Spend My Life Time Loving You

Sesuai permintaan Nata bulan lalu, hari ini Hendery dan Nata pergi ke Perpusnas setelah selesai sarapan di rumah Nata.

Library date mereka dimulai dari lantai 7 dimana koleksi buku anak terdapat di sana. Walaupun bukan anak kecil lagi, tapi baik Nata dan Hendery sama-sama merasa senang berada di sana karena desain interior lantai itu yang dibuat semenarik mungkin untuk anak-anak.

Puas melihat-lihat lantai 7, Nata mengajak Hendery untuk mampir ke lantai 12. Di sana terdapat ruang baca yang sangat nyaman dengan pemandangan puncak tugu Monas di jendela.

Pindah dari lantai 12 menuju lantai 21 & 22, di sana Hendery dan Nata menghabiskan waktu paling banyak. Nata memilih untuk membaca koleksi buku non fiksi sementara Hendery kebalikannya.

“Hendery, bosen nggak?” tanya Nata setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung lain yang duduk di dekatnya.

“Nggak, kok. Nggak usah pikirin aku, yang penting kamu having fun di sini,” balas Hendery berbisik juga.

“Tapi masalahnya aku laper.”

Hendery melirik jam tangannya, tidak terasa mereka sudah berada di sana lebih dari 3 jam. Saat ini waktu menunjukkan pukul 2 siang.

“Yaudah, kita makan siang dulu aja, ya?”

Tawaran Hendery dijawab dengan anggukan Nata. Kemudian keduanya segera meninggalkan Perpusnas dan memilih resto makanan khas Indonesia sebagai tempat makan siang mereka, yang terletak tidak jauh dari kawasan Monas.

“Seneng nggak, jalan-jalan hari ini?”

“Seneng, kapan-kapan lagi, ya! Aku mau ngerasain sunset dari lantai 24.”

“Boleh …”

Percakapan mereka terhenti karena makan siang mereka telah tersaji dan segera keduanya menyantap makanan itu hingga habis tak bersisa.

“Masih mau lanjut ke Monas atau udahan aja? Aku takut kamu kecapekan …” ucap Hendery saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil Hendery.

Nata awalnya terlihat ragu, sebenarnya ia masih ingin melanjutkan rencananya, tapi ia juga sadar tubuhnya tidak bisa terlalu diforsir.

“Pulang aja deh, tapi kamu jangan langsung pulang.”

Jawaban Nata disambut dengan senyuman terbaik Hendery dan juga usapan ringan di puncak kepala perempuan itu. Lalu Hendery segera mengemudikan mobilnya kembali ke rumah Nata.

*

Tiba di rumah Nata sekitar pukul 4 sore, Hendery dan Nata menghabiskan waktu di studio Nata. Nata memilih untuk kembali melanjutkan lukisannya sementara Hendery dengan setia menemani pacarnya itu.

“Hendery bosen nggak sih? Nemenin aku doang gini-gini?” tanya Nata disela kegiatan melukisnya.

“Sama sekali enggak, aku bisa main game, kalo bosen, tinggal liatin muka pacar aku yang cantik banget.”

Hendery yang senang duduk lesehan di lantai berlapis parquet itu kini menopang dagu dengan kedua tangannya lalu matanya memandangi Nata yang terlihat lebih tinggi karena duduk di kursi.

“Ih, Hendery, aku serius!”

“Lah, siapa juga yang bercanda? Suer, aku gak bosen.”

“Hendery.” Nada bicara Nata kini berubah menjadi lebih serius, seolah dirinya ingin mengganti topik pembicaraan ke arah yang lebih serius.

“Iya? Kenapa, Nat?”

“Pembicaraan sama papa yang tadi pagi … Aku rasa aku udah siap.”

Hendery buru-buru mengubah posisi duduknya menjadi bersila dan tegak. “Nat? Kamu serius?”

Nata menaruh kuas dan palet lukisnya, lalu duduk menghadap Hendery agar dapat berbicara lebih leluasa. “Aku serius. Selama ini aku sebenernya bukannya belum siap, tapi aku takut.

“Aku takut kalau sewaktu-waktu aku sakit lagi dan kamu ninggalin aku karena aku nyusahin kamu. Aku juga takut kalau kamu tiba-tiba bosen sama aku. Aku banyak ketakutan, Hendery.”

Karena tangan Nata sudah bebas dari segala alat lukisnya, Hendery mengenggam kedua tangan itu dan sedikit mendanga agar dapat melihat Nata dengan jelas.

“Nat, jangan takut, ya? Semua itu nggak akan terjadi. Aku berani sumpah, oke, sebenernya gak boleh but, please trust me, Nat. Fondasi hubungan itu cuma satu, rasa percaya.

“Aku selalu percaya kamu, bahkan di titik terendah hubungan kita beberapa tahun lalu pun, aku masih percaya suatu saat kamu akan balik ke aku. Terbukti, kan? Kita sekarang sama-sama lagi.”

Nata mengangguk menyetujui pernyataan Hendery. Benar, lelaki itu rela menunggu dua tahun untuk dirinya. Kini apalagi yang harus diragukan?

“Aku nggak pernah bosen bilang sama kamu, Nat. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan. Apapun yang terjadi, nggak akan pernah aku ninggalin kamu.”

Air mata haru berkumpul di pelupuk Nata. Karena begitu banyak yang berkumpul sampai di antara mereka akhirnya jatuh membasahi pipi Nata.

“Kayaknya di kehidupan sebelumnya, aku itu seorang pahlawan deh, Hendery,” kata Nata sambil menghapus air matanya.

“Kenapa emangnya?”

“Abisnya di kehidupan aku yang sekarang, aku beruntung banget bisa punya kamu dalam hidup aku.”

Hendery segera bangkit berlutut agar ia bisa meraih tubuh Nata dan memeluknya erat. “Berarti aku juga pahlawan, Nat. Soalnya aku juga beruntung bisa milikin kamu.”

Keduanya sama-sama tertawa pelan, kemudian Hendery melepas pelukannya dan ditatapnya kedua mata Nata lekat-lekat. “Nat, kamu memutuskan ini karena memang kesiapan hati kamu, kan? Bukan karena papa atau aku?”

Nata menggeleng, “Bukan, Hendery. Keputusan ini bener karena aku siap. Let’s spend life time together.”

Hendery tidak berhenti menatap Nata dengan tatapan penuh cinta, sesekali tangannya mengusap lembut kepala dan juga pipi Nata. Tatapan itu diakhiri dengan sebuah ciuman lembut di kening Nata.

“Let’s spend our life time together, Naraya Talitha.”