goldeneunoia

Hendery menyambut kedatangan Nata di dalam mobilnya dengan senyum sumringah. “Good morning, gembilnya Hendery!”

Nata sedikit mengerucutkan bibirnya, mengundang kekehan pelan Hendery. “Nih, hot chocolate kamu sama espresso brownies-nya. Dimakan yah, aku nyetir,” sambung Hendery, kemudian ia mulai kembali mengemudikan mobilnya sementara setelah mengucapkan terima kasih, Nata menyantap sarapannya.

Jalanan Jakarta memang cukup padat setiap pagi, tapi tidak membuat Nata terlambat untuk melakukan hemodialisis. Setelah bertemu dengan dokter yang merawatnya dan melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya cuci darah Nata dimulai.

Dibantu seorang perawat, Nata diminta untuk duduk di sebuah kursi dengan mesin dialyzer di sisi kirinya. Setelah itu, sang dokter mulai memasang jarum di tubuh Nata untuk mengalirkan darah dari tubuh Nata ke alat filterisasi dan sebaliknya.

Karena ini bukan kali pertamanya, Nata hanya pasrah saja membiarkan dokter merawat dirinya. Hendery yang menemaninya hanya menggenggam tangan kanan Nata yang bebas, menyalurkan kekuatan dan dukungannya untuk Nata agar perempuan itu tidak menyerah dengan perawatannya.

“Aku sebenernya malu, Hendery,” ucap Nata ditengah proses cuci darahnya. Hendery yang duduk di sisi kanannya menoleh dengan raut wajah bingung.

“Malu kenapa?”

I’m on my weakest moment in my life. Kamu liat aku hidup bergantung dengan jarum dan mesin ini … entahlah, aku ngerasa malu aja. Aku kelihatan lemah banget.”

Hendery mengusap pelan puncak kepala Nata. “Nggak, kamu sama sekali nggak lemah. Kamu hebat, kamu keren, Nat. And I’m so proud with you.

“Tapi kalo nggak ada mesin-mesin ini aku mati, Hendery,” sanggah Nata.

“Mereka bantu kamu sementara, Nat. Soon kamu akan dapet donor ginjal yang sesuai dan kamu nggak akan butuh mereka lagi. Sampai waktunya itu kita sama-sama berjuang ya, Nat?”

Nata menghela nafas pendek dan kemudian mengangguk mengiyakan kalimat Hendery. Ia tahu lelaki itu tidak pernah dan tidak akan berbohong pada dirinya. Ia bisa yakin akan hal itu dari sorot mata tulus Hendery yang tidak berhenti menatapnya.

“Nata, kamu beruntung banget punya pacar Hendery.” Dokter yang merawat Nata kembali datang untuk memeriksa kondisi pasiennya. Baik Nata maupun Hendery saling tersipu malu mendengar pujian singkat itu.

By the way, saya punya kabar baik buat kamu.” Dokter itu kembali bersuara setelah dilihatnya Nata dan juga alat filterisasi yang digunakan Nata baik-baik saja.

“Apa, Dok?” tanya Nata penasaran.

“Kamu akan segera dapat donor ginjal.”

Jawaban sang dokter sukses membuat mata Nata dan Hendery melebar. Mereka saling tukar pandang karena masih sulit mempercayai apa yang mereka dengar barusan.

“Dok, beneran? Siapa yang bakal donor ginjal buat Nata?” tanya Hendery antusias.

“Beliau seorang pasien brain death dan pagi hari ini, keluarganya sudah ikhlas untuk melepas semua alat bantu hidup pasien tersebut.”

Hati Nata mencelos. Walaupun ini kabar baik baginya, tapi tidak bagi keluarga pasien yang ditinggalkan.

“Kami sudah memeriksa seluruh organ tubuhnya yang layak untuk didonorkan, dan kebetulan ginjalnya cocok dengan kamu. Keluarganya juga sudah menyutujui pendonoran ini. Jadi, kita tinggal tunggu kabar selanjutnya dari tim dokter yang merawat pasien itu untuk atur jadwal pencangkokannya.”

Nata masih merasa tidak enak, tapi ia tetap tersenyum karena bagaimanapun juga akhirnya penantian panjangnya untuk segera sembuh dari penyakit mematikan ini akan berakhir. Mulai terbayang di benaknya, hal-hal yang akan ia lakukan nanti ketika ia sudah sembuh sepenuhnya.

“Dok, makasih banyak, ya. Terima kasih banget,” ujar Hendery lalu ia kembali menggenggam tangan Nata dan memandangi Nata dengan tatapan penuh harapan.

Dokter itu hanya mengangguk lalu kembali pergi setelah selesai memeriksa Nata sekaligus memberikan kabar baik kepada pasiennya itu.

“Hendery, akhirnya …”

Hendery mengangguk-angguk, tangannya tidak berhenti mengelus tangan Nata di genggamannya. “Terima kasih ya, Nat, udah bertahan selama ini. Aku tau, aku yakin kamu pasti bisa ngelewatin ini semua.”

Nata tidak bisa berhenti tersenyum bahagia, genangan air mata haru di pelupuknya jatuh membasahi pipinya.

Note: Hemodialisis: cuci darah Dialyzer: alat filterisasi darah Brain death: mati batang otak

Sudah hampir 15 menit Hendery diam di dalam mobilnya. Ia sudah tiba di kawasan rumah Nata sedari tadi, tapi tubuhnya masih saja bersandar di kursi balik kemudi. Keraguan kembali memenuhi dirinya, padahal selama perjalanan, sudah berulang kali ia meyakinkan dirinya kalau ia menemui Nata dan mendengarkan penjelasan perempuan itu.

Tapi begitu tiba di depan rumah Nata, keyakinan itu luntur. Seperti ada sesuatu di kepalanya yang memaksanya kembali mengingat, betapa sakit hatinya saat ia dipaksa untuk menerima realita kalau perempuan itu pergi karena sakit yang diidapnya, dan dengan dalih tidak ingin menyakiti hatinya, perempuan itu pergi tanpa berucap apa-apa.

Waktu terus berlalu seiring dengan Hendery yang kini menatap layar ponselnya. Nihil, tidak ada pesan dari Nata. Ia tidak tahu, entah perempuan itu masih menunggu dirinya atau sudah tidak peduli apakah ia akan datang atau tidak. Perasaannya bergumul sendiri dan ia tidak suka dengan hal itu. Akhirnya Hendery memejamkan mata beberapa saat dan menarik nafas panjang sampai ia mendapatkan sebuah keputusan; turun dari mobil dan mendatangi rumah Nata.

Ting tong ...

Seorang asisten rumah tangga keluarga Nata membukakan pintu untuk Hendery dan mempersilahkan lelaki itu untuk masuk. Hendery menanggapi sambutannya dengan ramah, lalu ia masuk dan duduk di ruang tamu seperti kebiasaannya sejak dahulu setiap berkunjung ke rumah Nata.

“Saya panggilkan non Nata sebentar ya, Mas,” ucap asisten rumah tangga keluarga Nata kemudian wanita itu pergi menghilang dari pandangan Hendery, berganti dengan ibu Nata.

“Halo Tante, maaf ya, saya dateng sore-sore ke sini.”

Ibu Nata tersenyum ramah. “Nggak papa, Hendery. Kamu kayak orang asing aja ngomongnya begitu,” balas ibu Nata kemudian mereka berdua sama-sama mendapati Nata yang sedang berjalan menghampiri keduanya, “Tante tinggal dulu, ya. Hendery mau minum apa?” tawar ibu Nata.

“Nggak usah repot-repot, Tante,” tolak Hendery sopan.

“Kalau perlu sesuatu, bilang aja sama Bibi,” ucap ibu Nata kali ini kepada Hendery dan juga Nata yang sudah tiba di ruang tamu. Baik Nata dan Hendery hanya mengangguk kemudian ibu Nata pun segera meninggalkan mereka berdua.

“Hai Nat, lo udah nggak papa, kan?” tanya Hendery selepas kepergian ibu Nata. Nata lagi-lagi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Hendery.

“Kita ngobrol di taman depan aja, gimana?” tawar Nata dan langsung disetujui oleh Hendery. Keduanya segera meninggalkan ruang tamu dan pergi menuju sebuah taman kecil milik kompleks perumahan Nata, yang kebetulan terletak berseberangan dengan rumah Nata.

“Hendery, kamu beneran mau dengerin aku?” tanya Nata begitu mereka duduk berdampingan di bangku taman.

“Iya,” jawab Hendery singkat. Hatinya sudah ia persiapkan sedari tadi untuk mendengarkan penjelasan Nata.

“Sebelumnya aku mau minta maaf. Selama ini aku nggak pernah say sorry secara proper. Maaf, buat segalanya, Hendery. Buat kepergian mendadak aku yang bikin kamu nggak baik-baik aja.”

Nata diam sejenak. Biasanya air matanya akan segera mengalir pelan di wajahnya akibat perasaan emosional dalam dirinya, tapi kali ini ia sudah lebih siap, ia bisa menahan tangisnya agar bisa menjelaskan semuanya kepada Hendery.

“Alasan aku nggak ngomong sama kamu apa-apa tentang penyakitku dan kepergianku, karena aku nggak mau bikin kamu sedih. Aku nggak mau ngecewain kamu. Dan aku juga takut, Hendery ... Aku takut kehilangan kamu.

“Aku takut karena aku sakit, aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu. Aku hanya akan nyusahin kamu dengan sakitku ini, yang akhirnya akan bikin aku kehilangan kamu.”

“Dari mana lo bisa nyimpulin itu semua, Nata? Hubungan kita dari akhir SMA sampai dua tahun lalu itu lo anggap apa?”

Nata hanya menunduk mendengar sanggahan Hendery sementara lelaki itu sebisa mungkin menahan emosinya, ia tidak mau kejadian di Cerveza lusa kemarin kembali terulang.

Sorry, lanjutin lagi aja, apa yang mau lo omongin,” sambung Hendery lagi.

“Karena itu juga aku mau minta maaf, Hendery. Maaf aku udah ngeraguin kamu, ngeraguin hubungan kita selama ini. Maaf, nggak seharusnya aku bersikap seperti dua tahun lalu. Pikiranku terlalu pendek saat itu, padahal Papa udah berkali-kali bilang ke aku untuk jujur sama kamu.”

“Terus kenapa pas lo balik, lo malah mutusin sepihak hubungan kita?”

Nata tertegun. “Itu ... Itu karena aku nggak mau nyakitin kamu lebih lagi. Rasanya aku nggak tau diri banget, udah pergi gitu aja terus tiba-tiba aku dateng dan menganggap kamu masih pacar aku.”

“Tapi itu yang gue lakuin, Nat. Itu yang gue lakuin buat lo selama dua tahun gue nunggu lo. Iya, gue marah, marah banget. Gue sangat-sangat kecewa, gue merasa lo jahat banget sama gue. Tapi, perasaan gue nggak pernah berubah, Nat. Gue masih dan akan selalu sayang sama lo. Nggak ada yang bisa gantiin lo.”

Di balik pandangannya yang mulai samar, Nata dapat melihat gaun broken white selutut yang ia gunakan sore itu basah akibat air mata yang menetes satu-persatu di atas pangkuannya. Kepalanya terus tertunduk, matanya terlalu takut untuk membalas tatapan teduh milik Hendery.

Melihat bahu Nata yang bergetar karena menahan tangis, Hendery berpindah posisi; ia berjongkok di hadapan Nata dan menggenggam kedua tangan Nata. “Nat, liat aku,” pinta Hendery pelan. Dengan sisa keberanian yang Nata miliki, ia menuruti permintaan Hendery.

“Nat, jangan bohongin aku lagi, ya? Dan jangan pergi ninggalin aku lagi. Kamu bisa kan, nepatin janji ini?”

Nata hanya menatap Hendery dengan air mata yang semakin membasahi wajahnya. Hendery berusaha menghentikan air mata itu dengan mengusapkan ibu jarinya di wajah Nata.

“Nata, aku nggak akan ninggalin kamu. Kalau kamu sakit, ayo kita lawan sama-sama penyakit itu. Aku akan nemenin kamu sampai sembuh. Nggak akan, Nat, nggak akan pernah aku ninggalin kamu. Walaupun ada seratus perempuan cantik sehat di luar sana, aku akan tetap pilih kamu. Call me bucin or whatever you named it, tapi itulah perasaan aku.”

“Hendery ...”

“Apa, Nata?” tanya Hendery sambil tersenyum manis. Tidak adalagi nada emosi atau pun kekecewaan terdengar di suara lelaki itu, jelas berbeda dengan beberapa saat lalu saat ia masih menggunakan bahasa lo-gue untuk berbicara dengan Nata.

“Makasih, Hendery. Aku bener-bener sayang sama kamu,” jawab Nata seraya tersenyum, ia berusaha membalas senyuman lelaki yang kini merengkuhnya ke dalam dekapan yang tererat.

“Aku juga sayang sama kamu, Nata. Jadi, jangan putusin aku, ya?”

Nata mengangguk berkali-kali dalam pelukan Hendery. Kini hatinya memanjatkan satu doa pada Yang Maha Kuasa.

“Tuhan, boleh aku minta waktu yang lebih banyak untuk bisa dihabiskan bersama lelaki ini?”

Nata perlahan membuka matanya, ia mendapatkan kedua orang tuanya sedang duduk di sisi kanan kiri ranjangnya dengan raut wajah cemas.

“Ma? Pa?” panggil Nata dan langsung mendapat respons dari keduanya.

“Nata? Nata kamu ada rasa sakit atau apa?” tanya ayah Nata dengan nada khawatir.

Nata hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak ada.” Kemudian Nata melihat ke sekeliling kamarnya yang sunyi. “Hendery kemana? Raden?” tanyanya penasaran.

“Papa suruh mereka pulang,” jawab ayah Nata. “Nata kenapa bohong sama Papa?” sambungnya lagi.

Melihat air muka Nata yang berubah, ibu Nata segera memotong, “Pa, udah jangan bahas itu dulu,” ujarnya lalu ia mendorong suaminya untuk agak menjauh dari ranjang Nata.

Nata melihat ayah dan ibunya berdiskusi kecil di pojok ruangan, rasa bersalah timbul di dalam dirinya. Ia tahu seharusnya ia tidak berbohong dengan kedua orang tuanya, tapi ia sendiri tidak punya pilihan lain. Lebih tepatnya, ia tidak tahu cara lain selain datang ke Cerveza untuk menemui Hendery.

“Pa, Ma, handphone Nata di mana?” tanya Nata menyelak diskusi kedua orang tuanya.

“Kamu istirahat dulu aja, Nata. Nggak perlu hubungi siapa-siapa. Handphone kamu akan Papa kasih kalau kamu sudah diizinkan dokter pulang ke rumah,” jawab Papa Nata kemudian pria itu pergi meninggalkan ruang rawat inap Nata.

Ibu Nata menghampiri putri semata wayangnya dan mengelus pelan puncak kepala Nata. “Sayang, istirahat dulu aja, ya? Mama yakin, pasti besok dokter udah ngijinin kamu untuk pulang ke rumah.”

Nata mengangguk, lalu ia kembali mengajak ibunya berbicara. “Ma, bisa tolongin Nata?”

*

Hendery duduk dengan gelisah di kafetaria Rumah Sakit Jakarta pagi itu. Sudah 12 jam ia berada di sana, sejak kedatangannya untuk mengantar Nata yang pingsan hingga saat ini, ia tengah menunggu kabar terbaru dari perempuan itu.

Beberapa kali ia mengecek ponsel pintarnya, berharap Nata membalas pesannya. Tidak, ia berharap setidaknya Nata membaca pesannya. Dengan begitu, ia tahu bahwa perempuan itu sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja.

“Nak Hendery?” tegur seorang wanita yang memiliki senyuman yang mirip dengan Nata.

“Eh, iya, Tante. Nata gimana kabarnya?” tanya Hendery sambil berdiri sejenak, mempersilahkan ibu Nata untuk duduk di kursi di seberangnya, kemudian ia kembali duduk lagi.

“Nata sudah siuman, Nak,” jawab ibu Nata dan disambut helaan nafas lega dari Hendery. “Tapi Nata belum bisa ketemu sama siapa-siapa. Papanya agak marah sama dia karena dia bohong sama kami,” sambungnya lagi.

Hendery mengangguk mengerti. “Oh, nggak papa, Tante. Yang penting Nata baik-baik aja.”

Sejenak keduanya sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Hendery memberanikan diri untuk bertanya. “Tante, kalau boleh tahu, sejak kapan Nata sakit? Dan gimana kondisi kesehatannya sekarang?”

Ibu Nata menarik nafas dan menghembuskannya pelan sebelum memulai ceritanya. “Kami tahu kondisi Nata saat Nata kuliah semester akhir. Awalnya kami kira Nata cuma kecapekan karena skripsi dan sebagainya, tapi ternyata kami salah. Nata mengidap gagal ginjal, salah satu penyebabnya adalah turunan dari keluarga besar kami dan ditambah ada penumpukan zat di dalam tubuh Nata.

“Sayangnya kami telat untuk tau kondisi ginjal Nata, gagal ginjal Nata sudah masuk kategori kronis di mana dia harus rutin cuci darah tiga kali seminggu. Nata sempet mau nyerah, tapi katanya salah satu alasannya untuk bertahan itu karena Hendery.”

Nafas Hendery tercekat saat mendengar namanya disebut oleh ibu Nata.

“Terima kasih ya, Nak, kami bersyukur banget Nata bisa kenal dan berhubungan baik sama Hendery. Kami berharap Hendery bisa terus ada di sisi Nata sampai Nata bisa ketemu pendonor ginjal yang cocok dan sembuh,” tutup ibu Nata dengan mata berbinar menatap Hendery lekat-lekat.

“Pendonor ginjal yang cocok? Bukannya kemarin ke Singapur, Nata berhasil donor ginjal ya, Tan?” tanya Hendery bingung karena yang ia tahu dari hasil penyelidikannya diam-diam, Nata berhasil mendapatkan donor ginjal saat berada di Singapura.

Ibu Nata tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nata pasti ngomong begitu supaya kamu nggak khawatir, Hendery.”

Wanita itu kembali menghela nafas. “Belum, belum ada donor yang cocok. Rencana kami yang awalnya hanya satu bulan di Singapur, malah molor jadi dua tahun. Dua tahun kami menunggu kabar yang nggak pasti, sampai akhirnya Nata sendiri yang minta pulang karena dia gak betah di sana. Kata Nata, kalau di Jakarta ada kamu yang bisa nemenin dia.”

Kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibu Nata cukup sukses membuat dada Hendery terasa sesak. Ia tidak menduga kalau sampai saat itu, dimana ia sudah ‘membenci’ Nata, perempuan itu malah menjadikan dirinya sebagai salah satu alasan kuat untuk bertahan.

Ibu Nata lalu menghabiskan sisa chamomile tea yang ia pesan tadi dan melirik ke arah jam tangannya. “Tante harus balik ke kamar Nata, kamu pulang, ya? Tante nggak mau sampai mama papa kamu khawatir karena kamu belum pulang dari semalem.”

Ibu Nata kemudian bangkit dari duduknya dan mengelus pelan punggung Hendery. “Nanti kalau Nata sudah bisa dihubungi atau ditemui, Tante pasti kabarin kamu. Kamu nomor satu yang akan Tante hubungi. Sekarang kamu pulang dulu, ya? Makan lalu istirahat yang cukup. Jangan sampe sakit, Nata pasti bakal sedih juga kalau kamu sakit.”

Hendery hanya mengangguk pelan kemudian ibu Nata pun segera pergi meninggalkannya sendiri di kafetaria itu.

“Nat … Kenapa semakin banyak kebohongan yang lo buat, justru bikin gue semakin nggak bisa ngebenci lo? Kenapa kebohongan lo justru bikin gue merasa sangat berdosa?”

Sepanjang perjalanan dari studio sampai Cerveza, tidak banyak yang dibicarakan Nata dan Raden. Keduanya sama-sama sibuk; Raden fokus dengan vespa hitam dan jalanan yang cukup padat sementara Nata hanyut dalam pikirannya sendiri.

Apa yang harus ia lakukan jika ia berhasil mendapati Hendery lagi? Haruskah ia kembali lari seperti yang ia lakukan minggu lalu, atau memberanikan diri menghampiri lelaki itu dan … mengajaknya bicara?

Nata menggelengkan kepala bingung dan Raden memperhatikan dari kaca spionnya. “Kenapa, Ta?” tanya Raden penasaran.

“Nggak papa, hehe …” jawab Nata bohong.

Sekitar pukul 8 malam, Nata dan Raden tiba di Cerveza.

“Yuk,” ajak Raden setelah ia selesai membereskan helm miliknya dan juga yang dipinjamkan untuk Nata.

Melihat keraguan di mata perempuan itu, Raden kembali mengulang ajakannya. “Ta, yuk masuk, udah sampe masa diem aja di parkiran,” ucap Raden, kali ini sambil menggandeng tangan Nata dan sedikit menyeret perempuan itu untuk mengikuti langkah kakinya.

Nata menurut, berusaha untuk tidak menunduk karena malu, ia memasuki kembali Cerveza yang ramai sama seperti kali pertama ia berkunjung.

Tidak ada lagi tatapan aneh dari para pengunjung yang duduk di dekat pintu masuk karena Nata tak lagi membawa tas biolanya. Hanya saja beberapa dari mereka tidak berhenti melempar tatapan kagum kepada Raden yang terlihat gagah dengan jaket kulit coklat tua andalannya.

“Kita duduk di situ aja ya, nggak terlalu deket dance floor jadi nggak terlalu berisik,” ucap Raden lagi dan diiyakan dengan anggukan kepala Nata.

Setelah memesan dua minuman non-alkohol, baik Nata atau pun Raden duduk dan terdiam. Raden sesekali mengecek ponselnya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari tiga sahabatnya yang ia mintai tolong untuk ikut hadir di Cerveza malam itu.

Nata juga ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi untuk mencari kembali Hendery di antara kerumunan orang yang memadati tempat itu.

“Ta, gue izin ke toilet dulu. Nggak papa kan, sendirian?” tanya Raden sedikit berteriak.

Nata hanya mengangguk dan setelah itu Raden segera pergi meninggalkannya. Begitu Raden menghilang, Nata segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju lantai dansa untuk mencari Hendery.

Berdesakan di antara orang-orang yang sedang melupakan beban hidupnya sejenak, tidak jarang juga harus bersenggolan dengan mereka dan mendapat sekali dua kali panggilan genit dari para pengunjung pria, lantas tidak mengurangi keinginan Nata untuk mencari Hendery. Ia terus berjalan di tengah lantai dansa, hingga seseorang menarik lengannya dan memaksa Nata untuk pergi dari situ.

“Lepasin!” teriak Nata kesal.

“Lo ngapain di sini?!” tanya si penarik lengan Nata dengan nada tidak kalah kesal.

Rasa kesal Nata berubah begitu menyadari orang yang menarik lengannya adalah orang yang ia cari malam itu.

“Hendery …”

“Lo ngapain di sini?! Di sini bukan tempat lo, mendingan lo pergi dari sini,” ucap Hendery dengan cukup kasar.

Nata pikir dirinya sudah siap untuk bertemu dan bicara dengan Hendery, tapi nyatanya tidak. Jelas sama sekali ia belum siap, karena kini bukan kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya melainkan sebuah tangisan.

Melihat Nata mulai terisak, Hendery kembali menarik lengan Nata dan membawanya keluar dari Cerveza.

“Lo mau apalagi, Naraya Talitha? Lo mau ngomong apalagi sama gue? Gue udah baca chat lo, gue udah tau alasan lo pergi. Gue juga udah tau kalo sekarang lo baik-baik aja, lo bisa pergi ke tempat-tempat yang pengen lo kunjungin. Buat apalagi cari gue?” tanya Hendery dengan usahanya untuk tidak meluapkan semua kekesalannya.

“Aku … Aku … Waktuku mungkin nggak banyak, Dery. Aku—”

“Kalo waktu lo nggak banyak, kenapa dua tahun lalu lo pergi tanpa bilang apa-apa sama gue, Nat?!”

Ternyata Hendery juga tidak bisa mengontrol dirinya. Emosinya pecah bersamaan dengan tangis Nata yang semakin menjadi. Mereka berdua sudah sama-sama tidak peduli sedang menjadi tontonan orang-orang di lahan parkir Cerveza.

“Lo mendingan pulang, nggak usah cari gue lagi. Gue udah cukup bahagia dengan kehidupan gue sekarang, dan lo juga udah bahagia dengan kehidupan lo sekarang. Sesuai kemauan lo, kita udahan.”

Baru selangkah Hendery melangkah meninggalkan Nata, sebuah tinjuan keras sukses mendarat di wajah lelaki itu.

“Raden! Jangan, Raden!” Nata berusaha mencegah Raden untuk tidak memukuli Hendery dengan melerai keduanya, tapi sedetik kemudian malah tubuhnya yang ambruk ke tanah.

“Nata! Nata!! Bangun, Nat!!”

Selesai bertukar pesan dengan Winwin, Lucas kembali memperhatikan Olivia yang masih sibuk berfoto dengan beberapa barang endorse-nya.

“Liv,” panggil Lucas pelan.

“Kalo nyuruh gue stop, gue marah,” ancam Olivia setelah dari kemarin Lucas selalu melarangnya untuk bekerja.

Lucas tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hehe, gue mau nyuruh stop, tapi bukan buat nyuruh lo istirahat.”

Olivia menoleh ke arah Lucas, “Terus?”

Lucas yang awalnya duduk di sofa kini bergabung dengan Olivia yang duduk di atas karpet dekat meja ruang TV nya.

“Lo sengaja ya, balik kerja supaya Darren bisa muncul?”

Olivia yang sedari tadi sibuk menyusun beberapa produk make up di atas meja, berhenti dan membalas tatapan Lucas.

“Kok tau?” tanya Olivia setengah bingung dan kaget.

Lucas tersenyum bangga karena tebakannya benar. “Kenapa, Liv? Kan lo tau, resikonya gede. Kayak kemarin dia bisa senekat itu sama lo. Lo nggak kepikiran sampe situ?”

“Gue kepikiran, Cas. Gue pikirin semuanya baik-baik dan gue juga tau resiko terburuknya apa. Tapi kalo gue nggak ngelakuin itu semua, dia akan terus-terusan sembunyi, dan itu akan semakin nyusahin lo dan banyak pihak lainnya. Gue nggak mau jadi beban buat kalian.”

“Apa lo sengaja bikin gue ketemu sama bokap nyokap gue, supaya lo bisa pergi sendiri tanpa gue?”

Olivia mengangkat bahunya. “Kalo itu di luar rencana gue. Gue pikir mumpung gue lagi nggak sama lo, gue sengaja pancing dia dari sosial media. Terbukti kan, dia keluar dari persembunyiannya.”

Lucas kembali tersenyum senang, lalu ia mengacak pelan rambut Olivia. “Lo hebat banget, Liv. And I’m so proud with you,” pujinya.

Olivia hanya tersenyum sambil menyelipkan rambut panjangnya ke balik telinga. “Lo gimana sama bokap nyokap lo?” Olivia gantian bertanya.

“Oh, itu …” Lucas menggantung kalimatnya. Awalnya ia terlihat enggan untuk bercerita tapi karena Olivia tidak melepas tatapannya dari lelaki itu, ia tidak punya pilihan lain.

“Maaf ya, gue sempet bentak lo dan nuduh lo ikut campur keluarga gue. Jujur, gue ngerasa malu sama lo. Lo pasti udah denger cerita nyokap gue dan tau apa yang bikin hubungan gue sama bokap nyokap renggang.”

Gantian Olivia mengusap pelan puncak kepala Lucas dan memainkan sedikit rambut coklat milik lelaki itu. “Kalo gue jadi lo, gue juga pasti bakal ngelakuin hal yang sama. .It’s okay, Cas. Setiap orang punya caranya untuk ngelindungin ego-nya sendiri.”

Mata bulat Lucas menatap Olivia dengan binar kagum, ditambah bibirnya yang sedikit mengerucut, persis seperti panggilan dari Olivia untuk dirinya: bayi gede.

“Jadi gimana, Cas?” Olivia kembali mengulang pertanyaannya.

Lucas mengangguk, “Udah, gue udah baikan sama mereka. Gue belum sempet ketemu bokap sih, karena kemarin gue susulin lo ke sini abis baca chat dari lo. Tapi nyokap udah bilang bokap mau ketemu gue weekend ini.”

Olivia menepuk-nepuk pelan kepala Lucas, “Jangan lagi ada dendam ya, Cas. Mereka cuma mau yang terbaik buat lo. Mungkin dulu cara mereka salah, tapi mereka ngelakuin itu semua karena dasarnya mereka sayang sama lo.”

Bukannya menanggapi kalimat Olivia, Lucas malah mencubit gemas pipi perempuan itu. “Gue makin sayang sama lo deh, Liv.” Lucas tiba-tiba membuat sebuah pengakuan kecil.

“Lucas! Gue kan lagi serius!” Olivia mendorong pelan tubuh Lucas, melipat kedua tangan di dada dan bersandar pada sofa di belakangnya dengan ekspresi wajah sedikit kesal.

Lucas terkekeh pelan. “Gue juga serius, Liv. Semua ini berkat lo. Kalo nggak ada lo, mungkin gue gak bisa jadi diri gue kayak yang lo liat sekarang.” Nada bicara Lucas kembali terdengar serius.

Olivia tidak berkata apa-apa, lebih tepatnya ia tidak tahu harus berbicara apa. Dilihatnya Lucas belum berhenti memandangi dirinya, masih dengan tatapan berbinar khasnya.

“Liv, lo mau kan, terus sama-sama gue? Bukan karena perjodohan ortu kita, tapi karena perasaan kita masing-masing. Jujur, gue sayang sama lo.”

Olivia menatap Lucas sesaat, kemudian perempuan itu tersenyum seraya mengangguk pelan. “Iya, Cas. Gue juga sayang sama lo.”

Lucas tersenyum lebar hingga matanya menyipit, dilihatnya Olivia yang sedikit tertunduk tersipu malu dengan pengakuannya barusan, ia mendekati wajah mungil perempuan itu dan mencium pipinya lembut.

I love you, Olivia Gianna.”

“Hai Olivia Gianna, masih inget kan, sama gue?”

Sebuah suara asing menyapa Olivia setelah tangan pemilik suara itu berhasil menahan pintu unit Olivia.

Olivia refleks melangkah mundur masuk ke dalam unitnya sementara orang yang menahan pintu tadi kini mulai berjalan mendekati Olivia dengan langkah mengintimidasi.

Long time no see, Cantik,” sambungnya lagi dengan nada bicara yang terdengar menjijikan bagi Olivia.

Sambil terus mendekati Olivia, orang itu melepas masker dan topi hitam yang ia kenakan, dengan sengaja ia menunjukkan identitas dirinya kepada Olivia. Olivia bergidik ngeri saat menyadari orang itu tak lain tak bukan adalah Darren. Diam-diam tangannya yang sedari tadi menggenggam smartphone berusaha mencari bantuan.

“Percuma, Olivia. Percuma lo hubungin polisi. Lo rasain sendiri kan, hari ini jalanan macetnya gimana?” tegur Darren meledek.

Darren segera menepis kasar tangan Olivia hingga ponsel itu terlempar cukup jauh dari pemiliknya, bertepatan dengan langkah Olivia yang terhenti karena menabrak meja ruang tengah, perempuan itu terjatuh dan sedikit meringis kesakitan karena kakinya terbentur meja.

“Paling juga kalo polisi berhasil dateng ke sini, mereka cuma bakal nemuin mayat lo. Karena sekarang, lo harus mati di tangan gue, Olivia.”

Darren mengeluarkan sebilah pisau dari kantong jaketnya sambil berjongkok dan ia hendak menancapkannya ke tubuh Olivia, tapi usahanya gagal karena Olivia berhasil mengambil semprotan air lada yang ia selalu simpan di tas selempangnya dan ia semprotkan ke mata Darren.

Argh, shit! Olivia! Sini lo, jangan kabur!” teriak Darren sambil berusaha menahan rasa perih di matanya, sementara Olivia berusaha menghindari dari jangkauan Darren mengambil kembali ponselnya.

Saat Olivia sudah berhasil mendapatkan ponselnya, Darren yang dalam posisi terjatuh dan setengah meraba-raba mencari Olivia, berhasil menemukan kaki perempuan itu. Ia mencengkramnya erat, membuat Olivia tidak dapat pergi kemana-mana.

“Lepasin!” bentak Olivia sambil berusaha melepaskan kakinya dari Darren. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya Olivia berhasil menendang Darren dan lari ke kamar seraya berusaha menelepon Lucas. Sialnya, nomor Lucas tidak bisa dihubungi karena sepertinya baterei ponselnya habis.

Berusaha menahan rasa perih di matanya, Darren bangkit dan kembali mengejar Olivia. Perempuan itu berada di kamarnya, mencari tongkat baseball yang pernah diberikan Lucas untuknya melindungi diri.

Saat dilihatnya Olivia sedang sibuk di kamarnya, lelaki itu menyeringai puas. “Lo nggak bisa kemana-mana lagi, Liv,” ujar Darren di depan pintu kamar Olivia. Perlahan ia melangkah masuk menghampiri Olivia yang terpojok di kamarnya sendiri.

Perempuan itu sudah menggenggam tongkat baseball yang ia cari, tapi ia tidak bisa berkutik apa-apa melihat Darren yang mendekatinya dengan pisau yang siap lelaki itu tancapkan kapan saja di tubuhnya.

Goodbye, Olivia.”

Olivia hanya bisa memejamkan mata pasrah begitu Darren melayangkan pisau ke arahnya.

“Saudara Hendra, jatuhkan pisau anda segera!”

Tepat sebelum ujung pisau milik Darren mengenai kulit tubuh Olivia, seorang polisi berteriak di depan pintu kamar Olivia. Akibat shock karena tertangkap basah, Darren tanpa disadari menjatuhkan pisaunya sementara Olivia perlahan membuka matanya dan mendapati beberapa polisi sedang menyergap Darren.

“Saudara Hendra, anda kami tangkap atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan yang anda lakukan kepada saudari Olivia,” ujar polisi yang kali pertama menyergap Darren, sambil memasang borgol di kedua tangan lelaki itu dan menyuruh anak buahnya yang sudah memegangi Darren untuk segera membawa lelaki itu pergi dari situ.

Darren tidak dapat berkilah lagi. Ia hanya melirik tajam ke arah Olivia dengan tatapan menyalang. “Tunggu pembalasan gue, Olivia! Lo nggak akan pernah bisa bahagia!! Lo nggak akan gue biarin bahagia!! Tunggu pembalasan gue!!” racau Darren yang diseret paksa polisi keluar dari kamar Olivia.

“Mbak Olivia? Mbak baik-baik aja, kan?” Polisi itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Olivia yang masih terlihat gemetar. Belum sempat Olivia menjawab, terdengar suara Lucas memanggil Olivia dari luar kamarnya.

“Liv!! Olivia!! Olivia!!”

Begitu Lucas melihat perempuan itu, ia segera menghampiri Olivia sementara polisi tadi berpamitan pada Olivia dan Lucas untuk pergi mengurus Darren.

“Liv, lo nggak papa, kan?” tanya Lucas khawatir. Ia memegangi kedua lengan Olivia dan merasakan tubuh perempuan itu gemetar cukup hebat. Lucas segera memeluk Olivia erat dan mengusap kepala serta punggungnya dengan lembut.

It's over, Liv. Lo sekarang udah aman, ada gue. Gue nggak akan ninggalin lo lagi ...”

Tangis Olivia sukses pecah di dalam pelukan Lucas. Rasa takutnya selama ini ia tumpahkan begitu saja. Lucas yang mengerti dengan kondisi Olivia saat ini pun semakin mengeratkan pelukannya.

Kamis siang itu Lucas memutuskan untuk pulang ke rumahnya, setelah entah berapa lamanya ia tidak pernah menginjakkan kaki di sana, sampai ia sendiri ragu apakah bangunan megah itu masih bisa disebut rumah atau tidak.

Seorang petugas keamanan membukakan pintu pagar besar rumah Lucas dan mempersilahkan mobil Lucas untuk masuk. Sepertinya petugas itu adalah pegawai baru ayahnya karena ini kali pertama Lucas melihatnya. Tapi petugas itu terlihat seperti sudah mengenal Lucas cukup lama.

Sukses memarkirkan mobilnya, Lucas turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya. Di pintu depan, asisten rumah tangga yang sudah ia kenal sejak kecil menyambutnya hangat.

“Den Lucas, apa kabar?”

Lucas tersenyum ramah. “Kabar baik. Bi Imah sendiri apa kabar?” balasnya bertanya.

Bi Imah, asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Lucas, menjawab pertanyaan Lucas sambil mengantarkan Lucas ke ruang tengah. “Baik, Den.”

“Syukurlah. Bi, makasih ya selalu kirimin saya makanan enak lewat Bi Inah.”

Bi Inah, orang yang membantu Lucas untuk membersihkan unit apartemennya seminggu sekali adalah saudara kembar dari Bi Imah yang juga orang kepercayaan keluarganya.

Bi Imah menggeleng pelan, “Bukan saya yang kirim, Den. Tapi Ibu. Ibu yang selalu masak untuk Den Lucas,” balas Bi Inah kemudian saat ia melihat ibu Lucas keluar dari kamar, ia buru-buru berpamitan. “Den, saya tinggal dulu ya. Itu Ibu sudah datang.”

Belum sempat Lucas menanggapi kalimat Bi Inah, wanita paruh baya itu sudah menghilang. Kini tersisa Lucas dan ibunya yang sedang menghampiri dirinya di ruang tengah.

“Halo, Nak, apa kabar? Udah makan?” tanya ibu Lucas canggung. Biasanya seorang ibu akan memeluk anaknya ketika mereka bertemu, apalagi setelah tidak bercengkrama dalam waktu yang cukup lama. Tapi kini ibu Lucas hanya berdiri kikuk di hadapan Lucas.

“Baik. Aku udah sarapan tadi. Mama apa kabar?” balas Lucas tidak kalah canggung dengan sang ibu.

“Mama baik, sayang. Duduk dulu ya, mama ambilin minum buat kamu,” jawab ibu Lucas sambil beranjak pergi meninggalkan Lucas, tapi tangan Lucas dengan cepat menahan kepergian ibunya.

“Ma,” panggil Lucas pelan. Ibu Lucas menoleh, mendapati sorot mata sang putra penuh dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. “Mama anggep aku cuma tamu di sini?” tanya Lucas kecewa.

“Nak, bukan gitu. Mama—”

Belum sempat ibu Lucas menyelesaikan kalimatnya, Lucas sudah memeluk erat ibunya. “Ma, Lucas kangen kepengen dipeluk.”

Tak terelakan lagi, tangis ibu Lucas pecah seketika. Ia membalas pelukan Lucas dengan erat sambil sesekali mengusap punggung bidang putranya itu.

“Lucas, maafin Mama … Maaf …”

Lucas mengangguk pelan, sebisa mungkin ia menahan air matanya untuk tidak ikut keluar.

“Ma, maaf kemarin harusnya Lucas gak bilang kayak gitu ke Mama,” ujar Lucas setelah melepas pelukannya.

Gantian ibu Lucas mengangguk mengerti, “Mama ngerti, sayang. Mama ngerti …” Ibu Lucas menarik nafas sesaat sebelum kembali berbicara. “Lucas mau kan, maafin Mama dan juga Papa?”

Lucas tersenyum dan kembali mengangguk, “Iya, Ma. Maafin Lucas juga ya, selama ini Lucas bersikap egois sama Mama Papa.”

Ibu Lucas mengelus pelan kepala Lucas sambil menatap wajah putra semata wayangnya itu. Sungguh ia bersyukur, hari yang ia nantikan telah tiba; hari di mana keluarganya dapat kembali berkumpul bersama.

“Nak, kamu mau ya, nginep semalem di sini? Biar nanti ketemu Papa.”

“Iya, Ma. Aku juga udah ada rencana buat nginep di sini.”

*

Setelah 1 jam lebih lamanya Olivia harus berhadapan dengan kemacetan ibukota, sore itu akhirnya ia tiba di lobi gedung apartemennya. Setelah turun dari taksi yang mengantarnya, Olivia bergegas kembali ke apartemennya. Tapi sebelumnya ia mampir dulu ke mini mart yang terletak di lobi untuk membeli beberapa cemilan.

Saat melewati rak berisikan chiki dan potato chips, dirinya kembali teringat dengan Lucas yang hampir 24 jam selalu menemani dirinya.

Namun hari ini tidak ada lelaki itu di sampingnya. Lebih tepatnya sudah 3 hari lamanya ia dan Lucas tidak berkomunikasi dan bertemu. Olivia sengaja tidak menghubungi Lucas karena ia sudah berjanji pada lelaki itu untuk tidak mengganggunya sampai urusan Lucas dengan orang tuanya selesai walaupun sebenarnya ia rindu … Ia rindu akan kehadiran lelaki itu di sisinya.

Kresk … kresk …

Olivia menoleh cepat, mencari sumber suara yang terdengar cukup dekat darinya. Sore itu tidak ada siapa-siapa di mini mart itu, kecuali dirinya sendiri dan petugas yang berjaga di kasir.

Merasa seperti ada seseorang sedang mengintai dirinya, Olivia buru-buru menyudahi kegiatan berbelanjanya. Ia segera membayar semua barang yang ia beli dan bergegas pergi dari sana.

Namun, begitu ia tiba di lantai unitnya, perasaan Olivia justru semakin tidak enak. Saat itu keadaan lantai unitnya sepi, tidak ada yang berlalu lalang karena memang hanya penghuni atau tamu yang diundang yang dapat memiliki akses untuk berada di sana.

Dengan cepat dan berusaha setenang mungkin Olivia memasukkan kata sandi untuk kunci unitnya. Ia sempat salah menekan satu tombol angka sehingga ia harus kembali mengulang memasukkan kata sandinya.

Pintu unit Olivia akhirnya berhasil terbuka, pemiliknya bergegas masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat, tapi usahanya digagalkan sebuah tangan yang cukup kekar yang mampu menahan pintu unit apartemen itu.

“Hai Olivia Gianna, masih inget kan, sama gue?”

Sudah seminggu Olivia kembali dengan rutinitasnya sebagai selebgram; ia mulai bekerja lagi dengan beberapa merk yang mengharuskan dirinya untuk berpergian dan Lucas selalu menemani kemanapun Olivia pergi.

“Lucas, gue marah ya, kalo lo ngesampingin urusan lo demi anterin gue,” ancam Olivia saat Lucas mengantar dirinya untuk meeting di kawasan Kuningan siang itu.

“Perasaan dulu lo nggak peduli sama urusan gue deh, Liv,” balas Lucas dengan nada bercanda tapi sepertinya Olivia menanggapinya dengan cukup serius. Perempuan itu hanya tertunduk diam.

“Maaf,” ucap Olivia setelah beberapa saat.

Dengan tangan kanan Lucas yang masih memegang stir mobil, tangan kirinya dengan pelan mengusap puncak kepala Olivia. “Nggak papa kok, gue suka kalo harus nemenin lo kemanapun lo pergi.”

“Tapi lo kan pasti punya kesibukan lain,” sanggah Olivia sambil menoleh ke arah Lucas.

Tangan kiri Lucas berpindah, kini ia menggenggam tangan Olivia yang sedari tadi ditaruh di atas pangkuan perempuan itu. “Kesibukan gue cuma satu, Liv.”

“Apa?”

Make sure lo baik-baik aja.”

Olivia melempar pelan tangan Lucas dari genggamannya, melipat tangan di dada serta menoleh ke luar jendela. “Hih, gombal,” gerutunya pelan.

Lucas kembali mengusap-usap lembut kepala Olivia sambil terkekeh, “Lucu banget sih lo, Liv.”

“Gue bukan badut Ancol, stop bilang gue lucu.”

Kini tangan Lucas mencubit gemas pipi Olivia dan perempuan itu kembali melayangkan protesnya, “Lucas nyetir yang bener aja deh,” sambil ia berusaha melepaskan diri dari gangguan tangan Lucas.

Tapi bukan Lucas namanya kalau tidak semakin menjadi-jadi. Sekarang ia kembali mengambil tangan kanan Olivia dan mengunci jari-jari perempuan itu diantara miliknya.

“Udah, begini yang paling bener,” ujar Lucas dengan suara rendahnya lalu ia mencium pelan punggung tangan Olivia sebelum kembali fokus dengan jalanan ibukota.

Di kursi penumpang, Olivia memandang keluar jendela dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia dapat merasakan wajahnya memanas karena perlakuan manis Lucas yang tidak pernah habis untuk dirinya.

*

Olivia dan Lucas kembali tiba di apartemen mereka sekitar pukul 1 siang, sesuai dengan prediksi Olivia saat bertukar pesan dengan ibu Lucas.

“Liv, lupa beli makan siang,” keluh Lucas saat lift apartemen sedang membawa mereka ke lantai unit mereka.

Olivia tersenyum canggung, “Nanti pesen dari apart aja,” balasnya berbohong.

“Makan di apart lo, ya,” ucap Olivia lagi setelah lift yang mereka tumpangi berhenti. Lucas hanya mengangguk, lalu ia segera menekan tombol passcode unitnya dan mempersilahkan Olivia untuk masuk terlebih dahulu.

“Eh, kalian udah nyampe ternyata,” sambut ibu Lucas yang sudah berada di unit milik Lucas sejak satu jam yang lalu.

“Iya, Tante,” balas Olivia ramah sambil kembali ber-cipika-cipiki dengan ibu Lucas, tapi tidak dengan Lucas. Lelaki itu mematung di dekat pintu dan menatap Olivia dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Sejak kapan lo deket sama nyokap gue?” tanya Lucas curiga.

Olivia sedikit terperangah, “Hah? Ya … Kan dari awal dijodohin juga—”

“Gue tanya, sejak kapan lo deket sama nyokap gue?!” Lucas mengulang pertanyaannya dengan suara lebih keras dan nada bicara yang lebih tinggi.

Baik Olivia maupun ibu Lucas sama-sama terkejut dengan ucapan Lucas. “Nak, kenapa kok kamu nanya gitu ke Olivia?” tanya ibu Lucas selembut mungkin sambil mendekati Lucas.

Tangan ibu Lucas hendak memegang lengan Lucas, tetapi lelaki itu mengelak dan mundur selangkah. “Mama ngapain di sini?! Mau suruh-suruh aku apalagi?!”

“Lucas! Lo nggak boleh ngomong gitu sama nyokap lo!” Kali ini gantian Olivia yang menjawab pertanyaan Lucas dengan nada bicara yang lebih naik dari biasanya. Ia ikut menghampiri Lucas dan ibunya yang berdiri di dekat pintu.

“Gue yang ajak nyokap lo ke sini buat makan bareng. Gue mau lo berdamai sama nyokap dan bokap lo, sama masa lalu lo juga. Sekarang nyokap lo udah dateng, udah masak makanan kesukaan lo, lo nggak seharusnya bersikap kayak gini.” Olivia berusaha membujuk Lucas.

“Lo tau apa urusan keluarga gue?! Lo nggak perlu ikut campur sama urusan keluarga gue!” bentak Lucas seraya menatap Olivia dingin, suatu hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya dengan perempuan itu.

Olivia lantas tidak takut dengan tatapan tajam Lucas. Ia membalas tatapan itu dan di sana ia bisa melihat perasaan Lucas yang sebenarnya; ketakutan yang disembunyikan dibalik amarahnya.

“Gue kecewa sama lo, Liv.”

Lucas kemudian pergi meninggalkan Olivia dan ibunya tanpa berkata apa-apa lagi.

2020, Februari

Nata memainkan ujung cardigan kuning pastel yang ia pakai, seperti menjadi suatu kebiasaan saat ia sedang menunggu atau gelisah. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu masih menunjukkan pukul 11.50 siang, yang artinya masih ada sisa waktu 10 menit sebelum ia kembali bertemu dengan Hendery.

Setelah beberapa hari sebelumnya ia akhirnya berani untuk menghubungi Hendery, hari ini ia mengajak lelaki itu untuk bertemu. Terlepas dari rasa rindunya yang menggunung, ia mau terbebas dari rasa bersalah yang membelenggunya selama dua tahun ini.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 siang, yang artinya sudah 20 menit Nata menunggu kedatangan Hendery di resto yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Hendery yang masih belum nampak, membuat Nata sedikit gelisah. Tapi ia paham, pasti tidak mudah bagi Hendery untuk menemui dirinya lagi. Walaupun begitu, ia akan tetap menunggu sampai lelaki itu datang.

Dan saat jarum panjang jam tangan Nata berhenti di angka 6, netra perempuan itu menangkap sosok Hendery yang sedang bertanya kepada staff resepsionis di depan pintu. Staff itu lalu mengantarkan Hendery ke meja di mana Nata berada, yang terletak tidak jauh dari pintu masuk.

“Hai, Hendery,” sapa Nata lembut. Suara dan senyuman manisnya masih sama seperti yang selalu Hendery dengar dan lihat sejak dahulu.

Hendery tidak membalas sapaan Nata, ia langsung duduk berhadapan dengan perempuan itu dan memesan segelas Ice Green Tea kepada sang pramusaji tanpa berbicara apapun dengan Nata.

“Nggak mau makan siang sekalian?”

“Nggak, lo aja.”

Nata terdiam. Hendery masih sama seperti yang ia temui di rumah sakit beberapa hari lalu, dingin dan acuh. Nata juga melihat bekas luka di tangan Hendery yang masih dibalut perban.

“Tangannya udah sembuh? Lukanya nggak kenapa-napa, kan?” tanya Nata lagi dengan nada khawatir.

“Mau ngomong apa?” Hendery mengacuhkan pertanyaan Nata. Sebenarnya ia ingin sekali menjawab pertanyaan perempuan itu, kekhawatiran Nata menjadi sebuah bukti yang cukup jelas kalau perempuan itu masih peduli dengan dirinya. Tapi nyatanya Hendery masih kalah dengan emosinya.

Nata menggigit bibir bawahnya sebelum ia menjawab pertanyaan Hendery. “Aku cuma mau minta maaf, Hendery,” jawab Nata pelan. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak tumpah saat itu juga. Selain karena ia malu harus menangis di tempat umum, ia juga tidak mau Hendery melihat dirinya menangis.

Hendery mendengus sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Lo nggak salah kok, gue yang salah, hahaha ...” tawa getir Hendery semakin membuat hati Nata terasa pilu. “Simpen aja maaf lo buat hal yang lebih berguna daripada gue.”

“Hendery, please jangan kayak gini.”

“Trus lo maunya gue gimana, Nata? Berharap kalau dua tahun ini cuma mimpi aja dan sekarang, ta-da, sekarang gue udah bangun dari mimpi gue?”

Nata menitikkan air matanya, buru-buru ia hapus dengan sedikit gusar. “Maaf, Hendery ...”

Hendery bangkit dari duduknya, di saat bersamaan pramusaji datang membawa minuman pesanan Hendery. “Mas, ini minumannya,” ucap pramusaji itu dengan bingung karena melihat Hendery seperti ingin pergi dari situ.

“Kasih dia aja, yang suka green tea dia, bukan saya,” balas Hendery dingin lalu ia benar-benar pergi meninggalkan Nata sendiri di resto itu.

Pramusaji menaruh ice green tea pesanan Hendery tepat di hadapan Nata sementara perempuan itu masih menatap punggung Hendery yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Kini ia berganti menatap nanar gelas minumannya, kembali air matanya menitik jatuh di atas pipinya.

Nata sadar, kalau ia salah mengambil langkah. Keputusannya untuk pergi diam-diam dari Hendery justru kini menorehkan luka dalam di hati lelaki itu, dan entah, sepertinya akan sulit bagi Nata seorang untuk bisa menyembuhkan luka itu.

Dan apakah ia juga masih layak untuk menjadi penyembuh luka hati Hendery, ia sendiri tidak tahu.

Sesuai dengan janji yang dibuat Olivia dan ibu Lucas, Minggu sore itu Olivia pergi ke cafe yang disebutkan ibu Lucas, yang berada di kawasan Jakarta Selatan.

Tidak lama setelah Olivia sampai, ibu Lucas juga sampai. Mereka saling menyapa sambil cipika-cipiki saat bertemu.

“Udah lama ya, Olivia?” tanya ibu Lucas ramah.

Olivia menggeleng pelan sambil tersenyum, “Engga kok, Tan. Baru juga 10 menitan aku sampe.”

Setelah itu keduanya memesan sepiring Red Velvet Cake dan juga Ice Coffee untuk Olivia dan Earl Grey Tea untuk ibu Lucas.

“Kamu udah sehatan, Liv?” Ibu Lucas mengawali pembicaraan mereka sore itu.

“Iya, Tante. Sebelumnya aku minta maaf ya, Tante, karena aku Lucas harus jadi korban juga.”

Ibu Lucas menggeleng pelan setelah ia menyeruput pelan teh pesanannya. “Enggak, Liv. Justru Tante bangga sama Lucas. Sudah lama Tante sama Om tidak melihat Lucas bersikap seperti itu.”

Dahi Olivia berkerut, “Maksud Tante?”

“Sejak kecil, Tante dan Om mendidik Lucas dengan cukup ketat. Lucas was a nice guy, dia selalu nurutin apa kata Tante dan Om. Sampai waktu kuliah, ternyata kami salah mengartikan sikap baiknya.”

Ibu Lucas memberi jeda sesaat sebelum ia kembali bercerita.

“Sikap nurut dan baiknya ternyata bentuk sakit hatinya, karena kami terlalu banyak mengatur hidupnya. Kami melarangnya berpacaran, melarangnya untuk bermain sampai larut malam, dan juga melarangnya udah berkegiatan lain selain sekolah. Selama SMA, Lucas tidak pernah kami izinkan untuk menjadi panitia acara apapun atau sekedar berpartisipasi dalam kegiatan apapun.

“Olivia pasti kenal Hendery, kan? Hendery jadi satu-satunya sahabat Lucas, itupun karena kebetulan kami kenal dengan orang tuanya Hendery.

“Lucas kelihatannya periang, mudah bergaul dengan siapa saja, tapi ternyata itu adalah pelampiasan kekecewaannya dengan cara didik kami.”

Olivia menggigit sedikit bibir bawahnya, ia tidak menyangka Lucas memiliki kisah hidup yang tidak terlalu mengenakkan.

“Waktu kuliah, Lucas mulai berubah. Sepertinya dia sudah nggak tahan dengan sikap Tante dan Om, dia mulai membangkang dan bertengkar sama papanya terus-terusan.”

Olivia kembali ingat masa saat ia mengetahui Lucas dipukuli ayahnya karena lelaki itu mencoba membatalkan perjodohan mereka.

“Karena perubahan itu, papanya Lucas pun ikut berubah, jadi mudah marah dan selalu memukul Lucas setiap kali Lucas melawan. Tapi, Lucas nggak pernah mengelak dari pukulan papanya. Tante nggak bisa berbuat apa-apa dan itu yang buat Tante semakin merasa bersalah sama Lucas …”

Kalimat ibu Lucas terputus, ternyata wanita itu tidak kuasa untuk menahan air matanya. Olivia segera memberikan selembar tisu kepada ibu Lucas dan meminta wanita itu untuk kembali meminum tehnya agar lebih tenang.

“Sampai akhirnya Lucas kabur dari rumah, hari itu jadi hari paling menyakitkan buat Tante. Mungkin buat Om juga, tapi dia nggak pernah nunjukkin perasaannya sama sekali. Dua minggu kami nggak tau kabar Lucas, kami nggak tau dia pergi kemana. Tapi untungnya ternyata dia kabur ke tempat Hendery. Hendery baru berani cerita ke kami setelah dia ajak Lucas bicara baik-baik.

“Sejak itu, Lucas dan papanya buat perjanjian; Lucas boleh tinggal sendiri asalkan mau kami jodohkan dengan kamu, Nak.”

Keduanya kini terdiam. Ibu Lucas berusaha menenangkan diri dengan menyuap beberapa sendok cake sementara di sisi lain pikiran Olivia berkecamuk, membayangkan Lucas dengan segala celotehnya … ternyata banyak rahasia yang tersimpan di balik itu semua.

“Maaf ya, Olivia … Kamu juga jadi korban di sini. Tante tau betul, pasti kamu nggak suka kan, dengan perjodohan ini? Apalagi ini bukan jamannya Siti Nurbaya.”

“Tante … Aku nggak papa, kok,” balas Olivia cepat. Bukan karena ia mengasihani Lucas, tapi memang karena ia sudah mencintai lelaki itu.

“Makasih ya, Olivia, sudah mau dengar cerita Tante. Semoga dengan kehadiran kamu, sakit hati yang dialami Lucas bisa segera sembuh. Tante cuma mau dia kembali damai sama papanya.” Ibu Lucas menutup ceritanya sore itu.

Olivia mengangguk, “Iya Tante, aku juga mau berterima kasih sama Tante dan Om, karena sudah melahirkan laki-laki hebat seperti Lucas.”

Ibu Lucas tersenyum sambil meraih tangan Olivia dan mengelusnya perlahan. Ia bersyukur pertemuannya dengan Olivia sore itu bisa melepas sedikit beban yang selama ini menghantui dirinya.

“Tante, kalau ada waktu kapan-kapan main ke apartemen, ya? Kita makan bareng sama Lucas.”

“Boleh, Liv?”

Pertanyaan ibu Lucas sedikit membuat Olivia bingung tapi ia tidak terlalu ambil pusing untuk saat ini. “Iya Tante, boleh dong. Nanti kita chat-an lagi aja ya, Tan …”