Samudra
⚠️ cw // death
Qian Kun as Kenji Laras as OC
Aroma asin yang diciptakan sang samudra menggelitik rongga hidung Kenji. Dari anak tangga tertinggi, ia menghirup dalam-dalam aroma itu, membiarkannya masuk ke dalam paru-paru bersamaan dengan kenangan yang tidak akan pernah luput dari hatinya.
Kisahnya dengan sang samudra seperti roda yang berputar; saat di atas ia sangat mencintai hamparan laut luas tak berujung itu, tapi saat di bawah ia sangat membencinya sampai ia tidak mau melihatnya lagi.
Dan kini roda itu kembali berputar ke atas, Kenji tidak lagi membenci sang samudra. Kalau ia membenci sang samudra, bagaimana caranya ia bisa menyapa wanita yang dicintainya?
Wanita yang dicintainya? Samudra?
Ya, wanita itu memilih untuk menyatukan diri dengan sang samudra, setelah hampir dua jam mencoba bertahan di tengah keputusasaan.
*
31 Desember 2012
Hampir enam bulan sejak babak baru dalam kehidupan Kenji dan Laras dimulai, akhirnya mereka bisa bersantai dari penatnya ibukota. Kenji dan Laras yang sama-sama menyukai laut, memilih cruise trip sebagai perjalanan bulan madu mereka.
Begitu jangkar dilepaskan dari pelabuhan, Kenji dan Laras menikmati setiap waktu yang mereka dapat habiskan bersama. Tidak ada malam tanpa tawa canda dan sentuhan, tidak ada siang tanpa mimpi-mimpi yang diceritakan satu sama lain untuk masa depan mereka.
Perjalanan itu terasa sempurna, sampai malam petaka menghampiri mereka. Entah apa yang salah dengan kapal pesiar yang mereka tumpangi, kapal itu perlahan mulai tenggelam. Para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing; begitu pula dengan Kenji dan Laras.
“Laras, pakai jaket pelampungnya sekarang.”
“Tapi jaketnya cuma ada satu! Aku nggak mau pake kalau kamu nggak pake.”
Kenji sempat memaksa, tapi Laras malah membuang jaket pelampung itu jauh-jauh, membuat keduanya kini tidak memiliki satu pun benda penyelamat.
Kepanikan semakin melanda saat listrik kapal pesiar itu padam bersamaan dengan air yang mulai meninggi. Semakin lengkap ketika mereka dapat merasakan dinginnya suhu air laut yang saat itu dalam kondisi di bawah 0 derajat.
Langkah kaki Kenji dan Laras semakin berat, mereka berusaha mencapai deck kapal yang mungkin masih belum terkena air. Beberapa kali Kenji mendapati Laras menggigil kedinginan karena tubuhnya sudah terendam air setinggi pinggang, tapi perempuan itu selalu bilang ia baik-baik saja.
“Laras, aku gendong kamu aja, gimana?”
“Aku bisa jalan sendiri.”
Kenji dan Laras berhasil sampai di tujuan mereka, tapi malangnya sudah tidak ada lagi perahu karet bantuan yang tersisa. Laras menangis dalam pelukan Kenji, ia berdoa kepada Yang Maha Esa; permintaannya cuma satu, kalau ia hanya ingin pulang bersama Kenji. Dan jikalau ini mimpi, ia ingin segera dibangunkan dari mimpi buruknya ini.
Tapi sepertinya Semesta tidak mendengar jeritan hati Laras. Kapal itu kini sudah seutuhnya menjadi milik sang samudra, bersama dengan Kenji dan Laras yang terombang-ambing di sana. Syukurnya Kenji menemukan patahan kayu dari kapal yang bisa ia dan Laras gunakan untuk bertahan hidup agar tidak tenggelam. Tapi, mau sampai kapan bergantung pada kayu tak seberapa itu?
“Ken, kalau aku mati gimana?”
“Kamu mati, aku mati, Laras.”
“Jangan, kamu harus bertahan. Demi aku.”
“Laras! Gimana bisa aku hidup tanpa kamu?”
Laras tersenyum tipis sementara tubuhnya sebisa mungkin menahan dinginnya air laut.
“Kenji, maaf, tapi aku nggak kuat lagi.”
“Laras! Tolong bertahan!! Bantuan sebentar lagi datang!!”
“Kenji, aku mencintaimu.”
Dan setelahnya menjadi hening. Mata Laras tertutup rapat dengan senyum terbaik terpasang di wajahnya. Tubuhnya mulai kaku, tangannya yang memegang patahan kayu kini mulai terlepas dari benda itu.
“Laras! Laras! Laras!!!”
Panggilan Kenji hanya dijawab oleh hembusan angin malam yang menambah dinginnya malam itu. Tubuh Laras perlahan hanyut dalam gelapnya samudra luas, diiringi oleh jeritan tangis Kenji.
*
Sembilan tahun peristiwa itu berlalu dan Kenji sudah melewati banyak fase dalam roda kehidupannya. Ia membenci Semesta dan samudra karena merenggut kekasih hatinya, tapi kini ia sudah berdamai dengan keduanya. Ditatapnya kembali sang samudra yang mulai memancarkan siluet jingga tanda sang surya segera kembali ke peraduan.
“Laras, apa kabar? Semoga kamu selalu baik-baik saja. Doakan aku yang masih mengembara di dunia ini, ya? Doakan supaya aku mampu bertahan. Samudra, aku titip Laras. Tolong jaga dia selalu.”