Harapan
Hendery menyambut kedatangan Nata di dalam mobilnya dengan senyum sumringah. “Good morning, gembilnya Hendery!”
Nata sedikit mengerucutkan bibirnya, mengundang kekehan pelan Hendery. “Nih, hot chocolate kamu sama espresso brownies-nya. Dimakan yah, aku nyetir,” sambung Hendery, kemudian ia mulai kembali mengemudikan mobilnya sementara setelah mengucapkan terima kasih, Nata menyantap sarapannya.
Jalanan Jakarta memang cukup padat setiap pagi, tapi tidak membuat Nata terlambat untuk melakukan hemodialisis. Setelah bertemu dengan dokter yang merawatnya dan melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya cuci darah Nata dimulai.
Dibantu seorang perawat, Nata diminta untuk duduk di sebuah kursi dengan mesin dialyzer di sisi kirinya. Setelah itu, sang dokter mulai memasang jarum di tubuh Nata untuk mengalirkan darah dari tubuh Nata ke alat filterisasi dan sebaliknya.
Karena ini bukan kali pertamanya, Nata hanya pasrah saja membiarkan dokter merawat dirinya. Hendery yang menemaninya hanya menggenggam tangan kanan Nata yang bebas, menyalurkan kekuatan dan dukungannya untuk Nata agar perempuan itu tidak menyerah dengan perawatannya.
“Aku sebenernya malu, Hendery,” ucap Nata ditengah proses cuci darahnya. Hendery yang duduk di sisi kanannya menoleh dengan raut wajah bingung.
“Malu kenapa?”
“I’m on my weakest moment in my life. Kamu liat aku hidup bergantung dengan jarum dan mesin ini … entahlah, aku ngerasa malu aja. Aku kelihatan lemah banget.”
Hendery mengusap pelan puncak kepala Nata. “Nggak, kamu sama sekali nggak lemah. Kamu hebat, kamu keren, Nat. And I’m so proud with you.”
“Tapi kalo nggak ada mesin-mesin ini aku mati, Hendery,” sanggah Nata.
“Mereka bantu kamu sementara, Nat. Soon kamu akan dapet donor ginjal yang sesuai dan kamu nggak akan butuh mereka lagi. Sampai waktunya itu kita sama-sama berjuang ya, Nat?”
Nata menghela nafas pendek dan kemudian mengangguk mengiyakan kalimat Hendery. Ia tahu lelaki itu tidak pernah dan tidak akan berbohong pada dirinya. Ia bisa yakin akan hal itu dari sorot mata tulus Hendery yang tidak berhenti menatapnya.
“Nata, kamu beruntung banget punya pacar Hendery.” Dokter yang merawat Nata kembali datang untuk memeriksa kondisi pasiennya. Baik Nata maupun Hendery saling tersipu malu mendengar pujian singkat itu.
“By the way, saya punya kabar baik buat kamu.” Dokter itu kembali bersuara setelah dilihatnya Nata dan juga alat filterisasi yang digunakan Nata baik-baik saja.
“Apa, Dok?” tanya Nata penasaran.
“Kamu akan segera dapat donor ginjal.”
Jawaban sang dokter sukses membuat mata Nata dan Hendery melebar. Mereka saling tukar pandang karena masih sulit mempercayai apa yang mereka dengar barusan.
“Dok, beneran? Siapa yang bakal donor ginjal buat Nata?” tanya Hendery antusias.
“Beliau seorang pasien brain death dan pagi hari ini, keluarganya sudah ikhlas untuk melepas semua alat bantu hidup pasien tersebut.”
Hati Nata mencelos. Walaupun ini kabar baik baginya, tapi tidak bagi keluarga pasien yang ditinggalkan.
“Kami sudah memeriksa seluruh organ tubuhnya yang layak untuk didonorkan, dan kebetulan ginjalnya cocok dengan kamu. Keluarganya juga sudah menyutujui pendonoran ini. Jadi, kita tinggal tunggu kabar selanjutnya dari tim dokter yang merawat pasien itu untuk atur jadwal pencangkokannya.”
Nata masih merasa tidak enak, tapi ia tetap tersenyum karena bagaimanapun juga akhirnya penantian panjangnya untuk segera sembuh dari penyakit mematikan ini akan berakhir. Mulai terbayang di benaknya, hal-hal yang akan ia lakukan nanti ketika ia sudah sembuh sepenuhnya.
“Dok, makasih banyak, ya. Terima kasih banget,” ujar Hendery lalu ia kembali menggenggam tangan Nata dan memandangi Nata dengan tatapan penuh harapan.
Dokter itu hanya mengangguk lalu kembali pergi setelah selesai memeriksa Nata sekaligus memberikan kabar baik kepada pasiennya itu.
“Hendery, akhirnya …”
Hendery mengangguk-angguk, tangannya tidak berhenti mengelus tangan Nata di genggamannya. “Terima kasih ya, Nat, udah bertahan selama ini. Aku tau, aku yakin kamu pasti bisa ngelewatin ini semua.”
Nata tidak bisa berhenti tersenyum bahagia, genangan air mata haru di pelupuknya jatuh membasahi pipinya.
Note: Hemodialisis: cuci darah Dialyzer: alat filterisasi darah Brain death: mati batang otak