… Should Be

Hati Hendery sedang dalam suasana terbaiknya, terbukti sepanjang perjalanan untuk menjemput Nata, laki-laki itu terus berdendang mengikuti alunan lagu yang diputar di radio.

‘Tunjukkanlah rasa cintamu, coba buat mereka tahu, betapa indahnya dunia bila engkau sedang jatuh cinta.’

Hendery tersenyum, lagu milik RAN yang satu ini selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Lagu ini juga menjadi lagu kesukaan Nata sejak awal mereka berpacaran.

“Hai Hendery!” sapa Nata ramah begitu ia masuk ke dalam mobil Hendery. Perempuan itu mengenakan dress putih motif renda selutut dengan sepatu Converse warna coklat muda dan mini slingbag berwarna senada. Rambut panjangnya diikat setengah dengan hiasan pita putih yang cukup besar.

“Cantik banget pacar aku,” puji Hendery dengan mata berbinar. Setelah yakin Nata sudah duduk dan memasang seat belt-nya dengan benar, ia mengambil hadiah yang sudah ia siapkan; boneka teddy bear dan sebuket bunga yang ditaruh di jok belakang.

“Buat Nata,” ucap Hendery dengan ekspresi malu-malu.

“Hah? Hendery … Ini lucu banget bonekanya … Dan gede banget, ya,” balas Nata yang dalam sekejap menghilang di balik boneka besar pemberian Hendery.

Hendery tertawa, “Lah, iya, pacar aku jadi ilang,” ucapnya sambil mengambil kembali boneka besar itu dan ditaruhnya lagi di jok belakang.

“Hendery, makasih banyak, ya …” kata Nata yang sudah kembali ‘terlihat’, tersisa sebuket bunga di genggamannya yang ia pandangi terus menerus.

“Sama-sama, Nat,” balas Hendery sambil meraih kepala Nata dan mencium pelan kening perempuan itu. “Sekarang kita berangkat, ya,” sambungnya.

Perjalanan dari Selatan menuju Utara Jakarta cukup memakan waktu karena padatnya lalu lintas ibukota, tapi tidak membuat keduanya menjadi bosan.

Nata dan Hendery justru asyik berkaraoke, menyanyikan setiap lagu yang diputar radio yang sedari tadi dipasang Hendery, sampai Nata sadar kemana Hendery membawanya pergi kali ini.

“Hah? Kita ke Ancol?” tanya Nata meyakinkan Hendery dengan antusias.

“Yup! Udah lama banget kan, kamu nggak liat pantai?”

Pertanyaan Hendery dijawab dengan anggukan antusias Nata. Begitu mobil Hendery sukses terparkir tidak jauh dari pantai, keduanya segera turun dan berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai sambil membicarakan hal-hal random yang tidak jarang mengundang tawa keduanya.

Puas menghirup aroma asin di pantai, Hendery kembali mengajak Nata ke mobil, membawa perempuan itu ke perhentian selanjutnya.

“Kita mau ke mana lagi?” tanya Nata penasaran tapi Hendery tidak menjawabnya. Lelaki itu hanya tersenyum, lebih tepatnya tersenyum gugup karena waktunya sebentar lagi akan tiba.

Nata tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya saat Hendery memarkirkan mobilnya di area Dunia Fantasi.

“Hendery, jangan bilang kita mau naik carousel?!” tanya Nata persis seperti anak kecil yang kegirangan diajak pergi ke taman bermain.

Menjawab tebakan Nata yang benar, Hendery hanya mengelus pelan kepala Nata lalu merangkul bahu perempuan itu, berjalan beriringan hingga keduanya tiba di dalam taman bermain tertua di Indonesia itu.

“Selain carousel, kamu mau main apa, Nat?”

Nata berpikir sejenak, sebenarnya ia mau menjajal semua wahana di sana tapi waktu dan kondisi tubuhnya tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan itu semua.

Bom bom car,” jawab Nata singkat, “aku mau nyoba nyetir, hehehe.”

“Oke, boleh. Let’s go!”

Langit sudah sepenuhnya menjadi gelap saat Nata dan Hendery selesai bermain bom bom car, setelah sebelumnya dua kali mereka mengantri karena Nata tidak puas dengan durasi permainannya yang terlalu singkat.

“Ngantri carousel, yuk. Liat deh, lampunya udah nyala semua. Jadi bagus,” ajak Hendery lalu ia segera menggandeng tangan Nata untuk mengantri.

Tidak terlalu lama mereka mengantri, kini Hendery dan Nata dapat giliran untuk bermain komidi putar itu. Mereka langsung memilih dua kuda yang bersebelahan dan begitu wahana itu mulai berputar pelan, Nata mengambil beberapa foto dengan kamera polaroidnya.

“Hendery, makasih banyak, ya. Aku seneng banget, salah satu wishlist aku dari dulu, kepengen banget naik carousel sore menjelang malam gini. Dan sama kamu pastinya.”

“Sama-sama, Nat. Maaf ya, aku baru bisa ajak kamu pergi sekarang.”

Nata menggeleng, “Nggak papa, kok. Belum terlambat.”

Sejenak keduanya terdiam menikmati semilir angin yang tercipta karena wahana itu terus berputar pelan.

“Nata.”

“Ya?”

Hendery mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket yang ia kenakan dan hendak mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan sedari tadi. Tapi, semuanya harus ia urungkan karena tiba-tiba Nata mencengkram lengan Hendery dengan sangat kuat.

“Dery …” panggil Nata dengan keringat dingin di pelipisnya.

“Nat?! Nata?! Kamu kenapa?”

Pertanyaan Hendery dijawab dengan ambruknya tubuh perempuan itu. Hendery buru-buru menangkap tubuh Nata sebelum jatuh dari kuda-kudaan yang sedang ia naiki.

Bersamaan dengan carousel yang berhenti berputar, Hendery segera berteriak meminta pertolongan kepada siapapun yang dapat menolongnya. Beberapa staff yang bertugas segera menolong Hendery; dalam sekejap suasana menjadi sedikit ricuh, dirinya dan Nata langsung menjadi pusat perhatian.

“Nata! Nata! Bangun, Nat!”