Putus Asa
Sepanjang perjalanan dari rumah Hendery menuju Rumah Sakit Jakarta, Hendery terkesan lebih diam daripada biasanya.
Biasanya lelaki itu akan sibuk menginterogasi Lucas tentang perempuan yang dijodohkan dengan Lucas bernama Olivia. Tidak jarang juga Hendery meledek sahabatnya itu.
Tapi kali ini Hendery hanya akan bicara kalau ditanyai Lucas saja, kalau Lucas tidak bertanya, Hendery hanya diam sambil memandangi jalanan ibukota dari jendela.
“Lo kenapa sih? Ada masalah apa?” tanya Lucas setelah mereka sama-sama diam dalam waktu yang cukup lama.
“Nggak papa,” jawab Hendery bohong.
“Gue males deh kalo rahasia-rahasiaan. Lo kenapa?” Lucas mengulang kembali pertanyaannya.
Hendery menghela nafas lalu menyamankan posisi duduknya di jok mobil Lucas. “Gue merasa bersalah sama Nata, Cas.”
“Kenapa? Karena lo nggak bisa berbuat apa-apa buat dia?”
Hendery mengangguk menjawab pertanyaan Lucas lalu ia tertunduk diam sementara lawan bicaranya kembali bersuara. “Nggak semua hal bisa lo lakuin, Der. Lo bukan superhero, lo bukan Tuhan.”
“Lo diciptain buat jadi manusia biasa, ditakdirin buat jadi pacar Nata, buat kasih dukungan ke dia saat dia down, buat nemenin hari-harinya. Itu udah lebih dari cukup.
“Setiap orang ada tugasnya masing-masing; ortunya Nata ada tugasnya sendiri, dokter yang rawat Nata juga ada tugasnya sendiri. So do with you. Jadi lo nggak perlu merasa bersalah buat hal yang emang gak bisa lo lakuin karena itu bukan tugas lo.”
Hendery benar-benar terdiam dengan nasihat dari sahabatnya itu. Walaupun Lucas kelihatannya selalu penuh canda, tapi dia salah satu orang yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan Hendery.
“Lo turun, urusin urusan lo. Gue parkir trus gue tunggu di kafetaria ya, bro.” Lucas kembali bersuara saat mobilnya tiba di lobi rumah sakit.
Hendery hanya mengangguk, kemudian ia turun dari mobil Lucas dan segera berjalan menuju ruang praktek dokter Satria.
Hendery harus menunggu sekitar 15 menit sebelum ia dapat menemui dokter Satria karena dokter itu masih harus menemui beberapa pasiennya.
“Halo Hendery, ada perlu apa?” sapa dokter Satria ramah. Lalu dokter itu meminta perawat yang sedari tadi membantunya untuk meninggalkan ruangannya.
“Ngg … Dok, kira-kira Nata bisa sembuh nggak kalau tanpa pendonor?”
Dokter Satria tidak langsung menjawab pertanyaan Hendery. Dilihatnya wajah Hendery tidak secerah biasanya, tatapannya mengandung keputusasaan.
“Maaf sekali Hendery, tapi saya harus jujur kalau tanpa pendonor Nata tidak akan bisa sembuh. Kerusakan ginjalnya sudah akut, sudah tidak bisa bekerja untuk tubuhnya.”
Mendengar jawaban dokter Satria, Hendery meneteskan air matanya. Kali pertama ia menangis di hadapan orang yang asing baginya.
“Dok, saya mohon tolong cariin pendonor buat Nata, Dok. Tolong cari ke belahan dunia manapun. Saya rela bayar berapapun demi Nata.”
Kemudian tanpa diduga, Hendery bangun dari duduknya dan berlutut di hadapan dokter Satria. “Dok, atau ambil ginjal saya aja, Dok. Please Dok, kita operasi sekarang, ya? Saya telfon Nata sekarang.”
Dengan air mata membasahi wajahnya, Hendery mengambil ponsel dari saku celananya dan berusaha menghubungi Nata.
“Hendery, Hendery!” panggil dokter Satria cukup keras sembari ia mengguncang kedua bahu Hendery.
“Saya cuma mau Nata sembuh, Dok. Saya nggak tega tiap saat lihat dia harus cuci darah, saya juga nggak tega tiap denger dia nangis karena dia ngerasa capek dengan ini semua.”
Hendery kemudian menangis cukup keras untuk beberapa saat dan Dokter Satria sengaja membiarkan Hendery untuk menangis di ruangannya.
“Dok, saya serius ayo kita operasi sekarang. Saya mau kasih ginjal saya buat Nata.” Hendery kembali memohon kepada sang dokter.
“Hendery, kita udah sama-sama tau kalau ginjal kamu nggak cocok sama Nata. Ayo, bangun dulu.” Dokter Satria menanggapi kalimat Hendery sembari membantu lelaki itu untuk berdiri.
“Apa yang harus saya lakuin buat Nata, Dok? Saya nggak mau terus-terusan bohong kalau saya baik-baik aja. Saya juga putus asa, saya juga takut kalau suatu hari Nata pergi ninggalin saya. Saya takut, Dok … Saya takut …”
Kalimat Hendery terputus begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh, kedua kakinya tidak mampu menobang beban tubuh dan juga beban pikirannya kala itu.
Dokter Satria berjongkok dan kembali mengajak bicara Hendery. “Hendery, kamu kayaknya lagi capek, ditambah kamu kepikiran Nata juga. Kamu sebaiknya pulang, ya?”
Hendery hanya mengangguk pelan lalu dibantu dokter Satria ia kembali berdiri. Sebelum Hendery meninggalkan ruangan itu, sang dokter kembali berbicara. “Hendery, kamu sudah lakukan yang terbaik buat Nata. Saya minta tolong, kamu terus kasih dukungan dan semangat buat Nata, ya? Saya nggak meminta kamu harus selalu kuat; kamu berhak untuk mengeluh dan menangis seperti ini. Tapi jangan sampai Nata lihat. Kita harus sama-sama jaga kondisi Nata, nggak cuma tubuhnya, tapi hati dan juga pikirannya. Hati dan pikiran yang positif niscaya memberikan efek positif juga dalam pengobatannya.
“Kamu ngga perlu khawatir, setiap hari saya berusaha mencarikan pendonor untuk Nata, tidak hanya di Jakarta tapi juga di Singapura dan Malaysia. Saya yakin saya akan dapatkan pendonor yang cocok untuk Nata, jadi saya harap kamu juga harus yakin kalau Nata bisa sembuh dan melewati ini semua. Oke?”
Kalimat penutup dari dokter Satria dijawab Hendery dengan sebuah anggukan pelan. “Makasih banyak ya, Dok. Saya pamit pulang dulu. Maaf mengganggu waktunya.”
Dokter Satria hanya tersenyum sambil menepuk pelan pundak Hendery, menyalurkan sedikit energi positif yang ia miliki kepada lelaki jangkung itu agar ia bisa kembali berdiri tegak untuk merajut asanya.