Pupus
Hendery terbangun di sofa milik ruang rawat inap Nata yang tidak terlalu empuk. Punggungnya sedikit pegal, tapi ia tidak mempedulikannya. Yang pertama kali ia pikirkan adalah Nata. Dilihatnya perempuan itu sedang duduk bersandar di ranjangnya sembari membaca sebuah buku.
“Udah bangun, Dery?” tanya Nata saat menyadari Hendery sudah terjaga di sudut kamar.
Hendery mengusap pelan matanya, dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan ia mengangguk menjawab pertanyaan Nata dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Keluar dari kamar mandi, Hendery segera menghampiri Nata dan mencium pelan kening perempuan itu. “Morning, Naraya Talitha,” sapanya dengan suara yang sedikit parau.
Nata tersenyum lebar. “Morning, sayangku,” balasnya manis.
“How do you feel today?” tanya Hendery yang sekarang sudah duduk di sisi ranjang Nata dan mengambil sebuah apel dari meja kecil yang juga terletak di sisi ranjang Nata.
Nata mengangguk pelan. “Deg-deg-an, tapi nggak kayak kemarin. Kayaknya aku jadi less nervous karena ditemenin kamu deh,” jawab Nata riang. Matanya berbinar menatap Hendery yang asyik menyantap sarapan buahnya pagi itu.
“Papa Mama kamu belum dateng?” tanya Hendery lagi.
“Kayaknya kena macet, tadi sih nge-chat aku katanya udah on the way,” jawab Nata.
“Kalo dokter? Udah ke sini?”
Nata menggeleng. “Belum, mungkin karena masih pagi juga kali ya, baru juga jam 8.”
Hendery refleks melirik ke jam dinding, saat itu waktu menunjukkan pukul 8 lewat 10 menit.
“Nat, aku ke kafetaria sebentar, ya? Need some caffeine,” pamit Hendery dan diiyakan oleh Nata.
Lelaki itu pun segera meninggalkan kamar inap Nata dan pergi ke kafetaria yang terletak bersebelahan dengan lobi rumah sakit itu. Dalam perjalanannya menuju kafetaria, ia berpapasan dengan dokter yang merawat Nata. Hendery ingin menyapa dokter itu, tapi sang dokter sepertinya sibuk berbincang dengan perawat yang berjalan bersamanya.
“Saya perlu kasih tau sekarang atau bagaimana, Dok?” Sepintas Hendery mendengar pertanyaan si perawat kepada sang dokter.
“Jangan sekarang, saya masih mau usaha bujuk keluarga pasien itu.”
“Tapi kayaknya mereka nggak akan berubah pikiran, Dok.”
Langkah Hendery terhenti, sementara dokter dan perawat itu terus berjalan menjauh, bahkan melewati ruang rawat inap Nata tanpa melirik sedikitpun ke arah kamar itu. Ada prasangka buruk mencuat dalam benak Hendery, tapi buru-buru ia hapus dan ia segera kembali ke tujuan awalnya yaitu membeli kopi di kafetaria.
Sekitar 15 menit waktu yang dihabiskan Hendery untuk membeli kopi, kini lelaki itu sudah kembali ke kamar rawat inap Nata. Nata masih sama seperti saat ia ditinggal tadi, sibuk dengan buku bacaannya. Hendery pun tidak berniat menganggu Nata, kini ia juga sibuk dengan ponselnya, untuk sekedar membalas pesan dari teman-temannya atau membaca berita terkini di media sosial.
“Nata ... mama papa belum datang?” Dari arah pintu, dokter yang merawat Nata datang bersama seorang perawat. Kedua orang yang sama, seperti yang Hendery temui beberapa saat lalu. Sepertinya kedua orang itu tidak menyadari kalau tadi mereka berpapasan dengan Hendery.
“Belum, Dok. Kayaknya kena macet.”
Dokter itu hanya mengangguk-angguk saja. “Oh, oke. Kalau gitu kita tunggu mama papa kamu aja, ya.”
“Operasinya udah mau dimulai ya, Dok?” tanya Nata saat dokter tadi hendak kembali meninggalkan kamar Nata.
“Ngg ... Iya. Nanti kita bicara lagi ya, Nata. Kamu istirahat dulu aja di sini.”
Nata mengangguk menurut tapi Hendery mendengar keraguan di jawaban dokter itu. Raut wajah Dokter itu pun berbeda dengan lusa kemarin, saat ia menginfokan Nata tentang operasi transplantasi ginjal yang akan dilakukan Nata hari ini.
Prasangka buruk itu kembali datang tapi suara Nata sukses membawa Hendery kembali dari lamunannya. “Dery? Hendery?”
“Eh iya? Kenapa, Nat?”
Nata terkekeh pelan. “Kamu kenapa? Kok bengong?”
“Oh, nggak papa kok,” jawab Hendery cepat. “Aku coba telfon mama papa kamu dulu, ya.” Hendery segera mengganti topik pembicaraan mereka dan ia kembali keluar dari kamar Nata untuk menelepon kedua orang tua Nata.
Baru saja ia mau menekan tombol call di ponselnya, Hendery mendapati kedua orang tua Nata sedang berbicara dengan dokter tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hendery tidak dapat mendengar isi percakapan mereka, tapi sedetik kemudian yang dapat ia lihat adalah ibu Nata menangis bersandar di lengan ayah Nata.
Sepertinya prasangka buruk Hendery benar...
Perlahan ia berjalan mendekati kedua orang tua Nata dan juga dokter yang merawat Nata. Saat Hendery tiba, dokter tadi berpamitan, menyisakan kedua orang tua Nata yang masih terdiam setelah mendengar info dari sang dokter.
“Om, Tante, ada apa?” tanya Hendery hati-hati.
Butuh waktu untuk ayah Nata sebelum ia menjawab pertanyaan Hendery. “Transplantasi ginjal untuk Nata dibatalkan, keluarga pendonor mendadak tidak setuju untuk alasan yang mereka nggak bisa kasih tau ke kita.”
Hati Hendery mencelos, rasanya separuh dari dirinya runtuh. Penantian panjang dan harapan yang ia bangun bersama Nata pupus dalam sekejap.
Ibu Nata tidak mampu untuk menahan tangisnya, kini ia terisak di dalam dekapan sang suami, sementara Hendery mengepalkan kedua tangannya, menahan agar seluruh emosinya tidak lepas karena itu hanya akan menambah runyam suasana.
“Nata di mana, Hendery?” tanya ayah Nata setegar mungkin. Sebisa mungkin sebagai tonggak keluarga ia tidak terlihat lemah, sesulit apapun keadaannya.
Hendery sedikit berputar untuk menunjuk kamar Nata, tapi yang membuat dirinya dan juga kedua orang tua Nata kaget adalah sosok Nata yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya entah sejak kapan. Sambil mendorong tiang infus yang tersambung dengan jarum di tubuhnya, Nata mendekati Hendery dan orang tuanya.
“Ada apa? Ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari Nata?” tanya Nata penuh kecurigaan. Tidak ada satupun yang menjawab, baik ibu, ayah Nata dan juga Hendery.
“Ada apa, Pa? Ada apa, Dery? Kenapa Mama nangis?” Nata kembali bertanya, memanggil satu persatu yang ada di sana dengan lebih spesifik.
“Nat ...”
“Operasi kamu dibatalkan, Nak. Maafin Papa.” Ayah Nata memotong Hendery, menjawab pertanyaan Nata dengan sejujur-jujurnya.
Nata tidak langsung bereaksi, butuh beberapa detik untuk pikirannya memproses apa yang baru saja ia dengar.
“Dibatalin, kenapa?” Suara perempuan itu mulai bergetar. Hendery segera merangkulnya tapi Nata justru menghindarinya.
“Jawab Nata! Kenapa operasinya dibatalin?!” Kali ini pertanyaan itu kembali diulang Nata dengan nada bicara yang lebih keras dan tinggi, diiringi dengan isak tangis yang pecah begitu saja, menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu.
“Apa Nata nggak berhak untuk hidup sehat?! Apa Nata nggak berhak untuk hidup kayak perempuan-perempuan lain di luar sana?!” sambung Nata bertanya dengan putus asa, lalu ia mulai berusaha melepas selang infus dari tangannya dengan gusar.
“Nata! Nat, nggak gini! Nata!” cegah Hendery sambil berusaha menghentikan tangan Nata, tapi perempuan itu terus menghindar.
“Lepasin, Hendery! Lepasin!”
“NATA!” panggil Hendery keras. Nata refleks berhenti, ditatapnya mata Hendery yang memohon kepada dirinya untuk berhenti melakukan perbuatannya barusan. “Nat, please stop. Nggak gini caranya ...” Suara Hendery melemah lalu ia segera merengkuh Nata yang mulai menangis dalam pelukannya.
“Kenapa harus aku, Hendery? Aku punya dosa apa sampe aku nggak boleh sembuh? Semesta sejahat inikah sama aku?” racau Nata di sela isak tangisnya.
Hendery tidak berhenti mengusap puncak kepala Nata dan mendekap perempuan itu lebih erat. Air matanya ikut tumpah mendengar betapa putus asanya wanita yang paling ia cintai itu.
“Nggak, Nat. Kamu pasti bisa sembuh, kamu harus sembuh. Kita bakal ketemu pendonor lain yang cocok sama kamu. Aku mohon, sampai waktu itu kamu bertahan, ya?” mohon Hendery dengan suara bergetar.
Nata tidak menjawab apa-apa, ia hanya terus menangis dalam pelukan Hendery. Tangisnya memenuhi lorong rumah sakit, yang terbatasi dengan dinding-dinding putih yang dingin, menjadi saksi mati keputusasaan perempuan itu.