mungkin menahan dinginnya air laut.

“Kenji, maaf, tapi aku nggak kuat lagi.”

“Laras! Tolong bertahan!! Bantuan sebentar lagi datang!!”

“Kenji, aku mencintaimu.”

Dan setelahnya menjadi hening. Mata Laras tertutup rapat dengan senyum terbaik terpasang di wajahnya. Tubuhnya mulai kaku, tangannya yang memegang patahan kayu kini mulai terlepas dari benda itu.

“Laras! Laras! Laras!!!”

Panggilan Kenji hanya dijawab oleh hembusan angin malam yang menambah dinginnya malam itu. Tubuh Laras perlahan hanyut dalam gelapnya samudra luas, diiringi oleh jeritan tangis Kenji.

*

Sembilan tahun peristiwa itu berlalu dan Kenji sudah melewati banyak fase dalam roda kehidupannya. Ia membenci Semesta dan samudra karena merenggut kekasih hatinya, tapi kini ia sudah berdamai dengan keduanya. Ditatapnya kembali sang samudra yang mulai memancarkan siluet jingga tanda sang surya segera kembali ke peraduan.

“Laras, apa kabar? Semoga kamu selalu baik-baik saja. Doakan aku yang masih mengembara di dunia ini, ya? Doakan supaya aku mampu bertahan. Samudra, aku titip Laras. Tolong jaga dia selalu.”

2021, Januari Studio Lukis Nata 17.10pm

Baik Nata dan Hendery masih sulit untuk mempercayai pesan yang masuk dari dokter Satria sore itu.

“Hendery, aku nggak lagi mimpi, kan?” tanya Nata sambil memeluk Hendery.

Kemudian Hendery membalas pelukan Nata dan menjawab pertanyaannya, “Nggak, Nat. Ini bukan mimpi, Nat. We did it, Nat. Nope. You, did it.

Air mata kembali membasahi wajah Nata, tapi kali ini adalah air mata bahagia.

“Hendery,” panggil Nata lalu ia melepaskan diri dari pelukan Hendery. “Kamu mau temenin aku selama di Malaysia?”

Pertanyaan Nata dijawab dengan sebuah anggukan kuat, lalu lelaki itu kembali memeluk bahagia Nata.

*

2021, Februari Kuala Lumpur, Malaysia

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan di Jakarta, akhirnya Nata dapat terbang ke Malaysia bersama kedua orang tuanya dan juga Hendery.

Setibanya di Kuala Lumpur, Nata langsung pergi menuju rumah sakit yang sesuai dengan rujukan dokter Satria. Di sana ia disambut ramah oleh dokter yang akan menangani operasi transplantasi ginjalnya.

“Halo Nata, bagaimana perasaanmu?” tanya dokter itu dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Nata tersenyum bahagia hingga matanya sedikit menyipit. “Deg-deg-an, tapi saya juga senang, Dok.”

“Kamu tidak perlu khawatir atau takut. Tidak perlu pikir apa-apa. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk operasi ini.”

Nata mengangguk mengerti. Kemudian setelah itu sang dokter meminta Nata untuk beristirahat di kamar rawat inap yang sudah disiapkan untuknya.

“Nak, Mama Papa tinggal ke hotel dulu, ya? Kami mau check-in kamar, untuk Hendery juga,” pamit ibu Nata kepada putrinya. “Hendery, tolong jaga Nata, ya? Kalau ada perlu apa-apa call aja.” Gantian ibu Nata mengajak Hendery berbicara.

Nata dan Hendery hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibu Nata lalu setelah itu kedua orang tua Nata segera pergi, menyisakan Nata dan Hendery di sana.

“Nat, sekarang kamu istirahat aja. Pasti capek, kan?”

“Nggak kok, aku nggak kecapekan. Aku terlalu excited kayaknya, susah buat tidur.”

Hendery tersenyum sambil sedikit tertawa mendengar jawaban Nata. “Istirahatnya sambil pegang tangan aku, gimana?”

Gantian Nata yang tersenyum mengangguk, lalu ia pergi sebentar ke kamar mandi untuk berganti pakaian agar bisa beristirahat.

*

D-day

Dalam perjalanan menuju ruang operasi, tangan Nata menggenggam tangan Hendery yang ikut berjalan di sisi ranjangnya. Hendery dapat merasakan tangan Nata yang basah akibat grogi yang ia rasakan.

It’s okay, Nat. Kamu pasti bisa,” ucap Hendery pelan.

Tiba di depan pintu ruang operasi, perawat yang membawa Nata mempersilahkan kedua orang tua Nata dan Hendery untuk memberikan semangat kepada Nata sebelum ia menjalani operasinya.

“Nata, jangan takut ya, jangan khawatir juga. Papa Mama akan terus di sini, tunggu Nata sampai operasinya selesai. Semangat ya, sayang,” ucap ayah Nata kemudian ia mencium kening Nata, bergantian dengan ibu Nata yang juga mencium kening putrinya.

“Nat, you’re the bravest girl I’ve ever met. I’m so proud with you. Perjuangan kamu sedikit lagi selesai, jadi, tolong bertahan sedikit lagi, ya? I love you so much, Nat.” Kali ini giliran Hendery menyemangati Nata, tidak lupa juga ia mengakhiri kalimatnya dengan mencium kening Nata.

Nata tersenyum lebar, ia mendapat lebih dari cukup kekuatan untuk menjalani operasi transplantasi ginjalnya hari ini. Sebelum benar-benar berpisah, ia membalas kalimat terakhir Hendery.

“I love you so much too, Hendery.”

Sepanjang perjalanan dari rumah Hendery menuju Rumah Sakit Jakarta, Hendery terkesan lebih diam daripada biasanya.

Biasanya lelaki itu akan sibuk menginterogasi Lucas tentang perempuan yang dijodohkan dengan Lucas bernama Olivia. Tidak jarang juga Hendery meledek sahabatnya itu.

Tapi kali ini Hendery hanya akan bicara kalau ditanyai Lucas saja, kalau Lucas tidak bertanya, Hendery hanya diam sambil memandangi jalanan ibukota dari jendela.

“Lo kenapa sih? Ada masalah apa?” tanya Lucas setelah mereka sama-sama diam dalam waktu yang cukup lama.

“Nggak papa,” jawab Hendery bohong.

“Gue males deh kalo rahasia-rahasiaan. Lo kenapa?” Lucas mengulang kembali pertanyaannya.

Hendery menghela nafas lalu menyamankan posisi duduknya di jok mobil Lucas. “Gue merasa bersalah sama Nata, Cas.”

“Kenapa? Karena lo nggak bisa berbuat apa-apa buat dia?”

Hendery mengangguk menjawab pertanyaan Lucas lalu ia tertunduk diam sementara lawan bicaranya kembali bersuara. “Nggak semua hal bisa lo lakuin, Der. Lo bukan superhero, lo bukan Tuhan.”

“Lo diciptain buat jadi manusia biasa, ditakdirin buat jadi pacar Nata, buat kasih dukungan ke dia saat dia down, buat nemenin hari-harinya. Itu udah lebih dari cukup.

“Setiap orang ada tugasnya masing-masing; ortunya Nata ada tugasnya sendiri, dokter yang rawat Nata juga ada tugasnya sendiri. So do with you. Jadi lo nggak perlu merasa bersalah buat hal yang emang gak bisa lo lakuin karena itu bukan tugas lo.”

Hendery benar-benar terdiam dengan nasihat dari sahabatnya itu. Walaupun Lucas kelihatannya selalu penuh canda, tapi dia salah satu orang yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan Hendery.

“Lo turun, urusin urusan lo. Gue parkir trus gue tunggu di kafetaria ya, bro.” Lucas kembali bersuara saat mobilnya tiba di lobi rumah sakit.

Hendery hanya mengangguk, kemudian ia turun dari mobil Lucas dan segera berjalan menuju ruang praktek dokter Satria.

Hendery harus menunggu sekitar 15 menit sebelum ia dapat menemui dokter Satria karena dokter itu masih harus menemui beberapa pasiennya.

“Halo Hendery, ada perlu apa?” sapa dokter Satria ramah. Lalu dokter itu meminta perawat yang sedari tadi membantunya untuk meninggalkan ruangannya.

“Ngg … Dok, kira-kira Nata bisa sembuh nggak kalau tanpa pendonor?”

Dokter Satria tidak langsung menjawab pertanyaan Hendery. Dilihatnya wajah Hendery tidak secerah biasanya, tatapannya mengandung keputusasaan.

“Maaf sekali Hendery, tapi saya harus jujur kalau tanpa pendonor Nata tidak akan bisa sembuh. Kerusakan ginjalnya sudah akut, sudah tidak bisa bekerja untuk tubuhnya.”

Mendengar jawaban dokter Satria, Hendery meneteskan air matanya. Kali pertama ia menangis di hadapan orang yang asing baginya.

“Dok, saya mohon tolong cariin pendonor buat Nata, Dok. Tolong cari ke belahan dunia manapun. Saya rela bayar berapapun demi Nata.”

Kemudian tanpa diduga, Hendery bangun dari duduknya dan berlutut di hadapan dokter Satria. “Dok, atau ambil ginjal saya aja, Dok. Please Dok, kita operasi sekarang, ya? Saya telfon Nata sekarang.”

Dengan air mata membasahi wajahnya, Hendery mengambil ponsel dari saku celananya dan berusaha menghubungi Nata.

“Hendery, Hendery!” panggil dokter Satria cukup keras sembari ia mengguncang kedua bahu Hendery.

“Saya cuma mau Nata sembuh, Dok. Saya nggak tega tiap saat lihat dia harus cuci darah, saya juga nggak tega tiap denger dia nangis karena dia ngerasa capek dengan ini semua.”

Hendery kemudian menangis cukup keras untuk beberapa saat dan Dokter Satria sengaja membiarkan Hendery untuk menangis di ruangannya.

“Dok, saya serius ayo kita operasi sekarang. Saya mau kasih ginjal saya buat Nata.” Hendery kembali memohon kepada sang dokter.

“Hendery, kita udah sama-sama tau kalau ginjal kamu nggak cocok sama Nata. Ayo, bangun dulu.” Dokter Satria menanggapi kalimat Hendery sembari membantu lelaki itu untuk berdiri.

“Apa yang harus saya lakuin buat Nata, Dok? Saya nggak mau terus-terusan bohong kalau saya baik-baik aja. Saya juga putus asa, saya juga takut kalau suatu hari Nata pergi ninggalin saya. Saya takut, Dok … Saya takut …”

Kalimat Hendery terputus begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh, kedua kakinya tidak mampu menobang beban tubuh dan juga beban pikirannya kala itu.

Dokter Satria berjongkok dan kembali mengajak bicara Hendery. “Hendery, kamu kayaknya lagi capek, ditambah kamu kepikiran Nata juga. Kamu sebaiknya pulang, ya?”

Hendery hanya mengangguk pelan lalu dibantu dokter Satria ia kembali berdiri. Sebelum Hendery meninggalkan ruangan itu, sang dokter kembali berbicara. “Hendery, kamu sudah lakukan yang terbaik buat Nata. Saya minta tolong, kamu terus kasih dukungan dan semangat buat Nata, ya? Saya nggak meminta kamu harus selalu kuat; kamu berhak untuk mengeluh dan menangis seperti ini. Tapi jangan sampai Nata lihat. Kita harus sama-sama jaga kondisi Nata, nggak cuma tubuhnya, tapi hati dan juga pikirannya. Hati dan pikiran yang positif niscaya memberikan efek positif juga dalam pengobatannya.

“Kamu ngga perlu khawatir, setiap hari saya berusaha mencarikan pendonor untuk Nata, tidak hanya di Jakarta tapi juga di Singapura dan Malaysia. Saya yakin saya akan dapatkan pendonor yang cocok untuk Nata, jadi saya harap kamu juga harus yakin kalau Nata bisa sembuh dan melewati ini semua. Oke?”

Kalimat penutup dari dokter Satria dijawab Hendery dengan sebuah anggukan pelan. “Makasih banyak ya, Dok. Saya pamit pulang dulu. Maaf mengganggu waktunya.”

Dokter Satria hanya tersenyum sambil menepuk pelan pundak Hendery, menyalurkan sedikit energi positif yang ia miliki kepada lelaki jangkung itu agar ia bisa kembali berdiri tegak untuk merajut asanya.

2017, Januari

Raden

Sejujurnya aku malas sekali harus menuruti kemauan ayahku untuk mengasah lebih dalam bakat musikku. Aku bisa dan suka bermain gitar, tapi aku tidak pernah ingin menjadi seorang gitaris. Aku hanya senang mengisi waktu kosongku dengan nada-nada indah dari tiap senar gitar yang kupetik.

Tapi siapa yang bisa melawan kehendak ayah? Minta tolong sama ibu juga percuma, karena ibu pasti akan bilang padaku, “sudah, turuti saja kemauan ayah ya, Nak?”

Langkah kakiku yang gontai menyusuri koridor bernuansa earth tone di salah satu studio musik cukup terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Ruang demi ruang latihan ku lewati dengan isinya yang beragam, ada yang sedang berlatih drum, gitar, piano, hingga terakhir kutemukan seseorang sedang bermain biola.

Entah kenapa sepertinya alat musik senar selalu mencuri perhatianku, aku menyukai gitar dan mengagumi siapapun yang pandai bermain biola. Seperti yang sedang kusaksikan saat ini, seorang perempuan dengan rambut panjang coklatnya yang dibiarkan tergerai begitu saja, sedang memainkan sebuah lagu yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya patah hati.

Saat busurnya perlahan terangkat dari senar, aku refleks bertepuk tangan. Aku yakin dia tidak akan mempedulikanku tapi nyatanya aku salah. Ia menoleh ke arah pintu, matanya bertemu dengan mataku dan dengan ramah ia tersenyum padaku.

“Kamu dengerin permainanku tadi, ya?” tanyanya sopan begitu ia membuka pintu ruang latihan itu. Harusnya sebelum ia menghampiriku, aku kabur saja, ya. Tapi aku malah berdiri terpaku di sana, dengan hati kecilku berharap bisa berkenalan dengannya.

“Eh, iya nggak sengaja lagi lewat. Chopin Nocturne, ya?” Aku memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol. Sedikit-sedikit aku mengerti karya-karya dari komponis besar karena kesukaan ayahku terhadap musik klasik.

Perempuan itu mengangguk. “Iya, yang C-Sharp. Keren ih, bisa tau,” pujinya membuat aku tersenyum bangga dalam hati.

“Ohiya, kamu les apa?” tanyanya lagi dengan ramah. “Kayaknya aku baru pertama kali liat kamu di sini. Kenalin, aku Nata,” sambungnya sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku.

Aku tidak menduga perkenalan kami akan berjalan semulus ini. Dengan senyum terbaik yang aku punya, aku menyambut uluran tangannya. “Gue Raden,” balasku singkat.

*

2017, Juli

Enam bulan lebih mengenal Nata, bisa dibilang perlahan hidupku berubah. Dulu aku termasuk orang yang apatis, aku cenderung lebih senang menyendiri dengan duniaku. Bergaul juga hanya dengan teman-teman yang sudah kukenal sejak SMA.

Tapi sejak bertemu Nata, aku mulai berani mengeksplor banyak hal; seperti halnya Nata serba bisa, perempuan itu menyuruhku untuk belajar banyak hal yang aku sukai. Hasilnya? Aku mulai ikut klub fotografi dan beberapa kali sukses membuat pameran kecil-kecilan dengan teman-teman satu klub-ku.

Les gitarku gimana? Ya, baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar karena sepertinya alasanku bisa bertahan untuk les karena Nata, deh. Kebetulan jadwal les kami sama, sehingga tanpa kusadari dia selalu menjadi alasan bagiku untuk pergi ke studio musik itu.

Aku bukan murid yang menonjol di sekolah musik itu, begitu juga dengan Nata. Tapi bedanya, Nata cukup dikenal banyak orang karena bakatnya dan kerendahan hatinya. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan mulai dari resital kecil hingga konser berskala cukup besar yang diselenggarakan sekolah musik kami.

Padahal kalau dipikir-pikir, gila juga dia ikut semuanya itu. Bukannya apa, untuk tampil di satu konser klasik diperlukan persiapan minimal 3 bulan dengan latihan ekstra tentunya. Dan selama aku mengenal Nata, sepertinya dia sudah aktif mengikuti 5 konser, di antaranya ada mini recital dan konser yang akan diadakan akhir tahun ini.

Saat ini aku dan Nata sedang duduk di taman sekolah musik kami. Memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk mengobrol atau sekedar menghabiskan waktu sambil mendengarkan musik.

Nata tidak berhenti membolak-balikkan lembaran partitur biolanya dengan wajah berseri. “Seneng banget, Ta?” tanyaku penasaran. Sebenarnya bukan pertanyaan yang perlu ia jawab, sih, tapi tetap saja aku iseng bertanya.

Nata mengangguk-angguk antusias. “Banget, Raden! Ini semua repetoire favorit gue. Sayang banget sih, gue nggak bisa main Claire de Lune, tapi nggak papa deh, ini udah lebih dari cukup.”

Widmung bukannya susah, ya? Ayah suka banget sama lagu ini,” ucapku sambil menatap selembar kertas berisikan not balok yang tertulis padat dan rapat. Melihatnya saja kepalaku sudah pusing, tidak bisa kubayangkan Nata malah betah banget mempelajarinya. Tapi justru itu yang menjadi daya tarik Nata, setidaknya bagiku.

“Nggak ada yang susah kalo latihan, Raden,” jawabnya santai lalu ia merapihkan lembaran partitur tadi dan menyimpannya dalam sebuah kantongan file berwarna pink pastel.

Saat Nata sedang merapihkan tasnya, kulihat arloji digital di tangan kirinya bergetar. Ia berusaha mematikan arloji itu buru-buru, lalu ia kembali berbicara padaku. “Gue harus balik nih, lo masih mau di sini?”

“Enggak, gue juga balik deh kalo gitu. Ayo gue anterin sampe ketemu Pak Pri.”

Nata menggerakkan tangannya dengan gestur menolak tawaranku. “Nggak usah, gue udah dijemput Hendery. Duluan ya, bye Raden!” pamitnya padaku kemudian ia meninggalkanku dan menghampiri seorang lelaki yang tengah berdiri di ujung koridor.

Wajah lelaki itu tidak terlihat cukup jelas dari tempatku berada sekarang, tapi aku bisa tahu kalau lelaki itu memiliki tahta paling tinggi di hati Nata saat ia mencium kening perempuan itu. Kemudian yang kulihat selanjutnya Nata merangkul pinggang laki-laki itu dan mereka mulai berjalan beriringan dengan mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Harusnya aku sadar saat awal aku berkenalan dengan Nata, kisah kami berdua tidak akan seperti yang selalu aku bayangkan. Harusnya aku sadar, setiap melodi dari gesekan biola yang Nata mainkan, hanya ditujukan untuk satu laki-laki. Ya, laki-laki beruntung bernama Hendery itu.

*

2020, Desember

Aku menatap keluar jendela bandara yang besar, memperhatikan pesawat-pesawat yang terparkir di pelataran. Selintas di benakku terbesit, bagaimana bisa kerangka besi dengan berat ribuan ton itu mampu membawa ratusan manusia menyebrangi pulau, negara, hingga benua?

Kerangka besi itu juga yang akan membawaku pergi dari sini untuk memulai kehidupanku yang baru.

Aku memejamkan mataku sesaat lalu menghela nafas pelan. Ice Americano ku sudah habis sedari tadi, tapi aku masih belum dapat panggilan untuk boarding.

“Paling delay,” batinku sendiri dalam hati.

Tadinya ponselku sudah kusetel menjadi airplane mode, tapi berhubung keberangkatanku sepertinya ditunda, aku kembali menon-aktifkan airplane mode-nya untuk menyusuri timeline media sosialku.

Tidak ada yang terlalu menarik perhatianku; Kiel sepertinya sedang ribut dengan pacarnya, Harsa meng-update skor dari permainan game online nya, sementara Reza hilang entah ke mana.

Namun jariku berhenti bergerak saat kudapati cuitan Nata ada di antara milik teman-temanku. Isi cuitannya membuatku segera membuka room chat kami berdua. Tapi saat aku sedang mengetik pesan untuknya, tiba-tiba hatiku bergumul.

Kedua ibu jariku terdiam di atas layar ponsel. Ku pandangi kembali isi pesan teks yang ingin ku kirim untuk Nata. Dalam hati aku mulai bertanya, haruskah aku mengirimkan pesan itu? Atau tidak?

Butuh waktu lebih dari 5 menit untuk memutuskan apa yang harus kulakukan, sampai akhirnya ibu jari kananku mulai menekan tombol 'kembali'. Ya, aku harus kembali pada fakta bahwa kepergianku ke US kali ini selain untuk belajar, juga untuk merelakan Nata. Aku harus merelakan ia bahagia bersama orang yang ia cintai, dan itu bukan aku.

Aku kembali menyalakan airplane mode ponselku, lalu memasang sebuah lagu dari music player-ku dan memejamkan mata sembari bersandar di bangku bandara yang sama sekali tidak nyaman.

Aku kembali mendengarkan Nocturne No. 20 in C-Sharp Minor milik Chopin, lagu yang menjadi awal perkenalanku dengan Nata sekaligus menjadi titik balik kehidupanku. Alunan melodi minor lagu ini perlahan memasuki telinga, pikiran dan hatiku dengan indah, bersamaan dengan sosok Nata yang sengaja kubiarkan hadir sejenak di dalam diriku untuk terakhir kalinya.

2016, Desember

Hari Minggu terakhir di penghujung tahun selalu digunakan oleh keluarga Nata untuk mengunjungi kakak tertua dari ayah Nata, atau yang biasa Nata panggil dengan sebutan Tante Anne.

Ayah Nata hanya tiga bersaudara; yang tertua tante Anne, ayah Nata sebagai anak tengah dan terakhir adik dari ayah Nata, yaitu tante Melissa. Tante Anne tinggal di daerah Kelapa Gading bersama suaminya, ia memiliki seorang putra yang tinggal di Amerika bersama istrinya, sementara tante Melissa masih senang hidup sendiri sebagai seorang wanita karir.

Tidak banyak yang dilakukan saat berkunjung ke rumah tante Anne, mengingat tidak banyak orang di sana; biasanya mereka yang datang hanya menyantap makan siang bersama sembari mengobrol dan setelahnya sesi mengobrol itu akan di lanjutkan di teras belakang rumah tante Anne yang asri.

Nata kadang ikut mengobrol bersama kedua orang tua dan tante-tantenya, tapi keseringan ia menghabiskan waktu di ruang musik milik tante Anne yang kebetulan juga menggeluti dunia musik klasik dengan instrumen cello.

Siang itu setelah makan siang, Nata berpamitan untuk berlatih di ruang musik tante Anne. Ia berlatih beberapa repetoire yang harus ia mainkan di uji kompetensi yang di selenggarakan di bulan Maret setiap tahunnya.

Saat sedang berlatih salah satu karya gubahan Bach, kepala Nata mendadak terasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Pandangannya menjadi kabur dan dalam hitungan detik tubuhnya jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang cukup keras hingga seluruh orang yang berada di rumah tante Anne segara menghampiri Nata dan membawa perempuan itu ke rumah sakit.

Di rumah sakit, ayah Nata segera memeriksakan kesehatan Nata secara menyeluruh, mengingat ini bukan kali pertama Nata mendadak jatuh pingsan. Sejak semester akhir, Nata seringkali mimisan atau pingsan. Setiap ditanya kedua orang tuanya, jawaban perempuan itu selalu sama, 'kayaknya aku kecapekan aja, nggak usah ke rumah sakit.'.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya hasil pemeriksaan Nata keluar. Dokter yang bertanggung jawab atas pemeriksaan itu mengundang kedua orang tua Nata untuk duduk di kantornya.

“Mm ... Bapak, Ibu, apakah selama ini Naraya memiliki keluhan? Seperti susah tidur, selalu merasa lelah, susah konsentrasi? Atau mungkin merasa nyeri di punggung bagian bawah?”

Ayah dan ibu Nata bertukar pandang, kemudian ayah Nata menjawab pertanyaan sang dokter, “Nata suka ngeluh itu semua, Dok. Kami pikir karena skripsinya. Apa ada hal lain yang mengganggu kesehatan Nata, Dok?”

Sang Dokter berdeham. “Begini, Bapak, Ibu ... Kami mendiagnosa Naraya mengalami gagal ginjal.”

Bukan jawaban yang ingin didengar oleh kedua orang tua Nata, karena sedetik kemudian ayah Nata kembali bertanya dengan sang dokter. “Maksud Dokter apa, ya? Gagal ginjal? Selama ini Nata selalu baik-baik aja, Dok.”

Untuk menjawab pertanyaan ayah Nata, dokter itu memberikan hasil tes lab Nata kepada kedua orang tuanya. “Hasil tes lab kami, terutama tes darah dan USG, kami mendiagnosa Naraya mengidap gagal ginjal dan harus segera ditindak lanjuti.”

“Dok, anak saya baik-baik aja! Anak saya nggak sakit apa-apa!” Ayah Nata tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Lebih tepatnya, ia menolak untuk mengakui fakta yang ada kalau anak satu-satunya, putri kesayangannya, mengidap penyakit serius dan mematikan.

“Pa, udah, Pa. Cukup.” Ibu Nata berusaha menenangkan suaminya. Ayah Nata membuang muka dari pandangan dokter dan juga istrinya, ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di sana.

“Dok, apa Nata bisa sembuh?” tanya ibu Nata hati-hati.

“Bisa, Ibu, selama kita sama-sama melakukan perawatan untuk ginjal Naraya sampai bertemu dengan pendonor yang sesuai.”

“Perawatan?” Ibu Nata kembali bertanya.

Dokter itu mengangguk. “Benar, Ibu. Ginjal Naraya sudah mengalami kerusakan sampai 80%, di mana sebagian besar fungsi ginjal sudah tidak bekerja di tubuh Naraya, maka dari itu Naraya harus melakukan perawatan cuci darah.”

Mendengar jawaban dokter, ayah Nata segera bangkit dari duduknya dan tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan ruang dokter itu dengan marah. Ia masih belum bisa menerima kondisi kesehatan Nata yang sebenarnya.

“Pa?” panggil Nata saat ia melihat sang ayah di koridor rumah sakit. Melihat Nata yang berjalan dengan tiang infus di tangan kirinya, ayah Nata segera memeluk erat perempuan itu.

“Nata, maafin Papa, Nak ... Maafin Papa ...” ucap ayah Nata berbisik lirih di telinga putrinya. Ia semakin mendekap erat tubuh Nata seiring dengan rasa bersalah yang semakin menguasai dirinya, sementara Nata sendiri masih kebingungan dengan sikap ayahnya.

“Pa, ada apa sih?”

Ayah Nata buru-buru menghapus air mata dari wajahnya lalu melepas Nata dari pelukannya dan menatap putri semata wayangnya itu lekat-lekat.

“Naraya Talitha,” panggil ayah Nata pelan.

“Iya, Pa?”

“Janji sama Papa, Nata harus kuat dengan apapun yang akan Nata hadapi setelah ini, ya? Sesuai karakter nama kamu, Naraya Talitha, gadis kecil harapan semua makhluk yang tak pernah lelah dan gigih,” ucap ayah Nata dengan suara bergetar. Dipandanginya terus menerus mata cokelat milik Nata sambil terus menerus ia mengusap puncak kepala putrinya itu.

Nata, yang saat itu masih belum mengetahui apa yang diidap di dalam tubuhnya, hanya mengangguk, menuruti janji yang ia buat bersama sang ayah sore itu.

Hendery terbangun di sofa milik ruang rawat inap Nata yang tidak terlalu empuk. Punggungnya sedikit pegal, tapi ia tidak mempedulikannya. Yang pertama kali ia pikirkan adalah Nata. Dilihatnya perempuan itu sedang duduk bersandar di ranjangnya sembari membaca sebuah buku.

“Udah bangun, Dery?” tanya Nata saat menyadari Hendery sudah terjaga di sudut kamar.

Hendery mengusap pelan matanya, dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan ia mengangguk menjawab pertanyaan Nata dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Keluar dari kamar mandi, Hendery segera menghampiri Nata dan mencium pelan kening perempuan itu. “Morning, Naraya Talitha,” sapanya dengan suara yang sedikit parau.

Nata tersenyum lebar. “Morning, sayangku,” balasnya manis.

How do you feel today?” tanya Hendery yang sekarang sudah duduk di sisi ranjang Nata dan mengambil sebuah apel dari meja kecil yang juga terletak di sisi ranjang Nata.

Nata mengangguk pelan. “Deg-deg-an, tapi nggak kayak kemarin. Kayaknya aku jadi less nervous karena ditemenin kamu deh,” jawab Nata riang. Matanya berbinar menatap Hendery yang asyik menyantap sarapan buahnya pagi itu.

“Papa Mama kamu belum dateng?” tanya Hendery lagi.

“Kayaknya kena macet, tadi sih nge-chat aku katanya udah on the way,” jawab Nata.

“Kalo dokter? Udah ke sini?”

Nata menggeleng. “Belum, mungkin karena masih pagi juga kali ya, baru juga jam 8.”

Hendery refleks melirik ke jam dinding, saat itu waktu menunjukkan pukul 8 lewat 10 menit.

“Nat, aku ke kafetaria sebentar, ya? Need some caffeine,” pamit Hendery dan diiyakan oleh Nata.

Lelaki itu pun segera meninggalkan kamar inap Nata dan pergi ke kafetaria yang terletak bersebelahan dengan lobi rumah sakit itu. Dalam perjalanannya menuju kafetaria, ia berpapasan dengan dokter yang merawat Nata. Hendery ingin menyapa dokter itu, tapi sang dokter sepertinya sibuk berbincang dengan perawat yang berjalan bersamanya.

“Saya perlu kasih tau sekarang atau bagaimana, Dok?” Sepintas Hendery mendengar pertanyaan si perawat kepada sang dokter.

“Jangan sekarang, saya masih mau usaha bujuk keluarga pasien itu.”

“Tapi kayaknya mereka nggak akan berubah pikiran, Dok.”

Langkah Hendery terhenti, sementara dokter dan perawat itu terus berjalan menjauh, bahkan melewati ruang rawat inap Nata tanpa melirik sedikitpun ke arah kamar itu. Ada prasangka buruk mencuat dalam benak Hendery, tapi buru-buru ia hapus dan ia segera kembali ke tujuan awalnya yaitu membeli kopi di kafetaria.

Sekitar 15 menit waktu yang dihabiskan Hendery untuk membeli kopi, kini lelaki itu sudah kembali ke kamar rawat inap Nata. Nata masih sama seperti saat ia ditinggal tadi, sibuk dengan buku bacaannya. Hendery pun tidak berniat menganggu Nata, kini ia juga sibuk dengan ponselnya, untuk sekedar membalas pesan dari teman-temannya atau membaca berita terkini di media sosial.

“Nata ... mama papa belum datang?” Dari arah pintu, dokter yang merawat Nata datang bersama seorang perawat. Kedua orang yang sama, seperti yang Hendery temui beberapa saat lalu. Sepertinya kedua orang itu tidak menyadari kalau tadi mereka berpapasan dengan Hendery.

“Belum, Dok. Kayaknya kena macet.”

Dokter itu hanya mengangguk-angguk saja. “Oh, oke. Kalau gitu kita tunggu mama papa kamu aja, ya.”

“Operasinya udah mau dimulai ya, Dok?” tanya Nata saat dokter tadi hendak kembali meninggalkan kamar Nata.

“Ngg ... Iya. Nanti kita bicara lagi ya, Nata. Kamu istirahat dulu aja di sini.”

Nata mengangguk menurut tapi Hendery mendengar keraguan di jawaban dokter itu. Raut wajah Dokter itu pun berbeda dengan lusa kemarin, saat ia menginfokan Nata tentang operasi transplantasi ginjal yang akan dilakukan Nata hari ini.

Prasangka buruk itu kembali datang tapi suara Nata sukses membawa Hendery kembali dari lamunannya. “Dery? Hendery?”

“Eh iya? Kenapa, Nat?”

Nata terkekeh pelan. “Kamu kenapa? Kok bengong?”

“Oh, nggak papa kok,” jawab Hendery cepat. “Aku coba telfon mama papa kamu dulu, ya.” Hendery segera mengganti topik pembicaraan mereka dan ia kembali keluar dari kamar Nata untuk menelepon kedua orang tua Nata.

Baru saja ia mau menekan tombol call di ponselnya, Hendery mendapati kedua orang tua Nata sedang berbicara dengan dokter tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hendery tidak dapat mendengar isi percakapan mereka, tapi sedetik kemudian yang dapat ia lihat adalah ibu Nata menangis bersandar di lengan ayah Nata.

Sepertinya prasangka buruk Hendery benar...

Perlahan ia berjalan mendekati kedua orang tua Nata dan juga dokter yang merawat Nata. Saat Hendery tiba, dokter tadi berpamitan, menyisakan kedua orang tua Nata yang masih terdiam setelah mendengar info dari sang dokter.

“Om, Tante, ada apa?” tanya Hendery hati-hati.

Butuh waktu untuk ayah Nata sebelum ia menjawab pertanyaan Hendery. “Transplantasi ginjal untuk Nata dibatalkan, keluarga pendonor mendadak tidak setuju untuk alasan yang mereka nggak bisa kasih tau ke kita.”

Hati Hendery mencelos, rasanya separuh dari dirinya runtuh. Penantian panjang dan harapan yang ia bangun bersama Nata pupus dalam sekejap.

Ibu Nata tidak mampu untuk menahan tangisnya, kini ia terisak di dalam dekapan sang suami, sementara Hendery mengepalkan kedua tangannya, menahan agar seluruh emosinya tidak lepas karena itu hanya akan menambah runyam suasana.

“Nata di mana, Hendery?” tanya ayah Nata setegar mungkin. Sebisa mungkin sebagai tonggak keluarga ia tidak terlihat lemah, sesulit apapun keadaannya.

Hendery sedikit berputar untuk menunjuk kamar Nata, tapi yang membuat dirinya dan juga kedua orang tua Nata kaget adalah sosok Nata yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya entah sejak kapan. Sambil mendorong tiang infus yang tersambung dengan jarum di tubuhnya, Nata mendekati Hendery dan orang tuanya.

“Ada apa? Ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari Nata?” tanya Nata penuh kecurigaan. Tidak ada satupun yang menjawab, baik ibu, ayah Nata dan juga Hendery.

“Ada apa, Pa? Ada apa, Dery? Kenapa Mama nangis?” Nata kembali bertanya, memanggil satu persatu yang ada di sana dengan lebih spesifik.

“Nat ...”

“Operasi kamu dibatalkan, Nak. Maafin Papa.” Ayah Nata memotong Hendery, menjawab pertanyaan Nata dengan sejujur-jujurnya.

Nata tidak langsung bereaksi, butuh beberapa detik untuk pikirannya memproses apa yang baru saja ia dengar.

“Dibatalin, kenapa?” Suara perempuan itu mulai bergetar. Hendery segera merangkulnya tapi Nata justru menghindarinya.

“Jawab Nata! Kenapa operasinya dibatalin?!” Kali ini pertanyaan itu kembali diulang Nata dengan nada bicara yang lebih keras dan tinggi, diiringi dengan isak tangis yang pecah begitu saja, menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu.

“Apa Nata nggak berhak untuk hidup sehat?! Apa Nata nggak berhak untuk hidup kayak perempuan-perempuan lain di luar sana?!” sambung Nata bertanya dengan putus asa, lalu ia mulai berusaha melepas selang infus dari tangannya dengan gusar.

“Nata! Nat, nggak gini! Nata!” cegah Hendery sambil berusaha menghentikan tangan Nata, tapi perempuan itu terus menghindar.

“Lepasin, Hendery! Lepasin!”

“NATA!” panggil Hendery keras. Nata refleks berhenti, ditatapnya mata Hendery yang memohon kepada dirinya untuk berhenti melakukan perbuatannya barusan. “Nat, please stop. Nggak gini caranya ...” Suara Hendery melemah lalu ia segera merengkuh Nata yang mulai menangis dalam pelukannya.

“Kenapa harus aku, Hendery? Aku punya dosa apa sampe aku nggak boleh sembuh? Semesta sejahat inikah sama aku?” racau Nata di sela isak tangisnya.

Hendery tidak berhenti mengusap puncak kepala Nata dan mendekap perempuan itu lebih erat. Air matanya ikut tumpah mendengar betapa putus asanya wanita yang paling ia cintai itu.

“Nggak, Nat. Kamu pasti bisa sembuh, kamu harus sembuh. Kita bakal ketemu pendonor lain yang cocok sama kamu. Aku mohon, sampai waktu itu kamu bertahan, ya?” mohon Hendery dengan suara bergetar.

Nata tidak menjawab apa-apa, ia hanya terus menangis dalam pelukan Hendery. Tangisnya memenuhi lorong rumah sakit, yang terbatasi dengan dinding-dinding putih yang dingin, menjadi saksi mati keputusasaan perempuan itu.