Cerita Raden
2017, Januari
Raden
Sejujurnya aku malas sekali harus menuruti kemauan ayahku untuk mengasah lebih dalam bakat musikku. Aku bisa dan suka bermain gitar, tapi aku tidak pernah ingin menjadi seorang gitaris. Aku hanya senang mengisi waktu kosongku dengan nada-nada indah dari tiap senar gitar yang kupetik.
Tapi siapa yang bisa melawan kehendak ayah? Minta tolong sama ibu juga percuma, karena ibu pasti akan bilang padaku, “sudah, turuti saja kemauan ayah ya, Nak?”
Langkah kakiku yang gontai menyusuri koridor bernuansa earth tone di salah satu studio musik cukup terkenal di kawasan Jakarta Selatan. Ruang demi ruang latihan ku lewati dengan isinya yang beragam, ada yang sedang berlatih drum, gitar, piano, hingga terakhir kutemukan seseorang sedang bermain biola.
Entah kenapa sepertinya alat musik senar selalu mencuri perhatianku, aku menyukai gitar dan mengagumi siapapun yang pandai bermain biola. Seperti yang sedang kusaksikan saat ini, seorang perempuan dengan rambut panjang coklatnya yang dibiarkan tergerai begitu saja, sedang memainkan sebuah lagu yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya patah hati.
Saat busurnya perlahan terangkat dari senar, aku refleks bertepuk tangan. Aku yakin dia tidak akan mempedulikanku tapi nyatanya aku salah. Ia menoleh ke arah pintu, matanya bertemu dengan mataku dan dengan ramah ia tersenyum padaku.
“Kamu dengerin permainanku tadi, ya?” tanyanya sopan begitu ia membuka pintu ruang latihan itu. Harusnya sebelum ia menghampiriku, aku kabur saja, ya. Tapi aku malah berdiri terpaku di sana, dengan hati kecilku berharap bisa berkenalan dengannya.
“Eh, iya nggak sengaja lagi lewat. Chopin Nocturne, ya?” Aku memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol. Sedikit-sedikit aku mengerti karya-karya dari komponis besar karena kesukaan ayahku terhadap musik klasik.
Perempuan itu mengangguk. “Iya, yang C-Sharp. Keren ih, bisa tau,” pujinya membuat aku tersenyum bangga dalam hati.
“Ohiya, kamu les apa?” tanyanya lagi dengan ramah. “Kayaknya aku baru pertama kali liat kamu di sini. Kenalin, aku Nata,” sambungnya sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku.
Aku tidak menduga perkenalan kami akan berjalan semulus ini. Dengan senyum terbaik yang aku punya, aku menyambut uluran tangannya. “Gue Raden,” balasku singkat.
*
2017, Juli
Enam bulan lebih mengenal Nata, bisa dibilang perlahan hidupku berubah. Dulu aku termasuk orang yang apatis, aku cenderung lebih senang menyendiri dengan duniaku. Bergaul juga hanya dengan teman-teman yang sudah kukenal sejak SMA.
Tapi sejak bertemu Nata, aku mulai berani mengeksplor banyak hal; seperti halnya Nata serba bisa, perempuan itu menyuruhku untuk belajar banyak hal yang aku sukai. Hasilnya? Aku mulai ikut klub fotografi dan beberapa kali sukses membuat pameran kecil-kecilan dengan teman-teman satu klub-ku.
Les gitarku gimana? Ya, baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar karena sepertinya alasanku bisa bertahan untuk les karena Nata, deh. Kebetulan jadwal les kami sama, sehingga tanpa kusadari dia selalu menjadi alasan bagiku untuk pergi ke studio musik itu.
Aku bukan murid yang menonjol di sekolah musik itu, begitu juga dengan Nata. Tapi bedanya, Nata cukup dikenal banyak orang karena bakatnya dan kerendahan hatinya. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan mulai dari resital kecil hingga konser berskala cukup besar yang diselenggarakan sekolah musik kami.
Padahal kalau dipikir-pikir, gila juga dia ikut semuanya itu. Bukannya apa, untuk tampil di satu konser klasik diperlukan persiapan minimal 3 bulan dengan latihan ekstra tentunya. Dan selama aku mengenal Nata, sepertinya dia sudah aktif mengikuti 5 konser, di antaranya ada mini recital dan konser yang akan diadakan akhir tahun ini.
Saat ini aku dan Nata sedang duduk di taman sekolah musik kami. Memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk mengobrol atau sekedar menghabiskan waktu sambil mendengarkan musik.
Nata tidak berhenti membolak-balikkan lembaran partitur biolanya dengan wajah berseri. “Seneng banget, Ta?” tanyaku penasaran. Sebenarnya bukan pertanyaan yang perlu ia jawab, sih, tapi tetap saja aku iseng bertanya.
Nata mengangguk-angguk antusias. “Banget, Raden! Ini semua repetoire favorit gue. Sayang banget sih, gue nggak bisa main Claire de Lune, tapi nggak papa deh, ini udah lebih dari cukup.”
“Widmung bukannya susah, ya? Ayah suka banget sama lagu ini,” ucapku sambil menatap selembar kertas berisikan not balok yang tertulis padat dan rapat. Melihatnya saja kepalaku sudah pusing, tidak bisa kubayangkan Nata malah betah banget mempelajarinya. Tapi justru itu yang menjadi daya tarik Nata, setidaknya bagiku.
“Nggak ada yang susah kalo latihan, Raden,” jawabnya santai lalu ia merapihkan lembaran partitur tadi dan menyimpannya dalam sebuah kantongan file berwarna pink pastel.
Saat Nata sedang merapihkan tasnya, kulihat arloji digital di tangan kirinya bergetar. Ia berusaha mematikan arloji itu buru-buru, lalu ia kembali berbicara padaku. “Gue harus balik nih, lo masih mau di sini?”
“Enggak, gue juga balik deh kalo gitu. Ayo gue anterin sampe ketemu Pak Pri.”
Nata menggerakkan tangannya dengan gestur menolak tawaranku. “Nggak usah, gue udah dijemput Hendery. Duluan ya, bye Raden!” pamitnya padaku kemudian ia meninggalkanku dan menghampiri seorang lelaki yang tengah berdiri di ujung koridor.
Wajah lelaki itu tidak terlihat cukup jelas dari tempatku berada sekarang, tapi aku bisa tahu kalau lelaki itu memiliki tahta paling tinggi di hati Nata saat ia mencium kening perempuan itu. Kemudian yang kulihat selanjutnya Nata merangkul pinggang laki-laki itu dan mereka mulai berjalan beriringan dengan mesra seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Harusnya aku sadar saat awal aku berkenalan dengan Nata, kisah kami berdua tidak akan seperti yang selalu aku bayangkan. Harusnya aku sadar, setiap melodi dari gesekan biola yang Nata mainkan, hanya ditujukan untuk satu laki-laki. Ya, laki-laki beruntung bernama Hendery itu.
*
2020, Desember
Aku menatap keluar jendela bandara yang besar, memperhatikan pesawat-pesawat yang terparkir di pelataran. Selintas di benakku terbesit, bagaimana bisa kerangka besi dengan berat ribuan ton itu mampu membawa ratusan manusia menyebrangi pulau, negara, hingga benua?
Kerangka besi itu juga yang akan membawaku pergi dari sini untuk memulai kehidupanku yang baru.
Aku memejamkan mataku sesaat lalu menghela nafas pelan. Ice Americano ku sudah habis sedari tadi, tapi aku masih belum dapat panggilan untuk boarding.
“Paling delay,” batinku sendiri dalam hati.
Tadinya ponselku sudah kusetel menjadi airplane mode, tapi berhubung keberangkatanku sepertinya ditunda, aku kembali menon-aktifkan airplane mode-nya untuk menyusuri timeline media sosialku.
Tidak ada yang terlalu menarik perhatianku; Kiel sepertinya sedang ribut dengan pacarnya, Harsa meng-update skor dari permainan game online nya, sementara Reza hilang entah ke mana.
Namun jariku berhenti bergerak saat kudapati cuitan Nata ada di antara milik teman-temanku. Isi cuitannya membuatku segera membuka room chat kami berdua. Tapi saat aku sedang mengetik pesan untuknya, tiba-tiba hatiku bergumul.
Kedua ibu jariku terdiam di atas layar ponsel. Ku pandangi kembali isi pesan teks yang ingin ku kirim untuk Nata. Dalam hati aku mulai bertanya, haruskah aku mengirimkan pesan itu? Atau tidak?
Butuh waktu lebih dari 5 menit untuk memutuskan apa yang harus kulakukan, sampai akhirnya ibu jari kananku mulai menekan tombol 'kembali'. Ya, aku harus kembali pada fakta bahwa kepergianku ke US kali ini selain untuk belajar, juga untuk merelakan Nata. Aku harus merelakan ia bahagia bersama orang yang ia cintai, dan itu bukan aku.
Aku kembali menyalakan airplane mode ponselku, lalu memasang sebuah lagu dari music player-ku dan memejamkan mata sembari bersandar di bangku bandara yang sama sekali tidak nyaman.
Aku kembali mendengarkan Nocturne No. 20 in C-Sharp Minor milik Chopin, lagu yang menjadi awal perkenalanku dengan Nata sekaligus menjadi titik balik kehidupanku. Alunan melodi minor lagu ini perlahan memasuki telinga, pikiran dan hatiku dengan indah, bersamaan dengan sosok Nata yang sengaja kubiarkan hadir sejenak di dalam diriku untuk terakhir kalinya.