Tentang Hubungan Ini

Hendery tiba di rumah Nata pukul 9 kurang 10 menit dan ia langsung disambut oleh asisten rumah tangga keluarga Nata.

“Masuk, Mas. Mari saya antar ke ruang makan.”

“Oke, Bi.”

Begitu tiba di ruang makan rumah keluarga Nata yang cukup besar, Hendery kembali disambut kali ini oleh sang empunya rumah.

“Pagi, Dery. Kopi?” tawar ayah Nata dengan ramah. Wajahnya terlihat lebih sumringah, berbeda dengan dulu saat ia sedang mengurus operasi transplantasi ginjal Nata.

“Pagi, Om. Iya Om, boleh. Nata mana, ya?”

“Paling sebentar lagi turun. Duduk dulu aja sini, mamanya Nata lagi siapin sarapannya.”

Hendery menuruti perkataan ayah Nata. Ia duduk di sisi kiri ayah Nata lalu ayah Nata memberinya teko berisikan kopi hitam panas untuk Hendery tuang sendiri ke cangkirnya.

“Kalo mau pake gula, ini gulanya.” Setelah memberikan teko, ayah Nata juga memberikan beberapa sachet gula low fat kepada Hendery.

Tidak lama kemudian, Nata turun dari kamarnya dan ibu Nata kembali ke meja makan dengan membawa sepiring besar berisikan kue panekuk.

“Hendery!” sapa Nata riang. Ia segera duduk di sebelah Hendery dan meminum air perasan jeruk yang telah disiapkan khusus untuk dirinya.

“Papa nggak disapa, Nat?” tanya ayah Nata dengan nada cemburu.

Nata tertawa kecil, “Hehe, morning, Pa. Morning, Ma.”

“Seneng ya, Hendery bisa ikut sarapan di sini?” Kali ini ibu Nata yang bicara.

Nata hanya mengangguk antusias. Ia menaruh dua potong pancake di atas piring Hendery dan juga piringnya.

“Makasih banyak ya, Tante, Om,” ucap Hendery sopan sebelum ia menyantap sarapannya.

Walaupun ini bukan kali pertama Hendery duduk makan bersama dengan keluarga Nata, tapi masih ada rasa canggung yang Hendery rasakan. Terlebih lagi malam sebelumnya ibu Nata menyinggung akan membicarakan sesuatu tentang Nata dengan dirinya.

“Hendery, jadi gini,” suara ayah Nata memecah keheningan yang tercipta selama kurang lebih 10 menit setelah percakapan terakhir mereka.

“Nata dan kamu kan, sudah pacaran 8 tahun, kamu sudah temenin Nata dari masa tersulitnya sampai sekarang. Om dan tante berharap Hendery bisa terus temenin Nata, dalam artian, bawa hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius.”

“Papa!” Nata buru-buru menimpali kalimat ayahnya. Rasanya tidak pantas membicarakan topik ini pagi-pagi.

“Nat.” Hendery berusaha menenangkan Nata dengan memegang sebentar tangan Nata dan memberi tanda kalau ia baik-baik saja.

“Saya sudah pikirkan hal ini, Om, Tante. Saya juga sudah pernah bicara sama Nata. Tapi, saya kembalikan lagi ke Nata. Saya mau bawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius saat Nata sudah siap, bukan karena tuntutan siapa-siapa.” Hendery membalas perkataan ayah Nata sesopan dan sejelas mungkin.

Ayah Nata mengangguk-angguk, lalu pandangannya berganti ke arah putrinya. “Nata, gimana? Papa juga nggak mau buru-buruin Nata, Papa cuma mau tau aja, supaya Papa bisa atur rencana buat keluarga kita kedepannya.”

“Ngg … Nata butuh waktu lagi, Pa. Bukan karena nggak percaya dan sayang sama Dery, tapi Nata mau lebih siapin hati Nata lagi. Nata nggak mau mengikat janji tapi masih banyak keraguan di diri Nata.”

Ayah dan ibu Nata sama-sama tersenyum bangga mendengar jawaban Nata. “Oke, sayang. Yang pasti dari sini Papa dan Mama tau, kalau Nata dan Hendery memang pacaran bukan buat main-main lagi,” ucap ayah Nata lagi.

“Yaudah, yuk, lanjutin lagi sarapannya.” Ibu Nata menutup percakapan serius pagi itu dengan meminta semua yang ada di meja makan untuk kembali menikmati sarapan buatannya.