Hampir Selesai
2021, Januari Studio Lukis Nata 17.10pm
Baik Nata dan Hendery masih sulit untuk mempercayai pesan yang masuk dari dokter Satria sore itu.
“Hendery, aku nggak lagi mimpi, kan?” tanya Nata sambil memeluk Hendery.
Kemudian Hendery membalas pelukan Nata dan menjawab pertanyaannya, “Nggak, Nat. Ini bukan mimpi, Nat. We did it, Nat. Nope. You, did it.”
Air mata kembali membasahi wajah Nata, tapi kali ini adalah air mata bahagia.
“Hendery,” panggil Nata lalu ia melepaskan diri dari pelukan Hendery. “Kamu mau temenin aku selama di Malaysia?”
Pertanyaan Nata dijawab dengan sebuah anggukan kuat, lalu lelaki itu kembali memeluk bahagia Nata.
*
2021, Februari Kuala Lumpur, Malaysia
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan di Jakarta, akhirnya Nata dapat terbang ke Malaysia bersama kedua orang tuanya dan juga Hendery.
Setibanya di Kuala Lumpur, Nata langsung pergi menuju rumah sakit yang sesuai dengan rujukan dokter Satria. Di sana ia disambut ramah oleh dokter yang akan menangani operasi transplantasi ginjalnya.
“Halo Nata, bagaimana perasaanmu?” tanya dokter itu dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.
Nata tersenyum bahagia hingga matanya sedikit menyipit. “Deg-deg-an, tapi saya juga senang, Dok.”
“Kamu tidak perlu khawatir atau takut. Tidak perlu pikir apa-apa. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk operasi ini.”
Nata mengangguk mengerti. Kemudian setelah itu sang dokter meminta Nata untuk beristirahat di kamar rawat inap yang sudah disiapkan untuknya.
“Nak, Mama Papa tinggal ke hotel dulu, ya? Kami mau check-in kamar, untuk Hendery juga,” pamit ibu Nata kepada putrinya. “Hendery, tolong jaga Nata, ya? Kalau ada perlu apa-apa call aja.” Gantian ibu Nata mengajak Hendery berbicara.
Nata dan Hendery hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibu Nata lalu setelah itu kedua orang tua Nata segera pergi, menyisakan Nata dan Hendery di sana.
“Nat, sekarang kamu istirahat aja. Pasti capek, kan?”
“Nggak kok, aku nggak kecapekan. Aku terlalu excited kayaknya, susah buat tidur.”
Hendery tersenyum sambil sedikit tertawa mendengar jawaban Nata. “Istirahatnya sambil pegang tangan aku, gimana?”
Gantian Nata yang tersenyum mengangguk, lalu ia pergi sebentar ke kamar mandi untuk berganti pakaian agar bisa beristirahat.
*
D-day
Dalam perjalanan menuju ruang operasi, tangan Nata menggenggam tangan Hendery yang ikut berjalan di sisi ranjangnya. Hendery dapat merasakan tangan Nata yang basah akibat grogi yang ia rasakan.
“It’s okay, Nat. Kamu pasti bisa,” ucap Hendery pelan.
Tiba di depan pintu ruang operasi, perawat yang membawa Nata mempersilahkan kedua orang tua Nata dan Hendery untuk memberikan semangat kepada Nata sebelum ia menjalani operasinya.
“Nata, jangan takut ya, jangan khawatir juga. Papa Mama akan terus di sini, tunggu Nata sampai operasinya selesai. Semangat ya, sayang,” ucap ayah Nata kemudian ia mencium kening Nata, bergantian dengan ibu Nata yang juga mencium kening putrinya.
“Nat, you’re the bravest girl I’ve ever met. I’m so proud with you. Perjuangan kamu sedikit lagi selesai, jadi, tolong bertahan sedikit lagi, ya? I love you so much, Nat.” Kali ini giliran Hendery menyemangati Nata, tidak lupa juga ia mengakhiri kalimatnya dengan mencium kening Nata.
Nata tersenyum lebar, ia mendapat lebih dari cukup kekuatan untuk menjalani operasi transplantasi ginjalnya hari ini. Sebelum benar-benar berpisah, ia membalas kalimat terakhir Hendery.
“I love you so much too, Hendery.”